Selasa, 26 Februari 2013

MH ISKAN & TEATER PERSADA NGAWI

Mh. Iskan identik Teater Persada Ngawi    *** Sutradara dan Pimpinan Teater Persada
oleh: aming aminoedhin

PrologLelaki tua yang sederhana dengan rambut yang sudah banyak beruban itu, ditemui penulis di rumahnya di Jalan Trunijoyo 90 Ngawi. Dengan sangat santainya ia bercerita banyak tentang komunitas dan dirinya, yaitu Teater Persada Ngawi.

Lelaki tua yang berkacamata itu, bernama asli Muhammad Iskan; kemudian kata Muhammad disingkat dengan sebutan Mh untuk inisial menulis karya sastra atau pada lukisan-lukisan yang dihasilkannya. Mh. Iskan lahir di Ngawi, 11 November 1942. Selain memakai nama Mh. Iskan, lelaki ini juga memakai julukan lain Esko. Ayahnya seorang pensiunan Kantor Departemen Agama Kabupaten Ngawi, bernama Muh. Iskak (1921), ibunya bernama Mainah ( lupa kelahirannya). Keduanya kini sudah almarhum.
Istrinya yang seorang bidan terkenal di kota Ngawi, bernama Sutidjah (Ngawi, 9 November 1941). Mh. Iskan tidak mempunyai seorang pun anak, oleh sebab itu ia banyak menghidupi sepupu-sepupunya.

Sekolah, Kerja, dan Ulah SeniDitanya soal sekolah, ia mengatakan bahwa pendidikan yang pernah ditempuh selama ini adalah lulus Sekolah Dasar di Ngawi (1956), lulus SMP di Madiun (1959), dan SMSR di Yogyakarta (1965). Selain pendidikan formal, Iskan juga pernah mengikuti pendidikan nonformal, seperti: Kursus Tari Bagong Kussudiardjo (Yogyakarta), Berlatih Teater dan Seni Rupa di Sanggar Bambu (Yogyakarta), bermain teater bersama Putu Wijaya dan Arifin C. Noer di Teater Mandiri dan Teater Kecil (Jakarta).
Ia tidak banyak punya latar belakang pekerjaan, akunya, karena selama ini Mh. Iskan tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi. Selain itu, ia banyak menulis, melukis dan bermain drama, serta melatih drama dan melukis bagi rekan-rekannya di Teater Persada Ngawi. Hingga ia pensiun, Mh. Iskan mempunyai jabatan sebagai Penilik Kebudayaan di Kecamatan Ngawi.

             Sedangkan ulah seni dan budaya yang pernah dilakukan antara lain: melukis, menulis sastra secara otodidak, kemudian bertemu dengan berbagai komunitas, termasuk komunitas teater. Pada awalnya menulis puisi, membuat sketsa, cerita pendek, dan naskah drama, yang kesemuanya ditulis dengan media bahasa Indonesia dan Jawa.
Tulisannya pertama kali dimuat media-massa pada tahun 1969, lupa nama korannya. Hingga kini honorarium yang diterima terakhir Rp 300.000,00 (Tiga Ratus Ribu Rupiah).
Menurut Iskan, bahwa dengan berorganisasi dengan berbagai komunitas, ia banyak mendapatkan inspirasi untuk menulis karya sastra dan ide untuk beberapa lukisannya.
Komunitas yang pernah diikutinya antara lain: Teater Mandiri dan Teater Kecil (Jakarta), Sanggar Bambu (Yogya), Etsa Divina Artis Magistra (Ngawi), Teater Persada (Ngawi), dan Remaja Masjid di Ngawi.
Naskah puisinya terkumpul dalam kumpulan puisi bersama rekannya: Tanah Persada, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Surat Dari Ngawi, dan banyak lagi. Puisinya termuat di koran Sinar Harapan, Suara Karya, dan sketsa termuat di Majalah Sastra Horison (Jakarta).
Dalam dunia kesastraan, Iskan sering menjadi juri lomba baca dan tulis puisi di Ngawi, juri lomba drama di Surabaya, menjadi sutradara teater Persada, dan sutradara film garapan BKKBN Jawa Timur (1985), film KPU Ngawi (2004), dan film Dinas Kesehatan Ngawi (2005). Prestasi yang pernah disandang adalah dua kali sebagai sutradara terbaik pada Festival Drama se Jawa Timur tahun 978 dan 1983. Sedangkan pada tahun 1983 tersebut, Teater Persada Ngawi tidak hanya mendapatkan predikat penyutradaan terbaik, akan juga mengangkat salah satu aktornya mendapat predikat aktor terbaik, atas nama Aming Aminoedhin.
           Melukis dan menulis sastra, kata Mh. Iskan akan terus dilakukan hingga ajal tiba, karena tanpa menulis dan melukis, hidup terasa hampa tanpa makna.

Sejarah dan Prestasi Teater PersadaDi ruang tamu rumahnya yang kebak terpajang lukisannya, penulis menanyakan tentang Teater Persada Ngawi, dengan antusias Iskan menjawab, dan bercerita tentang komunitas yang dipimpinnya tersebut.
Berbicara sejarah komunitas ‘Teater Persada’ Ngawi, cukuplah panjang perjalanannya, katanya mengawali. Menurutnya ‘Teater Persada’, berawal dari komunitas para pelajar yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Ngawi, tahun 1960-an. Dari komunitas ini, kemudian terbentuklah apa yang dinamakan komunitas bernama “Himpunan Pecinta Sastra Etsa’ kemudian lebih dikenal kelompk ‘Etsa Divina Artis Magistra’ yang merupakan gabungan para pelajar PII tersebut, dengan membuat sebuah kelompok seni pertunjukan, menampilkan berbagai cabang seni. Di antaranya: pentas keroncong, drama, dan baca puisi. Beberapa nama yang aktif di komunitas ini adalah: Anwaroeddin, Suwandi Black, Mh. Iskan, Ummi Haniek, Rodiyah, Sutomo Ete, Gisran, Rosyid Hamidi, Wahab Asyhari, Salimoel Amien, A. Mukhlis Subekti, M. Har Harijadi, Heru, Aming Aminoedhin, Djoko Mulyono, Ratih Ratri, Susilowati, Siti Alfiana Latief, Agnes Maria Soejono, dan banyak lagi.
Pada mulanya, kata Iskan, komunitas ini tampil di komunitasnya sendiri, Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Ngawi, tapi pada perkembangannya bisa mementaskan seni pertunjukannya di luar komunitasnya. Misalnya diundang di Bupati Ngawi, pentas drama di pendapa Kabupaten Ngawi.
Berawal dari intensnya komunitas ini berkumpul dan latihan seni pertunjukan inilah yang kemudian memunculkan ide memberi nama komunitas, yaitu ‘Komunitas Teater Persada’ pada tahun 1978. Pada waktu itu, kata Mh. Iskan, komunitas ini akan mengikuti Lomba Drama se Jawa Timur di Surabaya.
Susunan kepengurusan, Mh. Iskan, terpilih sebagai ketuanya; dan M. Har Harijadi menjadi sekretaris. Beberapa nama yang ikut jadi pengurus antara lain: Salimoel Amien, A. Mukhlis Subekti, Wahab Asyhari, dan Suwandi Black.
Markas atau pangkalan dari Komunitas Sastra Teater Persada adalah Jalan Trunojoyo 90, Ngawi; yang merupakan rumah pribadi Mh. Iskan. Sedangkan latihan-latihan drama, dan baca puisi, biasanya dilaksanakan di pendapa Paseban WR. Soepratman Widyodiningrat, yang berada di depan Kantor Bupati Ngawi. Alternatif lain dalam penyelenggaraan latihan drama dan puisi, berada di halaman masjid besar Ngawi atau di rumah AM. Subekti di dekat masjid.
Dalam aktivitas pentas drama, kenangnya, ‘Komunitas Teater Persada’ tidak hanya pentas drama panggung, tapi juga drama radio di RKPD (Radio Khusus Pemerintah Daerah) Kabupaten Ngawi, dan Radio Al-Azhar (Radio Swasta milik Pelajar Islam Indonesia) Cabang Ngawi.
Selain pentas drama radio, ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi, juga pernah membuat video-film bekerja sama dengan BKKBN Jawa Timur, dengan KPU Kabupaten Ngawi, dan instansi pemerintah di Kabupaten Ngawi.
Pentas drama panggung ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi tidak hanya di kotanya sendiri Ngawi, dan berulang kali; akan tetapi juga tercatat pernah pentas di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo, Surakarta, Taman Budaya Jawa Timur, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA), Dharmahusada Barat, Surabaya, Taman Budaya Jawa Tengah di Surabaya; dan Taman Budaya Yogyakarta.
Mh. Iskan sebagai ketua komunitas, ketika teman-teman Persada tidak lagi bisa diajak bermain, maka dia memainkan sendiri sebuah naskah monolog karya Putu Wijaya berjudul ‘Mulut’. Pentas monolog berdurasi sekitar satu jam ini, telah digelarpentaskan 5 kali pertunjukan. Pentas pertama di depan siswa-siswa SMAN 1 Ngawi, MAN Ngawi, Dewan Kesenian Surabaya, dan SMAN 2 Ngawi; pada tahun 2006. Sedangkan tahun 2007 dipentaskan di depan mahasiswa Universitas Widya Mandala Madiun (tidak ingat tanggal dan hari pentasnya).
Naskah-naskah drama yang dipentaskan oleh ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi, kebanyakan memang naskah yang ditulis dan disutradarai sendiri oleh ketuanya, Mh. Iskan; kecuali naskah pementasan dalam rangka lomba drama se-Jawa Timur.
Dalam rangka lomba pementasan drama se-Jawa Timur, ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi, pernah mendapatkan predikat terbaik (sutradara dan kelompok) di tahun 1978; serta sutradara, kelompok, dan aktor terbaik pada tahun 1983. Secara catatan prestasi ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi sudah memenangkan dua kali kemenangan di tingkat Jawa Timur, yaitu 1978 dan 1983. Belum lagi, telah beberapa kali para anggotanya memenangkan beberapa kali lomba baca dan menulis puisi di berbagai lomba.
Aktivitas dari ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi memang tak pernah berhenti, bahkan saya sendiri, Mh. Iskan, tetap bermonolog sendiri serta pentas di berbagai tempat dan komunitas lain. Di samping itu, Mh. Iskan, juga masih melukis dengan corak lukisan gaya ‘Sanggar Bambu” Yogyakarta, di mana dulu ia termasuk anggota komunitas itu.

