Minggu, 07 Agustus 2022

SANG KETUA PPSJS TIGA PERIODE

 

 

 

Profil Tokoh Sastra Jawa

Dr. SUHARMONO K., M.Pd.

Ketua PPSJS Tiga Periode

Oleh: Aming Aminoedhin

 

Dalam memimpin Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) ternyata banyak yang telah dilakukan, di antaranya penerbitan buku sastra Jawa. Lantas mengadakan sarasehan, bedah buku, atau pentas baca sastra dari karya anggota PPSJS yang dibukukan. Baik di kota: Surabaya, Blitar, Surakarta, maupun Yogyakarta. Karya sastra beliau banyak memenangkan juara dan hadiah sastra.**

             

       

           Dr. Suharmono Kasijun, M.Pd. sang ketua PPSJS tiga periode itu. (foto: Istimewa).

        Sosok lelaki yang pendiam itu, ternyata tidak pernah diam dalam berkarya dan menulis sastra. Lelaki kelahiran  desa Kauman – Sumoroto – Ponorogo, pada 19 Maret 1953 itu, bernama Suharmono. Dalam hal menuls karya sastra, baik berbahasa Indonesia maupun Jawa, sering menggunakan nama Suharmono K. Huruf K di belakang namanya adalah singkatan dari kata Kasijun, nama lengkap dari ayahnya Kasijun Atmosukarto.  Beberapa karyanya, pernah meme-nangkan lomba/sayembara penulisan, di antaranya: Hadiah Sastra Rancage dari karya novel berbahasa Jawa-nya berjudul Pupus Kang Pepes. Lantas karya cerkaknya Tatu-tatu Lawas dan novelnya Kidung Katresnan menang lomba di Pusat Kesenian Jawa Tengah, Surakarta. Sedang-kan yang berbahasa Indonesia, karya novelnya berjudul Den Bagus pemenang harapan Lomba Novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta 1980. Beliau pernah juga menda-patkan hadiah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur. Adapun dalam menulis karya sastra, beliau juga pernah menggunakan nama samaran: Ayomi Tyas Wening.

            Soal penghargaan, tidak hanya itu saja, pernah pula beliau ini mendapatkan pengahargaan seni bidang sastra dari Gubernur Jawa Timur (2005). Selang beberapa tahun terakhir ini, baru saja menerbitkan buku: Kidung Lingsir Wengi (kumpulan Guritan, 2013), Kakang Kawah Adhi Ari-ari (novel bahasa Jawa, 2017), , dan Den Baru (novel berbahasa Indonesia, 2018).

                Suharmono sekolahnya dari SD s.d. SMA kelas I berada di SMAN 1 Ponorogo, yang berada di kota kelahirannya Ponorogo. Kemudian beliau pindah ke Surabaya, melanjutkan di SMA Muhammadiyah 1  Surabaya hingga lulus. Usai lulus SMA melanjutkan kuliah di IKIP Malang dan Surabaya. Selanjutnya beliau juga bisa merampungkan S-2 dan S-3 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), lantas jadi dosen pada universitas yang memberinya gelar doktor sastra tersebut. Beliau jadi dosen sastra di Universitas Negeri Surabaya, hingga pensiun 2018 lampau.

 

Ketua PPSJS Tiga Kali Periode

            Dalam kancah menulis, merawat, dan menumbuh-kembangkan sastra Jawa, Suharmono, tidak bisa diragukan lagi kiprahnya di Jawa Timur. Selain tulisan karya sastra Jawanya, kerap dapat hadiah dan penghargaan yang saya  sebutkan di muka; beliau, bersama almarhum Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo, pada tahun 1977 mendirikan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Sebuah organisasi pengarang sastra Jawa yang masih tetap eksis hingga sekarang ini. Beliau pernah jadi ketua PPSJS tiga kali periode, yaitu periode 1990 – 1994; 2001- 2005, dan kemudian periode 2014-2019, bahkan hingga sekarang ini. Benar-benar ketua PPSJS yang tangguh, dan membuktikan bahwa kinerjanya tiada tandingannya. Dari catatan saya sebagai sekretaris, rapat PPSJS (9/2/2014) tertulis bahwa pengurus PPSJS Periode 2014 – 2019; ketua umum: Suharmono K, ketua I dan II: Rohmat Djoko Prakosa dan Widodo Basuki. Sekretaris: I dan II: Aming Aminoedhin dan Arief Sudrajat; sedangkan bendahara I dan II: Sri ‘Trinil’ Setyowati dan Indrisoewari. Oleh karena masa jabatan habis, dan kemudian belum ada rapat pengurus untuk penggantian, maka hingga sekarang ini beliau masih ketua PPSJS.

            Dalam memimpin PPSJS ternyata banyak yang telah dilakukan, di antaranya penerbitan buku sastra Jawa. Lantas mengadakan sarasehan, bedah buku, atau pentas baca sastra karya anggota PPSJS yang dibukukan. Baik di kota Surabaya, Blitar, Surakarta, maupun Yogyakarta.

            Sebagai catatan periode kedua kepemimpinan beliau bisa mengajak teman-teman PPSJS terbitkan buku kumpulan guritan Kabar Saka Bendulmrisi (KSB, September, 2001). Pada era kepemimpinan ketiga, terbitkan: Mlesat Bareng Ukara (MBU, April, 2014), Gurit Bandha Donya (GBD, September, 2014), dan Sandhal Jepit Taline Abang (SJTA, September, 2016), serta Othak-Athik Gathuk (OAG, Agustus, 2018).  Kumpulan MBU adalah kumpulan guritan yang isinya ditulis dari beberapa anggota PPSJS, dan komunitas lain.  Seperti komunitas PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro), Kostela (Komunitas Teater Lamongan), dan Sanggar Triwida Tulungagung. Kumpulan GBD adalah kumpulan dua bahasa, Jawa dan Indonesia yang ditulis anggota PPSJS sendiri: Aming Aminoedhin, Widodo Basuki, Rohmat Djoko Prakosa, Denytri Aryanti,  Trini, Suharmono K, Rahmat Giryadi, Rozuno Kaori, dan Suparto Brata.

           

                            Majalah Seni Budaya Cak Durasim Edisi 14 - Juli 2022

            Sementara itu untuk buku SJTA berisi naskah kumpulan cerita cekak dan guritan yang terbit dalam rangka ultahnya PPSJS ke-39, ditulis oleh anggota PPSJS dan mahasiswa sastra Jawa Unesa pada waktu itu. Sedangkan buku OAG, berisi tulisan esai, cerkak, dan guritan; dengan melibatkan penulis para dosen atau akademisi, seperti: Dr.Tengsoe Tjahjono (Unesa), Dr. Ida Nurul Chasanah (Unair), dan Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. (Unipa-Surabaya).

            Dari gerakan penerbitan buku sastra Jawa inilah, meneguhkan Suharmono Kasijun, seba-gai Ketua PPSJS memang tak tergoyahkan, serta kiprahnya tak bisa diragukan lagi dalam me-numbuh-kembangkan sastra Jawa di Surabaya,  Jawa Timur, bahkan Nasional.

            Setelah pensiun dari tenaga dosen di Unesa Surabaya, beliau kemudian pindah mengajar di Universitas NU Surabaya (Unusa). Kiprahnya tidak berhenti berkarya menulis sastra Jawa, baru tahun lalu menerbitkan buku novel bejudul Guwing (novel bahasa Jawa, 2021).

            Hal ini jadi bukti Suharmono Kasijun, meski telah pensiun tetap saja berkarya dengan menulis sastra Jawa. Menulis sastra Jawa seperti nafasnya dalam perjalanan kehidupannya. Di tengah musim virus korona dan pandemi, beliau tetap menulis dan berkarya sastra. Sungguh, sastrawan Jawa yang mumpuni, menulis: gurit, cerkak, dan novel; dilengkapi pula pernah jadi Ketua PPSJS tiga kali periode hingga kini. Sungguh, lelaki pendiam yang luar biasa!

            Ditemui melalui kontaks telepon genggam (13/6/2022), dan ditanya soal konsep hidup-nya, beliau mengatakan, “Sebagai orang Jawa saya berusaha menerapkan pandangan hidup orang Jawa: lembah manah, hidup harus migunani tumrap bebrayan (bermanfaat bagi masyarakat), nglurug tanpa bala, sugih tanpa bandha, menang tanpa ngasorake.

Menurut beliau naskah terbaru yang terbit 2021 novel Guwing itu, adalah cerita tentang orang yang cacat anggota tubuhnya, tidak berkaki, dan tangan hanya sebelah, dengan bibir yang sumbing. Tokoh ini yang dimanfaatkan orang lain untuk menimbun kekayaan. Guwing mengalami perjuangan yang berat untuk menemukan jati dirinya dan dalam menemukan Tuhannya. Sementara itu, masih dalam penggarapan penulisan novel baru lagi, dan sekarang sedang dikerjakan adalah novel berlatar belakang ontran-ontran 1998, yang dialami oleh seorang aktivis pengurus Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM), dan baru selesai 40 persen.

 

     Dr. Suharmono K., M.Pd. dosen UNUSA Surabaya

            Sementara ditanya soal PPSJS, beliau berujar bahwa.” PPSJS sebagai organisasi yang bertujuan untuk nguri-uri dan mestarikan bahasa, sastra, dan budaya Jawa mempunyai beban yang sangat berat dalam era globalisasi ini. Ke depan yang harus dilakukan adalah mengajak generasi muda untuk menyadari betapa pentingnya budaya Jawa warisan leluhur yang menjadi ciri khas identitas orang Jawa, dan berusaha menggali nilai-nilai idealistik yang terkandung dalam budaya Jawa.”

Mengakhiri wawancara melalui telepon malam itu, reporter CD, tanya soal mengajar di UNUSA sejak kapan, dan bagaimana? Beliau mengatakan, bahwa, “Mengajar di Unusa sejak tahun 2018. Yang menarik di Unusa saya menemukan suasana baru, dengan suasana yang agamis (Islam). Mahasiswa banyak keluaran pondok. Saya merasakan situasi kampus yang Rahmatan lil-Alamin sesuai dengan visi Unusa.”

Selamat merampungkan novel barunya, Pak Harmono, semoga lancar dan segera bisa dicetak untuk jadi bacaan bagi khalayak. Salam sehat selalu, panjang usianan barokah , dan terus semangat dalam berkiprah di sastra Jawa. (aa)**

                                                                                                Mojokerto, 13 Juni 2022

 Catatan:

Tulisan ini termuat di Majalah Cak Durasim TBJT No.14  Juli 2022

Tidak ada komentar: