Minggu, 07 Agustus 2022

SENI DI TENGAH PANDEMI

 

PENTAS SENI DI TENGAH MASA PANDEMI

Oleh: M. Amir Tohar

 

Masa pademi virus wabah Korona yang panjang memang bikin semua aktivitas kehidup-an manusia jadi terhenti sejenak. Minimal beberapa kegiatan yang telah terjadwal harus batal. Diundur atau ditiadakan. Acara-acara yang seremonial berbau komunal, semacam peringatan hari besar, lomba-lomba, sepak bola, dan sederet yang lain harus batal. Tidak bisa berlangsung kegiatannya. Hal ini karena orang harus tetap tinggal di rumah, agar mata-rantai virus wabah bisa terputus. Perlu adanya sosial distancing, jaga jarak sosial antarmanusia. Hingga kota Surabaya bersama Gresik dan Sidoarjo saat itu, terpaksa menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) bagi warga kotanya. Berjuang keras melawan virus wabah Korona yang dirasa sangat membahayakan ini.

Bus-bus antarkota dan antarprovinsi juga tak beroperasi. Sekolah dan kuliah, hanya bisa berlangsung secara daring atau virtual dari rumah. Sekolahan dan kampus jadi sepi. Mungkin sunyi tanpa penghuni. Kantor-kantor pemerintahan juga bekerja dari rumah atau work from home saja. Atau masuk hanya setengah hari.

Meski demikian masih juga banyak orang tetap nekat keluyuran, dan kurang mengindahkan seruan tinggal di rumah dan jaga ajarak antarsesama ini. Bahkan di Surabaya ada baliho besar berisi seruan itu dengan bahasa Jawa khas Suroboyo-an, berbunyi, “Kate Lapo Kluyuran Ae Rek, Dipangan Corona Matek Koen. Ndhang Moleh!!!” yang artinya  secara harafiah, “Mau apa kluyuran saja, kamu. Dimakan oleh Korona, kamu bisa mati. Cepat pulang!!!”

            Sebuah ungkapan iklan layanan masyarakat yang pas bagi warga Surabaya, dan akan membikin terjaga dan sadar, tidak mau kluyuran lagi, bagi pembacanya. Lugas, jelas, dan tegas. Surabaya memang luar biasa.

Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur, memanglah beda dengan kota-kota lainnya. Semoga kota-kota lainnya di Jawa Timur, akan ikut seperti Surabaya. Surabaya yang indah, penuh bunga-bunga, teduh dan meneduhkan warganya. Tanggap dan sigap dalam melawan virus wabah Korona. Surabaya tetap kota Pahlawan, semoga bisa secepatnya melawan Korona, hingga hilang dan sirna dari kotanya. Bahkan juga segera sirna dari kota-kota yang ada di Jawa Timur ini.

Pentas Seni Masa Pandemi

             Bicara masa pandemi ini, maka sektor kesenian juga mengalami dampaknya yang sangat menyedihkan. Beberapa pertunjukan pentas tradisi, semacam: wayang kulit, ludruk, ketoprak tak bisa tampil. Begitu juga pentas seni modern, seperti: musik, tari, nyanyi, baca puisi, teater, film atau bioskop tak bisa lagi tampil di gedung pertunjukan.

Sabrot D Malioboro
            Oleh sebab masa pandemi virus wabah Korona yang berkepanjangan inilah, yang kemudian menyulut awak seniman itu tetap beraktivitas secara virtual atau daring. Ada yang tampil secara berkelompok tapi tetap pakai aturan jaga jarak antarsesama. Ada juga yang tampil sendiri di rumah, dengan video lantas diunggah bersama secara virtual di kanal Youtube. Sungguh, seniman itu berkreativitas tanpa batas. Tetap berkarya di tengah masa pandemi virus wabah Korona. Benar-benar ampuh tenan!

Bagus Putu Parto

            Sekedar menyebut nama beberapa penari Jawa Timur yang aktif menampilkan di kanal virtual ini: Tribroto Wibisono, Dimas Pramuka Atmaji, Puspa Endah, dan banyak lagi. Sementara itu, komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS) menggelar acara baca puisi vitual dalam rangka Ulang Tahun Kota Surabaya bertajuk “Surabaya 727” peringati hari jadi Kota Surabaya ke-727. Materi tampilan baca puisinya para penyair, seperti: Akhudiat, Amang Mawardi, Sabrot D. Malioboro, Aming Aminoedhin, Tri  Broto WS, M. Shoim Anwar, Widodo Basuki, Bagus Putu Parto, Denting Kemuning, Hermin, Anawati, Indri Yuswandari, Leres Budi Santosa, dan banyak lagi. Bahkan tayang dibagi atas 3 episode dalam tiga hari, yaitu tanggal 31 Mei 2020 sampai 2 Juni 2020, setiap pukul 10.00. WIB hingga selesai.







Akhudiat

Bagus Putu Parto, tampil secara virtual untuk lauching buku puisi barunya berjudul “Km 0” dalam rangka ulang tahunnya ke-53, pada 2 Juni 2020 lalu. Tampil baca puisi-puisinya di Rumah Budaya Kalimasada Blitar, dipandu anaknya sendiri Kaka Kalimasada. Lantas ada nama Amang Mawardi, penyair yang jurnalis ini juga mengunggah baca puisi virtual. Nama lain, ada Aming Aminoedhin tidak hanya baca puisi, tapi juga baca guritan dibacakan secara virtual sendirian tanpa penonton di Gedung Cak Durasim Surabaya.

   Amang Mawardi

Adalah seniman musik yang sering tampil di JTV Rek, Pambuko Kristian, banyak mengunggah video garapannya berupa musik campursari. Bahkan syairnya bercerita soal kehilangan sang maestro campursari Didi Kempot.

Nama Meimura, tokoh ludruk Surabaya juga mengunggah Ludruk Monolog Ritus Travesty Besut Rusmini “Cancut Taliwondo”. Lantas ada Cak Marsam Hidayat, tampil virtual dengan Kidungan Jula-Juli Ngusir Korona, serta Sabil Lestari tak ketinggalan virtualkan kidungan Korona. 

                                                                            
                                                    Widodo Basuki                            

Sementara itu, Harwi Mardianto, guru SMKI Surabaya, mengunggah garapan teater berbasa Jawa secara virtual. Agus Sighro Budiono, guru SMK Bojonegoro, juga meng-unggah baca puisi, pentas tari, dan kesenian tradisi Oklik di kanal virtual.

            Ada juga pentas seni secara virtual yang dikaitkan dengan kegiatan amal pencarian dana Covid-19, ditandai pentasnya Didi Kempot yang dari rumah saja. Tapi ditayangkan secara live oleh Kompas Televisi (Sabtu malam, 11/4/2020) dengan pemandu Rosiana Silalahi, yang sempat mengumpulkan dana sekitar 7 milyar rupiah lebih, untuk bantuan dana Covid-19. Hanya sayangnya, The Lord of Broken Heart, julukan tenarnya Didi Kempot  itu meninggal dunia pada 5 Mei 2020 di RS Kasih Ibu, Surakarta. Sahabat ambyar-nya benar-benar ambyar merasa kehilangan sang bintang lagu campursari yang lagi ke puncak kepopulerannya ini.

Aming Aminoedhin

Sebenarnya banyak sekali kegiatan pentas seni diselenggarakan secara virtual, baik: musik, tari, baca puisi, bahkan pameran lukisan; seperti yang telah saya uraikan tersebut di atas itu. Namun tidak semuanya bisa terdeksi secara keseluruhan. Sekali lagi, sungguh seniman itu berkreativitas tanpa batas. Tetap eksis, meski masa pandemi memang hampir membuat semuanya krisis.

Hal ini membuktikan kepada kita semua, bahwa di tengah masa pandemi, aktivitas seni masih ada. Meski mungkin terbatas penontonnya, tapi seniman tetap berkarya! Salam budaya!***

 

Mojokerto, 24 Juni 2020

 

Tidak ada komentar: