Jumat, 25 Januari 2013

ADAKAH SUMPAH PAHLAWAN?



esaiku tentang pahlawan:
SUMPAH TUGU PAHLAWAN*)
oleh: aming aminoedhin

            Tahukah kau kawan, bahwa Tugu Pahlawan yang berdiri tegak menjulang di tengah kota Surabaya itu punya makna arti tersembunyi? Demikian tanya seseorang kawan dari Ngawi, guna menikmati dan melihat dari dekat tugu  pahlawan itu, pada saat tiba senja ketika ia berkunjung di Surabaya.
            Terpaksalah saya jadi semacam orang pintar, dan menjawab pertanyaannya, dengan menjelaskan, bahwa  angka 17 diwakili oleh alur badan tugu yang tegak  berjumlah 17, ini sekaligus memberi makna tanggal kemerdekaan kita. Sedang angka 8 sebagai makna bulan Agustus, diwakili oleh segi delapan pada dasar tugu; dan angka 45 sebagai tahun kemerdekaan RI diwakili oleh tingginya tugu Pahlawan itu.
            Padahal secara historis, sebenarnya pendirian tugu Pahlawan, adalah untuk mengabadikan sejarah pertempuran 10 November 1945, yang sangat heroik tersebut. Secara historis pula, bahwa pendiriannya adalah ide dari presiden pertama, Ir. Soekarno, yang meletakkan batu pertamanya pada tanggal 10 November 1951. Saat itu bertepatan dengan peringatan keenam pertempuran Surabaya, yang mana koran ‘Times’ terbit di London, 13 dan 14 November 1945 lalu, menulis bahwa, “Perlawanan  Indonesia di Surabaya dilaporkan semakin gigih. Diberitakan pula bahwa pada Minggu malam, wanita-wanita Indonesia ke luar dan menyelamatkan jenazah-jenazah kaum prianya.”
            Terlepas dari semua itu, arek-arek Suroboyo, saat itu, memanglah pantang menyerah ketika mempertahankan bumi tercintanya. Bahkan mereka bersumpah tak sejengkal pun tanah akan diberikan penjajah. Sumpah itu pula yang membikin seorang tentara sekutu, Brigadir Jenderal AWS Mallaby tewas di tangan arek-arek Suroboyo.
            Sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo inilah yang merupakan catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang tiada tanding, tiada banding. Sebab hampir semua rakyat dari berbagai suku: Jawa, Madura, Bugis, Ambon dan suku yang lain ikut cancut tali-wanda, atau menyingsingkan lengan baju untuk maju melawan Belanda. Dari tukang becak, tukang sayur, kuli pelabuhan, pegawai pemerintah, dan yang lain ikut serta turun ke jalan; baik laki-laki maupun perempuan. Sungguh luar biasa!
            Api sejarah inilah yang kemudian dicatat sebagai “Hari Pahlawan” yang kemudian diperingati setiap tahunnya. Kegigihan para pahlawan tanpa pamrih inilah yang seharusnya kita teladani, dan bukan malah kita khianati dengan melakukan  korupsi.
            Persoalan yang kini muncul sekarang adalah masih segigih itukah pemuda Surabaya dalam menyikapi komunitas dan negaranya Indonesia ini. Masihkah bisa berkata yang benar adalah benar, yang salah adalah salah?
            Sebuah tanya yang barangkali pemuda Surabaya sendiri yang akan menjawabnya.
            Adakah pemuda dan para siswa, bahkan mahasiswa, masih menganut tawuran antarkelompok, atau tawuran antarsekolah yang sering terjadi akhir-akhir ini. Sebuah perbuatan yang tidak terpuji, dan sering kita lihat di televisi. Lantas, adakah pemuda yang berpredikat “boneks” dengan tingkah lakunya yang beringas melempari orang lain di setiap stasiun, akan masih dipertahankan. Atau membuat “boneks” dengan paradigma baru, yang santun dan menyenangkan, ketika ‘Persebaya’ harus mengalami kekalahan dalam laganya. Ini adalah pilihan yang mulia.
            Barangkali pilihan kedua, yang lebih baik untuk dilakukan. Kenapa tidak?
            Kini para pemuda Surabaya haruslah instropeksi diri, kegagahan dan kegigihan para pemuda pejuang 10 November 1945 lalu, bisa menginspirasi jadi tolok ukur melangkahkan kaki pada saat ini. Berjuang tanpa pamrih, bekerja dengan rasa ikhlas tanpa pretensi apa-apa.
            Mereka para pemuda, siswa, dan mahasiswa, seharusnya tidak lagi menganut tawuran antarsesama, apa lagi berbuat sesuatu yang tidak terpuji melempari apa saja yang membuatnya beringas tak terkendali. Lebih lagi, baru sebulan lalu, kita telah peringati: Hari Sumpah Pemuda, yang sumpahnya berbunyi: kami putra putri Indonesia bersum-pah, bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan men-junjung tinggi bahasa persatuan,  bahasa Indonesia.
            Menyikapi perkembangan Indonesia akhir-akhir ini, di mana banyak terjadi tawuran antarpelajar dan mahasiswa, banyaknya para pejabat korupsi, dan bahkan para anggota dewan minta upeti; maka seharusnya kita kembali untuk menggenggam api sejarah para pahlawan yang telah berjuang pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya tadi. Berjuang tanpa pamrih, bekerja tanpa pretensi apa-apa.
            Barangkali pula, akan lebih baik kita 'Bersumpah Tugu Pahlawan,' kata kawan saya dari Ngawi tadi, yang menurut dia isinya berbunyi: tidak akan tawuran, tidak akan korupsi, dan tidak minta-minta upeti lagi.
            Hal ini mengingatkan saya puisi Toto Sudarto Bachtiar, yang bait pertamanya berbunyi: //Sepuluh tahun yang lalu di terbaring/Tetapi bukan tidur, sayang/Sebuah lubang peluru bundar di dadanya/Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang//.
            Dari potongan puisi itu, menurut saya, kita sekarang memang sedang perang melawan keangkuhan, perang melawan ego kita sendiri, perang melawan korupsi, dan perang melawan kesewenang-wenangan. Kita sedang perang!
            Senja jadi petang, dan gelap malam telah tiba, Tugu Pahlawan, masih tegak terkena percikan sinar lampu-lampu di bawahnya. Tegak gagahnya, seperti berkata, lanjutkan sumpah pahlawanmu!
            Saya dan teman dari Ngawi meninggalkan tugu yang punya sejuta api sejarah itu, sambil merenungkan guna mengajak pemuda, mahasiswa, dan siswa bersumpah tugu pahlawan! Tawuran, korupsi, dan minta upeti harus kita lawan!***

                                                            Desaku Canggu, 10 November 2012
           


 *) artikelku yang tak sempat termuat di koran dan majalah.







Tidak ada komentar: