Rabu, 12 Maret 2025

JELANG HARI SASTRA 28 APRIL 2025

 

 

BENARKAH TELAH SERIBU TAHUN CHAIRIL ANWAR


           Ada sesuatu yang menarik bagi masyarakat sastra Indonesia, ketika bulan telah sampai pada bulan keempat atau April, pada setiap tahunnya. Kenapa menarik? Sebab pada bulan ini, ada hari yang sangat istimewa bagi mereka, yaitu Hari Sastra, yang jatuh pada tanggal 28 Aprilnya. Di samping ada Hari Buku, 23 April 2014-nya.

Ditulis: Aming Aminoedhin

Penetapan tanggal 28 April sebagai Hari Sastra, karena pada tanggal itu tahun 1949 lalu, adalah hari kematian sang penyair binatang jalang, Chairil Anwar. Meski menuai pro-krontra atas penetapan Hari Sastra pada 28 April; tetapi hingga kini di kampus-kampus fakultas sastra di seluruh Indonesia, masih ada yang merayakannya. Meski mungkin hanya digelar baca cerpen dan puisi, serta pentas teater; tapi masih diperingati.

          Tak jarang pula ada beberapa kampus sastra merayakan Hari Sastra bisa berhari-hari. Diawali dengan lomba nulis dan baca puisi, lomba nulis dan baca cerpen, pentas teater, diskusi sastra, bedah buku, atau mendatangkan para pakar sastra untuk berseminar. Seminar yang bicara untuk membongkar karya-karya Chairil Anwar yang fenomenal. Baik yang asli dibuat, atau mungkin karyanya yang ternyata ada juga yang hanya plagiat.

 

Dinobatkan Jassin

          Menurut catatan HB Jassin, sang paus sastra Indonesia, disebutkan bahwa Chairil Anwar, si binatang jalang itu, ternyata selama periode tahun 1942 hingga 1949 hanya membuat  70 puisi asli tulisannya sendiri, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan,  6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Sehingga secara jumlah keseluruhan tulisan Chairil Anwar, tak begitu banyak jumlahnya, hanya 94 karya. Namun demikian, namanya sebagai penyair sangatlah melambung tinggi, di ranah sastra Indonesia.

          Kenapa demikian?  Karena Chairil Anwar telah dinobatkan oleh Jassin, sebagai tokoh Angkatan ’45 dalam sastra Indonesia. Ketokohannya tidak hanya persoalan Chairil sebagai penyair yang mendobrak gaya penulisan yang tradisional semacam syair, pantun, dan gurindam saja; melainkan juga lantaran Chairil sebagai tokoh yang cukup kontroversial, sebab hanya kurun waktu 7 tahun, hanya ada 70 puisi yang ditulisnya.

 

 

 

Masih Ingat Chairil

 Kontroversial berikutnya, puisinya sangat dikenal, dan memberikan pencerahan bagi masyarakat. Puisinya bahkan menjelma (pinjam istilah Sapardi Djoko Damono) menjadi kata mutiara atau semacam pepatah untuk pedoman hidup seseorang manusia. Puisinya sendiri juga berumur panjang, sesuai tulisan naskah puisinya, “aku mau hidup seribu tahun lagi.”

          Semua ini terbukti, ketika saya mencoba mencari tahu tentang ketenaran Chairil, ke beberapa orang tetangga saya yang punya usia sekitar 60 hingga 70-an tahun (catatan: mereka semua  pernah sekolah), jika ditanya soal puisi Indonesia, maka mereka masih sangat kenal dengan puisinya Chairil Anwar. Meski, mereka ada juga yang kenal puisi-puisi karya: Sanusi Pane, Amir Hamzah, dan Rustam Effendi.

Ada pun yang mereka ingat, hampir semua mengatakan bahwa karya Chairil yang sangat terkenal itu berjudul ‘Aku’. Baris-baris puisi yang mereka ingat antara lain: Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang/ dan baris terkahir dari puisi itu yang berbunyi: Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Untuk mengingatkan kembali puisi berjudul ‘Aku’  itu, kami muatkan puisinya secara utuh dalam tulisan ini. Berikut ini adalah bait-baitnya: Kalau sampai waktuku/’Ku mau tak seorang ‘kan merayu/Tidak juga kau// Tak perlu sedu sedan itu//Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang//Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang menerjang//Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri//Dan aku akan lebih tidak perduli//Aku mau hidup seribu tahun lagi//Maret 1943.

Menyimak isi yang tersurat dan tersirat dalam puisi itu, seseorang akan merasakan betapa seorang Chairil, memang sosok pahlawan yang pantang menyerah. Bahkan rayuan apapun tak akan menggoyahkan kemauannya untuk terus melangkah. Begitu pula, jika ada peluru yang akan merobektembuskan tubuhnya, ia akan tetap meradang menerjang demi kemauan citanya itu. Ada luka ada bisa, tetap meneguhkan hati untuk tetap berlari, meraih cita hingga perih luka jadi sirna. Tidak perduli! Chairil,  kemudian mengunci puisinya dengan kalimat: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sebuah semangat berjuang yang terasa tak pernah mau mati.

Dalam puisi ini juga tersirat makna bahwa semua itu dituliskan seakan melawan kedzaliman penjajah Jepang dan  utamanya Belanda, yang akan tetap mengangkangi Indonesia kembali. Apa lagi puisi itu ditulis pada 1943, saat Jepang menduduki negeri kita, Republik Indonesia.

Potongan puisi lain yang sangat dikenal mereka, para orang-orang tua itu, adalah berjudul ‘Krawang-Bekasi’ dengan baris-baris yang antara lain berbunyi: Kami cuma tulang-tulang berserakan/Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan/arti 4-5 ribu nyawa//. Lantas pada bait hampir terakhir puisi, yang berbunyi: Menjaga Bung Karno/menjaga Bung Hatta/menjaga Bung Sjahrir.

Kedua judul puisi itu juga memberi dan menebarkan sugesti rasa heroik bagi para pemuda pada zamannya. Puisi ini pulalah yang barangkali menjadi abadi. Dikenang dan diingat sepanjang zaman.

          Menurut Sapardi Djoko Damono, beberapa larik puisinya Chairil Anwar yang lain, bahkan telah menjelma semacam pepatah atau kata-kata mutiara, yang berbunyi: ‘Hidup hanya menunda kekalahan’ atau ‘Sekali berarti sudah itu mati’, dan mungkin masih banyak lagi.

          Memasuki bulan April 2025 ini, ada pertanyaan yang bersliweran di benak saya, bahwa Hari Sastra kok tidak ada gaungnya di kota Surabaya. Padahal, kota terbesar kedua di Indonesia ini, punya dua fakultas sastra universitas negeri (Unair dan Unesa), dan sejumlah fakultas sastra perguruan tinggi swasta. Sebut saja UK Petra, Universitas Widya Mandala, Universitas Wijaya Kusuma, dan Unipa. Ada apa? Adakah para mahasiswa kini tidak lagi terinspirasi atas potongan puisi Chairil yang bicara, “Aku mau hidup seribu tahun lagi? 

Sungguh, si binatang jalang Chairil Anwar, menjadi fenomena yang cukup sensasional dalam ranah kepenyairan dan sastra Indonesia hingga sekarang. Terbukti, naskahnya masih diingat para orang tua yang usianya lebih dari setengah abad. Sensasional berikutnya, bahwa Chairil ingin hidup seribu tahun lagi, telah terjawab sudah melalui puisinya yang masih diingat manusia Indonesia di abad 21 ini. Sementara, puisinya ditulis tahun 1943, yang ketika itu masih masuk dalam kurun waktu abad 20 lalu. Telah seribu tahun Chairil Anwar berpuisi, kita boleh setuju atau mungkin tidak bersetuju? Terserah?

Tapi adakah kita tak tergelitik menulis puisi? Atau kita hanya bisa sekadar memperingati Hari Sastra, tanpa mendapatkan sugesti kreativitasnya? Atau mungkin kita malah tak berbuat apa-apa bagi bangsa dan negara? Marilah kita coba menulis puisi, meski mungkin hanya sebait saja. Cobalah!

 

                                                  Desaku Canggu, 10  Ramadhan 1446-H - (10/3/2025)