Sabtu, 06 Agustus 2022

    

NGAJI SASTRA DI PONPES NURUL JADID

PAITON – PROBOLINGGO

Oleh: Mohammad Amir Tohar





          Jelang memasuki tahun baru 2020, tepatnya di penghujung hari tahun 2019, bertempat di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo (31/12/2019 malam); digelar-selenggarakan kegiatan bertajuk “Ngaji Sastra Refleksi Akhir Tahun.” Kegiatan ini diprakarsai UKM Seni Budaya Mahasiswa ‘Teater Kala’, yang bekerja sama dengan Lembaga Integrasi Kokurikuler (LIK) Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

          Acara dihadiri para santri-santriwati, yang  berjumlah sekitar 400-an peserta itu, menghadirkan narasumber Aming Aminoedhin, presiden Penyair Jatim, dan Catur Margatama dari Dewan Kesenian Kabupaten Probolinggo.

          Ngaji sastra akhir tahun dengan tema ‘Memasyarakatkan Kesusastraan Pesantren’ diharapkan para santri kian cinta akan sastra, dengan membaca dan menulis karya sastra. Sebuah kegiatan yang juga diharapkan mampu bisa menjalin silaturahmi seni antar-sesama komunitas seni di dalam  maupun di luar pondok Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Hal ini terbukti dengan kehadiran beberapa personal komunitas seni, seperti: Sanggar Cemara Sumenep, Komunitas Teater Pohon Inzah, Teater Kala, Kesenian Sastra Titik Koma, Gas Bumi, Teater Bosan,  Teater Embureng Jombang, Warna Sastra Kalibumbu, dan Komunitas Teater Amoeba.

          Catur Margatama dari Dewan Kesenian Kabupaten Probolinggo, dalam presentasi malam itu, bicara soal perkembangan teater dan sastra di wilayah pesantren yang cukup signifikan perkembangannya. Ini terbukti beberapa komunitas pesantren kerap kali pentas sastra dan teater.

     Dalam makalahnya, Aming Aminoedhin, yang tampil setelah presentasi Catur Margatama, antara lain bicara soal bagaimana baca puisi, baca puisi bersama,  dan menulis puisi dengan baik. Namun karena terbatasnya wantu yang yang ada, lebih banyak bicara baca puisi yang baik. Sempat pula, beri contoh baca puisi di hadapan para santri tersebut. Aming baca puisinya sendiri berjudul “Berjamaah di Plaza” yang bait-baitnya antara lain berbunyi: 

kata seorang kyai, belajar ngaji/adalah amalan yang patut dipuji/dan sholat berjamaah/dapat pahala berkah/berlipat-lipat jumlah// tapi kenapa banyak orang/belajar nyanyi,  belajar tari/dan baca puisi?// tapi kenapa banyak orang berjamaah/hanya di plaza-plaza/hamburkan uang berjuta-juta?// adakah ini dapat dipuji, dan/adakah plaza menyimpan pahala/berlipat ganda?// ah… barangkali saja, plaza-plaza/telah jadi berhala baru/yang dipoles gincu/begitu indah/dan banyak orang ikut berjamaah///Surabaya, 1992.

 

          Sementara itu, beberapa peserta ngaji sastra, yaitu para santri dan santriwati juga ikut belajar tampil membacakan puisi. Bahkan selepas baca puisi, mereka diberi hadiah buku kumpulan puisi oleh Aming Aminoedhin.

          Sungguh, malam tahun baru 2020 yang indah dan menyenangkan malam itu, sebab sebelum acara dimulai diawali tampilan kelompok hadrah sholawatan yang indah. Semoga tahun 2020 ini, selepas ‘Ngaji Sastra’ mereka para santri akan terpicu untuk mencintai baca karya sastra, serta menulis karya satra!

Dalam sambutannya, Dian Prasetya, dari Teater Kala yang jadi ketua pelaksana acara, mengatakan bahwa kegiatan ini, di samping untuk silaturahmi antar-santri dan komunitas seni teater dam sastra Pondok Pesantrean Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, juga komunitas seni di luar pondok; sekaligus kegiatan refleksi akhir tahun, pada Teater Kala yang dies maulidiansyah kesebelas tahun komunitas. Kegiatan ini juga diharapkan agar para santri tak ke luar pondok pesantren, tetapi dialog sastra yang bermanfaat, yaitu “Ngaji Satra” guna menambah ilmu sastra bagi mereka.

Harapannya, semoga para santri-santriwati yang hadir malam “Ngaji Sastra”  itu, tidak hanya berhenti melihat dan mendengar, tapi juga membaca dan menulis karya sastra ala pesantren yang tentunya sangat religius.** (aa)


Tidak ada komentar: