Minggu, 01 Desember 2024

Dialog Sastra di Jombang

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                      Dari kanan Aming Aminoedhin, Imam Ghozali (narasumber sastra anak) dan moderator. 

 

ANTOLOGI PUISI SAMPAH
DITULIS ANAK-ANAK HEBAT[1]

Oleh: Aming Aminoedhin

 

            Apabila membaca sastra itu, kita sepertinya tamasya, begitu juga baca dan menulis puisi anggap saja rekreasi hati agar kian terasah kepekaan nurani kita. Lantas acara pagi ini anggap saja, kita  rekreasi sastra, bersama antologi puisi.

            Menariknya yang kita baca antologi puisi bertemakan sampah, yang mana jarang orang lain mau meliriknya. Lebih menarik lagi, ketika para penulisnya anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebuah langkah terobosan baru yang mungkin tiada tanding tiada banding. Tak salah jika langkah ini perlu diapresiasi semua kalangan, termasuk orang dewasa, dan (mungkin) juga Pemerintah.

 

Antologi Puisi Sampah








 

            Aprsesiasi pertama yang harus diacungi jempol adalah kepala sekolah dan para guru pembimbingnya, lalu anak-anak (siswa)-nya yang mau menuliskan hal-hal yang sepele, tapi tak remeh-temeh. Sebab, jika baca antologi puisi ini, hampir semua bicara pentingnya pengelolaan sampah. Sehingga tak akan  jadi penyakit atau bencana, dan bahkan menurut mereka bisa datangkan duit. Ada termuat pesan tentang rasa resah dan gundah, atau manfaat sampah  dituliskan dalam puisi.

            Coba simak potongan puisi-puisi ini: //Aroma busuk menusuk/Tidak sehat dan tak manfaat/Jika ingin berkah/Daur ulang sampah itu//  judul ‘Berserak’ karya Reyhan Alkedira Ramandha), lantas puisi Ezekiel Alas Setyono berjudul ‘Aku Sampah’ potongan baitnya berbunyi:  //Sebenarnya/Aku bisa didaur ulang/Yang datangkan keuntungan.// Pada puisi ‘Yang Terus Melimpah’ karya  Rafasya Afif Azka, mengajak pembaca: //Ayo kawan jagalah kebersihan/Jangan kau buang sampah sembarangan/Itu tanda orang bertaqwa.// Atau puisi  judul ‘Yang Mengganggu’ karya Azfar Farandiaz, yang berteriak: Wahai manusia-manusia/Sudah saatnya kita singsingkan lengan/Ayo kelola sampah kita/Dengan reduce, reuse, dan recycle/Jaga keindahan negeri kita!//.

            Teman yang lain bicara soal daur ulang sampah menuliskan dengan potongan puisinya berbunyi://Dan …./yang kulakulan padamu/Ingin mendaur ulang tubuhmu/Kujadikan pupuk yang berguna/Agar semua orang Bahagia// karya Fairuz Wibawa Prasetya, berjudul ‘Yang Berserakan.’

            Pada puisi judul ‘Sampah Berharga’ karya Viola Citra Meyriska meyakinkan pembaca, dengan potongan baitnya: //Namun sampah/Akan berharga/Di tangan mereka/Yang mampu mengolahnya//; lalu  satu puisi   Fania Qismika Putri,  merasakan terkepung plastik sehingga ia  resah dan bilang darurat plastik. Puisi berjudul ‘Limbah Plastik’ itu berbunyi:

           

            LIMBAH PLASTIK

 

            Beli cimol pakai plastik

            Beli pentol pakai plastik

            Beli es teh pakai plastik

            Beli apapun pakai plastik

 

                        Sadarlah hai manusia

                        Jagalah dan lestarikan dunia

                        Supaya aman generasi kita

                        Dari darurat plastik sampah

 

            Demikian itu adalah beberapa contoh puisi-puisi yang ditulis dengan baik oleh anak-anak tersebut. Namun yang pasti, bahwa mereka telah menuliskan apa-apa yang dilihat dan dirasakan ketika berhadapan dengan sampah. Mereka semua adalah anak-anak hebat, yang insyaallah kelak akan jadi penulis yang handal setelah kelak dewasa.

            Jika saja harus dikritisi naskah mereka, beberapa penulis masih berpanjang-panjang kata. Padahal menulis puisi yang baik, adalah sedikit kata tapi punya banyak makna. Maka dalam penulisannya usahakan  (jika mungkin) pakai kata-kata ‘dasar’ saja. Bukan yang telah berimbuhan: ber, me, ter, dlsb.; atau berakhiran: an, nya, dsb. Akan lebih  baik dan hemat tanpa gunakan kata sambung: yang, dan,  dengan dsb. Usahakan juga menjaga rima atau keindahan bunyi jika dibaca oleh pembacanya.

            Misalnya potongan puisi ini: //Ditaman belakang lalat berterbangan//Menandakan ada bakteri seram// bisa dituliskan dengan: Di taman belakang lalat-lalat terbang/ Tanda ada bakteri seram. Atau yang ini: //Mulutku bergumam/Hatiku geram/Apa otak tidak dipakai/     Seenaknya membuang sampah di sungai// bisa dipadatkan dengan //Mulutku bergumam/Hati geram/Apa otak tak dipakai/Enak saja buang sampah di sungai/.

            Pada puisi lain berjudul ‘Bersedih’ tertulis //sampah dimana-mana berserakkan/sampah kering dan basah menjadi satu/sehingga membuat semua orang/sulit bernafas karena baunya// bisa ditulis agar enak dibaca: //sampah di mana-mana berserakan/sampah kering dan basah jadi satu/hingga buat semua orang/sulit bernafas karena bau//.

                     Sementara anak yang lain bicara ajakan mengelola sampah agar bumi jadi indah, potongan puisinya: //Bila hidup tanpa sampah/Lingkungan bersih nan indah/Kuman virus tidak betah/Semua penyakit kan musnah// dari tulisan Dantha Prima Nirwasita, berjudul ‘Hidup Tanpa Sampah.’ Senada dengan puisi ini ditulis oleh Akira Khumaira, yang potongan puisi berbunyi: //Ayo teman/Buanglah sampah dan pilah/Tuk lingkungan sehat dan indah//.

            Pada dasarnya semua anak-anak yang menulis puisi dalam antologi puisi ini hebat. Sejak dini telah mau menulis puisi. Esok hari pasti akan lebih hebat dan hebat lagi.

 

 

Belajar Menulis Puisi

 

            Jika saja boleh menyarankan untuk belajar menulis puisi bagi anak-anak, barangkali ada cara yang barangkali bisa diterapkan di dalam kelas masing-masing. Cara itu antara lain:

1. Niteni, nirokne, dan nambahi:

            Dalam cara ini, seseorang siswa pada mulanya diajak untuk mengingat-ingat sebuah karya puisi, lantas disuruh untuk mencoba mencontoh naskah puisi tersebut, dan kemudian diajak untuk menambahi (mengubah) kata-kata lain yang sesuai dengan kreativitas pikirannnya.

2. Epigonal, aforisme, outbond, dan cinta

            a. epigonal: cara epigonal ini, seorang disuruh menirukan naskah-naskah puisi

                yang sudah ada dengan menambahi sesuai kreativitasnya;

            b. aforisme: pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenar-

                an umum. contoh seperti  peribahasa: alah bisa karena biasa. Para siswa diajak

                menulis puisi, berangkat dari peribahasa-peribahasa yang telah diajarkan guru

                sebelumnya. Tentunya dalam hal ini, perlu kreativitas tersendiri bagi siswa;

            c. outbond: para siswa diajak di luar sekolah guna mengamati apa saja yang ada di

    luar sekolah tersebut. Mereka bisa menulis tentang: daun, pohonan, pengemis,

                petani, gunung, panas cuaca, hujan atau apa saja yang mereka temuai di kegiat-    

                an outbond tersebut;

            d. cinta: cara yang terakhir ini adalah konsep yang barangkali paling mudah

                bagi para siswa, karena mereka disuruh menulis puisi berdasarkan cinta. Boleh

                cinta kepada orang tua, utamanya Ibu, alam, tanah air, dan banyak lagi.

Selain beberapa cara tersebut di atas, maka yang perlu diperhatikan bahwa dalam penulisan puisi adalah bagaimana para siswa  bisa menulis puisi dengan menggunakan ‘kata-kata dasar’ dalam penulisannya. Mengapa demikian? Sekali lagi, karena puisi yang baik adalah puisi yang mempunyai sedikit kata, tapi punya banyak makna. Sebagai contoh beriku puisi saya:

 

aming aminoedhin

BUKU ITU GUDANG ILMU

 

Di dalam buku

kubaca segala ilmu

dari soal bahasa, tatakrama

sastra, dan juga matematika

 

Buku adalah sahabatku

kubaca setiap waktu

saat istirahat sekolah

dan juga saat libur sekolah

 

Buku, kata Mamaku

adalah gudangnya ilmu

maka membaca buku

seperti membuka

jendela dunia, semua

ilmu kau pasti akan tahu

 

Mojokerto, 19/10/1999

 

 

Tradisi Singiran

            Ikut baca buku ‘Tradisi Singiran’ saya sangat mengapresiasi buku yang satu ini. Meski-pun saya sendiri tidak semuanya kenal, tapi ada juga beberapa yang kenal, saat masa kecil saya di desa pernah ikut melantunkannya di mushola.

            Menarik untuk dicatat adalah dalam pengantar buku yang dikatakan, “Kehadiran buku ini sejatinya merupakan sebuah produk gagasan hasil pembelajaran P5 yang berbasis literasi yang dilakukan kelas 3A dan 3B, SDN Jombatan 3 Jombang. Karena pengumpul datanya masih bersekolah di tingkat dasar maka bentuknya adalah masih dalam kegiatan inventarisasi tradisi singiran atau pujian yang dikenal di sekitar lingkungan terdekatnya. Ada sekitar 28 pujian yang berhasil diinventarisir. Ke 28 pujian tersebut terbagi menjadi dua bagian yakni pujian yang biasa dilantunkan oleh kaum muslim di surau/mushala/masjid (21 pujian), dan yang dilakukan pemeluk kristiani saat kebaktian di gereja (7 pujian).”

            Sungguh sebuah upaya yang sangat bagus, bagi anak-anak untuk menulis kembali bentuk syair/singiran/pujian yang pernah ada; dan kemudian bisa dibukukan dalam sebuah antologi. Menariknya lagi, ketika  dalam buku ini, tidak hanya pujian yang dilantunkan kaum muslimin di langgar/mushola/masjid, tapi juga umat kristiani di gereja.

            Dalam tulisan pendek ini , saya tak perlu banyak mengulas soal isi syair/singiran/pujian yang termuat dalam buku ini. Yang pasti, hampir semua syair merupakan pujian kepada Allah SWT atau Tuhan YME, versi Islam dan Kristiani.

            Jika harus dikritisi barangkali penulisan kata ada banyak yang kurang benar, seperti misalnya:   ayo manut poro kiyai seharusnya  ditulis ayo manut para Kyai, Mangga sami derek Gusti  seharusnya  ditulis: Mangga sami ndherek Gusti, dan mungkin masih ada lagi salah tulis lainnya.

            Namun yang perlu diapresiasi adalah pendokumentasian syair/singiran/pujian semacam  ini adalah penting sekali. Di samping sebagai pengenalan kepada generasi milenial, sekaligus agar datanya tak hilang ditelan zaman.

            Bahkan jika perlu , buku ini bisa digandakan lebih banyak untuk disosialisasikan kepada masyarakat yang membutuhkannya. Semisal  sekolah-sekolah, pondok pesantren, atau mungkin juga perpustakaan-perpustakaan di wilayah  Jombang.

            Upaya yang sangat positif ini, perlu terus dikembangkan  dan dilestarikan. Bahkan bisa   pula melangkah pada tema lain, seperti: parikan Jombangan,  lagu-lagu dolanan,  atau bisa juga kidungan ala Jombang.

            Kepada anak-anak yang telah menulis puisi dan syair/singiran/pujian dalam dua buku ini, saya katakana sangat hebat semua. Lebih hebat lagi para guru pembimbingnya yang tekun mau mengajak mereka menulis. Salam literasi tiada henti.

            Selamat atas terbitan dua buku yang sangat apik dan menarik ini,  dan yang  perlu pasti diyakini, bahwa, “Berbekal yakin pasti, berpayung iman suci, berusaha sepenuh hati. Lantas jangan lupa berdoa tanpa henti, segala damba segala cita,  pastilah akan tergapai nanti.” (aming aminoedhin)

 

 

Desa Canggu, Jetis,  

Mojokerto, 22 November 2024

 

 

 

 

 

 

BIODATA PENYAIR

Aming Aminoedhin

nama aslinya: mohammad amir tohar. lahir di ngawi, 22 desember 1957

alumni fakultas sastra, universitas sebelas maret surakarta, jurusan bahasa dan sastra indonesia (1987) ini, aktif kegiatan teater, dan pernah menyandang predikat “aktor terbaik” festival drama se-jatim tahun 1983 dari teater persada ngawi, pimpinan mh. iskan. pernah pula diberi predikat sebagai presiden penyair jawa timur, oleh doktor kentrung, suripan sadi hutomo, almarhum. penggagas pentas, serta koordinator malam sastra surabaya atau malsasa sejak tahun 1989 hingga 2009. Lantas malsabaru, malam sastra bagi guru se jatim (2011).

pernah menjabat biro sastra  dks (dewan kesenian surabaya); ketua hp-3-n  (himpunan pengarang, penulis, dan penyair nusantara) jawa timur; koordinator fass (forum apresiasi sastra surabaya); sekjen ppsjs (paguyuban pengarang sastra jawa surabaya); penasehat forasamo (forum apresiasi sastra mojokerto); ketua fsbs (forum sastra bersama surabaya). aming aminoedhin, seringkali jadi juri baca puisi dan ceramah sastra di hampir semua kota wilayah jawa timur (batu-malang, ngawi, madiun, lamongan, lumajang, tuban, jombang, bangkalan, sampang, tulungagung, banyuwangi, mojokerto, dan surabaya).

sekarang masih ketua fsbs (forum sastra bersama surabaya), dan pensiunan di balai bahasa jawa timur, yang dulu berlokasi  di sidoarjo. alamat: puri mojobaru az-23 canggu, kecamatan jetis – mojokerto 61352 – email: amri.mira@gmail.com atau aming.syair@gmail.com

           

 [1] Makalah dialog sastra program Bethari Berbagi, SDN Jombatan 3 Jombang, 29/11/2024

 



Kamis, 31 Oktober 2024

Tetrawara dari Sanggar Triwida

 

 TEMU SASTRA JAWA SANGGAR TRIWIDA TULUNGAGUNG

DI SRENGAT - BLITAR

 

             

            Hampir penghujung September 2024, tepatnya Sabtu-Minggu,  28-29 September 2024, Sanggar Sastra Jawa Triwida yang berpusat di Tulungagung, telah menggelar acara bertajuk Tetrawara atau Temu Sastrawan Jawa Nuswantara dan Anugrah Sastra Triwida, di Rest Area Pendapa Hand Asta Sih Srengat – Blitar. Acara yang didukung penuh oleh Balai Bahasa Jawa Timur,  dan Majalah Jaya Baya dan Panjebar Semangat Surabaya ini, bertema “Ngrangkul Sedulur Mbabar Wawasan Sastra Jawa Kuncara Mukti.” Triwida mendatangkan para pakar sastra, redaktur kalawarti basa Jawa, dan akademisi. Mereka itu: Widodo Basuki (Redaktur Jaya Baya), Kukuh SW (Redaktur Panjebar Semangat), Dr. Suwardi Endraswara (UNY), Dr. Tito Setyo Budi (penulis Sragen), Sri Wintala Achmad, Ardini Pangastuti, Margareth Widhy Pratiwi - ketiganya penulis dari Yogyakarta, serta Prof. George Quinn, dosen Australian Nasional University, peneliti dan pemerhati budaya serta sastra Jawa.

 

Saat listrik mati, peserta Tetrawara lesehan dan narasumber duduk di pinggir panggung, bukan di kursi lagi. Lebih dekat dan akrab (foto:amg).

             Sarasehan sastra Jawa yang yang cukup fenomenal, karena banyak penulis sastra Jawa hadir dari tiga wilayah provinsi Jatim, DIY, dan Jateng ini; ternyata diwarnai pula dengan listrik padam. Sehingga seorang penggurit, Aming Amonedhin, memprakarsai untuk tetap berjalan dengan lesehan di bawah mendekat panggung pentas sarasehan. Tampak dengan lesehan itu, kian akrab satu sama lain, dan tampak tanpa jarak. Lebih dekat dan lebih akrab, dengan para narasumbernya.

            Lebih lagi, para nasumbernya banyak yang bicara diselingi guyonan atau guyon-maton, sehingga sarasehan itu kian hidup. Santai, tetapi tetap banyak hal tentang sastra Jawa bisa diserap oleh peserta sarasehan. Mereka yang hadir, bukan saja para pengarang, tapi juga guru-guru, khususnya MGMP Bahasa Jawa.


Para juara lomba cerkak, dapat anugrah sastra Triwida 2024, berfoto sama George Quinn (paling tinngi). (foto: AmAm).

             Selain sarasehan sastra Jawa, Sanggar Triwida juga berikan anugrah penghargaan bagi juara lomba mengarang cerita cekak (cerkak) yang diikuti dari berbgai daerah wilayah Jatim, Jateng dan DIY (Yogyakarta), dengan para juaranya sebagai berikut.

            Untuk para juara lomba penulisan cerkak, juara I, II, dan III masing-masing adalah: Ucik Fuadhiyah (Dosen Unnes Semarang), Triman Laksana (Magelang), Yonas Suharyono (Cilacap), dan Khoirul Shaleh (Boyolali), Ch. Sri Purwanti (Yogya), dan Rina |Sadayaningsih (Blitar).

            Seperti jenis lomba yang lain, karya para pemenang lomba dan beberapa naskah terpilih dibukukan dalam bentuk antologi karya sastra Jawa, demikian penjelasan Sunarko (Sodrun) Budiman, sebagai Ketua Sanggar Triwida Tulungagung. Penerbitan oleh Sanggar Triwida ini diharapkan bisa mejadikan semangat bagi yang karya-karyanya termuat di buku tersebut, untuk terus berkarya sastra Jawa.

 Lomba Nulis Wacan Bocah

            Menulis cerita wacan bocah dengan bahasa Jawa, tidaklah mudah. Sebab bahasanya dan tema cerita yang digarap haruslah sesuai dengan kemampuan bahasa dan dunia mereka. Artinya garapan ceritanya itu gampang dimengerti dan mudah dicerna anak-anak. Apalagi sekarang ini banyak anak-anak yang tidak suka baca bahasa Jawa. Untuk itulah harus dibuat semenarik mungkin (baik bahasa dan tema) sesuai dunia anak-anak sekarang.

            Acara bertajuk Tetrawara atau Temu Sastrawan Jawa Nuswantara ini; menurut Ketua Sanggar Triwida, Sunarko (Sodrun) Budiman adalah rangkaian kegiatan tanggap warsa atau ulang tahun Sanggar Triwida Tulungagung ke-44. Salah satunya ada lomba menulis wacan bocah, yang merupakan ajang kompetitif bagi penulis berbahasa Jawa. Di samping itu ada lomba nulis cerkak dan guritan.


         Tampak gembira para  juara lomba nulis wacan bocah Sanggar Triwida 2024. (foto:amg).

             Adapun pemenang lomba nulis wacan bocah secara keseluruhan adalah sebagai berikut. Untuk kategori juara  I, II dan III diarih oleh: Susilowati (Sus S. Hardjono) guru MAN dari Sragen – Jateng, Heru Waluyo – guru asal Blitar – Jatim, dan Rini Tri Pusporini – guru asal Salatiga – Jateng. Sementara itu, juara harapan I, II, dan III, masing-masing adalah Septinata Putri – Sidoarjo – Jatim, Ayomi Palupi Irawati – Semarang- Jateng, dan Dewi Mariastuti Prajatiningrum – Bantul – Yogyakarta.

 

 

Lomba Nulis Guritan bagi Siswa

 

           

            Sanggar sastra Triwida merupakan komunitas penulis sastra Jawa,  mewadahi penulis sastra Jawa tiga wilayah di Jawa Timur: Blitar, Tulungagung, Kediri. Tahun 2024 Sanggar Triwida,  yang berpusat di Tulungagung,  juga memperoleh penghargaan Badan Bahasa Pusat di Jakarta. Sanggar ini berdiri sejak tahun 1980, dan telah kini telah berusia 44 tahun.

            Merayakan ulang tahunnya ke-44 tahun mengadakan acara Tetrawara ini, dengan mengundang sarasehan sastra Jawa, dan lomba-lomba penulisan sastra Jawa, di antaranya menulis guritan bagi siswa. Adapun bentuk lombanya adalah menulis cerkak, wacan bocah (untuk umum) dan lomba geguritan (pelajar).

 

                        Para penerima anugrah sastra Triwida bidang lomba guritan yang hadir 

                        dan menerima penghargaan, piala, dan hadiah uang. (mat).

             Bagi karya yang menang lomba dan beberapa naskah terpilih dibukukan dalam bentuk antologi karya sastra Jawa, demikian kata Sunarko (Sodrun) Budiman, sebagai Ketua Sanggar Triwida Tulungagung. Penerbitan oleh Sanggar Triwida ini diharapkan bisa jadi lecutan semangat bagi yang karya-karyanya termuat di buku tersebut, agar tetap terus berkarya.

            Lomba-lomba ini diikuti oleh penulis dari tiga provinsi: Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Sedangkan untuk kategori lomba penulisan geguritan, anugrah  sastra Triwida 2024 ini adalah: Juara I, II, dan III masing-masing adalah: Damar Djalu Pamenang (Surabaya), Chikal Alesya Amanda Awalia (Trenggalek), dan Althafunnisa Azzahra Yumn (Blitar). Harapan I, II dan III; masing-masing adalah: Haikal Trusina (Sukoharjo). Keyla Anggun Setya Wardhani (Sidoarjo), dan Tsania Salsabila Hanifah Asyar (Blitar).

            Sarasehan dan yang berlangsung gayeng dan penuh keakraban itu bisa berjalan lancar, serta menyenangkan semua yang ikut hadir sarasehan. Sastra tetap ada. (mat).


Mojokerto, 31/10/2024

 

 

 



Anugerah Sutasoma di Cak Durasim Surabaya

 

 ANUGERAH SUTASOMA

BALAI BAHASA JATIM 2024

 

            Menggunakan Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), pada 17/10/2024 siang,  Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBJT) menggelar acara bertajuk  “Penghargaan Sastra Anugerah Sutasoma 2024.” Sebelum acara puncak penyerahan, ada beberapa sambutan dan tampilan seni pertunjukan, antara lain: Cangkang cerpen Dadang Ari Murtono yang dipentaskan oleh Teater SMKN 12 “The9atre” Surabaya, ada Kidung Ilir-Ilir dan Sholawat Badar dari Komunitas Sastra Santri Nuris, persembahan wayang dan tari topeng Ragil Kuning oleh SMA Negeri 2 Malang. Ada pula tampilan musikalisasi puisi oleh SMAN 15 Surabaya sang juara pertama Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Jawa Timur 2024.

            Sedangkan anugrah penghargaan sastra ini, antara lain: satu komunitas sastra, sastrawan, buku karya sastra Indonesia, buku karya sastra daerah, buku esai/kritik sastra, guru bahasa & sastra Indonesia, serta guru bahasa & sastra Daerah.

            Menurut Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Umi Kulsum, dikatakan bahwa tujuan digelarnya acara ini yakni untuk memberi apresiasi kepada para insan sastra yang telah berkontribusi nyata bagi kemajuan kehidupan sastra dan budaya di Jawa Timur. Hal ini adalah upaya kami dari pemerintah, lewat BBJT, untuk memberikan apresiasi bagi mereka yang sudah berjuang keras menciptakan karya sastra.

            Sedangkan para juri adalah para dewan pakar dan guru besar sastra di Jawa Timur, yaitu: Prof, Dr. Djoko Saryono, M.Pd (Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang), Prof. Dr. Darni (Akademisi Unesa), Dr. M. Shoim Anwar (Sastrawan dan Dosen Universitas Adi Buana Surabaya), Bramantio, M.Hum (kritikus sastra, dosen Universitas Airlangga), dan Mashuri, M.A (sastrawan, peneliti sastra, Dewan Kesenian Jawa Timur).

    Tampak para penerima penghargaan anugrah Sutasoma 2024 foto bersama. (Foto: amg)

              Adapun yang medapatkan penghargaan anugrah sastra Sutasoma, adalah: 1).Hidayat Raharja (sastrawan dari Kabupaten Sampang, Madura, yang telah berkarya lebih dari 30 tahun). 2).Endang Winarni alias Wina Bojonegoro (sastrawan dari Surabaya) karya sastra berbahasa Indonesia. 3). Karya berbahasa Jawa, diraih  Slamet Sri Mulyani alias St. Sri Emyani (sastrawan Jawa dari Kabupaten Trenggalek dan anggota Sanggar Sastra Triwida 4). Buku krirtik sastra diraih oleh Endah Imawati (jurnalis dan dosen).

Suharmono Kasijun, sastrawan ikut hadir acara Anugerah Sutasoma 2024. (foto: amg).


                        M. Shoim Anwar, sastrawan yang jadi juri Anugerah Sutasoma 2024. (foto:amg).

            Sedangkan guru bahasa dan sastra Indonesia diraih Heru Waluyo alias Heru Patria (Blitar), dan guru bahasa Daerahnya diberikan kepada Astrid Wangsagirindra Pudjastawa (SMA Negeri 2 Malang).

            Acara pertemuan semacam ini, menurut Yulitin Sungkowati, diharapkan bisa jadi ajang silaturahmi sastrawan se-Jawa Timur. |Sekaligus bisa saling berbincang-panjang sastra yang ada di daerah masing-masing. Sehingga terjalin komunikasi positif, guna tumbuh-kembangnya sastra di Jawa Timur. Tampak beberapa sastrawan berbagai daerah ikut hadir antara lain: Bambang Kempling dan Alang Khoirudin (Lamongan),  Widodo Basuki dan Suharmono K (Sidoarjo), Aming Aminoedhin (Mojokerto),  JFX Hoery, Nono Warnono, dan Gampang Prawoto (Bojonegoro), Sunarko Sodrun Budiman dan beberapa sastrawan Jawa asal Tulungagung, dan Blitar. (amg).


Bumi Majapahit, Kota Mojokerto, 31/10/2024 nan puanas.

 

 

 

 

 

 

Jumat, 07 Juni 2024

SASTRA JAWA MASIH ADA

 

 

                                                                    

Majalah bahasa Jawa

TETAP TERBIT HINGGA KINI

Oleh: Aming Aminoedhin

 

 

Di tengah gempuran zaman milenial dan digital ini, ada dua majalah berbahasa Jawa tetap terbit hingga kini. Dua majalah itu Panjebar Semangat dan Jaya Baya, dan kebetulan terbitan dari Jawa Timur, di kota Surabaya. Kota metropolitan kedua Indonesia ini masih jadi barometer sastra Jawa tetap eksis keberadaannya. Ampuh tenan!

 

            Sebuah perjalanan panjang sebuah penerbitan majalah yang perlu diapresiasi tinggi-tinggi. Lebih lagi ini sebuah majalah yang memakai medium bahasa daerah, bahasa Jawa. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan sekali. Ampuh temenan!

            Jika kita mau bicara soal koran/majalah berbahasa Jawa, maka di Jawa Timur, punya nama majalah yang tetap eksis hingga kini; adalah ‘Panjebar Semangat’ dan ‘Jaya Baya.’ Keduanya telah berusia cukup tua. Sementara itu di kota lain Solo dan Yogya sudah ada yang harus gulung tikar. Di kota Yogyakarta ada Mekarsari dan Djaka Lodang, di Solo ada koran Dharma Kandha, Dhama Nyata, dan Jawa Anyar. Majalah Mekarsari kini hanya jadi berupa sehalaman di koran Kedaulatan Rakyat, seminggu sekali. Menyedihkan. Sementara majalah Djaka Lodang masih eksis hingga sekarang; sedangkan tiga koran Solo berbahasa Jawa itu telah tumbang semua.

Padahal menurut catatan Suprawoto (pakar komunikasi, kini Bupati Magetan), sejarah perkembangan pers Jawa di Indonesia, bahwa pers berbahasa daerah pertama kali terbit di Surakarta, tanggal 29 Maret 1855 adalah Bromartani dengan menggunakan medium bahasa Jawa dan huruf Jawa. Bromartani yang berbentuk majalah terbit seminggu sekali.

Jawa Timur boleh bangga punya Majalah Panjebar Semangat, yang terbit pertama kali sejak tanggal pada tanggal 2 September 1933. Sementara itu, majalah bahasa Jawa lainnya dari Surabaya, adalah Majalah Jaya Baya, yang terbit sejak tanggal 1 Desember 1945.

 

 Panjebar Semangat

Pendiri majalah ini, Dr. Soetomo, yang  berinisiatif menerbitkan mingguan berbahasa Jawa, bernama Panjebar Semangat, sejak tanggal 2 September 1933.

Adanya penerbitan majalah berbahasa Jawa ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas tidak adanya bacaan untuk rakyat Jawa, yang pada waktu belum bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, apa lagi berbahasa Belanda. Dalam penerbitannya majalah Panjebar Semangat menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko (bahasa Jawa kasar) yang biasa digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Pemilihan ini dikarenakan lebih mudah,  lebih demokratis, serta lebih dapat dimengerti oleh masyarakat Jawa secara luas.

Penamaan majalah Panjebar Semangat ini diberikan oleh Dr. Soetomo dengan harapan agar majalah ini dapat menyebarkan dan membangkitkan kesadaran membaca, serta semangat yang dapat melahirkan bangunan bangsa, mengabdi pada kebenaran, tunduk pada kesucian, dan menyerah pada keadilan. Harapan lain dari Dr. Soetomo, agar masyarakat di pedesaan yang tidak dapat berbahasa Indonesia, apa lagi bahasa Belanda tetap dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan sehingga mereka dapat memberikan kemajuan untuk nusa dan bangsanya.

Semboyan majalah Panjebar Semangat yang berbunyi ‘Sura Dira Djajaningrat Lebur Dening Pangastuti’ mempunyai arti harafiah bahwa ‘segala kekuatan negatif yang ada dalam masyarakat bisa ditaklukan dengan lemah lembut, dan penuh sopan santun, merendah, dan bijaksana.

Motto atau semboyan tersebut, menurut Dr. Soetomo, cukup baik dan sekaligus bijak, serta menghilangkan rasa feodalisme di tengah masyarakat.

 

     

Jaya Baya

Pendirian majalah Jaya Baya, seperti halnya majalah Panjebar Semangat yang mana tidak bisa dilepaskan dari beberapa nama tokoh pejuang Indonesia.  Mereka para pendiri majalah ‘Jaya Baya ini adalah para pejuang, antara lain: Soewandi Tjitrawasita (ayah Totilawati Tjitrawasita), Tadjib Ermadi (seorang guru Taman Siswa), dan Wasis (pimpinan Pemuda Republik Indonesia Kediri). Pengelola pertama majalah ini adalah Djasmadi (bekas anggota Shu Sangikai Muspida Karesidenan Kediri) sebagai direktur, Tadjib Ermadi, Soewandi Tjitrawasita, dan Ahmad Soedibyono sebagai redaktur, serta Maridie Danoekoesoemo (KNI Kotapraja Kediri) sebagai pegawai tata usaha.

Waktu itu, bahan-bahan untuk penerbitan perdana diperoleh dari bantuan Samadikun, Asisten Residen Kediri, yang mengizinkan penggunaan kertas percetakan Sedia. Peralatan percetakan diperoleh dari Surabaya melalui perjuangan Tadjib Ermadi dan Pemuda Pelajar (TRIP) Gatot Iskandar, Prihanta, Soekmadi, Oemar Said, serta dibantu Pemuda Republik Indonesia Surabaya yang meminta bahan-bahan penerbitan ke percetakan ‘Suara Asia’ pimpinan R.M. Abdoel Wahab Djojowirono; ketika Surabaya sedang mengalami ultimatum dari tentara Inggris. Abdul Wahab mengizinkan peralatannya dibawa ke Kediri sehingga terbitlah majalah dwimingguan ‘Jaya Baya’ yang berkantor di Jalan Ngadisimo 19, Kediri.

Menurut riwayatnya nama Jaya Baya yang dipilih oleh Djasmadi, berasal dari nama Raja

Kediri yang terkenal adil dan bijaksana serta terkenal, dengan ramalannya mengenai nasib tanah Jawa (Indonesia) yang sangat dipercaya oleh masyarakat dan ditakuti oleh Jepang dan Belanda. Majalah ini bertujuan memberi penerangan dan menanamkan semangat membela kemerdekaan serta cinta tanah air kepada rakyat di desa-desa yang kebanyakan hanya dapat berbahasa Jawa, dan belum banyak mengetahui perkembangan keadaan sebenarnya.

Tetap Terbit Hingga Kini

             Di tengah ramainya era digitalisasi koran dan majalah, kedua majalah berbahasa Jawa dari Surabaya bernama ’Panjebar Semangat’ dan ‘Jaya Baya’ tetap terbit dengan format majalah kertas hingga kini. Sungguh, ini merupakan sebuah prestasi tiada tertandingi.

            Pertanyaan yang kemudian muncul, adakah orang-orang Jawa masih setia baca majalah ini? Berapa jumlah pelanggan dan pembacanya? Adakah majalah  ini juga memasuki wilayah sekolah atau kampus? Lantas ada juga pertanyaan lanjutan; jika anda orang Jawa, adalah pernah ikut baca majalahnya?

            Atau barangkali Anda tidak hanya ikut membaca saja, bahkan ikut menulis di kedua majalah tersebut. Syukur alhamdulillah, masih ikut ngleluri lan nguri-uri bahasa lan kebudayaan Jawa yang adiluhung itu.

            Sederet pertanyaan itu, ternyata belum terjawabkan pasti. Tapi yang pasti, kedua majalah itu tetap terbit setiap minggu, hingga kini. Tetap eksis menjaga bahasa Jawa agar tetap ngrembaka, bertumbuhkembang di masyarakat Jawa. (Desaku Canggu, 6/6/2024 - Aming Aminoedhin).**