Sabtu, 19 Agustus 2023

MAESTRO SASTRA SURABAYA

 

Mengenang Suparto Brata

MAESTRO SASTRA SURABAYA

Oleh: Aming Aminoedhin



Betapa tidak maestronya seorang Suparto Brata? Sebab selama  perjalanan hidupnya, beliau telah menulis banyak karya sastra berupa novel dan cerita pendek, baik berbahasa Indonesia maupun Jawa. Bahkan ratusan jumlahnya, dan bagi pembaca setia Harian Kompas pasti akan pernah membaca cerita seperti Kremil, yang termuat secara bersambung di harian ini, sekian tahun yang lalu. Saya sendiri, membaca cerita Kremil juga dipada cerita sambungnya Kompas itu. Sungguh banyak orang yang sangat kenal Suparto Brata, melalui cerita-cerita yang termuat di koran  itu.

Beliau pernah menggunakan nama samaran dalam menulis (utamanya berbahasa Jawa) seperti nama: Peni, Eling Jatmiko, dan M. Sholeh. Keturunan bangsawan dari Surakarta Hadiningrat, putra dari R. Suratman Bratatanaya dan RA. Jembawati. Suparto Brata merupakan anak ke-8 dari 8 bersaudara, namun hanya satu yang hidup, yaitu Raden Mas Soewondo.

Suparto Brata lahir di kota Surabaya, Sabtu Legi 27 Februari 1932; dan meninggal Jumat, 11 September 2015. Beliau menikah dengan Rara  Ariyati—lahir di Meurudu Aceh 27 Desember 1940—pada tanggal 22 Mei 1962 di Purworejo, Kedu (Jateng).  Dikaruniai empat orang anak, yakni Tatit Merapi Brata (1963), Teratai Ayuningtyas (1965), Neo Semeru Brata (1964), dan Tenno Singgalang Brata (1971). Keempat anak Suparto Brata, memberinya delapan orang cucu. Suparto Brata tinggal di Rungkut Asri III/12 Perum YKP RL-I C 17 Surabaya 60293.

Menurut pengakuan, ketika beliau masih hidup dikatakan bahwa  pendidikannya berawal dari pendidikan di Angka Loro Sragen (1938—1934), Sekolah Rakyat di Surabaya (1943—1945), Sekolah Rakjat VI Jalan Laut Probolinggo, lulus tahun 1946, SMPN II Jalan Kepanjen Surabaya, lulus tahun 1950, SMAK St. Louis Jalan Dr. Sutomo Surabaya, lulus tahun 1956.

 Maestro Sastra Surabaya

            Kota Surabaya, memang punya banyak pengarang yang cukup dikenal sampai ke tingkat Nasional, sekedar menyebut beberapa nama, seperti: Muhammad Ali, Basuki Rahmad, Suripan Sadi Hutomo (ketiganya almarhum), lantas Budi Darma, Akhudiat, Dukut Imam Widodo, M. Shoim Anwar, Suharmono Kasijun, Tengsoe Tjahjono, Suharmono K, R. Giryadi,  dan banyak lagi. Namun mereka tidak seperti Suparto Brata, yang menulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Jawa, dan karya sastranya tetap punya kualitas dan kuantitas yang cukup diperhitungkan dalam dunia sastra. Baik di ranah sastra Indonesia dan Jawa.

            Tidaklah salah jika beliaunya diberi predikat sebagai Maestro sastra Surabaya. Gigih dan tekun dalam menulis dibuktikan dari lamanya ia berkecimpung dalam menulis. Menulis diawali  tahun 1951.  Beliau menulis apa saja dari: menulis berita, feature, artikel, dan sastra di banyak media massa, seperti: Majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Indonesia, Kisah, Seni, Buku Kita, Sastra, Aneka, Vista, Sarinah, Kartini, Putri Indonesia, Panjebar Semangat, Mekar Sari, Jaya Baya, Djoko Lodang, Jawa Anyar, dan Dharma Nyata, korannya antara lain: Surabaya Post, Harian Umum, Suara Rakjat, Pikiran Rakjat, Trompet Masyarakat, Jawa Pos, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Kompas, Suara Karya, dan Republika.

            Hal tersebut dikarenakan beliau pernah  bekerja sebagai pegawai Kantor Telegrap PTT Surabaya tahun 1952—1960, yang pada waktu senggangnya bisa digunakan menulis. Beliau lantas bekerja pada Perusahaan Dagang Negara Djaja Bhakti Surabaya 1960-1967. Jadi wartawan frelance/lepas tahun  1968—1988 di berbagai media massa seperti Jaya Baya, Surabaya Post, Indonesia Raya, Sinar Harapan, Kompas, dan Suara Karya. Pada saat yang hampir bersamaan, yakni dari tahun 1971 hingga 1988, Suparto Brata bekerja sebagai PNS di Pemda II Kotamadia Surabaya, Bagian Humas. Memasuki masa pensiun PNS, beliau merasa lebih bebas merdeka untuk menulis karya sastra.

 Menulis Sastra Jawa

         Bicara soal sastra Jawa, maka Supatro Brata, memang sangatlah peduli. Tulisan sastra berbahasa Jawanya, banyak sekali – baik cerita cekak maupun novel atau roman --  berbahasa Jawa. Melalui karya-karyanya itu, beliau mendapatkan anugerah hadiah Rancage tahun 2000 atas jasanya mengembangkan sastra dan bahasa Jawa. Tahun  2001 untuk karyanya Trem (kumpulan cerkak),  dan 2005 untuk karyanya Donyane Wong Culika.

Begitu pula soal organisasi sastra Jawa, beliau tetap terus memberi semangat komunitas ini. Beliau pernah sebagai penasehat PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), yang diketuai Dr. Suharmono Kasijun (dosen Unesa). Bahkan ketika PPSJS akan menerbitkan kumpulan guritan beserta terjemahannya, bertajuk Gurit Bandha Donya, beliau minta karyanya ikut dalam kumpulan guritan tersebut. Anehnya, guritan beliau hanya ditulis dalam satu kata, yaitu ‘plung’.

Ketika bedah buku Gurit Bandha Donya, di Taman Budaya Jawa Timur (2014), beliau sempat hadir, dan ikut diskusi dengan pembedah bukunya, M. Shoim Anwar. Sedangkan ketika rombongan PPSJS tampil lagi membawa Gurit Bandha Donya dalam sajian ludruk-guritan di Tembi Rumah Budaya-Yogya, 31 Juli 2015 lalu, sang Maestro tidak kami ajak serta, karena kondisi sedang sakit.

Kini mbah Parto Brata, memang telah tiada. Tapi karya-karya sastranya akan tetap abadi untuk terus dibaca dan diteliti. Karya sastra yang kebanyakan bercerita dengan latar/setting tentang kota Solo dan kota Surabaya.

Selamat jalan maestro sastra Surabaya, doa kami semua mengiringi! Semoga semua amal ibadahnya diterima Allah SWT; dan diampuni segala salah dan khilafnya. Aamiin YRA. (Aming Aminoedhin).

 

                                                                                   

Tidak ada komentar: