Tengsoe
Tjahjono
PRESIDEN PENTIGRAF INDONESIA
Pewawancara: Aming Aminoedhin

Saat Tengsoe Tjahjono baca puisi, bersama puisi-puisi Malsasa di PSLI Surabaya.
Dengan
format tiga paragraf, penulis dapat menyajikan pengalaman membaca yang intens tanpa jeda
panjang. Pembaca diajak langsung ke inti cerita dan terlibat dalam alur yang ringkas. Pentigraf juga
mengizinkan ruang interpretasi
yang luas, mendorong pembaca untuk merenungkan makna di balik kata-kata singkat yang
dipilih dengan cermat. Lalu sebagai bentuk fiksi singkat, pentigraf sangat berguna bagi
penulis yang ingin mengasah keterampilan menulis
secara ringkas dan efektif. (Tengsoe Tjahjono).
Untuk
menemui tokoh sastra yang satu ini memang agak sulit, sering acaranya
meloncat-loncat. Hari ini di Malang, esok di Sidoarjo, lusanya sudah di Nganjuk
atau kota lainnya. Untuk apa? Baca puisi, juri baca puisi atau pentigraf, bisa juga jadi narasumber sastra yang terkait dengan
pentigraf.
Kebetulan
kemarin (12/11/2024) saya bertemu, saat punya jadwal Bersama menjadi juri di
acara Gebyar Bulan Bahasa Indonesia di MGMP Bahasa Indonesia se-Sidoarjo
di SMPN 2 Sidoarjo. Sambil penjurian, saya masih bisa wawancara, meski tidak
komplit seluruhnya bisa tergali. Tapi ini gambaran sosok kita kali ini, dan
berikut adalah laporannya.
Berbicara dengan sosok lelaki murah senyum, dan suka
berambut gondrong ini; terasa enak dan tanpa jarak. Meski dia seorang dosen
yang doktor sastra, dan pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies Korea.
Beliaunya tetap saja santai dan enak diajak bicara. Jika bicara soal sastra,
baik puisi atau prosa. Sungguh berbicara dengan berapi-api, menjelaskan detail
dan rinci. Apalagi bicara soal pentigraf atau cerpen tiga paragraf,
di mana beliau sang penemu dan pencetusnya. Hal itu adalah tak salah jika punya
julukan Presiden Pentigraf Indonesia.
Sosok lelaki itu, bernama Dr.
Tengsoe Tjahjono, M.Pd.; adalah seorang pensiunan dosen dari Unesa (Universitas Negeri Surabaya), dan kini
masih mengajar di FIB UB (Universitas Brawijaya) Malang. Tengsoe Tjahjono lahir di Jember 3 Oktober 1958, tapi sekolah SD sampai SPG
dijalani di Banyuwangi. Lepas itu, kuliah IKIP Malang, jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indononesia (1983). Sepuluh tahun kemudian, tahun 1993, ia menyelesaikan Program Magister Pendidikan
Bahasa di Program Pascasarjana IKIP Malang.
Gelar doktor sastranya juga
dari Universitas Negeri Malang (UM), yang dahulu bernama IKIP
Malang. Ditempuh cukup lama, dan bahkan dosennya, Prof. Dr. Djoko Saryono,
M.Pd. hingga ngoprak-oprak disuruh merampungkannya waktu itu. Ternyata
rampung juga gelar doktor sastra itu. Sehingga pernah bisa jadi dosen tamu di di
Hankuk
University of Foreign Studies Korea (2014-2017).
Kegiatan usai pensiunan, kerap kali jadi juri lomba puisi
dan pentigraf, narasumber sastra di berbagai kota di Jawa Timur, dan kota-kota
besar luar Jatim. Hari-harinya diisi memberi semangat bagi pecinta sastra,
utama para guru. Di samping mengajak guru-guru menerbitkan buku pentigraf yang
telah mereka tulis. Banyak sudah yang telah diterbitkan bersanma mereka.
Soal Konsep Mengarang
Saat wawancara santai, disela-sela penjurian lomba puisi dan pentigraf
siswa di Sidoarjo, beliaunya mengatakan bahwa, “Menulis puisi adalah
usaha berkomunikasi, baik dengan diri sendiri maupun berkomunikasi dengan
pembaca (penikmat sastra). Melalui puisi, penyair mencoba segala rasa dan pikirannya mengenai
segala hal yang mendorongnya untuk berbuat demikian, yaitu mencurahkan segala
fenomena kehidupan sosial yang dirasakan dan dialaminya. Dalam setiap penulisan
puisinya adalah membuat pembaca dan atau penikmat dapat berkomunikasi melalui
puisi-puisinya. Kita
harus paham bahwa ia tidak hidup sendiri. Hal itu berarti bahwa menulis puisi bukan
hanya untuk dirinya sendiri. Baginya menulis puisi adalah berbagi pengalaman
melalui puisi kepada pembaca. Ia berharap pembaca dapat merasakan seperti yang
ia rasakan, memahami apa yang sedang ia pikirkan. Dengan demikian, tercapailah
suatu forum dialog kreatif-imajinatif, emotif, dan sekaligus intelektual,
sehingga antara penyair dengan penikmat bisa saling mengisi.
Sedang ditanya soal pentigraf, di mana
Tengsoe pencetusnya, beliaunya menjawab dengan runtut dan gamblang. Pentigraf adalah jenis cerita pendek yang disusun dalam
format tiga paragraf dan dikembangkan oleh sastrawan Indonesia, Tengsoe
Tjahjono, yaitu saya sendiri. Saya memperkenalkan bentuk ini sebagai
alternatif baru dalam dunia fiksi mini untuk mendorong kejelasan dan ketajaman
narasi. Pentigraf berasal dari kata "cerpen tiga paragraf" dan
menjadi wadah bagi penulis untuk mengeksplorasi ide atau cerita singkat yang
tetap memuat unsur fiksi secara utuh, meski dalam bentuk yang padat dan
terbatas.
Soal
ciri-ciri pentigraf itu harus yang bagaimana? Tengsoe menjelaskan bawa cirinya:
Struktur Tiga Paragraf: Pentigraf terdiri dari tiga paragraf yang masing-masing
berfungsi menyampaikan bagian-bagian penting cerita: pembuka, pengembangan, dan
penutup. Lantas
Penyampaian Ringkas dan Padat: Setiap paragraf ditulis dengan bahasa ekonomis, tetapi
efektif, memaksimalkan jumlah kata dan menyampaikan inti cerita secara jelas.
Sedangkan
alur pentigraf, kata Tengsoe, alur dan konflik cepat: Cerita
dalam pentigraf mencakup elemen dasar narasi—tokoh, konflik, dan
penyelesaian—dalam alur yang singkat dan langsung, membuatnya tetap menarik
meskipun durasi pembacaannya pendek. Hal ini, tulisan harus dibarengi Gaya
Bahasa Efisien: Pemilihan kata harus tepat dan kuat untuk menciptakan
suasana dan karakterisasi yang mendalam dalam ruang terbatas.
Hal
yang pasti bahwa pentigraf harus ada Keutuhan Cerita: Meskipun
hanya tiga paragraf, pentigraf tetap menyajikan alur yang utuh dan memberikan
pemahaman yang lengkap kepada pembaca.
Dr.Tengsoe
Tjahjono ini, dalam perjalanan kariernya pernah mengajar di SMA Corjesu Malang, Dosen IKIP Surabaya (sekarang Unesa) hingga
pensiun, Pemimpin Redaksi Majalah Kalimas, Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies Korea (2014-2017), dan kini
masih mengajar kuliah bagi mahasiswa FIB di Universitas Brawijaya Malang. Pernah Ketua Biro Sastra Dewan
Kesenian Malang (1984—1988), Ketua Biro Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur, dan banyak lagi. Ditanya soal karya buku yang penah
diterbitkan, seabreg jumlahnya. Utamanya buku kumpulan puisi sendiri maupun
bersama, serta kumpulan guritan bersama kawan-kawan penggurit Jatim.
Lebih jauh beliau juga tambahkan pentigraf tergolong dalam genre fiksi
mini, di mana penulis menyampaikan cerita utuh dalam ruang yang terbatas.
Narasi fiksi mini seperti pentigraf menuntut kreativitas penulis untuk
menyampaikan kedalaman konflik dan emosi dengan cara singkat namun kuat,
membuat pembaca langsung merasakan esensi cerita. Dalam ranah fiksi mini,
bentuk pentigraf memberi kebebasan eksplorasi bagi penulis untuk
mengasah kemampuan narasi yang padat dan efisien. Uniknya lagi. Lanjut Tengsoe,
pentigraf menghadirkan keunikan dalam eksplorasi naratif yang lebih
bebas dan tajam dibandingkan cerpen biasa. Dengan format tiga paragraf, penulis
dapat menyajikan pengalaman membaca yang intens tanpa jeda panjang. Pembaca
diajak langsung ke inti cerita dan terlibat dalam alur yang ringkas.
Pentigraf juga mengizinkan ruang interpretasi yang luas, mendorong pembaca
untuk merenungkan makna di balik kata-kata singkat yang dipilih dengan cermat. Lalu
sebagai bentuk fiksi singkat, pentigraf sangat berguna bagi penulis yang
ingin mengasah keterampilan menulis secara ringkas dan efektif.
Bicara soal buku karya sastra
terbitannya, termat banyak jumlahnya, buku esai sastra, kumpulan puisi sendiri,
dan bersama, kumpulan guritan bersama, dan banyak lagi. Tapi yang buku: “Meditasi
Kimchi” memperoleh Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur pada 2017.
Karya terakhir: Dari Menjerat Sepatu
Sampai Membuka dan Menutup Jendela (2021) dan Pelajaran Menggambar Bentuk (2023).
Tengsoe juga pernah mendapat
Penghargaan Gubernur Jawa Timur atas prestasi dan pengabdiannya dalam bidang
seni dan budaya (2012). Pada 2024 ini, memperoleh Penghargaan Kepala Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset,
dan Teknologi atas dedikasinya yang tinggi selama 40 tahun berkarya dalam
bidang kesastraan.
Selamat buat presiden pentigraf,
sehat & selalu semangat. Selepas
wawancara, saya pulang Mojokerto, dan beliaunya naik sepur ke Nganjuk untuk
ceramah sastra esok paginya. Salam literasi tiada henti. (Aming Aminoedhin).
Mojokerto,
22/11/2024
Catatan: Tulisan ini termuat di Majalah Cak Durasim 2024