Rabu, 10 Desember 2008

jazz night surabaya

JAZZ NIGHT TAMAN BUDAYA JATIM
* hilangkan haus dahaganya ‘jazz lovers Surabaya’

oleh: aming aminoedhin

Prolog
Malam itu (4/12/2008), di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya; telah digelar acara “Jazz Night”. Sebuah acara yang digagas oleh Yason A Gunawan, yang akrab dipanggil Sony, serta Benny Kartono dan Benny Chen (putra Bubby Chen). Acara ini diharapkan bisa membangkitkan gairah jazz di kota Surabaya, dan itu perlu adanya dukungan para ‘jazz lovers’ Surabaya, demikian kata Benny Kartono, disela-sela pertunjukannya malam itu. BK melantunkan dua judul lagu yang membuat audiens bertepuk tangan riuh.
Sementara itu, Benny Chen, mencoba menjelasterangkan definisi ‘jazz’ itu sendiri. Menurut Chen, bahwa musik jazz harus ada improvisasinya. Dan menggarap lagu jazz, adalah saat bermain di atas pentas. Artinya, bermain musik jazz, haruslah mempunyai kemampuan improvisasi-improvisasi saat mereka bermain di atas pentas itu, tambahnya. Jadi jazz itu sederhana, tapi juga tidak sesederhana yang dibayangkan. Sedangkan Yason A Gunawan yang Sony itu, di sela-sela pertunjukan ”Jazz Night” malam itu, mengatakan bahwa, “Saya bertekad untuk terus memajukan jazz di kota Pahlawan, Surabaya ini. Untuk itu, saya mengajak semua audiens untuk bersama-sama bekerja sama dalam memajukan jazz di Surabaya.”
Lebih jauh, Sony, ingin mengembalikan reputasi Surabaya sebagai barometer musik jazz di Indonesia. Benarkah? Pertanyaan yang perlu jawaban dengan fakta pentas jazz di Surabaya.

Pentas Malam Itu
Pentas musik jazz malam (4/12/2008), sungguh cukup melegakan para ‘jazz lovers’ Surabaya, yang memadati Gedung Cak Durasim, di Taman Budaya Jatim malam itu. Beberapa nomor lagu digelarpentaskan malam itu, dan penonton yang hadir bertepuk tangan atas tampilan mereka yang kompak dan rancak. Malam indah menyenangkan!
Vokalis yang tampil pada “Jazz Night” adalah Benny Kartono, Aska Daulika, dan Natasya Gabriella. Mbak Aska Daulika melantunkan ‘The Girl from Ipanema’ dengan suaranya yang agak serak malam itu. Tapi cukup yahud dan enak didengar audiens yang hadir. Sedangkan Natasya, si penyanyi idola cilik, melantunkan 'Santa Claus is Coming to The Town'. Sungguh mendapatkan applause dari audiens yang memadati Cak Durasim.
Pentas jazz malam itu, sungguh luar biasa, di samping gratis; tampilan para personalnya cukup handal, dan bisa menyejukkan suasana kota Surabaya yang jarang ada tampilan musik semacam ini. Barangkali apresiasi jazz bagi masyarakat kota Surabaya, memang perlu digelarpentaskan acara semacam ini. Mungkin sebulan sekali, atau bisa juga dua bulan sekali. Untuk pertama kali ini, mungkin memang gratis, tapi selanjutnya, mereka (jazz lovers) dicoba pula untuk diajak menghargai musik jazz itu sendiri, dengan membayar tiket. Tidak harus dengan harga mahal, mungkin HTM hanya Rp 10.000,00 s.d. Rp 15.000,00 (sepuluh atau limabelas ribu rupiah). Agar rekan-rekan pemusik jazz juga bisa bernafas, setidaknya bisa ganti bayar sewa gedung dan komsumsi yang (kebetulan malam itu) dibagikan gratis.
Beberapa rekan yang nontok malam itu, banyak yang kecewa, karena mereka datang, hanya kebagian dua lagi terakhir saja. Mungkin terlalu sore, ketika acara itu digelar. Sehingga acara selesai masih sore pula. Padahal, kata penonton yang datang terlambat tadi, biasanya jazz dimulai pukul 20.00. WIB. Lha kok sekarang sudah usai.
Perhitungkan dong, yang rumahnya jauh seperti saya ini. Belum lagi, jalanan macet dan hujan. Jika ada lagi, mohon agak malam mulainya, katanya pada saya. Padahal, saya bukan panitia. Lha lucu khan?
Pementasan malam itu, memang ada yang terasa kurang. Setting panggung, kurang tergarap dengan cantik. Bahkan tak ada baddrop atau spanduk di belakang panggungnya. Jika saja, dinding panggung ada tulisan “Jazz Night” warna putih, maka pementasan malam itu, akan terasa lebih terkesan lebih wah lebih serius. Di bagian alat musiknya, tampilan malam itu tidak menghadirkan alat perkusi dan saksofon, yang sebenarnya akan lebih lengkap tampilannya.
Tapi, tampilan pertama kali, “Jazz Night” malam itu, cukup menghilangkan rasa haus dan dahaganya para jazz lovers Surabaya. Angkat jempol tinggi-tinggi buat: Yason, BK, Jeffry, dan Benny Chen; yang telah memprakarsai “Jazz Night” malam itu. Luar biasa! Sukses buat rekan-rekan jazzer Surabaya !

Epilog
Seperti impian saya sejak mula, harapan bahwa pentas “Jazz Night” ini, tidak hanya sekali ini. Tapi bisa berkelanjutan digelarpentaskan. Sebulan sekali, misalnya. Bahkan jika mungkin digelarpentaskan di halaman terbuka Taman Budaya, sehingga masyarakat luas akan ikut menontonnya. Tentunya, jika cuaca memang lagi kemarau, bukan saat hujan tiba, seperti sekarang ini. Begitu pula, para penggemarnya (jazz lovers) diajak pula menghargai musik jazz itu sendiri, dengan mau membeli tiket, jika tampilan kedua nanti sudah harus dikarciskan. Harapan saya, awalnya tiket memang tidak harus dijual mahal, tapi cukup terjangkau bagi kaum jazz lovers kota Surabaya.
Semoga pentas “Jazz Night” pertama kali ini, akan menjadikan kota Surabaya, bukan saja dengan sebutan sebagai kota buaya saja, tapi kota yang lebih berbudaya, dan sekaligus menghaluskan budi bagi audiens jazz-nya. Salam budaya! (aming aminoedhin, 10 desember 2008).

Senin, 17 November 2008

ceramah di sastra jawa unesa

MENULIS dan BACA PUISI ITU GAMPANG*
oleh: aming aminoedhin

Catatan:
Hari ini, Senin, 17 November 2008 saya ceramah sastra di hadapan mahasiswa sastra Jawa Unesa, selain bicara sastra Indonesia, juga sastra Jawa (termasuk Guritan), pukul 19.00. s.d. 22.00. WIB. bertajuk "Purnama Sastra Unesa Sastra Jawa"

Malam itu hujan turun deras sekali di Kampus Lidah Wetan, diskusi sastra malam nan sepi, dan sunyi. Ternyata tak menyurutkan mahasiswa menghadiri, terbukti ada sekitar 60-an mahasiswa Sastra Jawa - Unesa hadir mengikuti. Diskusi dipandu oleh Keliek Eswe yang Drs. Sugeng Wiyadi. Mereka sempat juga latihan menulis guritan secara spontan. Hasilnya, mengagumkan! Tidak hanya menulis, tapi juga membacanya, dahsyat! Kesetiaan mereka di ranah sastra Jawa, haruslah diacungi dua jempol kanan kiri. Hueeebat dan sukses buat mahasiswa sastra Jawa - Unesa, angkatan 2008-2007, dan sebagian 2006.

Menulis Puisi
Menulis, apa lagi menulis puisi itu sangat gampang? Kenapa? Karena setiap langkah kita, bisa kita tulis sebagai bahan menulis puisi. Bayangkan saja, perjalanan dari rumah ke kantor atau sekolah, sudah ada banyak hal yang bisa kita tulis untuk puisi. Bisa bicara soal jalan yang berlubang, jalanan macet, indahnya mentari, ketemu wanita cantik, lelaki yang ganteng, pepohonan yang hijau, sawah yang menguning, tebu-tebu dengan bunga putihnya yang meluas, dan masih banyak lagi.
Seperti yang dikatakan Arswendo Atmowiloto, mengarang itu gampang, maka menulis puisi itu, lebih gampang lagi. Karena hampir semua orang pasti bisa menulis puisi, terlebih ketika sedang jatuh cinta. Pastilah seseorang mudah menumpahkan rasa cintanya tersebut dalam baris-baris, bahkan bait-bait puisi. Percayalah itu pasti!
Kata puisi, menurut teori, adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan baris.
Dalam hal menulis puisi, berdasarkan pengalaman penulis, seorang penulis puisi haruslah memperhatikan beberapa hal berikut ini:
a. Puisi mengandung unsur keindahan dan kemerduan bunyi, maka diperlukan
pemilihan kata atau diksi yang baik dalam penulisannnya;
b. Sebuah puisi, sebaiknya menggunakan kata-kata dasar dalam penulisannya. Sebab puisi yang baik adalah puisi yang menggunakan sedikit kata, tapi punya banyak makna (multi-interpretable). Untuk itu kata-kata yang dipakai lebih konotatif, bermakna ganda.
c. Sebuah puisi pasti ada pesan (massage) di dalamnya, atau bisa dikatakan sebagai ‘tema puisi’ bisa pesan/tema cinta, moral, religi, kritik sosial, pesan pendidikan, dan banyak lagi. Tapi tidak harus secara jelas/ gamblang diterangkan dalam puisi, tapi sebaiknya disebunyikan/dititipkan pada rangkaian baris dan bait dalam sebuah puisi;
d. Dalam menulis puisi seseorang tidak harus mencari tema/pesan apa yang harus ditulis, karena tema/pesan itu sifatnya abstrak. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana seseorang mau menuliskan apa-apa yang ada dalam obsesi benaknya. Tulis aja, tanpa harus takut bertema apa nanti puisinya.
e. Usahakan menulis dengan tanpa ada rasa beban, mengalir cair saja seperti air dalam sungai. Jadi seseorang menulis puisi itu, tanpa harus memilih tema, tempat dan waktu, dalam menulis. Kapan saja, dan di mana saja bisa menulis puisi. Nah…. ternyata menulis puisi itu gampang sekali. Lantas mengapa kita tidak menulis puisi? Mari menulis puisi!

Baca Puisi
Baca puisi, adalah wilayah dalam kategori membaca indah itu, ternyata tidak semudah dilakukan oleh seseorang. Apalagi bagi orang yang awam, dan tak pernah naik panggung. Bagi mereka mungkin sulit, tapi tidak bagi mereka yang sudah terbiasa membacanya. Membaca puisi, selain sebagai jenis membaca indah, juga merupakan salah satu kegiatan apresiasi sastra.
Apresiasi sastra dapat diartikan sebagai usaha pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap karya sastra, sehingga menimbulkan kegairahan terhadap sastra tersebut. Apresiasi sastra juga dapat menciptakan kenikmatan yang timbul sebagai akibat pengenalan dan pemahaman terhadap sastra. Sedangkan salah satu bentuk apresiasi sastra adalah dengan cara membaca puisi. Karena dengan membaca puisi seseorang akan dapat kenal dan paham, serta menimbulkan gairah, serta kenikmatan terhadap perilaku kehidupan seseorang.
Mengapa demikian? Karena pembaca akan menangkap keindahan, kemerduan bunyi, serta mungkin pesan-pesan moral yang terdapat dalam sastra, sehingga nurani-nya tersentuh, yang pada akhirnya perilaku kehidupan sehari-hari seseorang tersebut akan juga berubah ke arah yang lebih baik.
Sedangkan untuk menghasilkan pembacaan puisi yang baik dalam suatu performance art ada beberapa syarat, di antaranya adalah:
1. pertama yang harus dilakukan seorang pembaca puisi adalah mengetahui lebih dulu interpretasi: penafsiran dari isi puisi tersebut, baru kemudian membacanya.
2. artikulasi: tekanan kata, yaitu mengucapkan kata secara tepat dan jelas atau pelafalan harus benar;
3. volume : lemah dan kerasnya suara (usahakan suara asli pembaca dan suara tidak dibuat-buat);
4. tempo : pengucapan cepat dan lambatnya suara disesuaikan dengan isi puisi;
5. modulasi : mengubah suara dalam baca puisi;
6. intonasi : tekanan dan lagu kalimat;
7. teks puisi: dalam baca puisi, seharusnya teks puisi yang dibaca tidak menutup wajah pembaca, dan bahkan jika bisa teks tersebut bisa dijadikan alat/sarana akting.
8. akting : usahakan dalam baca puisi tidak terlalu banyak gerak, sehingga tidak over-acting.

Selain aspek yang telah saya kemukakan di atas, perlu pula seorang pembaca puisi mempunyai penampilan seni (performance-art), artinya seorang pembaca puisi tidak harus bersikap sempurna seperti tentara akan baris, tapi usahakan juga berakting dengan indah, melalui gerak tangan dan kaki, ekspresi muka, dan lain sebagainya. Lantas mau memanfaatkan stage atau panggung yang ada di sekitarnya.
Dalam hal ini biasanya disebut sebagai teknik menghidupkan suasana atau mood, agar bacanya menjadi intelligible (yang dapat dimengerti, mantap dan meyakin-kan bagi pendengar/audiens), dan audible (dapat didengar dengan jelas pelafalan bacanya) , dan kemudian isi puisi yang disampaibacakan tersebut bisa ditangkap oleh penonton..
Dari uraian di atas, tampaknya membaca puisi memang gampang. Tapi sebenarnya tak semudah yang kita omong-bicarakan. Apalagi bagi seorang pemula di dunia panggung atau hiburan, semacam baca puisi yang dihadiri banyak penonton. Ayo kita coba baca puisi berikut ini:

SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR
oleh: aming aminoedhin

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat
Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap
Ajari aku tidak angkuh
Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh
Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta
jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja
seperti orang-orang dewan di Jakarta

Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat
lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
membuat kata putus benar-benar manusiawi
menjalankan program dengan kendaraan nurani hati

Surabaya ajari aku. Ajari aku
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut
yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat
menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad
tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung

Surabaya memang boleh berdandan
Bila malam lampu-lampu iklan warna-warni
Siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi
Senja meremang, mentarinya seindah pagi
Di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita

Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya
Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan
Kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar
Dan suara rakyat adalah suara kebenaran
Tak terbantahkan. Tak terbantahkan!

Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar!
Surabaya, 21 November 2005


aming aminoedhin
DI MANA MEREKA SEKOLAH

desa temanku tenggelam sudah
tak ada lagi tanaman hijau
tinggal kini terlihat atap-atap rumah
tampak seperti mengigau

igauan suaranya perih
atap-atap rumah seakan merintih
dari lumpur yang membuat hancur
hingga beribu penghuninya kabur

desa temanku tenggelam sudah
aku tak tahu ke mana mereka pindah
di mana mereka kini sekolah

Sidoarjo, 12/2/2008

aming aminoedhin
AKU LUPA MENGAJI

Pada musim kemarau
rumput-rumput di tanah lapang
mengering. Daun di pepohonan kering

Angin terlalu kencang
menerbangkan debu dan layang-layang
layang-layangku nan gagah terbang
diulur panjangnya benang

Hati ini jadi riang
bermain layang-layang
hingga aku lupa
belajar mengaji
di mushola

Barangkali aku berdosa
lantas aku berjanji dalam hati
tak mengulangnya di esok hari

Mojokerto, 1999

aming aminoedhin
JENDELA DUNIA

Almari Bapakku dipenuhi buku
kata Ibu, semua buku-buku itu
adalah jendela dunia
jika aku mau baca
segala ilmu akan kusua

Ternyata benar, kata Ibu
selepas buku-buku kubaca
dunia tampak ada di sana
ada yang hitam dan putih
ada yang senang dan sedih

Jadi kawan!
bacalah buku agar kau
bertemu segala ilmu

Baca dan bacalah buku
karena buku adalah jendela dunia
sejuta ilmu pasti kau sua

Mojokerto, 19/10/1999


aming aminoedhin
BERJAMAAH DI PLAZA

kata seorang kyai, belajar ngaji
adalah amalan yang patut dipuji
dan sholat berjamaah
dapat pahala berkah
berlipat-lipat jumlah

tapi kenapa banyak orang
belajar nyanyi, belajar tari
dan baca puisi?

tapi kenapa banyak orang berjamaah
hanya di plaza-plaza
hamburkan uang berjuta-juta?

adakah ini dapat dipuji, dan
adakah plaza menyimpan pahala
berlipat ganda?

ah… barangkali saja, plaza-plaza
telah jadi berhala baru
yang dipoles gincu
begitu indah
dan banyak orang ikut berjamaah


Surabaya, 1992

Membaca puisi, yang merupakan cabang seni membaca indah, memang tidak mudah, yang pasti diperlukan latihan-latihan yang lebih intens lagi. Pembaca yang baik, adalah yang sudah terbiasa di atas pentas, sehingga tidak ada lagi kata demam panggung.
Terakhir, bahwa menulis dan membaca puisi itu ternyata gampang, lantas mengapa kita tak mencoba menulis puisi, kemudian membacakannya sendiri? Ayo kita coba!

Desaku Canggu, 10 November 2008
M. Amir Tohar, lebih banyak dikenal dengan nama aming aminoedhin



DAFTAR PUSTAKA

Aminoedhin, Aming. 2000. Apresiasi Sastra Lewat Baca Puisi, Surabaya: Jurnal Gentengkali
Endraswara, Suwardi,. 2002. Metode Pengajaran Apresiasi Sastra, Yogyakarta:CV
Radhita Buana
Nadeak, Wilson. 1985. Pengajaran Apresiasi Puisi, Bandung: CV Sinar Baru
Poerwadarminta, WJS. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PN Balai
Pustaka
Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra, Jakarta: PT Gramedia
Tjahjono, Tengsoe. 2000. Membidik Bumi Puisi, Surabaya: Penerbit Sanggar Kalimas

BIODATA PENULIS:
aming aminoedhin
nama aslinya: mohammad amir tohar
lahir di ngawi, 22 desember 1957
alumni fakultas sastra, universitas sebelas maret surakarta, jurusan bahasa dan sastra indonesia. aktif kegiatan teater, dan pernah menyandang predikat “aktor terbaik” festival drama se jatim tahun 1983 dari teater persada ngawi, pimpinan mh. iskan. pernah menjabat biro sastra – dewan kesenian surabaya. ketua hp-3-n (himpunan pengarang, penulis, dan penyair nusantara) jatim, koordinator fass (forum apresiasi sastra surabaya), dan penggagas kegiatan malam sastra surabaya atau “malsasa” di dewan kesenian surabaya. punya predikat ‘presiden penyair jatim’ dijuluki oleh profesor doktor suripan sadi hutomo, almarhum. ikut temu penyair jateng di semarang (1983), temu penyair indonesia di taman ismail marzuki jakarta (1987).dan baca puisi di berbagai kota di jawa timur. karya puisinya banyak dimuat di koran dan majalah lokal dan ibu kota, antara lain: Surabaya Post, Berita Buana, Republika, Singgalang, Sriwijaya Post, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post, dan banyak lagi. sedang majalah yang memuat puisinya antara lain: Zaman,Horison, dan Basis. kumpulan puisinya bersama rekan penyair lain: Husst, Nyenyet, Wajah Bertiga,Reportase Sunyi, Pagelaran, Malsasa ‘92, ‘94, ‘96, 2000; Surabaya Kotaku, Memo Putih, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Semangat Tanjung Perak, Kabar Saka Bendul Mrisi, Drona Gugat, dan banyak lagi. Kumpulan puisinya sendiri: Berjamaah di Plaza, Kereta Puisi, Tanpa Mripat, Mataku Mata Ikan, dan Sketsa Malam. motivator komunitas sastra: forasamo (forum apresiasi sastra mojokerto), (ars) alam ruang sastra sidoarjo. ketua forum sastra bersama surabaya (fsbs), dan bekerja di balai bahasa surabaya di sidoarjo.

alamat: puri mojobaru az-23 canggu — kecamatan jetis – mojokerto 61352 telpon (0321) 361934 atau alamat email: amri.mira@gmail.com atau bisa berkunjung di: amingaminoedhin.blogspot.com dan malsasaakbar.blogspot.com

sosialisasi hasil kongres BI IX

BACA PUISI DI HOTEL UTAMI SURABAYA
oleh: aming aminoedhin

Senin, 10 November 2008 lalu, bertempat di Hotel Utami, Jalan Bandara Juanda, Surabaya; ada acara "Sosialisasi Hasil Kongres Bahasa Indonesia IX" yang diselenggarakan di Jakarta beberapa hari sebelumnya. Acara itu diselenggarakan oleh Biro Mental Spiritual, Pemda Tingkat I Provinsi Jawa Timur. Tampak hadir pada acara tersebut: Asisten I Pemda Tingkat I Jawa Timur, yang sekaligus membuka kegiatan yang berlangsung 2 hari tersebut. Dalam kegiatan ini, tampil sebagai pembicara: Dr. Dendy Sugono (Kepala Pusat Bahasa), Dr. Ayu Sutarto (Dosen Sastra Unej), Drs. Amir Mahmud, M.Pd. (Ka. BBS), dan Mashuri, S.S. (BBS), serta seorang guru dari Tuban.
Dalam kesempatan itu, saya diundang sebagai sastrawan, dan sempat membacakan dua judul puisi, masing-masing: Surabaya Ajari Aku Tentang Benar (versi Sumpah Pemuda), dan Tentang Pahlawan Bangsa.
Ternyata, puisi yang saya bacakan cukup mendapatkan respons para hadirin, yang kebanyakan dari kalangan guru tersebut. Mereka banyak yang minta fotokopiannya, dan kemudian saya menyuruh Panitia untuk menggandakan dan membagikan ke seluruh peserta. Bahkan Asisten I Pemda yang membuka acara itu, juga minta kopiannya.
Ada juga seorang guru yang protes, "Puisinya kok beda?"
Kemudian saya jawab, "Bahwa puisi ini adalah puisi yang versi Sumpah Pemuda!"
bahkan sebelum saya bacakan puisi tersebut, saya telah mengawali dengan menyebutkan sebagai puisi yang berversi "Sumpah Pemuda". Jadi memang ada perubahan bait-baitnya.
Inilah dua judul puisi yang saya bacakan pada saat itu:

aming aminoedhin
SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR
* versi Sumpah Pemuda

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat
Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap
Ajari aku tidak angkuh
Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh
Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta
jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja
seperti orang-orang dewan di Jakarta

Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat
lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
membuat kata putus benar-benar manusiawi
menjalankan program dengan kendaraan nurani hati
Surabaya ajari aku. Ajari aku
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut
yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat
menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad
tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung

Surabaya ajari aku pandai berbahasa benar
bahasa Indonesia, menulis tidak keinggris-inggrisan
namun berpijak pada bahasa “Sumpah Pemuda”
berbahasa satu bahasa Indonesia

Surabaya ajari aku pandai berbahasa benar
Tidak menulis Pasar Wonokromo jadi Darmo Trade Centre
Tidak menulis Pusat Pertokoan Wijaya jadi BG Junction

Surabaya ajari aku mencintai negeriku negeri Indonesia
Berbahasa satu bahasa Indonesia

Surabaya, 10 November 2008


TENTANG PAHLAWAN BANGSA
karya: aming aminoedhin

tentang pahlawan bangsa, kata banyak orang
bertanah air satu tanah air Indonesia kini telah mulai luntur
berbangsa satu bangsa Indonesia kini sudah kian hablur
tapi berbahasa satu bahasa Indonesia tetap manjur
persatukan negeri indah ini jadi gemah ripah loh jinawi

pahlawan kita telah ajarkan pesan
berbekal yakin pasti berpayung iman nan suci
bekerja sungguh sepenuh hati, kelak
segala damba segala cita kan tergapai nanti

pahlawan bangsa bukan hanya yang angkat senjata
melawan yang serakah mengusir penjajah, tapi
pasukan kuning nan setia bekerja, dari
parak pagi hingga malam telah sepi hening
para pelajar menempuh belajar tanpa keluh, dan
para guru mengajar dengan rasa ikhlasnya
termasuk pahlawan bangsa

Surabaya, 28 Oktober 2007

Acara yang dua hari itu, sayang saya tak bisa mengikuti seluruhnya, karena ada tugas jadi juri lomba baca puisi di Pekan Seni Pelajar di Surabaya. Sebenarnya ingin rasanya berbincang panjang sama mereka para guru yang kelak masuk surga itu. Setidaknya saya ingin bicara banyak tentang sastra, tentang sekolah dengan segala aktivitas sastranya. Salam buat semua guru yang ikut acara itu. Salam sastra bersama rinduku. Buat semua guru, silakan komentar atas blog ini. Terima kasih sebelumnya. Wasalam!

Sidoarjo, 17 November 2008

Rabu, 29 Oktober 2008

bulan oktober bulan bahasa

BULAN OKTOBER BULAN BAHASA
oleh: aming aminoedhin

Seperti kita ketahui bersama, bahwa pada bulan Oktober adalah bulannya para pemuda. Karena pada 28 Okotber 1928 yang lalu, para pemuda kita telah bersumpah: bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, danmenjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Sejalan dengan bulan Oktober merupakan bulan yang selalu mengingatkan kita untuk berbahasa satu, bahasa Indonesia, dan sekaligus mengajak untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar, maka bulan Oktober juga punya sebutan, sebagai “Bulan Oktober Bulan Bahasa.”

Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dipergunakan oleh bangsa Indonesia, sebagai bahasa persatuan, bahasa Nasional, dan bahasa Negara.
Melalui bahasa Indonesia ini pulalah, kita (para suku bangsa yang begitu banyak di Indonesia), bisa saling berkomunikasi secara mudah. Bahkan melalui bahasa Indonesia ini pulalah, persatuan antarsuku bangsa di Indonesia bisa terjalin dengan indah. Bahasa Indonesia juga diajarkan ke semua siswa, di semua jenjang pendidikan di Indonesia, baik dari tingkat Sekolah Dasar, Menengah, hingga ke tingkat mahasiswa.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang merupakan lingua-franca (bahasa pergaulan) di zaman pejajahan (1920-1945-an) di daratan semenanjung Malaka, Sumatra, dan Jawa. Untuk kemudian, dalam UUD 1945 tahun 1945 ditetapkan sebagai bahasa Nasional, dan bahasa Negara.

Perkembangan Bahasa Indonesia
Sebagai warga negara Indonesia, tentulah kita semua akan menghargai dan menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia. Karena bahasa ini, juga ditetapkan sebagai bahasa Nasional dan bahasa Negara.
Akan tetapi pada masa sekarang ini, di era reformasi, banyak warga negara Indonesia, sudah tidak begitu peduli dengan bahasanya sendiri, bahasa Indonesia. Di mana letak ketidakpeduliannya?
Secara gampang dan gamblang kita bisa menyebut, anak-anak muda sekarang lebih banyak berkata-kata (baca: bercakap-cakap) dengan bahasa ala Jakarta-an. Tanpa merasa bersalah, dan merasa lebih mentereng berbicara.
Pada sisi lain, apabila kita memasuki wilayah kota Surabaya, dari Selatan ke Utara, kita akan menemukan nama-nama gedung dan plaza yang tidak mencerminkan kota di Indonesia. Lihat saja sejak: CITO (City of Tomorrow), Jatim Expo, Royal Plaza, Dramo Trade Centre, Hyatt Hotel, Tunjungan Plaza, BRI Tower, BG Junction, JW Marriot Hotel, Sheraton Hotel, Garden Hotel, Citraland, dan seabreg nama-nama yang semuanya menggunakan bahasa Inggris. Belum lagi ada nama-nama Kentucky Fried Chicken, Mc. Donald, Texas Fried Chicken, dan banyak lagi lainnya.
Padahal nama-nama itu terpampang dengan besar dan mencolok di depan mata kita, saat seseorang melewati jalan-jalan protokol itu.
Memasuki jalan-jalan protokol Surabaya, kita seakan tidak lagi masuk kota di Indonesia. Tapi, sepertinya kita berda di luar negeri, Singapore atau Kuala Lumpur.
Untuk melestarikan bahasa Indonesia dari kepunahan, maka karya sastra merupakan salah satu aspek yang bisa mempertahankan keabadian bahasa Indonesia. Karena sastra, ditulis dengan bahasa Indonesia.
Menyemarakkan acara tersebut, saya juga membacakan dua judul puisi "Surabaya Ajari Aku Tentang Benar" dan "Berjamaah di Plaza".
Bulan Oktober, konon disebut juga sebagai “Bulan Bahasa,” lantas bagaimana kita ikut memperingatinya? Menjaga dan melestarikannya, atau malah seperti orang-orang kaya yang membuat nama-nama gedung menjulang dengan bahasa Inggris itu? Terserah!
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimanakah kita (warga dan bangsa Indonesia, utamanya pihak Pemerintah) dalam menyikapi persoalan ini?
Sebuah tanya, yang barangkali kita bersama-sama berdiskusi! Mari!



Mojokerto, 28 Oktober 2008


Aming Aminoedhin
Penyair!


Catatan:
1. bahan ceramah dan disuksi memperingati "Hari Sumpah Pemuda" 28 Oktober 2008 di UNIPA Ngageldadi, Surabaya, kerjasama UNIPA dan PRO 2 FM 95,2 - Life Style & Entertainment.
2. Selain Aming Aminoedhin, ada dua pembicara lainnya dari dosen UNIPA, Pak Sunu dan Taufiq. Audiens yang hadir mahasiswa, guru, dan para dosen UNIPA Surabaya. Kegiatan ini kerja sama UNIPA dengan PRO 2 FM 95,2 RRI Surabaya, yang akan disiarkan tunda, pada Minggu, 2 November 2008 pukul 20.00.-21.00. WIB.

Rabu, 22 Oktober 2008

mengapa tak menulis puisi?

MENGAPA TAK MENULIS PUISI?
oleh: aming aminoedhin


Banyak rekan yang kebetulan ketemu saya bertanya, “Bagaimana caranya menulis puisi yang baik?” Pertanyaan yang dilontarkan itu, terkadang membuat saya agak gagu (mungkin) ragu, untuk menjawabnya dengan pasti. Di samping sastra sendiri, utamanya (puisi) merupakan karya sastra yang memuat ambiguitas yang tinggi. Artinya, bahwa puisi yang baik, adalah puisi yang mempunyai makna ganda. Sedikit kata, tapi banyak memuat makna-arti.
Mereka (rekan-rekan) itu, bertanya kepada saya, karena menganggap saya ini adalah penyair (baca pula: presidennya penyair Jatim), yang mana setiap kata bisa dijadikan puisi.
Barangkali itu benar, tapi bisa juga tidak! Sebab, tidak selamanya kata-kata bisa dijadikan puisi di tangan seorang penyair.
Saya sendiri, jika boleh dikatakan penyair (bahkan presidennya penyair) merasa kelabakan jika harus ditanya soal yang satu ini. Soalnya, menterjemah-kan atau katakanlah menerangjelaskannya memang kelewat susah! Susahnya, adalah bagaimana saya harus memulainya? Dari soal kata, membaca, atau bahasa? Soal tema, diksi, intuisi, atau dari soal makna ganda puisi.
Selama ini, saya paling banter akan mengatakan kepada mereka, menulislah apa saja tentang kehidupan ini. Soal cinta, angina, kota atau cuaca yang dingin. Lantas bisa bicara soal laut dan langit, atau matahari dan rembulan. Bisa juga bicara tentang siang yang panas atau malam yang malas. Tentang dedaunan, sungai, dan alam pegunungan nan indah nian. Menulis tentang lapar, para pengemis di pasar, atau menulis soal korupsi yang banyak melanda negeri ini.
Pokoknya, menjawab tanya rekan-rekan tersebut, saya tandaskan untuk cobalah menulis apa saja yang ada di sekitar kita. Ibu, anak, istri, dan anak. Bahkan jika mungkin menulis tentang babu kita, kakek dan nenek, atau tetangga kita.
Seorang penulis, kata WS Rendra, haruslah bisa mendalami elemen dasar kehidupan itu sendiri. Sedangkan Derek Walcott, penerima Hadiah Nobel Sastra 1992, mengatakan bahwa penulis puisi adalah adalah orang yang bergelut dengan lautan emosi.
Dari referensi di atas, maka relevanlah bila saya anjurkan rekan-rekan menulis apa saja yang ada di sekitar mereka sendiri. Soalnya emosi mereka pasti masuk ke dalam hasil karya tulisan puisinya.
Berangkat dari ini semua, maka menulis puisi yang baik, saat seseorang tersebut telah menulis apa saja yang terasa mendesak hati atau emosi penulisnya. Desakan hati (emosi) disebut pula sebagai bisikan hati, dan kemudian secara akademis dinyatakan sebagai intuisi ini,
Yang seharusnya ditulis dalam baris-baris puisi. Dalam menuliskan puisi, saya anjurkan untuk menggunakan bahasa secara minimal, atau sedikit kata, tapi punya banyak makna. Lebih jelas lagi, usahakanlah menulis puisi dengan menggunakan kata-kata ‘dasar’ dalam menuangkan-nya. Bukan menggunakan kata-kata yang sudah merupakan kata jadian, atau kata dasar yang telah mendapatkan imbuhan, baik awalan maupun akhiran.

Menulis Puisi Bersahaja Saja

Seorang William Wordsworth (penyair Inggris, hidup 1770-1850) merasa yakin akan martabat manusia, terutama manusia dari golongan bawah/rendahan. Karena itu, subjek-subjek dalam tulisan puisinya ia pilih tentang kehidupan rakyat jelata, dan bersahaja. Lantas ditulis, dan dinyatakan dalam bahasa yang bersahaja pula. Maka lewat karya puisinya yang bersahaja pulalah, William Wordsworth, menjadi salah tokoh penyair pada zamannya.
Jadi menulis puisi itu memang diperlukan kebersahajaan dan kejujuran, serta ketulusan hati oleh penulisnya. Tidak perlu menulis puisi dengan dipaksakan, apa lagi mengada-ada yang tidak ada. Ini akan menjadikan karya puisi yang ditulis akan terasa tawar dan miskin makna.
Pertanyaan lain yang muncul setelah itu adalah, “Apa hanya itu saja, seseorang bisa menulis puisi dengan baik?”
Jawabnya adalah, “Tidak!
Karena masih banyak perangkat lain yang diperlukan dalam menulis puisi yang baik. Antara lain soal diksi, kemerduan bunyi, kekayaan kosa kata, kekayaan batin dari penulisnya. Agar kaya semua itu, maka perlu pula banyak membaca, baik puisi maupun prosa. Lantas banyak menonton, baik teater, tari, atau pameran seni rupa. Lantas ada pula syarat lain, di antaranya: tipografi penulisan, pesan yang dikandung isi puisi, dan yang terpenting adalah keuniversalan objek yang ditulisnya.
Syarat lain menulis puisi yang baik, adalah puisinya mengandung nilai poly-interpretable (bermakna ganda). Puisinya juga harus gemerlapan bagai intan. Indah bahasannya, dan sekaligus bisa mendedah rasa setiap pembacanya. Puisi yang dibaca hari dan esok, bisa mempunyai kandungan arti yang berbeda.
Untuk itulah, menulislah puisi apa saja, dan sebebas-bebasnya sesuai intuisi yang ada dalam diri penulisnya. Menulislah dengan kebersahajaan tema dan bahasanya; tanpa melupakan pemilihan diksi yang baik, guna menjaga kemerduan bunyi puisi yang ditulisnya, serta masukkan pulan pesan moral atau apa saja bagi pembaca puisi.

Pengalaman Menulis Puisi

Dalam hal menulis puisi, berdasarkan pengalaman penulis, seorang penulis puisi haruslah memperhatikan beberapa hal berikut ini:
a. Puisi mengandung unsur keindahan dan kemerduan bunyi, maka diperlukan pemilihan kata atau diksi yang baik dalam penulisannnya;
b. Sebuah puisi, sebaiknya menggunakan kata-kata dasar dalam penulisannya. Sebab puisi yang baik adalah puisi yang menggunakan sedikit kata, tapi punya banyak makna (multi-interpretable). Untuk itu kata-kata yang dipakai lebih konotatif, bermakna ganda.
c. Sebuah puisi pasti ada pesan (massage) di dalamnya, atau bisa dikatakan sebagai ‘tema puisi’ bisa pesan/tema cinta, moral, religi, kritik sosial, pesan pendidikan, dan banyak lagi. Tapi tidak harus secara jelas/ gamblang diterangkan dalam puisi, tapi sebaiknya disebunyikan/dititipkan pada rangkaian baris dan bait dalam sebuah puisi;
d. Dalam menulis puisi seseorang tidak harus mencari tema/pesan apa yang harus ditulis, karena tema/pesan itu sifatnya abstrak. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana seseorang mau menuliskan apa-apa yang ada dalam obsesi benaknya. Tulis aja, tanpa harus takut bertema apa nanti puisinya.
e. Usahakan menulis dengan tanpa ada rasa beban, mengalir cair saja seperti air dalam sungai. Jadi seseorang menulis puisi itu, tanpa harus memilih tema, tempat dan waktu, dalam menulis. Kapan saja, dan di mana saja bisa menulis puisi.
Nah…. ternyata menulis puisi itu gampang sekali. Lantas mengapa kita tidak
menulis puisi? Mari menulis puisi!


Sidoarjo, 22 Oktober 2008

Selasa, 21 Oktober 2008

Nyanyian Leo Kristi

TEPI SURABAYA
syair nyanyian leo kristi


betapa sepi.... seorang nenek.....
sendiri
di tepi.... lalu coba menyapa....
lewatnya hari, kota lama ini
terlewat tak berakar kaca-kaca miskin jiwa

tepi-tepimu Surabaya
di mana kita mulai semua ini
gema nyanyian pahlawan
kini jadi nyanyian wayang
tepi-tepimu oh.. Surabaya
gelap turun bagi jalan perempuan tua

nenek bukalah pintu yang kuketuk
tapi tidak dengan air matamu
hidup selalu berubah lewat pasang surut Kalimas
sinar lentera dalam kabut tipis
belum juga mati menjelang pagi
sinar lentera berkedip-kedip
tidak juga mati menjelang pagi

ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008



SURABAYA
syair nyanyian leo kristi

engkau keras dan sombong
engkau kasar dan angkuh
tatapan penuh nafsu
keringatku bercucuran di deretan rel-rel
keringatku bercucuran di deretan bordil
keringatku bercucuran di deretan palka
keringatku bercucuran di bordes trem-trem
kota!

ketika kau hadap matahari senja
keringatku sirna oleh desir anginmu
Surabaya …… Surabaya ……. Surabaya…….
aku cinta kau!

hey bangun dan berdiri
nyanyikan tidurmu matahari
Surabaya …….. oh.. Surabaya…… oh.. Surabaya……
Surabaya …….. oh.. Surabaya…… oh.. Surabaya……
hey bangun dan berdiri
nyanyikan tidurmu matahari ....


ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008


OH… SURABAYA
syair nyanyian leo Kristi

dengar tuter dan tuter
mesin-mesin berbunyi riuh-riuh
roda-roda berputar
dari pagi ke pagi
tiada pernah berhenti
tiada pernah berhenti

siapkan ransel, gitar dan tenda
ke luar kota pergi bersama
tinggalkan asap kotor
yang membubung tinggi ke udara
kotamu oh……Surabaya

Oh…. Surabaya……oh… Surabaya….. oh… Surabaya
aku dibesarkan riang
tempatku dibesarkan senang oh… Surabaya
tata…..ta…ta……Tata…..ta….ta…..Tata…. ta…ta….oh…..

kulihat surya di timur
burung-burung bernyanyi riang….riang…..
bangau terbang berarak
pucuk Randu merekah
awal musim panas tiba
awal musim panas tiba
Ka…ka….ka…..ka….ka…..ka…..ka ..…
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Oh…ye…..oh….ye……oh...ye....!!!
Oh..ye..oh..ye..oh...ye....!!!

ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008



SURABAYA BERNYANYI
nyanyian leo Kristi

Lek....! bulannya tunggu lek!
di sisi bunga-bunga enceng
Lek....! bulannya tunggu lek!
di sisi bunga-bunga enceng
kampung kemesraan lek!

Burung-burung kecil selesaikan sarang
Di pucuk –pucuk tangkai ilalang
Aha..... haa.....
Duka... duka istri dalam semalam
Cet...cet... cowet hingga pagi datang

Ke mana mereka pergi
Kembangkan sayap-sayap kecil dan sendiri
Semangat dan rasa terus mengalir
Semangat dan rasa terus mengalir jauh.....

Jongkok... pasar ...tiga kartuku berjajar
Nyari aku pada dipilih
Dengan segala tipumu
Anak manusia yang semakin jauh

Tembok-tembok kepala
Tembok-tembok telinga
Tembok-tembok mata memandang
Malam.............

Lihat jalan layang
Lampu-lampu neon jalanan
Lampu-lampu bintang dan bulan
Lampu-lampu pesawat terbang
Malam........!!!!!

Lihat jalan layang
Tembok-tembok kepala
Tembok-tembok telinga
Tembok-tembok mata memandang
Malam.............

Lintas jalan layang
Di mana terbang lepas... derita....
Lintas jalan layang
Tote lete ......Tote lete..........da...da... litata....
Tote lete ......Tote lete.......da...da....litata.......

Semangat dan rasa
Terus mengalir
Terus mengalir jauh

O...ooo....oooo....oooo....oooo!!!
O....ooo....oooo....oooo....oooo!!!
Anak-anak senyum dan bernyanyi
Di bawah pandan dan duri
Tatap hidup dan mati
Di hari kampung kemesraan
Lintas jalan layang ke taman Walikota
Tatap hidup dan mati.... berani!
Surabayaku bernyanyi.....bernyanyi
Tatap hidup dan mati.... berani!
Surabayaku bernyanyi ..bernyanyi
O.....leya.........leyo!



ditulis kembali: aming aminoedhin
22 Oktober 2008



SOLUS AEGROTI SUPREMA LEX EST
"penderita atau pasien adalah yang utama"
syair nyanyian leo kristi

lilin putih di tepi taman biru
gedung putih luas... tenang..... damai....
serasa tak.... lagi ada.... kota dan perang
karena saatlah dekat..... jalan..... Tuhan
solus aegroti suprema lexest
dilorong pedestrian tunduk melangkah
lorong pedestrian basah airmata

serasa tak... lagi ada.... kota dan perang
karena saatlah dekat... jalan....Tuhan
solus aegroti suprema lexest
lorong pedestrian tunduk melangkah
lorong pedestrian basah airmata
solus aegroti suprema lexest

ditulis lagi: aming aminoedhin
24 oktober 2008



MEMORIAL SUDIRMAN
syair nyanyian leo kristi

di bawah sorot lampu taman
engkau masih saja di situ adiek
tak ada selimut engkau tertidur sayang
berbantal tangan

sedan-sedan lewat
tak ganggu nyenyak tidurmu
keroncong kecil di tanganmu
hati besar di senyummu
senyum pahit di sekelilingmu
senyum manis di hatimu
hu.......hu......hu......
hu........hu......hu.......
adiek nyanyikan aku satu lagu
kasih sayang

tegak bayang-bayang berpedang
bungkukkan badan membelai rambutmu
mengusap wajah lembut kumal
seraya berbisik, “tabahlah hatimu!”

anak sudirman tertidur di bawah telapak kakimu
anak sudirman tertidur di bawah telapak kakimu
o....betapa panjangnya hari....
hari ini dan hari esok kan tiba

adiek nyanyikan aku satu lagu
bara hati..........!! bara hati..........!!!
bara hati..........!! bara hati .........!!!


ditulis kembali: aming aminoedhin
24 oktober 2006

Jumat, 10 Oktober 2008

tadarus puisi di AREK TEVE

tadarus puisi penyair dan penggurit
di “AREK TEVE” SURABAYA


Penghujung bulan Ramadhan 1429-H lalu, saya rekaman tadarus baca puisi dan guritan bersama rekan-rekan penyair dan penggurit Surabaya, dan Jawa Timur. Mereka antara lain: M. Shoim Anwar, Aming Aminoedhin, Suharmono Kasijun, Bonari Nabonenar, AF Tuasikal, R. Giryadi, Budi Palopo, Widodo Basuki, Suko Widodo (Dosen Unair), Priyo Budi Santoso (anggota DPR-RI), dan Imung Mulyanto (yang jadi juragane Arek Teve).

Ide Tadarus Puisi Bersama Istri
Ide tentang “Tadarus Puisi” ini, berawal saat saya bersama istri berbincang tentang acara “Para Kyai Baca Puisi” yang pernah saya gelar di Festival Seni Surabaya 2006 lalu. Kegiatan itu, banyak mendapat respons positif dari masyarakat. Penontonnya pun saat itu, meluber memenuhi Gedung Balai Pemuda Surabaya. Lantas, secara iseng saya punya ide buat acara “Tadarus Puisi” di televisi.
“Mengapa tidak?” tanya istri saya.
Lantas ide itu saya tulis dalam pesan singkat (sms) ke Imung Mulyanto, yang punya Arek Teve. Ternyata jawaban yang saya terima adalah masih didiskusikan dengan awaknya.
Nah... pada penghujung Ramadhan lalu, saya baru mendapat sms dari Sasetyo Wilutomo (awaknya Arek Teve), guna merealisasikan acara “Tadarus Puisi” itu dengan mengadakan rekaman.
Saya pun agak kelabakan, guna mengkontaks rekan-rekan penyair dan penggurit. Beberapa nama, antara lain: Akhudiat, Ida Nurul Chasanah, Adi Setyowadi, R. Giryadi, AF Tuasikal, M. Shoim Anwar, Budi Palopo, Widodo Basuki, dan kawan-kawan lain; ternyata tidak bisa ikut tampil rekaman. Mereka pada sudah pulang, alias mudik ke kampungnya. Diat, pas ngisi pengajian; Ida telah mudik ke Tuban, dan Adi pulang ke Semarang.

Tetap Rekaman dan Tetap Tayang
Meski hanya beberapa nama penyair dan penggurit, rekaman itu terap jadi dilaksanakan. Bersama rekan-rekan penyair dan penggurit.
Rekaman dimulai sejak lepas tarawih, hingga sahur hampir habis, alias imsak. Tepatnya, pukul 20.30. hingga 03.30 WIB. tanggal 27 September 2008 lalu. Tak hanya baca puisi dan gurit, tapi juga ada tampilan Kelompok Penyanyi Jalanan Surabaya, pimpinan Bokir Surogenggong itu.
Sedangkan dialog pembahasannya oleh: Prof. dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. dari Unesa Surabaya.
Acara ini direkam di halaman depan kantornya AREK Teve, tepatnya Rich Palace, Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Barangkali cukup menarik dalam acara rekaman ini, lantaran yang hadir di saat rekaman itu: ada Wawali Surabaya, Arief Affandi, dan ada juga Gus Ipul yang calon wakil gubernur Jatim itu.
Beberapa puisi, gurit dan lagu direkam yang kemudian ditayang-kan dalam acara bertajuk “Tadarus Puisi”, tanggal 2, 3, dan 4 Oktober 2008. lalu. Ada yang menarik, sebab acara bertajuk “Tadarus Puisi” yang seharusnya tayang sewaktu masih Ramadhan, harus tayang usai lebaran. Ini lantaran harus melalui perjalanan editan-editan dari para awaknya AREK Teve. (aming aminoedhin: amri.mira@gmail.com)

Selasa, 07 Oktober 2008

proses kreatif aming aminoedhin

proses keatif 
aming aminoedhin

Awal Menulis Puisi
Dalam hal menulis karya sastra, saya, selain lingkungan keluarga yang sangat mendukung, karena banyaknya yang suka membaca dan menulis, juga karena aktivitas di sekolah. Sewaktu di sekolah tingkat SMAN Ngawi (1974-1976), saya aktif ikut membuat majalah dinding. Selain aktif sebagai penulis majalah dinding, beberapa karyaku berupa puisi, saya kirimkan ke berbagai majalah di Jakarta.
Pada awalnya saya hanya coba-coba-coba mengirimkan puisi-puisi, tanpa punya mimpi-mimpi. Apa lagi mimpi jadi seorang penyair. Tidak! Saya tidak punya impian itu. Bahkan pada awalnya saya mimpi masuk fakultas pertanian, biar jadi insinyur pertanian. Hanya sayangnya, ketika naik ke kelas dua SMA, saya masuk jurusan SOS atau sosial. Pupuslah harapan saya untuk kuliah di fakultas pertanian.
Berangkat dari jurusan SOS, yang mana teman-teman se-angkatan saya (Puguh Kadaryono, Widodo, Pitoyo, IGA Oka Kusumahadi) sering mengakronimkan sebagai ‘sekolah orang santai’ itulah, yang kemudian menjadikan saya sekolah seenaknya, alias suka pulang pagi sebelum jam pelajaran diakhiri.
Dari awal coba-coba kirim puisi itulah, salah satu puisiku, termuat di Majalah TOP Jakarta, tahun 1975, dan ini merupakan karya puisi pertama dimuat di sebuah majalah. Pada waktu itu, masih kelas II SMA, dan masih menggunakan nama asli Moh Amir Tohar. Dari majalah tersebut, saya mendapatkan honorarium penulisan melalui wesel yang dikirimkan ke sekolah, SMAN Ngawi. Lantas honorarium yang sebesar Rp750,00 (Tujuh Ratus Lima Puluh Rupiah) itulah, yang kemudian untuk mentraktir teman-teman saya sekelas. Berangkat dari sinilah, saya dijuluki teman-teman sekelas, sebagai penyair. Puisi saya yang termuat tersebut berjudul:

BENDERA
merah
putih
biru
hilang paling bawah
Indonesiaku

Ngawi, 1975

Pada waktu puisi itu termuat, nama Aming belum saya gunakan, tapi masih menggunakan nama aslinya Moh. Amir Tohar. Ketika itu masih berada di kota kelahiran, Ngawi, aktif kegiatan remaja masjid dan teater. Dunia bermain teater pernah mengantarkan saya jadi juara, sebagai aktor terbaik Lomba Drama se-Jawa Timur 1983 di Surabaya, dari kelompok Teater Persada Ngawi, pimpinan Mh. Iskan. Melalui komunitas Teater Persada inilah yang kemudian memberikan banyak masukan inspirasi dalam berkarya sastra, utamanya menulis puisi dan bermain drama.
Selepas lulus SMAN Ngawi, saya melanjutkan ke Fakultas Sastra – Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sewaktu kuliah di Fakultas Sastra inilah, saya berkompetisi menulis karya sastra dengan Wieranta (sekarang: Dosen Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta), Junaidi HS (sekarang: Guru SMAN 2 Ngawi), Kristanto Agus Purnomo atau Kriapur (almarhum), Moh. Imam Thobroni, Tito Setyo Budhi (sekarang: pengusaha di Sragen), Dedek Witranto, Bambang AeRTe, Anas Yusuf, Dedet Setiadi, dan Juhardi Basri. Tiga nama yang terakhir adalah generasi di bawah saya, sewaktu kuliah di Fakultas Sastra Sebelas Maret. Mereka bertiga teman berkompetitif antarmahasiswa dalam hal menulis di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret di Surakarta.
Selain itu, ada juga nama-nama: Jil P. Kalaran, Akhudiat, Sirikit Syah, Tengsoe Tjahjono, Redi Panuju, Herry Lamongan, Surasono Rashar, Tan Tjin Siong, Zoya Herawati, Roesdi-Zaki, Pudwianto Arisanto, Shoim Anwar, Suhandayana, Tubagus Hidayathollah (almarhum), dan banyak lagi; yang merupakan teman-teman segenarasi dalam hal menulis karya sastra, ketika saya berada di Surabaya. Menulis sastra, khususnya puisi, seakan tanpa henti. Bahkan membuat pentas-pentas sastra, termasuk Malam Sastra Surabaya, baca puisi di DKS, IKIP Ketintang, dan Taman Budaya.

Prinsip Menulis SastraBagi saya menulis sastra, khususnya puisi, seperti halnya menuliskan ‘wejangan’ atau ‘pitutur’ bagi pembacanya. Artinya, bahwa saya menulis puisi bermaksud menyalurkan pikiran-pikiran/ide-ide kreatif saya tentang bagaimanakah seseorang tersebut bisa berbuat baik, setelah membaca puisi itu. Tidak hanya wejangan dan pitutur atau petuah saja, tapi juga terkadang berisi kritik, agar manusia tergelitik dengan kesalahan yang ada dalam dirinya selama ini.
Menulis sastra puisi, bagi saya juga merupakan ibadah. Karena banyak puisi saya yang bicara soal tentang kebenaran nyata yang ada di dunia ini. Baik itu kebenaran yang berdasarkan Qur’ani atau pun hukum/norma sosial kemasyarakatan yang ada selama ini. Coba kita baca saja puisi-puisi berikut ini:


aming aminoedhin
BERJAMAAH DI PLAZA

kata seorang kyai, belajar ngaji
adalah amalan yang patut dipuji
dan sholat berjamaah
dapat pahala berkah
berlipat-lipat jumlah

tapi kenapa banyak orang
belajar nyanyi, belajar tari
dan baca puisi?

tapi kenapa banyak orang berjamaah
hanya di plaza-plaza
hamburkan uang berjuta-juta?

adakah ini dapat dipuji, dan
adakah plaza menyimpan pahala
berlipat ganda?

ah… barangkali saja, plaza-plaza
telah jadi berhala baru
yang dipoles gincu
begitu indah
dan banyak orang ikut berjamaah

Surabaya, 1992
aming aminoedhin
SURABAYA I
*

pasar kini telah berubah di sini
pasar adalah lampu-lampu iklan
di mana dagangan ditawarkan
lewat lampu-lampu iklan
yang gemerlap tinggi mencuat
aku hanya bisa nelangsa menatap
orang-orang dimuntahkan oleh bis-kota
dan plaza-plaza bertingkat, dan
di kemudian hari ditelan kembali
dengan jumlah dan hitungan kian sarat

plaza-plaza bertingkat
kian semakin padat pengunjung
rumah-rumah ibadat
semakin kehilangan juntrung
oleh pengunjung

lupakah mereka?
Itulah soalnya aku bertanya

Surabaya, 1986

aming aminoedhin
LARUT MALAM SURABAYA
*

mobil-mobil yang lintas jalan layang
seakan terbang tanpa sayap
lampu-lampu jalan layang
berjejer diam menyimpan penyap

bunga-bunga taman mayangkara
tidaklah terhitung lengkap
rumput-rumputnya hijau meluas
tanpa ada tersisa sampah-sampah membekas
dan pohonan hias menyejuk mata
di antaranya terselip cahaya
lampu-lampu merkuri menebar asri

lampu-lampu kota warna-warni
lampu-lampu mobil tak mau mati
kota tiada mau diam, meski jam
telah sampai larut malam

kota ini adalah buaya, yang
menelan segala perangkat teknologi
teknologi abad ini, tanpa
terseleksi (diseleksi?)

1989

aming aminoedhin
EMBONG MALANG
*

menelusuri jalan embong malang sianghari
terasa jalanan mengambang kebak polusi
kendaraan mengali satu arah
keringatku mencair begitu gerah

memandang selatan jalan embong malang
terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang
engkaukah yang telah mengubah
wajah kota begitu gagah
atau mungkin menyulap kota tampak begitu gagah

sementara di beberapa tempat
banyak orang mengumpat
soal pendapatan upah buruh taklagi diterima utuh
soal rumah leluhur menuimpan arsitektur lama
dengan pongah digusur-gusur, kota lama
seperti telah dikubur

embong malang jalan satu arah
tak memberi satu arah, bagi
arti kehidupan tanpa jurang pemisah
antara yang mewah dan lainnya berdarah
atau mungkin bernanah?

Surabaya, 1996

Kota Surabaya, merupakan kota ketiga saya dalam berkiprah menulis karya sastra. Sebab kota pertama dalam mengawali menulis puisi adalah Ngawi; yang merupakan kota kelahiran. Kota kedua adalah Surakarta, ketika saya menimba ilmu sastra di sana. Lantas di kota Surabaya, saya tidak hanya berkiprah dalam dunia tulis-menulis saja, tapi juga pernah menjadi Pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), Koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS) di PPIA Surabaya (1986-1990-an), Koordinator Himpunan Penulis Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur (1987-1990-an), dan Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) (Forum Sastra Bersama Surabaya).
Ketika berada di kota budaya, Surakarta atau Solo itu, banyak puisi saya termuat di majalah “Zaman” dan “Horison”, yang di antaranya adalah:

aming aminoedhin
SURAT DARI BLORA
*

Rumah di atas bukit
bukit bukit berenang atas danau
jembatan kayu gantung menyeberang
dedaun merimbun, jalanan
membelah pohon-pohon
sebelas kilo utara kota
menapak tiga kilo langkah kaki
rumah di atas bukit

Sepi menggasing tanpa tv tanpa polusi
fajar menyingsing ceria mentari
langit jingga berselendang senja
kaki pertama perempuan mandi danau
alam menyapa rembang petang

duka yang kemarin ada
kau tangkap sebentuk sepi
peronda tak kunjung bersuara
kokok ayam tak juga-juga tiba
malam pun enggan menggeliat

hari-hari berlanjut kecut
duka, sepi dan malam kaucampakkan

Sore puluhan putih burung mengepak sayap senja itik berbaris riang pulang kandang
malam perahu di danau, ikan dalam bubu mati udang-udang danau kaucari

Bulan berenang di danau, sendiri
kaudayung perahu arah bulan
bulan pecah, kembali tergantung di awan

sepi mengangkat muka
engkau menatap akrab

sawah meninggi, kali di bawah kaki sawah
air kali tanpa kincir air
sawah kehausan, bak
bulan tanpa malam
siang tanpa mentari

saat waktu lusa kau terlena malam
hari ini bulan masih tersisa, jangan tunda perempuan selalu dihadang waktu
kunci yang kaubawa
kan berkarat nanti

air bagi sawah
malam bagi bulan
mentari bagi siang
adalah kunci-kunci manusiawi

Solo, 1981

Hidup di kota Surabaya inilah yang kemudian saya banyak menulis tentang kota Surabaya, dari persoalan kritik, sosial, dan bahkan kegelisahannya menatap kota metropolitan kedua Indonesia ini. Puisi-puisi saya banyak yang memotret keberadaan kota Surabaya tersebut.
Coba kita simak puisi berikut ini:


SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENARaming aminoedhin

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat
Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap
Ajari aku tidak angkuh
Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh
Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta
jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja
seperti orang-orang dewan di Jakarta

Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat
lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
membuat kata putus benar-benar manusiawi
menjalankan program dengan kendaraan nurani hati

Surabaya ajari aku. Ajari aku
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut
yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat
menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad
tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung

Surabaya memang boleh berdandan
Bila malam lampu-lampu iklan warna-warni
Siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi
Senja meremang, mentarinya seindah pagi
Di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita

Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya
Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan
Kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar
Dan suara rakyat adalah suara kebenaran
Tak terbantahkan. Tak terbantahkan!

Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar!

Surabaya, 21 November 2005


Saya juga merupakan penggagas adanya Malam Sastra Surabaya atau lebih dikenal dengan singkatan Malsasa, sejak tahun 1989-an hingga terakhir menggelar pada tahun 2007. Penggagas pula acara baca puisi peduli “Perang Irak” di Taman Budaya Jawa Timur, pentas seni kemanusiaan “Duka Aceh Duka Bersama” di Taman Budaya Jawa Timur. Terakhir, saya punya ide “baca puisi masuk teve”, lantas bulannya pas bulan Ramadhan, maka ide saya gelontorkan ke Imung Mulyanto yang kini jadi juragannya “Arek Teve – Surabaya Raya”. Ide itu ditangkap, lantas saya disuruh koordinir rekan-rekan penyair. Ternyata bisa! Rekaman dari habis tarawih hingga hampir imsak, jadilah rekaman itu dalam tiga episode, bertajuk “Tadarus Puisi”. Tidak hanya penyair dan penggurit yang tampil, ada juga KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) Surabaya, pimpinan Bokir Surogenggong.
Sebagai penulis puisi, saya pernah ikut temu penyair jateng di Semarang (1983), temu penyair indonesia di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1987), dan ikut memberikan pelatihan menulis dan baca puisi di berbagai kota di Jawa Tmur, antara lain: Batu, Lamongan, Madiun, Mojokerto, Lumajang, Banyuwangi, Tulungagung, Blitar, Probolinggo, dan banyak lagi kota.
Karya puisi saya banyak dimuat di koran dan majalah lokal dan ibu kota, antara lain: Surabaya Post, Berita Buana, Republika, Singgalang, Sriwijaya Post, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post dan banyak lagi. Sedang majalah yang memuat puisinya antara lain: Gadis, Putera dan Puteri Indonesia, Pusara, Bende, Media, Zaman, Majalah Sastra Horison, dan Majalah Kebudayaan Basis.
Kumpulan puisinya bersama rekan penyair lain, di antaranya: Husst, Nyenyet, Wajah Bertiga, Reportase Sunyi, Pagelaran, Malsasa ‘92, ‘94, ‘96, 2000, 2005, 2007; Surabaya Kotaku, Burung-Burung, Memo Putih, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Semangat Tanjung Perak, Kabar Saka Bendul Mrisi, Drona Gugat, dan banyak lagi. Kumpulan puisinya sendiri: Berjamaah di Plaza, Mataku Mata Ikan, Embong Malang, Kereta Puisi, dan Sketsa Malam. Kumpulan geguritan Tanpa Mripat, dan kumpulan sajak anak-anak ‘Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu’, " "Memutih Putih Begitu Jernih" (2008),
Sekarang aktif di PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto), Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya), ikut jadi motivator ARS (Alam Ruang Sastra) Komunitas Sastra Sidoarjo, dan kini masih bekerja di Balai Bahasa Surabaya di Sidoarjo.

Buku kumpulan puisi garapan Aming Aminoedhin:
Semangat Tanjung Perak, (editor, 1992).
Surabaya Kotaku (editor, Dewan Kesenian Surabaya, 1990).
Malsasa ’91 (editor, Dewan Kesenian Surabaya & Sufo, 1991)
Malsasa ’92 (editor, Penerbit Sintarlistra, 1992)
Malsasa ’94 (editor, Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, 1994)
Bunga Rampai Bunga Pinggiran (editor, antologi puisi, 1995)
Malsasa ’96 (editor, Dewan Kesenian Surabaya, 1996)
Malsasa 2000 (editor, Balai Bahasa Surabaya, 2000).
Berjamaah di Plaza (kumpulan puisi, Mandiri Press Mojokerto, 2000).
Omonga Apa Wae (editor kumpulan puisi, Taman Budaya Jawa Timur, 2000)
Tanah Persada (editor, Teater Persada Ngawi, 1983)
Tanah Kapur (editor, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1990)
Tanah Rengkah (editor, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1997)
Mataku Mata Ikan (kumpulan puisi, DKJT, 2004).
Embong Malang ( kumpulan puisi, proses cetakan, 2005)
Sketsa Malam (kumpulan puisi, dalam proses, 2000)
Kereta Puisi (kumpulan puisi, Dewan Kesenian Surabaya, 1990)
Wajah Bertiga (editor, Sintarlistra Surabaya, 1987).
Burung-Burung (editor, Sintarlistra Surabaya, 1990)
Tanpa Mripat, kumpulan guritan (FSBS, 2005)
Malsasa 2005 (editor, kumpulan puisi bersama FSBS, 2005)
Surabaya 714, Malsasa 2007 (editor, kumpulan puisi bersama FSBS, 2007)
Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu, kumpulan sajak anak-anak (FSBS. 2008)

MEmutih Putih Begitu Jernih, kumpulan sajak - dalam proses cetakan(FSBS, 2008)
Trilogi Tanah, dalam tahap proses cetak (2008)
Memutih Putih Begitu Jernih, dalam tahap proses cetak (2008)

Latar Belakang Keluarga
Aming Aminoedhin, adalah nama samaran dari nama asli Mohammad Amir Tohar. Lahir di Ngawi, 22 Desember 1957. Ayah saya seorang guru agama Islam di sebuah SMPN, ibu pun juga seorang guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Ayah bernama A.H. Aminoedhin (lahir tahun 1918), sementara ibu bernama Soeparijem (lahir tahun 1925).
Saya adalah anak kelima dari delapan bersaudara. Dari kedelapan saudara ini, kakaknya nomor dua, bernama M. Har Harijadi, juga seorang penulis, baik cerpen, puisi, cerita anak, dan esai (wafat: 27 September 2007). Begitu pula kakak saya nomor empat, bernama Yulia Amirulfata (samaran: Lia Aminoedhin), juga seorang penulis puisi (tidak diteruskan karena sudah disibukkan jadi guru SMP Muhammadiyah di Yogya dan bersuami). Sedangkan dua adik perempuan, Ummi Hanifah Hariyani (samaran: Yani Aminoedhin) dan Ummi Mukharomah Hariyanti (guru SMAN 2 Ngawi), sebenarnya juga menulis; hanya saja tidak diteruskan bakat menulisnya, karena sibuk pekerjaan dan rumah tangga. Secara keseluruhan saudara saya: Ummi Haniek,B.A. (guru SMPN 5 Ngawi), M.Harijadi(almarhum), M. Anies Harijono (TU SMK Muhammadiyah Ngawi), Yulia Amirulfata (Guru SMP Muhammadiyah, Stan, Sleman, Yogyakarta), M. Amir Tohar (alias Aming Aminoedhin), Ummi Hanifah Hariyani (Bu Kadus Krapyak - Yogyakarta), Ummi Mukharomah Hariyanti (Guru SMAN 2 Ngawi), dan M. Yusuf Arsyad (usaha travel di Yogya).
Bakat menulis saya berangkat dari lingkungan keluarga yang banyak menulis, seperti kakak-kakak dan adik-adik. Termasuk pula di antaranya, paman saya seorang sastrawan yang merupakan salah satu tokoh Angkatan ’66 versi HB Jassin, bernama M. Alwan Tafsiri. Begitu pula tetangganya ada juga seorang penulis naskah drama dan puisi, Mh. Iskan.
Istri saya bernama Sulistyani Uran. Mantan seorang perawat RS Darmo Surabaya, kelahiran Kediri, 27 September 1963. Bersama istri, saya mempunyai 4 anak, yaitu Ade Malsasa Akbar (Surabaya, 02-12-1992, laki-laki), Tegar Kartika Akbar (Surabaya, 10-07-1994, laki-laki), Amri Perkasa Akbar (Mojokerto, 30-08-2000, laki-laki), Mira Aulia Alamanda (Mojokerto, 02-04-2003, perempuan).

Latar Belakang Pendidikan
Pendidikan yang pernah saya tempuh adalah: TK Muhammadiyah Ngawi (1968-1969), SDN Ronggowarsito 2 Ngawi (lulus 1970), SMPN 1 Ngawi (lulus 1973), SMAN Ngawi, Jurusan Sosial (lulus 1976).
Selepas pendidikan SD dan SMA, melanjutkan ke Fakultas Sastra, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta (masuk kuliah tahun 1977). Lulus sarjana muda dengan gelar B.A. pada tahun 1982. Sebelum sarjana muda diraih, ia sempat kuliah D-III satu tahun, pada pada jurusan yang sama, fakultas keguruan di universitas yang sama, dengan mendapatkan ijazah Diploma dan Akta III, pada tahun 1981. Setelah itu melanjutkan kembali tingkat dotoralnya di fakultas sastra jurusan yang sama, dengan meraih sarjana sastra, jurusan bahasa dan sastra Indonesia dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, pada tahun 1987.

Latar Belakang Pekerjaan
Selepas kuliah dengan mendapat gelar sarjana muda, Aming Aminoedhin pulang ke kampung halamannya di Ngawi. Selama setahun saya sempat mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP PGRI 1 Ngawi.
Sewaktu masih kuliah pernah bekerja sebagai wartawan lepas di berbagai koran di Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Pernah juga staf redaksi koran kampus ‘Sebelas Maret’ di Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Menjadi PNS di Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sejak tahun 1984. Bekerja di Sub Bagian Penerangan, Bagian Tata Usaha, pada bidang penerbitan majalah bulanan “Media” sebagai pemimpin redaksi. Pernah juga ikut membidani dan mengelola keredaksionalan “Tabloid Bekal” koran pelajar Jawa Timur, yang diprakarsai Harian Surabaya Post dan Kanwil Depdikbud Jawa Timur. Ikut pula menjadi Redaksi Majalah Kebudayaan Kalimas di Surabaya, lantas termasuk ikut dalam Staf Redaksi Buletin DKS (Dewan Kesenian Surabaya), serta Majalah Memorida Kanwil Depdikbud Jawa Timur.
Dalam bidang seni dan budaya, saya, pernah jadi koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS), Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur, dan Forum Apresiasi Sastra Mojokerto (Forasamo). Menjadi pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (2004- sekarang). Periode tahun 1995- sekarang masih jadi pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Dalam PPSJS, ia membidani terbitnya “Teplok-Dluwangwarta PPSJS” sebagai pemimpin redaksi. Saya juga pernah dikirim dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara XII di Singapura, mewakili Jawa Timur (2003).
Jabatan yang masih diemban sampai sekarang Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya) yang telah dua kali penyelenggara pentas Malam Sastra Surabaya (2005-2007).
Sejak tahun 2000, saya, mutasi pekerjaan dari Kanwil Depdikbud Jawa Timur ke Balai Bahasa Surabaya, sebagai kandidat peneliti bahasa dan sastra Indonesia dan Jawa. Karena saya menganggap lebih cocok pada bidang penulisan dan penelitian, sesuai dengan ijazah sarjana sastra saya. Pada waktu itu, 2005, ia telah mengajukan jabatan fungsional sebagai peneliti ke Pusat Bahasa di Jakarta. Tapi hingga sekarang tak pernah turun jabatan fungsional sebagai peneliti. (Konon, umurnya terlalu tua jadi peneliti, ya,,, mau apa? Ya sudah, jadi penyair saja).
Ini hanya sebagian proses kreatif yang bisa saya tulis dengan tergesa-gesa, semoga besok-besok bisa mengedit lebih baik lagi. Salam budaya! (aming aminoedhin)

Desaku Canggu, 7 Oktober 2008


* termuat di Majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989* termuat di Majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989* termuat di Koran Memorandum – Surabaya, 30 Juni 1996* dimuat di majalah Zaman Jakarta, 27 Desember 1981

Senin, 15 September 2008

malsasa dari waktu ke waktu

MALSASA DARI MASA KE MASA
Catatan: Aming Aminoedhin*


Prolog
Pendapa Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), malam itu lampunya telah dipadamkan. Lantas hanya ada sorot lampu ke arah panggung. Setelah basa-basi pewara, Susi Dinang, membuka acara, muncullah Aming Aminoedhin, ketua FSBS dan sebagai penggagas Malsasa (Malam Sastra Surabaya) melaporkan berapa penyair dan penggurit malam itu akan tampil. Setelahnya, Drs. Pribadi Agus Santoso, M.M. kepala TBJT, memberi sambutan, yang dilanjutkan membaca puisinya sendiri Tanah Liat, Matabatinku. Malam itu adalah 20 Agustus 2007, di mana Malam Sastra Surabaya digelarpentaskan dengan menampilkan beberapa penyair dan penggurit Jawa Timur. Beberapa nama penyair dan penggurit tampil bergantian membacakan puisi dan guritan.

Riwayat Malsasa
Malsasa adalah singkatan dari Malam Sastra Surabaya. Berawal pada tahun 1989, kegiatan malsasa ini menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku.” Selanjutnya, Malsasa digelar lagi pada tahun 1991, 1992, 1994, 1996, 2000, 2005 di Dewan Kesenian Surabaya.. Pada tahun 2000, Malsasa diselenggarakan di Balai Bahasa Surabaya, atas prakarsa Kepala Balai Bahasa Surabaya saat itu, Prof. Dr. Suparno (sekarang Rektor UM), yang bisa mendanai kegiatan pentas Malam Sastra Surabaya.
Agak aneh memang, malam sastra Surabaya kok diselenggarakan di Sidoarjo, tapi saya rasa tidak aneh. Sejak awal, pentas Malsasa memang selalu didanai dengan secara patungan oleh para sastrawannya. Tapi lantaran tahun 2000, ada lembaga yang mau mendanai, maka pentas itu digelarpentaskan di Balai Bahasa Surabaya yang berlokasi di Sidoarjo. Apabila bisa disebut aneh, alias agak beda, memang pada Malsasa 2000 ini, tidak hanya memuat puisi dan geguritan saja; akan tetapi juga memuat cerita pendek dan cerita cekak.
Pergelaran “Malam Sastra Surabaya” atau “Malsasa” terakhir kali adalah tahun 2007 lalu, bertempat di Pendapa Taman Budaya, Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya.
Pada awsalnya buku-buku antologi Malsasa, hanya memuat puisi-puisi para penyair saja, lantas pada perkembangannya, juga memuat geguritan, bahkan cerpen dan cerkak. Topik puisi yang diangkat menjadi tema pun, pada awalnya hanya ‘Surabaya’ dengan segala permasalahan dan ketergesaannya. Tapi selanjutnya berkembang tidak hanya memuat yang bertemakan ‘Surabaya’ an-sich, akan tetapi bisa apa saja. Termasuk soal daun, angin, bebintang, sungai mengalir, kereta pagi, mobil berlari, dan indahnya rembulan benderang.
Malsasa, pada awalnya digagas oleh Komunitas Sufo (Surabaya Forum), yang diketuai Jil Panjagir Kalaran, bersama saya. Pertama kali digelar tahun 1989, dengan menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku”. Beberapa nama yang ikut kumpulan itu, antara lain: Ang Tek Khun, Viddy Alymahfoedh Daery, Aming Aminoedhin, Roesdi-Zaki, Jil P. Kalaran, Pudwianto, dan Herry Lamongan.
Malsasa berangkat dari ide beberapa penyair yang ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Mereka menulis puisi dan membacakannya. Topik yang diungkapkan pun beragam, ada yang menyumpahserapahi; ada juga yang mengingatkan kota agar berdandan, tapi jangan sampai lupa soal kemanusiaan; ada juga yang bicara tentang jalan-jalan kota yang tak teduh lagi, banyaknya iklan warna-warni; serta apa saja sesuai hati nurani penyair.

Malsasa dari Masa ke Masa
Jika harus menghitung jumlah pentas Malam Sastra Surabaya (Malsasa), barangkali kita bisa menghitungnya sejak tahun 1989 tersebut hingga sekarang. Karena Malsasa dibarengi dengan penerbitan buku antologi puisinya, maka kegiatan ini, bisa dilacak melalui penerbitan bukunya tersebut.
Secara hitungan jumlah buku antologi yang pernah terbit, antara lain: Surabaya Kotaku, Malsasa ’91, Malsasa ’92, Malsasa ’94, Malsasa ’96, Malsasa 2000, Malsasa 2005, dan sekarang bertajuk “Surabaya 714” Malsasa 2007. Dari sini, tercatat sudah 8 (delapan) kali, pentas Malam Sastra Surabaya digelar di muka publik masyarakat sastra Surabaya, dan Jawa Timur.
Ada banyak nama penyair dan penggurit yang ikut dalam gelaran ini. Tak sedikit, ada yang beberapa kali ikut hadir dan tampil dalam gelar sastra ini. Tapi ada juga yang hanya sekali-dua ikut, lantas menghilang tak ketemu juntrungnya. Ada juga yang lama menghilang, kemudian muncul kembali di tengah-tengah publik sastra kita, seperti: Tan Tjin Siong. Sedangkan yang menghilang: Ang Thek Khun, Mh. Zaelani Tammaka, Sigid Hardadi, Robin Al Kautsar dan beberapa nama lainnya.
Sungguh, Malsasa atau Malam Sastra Surabaya, dari masa ke masa memang ada perkembangannya. Baik dalam jumlah peserta maupun kualitas penerbitan antologi bukunya, ada peningkatan yang cukup signifikan. Awal mulanya hanya berupa stensilan, lantas fotokopian, dan kini terbitan buku antologi yang cukup mewah.

Surabaya 714 Malsasa 2007
Malsasa tahun ini, masih berangkat dari ide beberapa penyair yang ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Di ulang tahun kota Surabaya ke-714 ini, mereka menulis puisi maupun geguritan dan membacakannya. Tema yang digagas bisa bicara apa saja, Surabaya yang kian cantik atau Surabaya kian tak menarik? Bicara negeri ini yang kian cabik-cabik atau mungkin negeri yang penuh intrik? Atau apa saja terserah! Yang pasti, kejujuran dalam menulis karya sastra adalah kuncinya. Karya sastra tanpa kejujuran nurani penulisnya, akan terasa tawar, hambar, dan miskin makna.
Mencatat nama-nama yang tampil malam itu, ada: Bagus Putu Parto, L. Machali, Fahmi Faqih, Budi Palopo, R. Giryadi, Ida Nurul Chasanah, Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, Aming Aminoedhin, AF Tuasikal, M. Har Harijadi, M. Tauhed, Bambang Kempling, Saiful Bahri, Chamim Kohari (penyair); Suharmono Kasijun, Anank Santosa, Bonari Nabonenar, Sugeng Adipitoyo, Widodo Basuki, Herry Lamongan, Pringgo HR (penggurit). Tidak hanya itu, tampil juga tamu dari Pusat Bahasa, Abdul Rozak Zaidan, Kepala Bidang Sastra, yang ikut tampil membacakan puisinya Sitor Situmorang, berjudul “Malam Lebaran.”
Sedangkan jika mencatat jumlah penyairnya ada 34 penyair, 14 penggurit yang masuk dalam antologi puisi “Surabaya 714” Malsasa 2007 ini. Mereka itu terdiri penyair yang berasal dari kota Surabaya, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Ngawi, Bojonegoro, Pamekasan, Ponorogo, Trenggalek, dan Blitar.
Penyelenggaraan Malam Sastra Surabaya atau Malsasa 2007 ini, atas prakarsa Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) kerja sama dengan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Melalui forum ini, saya sebagai penggagas Malsasa, memang berharap bahwa kegiatan ini bisa dijadikan ajang silaturahmi, interaksi, dan kreasi pentas seni sesama penyair dan penggurit, serta menumbuhkembangkan sastra di Surabaya dan Jawa Timur. Persoalan ini sejalan yang dikatakan Kepala TBJT, Pribadi Agus Santoso, bahwa Taman Budaya Jawa Timur merupakan etalase pentas dan pertunjukan seni apa saja. Taman Budaya adalah ajang berinteraksi, ajang berkompetisi, serta berkreasinya antarseniman dari berbagai cabang seni di negeri ini.

Epilog
Malam telah larut, para penyair telah mengakhiri baca puisi dan guritannya, maka pentas Malsasa 2007 usai sudah, tapi kegiatannya tidak hanya malam itu berakhir. Karena, tanggal 30 Agustus 2007, buku “Surabaya 714” Malsasa 2007, dibedah bukunya oleh Redaktur Budaya Senior dari Surabaya Post, RM Yunani Prawiranegara. Bedah buku berlangsung di Toko Buku Diskon Togamas, Jalan Diponegoro 9 Surabaya, yang dimeriahkan musikalisasi puisinya kelompok “Komunitas Sastra Sinji” dimainkan oleh AF Tuasikal dan Sarjiyo Godean.
Bedah buku di Toko Buku Diskon Togas Mas ini, banyak dihadiri para praktisi dan akademisi sastra, antara lain: Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, Ida Nurul Chasanah, Adi Setyowati, Sugeng Adipitoyo, Bonari Nabonenar, Suharmono Kasijun, W. Haryanto, Mashuri, Fahmi Faqih, Widodo Basuki, dan banyak lagi.
Harapan berikutnya yang perlu dipompakan adalah bagaimana terus bisa menum-buhkembangkan dan mensosialisasikan sastra (puisi dan guritan) kepada masyarakat.
Apabila ada kekurangan dalam penerbitan, penyelenggaraan pentas, dan bedah buku,, adalah wajar semata. Tapi puisi telah ditulis dengan matahati dan kata hati penyairnya. Percayalah! Terakhir, saran dan kritik konstruktif bagi tumbuhkembangnya sastra, akan kami terima dengan tangan terbuka, dan hati membunga. Salam budaya!

Sidoarjo, 15 Ramadhan 1429-H/15 September 2008

* Aming Aminoedhin, presiden penyair Jatim, penggagas Malsasa.

Jumat, 12 September 2008

biodata m. har harijadi

BIODATA PENYAIR NGAWI
M. HAR HARIJADI
  • Prolog:
  • Tulisan ini saya posting dalam rangka mengenang M. Har Harijadi yang setahun yang lalu, tepatnya juga pada bulan Ramadhan 1428-H, pas tanggal 27 September 2007, telah dipanggil oleh Allah SWT. Semoga segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, dan semoga pula isteri dan anak-anaknya tetap tabah, tetap iman dan selalu taqwa kepada Allah SWT. Amin.
  • Dalam waktu dekat ini, saya berencana menerbitkan kumpulan puisi "TRILOGI TANAH" yang diimpikan oleh almarhum M. Har Harijadi. Hanya saja, dananya masih dicari-carikan. Siapa yang mau ikut menyumbangkan dananya guna penerbitan buku ini? Silakan kontak aming aminoedhin via email amri.mira@gmail.com Mumpung bulan Ramadhan, ayo banyak-banyaklah infaq, termasuk infaq buat dunia sastra!


Latar Belakang Keluarga
M. Har Harijadi, adalah nama penulis dari nama asli Mohammad Harijadi Munawari. Lahir di Ngawi, 5 Juli 1951. Meninggal dunia pada 27 September 2007 (pas bulan Ramadhan tahunlalu). Ayahnya seorang guru agama Islam di sebuah SMPN, ibunya pun juga seorang guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Ayahnya bernama A.H. Aminoedhin (lahir tahun 1918), sementara ibunya bernama Soeparijem (lahir tahun 1925). . Har Harijadi adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Dari kedelapan saudara ini, adiknya nomor tiga, bernama Aming Aminoedhin, juga seorang penulis, utamanya menulis puisi. Begitu pula adiknya nomor dua, bernama Yulia Amirulfata (samaran: Lia Aminoedhin), juga seorang penulis puisi (tidak diteruskan karena sudah disibukkan jadi guru SMP di Yogya dan bersuami). Sedangkan dua adiknya perempuan, Ummi Hanifah Hariyani (samaran: Yani Aminoedhin) dan Ummi Mukharomah Hariyanti (guru SMAN 2 Ngawi), sebenarnya juga menulis; hanya saja tidak diteruskan bakat menulisnya, karena sibuk pekerjaan dan rumah tangga.


Bakat menulis Harijadi, menurut pengakuannya karena lingkungan banyak seniman yang menulis, seperti Mh. Iskan, Wahab Asyari, Salimoel Amien, dan banyak lagi. Termasuk pula di antaranya, pamannya seorang sastrawan yang merupakan salah satu tokoh Angkatan ’66 versi HB Jassin, bernama M. Alwan Tafsiri.
Istrinya bernama Ismijati. Seorang karyawan Pemda Kabupaten Ngawi, kelahiran Ngawi, 4 Juli 1958. Bersama istrinya, ia mempunyai 3 anak, yaitu Alif Aulia Ananda (Ngawi, 14-5-1984, laki-laki), Bernas Kurnia Kanthi Inayati (Ngawi, 16-11-1985, perempuan), Cipta Nur Asa (Ngawi, 25-01-1988, laki-laki). Ketiga anaknya kini kuliah di Universitas Gajah Mada. M. Har Harjadi, bersama keluarganya beralamat di Gang Melati, Kauman, Ngawi.

Latar Belakang PendidikanPendidikan yang pernah ditempuh M. Har Harijadi, SDN Ronggowarsito Ngawi (lulus 1963), SMPN 1 Ngawi (lulus 1966), SMAN Ngawi, Jurusan Pasti Alam (lulus 1969). Selepas pendidikan SD dan SMA, ia melanjutkan ke IKIP Cabang Madiun Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, tidak dirampungkan. Sewaktu bekerja di Pemda Kabupaten Ngawi, Harijadi diberi tugas belajar ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang (1981).

Latar Belakang PekerjaanPernah bekerja sebagai wartawan di koran Suara Merdeka Semarang, dari tahun 1973 hingga 1977, sambil banyak menulis cerita pendek dan puisi, serta penyiar radio swasta di Ngawi.
Menjadi PNS di Kantor Pemda Kabupaten Ngawi, yang kemudian mendapatkan tugas belajar di APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Malang, lulus tahun 1981. Selepas lulus APDN, Harijadi pernah menjabat sebagai kepala kantor Kecamatan Sine, kemudian jadi Mantri Polisi di Kecamatan Ngawi. Pernah juga sebagai Kepala Sub Bagian Humas Pemda Kabupaten Ngawi, Kepala Sub Bagian Diklat, dan Kasubdin di Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Kabupaten Ngawi.
Dalam bidang seni dan budaya, M. Har Harijadi, pernah jadi koordinator pentas Teater Persada Ngawi di Festival Drama se Jatim di Surabaya (1983), pentas Monolog Mh. Iskan di Surabaya (2005). Organisasi yang pernah diikuti antara lain: Pelajar Islam Indonesia (PII) Ngawi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Madiun, AMPI dan KNPI di Ngawi. Pada awalnya, ia menulis puisi, dan kemudian cerita pendek. Selanjutnya menjadi wartawan dengan menulis berita-berita. Selepas itu, M. Har Harijadi, banyak menulis artikel dan menulis cerita anak.

Latar Belakang Kesastraan
Dalam hal latar belakang kesastraan ini, M. Har Harijadi, selain lingkungan komunitas yang sangat mendukung, karena banyak yang membaca dan menulis, juga karena aktivitas di beberapa organisasi, antara lain: PII, HMI, Remaja Masjid, AMPI dan KNPI.
Naskah karya sastra M. Har Harijadi yang pertama kali termuat di Koran Berkala Adil Solo, yaitu cerita remaja berjudul ‘Seorang Guru’ dengan tanpa diberi honorarium.
Motivasi dalam menulis karya sastra adalah guna menghidupkan perasaan, utamanya banyak teman-teman juga sebagai penulis. Bahkah serasa ‘gatal’ jika saya tidak menulis karya sastra. Sedangkan kemampuan menulis sastra, lebih banyak otodidak dan banyak membaca, utamanya karya sastra. Genre sastra yang ditulis Harijadi adalah puisi, cerpen, artikel, dan cerita anak.
Naskah puisinya banyak dimuat di koran Surabaya Post, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Adil, Masa Kini, Mercu Suar, Memorandum, Bhirawa, dan Suara Karya. Sedangkan majalahnya adalah: Gadis dan Midi. Naskah cerpennya termuat di Bhirawa, Mercu Suar, Masa Kini, dan Adil. Naskah cerita anaknya termua di: Majalah Bobo, Ananda, Hopla, dan Surabaya Post. Sementara itu artikelnya banyak dimuat di Kompas, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Memorandum, Berita Yudha, dan koran-koran lokal lainnya. Kumpulan puisi bersama rekan-rekan Teater Persada Ngawi, bertajuk ‘Tanah Persada’, ‘Tanah Kapur’, dan ‘Tanah Rengkah’. Lantas ‘Kota Tercinta’ kumpulan puisi sastrawan kota Ngawi (2003).
Berbicara soal proses kreatif, biasanya terpicu oleh peristiwa sesaat/kesan sebentar yang mengharukan lalu dibuat/diproses jadi karya sastra, bisa berupa puisi maupun cerita pendek. Apabila dalam menulis sastra dipaksakan, ternyata secara kualitas terasa tidak baik, dan kurang lancar dalam penulisannya. Seringkali saya mencatat dulu dalam draft awal, sebagai master/babon penulisan karya sastra.
Seperti telah dijelaskan terdahulu, bahwa Harijadi, punya pengalaman di bidang penulisan dan dunia sastra, antara lain: pernah jadi wartawan Suara Merdeka, Surabaya Post, Berita Yudha, dsb. Pengalaman lain adlah berkali-kali jadi juri lomba baca puisi, lomba mengarang, dan lomba pidato di kabupaten Ngawi.
Menulis sastra menurutnya harus sampai akhir hayat, karena menulis berarti juga beribadah dalam hidup dan kehidupan manusia. Menurutnya pula, bahwa sastra Indonesia haruslah lebih semarak, jika mungkin bisa mendunia, atau stidaknya membenua. Setidaknya se Asia Tenggara. Semua ini bisa terjadi bila ada perhatian dari pihak pemodal, Pemerintah, para pejabat, para ulama, serta para sastrawan yang lebih senior lainnya.

Contoh puisi-puisi M. Har Harijadi
SEPANJANG JALAN JENDRAL SUDIRMAN
kuseret dukaku sepanjang jalan sudirman
siang hari yang terik dan menancap jarum-jarum
matahari
pada punggung yang bersarang capekku
dan rambutku yang semakin coklat

kubawa gelisahku setiap hari menumbuki debu kota
walau penat setiap saat menghampir
baju dan celana lusuh menua
serta sepatu yang kian pikun

kuturuti resahku lewat emperan cina
dengan irama-irama sedih gerakan kaki
wajah yang kupaksakan berseri
meski saku tiada sedikitpun berisi

kujalani hidupku menembusi hiruk pikuk kota
kendati nasib tiada sekali membuka mata
namun demikian satu tidak lebih dari pinta
semoga segalanya tiada sia-sia

Ngawi-Madiun, 1970

M. Har Harijadi
ANAK-ANAK KECIL DI MESJID
Sudah berapa jauhkah waktu tertinggal
Tak bisa banyak aku kenangkan
Hari-hari hingga tahun ke tahun
Terasa telah beberapa kurun

Bayangan guru ngajiku sudah luntur
Barangkali jejak hidupku masih ngawur
Apa waktu senggangku kian nihil tepekur
Hanya menuruti sistem jalur-jalur

Sedang kini tuntutan tak pernah berkurang
Harapan-harapan masih akan panjang
Saat seperti ini semakin menerawang
Ternyata nostalgia tak hilang-hilang

Malang, 1978
M. Har Harijadi
LAILATUL QODAR
Aku masih tetap rahasia bagaikan sukma
Siapa yang menduga?
Gemilang langit yang senyap
Dingin yang hangat mengentalkan semangat

Masih tergubal pada alunan sunyi
Seluas rakhmatMu di malam yang tersaji
Bersenandung bumi meluruskan sepoi
Hanya padaMu diam yang abadi temaram

Mei, 1987

Senin, 08 September 2008

sajak-sajak anak

sajak anak-anak
cak aming aminoedhin

aming aminoedhin
SAJAK KUNANG-KUNANG
(surat buat: Pak Kayam)

kunang-kunang di kampungmu
pada abad teknologi, telah berubah
jadi merkuri
hanya suara katak pada malam
menghadirkan sajak pada kelam
yang abadi di kampung ini
hanya seni hanya sepi

Ngawi, 1982

aming aminoedhin
DI MANA MEREKA SEKOLAH

desa temanku tenggelam sudah
tak ada lagi tanaman hijau
tinggal kini terlihat atap-atap rumah
tampak seperti mengigau

igauan suaranya perih
atap-atap rumah seakan merintih
dari lumpur yang membuat hancur
hingga beribu penghuninya kabur

desa temanku tenggelam sudah
aku tak tahu ke mana mereka pindah
di mana mereka kini sekolah

Sidoarjo, 12/2/2008




aming aminoedhin
BALON UDARA

Sungguh indah di mata
ada balon udara berwarna-warni
mengudara di langit tinggi

Hatiku serasa ikut terbang bersamanya
meraih bintang menjangkau rembulan

Tapi aku tak ikut
di dalam balon udara itu
hanya anganku
seakan ikut terbang
bersamamu

Balon udara nan terbang tinggi
kirimkan salam cinta pada Nenekku
yang kini berada di Ngawi

Mojokerto, 2008




aming aminoedhin
TAK ADA KATA PUTUS ASA

kata ayahku, putus asa putus harapan
tak ada dalam kamus kita
putus asa putus harapan
adalah penyakit batin nan pahit
tak terperikan

putus asa putus harapan
tak ada obat mujarabnya
selain satu kata berupa iman

cita-cita harus tinggi dan mulia
agar teraih di tangan kita, dengan
perjuangan, dan belajar dari pengalaman
kegagalan sewaktu berjalan

tak ada kata putus asa
lantaran putus asa putus harapan
akan sia-sia bagi diri kita
akan sia-sia bagi masa depan

Mojokerto, 2008



aming aminoedhin
BULAN RAMADHAN

Setiap bulan ramadhan tiba
bersama Adikku tarawih di mushola
Ibu Bapak juga ada di sana
sholat berjamaah bersama tetangga

Bulan ramadhan tahun ini
Adikku juga berpuasa
hanya saja tidak sampai maghrib tiba
tapi saat bedug dhuhur ditabuh
ia berlari pulang untuk berbuka

Bulan ramadhan tahun ini
aku juga ikut tadarus di mushola
mengaji bersama kawan
menyimak setiap bacaannya

Selepas tadarus bersama
kami sering berebut takjilnya
wah... begitu indah kenangan
bulan Ramadhan di mushola


Mojokerto, 2007


aming aminoedhin
IDUL FITRI

Seperti biasa saat idul fitri
setelah bersalam-salaman
bersama paklik dan bulik
pakde dan bude, serta
nenekku tercinta
yang berada di desa
kami lantas berdoa bersama

Kata Ibu, padaku
doa kita yang suci hati
mudah terkabulkan Tuhan
lantaran kita usai sebulan berpuasa, dan
puasa itu membersihkan hati dan jiwa

Seperti biasa saat idul fitri
yang kutunggu dengan gembira, hanya satu
paklik bulik, pakde dan bude, serta
nenekku tercinta
membagi uang saku
bagi semua cucu

Ngawi, 2007


aming aminoedhin
BUKU ITU GUDANG ILMU

Di dalam buku
kubaca segala ilmu
dari soal bahasa, tatakrama
sastra, dan juga matematika

Buku adalah sahabatku
kubaca setiap waktu
saat istirahat sekolah
dan juga saat libur sekolah

Buku, kata Mamaku
adalah gudangnya ilmu
maka membaca buku
seperti membuka
jendela dunia, semua
ilmu kau pasti akan tahu

Mojokerto, 19/10/1999



aming aminoedhin
JENDELA DUNIA

Almari Bapakku dipenuhi buku
kata Ibu, semua buku-buku itu
adalah jendela dunia
jika aku mau baca
segala ilmu akan kusua

Ternyata benar, kata Ibu
selepas buku-buku kubaca
dunia tampak ada di sana
ada yang hitam dan putih
ada yang senang dan sedih

Jadi kawan!
bacalah buku agar kau
bertemu segala ilmu

Baca dan bacalah buku
karena buku adalah jendela dunia
sejuta ilmu pasti kau sua

Mojokerto, 19/10/1999



aming aminoedhin
AKU LUPA MENGAJI

Pada musim kemarau rumput-rumput di tanah lapang
mengering. Daun di pepohonan kering

Angin terlalu kencang
menerbangkan debu dan layang-layang
layang-layangku nan gagah terbang
diulur panjangnya benang

Hati ini jadi riang
bermain layang-layang
hingga aku lupa
belajar mengaji
di mushola

Barangkali aku berdosa
lantas aku berjanji dalam hati
tak mengulangnya di esok hari

Mojokerto, 1999



Kamis, 04 September 2008

komsas 'sinji' sidoarjo

Selintas Catatan Komunitas Sastra “Sinji”
oleh: af. tuasikal



waktu itu senja telah meremang tampak di ujung seberang jalan, bisa juga disebut dengan remang senja atau senja merembang. sesekali kereta api lewat begitu lambat, terkadang cepat seperti tak mau terlambat. ada tiga cangkir kopi panas telah tersedu. lantas kopi itu, menawarkan sesuatu tentang warna merah jingga, bersama hembus angin senja membuat kami bertiga: af. tuasikal, sarjiyo godean dan rahmidi harto utomo, tiba-tiba muncul emosi hati menelorkan obsesi. gitar terpetik ikuti lentik jari-jemari sekan menari-nari tanpa arti. ada kemudian bibir bergetar menyuarakan sebuah puisi, lantas berteriak, serentak membentuk musikalisasi puisi asal bunyi.
meski teriak kami asal bunyi, tanpa kita sadari, semua hadir mengalir dari sebuah puisi jawa (geguritan) karya senior kami aming aminoedhin.
* guritan itu bertajuk “tanpa mripat”.

apa pun bentuk suara musikalisasi puisi itu, tapi niat kami yang pertama, bagaimana menyambut kehadiran sang presiden penyair jawa timur untuk minum kopi bersama. agar tampak beda tak seperti biasa, dari waktu ke waktu dari itu ke itu, minum kopi dan merokok bersama, lantas makan makan pisang dan pohong goreng.
senja itu memang agak lain. ada sesuatu yang telah terasa jadi terjalin.
sebuah musikalisasi guritan, sederhana tapi nyata adanya.

aming aminoedhin, si empunya guritan, jadi sangat tertarik dengan aksi-aksi kami bertiga, lantas ikut bergabung mendukung. bahkan sekaligus menjadi motor penggerak komunitas ini. tidak cuma aming, ada juga anang sp santosa ikut memperkuat tampilannya. kemudian kami semua sepakat memberi nama komunitas itu, bernama “sinji “ yang berasal dari akronim siwalanpanji, sebuah nama desa yang terletak di buduran, sidoarjo.

komunitas sastra ‘sinji’ resmi lahir pada tanggal 24 oktober 2006. minggu pertama setelah sinji lahir, kami tampil pentas di kantor kami sendiri balai bahasa surabaya, minggu berikutnya ‘sinji’ pentas di launching antologi ‘buku mojokerto dalam puisi’, dua minggu berikutnya ‘sinji’ memasuki ranah taman budaya jawa timur berpentas di gedung cak durasim.
satu bulan setelah itu ‘sinji’ pentas di depan forum para guru-guru kpi (konsorsium pendidikan islam) surabaya. pernah pula pentas di ‘purnama sastra’ yang di gelar di fbs – unesa, lidah wetan, surabaya. pernah juga menjadi bintang tamu acara sastra teater smkn 9 surabaya di balai pemuda surabaya
‘sinji’ tak hanya pentas di negeri sendiri, tapi juga di luar kota: festival sastra buruh di blitar, dan pekan seni dan olah raga pelajar smk se-Indonesia di malang.
terakhir ‘sinji’ pentas kembali memeriahkan bedah buku antologi puisi “Surabaya-714 Malsasa 2007” yang di gelar di toko buku diskon togamas, jalan diponegoro 9 surabaya.

lantas sampai kapankah ‘sinji’ akan terus beraksi? sebuah tanya yang terus memompa kami untuk terus selalu bermain dan beraksi.
* presiden penyair jawa timur