Kamis, 30 Mei 2013

MALAM CHAIRIL ANWAR 2013


MALAM “CHAIRIL ANWAR” 2013
DEWAN KESENIAN SURABAYA               

 
Di penghujung bulan April 2013, tepatnya hari Minggu 28 April 2013 telah digelar acara “Malam Mengenang Chairil Anwar” di Galeri Surabaya, Dewan Kesenian Surabaya. Acara yang diprakarsai Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Sanggar Merah Putih Surabaya (SMPS), dan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) ini; mendapatkan respons positif dari beberapa penulis sastra di Jawa Timur.
Beberapa penulis yang ikut gabung hadir dan tampil pada malam itu: M. Anis, Toto Sonata, Aming Aminoedhin, Andi Pocek, Wina Bojonegoro, Okta Vey, Lenon Machali, Uyun S. Wahyuni (Gresik), R. Djoko Prakosa, Ardi Susanti (Tulungagung), Suyitno Ethexs (Mojokerto), Dukut Imam Widodo, Imam Haryadi, Widodo Basuki (Sidoarjo), Saiful Hadjar, Heri Nuhun, serta hadir pula dua doktor sastra: Tengsoe Tjahjono dan Suharmono Kasijun (Sidoarjo).

Dalam sambutannya, ketua DKS, Sabrot D. Malioboro, antara lain mengatakan bahwa kegiatan semacam ini memang harus selalu diadakan, guna menumbuhkembangkan apresiasi sastra di Surabaya dan Jawa Timur. Chairil Anwar, adalah sosok maestro sastra Indonesia. Beliaulah angkatan sastra 1945, yang kita semua haruslah mengenang dan mengingat atas jasanya dalam perkembangan sastra Indonesia. Ke depan, Sabrot, juga akan menampilkan para sastrawan perempuan, komunitas sastra Jawa, dan penulis sastra lainnya guna mengisi acara di Dewan Kesenian Surabaya ini; dalam tajuk “Halte sastra.”
Malam itu yang hadir dan tampil, hampir semuanya membaca puisi-puisi Chairil Anwar, dari puisi berjudul: Aku, Senja di Pelabuhan Kecil, Prajurit Jaga Malam, hingga puisi legendaris berjudul Krawang Bekasi. Rata-rata mereka membaca dengan apik dan menarik.

Seorang penulis kenamaan Surabaya, Dukut Imam Widodo, malam itu berorasi tentang riwayat hidup sang maestro Chairil Anwar. Dukut, bercerita tentang pacar Chairil yang bernama Sumirat, perempuan asal Paron, Ngawi; yang teramat digandrunginya. Dalam sajak berjudul “Sajak Putih”-nya ia mencantumkan namanya dengan tulisan: buat tunanganku Mirat.
Menurut Dukut, percintaannya dengan Mirat ini berakhir tragis, karena ia tidak jadi menikahi Sumirat. Selengkapnya, puisi itu berbunyi:

SAJAK PUTIH
Chairil Anwar


            * buat tunanganku Mirat

bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…


18 Januari 1944
 
Selepas acara pembacaan puisi-puisi Chairil Anwar, dilanjutkan dengan diskusi tentang ketokohan sang maestro sastra Indonesia. Beberapa orang ikut bicara, antara lain: Toto Sonata, Dr. Suharmono Kasijun, Sabrot D. Malioboro, Aming aminoedhin, Wododo Basuki, M. Anis, dan banyak lagi.
Malam itu, sungguh malam sastra yang cukup hidup dalam pembacaan dan diskusinya. Selamat Hari Sastra, semoga kita tidak melupakan sang sastrawan kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini. Salam budaya! (mat)***

Tidak ada komentar: