Minggu, 12 April 2015

NASKAH PUISI 'PEKAN SENI PELAJAR JATIM' 2015



NASKAH PUISI-PUISI  PEKAN  SENI  PELAJAR
PROVINSI  JAWA  TIMUR
KOTA BANYUWANGI
2015
___________________________________________________________

A.  PUISI-PUISI TINGKAT SEKOLAH DASAR (SD/MI)

(1-SD/MI)

Herry Lamongan
VAS BUNGA MEJA KAMARKU


Empat lima kuntum kembang
Pada vas bunga meja kamarku
Kuganti setiap kali layu
Kuganti dengan yang segar wangi

Semacam pencerahan aroma
Pencerahan pandang mata
Pencerahan pada jiwa
Maka tak pernah aku kesepian

Segar puspa
Pada vas bungaku
Selalu cerah
Tak habis-habis ia tersenyum
Menyapaku tanpa kata-kata
Mengawaniku belajar
Tanpa lelah

Lewat rongga jendela depan meja
Empat lima kuntum kembang
mandi cahaya.

2009

(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  75)




(2 -SD/MI)

Aming Aminoedhin
KUPU-KUPU WARNA BIRU

kupu-kupu warna biru itu
masuk rumahku. rasa ingin menangkap
tak diperbolehkan ibu. sebab
jika kupu-kupu itu ditangkap
sayapnya bisa patah, padahal
kupu-kupu mau istirah

kupu-kupu warna biru itu
semakin menggodaku, terbang
hinggap di plafon, lalu terbang lagi
di lampion lampu ruang tamu

warna birunya, indah di mata
biru muda berpadu warna ungu
lalu bergaris tipis merah menyala
warna-warna kesukaanku

kupu-kupu warna biru itu
kini kubiarkan hinggap
di jendela kamarku, kutatap
lama-lama tanpa rasa jemu

selepas makan malam
kupu-kupu itu masih di situ
aku tak mau menangkap kupu-kupu biru
biarkan ia istirah, dan tidur
di jendela kamarku
menghias indah, jadi teman
belajarku malam ini

Mojokerto, 3/4/2013

(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  5)


(3-SD/MI)

Tengsoe Tjahjono
SAJAK UNTUK PAMAN


Ketika paman datang
Betapa hatiku senang
Dengan gitar dia pun berdendang

Ini nyanyian tentang bunga
Sambil duduk berdua di taman penuh warna

Ini nyanyian tentang ikan
Sambil duduk berdua di pinggir kolam penuh kecipak

Ini nyanyian tentang burung
Sambil duduk berdua menatap ranting pohonan

Ini nyanyian tentang pelangi
Sambil memandang jendela sehabis reda hujan

Kini paman sudah pulang
Saatnya sekolah tiba
Sambil tetap kurindukan
Petikan gitarnya


Rungkut  Surabaya, 11 Mei 2013


(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  51)
 

(4-SD/MI)


R. Giryadi
SEKERANJANG BUAH

sekeranjang buah ini kau kirim padaku
warnanya merah jambu, kau petik dari pohon
yang rimbun sepanjang tahun

sekeranjang buah ini, adalah rindumu padaku
meski tak terucap olehmu, ranum buahnya
sesegar hatimu yang tak berhenti berdoa

bila kukenang wajahmu, ibu
kukecup penuh degup
kukunyah hati gundah

sekeranjang buah ini, ibu
doa-doamu yang kau petik
dari pohon
tubuhmu
sendiri

Surabaya, 2013


(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  139)


(5-SD/MI)

Tjahjono Widarmanto
DINI HARI YANG CERAH

siul burung bangunkan lelapku
di balik jendela kamarku
matahari tersenyum
daun diayun angin
sejuk membelai
begitu menyerap dalam kalbu
membelai putik-putik di taman
yang segera mekar jadi bunga menawan
rumput-rumput mengulum senyum
menyapa senandung pagi yang cerah

bergegas kubuka jendela
lantas menikmati segarnya
air pagi hari
segera melangkahkan kaki
menuntut ilmu merenda masa depan


2012

(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  102)

 

(6-SD/MI)

Aming Aminoedhin
SUKA LATIHAN PRAMUKA

setiap Sabtu selepas pelajaran berakhir
aku selalu bersama kawanku latihan Pramuka
di halaman sekolah, berbaris dan menulis
atau belajar tali-temali dirikan tenda
secara bersama

terkadang diajak berjalan-jalan
menjelajah kampung sama Pembina, sambil
bernyanyi dendangkan lagu semangat
tanpa kenal rasa putus asa
bawa juga buku dan tongkat
untuk mencatat segala yang terlihat
sedang tongkat untuk meloncat
jika melewati parit-parit
yang menghambat

setiap Sabtu, aku suka latihan Pramuka
hingga aku suka bermimpi
Sabtu telah tiba, padahal
hari ini masih Senin pagi, dan aku
harus ikut upacara bendera
ikut kelompok paduan suara
menyanyikan Indonesia Raya


Desaku Canggu, 2/4/2013


(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  19)



B.  PUISI-PUISI TINGKAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP/MTs.)

(1-SMP/MTs)

R Giryadi
SAJADAH
·        Kepada Ibuku


Ibu,
Petualangan ini sudah begitu jauh. Asam garam tak lenak kucecap,
meski lidah melepuh lepuh. Dalam laut ini, aku seperti ikan :
bertahan dalam keruh

Gelombang tak surut hantam para pelabuh yang melempar sauh
pada subuh ini. dan dermaga ini tetaplah angkuh dan kukuh.
Hanya doamu obat paling ampuh

Ibu,
Sungguh ini perjalanan yang teramat jauh. Sementara aku teringat
si malin yang membatu bersujud pada sabdamu
sabda yang pernah kau ucapkan padaku, tentang anak durhaka

Tetapi ini aku anakmu, Ibu. Bukan si Malin. Aku bukan batu yang
bersujud karena sabdamu. Aku bersujud pada sajadah ini sebelum
subuh, sebelum air matamu menetes dan cakrawala merona
merah

Ibu,
Pada sajadah ini, doamu jadi prasasti dan aku pasti kembali.


Sidoarjo, 2012

(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  133)



(2-SMP/MTs)


Herry Lamongan
BENDERA DI ATAS MAKAM

Makam siapa menyapaku lewat bendera?
Topi baja di arah kepala
Merimbun di sisi utara

Ia seorang tentara
Gugur dalam perang gerilya
Melawan penjajah

Tak seperti biasa
Bukan tinggal di makam pahlawan
Tapi di pemakaman umum ia dikebumikan

Siapa namamu?
Papan kecil itu hanya sedikit menerangkan
Tentang saat gugurmu

Aneh sekali
Mengapa tidak tertulis namamu?

Lamongan,  2012


(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  79)

 
(3-SMP/MTs)


Aming Aminoedhin
DI ANTARA BEBINTANG


Bintang-bintang malam hari ini
gemerlapan bagai gemericik air sungai
terkena lampu kota berkilauan

Di antara bebintang bersinaran
kulihat ada lampu pesawat
berjalan lambat, berkerjap-kejap
melenggang indah menawan

Barangkali pilot pesawat itu lelah
hingga pesawat berjalan seperti lebah
atau mungkin mataku telah lelah
hingga tak melihat pesawat itu melesat
begitu cepat, tapi terlihat lambat
oleh mataku yang ngantuk
hingga kepalaku terantuk-antuk

Mungkin juga lantaran langit maha luas
seperti tanpa batas, hingga pesawat itu
jadi kecil dan lambat berjalan

Di antara bebintang, pesawat, dan langit
maha luas itu, aku merasakan betapa
Maha Besarnya Tuhan kita. Bebintang
yang berkejapan itu seperti tanda
setuju, atas pikiranku

Siwalanpanji, 3/4/2013


(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  24)




(4-SMP/MTs)

Tengsoe Tjahjono
MEMANDANG IKAN DI AKUARIUM

Memandang akuarium
Memandang ikan-ikan
Kapan mereka tidur
Matanya tak pernah terpejam

Andaikan aku tidak bisa tidur
Betapa capeknya
Tenagaku habis untuk berjaga
Badan pun lesu, pikiran jadi tak bermutu

Andaikan mata tak terpejam
Betapa sengsaranya aku
Tak bisa bermimpi
Terbang di antara awan-awan

Aku tak ingin jadi ikan
Sebab aku ingin bisa tidur
Setelah suntuk bekerja dan belajar
Demi masa depan

  Rungkut Surabaya, 11 Mei 2013

(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  53)


(5-SMP/MTs)


Tjahjono Widarmanto
DI PINGGIR TELAGA SARANGAN

 dingin menusuk urat dan tulang
angin melambai-lambai
berdiri di telaga ini
seperti menatap lorong dunia
air yang memantulkan pesona bulan
terbitkan rasa damai yang nyaman
pesona telaga
seperti gadis yang manja
mengabarkan rindu

berdiri di pinggir telaga sarangan
menatap sepotong keindahan
yang tersebar di pelosok negeriku

ini baru pesona kecil
sedang Indonesia penuh
ribuan ragam pesona

2012

(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  107)


 
(6-SMP/MTs)

R Giryadi
SEPASANG SEPATU

sepasang sepatu hadiah dari bapakku
teronggok di sudut kamar. aku teringat,
mengapa sepatu itu ada di sana
ada kisah yang tak pernah aku lupa meski
bapak tiada

sepasang sepatu meski terlihat tua
aku tetap menjaganya. ia hadiah bapak
ketika aku sudah mulai mengerti arti
dewasa

sepasang sepatu-kata bapak- seperti
kekasih yang tak lepas bergandengan
tangan, meski hatinya gundah gulana, ia
tetaplah bersama

bila ia pergi, pergilah bersama. bila ia
terluka terlukalah berdua: sepasang
sepatu adalah wajah kesetiaan

kini sepatuku suda tua. teronggok di sudut
kamar. aku menjaganya. menjaga pesan
bapak tentang arti kesetiaan

  Buat sepatuku yang sudah tua, 2013

(diambil dari buku “Selendang Untuk Bunda” kumpulan sajak anak, terbitan Sanggar Kalimas Surabaya, Cetakan I – Juni 2013: halaman  138)




C. PUISI-PUISI TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA/SMK/MA)
UNTUK DIGARAP-PENTASKAN MUSIKALISASI-PUISI

(1-SMA/SMK/MA)



R. Giryadi
DI BERANDA

di beranda
pada senja ini aku beristirah
menikmati rona jingga dan lembayung
melihat burung burung melintas
: entah di mana ia beristirah
pada rumah atau pada senja yang tak lagi ramah

di beranda
seperti roti yang keras dikunyah
atau seperti secangkir teh sepah
tanpa gula dan doa-doa
: hidup seperti lintasan pagi dan siang
berperang mengejar malam

di beranda
kita bisa melukis senja kapan saja
menciptakan malam, dan menduga pagi kan kembali
dengan sebatang rokok, kita sulut langit menggelap
sembari menunggu anak-anak menyanyikan
padang rembulan
di pelataran yang tinggal sepetak
tempat tubuh kita tergeletak
mendoai kubur sendiri

di beranda
kita hanya menunggu mati
meski waktu tak kan pasti

Sidoarjo, Oktober 2012
(diambil dari buku “Gresla Mamoso” kumpulan puisi, terbitan Forum Sastra Bersama Surabaya, Cetakan I – April 2013: halaman  71)

(2-SMA/SMK/MA)

L. Machali
MARI BERBAGI LAGI

Jangan kau kunyah kue dari dapur ibu ini
Karena yang lezat ada dibalik kepulan putih
Yang menawarkan lapar orang-orang di sekitarmu
Dalam gemetar tubuh yang sesaat telah membiru

Kau yang terlampau bernafsu melumat selera
Hingga sungai-sungai mengalirkan pasir kelabu
Dari magma yang mendidih bersama ambisi itu
Telah lunas kubayar sampai batas perjanjianmu

Mari kita berbagi lagi, bayang-bayang berterbangan
Batu-batu hitam semakin ringan. Batu-batu di kepala
Di dada, di kandang, di villa, di masjid, dan gereja
Kita sudah sama semakin dekat rambu-rambu ungu, jingga

Rambu lagi-lagi bergerak dalam jumlah tak terbilang
Serupa air dan api dalam bejana waktu tak terhitung
Segalanya yang ada segera saja segalanya sirna
Demikian pula kenangan siang dan malam sebagai tanda

Inilah makna, setiap puisi datang selalu mengguncang
Darat dan laut, hutan dan kota, rumus dan sabda
Udara yang melesat jauh meninggalkan suara atau
Sabda tentang keheningan yang kau bilang kekosongan

Gresik, 2010

(diambil dari buku “Gresla Mamoso” kumpulan puisi, terbitan Forum Sastra Bersama Surabaya, Cetakan I – April 2013: halaman 86-87)


(3-SMA/SMK/MA)


Aming Aminoedhin
PUISI MANUSIA PURBA

masih teringat manusia purba itu
sosoknya besar, perangai kasar
berjalan tegak, suara menggelegar
di tangannya menggenggam kapak batu

masih teringat manusia purba itu
sosoknya besar, perangai kasar
berjalan tegak, suara menggelegar
susuri lembah dan kali
dari Sangiran hingga Trinil

kulipat waktu
kulipat masa lalu
kubayangkan manusia purba
taklagi bawa kapak batu
di tangan menggenggam hp nokia terbaru
menelepon sang Adam, di belahan
dunia lain, yang berjuta-juta mil jauhnya
dari pinggir kali dekat Sangiran dan Trinil
suaranya lembut, tapi bernada terkejut
“ Hai Adam, aku
telah bisa buat puisi!”

Mojokerto, 4 Oktober 2012


(diambil dari buku “Puisi Indonesia ‘87” kumpulan puisi, terbitan Teras Budaya Jakarta, Cetakan I – November 2014: halaman 17)
 
(4-SMA/SMK/MA)


Tengsoe Tjahjono
SUARA JAUH

tak dalam hening, angin rambatkan kata-kata
dari tempat jauh, mungkin lembah, mungkin puncak bukit
irama nocturno mawar

tak dalam hening, pipit putih mengerjapkan mata
memilin awan jadi jendela, menemukan telaga
ketika dahaga

tak dalam hening, gerimis mengusung lirik untuk sonnet
bagi hari kemarin
yang debu

menyanyilah, katamu, tapi cuma siul
yang melenggang dari bibir
dalam nada perdu

tak dalam hening, notasi-notasi itu terus mengalir
jadilah sungai
untuk muara jauh

tak dalam hening, kusiapkan telinga
juga cakrawala
untuk pesanmu


21/06/09-10:07

(diambil dari buku “Gresla Mamoso” kumpulan puisi, terbitan Forum Sastra Bersama Surabaya, Cetakan I – April 2013: halaman 13)


(5-SMA/SMK/MA)

Ahmadun Yosi Herfanda
PERAHU NUH

ini bukan perahu kertas, karena bukan
perahu Sapardi. tapi ini perahu Nuh
yang dirangkai dari kayu-kayu takdir
dengan layar anyaman nasib
yang dinukilkan hujan dan badai

naiklah, bersama Yafith, Syam dan Ham*
untuk menggapai puncak tertinggi Agri*
sebab hujan akan membadai
dan banjir akan menjadi bah
yang tak mudah ditaklukkan
oleh keperkasaan tangan Kan'an*
dan kesombongan hati Bani Rasib*

ini bukan perahu kertas, tapi perahu Nuh
dibangun dari batang-batang pohon tua
dari hutan-hutan takdirnya. naik saja
sudah ada sepasang domba dan sapi
sudah ada sepasang gajah dan keledai
segala binatang diselamatkan berpasangan
untuk dapat melanjutkan kehidupan

jika kau belum menemukan pasangan
naik saja. jangan ragu. pasanganmu
telah menunggu di dalam perahu

Jakarta, September 2013

Catatan:
· Agri adalah nama gunung di wilayah Turki, tempat ditemukannya sisa-sisa perahu
  Nabi Nuh, yang juga dikenal sebagai bukit Arafat.
·Yafith, Syam, dan Ham, adalah anak-anak Nabi Nuh yang ikut naik ke perahu Nuh
  dan selamat.
·Kan'an adalah anak Nabi Nuh yang membangkang, tidak mau naik  perahu Nuh, dan
  tewas dalam banjir besar itu.

(diambil dari buku “Puisi Indonesia ‘87” kumpulan puisi, terbitan Teras Budaya Jakarta, Cetakan I – November 2014: halaman 6)


(6-SMA/SMK/MA)


Remmy Novaris DM
BERBICARA

untuk apa kau berbicara tentang daun
jika kau tak mendengar bisikan angin di situ
untuk apa kau berbicara tentang air
jika kau tak dapat membuatnya mengalir
untuk apa kau berbicara tentang api
jika hanya dapat membakar dirimu sendiri

untuk apa kau berbicara tentang puisi
jika kau tak pernah tahu maknanya
untuk apa kau berbicara yang tak kau tahu
jika kau ternyata hanya sekedar ingin tahu
untuk apa kau berbicara tentang kejujuran
jika kau ternyata selalu saja berdusta

untuk apa aku selalu berdiam
karena kau tak pernah tahu
apa sebenarnya sedang aku pikirkan
jika aku tak pernah berpikir tentang apa pun
dan kau bilang, kau tahu itu
maka aku pun beranjak meninggalkanmu

L A 2013


(diambil dari buku “Puisi Indonesia ‘87” kumpulan puisi, terbitan Teras Budaya Jakarta, Cetakan I – November 2014: halaman 204)


 

# Saat gerimis tak habis-habis
di Desaku Canggu,  27 Januari 2015


2 komentar:

wahyu indrawati mengatakan...

Terimakasih bapak puisi-puisinya sangat inspirative.(Belinda Salsabila Az-zahra, SDIT AL-UMAH JOMBANG)

aming aminoedhin mengatakan...

sama-sama bu!