Senin, 12 Maret 2018

SEPENGGAL SASTRA MOJOKERTO







Sepenggal Catatan
SEJARAH SASTRA MOJOKERTO
Oleh: Aming Aminoedhin

            Membuat catatan sejarah peta sastra kota maupun kabupaten Mojokerto, barangkali tidaklah mudah. Sebab untuk menulisnya diperlukan data komprehensif. Kebetulan saya tak punya banyak datanya. Lebih lagi, ketika saya sendiri bukan orang Mojokerto asli, sehingga tidaklah sebaik orang yang asli Mojokerto.
            Akan tetapi jika sejarah peta sastra itu tidak ditulis, betapa pun minimnya data, maka kita akan kehilangan data seluruhnya. Berikut ini, hanya catatan ringkas saya selama berada di Mojokerto, yang tentunya tidaklah lengkap jika bicara soal  data tersebut. Tulisan ini pun tidak membagi antara Kota dan Kabupaten Mojokerto, tetapi bicara soal sastra di Mojokerto.
            Bermula ketika saya tinggal di Puri Mojobaru AZ-22/23 Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto; sejak 10 November 1996 lalu. Ketika itu, beberapa kawan seniman Mojokerto berkumpul untuk acara sastra. Lantas, atas prakarsa banyak kawan, kami mendirikan komunitas yang bernama Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto). Idenya, saya ambil dari FASS (Forum Apresiasi Sastra Surabaya) dengan berpangkalan di PPIA Surabaya; yang kebetulan saya koordinatornya.
            Pada awalnya, komunitas ini cukup banyak yang hadir, ada nama: Abdul Malik, Mamak, Suyitno Ethexs, Gatot Sableng, Bagus Mahayasa, Jabbar Abdullah, Saiful Bakri, beberapa siswa, mahasiswa dan juga para guru. Ada yang menarik yaitu hadirnya, almarhumah Ibu St. Iesmaniasita. Sastrawan Jawa yang kondang di ranah sastra Jawa. Kegiatannya adalah dialog, baca puisi, dan bernyanyi puisi. Forasamo, pada tahap berikutnya, mengadakan pertemuan 2 minggu sekali bertempat di pangkalannya Sanggar Saraswati, rumah tua  di Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto. Tapi, lama-lama kelamaan yang datang cuma saya, istri, dan dua anak saya yang sampai di Sanggar Saraswati itu. Selebihnya entah ke mana?
            Sebenarnya, waktu itu Forasamo, sudah mencoba adakan penerbitan buletin sastra, dan bahkan pernah juga buat kumpulan puisi segala. Pentas acara sastra tentang hilangnya Wiji Thukul, bersama Sosiawan Leak di Sanggar Saraswati. Ada baca puisi dan dialog sastra, serta perfomance-art dari beberapa seniman, serta musik puisi. Komunitas lain ada ‘Pustaka Nol’ yang ketika dibuka semua anggota Forasamo pernah ramai-ramai datang pada acara pembukaan “Pustaka Nol” (27/2/2000) yang diisi bincang sastra di Jalan Empu Nala, Mojo-kerto. Tampak guyub rukun dan terasa menyenangkan, buat acara bincang seniman Mojokerto.
            Berikutnya ada juga beberapa komunitas sastra dan musik bermunculan, sebut saja ada: Forum Sebrang Dalan, GePapat, Girilaya, Komunitas Arek Japan, Komunitas Pondok Kopi, dan banyak lagi. Beberapa komunitas sastra, musik dan teater inilah yang kemudian memberi nafas dan virus sastra di Mojokerto lebih punya daya denyut. Belum lagi, kegiatan “Terminal Sastra” yang kemudian seakan menampung mereka untuk berkiprah melangkah lebih jauh.

Sastrawan Mojokerto
           
            Bicara soal sastra, maka kita tak bisa lepas bicara soal tiga genre sastra: puisi, prosa, dan drama. Dan bicara sastrawan, atau penulisnya; Mojokerto hampir punya semuanya. Bahkan ada pula sastrawan Jawa yang cukup punya nama Ibu St.Iesmaniasita. Mencatat nama pengarang lainnya, sekedar menyebut nama yang masih ingat, antara lain: Hardjono WS (cerpen, puisi, dan naskah drama), Max Arifin (naskah drama dan penterjemah), Aming Aminoedhin, Suyitno Ethex, Chamim Kohari, Saiful Bakri, Bagus Mahayasa, Dadang Ari Murtono, Ahmad Fatoni, Ahmad Farid Tuasikal, Jabbar Abdullah, Kukun Triyoga, Mochammad Asrori, Suliadi (puisi), dan mungkin masih banyak lagi jumlahnya.
            Bila mau mencatat, sebenarnya banyak sastrawan yang dulu dan sekarang pernah berdomisili di Mojokerto itu, ternyata sudah terkenal lebih dulu di kota lain. Sebut saja nama: Hardjono WS (almarhum) yang terakhir berdomisili di Jatidukuh, Gondang, sudah terkenal lebih dulu di Surabaya sebagai sastrawan dan teatrawan anak. Max Arifin (almarhum) terkenal di Mataram –NTB, sebagai tokoh teater, terakhir berdomisili di Japan Raya. Aming Aminoedhin, sudah lebih terkenal di Surabaya, kini berumah di Canggu, Jetis, Mojokerto. Ada juga Anton De Sumartana, yang terkenal di Bandung, bermula dari Jalan Brawijaya 215 Mojokerto, dan kini tinggal di Bandung. Bahkan konon, A. Muttaqin, penyair asal Gresik itu kini juga domisili di Mojokerto mendampingi istrinya yang kini mengajar di Mojokerto.
            Sungguh, Mojokerto cukup banyak penulis sastranya. Maka tidaklah salah jika Dr. Indra T Kurniawan, M.Si. (ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto) membuat acara sastra bertajuk “Terminal Sastra” setiap bulannya, dan kini telah sampai ke-36 kalinya. Sebuah perjalanan panjang yang harus diapresiasi kita sebagai penyuka sastra. Setidaknya, bisa hadir dan jika perlu ikut tampil sebagai narasumber atau pengisi acara baca puisi, cerpen, atau monolog; bahkan musik sebagai selingan dialog sastra.

Geliat Sastra

            Sastra Mojokerto kian menggeliat, sebenarnya setelah terbentuknya Dewan Kesenian Kota Mojokerto (DKM), dan diikuti DKKM (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto). Saat terbentuknya DKKM, saya termasuk pernah ikut jadi pengurusnya yaitu sebagai sekretaris, dan ketuanya Hardjono WS. Periode berikutnya, ketika Drs. Eddy Karya Susanto, sebagai ketua saya sudah tidak ikut jadi pengurus lagi.
            Beberapa acara sastra digelarpentaskan, baik di halaman GOR Mojopahit kantor DKM, atau di Gedung Dinas Pariwisata Kabupten Mojokerto – Jalan Jayanegara – Mojokerto. Seingat saya pernah baca puisi kumpulan puisi “Mojokerto dalam Puisi” (2006), dan “Tadarus Puisi Bulan Suci.” Lantas melalui Biro Sastra DKKM, dimotori Chamim Kohari, telah pula membukukan ‘Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Mojopahit” (2010).
            Geliat sastra yang lain, bahwa sastra tidak hanya prosa dan puisi; tetapi juga pentas teater. Pentas teater berbentuk Parade Teater dimotori oleh Bagus Mahayasa lewat Lidhie Art Forum Indonesia yang tak lelah-lelahnya terus menviruskan sastra pentas teater di Mojokerto. Diselenggarakan di Gedung Dinas Pariwisata Kabupten Mojokerto, dengan mengundang berbagai kelompok teater luar kota: Lamongan, Ponorogo, Jombang dll. Sementara itu, sekolah-sekolah di Mojokerto juga dilibatkan ikut berparade.
            Komunitasnya Bagus, juga sering pentas di luar kota, dan pernah beberapa kali menang lomba berteater. Bahkan melalui komunitasnya Lidhie Art Forum Indonesia, juga menyelenggarakan semacam pelatihan teater dengan mengundang beberapa tokoh teater sebagai narasumbernya.
            Geliat sastra yang kini terus dihembuskan, dan konsisten ada pertemuan sebulan sekali, adalah “Terminal Sastra” yang dikomandoi Dr. Indra T Kurniawan, M.Si. dengan motornya Mochammad Asrori. Sebuah upaya mulia untuk terus tumbuhkembangnya sastra di wilayah Mojokerto. Sungguh, sangat luar biasa geliatnya!
            Menariknya lagi, ketika setiap kali pertemuan ada pembagian doorprize buku sastra, sehingga selain menyebar virus sastra, sekaligus mengajak untuk ikut datang berdialog sastra. Menarik berikutnya, ketika “Terminal Sastra” ini diselenggarakan di berbagai tempat, utamanya wilayah desa-desa. Terasa dialog sastra itu jadi gerilya sastra, diperkenalkan pada masyarakat desa, agar mereka melek sastra. Upaya yang bagus, dan harus terus dilakukan!



Sastra Jawa

            Seperti telah saya jelaskan di muka, bahwa Mojokerto punya sastrawati Jawa yang kondang dan sangat diperhitungkan jagad sastra Jawa, Ibu St. Iesmaniasita. Selama ini, sudahkah “Terminal Sastra” mengundang penulis sastra Jawa untuk tampil bicara? Atau dialog sastra Jawa bersama sastrawan Jawa, semacam: Widodo Basuki, Suharmono K, JFX Hoery, Keliek Eswe, Djajoes Pete, atau Trinil?
            Jika sudah, ya alhamdulillah! Berarti Pak Indra tak lupa Jawa-nya.
            Namun, bukan itu persoalannya, yang jadi soal adalah bagaimana kita orang Jawa, mau menulis Jawa. Sebab, jika kita orang Jawa tak mau menulis dengan bahasa Jawa-nya, lantas siapa lagi yang bakal menulisnya? Jika perlu, melalui “Terminal Sastra” perlu ada semacam lomba baca guritan. Sesudah itu ada lomba menulis guritan lan cerita cekak, yang mana bisa menumbuhkembangkan sastra Jawa.
            Mumpung ini pas ulang tahun ketiga “Terminal Sastra” maka perlu dirancang mengadakan kegiatan guna merangsang anak-anak mau menulis sastra Jawa, pada langkah tahun keempatnya “Terminal Sastra” kali ini.
            Ini hanya sebuah usulan yang barangkali bisa dilaksanakan di belakang hari, sehingga ketokohan St. Iesmaniasita, akan kembali muncul dari bumi Mojopahit! Semoga!


Desaku Canggu, 19 Mei 2017
Aming Aminoedhin

AMING AMINOEDHIN, nama aslinya Mohammaa Amir Tohar. Lahir di Ngawi, 22 desember 1957 dari fakultas sastra, universitas sebelas maret solo. Aktif kegiatan teater, pernah menyandang predikat “aktor terbaik” festival drama se-jatim tahun 1983 dari teater persada ngawi, pimpinan mh. iskan. penggagas kegiatan malam sastra surabaya atau “malsasa” di DKS, serta “malsabaru se-jatim” atau ‘malam sastra bagi guru’ di balai pemuda surabaya. pernah pula diberi predikat sebagai ‘presiden penyair jawa timur oleh doktor kentrung, suripan sadi hutomo. Pensiunan dari balai bahasa jawa timur ini, sekarang ketua forum sastra bersama surabaya (fsbs), biro sastra dewan kesenian surabaya (dks), dan sekjen paguyuban pengarang sastra jawa surabaya (ppsjs). alamat: puri mojobaru az-23 canggu, kecamatan jetis, – mojokerto 61352  alamatnya di dunia maya: amri.mira@gmail.com atau aming.syair@gmail.com; rumah maya: amingaminoedhin.blogspot.com*


1 komentar:

Lintasmojo mengatakan...

Salam kenal.... barangkali mau ngisi di www.lintasmojo.com