Senin, 08 Agustus 2022

RAMALAN RANGGAWARSITA

 

 

MUMPUNG ZAMAN KORONA 

BACA BUKU RANGGAWARSITA

 

Oleh: M. Amir Tohar

 

Masa lalu terkadang bikin kita tercengang. Ada prediksi ramalan Pujangga Ranggawarsita yang hampir punya kesamaan masa kini. Dalam ramalan,

wejangan, dan anjurannya yang baik-baik tentang tata kehidupan bagi umat manusia. Barangkali bisa jadi rujukan hidup bagi suku Jawa seperti kita.

 

 

            Masa pandemi ini, barangkali bikin kita terpaksa mau baca buku lagi. Bahkan buku-buku lawas, terkadang kembali harus dibaca ulang. Setidaknya, agar dapat menepis kejenuhan liburan panjang harus di rumah saja, bisa dikurangi dengan bertamasya membaca buku-buku tadi. Sungguh, stay at home,  atau tetap tinggal di rumah yang sangat menyenangkan. Tambah ilmu, lantaran ada waktu untuk banyak-banyak baca buku.

            Di antara sekian banyak buku, ada yang menarik untuk dibaca, yaitu Biografi Pujangga Ranggawarsita, sebuah hasil penelitian tahun 1990. Dalam buku itu disebutkan, bahwa Pujangga Jawa ini punya ketajaman membaca zaman. Artinya, bisa meramalkan zaman.

Konon Ranggawarsita, cukup punya ketajaman dalam hal menulis 'jangka' alias ramalannya. 'Jangka' ialah ramalan terhadap suatu peristiwa yang belum terjadi, dan ternyata secara kebetulan benar, ramalan itu jadi kenyataan. Istilah Jawa-nya, ngerti sakdurunge winarah. Tahu sebelum kejadian itu terjadi. Hal itu, konon pula akan terulang 100 tahun kemudian. Sedangkan ramalan-ramalan itu, ada dalam karya-karya sastra beliau sang pujangga Jawa ini.

Menurut buku biografi "Biografi Pujangga Ranggawarsita" (1990) hasil penelitian dosen Fakultas Sastra – Universitas Sebelas Maret Surakarta: R.I. Mulyanto, Sartini, A. Sardju S, Rajiman, dan Riyanto; terbitan Dinas Pedidikan dan Kebudayaan – Jakarta tersebut,  dikatakan bahwa dalam pupuh sinom, buku karya Ranggawarsita bertajuk 'Joko Lodhang' dikatakan begini:

 

Sasedyane tanpa dadya

Sacipta-cipta tan polih

Kang reraton-raton rantas

Mrih luhur asor pinanggih

Bebendu gung nekani

 

Secara harfiah, artinya: Apa yang dimaksud tidak akan terjadi, yang direncanakan gagal, yang berkelompok dibubarkan, yang ingin pangkat tinggi bahkan turun derajat. Lalu datanglah laknat Tuhan.

Dalam pupuh/bait ini dapat disimpulkan sesuatu itu terjadi hanyalah karena perbuatan-perbuatan tercela, dari pejabat hingga rakyat. Orang besar tak tahu kebesarannya, orang kecil tak tahu dirinya kecil. Sehingga dalam masyarakat penuh kepalsuan, dan perbuatan maksiat karena pengaruh harta benda. Ramalan ini hampir benar terjadi pada masa saat ini. Hal ini, utamanya pada kalimat: yang berkelompok dibubarkan. Hal itu memang terjadi pada masa pandemi Covid-19 ini. Sebab jika berkerumun/berkelompok, malah bikin penyebaran/penularan virus wabah Korona itu bisa kian banyak jumlahnya. Maka Pemerintah melarang untuk berkerumun, atau dibubarkan. Termasuk sekolah dan kampus harus sekolah/kuliah di rumah. Jamaah di masjid dan gereja, juga harus sembahyang dan berdoa di rumah saja. Bus-bus antarkota juga dilarang jalan untuk beroperasi. Sehingga jalanan agak sepi, orang-orang tetap di rumah untuk menepi dari keramaian manusia. Takut ketularan Korona.

Ramalan dalam bentuk tulisan Ranggawarsita itu ditulis tahun 1920, dan kini, seabad kemudian, tahun 2020, keadaan hampir sama terjadi? Benarkah? Wallahu alam bishowab!


 

Ramalan dan Pesan Ranggawarsita

 

Secara kapujanggan atau dalam percaturan dunia para pujangga yang ada di Jawa, bahwa Pujangga Ranggawarsita memanglah beliau disebut sebagai pujangga mumpuni. Ngerti sakdu-runge winarah, alias tahu sebelum kejadian itu terjadi. Orang yang linuwih, atau orang ampuh, dan bukan orang sembarangan. Hal ini karena punya banyak keahlian di berbagai kebahasaan dan kesastraan. Benar-benar pujangga.

Tidak hanya menulis sastra berupa tembang/guritan saja, tapi juga punya kemahiran dalam mengarang, atau bercerita dalam karya fiksinya. Salah satu cerita beliau 'Jayengbaya' sangat baik dalam menggambarkan pengalaman, serta pengetahuan yang luas dari pengarangnya (R.I. Mulyanto dkk.,1990: hal.65). Contohnya adalah: betapa tekun Jayengbaya, tokoh utama cerita, mempunyai kesulitan dalam memilih pekerjaan, karena semua pekerjaan itu susah dan sangat kompleks. Kadang ada susah, kadang ada juga senangnya. Menyikapi hal ini, ia menemu-kan kepastian, bahwa yang penting orang harus bekerja untuk kelangsungan hidupnya. Contoh tulisan sang Pujangga:

 

Krembyah-krembyah nggur uripa                                             

Korup kereping ngaurip; artinya

Bekerjalah untuk hidup, sesuai dengan kehendak hidup.

 

            Dari buku yang saya baca itu, pada bagian lain juga mengulas Pujangga Ranggawarsita memiliki kemampuan, dan menguasai banyak pengetahuan. Baik yang kasar maupun yang halus. Tertulis dalam “Sabdajati” bait 1, berbunyi: Hawya pegat ngudiya ronging budyayu/Margane suka basuki/Dimen luwar kang kinayun/Kalis ing panggawe sisip/Ingkang taberi prihatos. Artinya: Jangan berhenti berbuat kebajikan, agar mendapatkan kebahagiaan, terhindar dari perbuatan jahat, dan gemarlah berprihatin.

Dari  buku “Jayengbaya” kita dapat pesan bahwa hidup tak perlu berlebihan, apa lagi sampai korupsi uang milyaran. Itu sangat tidak pantas, hiduplah sesuai kehendak hidup. Tidak berlebih-an. Sakmadya, secukupnya sajalah. Gak perlu berlebihan. Sedangkan dalam “Sabdajati” bisa diartikan bahwa manusia jangan lupa berbuat kebaikan sesama. Agar dapat bahagia, dan dijauh-kan dari malapetaka, serta jadilah orang yang suka prihatin. Suka berdoa. Tidak menuruti hawa nafsu yang rakus itu. Apa lagi korupsi uang rakyat. Sungguh tak bermatabat!

Dari uraian ini, barangkali kita perlu berkaca dari tulisan apik sang Pujangga Ranggawar-sita ini. Lalu perbaikilah diri sendiri, tanpa harus menyalahkan orang lain.


            Jika pada uraian buku “Joko Lodhang” bicara soal prediksi/ramalan yang hampir kebetulan benar, maka pada buku “Jayengbaya” bicara soal  bagaimana manusia harus hidup yang sederhana saja. Sementara “Sabdajati” lebih bicara soal berbuat baik untuk mencapai kebahagiaan bagi seorang anak manusia.

            Ini semua bukti Pujangga Ranggawarsita memang orang mumpuni, dalam ramalan, wejangan, dan anjuran yang baik  tentang tata kehidupan bagi umat manusia. Barangkali bisa jadi rujukan hidup kita manusia.**

 

Mojokerto, 13/6/2020.@@

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar: