LAKON ITU BERNAMA LENNON
catatan: aming aminoedhin
Sudah sejak lama, saya berkenalan dengan Lennon Machali. Beberapa kali saya ketemu, selalu ia pas mengikuti berbagai lomba seni: baik teater, fragmen budi pekerti, musikalisasi puisi atau baca puisi. Ia tidak ikut sendiri, tapi mengantarkan anak didiknya yang akan ikut berlomba.
Kebetulan beberapa kali pula, saya pas macak/bertindak sebagai kelompok dewan jurinya, dan secara kebetulan pula (seringkali) anak didiknya selalu jadi juara. Tidak hanya sekali dua, tapi berkali-kali memenangi juara seni lomba semacam ini. Baik di tingkat Kabupaten Gresik, kegiatan di Surabaya, dan bahkan di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Ini membuktikan bahwa Lennon, memang tidak pernah setengah hati menangani seni pertunjukan semacam ini. Barangkali berlatih dengan berdarah-darah, agar mimpi jadi juara itu teraih nanti.
Lennon Machali, kelahiran Gresik, 13 Maret 1953 ini memang lakon dalam setiap menggarap-pentaskan sebuah seni pertunjukan semacam teater, dan musikalisasi puisi. Tiada tanding, tiada banding! Terbukti, seperti yang telah saya tuturkan di atas, selalu juara dan juara lagi.
Bersama Lennon yang biasa jadi lakon ini, saya pernah satu panggung pentas teater bertajuk "Skolah Skandal" karya sutradara Akhudiat, pada 3 November 2011. Ketika itu yang ikut main ada: Deny Tri Aryanti, Wina Bojonegoro, Aming Aminoedhin, Yuyun Wahyuni (istri Lennon), Desemba, dan beberapa anak-anak siswa SMKI Surabaya. Lennon, benar-benar dadi lakon, karena ia memerankan dhalang dengan sangat bagusnya.
Lantas, sebagai juri lomba baca dan tulis puisi, saya pernah diajak Lennon Machali, bersama Herry Lamongan, jadi juri Lomba Tulis Baca Puisi bagi Guru TK/PAUD Muhammadiyah di kota Malang.
Dari sini lahirnya gagasan membuat kumpulan puisi bersama bertajuk "Gresla Mamoso" yang berisi puisinya: Lennon Machali, Herry Lamongan, Tengsoe Tjahjono, Aming Aminoedhin, dan R. Giryadi.
Kumpulan puisi ini kemudian dibacakan di kota: Batu, Gresik, Blitar, dan Lamongan. Sungguh sebuah kenangan yang teramat indah jika mengingatnya. Dan Lennon, selalu hadir dalam setiap perhelatan baca puisinya.
Lennon, juga tercatat kerap ikut berkonstribusi dalam gelaran acara saya yang bertajuk "Malam Sastra Surabaya" atau Malsasa. Begitu pula acara Tadarus Puisi Bulan Suci, yang pernah saya gelar pada acara bulan-bulan Ramadhan. Ia, selalu siap jika diajak bersastra-sastra. Meski ia tahu, bahwa sastra, hanyalah kegiatan yang banyak meruginya. Tapi hatinya tak pernah merugi. Terbukti, ia selalu tegar dan sabar dalam menjalani.
Beberapa kali, bersama Lennon Machali, juga tampil acara baca puisi di Rumah Budaya "Kalimasada" Blitar, milik Bagus Putu Parto dan Endang Kalimasada itu. Bahkan terakhir, masih ikut tampilan pada acara tasyakuran ultah perkawinannya, dengan menerbitka buku 'Jalan Sunyi Doktorandus Kartomarmo'.
Lennon benar-benar jadi lakon dalam setiap tampilannya. Lebih lagi kesabaran dan kebesarannya dalam menagani seni susastra. Tampilannya yang selalu low-profile itu, ternyata menyimpan keampuhan yang tiada tara. Tiada tanding tiada banding, lebih lagi di kotanya Gresik.
Kemarin, 18 Juli 2016, pukul 09.00 pagi; tokoh kita Lennon yang lakon ini, meninggalkan kita semua. Terasa tak percaya, tapi benar adanya. Sungguh, saya sebagai temannya, merasa kehilangan sosok seniman yang sabar, tapi punya impian yang besar ini.
Selamat jalan kawan! Semoga surga sebagai tempatmu! Amin!
Desaku Canggu, 19 Juli2 2016
Selasa, 19 Juli 2016
Minggu, 19 Juni 2016
DALANE URIPKU PAK SUPRAWOTO
LITERASI
BAHASA JAWA TETAP ADA
Oleh:
Aming Aminoedhin*
Ketika pada hari Minggu (21/2/2016)
rubrik Ruang Putih - Jawa Pos, memuat artikel tentang ‘Stagnasi Edukasi Sastra
Jawa’ tulisan Ari Kristianawati; menyulut ingatan saya akan kegiatan literasi berbahasa
Jawa, yaitu peluncuran buku ‘Dalane Uripku’ yang selanjutnya disingkat ‘DU’
karya Suprawoto. Apa yang menarik dari bahasa dan budaya Jawa? Barangkali
wejangan atau pitutur luhurnya yang selalu diusung dalam literasi bahasa Jawa
tersebut, sehingga tetap tertulis di dalamnya.
Berbicara soal literasi bahasa Jawa,
seorang redaktur Majalah Jaya Baya Surabaya, Widodo Basuki, pernah mengatakan
bahwa, “ Ketika ia membuka rubrik calon pengarang bagi para siswa, maka cerita
yang dikirimkan ke redaksi kebanyakan bicara soal unggah-ungguh atau tata
krama, kejujuran, dan budi pekerti luhur dalam kehidupan ini. Meskipun
ceritanya tersebut ditulis dalam bahasa Jawa ngoko.”
Kembali ke persoalan peluncuran buku
DU yang ditulis dalam bahasa Jawa, dilun-curkan pertama kali di Mercure Grand
Mirama Hotel – Jalan Raya Darmo – Surabaya, 12 Februari 2016 lalu. Letaknya di
tengah atau jantung kota Surabaya. Sungguh terasa wah..., jika tak bisa
dikatakan mewah. Buku yang diterbitkan oleh PT Panjebar Semangat Surabaya, dicetak
pertama Februari 2016, dengan tebal 640 halaman tersebut, cukup eksklusif atau mewah
- semewah tempat acara peluncurannya.
Tampak banyak undangan hadir pada
kesempatan tersebut, baik kalangan akademis, seniman, dan sastrawan, baik
Indonesia maupun Jawa. Acara peluncuran DU itu terasa cair, ketika pemandunya
Suko Widodo dan Priyo Aljabar. Banyak guyonan parikena dilontarkan, hingga dialog jadi terasa segar. Bahkan saya
sebagai tamu didaulat pula untuk membacakan 2 geguritan guna meramaikan acara.
Jika harus dikritisi acara ini,
mengapa acaranya digelar di Mercure Hotel? Mengapa tidak diselenggarakan di Gedung
Balai Pemuda Surabaya, Taman Budaya Jatim, atau di kampus-kampus? Utamanya
kampus Unesa yang mempunyai jurusan Bahasa Jawanya? Sebab acara literasi bahasa
Jawa diadakan di hotel, terasa membuat jarak dengan orang Jawa kebanyakan yang
suka bahasa dan sastra Jawa. Mau datang dan bergabung terasa kikuk, bahkan
mungkin canggung.
Sebaiknya acara ini memang harus digelar kembali, karena pentingnya isi buku ini, dengan mengetengahkan juru bedah buku yang mumpuni bahasa dan sastra Jawa, seperti misalnya: Dr. Suharmono Kasijun atau Dr. Tengsoe Tjahjono, yang kebetulan keduanya dari Unesa. Atau siapa saja yang punya kapasitas mengulasnya, seperti redaktur Jaya Baya, Widodo Basuki.
Sebaiknya acara ini memang harus digelar kembali, karena pentingnya isi buku ini, dengan mengetengahkan juru bedah buku yang mumpuni bahasa dan sastra Jawa, seperti misalnya: Dr. Suharmono Kasijun atau Dr. Tengsoe Tjahjono, yang kebetulan keduanya dari Unesa. Atau siapa saja yang punya kapasitas mengulasnya, seperti redaktur Jaya Baya, Widodo Basuki.
Dalane Uripku
Pada awalnya membaca
buku setebal 640 halaman itu, memang terasa agak terasa malas. Namun setelah
kita coba mulai membacanya, akan terasa cair mengalir tanpa terasa. Mengapa
demikian? Ditulis dalam bahasa Jawa ngoko secara bercerita, tanpa harus meng-gurui
pembacanya. Lebih lagi bagi orang Jawa yang gemar membaca, pasti akan terasa
enak, dan kita (pembaca) mendapatkan banyak inspirasi yang apik dan menarik.
Kenapa menarik?
Ada
beberapa hal yang terasa lucu, dan bahkan mengingatkan kita sewaktu masih
sekolah dulu. Ada guru yang galak, dan guru yang halus atau biasa-biasa saja.
Simak potongan kalimat hal. 111 berikut ini: Beda karo Pak Supeno kang alus kaya Arjuna. Yen Pak Sukiran priyayine tegas, trengginas, lan kawentar kereng. Yen ana murid kang ora nggatekake utawa ora apal isine wulangan, biyasane dithuthuk nganggo githik. Mula bocah-bocah yen wis mlebu kelas ora ana kang wani cemuwit kae. (Beda sama Pak Supeno yang halus seperti Arjuna. Pak Sukiran orangnya tegas, trengginas, dan terkenal galak. Jika ada murid tidak memperhatikan atau tidak hafal isi pelajaran, biasanya dipukul pakai bilah kayu. Makanya anak-anak jika sudah masuk kelas tak berani bersuara sama sekali).
Simak potongan kalimat hal. 111 berikut ini: Beda karo Pak Supeno kang alus kaya Arjuna. Yen Pak Sukiran priyayine tegas, trengginas, lan kawentar kereng. Yen ana murid kang ora nggatekake utawa ora apal isine wulangan, biyasane dithuthuk nganggo githik. Mula bocah-bocah yen wis mlebu kelas ora ana kang wani cemuwit kae. (Beda sama Pak Supeno yang halus seperti Arjuna. Pak Sukiran orangnya tegas, trengginas, dan terkenal galak. Jika ada murid tidak memperhatikan atau tidak hafal isi pelajaran, biasanya dipukul pakai bilah kayu. Makanya anak-anak jika sudah masuk kelas tak berani bersuara sama sekali).

Apa
lagi ketika, ia jadi kepala biro humas
PON 2000 di Jawa Timur, wartawan luar Jatim dan bahkan mancanegara pasti kenal
beliau.
DU mengisahkan perjalanan hidup
Suprawoto, sejak dari desanya Maospati – Magetan, sekolah TK hingga SMA di
daerahnya, hingga kuliah di berbagai jenjang perguruan tinggi berbeda, sampai
meraih gelar doktor yang dicita-citakannya. Kisah tentang rumah tangga yang
diarungi bersama istri, Titik Sudarti dengan segala kendalanya, serta bercerita
pula tentang bagaimana ia bekerja yang salah jalur di DPU, lantas pindah ke
Deppen, hingga terakhir menjadi Sekjen Kominfo – RI.
Menceritakan dengan gaya penulisan
bahasa Jawa yang santai, cair, dan mengalir itulah yang membikin pembaca yang
pada awalnya enggan membaca, jadi tak mau berhenti untuk menyelesaikan membaca
buku itu. Lebih lagi bagi orang Jawa yang sudah berumur sekitar 40 hingga 50-an
ke atas, pasti akan terasa diajak tamasya oleh Pak Prawoto. Pembaca seperti
diajak untuk merasa tabah ketika datang musibah, dan bersyukur ketika
mendapatkan anugerah. Tidak hanya itu, pembaca juga diajak untuk tetap berusaha
tanpa ada kata putus asa.
Membaca buku ini serasa kita
mendapatkan banyak pitutur luhur, untuk selalu berbuat baik kepada sesama,
berjuang tanpa pantang menyerah, serta tidak lupa harus selalu bersyu-kur,dan
berdoa. Sekaligus ini membuktikan bahwa literasi tulisan bahasa Jawa selalu
saja bicara soal-soal budi pekerti luhur, seperti yang dikatakan Widodo Basuki
di muka.
Dalam buku autobigorafi Suprawoto yang
ditulis menggunakan bahasa Jawa ini, membuktikan juga bahwa literasi Jawa tetap
eksis. Artinya keberadaan literasi Jawa terus berlangsung, meski bukan berupa
sastra.
Literasi Bahasa Jawa Tetap Ada
Jika saja, kita baru-baru ini kita kehilangan
tokoh sastrawan Jawa, Suparto Brata, yang meninggal dunia karena usia; bukan
berarti kita lantas dengan serta merta takut literasi bahasa Jawa akan mati.
Tidak! Buktinya masih ada tulisan autobiografi berbahasa Jawa, tulisan Suprawoto
ini. Sedangkan bentuk karya sastra Jawanya, teman-teman komunitas Paguyuban
Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro
(PSJB), dan Sanggar Triwida Tulungagung; beberapa tahun terakhir ini tetap
bertahan dengan menerbitkan buku-buku sastra Jawa.
Berdasar uraian di atas, menjelaskan
bahwa literasi bahasa Jawa, ternyata masih tetap memuat pitutur luhur atau budi
pekerti luhur (meski bukan berupa
sastra) kepada pembaca, sekaligus membuktikan bahwa literasi bahasa Jawa tetap
ada, dan terus ada!**
Desaku Canggu,
22 Februari 2016
Senin, 08 Februari 2016
LUDRUK PUISI FSBS LUNCURKAN "DKJS"
PENTAS “DENDANG
KECIL JALAN SUNYI”
di TEMBI –YOGYA dan
KAFE GELASS SURABAYA
Peluncuran buku kumpulan puisi
“Dendang Kecil Jalan Sunyi” terbitan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS)
2015, telah digelar di dua kota. Pertama di Tem-bi Rumah Budaya – Sewon –
Bantul - Yogyakarta, 29 Otober 2015; dan Kafe Gelass – Jalan Kayun
16-18 Surabaya , 22 Desember 2015 lalu.
Buku kumpulan puisi “Den-dang Kecil Jalan Sunyi” yang berisi puisi-puisi para penyair Jawa Timur,
kebetulan mereka pernah jadi juri lomba bidang sastra (baik menulis dan baca
puisi, cerpen, dan teater) tingkat Provinsi Jawa Timur.
Mereka itu, antara lain: Jack
Parmin, R. Giryadi, Aming Aminoedhin, Ayomi Tyas Wening (Suharmono Kasijun),
Herry Lamongan, Bagus Putu Parto, Ida Nurul Chasanah, Lennon Machali, R. Djoko
Prakosa, Tengsoe Tjahjono, Widodo Basuki, dan Tjahjono Widarmanto.
Tembi Rumah Budaya Yogya
Peluncuran buku di Yogyakarta, dalam
tajuk Sastra Bulan Purnama ke-49 Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul; digarap
dengan tam-pilan Ludruk Puisi ala FSBS
yang bikin penonton tertawa-tawa atas tampilan kawan-kawan penyair. Ada pun
yang tampil di Tembi adalah: Jokasmo (potolan: Srimulat), R. Giryadi, Aming
Aminoedhin, Widodo Basuki, Tjahjono Widarmanto, Lennon Machali, Bagus Putu
Parto, dan Endang Kalimasada.
Lakon yang diangkat malam itu ’Joko
Sambang’ bikin meriahnya malam.
Pentas semalam di Yogyakarta
tersebut, secara tampilan cukup mendapatkan respons positif dari masyarakat
sastra Yogyakarta. Terbukti, meski tampil di acara paling terakhir, penonton
tetap padat memenuhi amphytheater-nya
rumah budaya tersebut. Bahkan tampilan ludruk puisi menjadi semacam ‘gong’
acara malam itu.
Sungguh, awak ludruk FSBS juga
cukup puas atas tampilan malam itu. Apa
lagi ada
juga bintang perempuannya yang ikut baca puisi, bernama Endang Kali-masada.
Bahkan Tengsoe Tjahjono, yang berada di Seoul – Korea Selatan – suaranya bisa
didatangkan untuk membacakan salah satu puisi yang termuat di kumpulan ‘Dendang Kecil Jalan Sunyi’ tersebut.
Kafe Gelass Surabaya
Selepas tampil di Yogya, awak ludruk FSBS merasa perlu meluncurkan kem-bali buku kumpulan puisi “Dendang Kecil Jalan
Sunyi” di kota Surabaya. Terpilih-lah, Kafe Gelass, Jalan Kayun 16-18 Surabaya,
pada 22 Desember 2015. Lakon yang diangkat adalah ‘Suminten Ilang’ yang
diperankan Deny Tri Aryanti.
Awak yang tampil malam itu, antara
lain: Jokasmo, R. Giryadi, Aming Ami-noedhin, Widodo Basuki, Deny Tri Aryanti,
Ida Nurul Chasanah, Endang Kalimasa-da, Bagus Putu Parto, Suharmono Kasijun, dan
R.Djoko Prakosa. Mereka awak ludruk FSBS tampaknya memang sudah terbiasa di atas panggung. Sehingga, mereka semua tampak tak canggung. Bahkan secara improvisasi gerak maupun dialog sepertinya begitu mengalir cair dalam gelaranpentasnya. Lebih lagi, ada potolan Srimulat, sang Jokasmo, ikut meramaikan pentas malam itu. Kian ger-geran, dan tertawa tanpa jeda.
Sebelum gelaran ludruk puisi, sempat
Bokir Surogenggong, pengelola kafe
memberikan basa-basi selamat datang. Selanjutnya, gelaran ludruk dimulai dengan
kidungannya R. Giryadi. Selanjutnya cerita mengalir dengan enak, dan penuh tawa
gelak penonton yang hadir malam itu. Kebetulan, tanggal 22 Desember 2015 adalah
hari Ibu, dan sekaligus ulang tahun Aming Aminoedhin; maka para perempuan awal
ludruk FSBS memberikan bunga merah-putih tanda ucapan selamat.
Yang pasti, pentas Ludruk Puisi ala FSBS dalam rangka
peluncuran buku ’Dendang Kecil Jalan Sunyi’ di dua kota besar, Yogya dan
Surabaya; cukup sukses digelarpentaskan oleh awak ludruknya.
Berikutnya, akan juga tampil di Kafe Pustaka , Universitas Negeri Malang, menggelar lakon "Felix Mencuci Piring" karya Tengsoe Tjahjono. Sampai jumpa di Kafe Pustaka Malang, Salam! - dari Desaku Canggu, 25 Desember 2015. (mat)**
Minggu, 31 Januari 2016
GERAKAN INDONESIA MENULIS SASTRA
GIM AJAKAN MENULIS
SASTRA
Oleh: Aming
Aminoedhin
Salam sastra Adik-adik!
Secara mudah bicara puisi
berarti bicara soal kata yang ditata rapi dengan ketentuan sangat berbeda, jika
dibandingkan tulisan berupa kalimat biasa, atau yang ditulis secara prosa (yang
kemudian biasa disebut: cerpen, novel, atau roman). Agar sedikit gamblang dan
mudah, puisi adalah salah satu ragam karya sastra yang bahasanya terikat oleh
irama, matra, rima, serta dalam penyusunan larik dan baitnya. Puisi yang baik
adalah puisi yang sedikit kata, tapi punya banyak makna.
Beberapa waktu lalu, 2015, Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT),
menyelenggarakan “Gerakan Indonesia Menulis (GIM) Puisi” bagi siswa Sekolah
Dasar se-Jawa Timur di GOR - Unipa Surabaya. Ada seribu anak siswa ikut dalam kegiatan
ini. Cukup menggembirakan tentunya. Sebab mereka menulis dengan sungguh-sungguh
untuk sebuah puisi yang telah ditentukan temanya oleh Panitia Lomba.
‘Gerakan
Indonesia Menulis 2015’ ini, tidak hanya untuk tingkat SD sederajat saja,
melainkan juga SMP dan SMA sederajat. Jika tingkat SD menulis puisi, maka untuk
tingkat SMP dilombakan menulis cerpen, dan SMA menulis esai. Gerakan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan minat menulis sejak dini,
memotivasi generasi muda untuk memiliki kebiasaan gemar menulis dan
meningkatkan mutu pendidikan mereka.
Barangkali
upaya BBJT menyelenggarakan lomba menulis semacam ini, perlu mendapatkan
apresiasi tinggi. Sebab dengan mengadakan lomba menulis, mengajak para siswa di
Jawa Timur untuk lebih kreatif, kompetitif, dan mengarah ke hal yang positif.
Harapan berikut agar mereka tidak hanya berhenti pada saat ada lomba seperti
ini saja, melainkan bisa terus menulis, dan menulis lagi. Bahkan diharapkan,
mereka bisa kecanduan menulis, baik di koran atau majalah; sehingga
menghasilkan yang produktif. Dapat honorarium dari hasil tulisan-tulisannya,
baik itu: puisi, cerpen, atau esai.
Membaca 1000 puisi karya anak-anak siswa se-Jawa Timur yang dilombakan
dalam GIM oleh Balai Bahasa Jawa Timur 2015, sungguh saya sangat senang.
Ternyata, mereka cukup banyak yang bakat dalam penulisan puisi ini. Bahkan
banyak pula yang dalam penulisan puisinya sudah berisi kritikan tentang
rusaknya alam, serta pesan agar manusia berlaku baik terhadap alam kepada pembacanya.
Kita simak puisi berikut ini:
KERUSAKAN LINGKUNGAN
Vilonia Jasmine E Ifadi
SDN Buduran
kau yang kini tertawa
bermandikan harta
berkawankan kemewahan
dari mana kau dapatkan semuanya
dari
pohon yang kau tebang
dari
hewan yang kau bunuh
dari tanah
yang kian tandus
dari air
yang kian kering
dari
sungai yang kian kerontang
dari
hutan yang kau jadikan kebakaran
dari asap
tebal yang dibakar
apakah kau tak ingat
masih ada anak cucu kita
yang mengharap udara segar
mengharap kesejukan alam
mengharap keindahan dunia
mengharap hijaunya daun
mengharap rindangnya pepohonan
tidaklah
kau sadar
ada
banyak nyawa yang kau ambil
ada
banyak harapan yang kau renggut
wahai
para perusak alam
ingatlah
pada hukum alam
kita
butuh alam yang indah
kita
butuh alam yang sejuk
kita
hidup dalam alam
kita
bergantung pada alam
jagalah alam
seperti kau menjaga rumahmu sendiri
karena alam kita adalah alam anak cucu
kita*
Dalam penulisan puisinya, bahkan Vilonia Jasmine E Ifadi menggunakan repetisi, sehingga puisi ini
menjadi lebih apik dan menarik jika dibacakan. Simaklah bait dua dengan
pengulangan kata ‘dari..’, bait ketiga kata ‘mengharap...’ dan bait keempat ‘ada banyak...’ dan ‘kita butuh...’
Sementara
dalam penulisan puisi yang baik itu, diperlukan kejujuran dan kepolosan
penulisnya. Lebih lagi jika penulisnya itu adalah anak-anak siswa SD, maka
kejujuran itu muncul itu dengan apa adanya. Biasanya, mereka akan menulis apa
yang mereka lihat, dengar, dan rasakan saat mereka bermain. Tanpa rekayasa, dan
sangat apa adanya. Lihatlah puisi-puisi berikut ini:
DI POHON SAWO
KUDENGAR BURUNG BERKICAU
Dyah Cahyaning Pramesti
SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage
Di belakang rumahku
Sebatang sawo tumbuh lebat menghijau
Daunnya yang rimbun
Membuat burung-burung tertegun
Ketika
pagi hari, aku bangun
Di
pohon sawo, kudengar burung berkicau
Burung
pipit ramai bercuit
Burung
kutilang berteriak lantang
Burung
trucukan bersahutan.
Ketika siang hari
Di pohon sawo, kudengar burung berkicau
Derkuku hinggap terus berlagu
Perkutut pun datang bersuara merdu.
Ketika
sawo berbuah
Kicau
burung kian meriah
Mereka
bernyanyi sambil makan buah
Ayo
burung-burung datanglah
Biar
kudengar kicauanmu yang indah.**
TARIAN SEKELOMPOK DAUN
Putu Retno Indriyani Manik
SDN Pucang III Sidoarjo
Kupandangi dedaunan itu
Ia diterpa angin yang kencang
Awalnya mereka tampak menari
Tetapi daunnya gugur satu per satu
Andai
mereka dapat berkata-kata
Mungkin
mereka akan berteriak meminta tolong ‘tuk diselamatkan
Ketika angin kencang bertiup keras
mendorongnya
Goyangan dedaunan itupun semakin
menjadi-jadi, meliuk ke kanan dan kiri
Rintik
hujan pun mulai turun
Membasahi
jalanan yang semua kering kerontang
Dedaunan
itu pun mulai berhenti menari
Namun,
kulihat daunnya semakin sedikit
Bunga-bunga kecil yang tumbuh di
sela-sela merekapun ikut berterbangan,
Hilang tanpa sisa
Akupun berpikir…
Bahwa daun yang menari belum tentu
mencintai angin.***
KE DESA
Mochammad Ariel Sulton
MI TarbiyatusSyarifah
Orang kota!
Pernahkah tuan pergi ke desa
Menghirup udara segar
Baru dicangkul menyegarkan rasa
Pernahkah tuan tegak di tepi sawah
Padi indahkan mata
Pipit bercicit
Riang gembira
Pernahkah tuan duduk di tengah ladang
Dengan peladang bersenda gurau
Menunggu jagung menjadi anggun
Sebelum cangkul pergi mengayun
Pernahkah tuan….
Pernahkah bila tuan ingin mencari
penawar resah
Pergilah tuan, pergi ke desa.*
ALAMKU YANG INDAH
Akyun Nina
SDN Buduran
Gemerisik suara kicauan burung di pagi
hari
Kunyanyikan lagu indah tentang alam
Teriring semilir angin di pagi hari
Membantu terbuai alam nan permai
Alamku, desaku tercinta
Kini hanya dapat kukenang
Setelah deru mesin pengolah batu itu
Merampas indahnya pepohonanku
Membakar tanah yang subur ini, dengan
panas polusimu
Mungkin mereka berkepentingan
Mungkin mereka punya uang
Tapi bukan ini jalan untuk alam
Kini, kudapati udara yang kering
Bersama dedaunan yang kian menguning
Entah kapan lagi dapat kulihat
Alamku yang indah.*
DERAI CEMARA UDANG
Dzikron Fathir R.
