Jumat, 18 Januari 2013

FRAGMEN BUDI PEKERTI JATIM


Catatan dari Festival  Fragmen Budi Pekerti
DINAS  DIKBUD  PROVINSI  JAWA  TIMUR

         
Festival Fragmen Budi Pekerti bagi siswa SMA se Jawa Timur, telah diselenggrakan oleh bidang PNFI dan Nilai Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Festival diselenggarakan di di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, pada tanggal 12 Desember 2012.
Tampilan mereka cukup baik dan menggelitik, bahkan banyak yang telah memasukkan pesan budi pekertinya, secara tersamar dalam garapan fragmennya. Ada tiga kota yang menyabet predikat dua kejuaraan, yaitu: Pamekasan, Tuban, dan Kota Blitar, yaitu mendapat predikat juara penulis naskah dan penyaji tampilan kelompok fragmen.
          Penyelenggara kegiatan festival ini, Bidang Pendidikan Nonformal Informal (PNFI) dan Nilai Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi  Jawa Timur. Sedangkan kegiatan ini adalah rangkaian kegiatan sebelumnya  berupa Workshop Penulisan Naskah Fragmen Budi Pekerti bagi Guru SMA/SMK se-Jawa Timur beberapa bulan sebelumnya, yang berlangsung di Hotel UB Malang.  Demikian, keterangan Dra. Asri Harijati, Ph.D., selaku Kasi PNFI dan Nilai Budaya, ketika AlurDKS menemuinya di acara lomba fragmen tersebut.
 
          Lebih lanjut  Asri Harijati, menambahkan bahwa festival ini diikuti oleh 29 kota/kabupaten se Jawa Timur, dengan memercayakan penjurian lomba ini kepada Drs. Akhudiat, Darmono Saputra, dan Sri Wahyuni; para pakarnya seni teater. Asri Harijati  juga mengharapkan agar kegiatan festival ini bisa menularkan kegiatan positif, kreatif, dan kompetitif, dengan bermuatan perilaku budi pekerti luhur bagi para siswa, dan guru. Selanjutnya bisa mengimplementasikan dalam perilaku sehri-hari.
Festival  Fragmen Budi Pekerti bagi siswa SMA/SMK se Jawa Timur ini, memilih 10 penulis naskah terbaik, 10 penyaji terbaik, dan masing-masing 2 sutradara, aktris, dan aktor terbaik.
Penulis naskah terbaik tersebut adalah: Jhony and the Gank (Sidoar-jo),  Danyang (Kota Blitar),  Semua Patut Taubat alias Sepatu (Tulunga-gung),  Doa Senja (Kab. Pamekasan), Penari (Kab. Situbondo),  Mbok Mah (Kab. Mojokerto),  Kota Yang Dingin (Kota Probolinggo),  Ningrat (Kab. Tuban), Jangan Pergi Bang (Pacitan), dan Mawar Bersemilah  (Kab. Kediri).
Adapun sepuluh penyaji tampilan fragmen terbaik adalah: Antre (Kota Madiun), Danyang (Kota Blitar), Anak Kowar (Ponorogo), Bayang-bayang (Ngawi), Perempuan Bernama Perahu (Bangkalan),  Bonek (Kabupaten Malang), Doa Senja (Kab. Pamekasan), Ningrat (Kab. Tuban), Nol (Kab. Lumajang), dan Sumpah Pemuda  (Kota Kediri).
Masing-masing dua pemenang sebagai sutradara, aktris, dan aktor terbaik, adalah dari: Kota Madiun, Kabupaten Bangkalan; Ningsih (Kota Batu), Orang Gila, Suminten (Jombang); Papa Bonek (Kab. Malang), dan Kepala Sekolah (Kab. Pasuruan).
Dari  keterangan  Aming Aminoedhin, sekretaris juri festival,  bahwa seharusnya para pemenang festival bisa menerapkan dan memberi contoh-contoh keteladanan dalam hal perilaku budi pekerti luhur, baik para guru maupun siswa. Sebab tanpa itu, percuma saja ketika bisa memenangkan festival fragmen budi pekerti, tapi tidak bisa menerapkannya. Mari kita coba gelorakan terus perilaku berbudi pekerti luhur.
Lebih lanjut, Aming, berpesan agar para guru terus memompakan perilaku yang bermuatan budi pekerti yang baik kepada seluruh siswanya. Bahkan jika mungkin jadi orang terdepan mengajari perilaku budi pekerti itu. 
Lampu-lampu pentas panggung Cak Durasim telah padam, tapi aktivitas berkesenian, dan berperilaku baik sejalan budi pekerti tak harus padam. Mari berbudi pekerti baik, sebaik pentasnya! (mira aa)**

1 komentar:

ALI MUSTOFA mengatakan...

ALhamdulillah Jangan pergi Bang masuk nominasi, sayangnya waktu itu saya tidak bisa terjun langsung utk naskah tersebut. Salam Seni dan Budaya dari Pacitan.