Minggu, 15 Januari 2017

KLIPING KORAN PPSJS SURABAYA

PPSJS
Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), telah banyak berkiprah dalam menumbuhkembangkan sastra Jawa di Jawa Timur, bahkan menjangkau Jawa Tengah dan Yogyakarta. Beberapa waktu lalu pernah menerbitkan buku kumpulan guritan dan cerkak yang dibacakan pengguritnnya di berbagai kota: Surabaya, Solo, dan Yogya. Berikut kliping koran yang saya punya, saya coba unggah di blogger saya. Semoga bermanfaat, bagi pembaca!




KLIPING-KLIPING KORAN TENTANG MALSASA


Selasa, 19 Juli 2016

LAKON ITU BERNAMA LENNON

LAKON ITU BERNAMA LENNON
catatan: aming aminoedhin


Sudah sejak lama, saya berkenalan dengan Lennon Machali. Beberapa kali saya ketemu, selalu ia pas mengikuti berbagai lomba seni: baik teater, fragmen budi pekerti, musikalisasi puisi atau baca puisi. Ia tidak ikut sendiri, tapi mengantarkan anak didiknya yang akan ikut berlomba.
Kebetulan beberapa kali pula, saya pas macak/bertindak sebagai kelompok dewan jurinya, dan secara kebetulan pula (seringkali) anak didiknya selalu jadi juara. Tidak hanya sekali dua, tapi berkali-kali memenangi juara seni lomba semacam ini. Baik di tingkat Kabupaten Gresik, kegiatan di Surabaya, dan bahkan di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Ini membuktikan bahwa Lennon, memang tidak pernah setengah hati menangani seni pertunjukan semacam ini. Barangkali berlatih dengan berdarah-darah, agar mimpi jadi juara itu teraih nanti.



Lennon Machali, kelahiran Gresik, 13 Maret 1953 ini memang lakon dalam setiap menggarap-pentaskan sebuah seni pertunjukan semacam teater, dan musikalisasi puisi. Tiada tanding, tiada banding! Terbukti, seperti yang telah saya tuturkan di atas, selalu juara dan juara lagi.
Bersama Lennon yang biasa jadi lakon ini, saya pernah satu panggung pentas teater bertajuk "Skolah Skandal" karya sutradara Akhudiat, pada 3 November 2011. Ketika itu yang ikut main ada: Deny Tri Aryanti, Wina Bojonegoro, Aming Aminoedhin, Yuyun Wahyuni (istri Lennon), Desemba, dan beberapa anak-anak siswa SMKI Surabaya. Lennon, benar-benar dadi lakon, karena ia memerankan dhalang dengan sangat bagusnya.
Lantas, sebagai juri lomba baca dan tulis puisi, saya pernah diajak Lennon Machali, bersama Herry Lamongan, jadi juri Lomba Tulis Baca Puisi bagi Guru TK/PAUD Muhammadiyah di kota Malang.
Dari sini lahirnya gagasan membuat kumpulan puisi bersama bertajuk "Gresla Mamoso" yang berisi puisinya: Lennon Machali, Herry Lamongan, Tengsoe Tjahjono, Aming Aminoedhin, dan R. Giryadi.
Kumpulan puisi ini kemudian dibacakan di kota: Batu, Gresik, Blitar, dan Lamongan. Sungguh sebuah kenangan yang teramat indah jika mengingatnya. Dan Lennon, selalu hadir dalam setiap perhelatan baca puisinya.
Lennon, juga tercatat kerap ikut berkonstribusi dalam gelaran acara saya yang bertajuk "Malam Sastra Surabaya" atau Malsasa. Begitu pula acara Tadarus Puisi Bulan Suci, yang pernah saya gelar  pada acara bulan-bulan Ramadhan. Ia, selalu siap jika diajak bersastra-sastra. Meski ia tahu, bahwa sastra,  hanyalah kegiatan yang banyak meruginya. Tapi hatinya tak pernah merugi. Terbukti, ia selalu tegar dan sabar dalam menjalani.
Beberapa kali, bersama Lennon Machali, juga tampil acara baca puisi di Rumah Budaya "Kalimasada" Blitar, milik Bagus Putu Parto dan Endang Kalimasada itu. Bahkan terakhir, masih ikut tampilan pada acara tasyakuran ultah perkawinannya, dengan menerbitka buku 'Jalan Sunyi Doktorandus Kartomarmo'.
Lennon benar-benar jadi lakon dalam setiap tampilannya. Lebih lagi kesabaran dan kebesarannya dalam menagani seni susastra. Tampilannya yang selalu low-profile itu, ternyata menyimpan keampuhan yang tiada tara. Tiada tanding tiada banding, lebih lagi di kotanya Gresik.
Kemarin, 18 Juli 2016, pukul 09.00 pagi; tokoh kita Lennon yang lakon ini, meninggalkan kita semua. Terasa tak percaya, tapi benar adanya. Sungguh, saya sebagai temannya, merasa kehilangan sosok seniman yang sabar, tapi punya impian yang besar ini.
Selamat jalan kawan! Semoga surga sebagai tempatmu! Amin!

Desaku Canggu, 19 Juli2 2016







Minggu, 19 Juni 2016

DALANE URIPKU PAK SUPRAWOTO



LITERASI BAHASA JAWA TETAP ADA
Oleh: Aming Aminoedhin*


            Ketika pada hari Minggu (21/2/2016) rubrik Ruang Putih - Jawa Pos, memuat artikel tentang ‘Stagnasi Edukasi Sastra Jawa’ tulisan Ari Kristianawati; menyulut  ingatan saya akan kegiatan literasi berbahasa Jawa, yaitu peluncuran buku ‘Dalane Uripku’ yang selanjutnya disingkat ‘DU’ karya Suprawoto. Apa yang menarik dari bahasa dan budaya Jawa? Barangkali wejangan atau pitutur luhurnya yang selalu diusung dalam literasi bahasa Jawa tersebut, sehingga tetap tertulis di dalamnya.
            Berbicara soal literasi bahasa Jawa, seorang redaktur Majalah Jaya Baya Surabaya, Widodo Basuki, pernah mengatakan bahwa, “ Ketika ia membuka rubrik calon pengarang bagi para siswa, maka cerita yang dikirimkan ke redaksi kebanyakan bicara soal unggah-ungguh atau tata krama, kejujuran, dan budi pekerti luhur dalam kehidupan ini. Meskipun ceritanya tersebut ditulis dalam bahasa Jawa ngoko.”
            Kembali ke persoalan peluncuran buku DU yang ditulis dalam bahasa Jawa, dilun-curkan pertama kali di Mercure Grand Mirama Hotel – Jalan Raya Darmo – Surabaya, 12 Februari 2016 lalu. Letaknya di tengah atau jantung kota Surabaya. Sungguh terasa wah..., jika tak bisa dikatakan mewah. Buku yang diterbitkan oleh PT Panjebar Semangat Surabaya, dicetak pertama Februari 2016, dengan tebal 640 halaman tersebut, cukup eksklusif atau mewah - semewah tempat acara peluncurannya.
            Tampak banyak undangan hadir pada kesempatan tersebut, baik kalangan akademis, seniman, dan sastrawan, baik Indonesia maupun Jawa. Acara peluncuran DU itu terasa cair, ketika pemandunya Suko Widodo dan Priyo Aljabar. Banyak guyonan parikena dilontarkan, hingga dialog jadi terasa segar. Bahkan saya sebagai tamu didaulat pula untuk membacakan 2 geguritan guna meramaikan acara.
            Jika harus dikritisi acara ini, mengapa acaranya digelar di Mercure Hotel? Mengapa tidak diselenggarakan di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Taman Budaya Jatim, atau di kampus-kampus? Utamanya kampus Unesa yang mempunyai jurusan Bahasa Jawanya? Sebab acara literasi bahasa Jawa diadakan di hotel, terasa membuat jarak dengan orang Jawa kebanyakan yang suka bahasa dan sastra Jawa. Mau datang dan bergabung terasa kikuk, bahkan mungkin canggung.
            Sebaiknya acara ini memang harus digelar kembali, karena pentingnya isi buku ini,  dengan mengetengahkan juru bedah buku yang mumpuni bahasa dan sastra Jawa, seperti misalnya: Dr. Suharmono Kasijun atau Dr. Tengsoe Tjahjono, yang kebetulan keduanya dari Unesa. Atau siapa saja yang punya kapasitas mengulasnya, seperti redaktur Jaya Baya, Widodo Basuki.

Dalane Uripku

            Pada awalnya membaca buku setebal 640 halaman itu, memang terasa agak terasa malas. Namun setelah kita coba mulai membacanya, akan terasa cair mengalir tanpa terasa. Mengapa demikian? Ditulis dalam bahasa Jawa ngoko secara bercerita, tanpa harus meng-gurui pembacanya. Lebih lagi bagi orang Jawa yang gemar membaca, pasti akan terasa enak, dan kita (pembaca) mendapatkan banyak inspirasi yang apik dan menarik. Kenapa menarik?
Ada beberapa hal yang terasa lucu, dan bahkan mengingatkan kita sewaktu masih sekolah dulu. Ada guru yang galak, dan guru yang halus atau biasa-biasa saja.
            Simak potongan kalimat hal. 111 berikut ini: Beda karo Pak Supeno kang alus kaya Arjuna. Yen Pak Sukiran priyayine tegas, trengginas, lan kawentar kereng. Yen ana murid kang ora nggatekake utawa ora apal isine wulangan, biyasane dithuthuk nganggo githik. Mula bocah-bocah yen wis mlebu kelas ora ana kang wani cemuwit kae. (Beda sama Pak Supeno yang halus seperti Arjuna. Pak Sukiran orangnya tegas, trengginas, dan terkenal galak. Jika ada murid tidak memperhatikan atau tidak hafal isi pelajaran, biasanya dipukul pakai bilah kayu. Makanya anak-anak jika sudah masuk kelas tak berani bersuara sama sekali).

            Buku berjudul DU ini berkisah autobiografinya Suprawoto, mantan Kepala Dinas Infokom Jawa Timur (2002-2005). Barangkali orang media, utamanya wartawan cetak, elektronik (radio, televisi, dan online) yang ada di Surabaya, pasti kenal tokoh yang satu ini.
Apa lagi ketika,  ia jadi kepala biro humas PON 2000 di Jawa Timur, wartawan luar Jatim dan bahkan mancanegara pasti kenal beliau.
            DU mengisahkan perjalanan hidup Suprawoto, sejak dari desanya Maospati – Magetan, sekolah TK hingga SMA di daerahnya, hingga kuliah di berbagai jenjang perguruan tinggi berbeda, sampai meraih gelar doktor yang dicita-citakannya. Kisah tentang rumah tangga yang diarungi bersama istri, Titik Sudarti dengan segala kendalanya, serta bercerita pula tentang bagaimana ia bekerja yang salah jalur di DPU, lantas pindah ke Deppen, hingga terakhir menjadi Sekjen Kominfo – RI.
            Menceritakan dengan gaya penulisan bahasa Jawa yang santai, cair, dan mengalir itulah yang membikin pembaca yang pada awalnya enggan membaca, jadi tak mau berhenti untuk menyelesaikan membaca buku itu. Lebih lagi bagi orang Jawa yang sudah berumur sekitar 40 hingga 50-an ke atas, pasti akan terasa diajak tamasya oleh Pak Prawoto. Pembaca seperti diajak untuk merasa tabah ketika datang musibah, dan bersyukur ketika mendapatkan anugerah. Tidak hanya itu, pembaca juga diajak untuk tetap berusaha tanpa ada kata putus asa.
            Membaca buku ini serasa kita mendapatkan banyak pitutur luhur, untuk selalu berbuat baik kepada sesama, berjuang tanpa pantang menyerah, serta tidak lupa harus selalu bersyu-kur,dan berdoa. Sekaligus ini membuktikan bahwa literasi tulisan bahasa Jawa selalu saja bicara soal-soal budi pekerti luhur, seperti yang dikatakan Widodo Basuki di muka.
            Dalam buku autobigorafi Suprawoto yang ditulis menggunakan bahasa Jawa ini, membuktikan juga bahwa literasi Jawa tetap eksis. Artinya keberadaan literasi Jawa terus berlangsung, meski bukan berupa sastra.

Literasi Bahasa Jawa Tetap Ada

            Jika saja, kita baru-baru ini kita kehilangan tokoh sastrawan Jawa, Suparto Brata, yang meninggal dunia karena usia; bukan berarti kita lantas dengan serta merta takut literasi bahasa Jawa akan mati. Tidak! Buktinya masih ada tulisan autobiografi berbahasa Jawa, tulisan Suprawoto ini. Sedangkan bentuk karya sastra Jawanya, teman-teman komunitas Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), dan Sanggar Triwida Tulungagung; beberapa tahun terakhir ini tetap bertahan dengan menerbitkan buku-buku sastra Jawa.
            Berdasar uraian di atas, menjelaskan bahwa literasi bahasa Jawa, ternyata masih tetap memuat pitutur luhur atau budi pekerti luhur  (meski bukan berupa sastra) kepada pembaca, sekaligus membuktikan bahwa literasi bahasa Jawa tetap ada, dan terus ada!**

Desaku Canggu, 22 Februari 2016



* penyair/penggurit, sekretaris ppsjs – tinggal di mojokerto.

Senin, 08 Februari 2016

LUDRUK PUISI FSBS LUNCURKAN "DKJS"

PENTAS “DENDANG KECIL  JALAN SUNYI”
di TEMBI –YOGYA dan  KAFE GELASS SURABAYA

            Peluncuran buku kumpulan puisi “Dendang Kecil Jalan Sunyi” terbitan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) 2015, telah digelar di dua kota. Pertama di Tem-bi Rumah Budaya – Sewon – Bantul - Yogyakarta,   29 Otober 2015; dan Kafe Gelass – Jalan Kayun 16-18 Surabaya , 22 Desember 2015 lalu.  Buku kumpulan puisi “Den-dang Kecil Jalan Sunyi” yang berisi  puisi-puisi para penyair Jawa Timur, kebetulan mereka pernah jadi juri lomba bidang sastra (baik menulis dan baca puisi, cerpen, dan teater) tingkat Provinsi Jawa Timur.
            Mereka itu, antara lain: Jack Parmin, R. Giryadi, Aming Aminoedhin, Ayomi Tyas Wening (Suharmono Kasijun), Herry Lamongan, Bagus Putu Parto, Ida Nurul Chasanah, Lennon Machali, R. Djoko Prakosa, Tengsoe Tjahjono, Widodo Basuki, dan Tjahjono Widarmanto.  

Tembi Rumah Budaya Yogya

            Peluncuran buku di Yogyakarta, dalam tajuk Sastra Bulan Purnama ke-49 Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul; digarap dengan tam-pilan Ludruk Puisi ala FSBS yang bikin penonton tertawa-tawa atas tampilan kawan-kawan penyair. Ada pun yang tampil di Tembi adalah: Jokasmo (potolan: Srimulat), R. Giryadi, Aming Aminoedhin, Widodo Basuki, Tjahjono Widarmanto, Lennon Machali, Bagus Putu Parto, dan Endang Kalimasada.
            Lakon yang diangkat malam itu ’Joko Sambang’ bikin meriahnya malam.
            Pentas semalam di Yogyakarta tersebut, secara tampilan cukup mendapatkan respons positif dari masyarakat sastra Yogyakarta. Terbukti, meski tampil di acara paling terakhir, penonton tetap padat memenuhi amphytheater-nya rumah budaya tersebut. Bahkan tampilan ludruk puisi menjadi semacam ‘gong’ acara malam itu.

            Sungguh, awak ludruk FSBS juga cukup puas atas tampilan malam itu.  Apa
lagi ada juga bintang perempuannya yang ikut baca puisi, bernama Endang Kali-masada. Bahkan Tengsoe Tjahjono, yang berada di Seoul – Korea Selatan – suaranya bisa didatangkan untuk membacakan salah satu puisi yang termuat di kumpulan  ‘Dendang Kecil Jalan Sunyi’ tersebut.



Kafe Gelass Surabaya

            Selepas tampil di Yogya,  awak ludruk FSBS merasa perlu meluncurkan kem-bali  buku kumpulan puisi “Dendang Kecil Jalan Sunyi” di kota Surabaya. Terpilih-lah, Kafe Gelass, Jalan Kayun 16-18 Surabaya, pada 22 Desember 2015. Lakon yang diangkat adalah ‘Suminten Ilang’ yang diperankan Deny Tri Aryanti.

            Awak yang tampil malam itu, antara lain: Jokasmo, R. Giryadi, Aming Ami-noedhin, Widodo Basuki, Deny Tri Aryanti, Ida Nurul Chasanah, Endang Kalimasa-da, Bagus Putu Parto, Suharmono Kasijun, dan R.Djoko Prakosa. Mereka awak ludruk FSBS tampaknya memang sudah terbiasa di atas panggung. Sehingga, mereka semua tampak tak canggung. Bahkan secara improvisasi gerak maupun dialog sepertinya begitu mengalir cair dalam gelaranpentasnya. Lebih lagi, ada potolan Srimulat, sang Jokasmo, ikut meramaikan pentas malam itu. Kian ger-geran, dan tertawa tanpa jeda.





            Sebelum gelaran ludruk puisi, sempat Bokir Surogenggong,  pengelola kafe memberikan basa-basi selamat datang. Selanjutnya, gelaran ludruk dimulai dengan kidungannya R. Giryadi. Selanjutnya cerita mengalir dengan enak, dan penuh tawa gelak penonton yang hadir malam itu. Kebetulan, tanggal 22 Desember 2015 adalah hari Ibu, dan sekaligus ulang tahun Aming Aminoedhin; maka para perempuan awal ludruk FSBS memberikan bunga merah-putih tanda ucapan selamat.

            Yang pasti, pentas Ludruk Puisi ala FSBS dalam rangka peluncuran buku ’Dendang Kecil Jalan Sunyi’ di dua kota besar, Yogya dan Surabaya; cukup sukses digelarpentaskan oleh awak ludruknya. 
Berikutnya, akan juga tampil di Kafe Pustaka , Universitas Negeri Malang, menggelar lakon "Felix Mencuci Piring" karya Tengsoe Tjahjono.  Sampai jumpa di Kafe Pustaka Malang,  Salam!  -  dari Desaku Canggu, 25 Desember 2015. (mat)**