Epilog


       Di penghujung wawancara, Mh. Iskan, merasa kehilangan atas meninggalnya M. Har Harijadi, salah satu teman diskusi seni, serta termasuk tokoh kehumasannya Teater Persada Ngawi, yang tak pernah berhenti terus menyemangati pentas-pentas teater dan monolognya. Dia, Harijadi, katanya, orangnya tak pernah lelah dalam mengkomunikasikan kegiatan Teater Persada Ngawi ke media-massa, bahkan hanya lewat SMS (pesan singkat) hand-phone. Kini Mh. Iskan masih tetap aktif melukis di rumah, dan menulis sastra.
Dari hasil wawancara ini, Mh. Iskan dan Teater Persada Ngawi, telah banyak melakukan kegiatan seni dan budaya di kotanya. Dan komunitasnya telah banyak memberikan inspirasi dan sugesti seni budaya kepada teman-teman seniman lainnya, di tanah Ngawi yang sepi itu. Teater Persada identik dengan Mh. Iskan, dan Mh. Iskan identik Teater Persada. Mh. Iskan mendapatkan penghargaan seni bidang teater dari Gubernur Jawa Timur tahun 2008 ini. Sebuah penghargaan yang layak bagi beliau, karena beliau berkesenian tanpa lelah, tanpa merasa patah, apa lagi kata kalah. Meski mungkin berkesenian hingga berdarah-darah, tapi seni budaya harus terus bersuara. Tak ada kata kalah atau menyerah, bila bicara soal seni budaya, tak ada dalam kamus hidupnya. Selamat dan sukses selalu! (diperbaharui, bersama foto-foto aming.syair@gmail.com - 26/2/2013).

1 komentar:

Unknown mengatakan...

lhah, mbah iskan itu kakek saya, kaget banget, setelah beliau meninggal baru tau kalau beliau seniman kawakan di ngawi