SDN Buduran
Angin pantai di sela hujan gerimis
Mendera pelan, sejenak
Berteduh di bawah
Pohon-pohon cemara udang
Kemudian lenyap ke arah timur
Gubuk-gubuk bamboo yang reot
Tanpa atap di tepian jalanan pantai
Pantai ini telah sepi
Hanya beberapa derai cemara udang
Hanya rintik gerimis yang tidak kunjung
reda
Tidak juga menjadi hujan deras
Senja waktu ini
Tiada yang romantika tau membius
kenangan
Ke dalam khayal yang beku
Ada yang berubah
Pantai ini mengubah dirinya menjadi
teduh, hijau
Di beberapa sudut ditumbuhi oleh padang
rumput yang banyak
Ada cemara udang, perahu nelayan yang
sembilan tahun yang
lalu belum kulihat ini, adalah pantai
kenangan.**
Dalam penulisan puisi-puisinya, tampak sekali mereka menulis apa yang mereka
lihat, tentang burung-burung di dekat rumahnya, tentang dedaunan, tentang
desanya, tentang alam nan indah, dan tentang cemara yang mereka lihat. Mereka
menulis kesederhaan dan kejujuran. Sehingga puisinya terasa enak dibaca, dan
bermuatan pesan kepada pembacanya.
Puisi
yang baik adalah puisi yang ditulis dengan kejujuran penulisnya. Puisi yang
baik juga memerlukan irama atau kemerduan bunyi jika dibacakan. Puisi yang baik
adalah puisi yang bermuatkan pesan yang baik bagi pembacanya.
Kelima
puisi yang termuat belakangan ini, sudah mempunyai kriteria tersebut. Sedangkan
puisi-puisi yang lain, sudah cukup baik, namun terkadang masih banyak terlalu
boros dalam menggunakan kata-kata. Misalnya, puisinya tersebut banyak yang
memuat kata-kata berimbuhan, serta seringkali menggunakan kata sambung yang
sebenarnya tidak teramat diperlukan.
Untuk
sekedar saran saja, bagi Adik-adik, usahakan dalam menulis puisi itu
menggunakan kata-kata ‘dasar’, artinya bukan kata yang telah mendapatkan
imbuhan dan akhiran. Jika memungkinkan buanglah kata sambung ‘yang’ atau ‘dan’ dalam penulisan puisinya. Sehingga jadilah puisi yang sedikit
kata, tapi punya banyak makna.
Bagi
yang menang sebagai juara, tidaklah harus merasa besar kepala; dan yang tidak
juara jadikan ini semacam lecutan untuk menulis lebih baik lagi. Semoga di
tahun depan, Adik-lah yang akan jadi juara. Kata orang, kekalahan tahun ini;
hanyalah kemenangan yang tertunda untuk tahun berikutnya.
Kumpulan
puisi anak ini, diharapkan bisa membawa Adik-adik berlatih mem-baca dan menulis
sastra, sekalian bisa dijadikan buku rujukan bagi guru, orangtua,
dan siswa guna membentuk dan mengembangkan karakter budi pekerti mereka.
Terakhir, semoga
itikad baik dari Balai Bahasa Jawa Timur, dalam menyelenggarakan GIM, dan akan membukukan karya-karya yang dihasilkan ini, membuahkan
tumbuhkembangnya penulisan sastra di Jawa Timur. Semoga!
Salam
sastra!
Surabaya, 7 Januari 2016
Langganan:
Postingan (Atom)