Rabu, 30 Oktober 2013

BACA PUISI DI KPK JAKARTA

PENYAIR  JATIM  BACA PUISI
DI GEDUNG KPK JAKARTA

          Kegiatan road-show “Puisi Menolak Korupsi” yang merupakan kegiatan membaca puisi oleh para penyair Indonesia yang kesekian kalinya adalah pada Jum’at,  27 September 2013, di Gedung KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Jalan HR Said Jakarta.
          Beberapa penyair dari berbagai daerah di Indonesia, ikut hadir dan tampil membacakan puisi-puisinya. Termasuk, penyiar asal Jawa Timur: Andreas Edi-son, Ardi Susanti, Bagus Putu Parto, dan Aming Aminoedhin ikut meramaikan baca puisi di Gedung KPK Jakarta tersebut.

          Dalam acara tersebut, bebepa tokoh petinggi KPK ikut juga hadir dan tampil membaca puisi, yaitu:  Zulkarnain, Abraham Samad dan Busro Muqodas.  Tampil pula, Taufiq Ismail, dan Bambang Widjanarko.
          Dengan backdrop besar bertuliskan Penyair Indonesia ‘Puisi Menolak Korupsi” yang terpampang di ruang dalam gedung KPK, acara diawali dengan pembacaan puisi oleh Diah Hadaning, dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia penyelenggara, Bambang Widiatmoko.

          Sambutan awal disampaikan Ketua KPK, Abraham Samad, yang ikut mendukung gerakan ini. Serta menyambut dengan senang hati para penyair yang peduli atas gerakan menolak korupsi ini. Selanjutnya, Abraham Samad, juga sempat mebcakan salah satu puisi yang menolak korupsi.
          Ada juga tampilan musikalisasi puisi  dari Komunitas Sastra Kalimalang dan Sanggar Matahari, ikut meramaikan acara yang digelar oleh Klub Baca KPK dan Panitia Road-show Puisi Menolak Korupsi ini.
          Diskusi dan bedah buku kumpulan puisi “Puisi Menolak Korupsi” dihadirkan ulasan tiga tokoh: Eka Budianta, Busro Muqodas,  dan Taufiq Ismail sebagai pembedahnya. Diskusi ini dipandu oleh jubirnya KPK, Johan Budi.
Sungguh, sastra, bukanlah mantra untuk menolak korupsi. Tapi setidaknya, bisa jadi mengurangi atau bahkan mengingatkan kita, manusia, agar tidak ikut-ikut melakukan perilaku korupsi.


          Seperti kata Bambang Widiatmoko, pada sambutannya, yang antara lain mengatakan, “Akhirnya memang kenekaragaman puisi-puisi telah terangkum menjadi mozaik yang indah, dalam berbagai persepsi penyairnya itu, untuk menyadarkan kita akan begitu berbahayanya korupsi. Penyair hanya mampu menyuarakannya dalam bentuk kata-kata dalam puisi, dan semoga menjadi mantra anti korupsi.”
          Sedangkan ulasan Eka Budianta, antara lain berkata, “Kita diberi kesimpulan, bahwa para penyair sangat rendah hati, tidak punya pretensi mengubah keadaan, menyalahkan, menggugat, apa lagi mengutuk siapa pun yang kita dakwa koruptor.” Sementara itu, Sosiawan Leak, sang koordonator Gerakan Puisi Menolak Korupsi, menyatakan, “Seperti tubuh, korupsi memiliki organ yang lengkap dengan berbagai fungsi.”





          Taufiq Ismail, penyair ini, pada ujung ulasannya, berharap semoga KPK bekerja dengan baik, dan para petingginya tetap sehat wal-afiat; sehingga bisa terus bekerja dengan baik untuk terus berjuang memberantas korupsi di negeri ini.

          Penyair Indonesia membaca puisi menolak korupsi di KPK hari itu, berlangsung pukul 14.00 WIB hingga 18.00. WIB. Sementara itu, saya, bersama Bagus Putu Parto, Endang Kalimasada, dan AndreasEdison, langsung pulang dari Gedung KPK ke Blitar malam itu juga. (mat)***

1 komentar:

Ekohm Abiyasa mengatakan...

Ijin reposting lagi pak Aming,
http://gerakanpuisimenolakkorupsi.blogspot.com/2013/12/road-show-6-penyair-jatim-baca-puisi-di.html

Salam hangat!