Jumat, 18 Januari 2013

MALSABARU 2012 DI BALAI PEMUDA


PARA GURU SE-JATIM
BER’MALSABARU’ DI SURABAYA  

           Bagi pembaca yang kurang tahu, bahwa Malsabaru singkatan dari ‘Malam Sastra Bagi Guru.’ Hal itu telah diselenggarakan pentasnya di Gedung Merah Putih, Balai Pemuda, Surabaya; 19 Desember 2012 lalu. Acara ber’Malsabaru’ se-Jawa Timur tersebut berlangsung sukses. Tak kurang ada 25 penyair yang guru atau guru yang penyair, hadir dan tampil baca puis/guritannya di depan masyarakat sastra Surabaya. Artinya, lebih dari  separoh dari jumlah yang ditargetkan, yaitu 42 guru.
    
         Adapun yang hadir dari berbagai daerah, yaitu: Arim Kamandaka dan Ary Nurdiana (Ponorogo), Herry Lamongan, Bambang Kempling, dan Upiek Karang Langit (Lamongan), Fathur ER, Bhen Mul Wae, Suharmono Kasijun, R. Giryadi, dan Widodo Basuki (Sidoarjo),  Aming Aminoedhin, Chamim Kohari, dan Suyitno Ethexs (Mojokerto), Tengsoe Tjahjono dan Davit Harijono (Malang),  Ardi Susanti (Tulungagung),  Junaidi Haes, Tjahjono Widarmanto, dan Kusprihyanto Namma (Ngawi), Imam Hariadi,  R. Djoko Prakosa, dan Zoya Herawati (Surabaya), L. Machali, Budi Palopo, dan Uyun S. Wahyuni (Gresik).
           Menurut Ketua FSBS, sebagai pemrakarsa acara tersebut, Aming Aminoedhin, dikatakan, “Beberapa guru yang kreatif dalam penulisan sastra, khususnya puisi, memang kurang mempunyai wadah untuk berekspresi guna memasyarakatkan karya-karyanya. Sedangkan kegiatan ini, diharapkan mampu menjadi wadah berekspresi, sekaligus aktualisasi diri; bahwa guru tidak hanya mengajar di ruang kelas, tapi juga bisa tampil dalam forum sastra berskala Jawa Timur bertempat di kota Surabaya. Mereka yang tampil terdiri dari guru  PAUD, SD, SMP, SMA, dan Dosen. Tidak hanya penulis puisi, tapi juga penulis guritan.”
           Lebih jauh, Aming, mengatakan, “Kegiatan ini, di samping memberi apresiasi bagi guru yang selama ini telah menulis sastra, khususnya puisi/gurit, juga mengajak mereka untuk tampil dan diskusi dalam satu forum kegiatan baca puisi bagi guru seluruh Jawa Timur, bertajuk “Malam Sastra Bagi Guru atau Malsabaru”  dan sekaligus juga merupakan sosialisasi sastra kepada para peserta didik, sekaligus masyarakat sastra Jawa Timur. Di harapkan tahun 2013 akan kembali acara serupa dengan melibatkan banyak guru, siswa, dan mahasiswa.”
          Sabrot D. Malioboro, Ketua DKS, “ Menyambut gembira atas prakarsa pentas sastra ini. Semoga di tahun mendatang bisa ditindaklanjuti gelarpentasnya kembali secara rutin. Sebab, guru adalah panutan, maka perlulah kiranya menampilkan guru sebagai kreator sastra. Mengakhiri sambutannya, Sabrot, mengatakan selamat berpentas kepada seluruh guru.”
           Pembedah buku bertajuk ‘Malsabaru’ adalah  Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. dipandu R. Giryadi, yang antara lain mengatakan bahwa, “Hampir semua puisi dalam buku ini baris-baris terakhirnya juga menyeru kembali tentang hakikat hidup yang pasti dikalahkan oleh waktu.  Ada amanat yang diselipkan sebagai konvensi sastra. Di sini puisi hadir bukan sekadar sebagai ekspresi, tapi juga menggiring ke transendensi. Betapa nggombalnya sebuah puisi, ia tetap punya sisi yang berarti.”
           Siang itu, acara diskusi cukup hangat, terbukti banyak pertanyaan dilontarkan audiens, dan bahkan para penyairnya sendiri yang hadir siang itu, ikut juga bertanya. Sedangkan sastrawan senior, Pieter A. Rohi, ikut bertanya dan memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya acara ini.
            Kegiatan ini yang mula-mula menggandeng Bidang Pendidikan Pengembangan Kesenian Sekolah (Dikbangkes) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, dan selanjutnya pada saat pentas sastranya diselenggarakan atas kerja sama antara Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), Dewan Kesenian Surabaya (DKS), dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga Surabaya; digelarpentaskan di Balai Pemuda, Surabaya.
               Para guru yang ber’malsabaru’,  digelarpentaskan sejak siang hingga malam hari, serta di luar gedung hujan mengguyur Surabaya tersebut, cukup mendapatkan respons positif dari berbagai kalangan, baik masyarakat sastra, siswa, guru, dosen, dan bahkan mahasiswa. Ini terbukti dengan banyaknya audiens yang hadir pada acara tersebut.
               Pentas sastra Malsabaru 2012 telah digelarpentaskan di Surabaya, dengan sukses. Semoga tahun 2013 akan bisa digelarpentaskan kembali. Menulis dan membaca puisi dengan hati. Lampu-lampu pentas telah padam, tapi kreativitas guru Jatim, takkan pernah padam. Kian bernas berkreativitas!* (aulia alamanda).


Tidak ada komentar: