Jumat, 20 Juni 2008

puisi-puisi m. har harijadi

mh. har harijadi
SKETSA SORE

I
bisik-bisik gembala di padang
merindukan pulang kandang

langkah-langkah gembala berirama
membiaskan wajah-wajah bahagia

senandung lagu-lagu gembala
tunjukkan limpahan rahmatNya

II
peluit-peluit lori senja
menukik rata dan begitu melukis rasa

lok-lok yang hitam sayu melata
adalah nafas-nafas kerja

dan kepulan cerobong asap
berbungkal-bungkal kian lenyap
menghilang, jauh seperti kenangan

Ngawi, 1970


mh. har harijadi
MALIOBORO

tiada seorang mengira
angin lalu begitu saja

seorang yang telah sarat rindu
bertemu dalam detik syahdu

1970



mh. har harijadi
MUSIM HUJAN TELAH DATANG

burung-burung telah pergi ke utara
bapakku kemarin sudah siap sedia
biji jagung dan cangkulnya
tanah rekah telah bergemburan
benih-benih yang lama telah disimpan
tadi pagi ditaburkan
ibu bapakku dan paman
adik-adikku tak ketinggalan

Ngawi, 1971




mh. har harijadi
IBU DALAM MANGU


kau pulang lagi anakku
setelah dulu kuberi restu
setelah sekian mengembara
pengalaman baru apakah kiranya

Ngawi, 1971





mh. har harijadi
DENGAN PUISI

dengan puisi, rinduku kian kencang berlari
mengembara di keluasan lazuardi
betapa berpacu di kesunyian sunyi
oh Tuhan
di padang manakah diri ini sekarang
terasa kerasnya mentari berdesingan

Ngawi, 1971




mh. har harijadi
SEBELUM PATAH HATI

segera setelah mencintai
kutetapkan syarat-syarat administrasi
demi efisiensi
abad teknologi


Ngawi, 1978



mh. har harijadi
PAS PATAH HATI

pertanyaan-pertanyaan seperti beban
jawaban-jawaban seperti beban
dan pikiran dan perasaan dan keinginan

Ngawi, 1978



mh. har harijadi
SETELAH PATAH HATI

kubeli rokok ardath
meski yakin tak akan berasa nikmat

Ngawi, 1978



mh. har harijadi
COLT DINI

kekhawatiran itu harus ditebus
disuntingkan atas duli pengemudi
semoga tangan Tuhan jadi kendali

Ngawi, 1978



mh. har harijadi
BECAK DINI

antarkan saya berapa saja ongkosnya
lantaran perjalanan yang membosankan
sudah jemu dengan pikiran-pikiran

Ngawi, 1978


mh. har harijadi
CUACA DINI

dari dalam lewat kaca colt yang berembun
semesta bagai ngungun
asap rokok, kuap dan kantuk susul beruntun

Ngawi, 1978



mh. har harijadi
TAMAN GAYAM

bagai tanah kosong di kampung saya
jika hari libur, anak sekolah tak berolahraga
pintu-pintu rumah di sampingnya tak banyak yang terbuka
tatkala menyeberang di belahannya, saya jadi berduka

Malang, 1979



mh. har harijadi
DI SOLO

tidak seperti dulu ingin melacak koran atau buku-buku
tapi didesak keperluan untuk membagi-bagi waktu
ciut nyaliku waktu menapaki jalan yang berdebu
masih setia ternyata tubuhku dikoyak-koyak rindu

1979


mh. har harijadi
DI NGAWI

apalagi yang bisa saya pelajari
pengulangan itu sudah membosankan
sulit ditarik sepercik kemanfaatan
sedang jadwal masih begini hari-hari
tumpah darah katanya harus dijunjung tinggi
saya malah tak bisa krasan-krasan

1979

mh. har harijadi
DI BROSOT

merasa heran kenapa besok sudah lebaran
justru aku masih gentayangan bepergian
sedang saya tak kenal medan
alamat siapa masih membingungkan
masih pula ditempuh dengan geram
Tuhan beri saya hati lautan!

1979



mh. har harijadi
JEMBATAN MERAH

Seperti tak ada arah mata angin
hanya gedung-gedung
kendaraan-kendaraan
dan jubel-jebel orang

Seperti hanya lalu-lalang
kesibukan, tak ada hati lapang
penumpang tunggang-langgang
terasa tak ada kebahagiaan

1979



mh. har harijadi
KWATRIN BANGUN TIDUR

Terima kasih Tuhan
betapapun, setelah kuhitung
hanya beberapa kejap
dari baringku yang lelap

Maafkan Tuhan
dari gerutuan yang kusurukkan
tatkala nyali tak mau pejam
betapa jelas sekarang ulahku yang kejam

Benak kutabrak dengan ikhlas
sukmaku dengan pelan kupulas
buang dukamu sebvelum berangkat
suara-Mu kutangkap lamat-lamat

Nafasku menggeliat tatkala
jarum-jarum hasrat menancap
alangkah rapuhnya rohku
jikau Kau tak menampakkan wajahMu

Ruang dan waktu sudah menunggu
aku belum siap masih sedang tergugu
merampungkan program rangkaian harapan
yang kususun dengan bimbang

Masih belum segera berdoa
kalau tidak ingat dosa-dosa
rancak darahku terseruak
memadatkan urat setelah berkhalwat

Syair siapakah yang datang sekarang
ingin kupungut dalam keranjang
hingga putus-asaku sirna
harapan pun tak coba memaksa

Ngawi, 1980




mh. har harijadi
DUMPLENGAN

Padi gogo sudah menguning
Tapi tak kutemu wajah yang bening
Asing udara, meski masih kampungku juga
Hiburku menyanyi, “Indonesia tanah tercinta”
Anak-anak sekolah berpakaian Pramuka
Turut berlagu, tapi tak ada irama
Sudah tak ada bermacam dolanan
Barangkali ada kemajuan

Ngawi, 1981


mh. har harijadi
NGUNENGAN

Terasa jauh jarak yang lekat
Karena ada bengawan yang menyekat
Penduduk yang seperti desa Beran
Jarang ketemu kabar jika tak nonton tivi di kalurahan

Sunyimu asli, sangat manusiawi
Waktu ketemu gadis berambut poni, saya bisa jatuh hati
Keengganan jadi kegairahan
Tapi hanya dalam angan-angan

Ngawi, 1981