Selasa, 09 Agustus 2022

MUSAFIR ISFANHARI TOKOH MUSIK JATIM

 

MUSAFIR ISFANHARI

SANG TOKOH MUSIK JATIM

 

Siang yang panas di Surabaya, bukan berarti harus menunda untuk kembali silaturahmi. Jalanan sesak cenderung krodit, kami mengarah Banyuurip Lor tengah kota Surabaya itu, pada 25 Januari 2022 lalu.  Bersama seniman Widodo Basuki. Kami hanya ingin bertemu untuk tokoh musik nasional, Musafir Isfanhari, untuk sekadar tanya-tanya tentang musik.

Setelah bincang basa-basi tentang kabar kesehatan selama dua tahun tak bertemu, lantaran pandemi, kami lantas bertanya-tanya soal musik. Sebab beliaunya ini, adalah tokoh musik yang cukup senior di kota pahlawan Surabaya. Sebab kami berdua, sangatlah awam tentang seluk-beluk musik dengan segala variannya.  Waah…kayak virus saja, celetuk Widodo Basuki.

Berikut laporan Aming Aminoedhin dan Widodo Basuki diturunkan untuk terbitan Majalah Cak Durasim Edisi 13 – April 2022.




 





Berada di beranda rumahnya itu, pertanyaan pertama yang muncul soal musik adalah adanya nada diatonis dan pentatonis. Pak Is, demikian kami memanggil menjawab secara gamblang soal itu. Nada diatonis adalah sistem tangga nada yang dipakai di Barat yang terdiri dari tujuh nada utama: do-re-mi-fa-sol-la-si atau C-D-E-F-G-A-B. Sedangkan pentatonis yang biasa disebut sebagai tangga nada musik tradisi Jawa, ji-ro- lu-ma-nem. 

Keterangan foto: Aming Aminoedhin, Musafir Isfanhari, dan Widodo Basuki.

Mungkin para pelaku seni musik di Jawa Timur, hampir semuanya kenal nama Musafir Isfanhari, yang baru-baru ini menerbitkan buku Ngibadah Seni ini. Mengapa? Sebab Isfanhari, banyak berkiprah dalam penjurian seni musik. Baik siswa, mahasiswa, guru, ASN, dan Ibu-Ibu di tingkat Jawa Timur. Tidak hanya juri lomba nyanyi vokal tunggal, lebih khusus lomba paduan  suara. Tidak hanya di Jawa Timur, mungkin juga namanya dikenal di tingkat Nasional, sebab pernah juri Lomba Musik Seriosa Nasional, zaman TV-RI Orde Baru dulu. Usianya sudah 70 tahun lebih, tapi ngibadah seni tetap dilakukan dengan hati riang. Jadi guru seni musik di berbagai lembaga negeri maupun swasta, termasuk Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Bahkan pernah juga mengajar sebuah sekolah di pedalaman Banyuwangi, tepatnya di Kalisat sekian tahun yang lampau.

Lelaki senior, agar tidak disebut sebagai lelaki tua ini,  meski lebih 70 tahun usianya; tetap tampak energik dalam menjalani kehidupan seninya ini. Terbukti, beliau hampir di semua kota dan kabupaten di Jawa Timur, pernah beliau datangi sebagai narasumber/instruktur musik, serta jadi juri lomba musik. Baik di kota Banyuwangi hingga Ngawi, dan Bangkalan sampai Sumenep, pernah beliau jalani dengan riang hati. 

Musik Jawa Timur

           Di tanya soal musik Jawa Timur itu bagaimana, beliau menjawab, bahwa secara tokoh musik atau kelompok musik Jawa Timur, khususnya kota Surabaya cukup punya nama di kancah tingkat Nasional. Sebut saja, nama-nama: Mardjoeki, lagunya yang terkenal TST atau Tahu Sama Tahu, Markasan dengan OK Aneka Warna dengan lagu terjenalnya: Wajik Abang. Ada juga nama-nama: Gombloh, Bubi Chen,  Mudjiono, Ucok Harahap, Mus Mulyadi, Leo Kristi, Franky & Jane, Slamet Abdul Syukur, Lantas kelompok musiknya, ada: Aka Grup, The Gembels, De Hand, Lemon Trees, Konser Rakyat Leo Kristi, dan belakangan ada Dewa 19, Padi, dan banyak lagi.

            Kembali mengenang soal nama Mardjoeki, yang katanya Pak Is, adalah dirigen pertama RRI Surabaya (1950-an) itu, syair lagunya berbau kritik sosial. Sambil menyanyikannya, beliau melantunkan syairnya yang berbunyi: Saya baru mengerti/Omongan TST, tahu sama tahu //Sungguh luar biasa/Kalau dapat untung cepat jadi kaya//Tapi awas TST itu rakyat benci/Karena TST perbuatan tidak suci..dst (lagu berjudul TST- Mardjoeki). Begitu juga syai lagu kroncongnya Markasan, yang berbunyi: Dina Minggu kliweran montor jawatan/Wajik abang nempel ing kacane//Iku mau dines jawatan sing nduwe/ ..dst. (lagu Wajik Abang - Markasan).

            Sementara bicarakan soal lagu daerah Jawa Timur, lanjut lelaki yang pernah jadi juri Bintang Radio dan Televisi (BRTV) Nasional 1985 ini, dikatakan banyak lagu daerah kita yang sudah tidak terasa ‘ruh’ tradisionalnya. Ini karena pola melodinya, bentuk komposisinya, progresive chord-nya sudah persis sama  dengan komposisi musik Barat. Pengertian lagu daerah hanya tinggal pada syairnya saja. Terkadang ada terjadi kerancuan dalam pengertian lagu daerah berbahasa Jawa, yang mana ada beberapa judul lagu berbahasa Jawa di-klaim bukan milik Jawa Timur, tapi milik Jawa Tengah. Ini biasanya terjadi dalam lomba-lomba paduan atau vokal grup atau yang lainnya. Untuk itulah, saya tandasnya, selalu menyarankan agar pada technical-meeting harus dijelaskan secara rinci terlebih dulu. Atau dengan batasan yang sederhana, lagu daerah adalah lagu yang syairnya memakai bahasa daerah. Itu lebih gampang dan jelas; tandas pernah dapat penghargaan dari Presiden RI (2015) yang lalu.

Penghargaan soal musik jenis apa dan apa judulnya? Pertanyaan itu dijawab, bahwa beliau dapat penghargaan Presiden RI, karena sebagai komposer, penulis lagu, sekaligus pemain pada lagunya keroncongnya yang berjudul Keroncong KB. Diserahkan pada perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2015 di Jakarta oleh Presiden Joko Widodo. Sungguh, sangat membanggakan sekali, dapat penghargaan dari Jokowi.


           Keterangan foto:  Slamet Abdul Syukur dan Leo Kristi.

           Ditanya soal genre musiknya Slamet Abdul Syukur dan Leo Kristi, beliau mengatakan bahwa aktivitas dan kreativitas genre musik Mas Slamet dan Leo Kristi memang merupakan beda, dan resiko terberatnya memang tidak bisa dikomersilkan. Artinya, beresiko tanpa dapat uang.  Dalam ini, seseorang memang perlu punya kegilaan mengolah musik yang inovatif dan kreatif. Seperti Mas Slamet AS dan Leo Kristi itu. Kota Surabaya memang gudangnya pemusik, ada juga yang unik dan aneh, serta mungkin nyleneh, seperti Mas Slamet dan Leo Kristi.

            Oleh sebab itu, saran Pak Isfanhari, Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) perlu mempra-karsai temu musik kubu klasik, populer, rakyat, dll. tersebut; sehingga akan melahirkan ide yang luar biasa bagi musik di Jawa Timur.

 Bermusik itu Beribadah Lewat Seni 

Nama Musafir Isfanhari adalah tokoh penting dalam kancah seni musik di JawaTimur dan nasional. Salah satu perhargaan atas dedikasinya di dunia musik, di tahun 2015, mendapat penghargaan Cipta Karya Kencana dari Presiden Joko Widodo. Ini merupakan penghargaan  yang diberikan kepada tenaga program yang telah menciptakan karya yang menonjol dalam pengembangan konsepsi, inovasi, dan sistem yang bermanfaat. Selain dikenal sebagai seorang composer lagu dan seorang arranger, Isfanhari juga seorang penulis. Sumbangan pemikiran tentang musik banyak ditulis di media surat kabar/majalah yang kemudian dikumpulkan dalam dua buku “Bulan Sepotong di Langit Biru” dan “Ngibadah Seni, Bermusik itu  beribadah Lewat Seni”.

Foto: Musafir Isfanhari

Dalam usia yang tak lagi muda, Pak Is, begitu panggilan akrab untuk pria kelahiran 22 Desember 1945 ini, tampak tetap energik dan tetap mengabdi pada seni musik. Musafir Isfanhari memang lahir dari keluarga  pemusik. Ibunya merupakan guru mengaji yang pinter menyanyi. Sehabis mengaji ibunya mengajari bernyanyi. Dari sinilah tumbuh kecintaan pada musik. Selain itu bakat musik Isfanhari sejak kecil juga ditempa oleh Pakde dan Pamannya, kemudian memutuskan melanjutkan ke  Akademi Musik di Jogjakarta tahun 1962,  memulai karir bermusik, dan banyak dikenal sampai sekarang.  Aransemen yang paling dikenal adalah  lagu Jasamu Guru. Bahkan orang banyak beranggapan bahwa, lagu itu Musafir Isfanhari penciptanya, dan itu telah dibantah bahwa dia hanya mengaransemen lagu tersebut.

 Menurut ceritanya dia lahir di “pengungsian”. Saat pertempuran 10 Nopember di Surabaya pecah, keluarganya terpaksa mengungsi ke luar Surabaya. Ibunya yang saat itu sedang mengandung juga ikut mengungsi sampai Kediri,  Kota Batu, dan Malang.

“Saat di pengungsian karena pertempuran Surabaya itulah saya lahir.” begitu  Musafir Isfanhari menuturkan kisahnya sambil tertawa. Setelah menempuh pendidikan musik kemudian menjadi guru musik di sekolah di Banyuwangi. Setelah sepuluh tahun mengajar di sekolah, kemudian bekerja di Taman Budaya Jawa Timur sampai pensiun.

Sebelumnya Isfanhari memang lebih dikenal dengan karya-karya bergenre keroncong walaupun sebenanya dia menekuni musik klasik. Lingkungan masyarakat tempat dia mengajar dulu menyukai jenis musik dangdut dan keroncong mempengaruhi penciptaan karyanya, salah satunya lagu tentang Keluarga Berencana (KB). Dari lagu yang isinya mendorong program Keluarga Berencana inilah  mengantarkan Isfanhari mendapat penghargaan dan bisa bersalaman dengan Presiden Joko Widodo. Ini merupakan sesuatu hal yang membanggakan.

Ditemui   di rumahnya  Jl. Banyu Urip Lor Surabaya, beberapa waktu lalu, Musafir Isfanhari berceritara banyak tentang pengalaman dan pemikirannya   terkait dengan perkembangan musik yang ada di JawaTimur.

Menurut Pak Isfanhari, di Jawa Timur  perkembangan antara musik tradisional dan non tradisional atau  disebut juga musik pentatonis dan diatonis bisa seiring berkembang dengan baik. Banyak musisi-musisi asal Jawa Timur juga banyak yang mewarnai di kancah nasional bahkan internasional. Tokoh-tokoh musik asal Jawa Timur seperti Mus Mulyadi, Mus Mujiono, Gombloh, Leo Kristi, sangat terkenal di-eranya. Begitu juga tokoh musik kontemporer  seperti Slamet Abdul Syukur. Dalam berkarya  perlu totalitas mengabdi pada musik dengan resiko tidak laku. Menurut Isfanhari  “Intinya perlu “orang gila” dalam musik.”

Dibayangkan ada lembaga yang bisa memprakarsai petemuan genre-genre musik di Jawa Timur. Baik orang-orang dadi genre klasik, pop, kontemporer, dan yang lainnya bila bersinergi akan melahirkan karya-karya yang luar biasa.

         Dalam buku Ngibadah Seni, pemikiran-pemikiran Musafir Isfanhari tentang musik begitu gamblang dicerna dengan bahasa yang mudah dipahami. Salah satunya tentang Paduan Suara dalam menyikapi situasi pandemi dan New Normal. Juga tulisan-tulisan diantaranya: Musik dan Nasionalisme, Musik Islami dalam Era Globalisansi, Soal Jiplak Menjiplak Lagu, Makna lagu  anak tempo dulu, juga mengulas tentang tokoh-tokoh musik Gesang dan komponis besar Indonesia, Mochtar Embut. Juga mengulas musik nasyid sebagai musik Islami terbaru serta masalah terkait dengan musikalisasi puisi.

          Di buku itu Musafir Isfanhari juga mempertanyakan tentang musik Jawa Timur itu sebenarnya yang mana? Ini terkait dengan lomba-lomba musik (paduan suara, vokal group) yang diadakan sampai tingkat Nasional. Biasanya disertakan dalam persyaratan lomba: harus menyanyikan lagu pilihan berupa lagu daerah (kadang-kadang juga ditambah dengan penjelasan kalimat lagu daerah setempat). Pertanyaannya, apa yang dimaksud lagu daerah itu?  Lagu Semanggi Suroboyo lagu daerah atau bukan? Lalu lagu  Padang Mbulan, Buto-Buto Galak, Prau Layar, bukan lagu Jawa Timur  tapi Jawa Tengah. Dibandingkan dengan Jawa Tengah, memang secara administratif, Jawa Timur mempunyai wilayah yang berbeda yaitu Madura dan  Banyuwangi, ada juga wilayah Mataraman yang sama dengan JawaTengah.

Yang menjadi masalah dan dikhawatirkan  dalam lomba di tingkat Nasional, karena peserta kalah bukan karena sajiannya indah atau tidak indah, bagus atau tidak bagus tetapi kalah karena “di-diskualifikasi”, dianggap menyalahi aturan/persyaratan lomba khususnya dalam kaitan pilihan lagu daerah. Jadi, lagu daerah itu seperti apa?

Dalam perjalanan usia yang sudah 77 tahun telah banyak yang dilakukan Isfanhari, tetap semangat  membuat aransemen lagu untuk paduan suara, pernah menjadi pengasuh acara Olah Musik TVRI Stasiun Surabaya, serta mengunjungi beberapa negara dalam rangka berkesenian. Sampai sekarang pun tak henti berkarya  masih menulis artikel dan esai  tentang musik di majalah seni. Juga menjadi juri musik serta narasumber untuk mahasiswa yang membuat skripsi dan tesis tentang musik.

“Melakukan ibadah adalah muamalah, berjuang bukan untuk kepentingan sendiri tapi untuk kepentingan orang lain tanpa memikirkan diri sendiri. Mereka telah melakukan kegiatan kemanusiaan yang luar biasa, di sinilah makna Ngibadah Seni: “Bermusik” adalah beribadah lewat seni.” begitu kutipan terkhir Isfanhari yang ditulis dalam bukunya Ngibadah Seni.

Buat Buku Sendiri   

 Bicara soal buku, Pak Is mengatakan bahwa baru-baru ini beliau menerbitkan buku tentang musik secara indie atau dibiayai sendiri. Judul bukunya:  Ngibadah Seni: Bermusik Itu Beribadah lewat Seni, cetakan pertamanya pada November 2020 lalu. Sebelum itu pernah terbitkan pula biografinya sendiri dengan judul Bulan Sepotong di Langit Biru. Sungguh orang tua yang tak mau berhenti berkreativitas. Luar Biasa!

Dalam buku Bermusik Itu Beribadah lewat Seni, serasa kita dapat penjelasan soal seni musik dari berbagai sudut pandang, dari soal musik: keroncong, langgam, Islami, musikalisasi puisi, nasyid, simphoni, lagu anak tempo dulu, dan tentunya bicara soal paduan suara. Di mana Isfanhari adalah pakar dalam hal ini. Lantas ada juga tulisan menarik, bicara soal lagu Indonesia Raya (IR), diulas secara rinci. Termasuk bicara soal lagu Indonesia Raya dituduh sebagai lagu jiplakan. Benarkah?

            Musafir Isfanhari yang kelahiran Surabaya 1945 ini, pada bagian hampir akhir bukunya, diterangkan soal paduan suara, yaitu memadukan beberapa jenis suara manusia (dewasa: sopran, alto, tenor, dan bas). Sedang bagi anak-anak: suara anak tinggi dan suara anak rendah). Sehingga menjadi paduan suara (bunyi) indah, merdu, dan serasi. Isfanhari merinci-jelaskan detail dalam bukunya tersebut.







           Tulisan akhir dalam bukunya, menulis contoh beberapa orang yang berkerja tanpa pamrih. Bekerja bukan untuk diri sendiri, tapi lebih diberikan untuk kepentingan orang lain. Lebih detailnya, kerja sosial yang tanpa harus minta imbalan gaji. Mereka bekerja dengan setulus hati demi kemanusiaan.  Sedangkan dalam dunia seni musik, ngibadah seni itu bermusik untuk menyenangkan orang lain. Jadi bermusik itu adalah beribadah lewat seni, katanya.

     Mungkin secara keseluruhan, tulisan dalam buku ini, memang menarik untuk dibaca bagi pelaku seni musik. Pembaca akan diberi pengetahuan berbagai seluk beluk tentang seni musik, lagu, dan paduan suara. Setidaknya pembaca akan bertambah ilmu tentang musik, termasuk makna lagu anak tempo dulu?

            Terlepas dari semuanya, yang agak mengganggu tampilan buku ini, karena di dalam bukunya banyak ilustrasi sketsa gambar biola yang ada di setiap halaman buku. Pertama, tulisannya jadi kurang mudah terbaca. Kedua, tampilan buku jadi kelihatan sesak oleh sketsa. Ketiga, sketsanya sama bergambar biola. Akan lebih baik, jika sketsa gambar biola diletakkan halaman tersendiri, sebagai ilustrasi. Misalnya pada halaman 35, 70, 90, dan 120. Akan lebih baik, jika tidak hanya biola saja, tapi bisa gitar, saksofon, atau sketsa drum. Jadi tidak hanya  satu sketsa gambar biola saja.








             Foto: Musafir Isfanhari .


Terlepas kelebihan dan kekurangan yang ada dalam buku ini, yang pasti diapresiasi penulisnya yang sudah sangat senior, dan tetap mau menuliskan ilmunya kepada pembaca. Hal lain yang perlu diapresiasi,  adalah buku berisi soal musik memang jarang ditulis orang. Selamat atas terbitnya buku musik ini, dan selamat membaca bagi penyuka musik. Saya membaca ada yang terasa beda dan enak dibaca!

Siang itu, Surabaya memang terlalu panas cuaca, mengakhiri perbincangan saling bersalaman, dan kami pulang melenggang dengan hati senang. Bisa temu dan berbincang dengan sang tokoh musik Jawa Timur itu.

 

                                                                        Sukolegok dan Canggu, 17/3/2022

Catatan:

Tulisan ini termuat di Majalah Seni Budaya Cak Durasim Edisi April -2022 

terbitan Taman Budaya Jawa Timur.

Tidak ada komentar: