Kamis, 26 September 2013

TEMU PENYAIR ANTARKOTA DI BLITAR



SASTRAWAN ANTARKOTA TEMU
DI RUMAH BUDAYA BPP – BLITAR

            September pertengahan tahun ini, tepatnya 14 September 2013, telah diseleng-garakan temu sastrawan antarkota se Jatim, di Rumah Budaya Bagus Putu Parto, Gogodesa, Kanigoro, Blitar. Sejumlah nama sastrawan yang hadir ketika itu: Arim Kamandaka (Ponorogo), Tjahjono Widarmanto (Ngawi), Akhudiat, Wina Bojonegoro, dan Gita Pratama (Surabaya), Aming Aminoedhin (Mojokerto), Rakhmat Giryadi (Sidoarjo), Bagus Putu Parto (Blitar), dan sejumlah penulis aktif dari Tulungagung dan Kediri.
            Perhelatan temu sastrawan antarkota ini, difokuskan pada acara launching buku kumpulan cerpen ‘Catatan Harian Doktorandus Kartomarmo’ karya Bagus Putu Parto, yang diterbitkan SatuKata Publisher, dengan rancangan sampul depan digarap R. Giryadi.
Selain launching buku tersebut, juga dilaunching buku kumpulan puisi ‘Gresla Mamoso’ditulis oleh lima penyair: Tengsoe Tjahjono, Herry Lamongan, Lennon Machali, R. Giryadi, dan Aming Aminoedhin.
Akhudiat, ikut baca puisi yang terdapat di Gresla Mamoso. (foto: lu)*

            Acara dibuka dengan tampilan komunitas macapatan Adiningsun (Blitar), yang terdiri dari para orang-orang tua yang tetap nguri-uri sastra Jawa, melalui macapatan.
            Hadir juga pada acara itu, Prof. Dr. Setya Yuwono Sudikan, guru besar sastra Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dengan memberikan sambutan dan apresiasi tentang kegiatan ini. Selain acara pembacaan salah satu cerpen Bagus PP, yang diawali oleh Herry Langit,  juga ada kata selamat datang oleh tuan rumah, Endang Kalimasada.

Prof. Dr. Setya Yuwono Sudikan, dekan FBS Unesa (foto: lu)*

            Dalam ucapan selamat datangnya kepada para sastrawan yang hadir, Endang Kalimasada, juga merasa senang dan bangga bisa kembali tampil dalam perhelatan sastra yang kini jarang diikutinya. Hal ini, akan menambah kegairahan suami saya, Bagus Putu Parto, untuk kembali menulis sastra kembali. Yang pasti disyukuri, bahwa pertemuan malam ini, sangatlah indah sekali. Membaca  dan berbincang panjang tentang sastra, tanpa habis-habisnya. Boleh sampai pagi, jika mata masih saja kuat terjaga. Kopi, roti, dan rokok pasti ada! Selamat bersastra-sastra!










 Endang Kalimasada, mengucapkan terima kasih kepada sastrawan yang hadir. (foto: lu)*











Bagus dan Endang, duet baca cerpennnya. (foto: lu)**

            Selepas acara potong tumpeng selamatan cerpen Kartomarmo, duet Bagus Putu Parto dan Endang Kalimasada, tampil membacakan salah satu cerpennya yang ada di kumpulan tersebut. Mereka berdua masih tetap seperti dulu, membaca sastra dengan enak dan santai dalam pembacaannya. Acara berikutnya dilanjutkan dengan pembacaan sastra, secara bergiliran: Arim Kamandaka baca puisi, Wina dan Gita, baca cerpen, Akhudiat, R. Giryadi dan Aming baca puisi. Tjahjono Widarmanto, malah mengapresiasi acara ini, seperti halnya Setya Yuwono.

Duet Wina dan Gita, ikut baca cerpennya. (foto: lu) **

            Malam itu acara ditutup dengan tampilan kembali, dari kelompok macapatan, Adiningsun. 
Setelah acara ditutup, dilanjut dengan omong-omong sastra di halaman rumah belakang Bagus Putu Parto yang luas itu, hingga hampir parak pagi. Bincang sastra, memang tak ada habisnya, kata Aming Aminoedhin. Ketemu sastrawan antarkota memang sangatlah menyenangkan, apa lagi kopi selalu menemani hingga parak pagi itu. Duh... nikmatnya! (liezty uran)**
           
           

Selasa, 24 September 2013

PEREMPUAN PENYAIR TAMPIL DI BALAI PEMUDA SURABAYA





PEREMPUAN PENYAIR BACA PUISI
DI BALAI PEMUDA, SURABAYA

            Akhir bulan Agustus, tepatnya hari Jumat, 30 Agustus 2013, bertempat di Gedung Merah Putih Balai Pemuda, Surabaya; telah digelar pentas sastra perempuan penyair Jawa Timur. Pentas ini, sekaligus launching buku sekumpulan puisi bertajuk ‘Wasiat Malam’ yang diselenggarakan Dewan Kesenian (DKS) kerja sama Dinar Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya.
            Pentas sastra perempuan penyair ini mengalir cair, yang diawali dengan sambutan ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), Aming Aminoedhin, sebagai editor buku kumpulan puisinya, Wasiat Malam.

Tita Tjindarbumi, beraksi baca puisi di balai Pemuda Surabaya.(foto: tka)
 
     Menurut Aming bahwa,  “Tajuk yang dipakai buku ini Wasiat Malam – diambil dari salah satu judul puisi -- yang ada dalam antologi puisi ini. Hal ini, bukan berarti, puisi itu lebih baik dari yang lain; akan tetapi hanya dijadikan judul buku, sehingga memudahkan kita mengingatnya. Antologi puisi perempuan itu, bernama Wasiat Malam.” Lebih lanjut editor buku ini juga mengatakan, “Tidak semua puisi yang dikirimkan penyairnya saya muatkan semua, lantaran tidak semua puisi layak-muat. Di samping kuota halaman yang terbatas. Ada yang hanya termuat dua judul puisi, ada tiga, ada empat, dan terakhir lima judul, dari masing-masing penyairnya. Dan ini bukan ukuran, bahwa yang banyak lebih baik dari yang lain. Bukan! Bukan itu!” tandas Aming.
 
Aming Aminoedhin, editor buku Wasiat Malam. (foto: tka)

            Dalam penggarapannya pun memang agak tergesa-gesa, sehingga banyak kekurangan di sana-sini, tapi Aming berharap, semoga kegiatan ini akan dapat menumbuhkembangkan sastra di Surabaya, dan Jawa Timur. Serta berharap, agar sastra bisa mencerahkan dunia! Sastra memang tidak hanya milik kaum Adam, kaum Hawa pun bisa berkiprah. Menulis puisi, dan membacanya malam ini.
           Hadir juga malam itu, Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, M. Shoim Anwar, Dr. Suharmono Kasijun, Puspo Endah, Bagus Puru Parto, Rakhmat Giryadi, Endang Kalimasada, Ardi Susanti, Lennon Machali, Uyun S. Wahyuni, Ize Sasmi, Ana Kusumawati, Pocek Siansdhys,  Iis Istrini, Dewimus Musdhalifah, Luluk Lukmanun, Fitria WN, dan banyak lagi.
 

 Sabrot D. Malioboro, ketua DKS. (foto: tka)

            Sementara itu, ketua Dewan Kesenian Surabaya, Sabrot D. Malioboro, mengucapkan, “Terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, yang telah mau bekerja sama dengan DKS, dalam menumbuhkankembangkan sastra.” Sabrot, juga berterima kasih kepada para penyair perempuan yang ikut hadir dan tampil, hadirin, serta saudara Aming Aminoedhin dan Rakhmat Giryadi, yang telah sudi menangani perhelatan sastra malam ini.

Deny Tri Aryanti, saat tampil mengawali ‘Baca Puisi 13 Penyair” (foto: tka)

            Pentas sastra perempuan penyair, malam itu tampak mengalir cair. Artinya, pentas sastra berjalan lancar, dan sukses. penonton yang hadir pun beragam, dari kalangan mahasiswa, hingga pemerhati, dan penyuka sastra. Pentas diawali dengan  tampilan awal Deny Tri Aryanti, dengan membacakan puisi diringi biola oleh Files. Kemudian, beberapa penyair yang lain, tampil susul-menyusul membacakan puisinya masing-masing dengan cair.
            Wasiat Malam, berisi puisi yang ditulis oleh 13 penyair: Deny Try Aryanti, Sirikit Syah, Yayuk Manan AS, Ize Sasmi, Ana Kusumawati, Dewimus Musdhalifah, Luluk Lukmanun, Afwin Sulistiawati, Ardi Susanti, Titi Tjindarbumi, Iis Istrini, dan Fitria WN.
            Berikut ini salah satu puisinya, yang kemudian dijadikan judul kumpulan puisi tersebut,

Ize Sasmi
WASIAT MALAM

Dari lekuk tubuh sunyi di bawah langit mambang
Ingatan demi ingatan menari bersama deru hujan
menikmati sepi yang lengket di rahim musim
kucoba melahirkan musim pada waktu yang berputar di tubuh malam
Mengalirlah darahku ke lembah belakang rumah yang kelam

“Jangan biarkan darah itu membeku lalu kaku di mata mu …
Biarlah menetes ke hulu, bermuara di tubuhku”
Bisikmu pada nafas yang berlari
Menuju ruang dalam tulang sumsumku

Guluk-guluk,  06 November 2012

            Ada 10 perempuan penyair yang tampil malam itu, sedang ketiga penyair yang tak bisa hadir adalah: Sirikit Syah, Yayuk MananAS, dan Afwin Sulistiawati. Akan tetapi ada bintang tamu hadir malam itu: Endang Kalimasada (Blitar) dan Puspo Endah (Kediri) ikut tampil membaca puisi. Mereka berdua tampil baca puisi tak kalah menawan.

Endang Kalimasada, penyair bintang tamu tampil menawan. (foto: tka)
   Sastrawan, dan sekaligus dramawan terkenal, Akhudiat, memberikan ulasan tentang sastrawatii tampil malam itu. Sedangkan M. Shoim Anwar, menutup acara dengan ikut menilai tampilan mereka para penyair malam itu, serta sedikit ulasan tentang karya-karya sastra yang ditulis para wanita.
       Ditanyakan di tempat terpisah, Widodo Basuki, penggurit kondang Jawa Timur, mengaku perhelatan ini cukup menarik utuk dicatat. Setidaknya, ada sastrawati penulis puisi, mau tampil di depan forum publik seperti malam ini. Hal sama juga dikatakan oleh Imam Haryadi, yang malam itu jadi pewara/announcer acara. (liezty uran)***

Minggu, 28 Juli 2013


PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PUISI ANAK KARYA AMING AMINOEDHIN
(beberapa catatan karya Aming Aminoedhin sang pecinta dunia anak)
Oleh: Redhitya Wempi Anshori

catatan:
naskah ini ditulis mahasiswa um
saya muatkan di blog saya atas izin penulisnya, 20 juli 3013
semoga bermanfaat bagi pembaca blog ini, atau barangkali bisa dijadikan referensi
terima kasih cak wempi!
(aming aminoedhin) 






            Kreativitas tak henti-hentinya mengalir dari sesosok makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini, anugerah dan bakat yang tersemat dalam jiwa dan raganya mengalir dalam nadi darahnya bakat tentang dunia sastra yang telah digelutinya sejak lama. Sebuah karya yang indah muncul dari imajinasinya akan keindahan anugrah Tuhan kepada makhluk kecil, lucu dan tak berdosa, yaitu anak-anak menjadi inspirasinya untuk menuntun penanya bergerak melukiskan kata-kata yang indah pada sajak-sajaknya. Tidak banyak kita temui penyair atau sastrawan, yang mengangkat dunia anak untuk tema, atau bahkan tujuan penulisan karya tersebut untuk anak-anak. Kebanyakan dari sastrawan selalu mengangkat hal-hal yang berbau politis, kritik sosial, cinta bahkan hal-hal yang remeh-temeh. 

             Sapardi Djoko Damono pernah menyampaikan kritik sosial di dalam karya sastra itu, seperti lebah tanpa sengat, dan sekarang ini dunia kreatifitas kita terbelenggu pada situasi yang absurd. Setiap orang berlomba-lomba untuk membuat karya yang dianggap aneh bahkan menyimpang sehingga karyanya disebut berbeda dengan yang lain, tapi sosok Aming Aminoedhin masih setia dengan puisi tentang anak-anak, mengangkat tema-tema tentang pendidikan karakter untuk anak-anak. Proses kreatif yang timbul melalui setiap sajak-sajaknya merupakan harmonisasi kata yang indah, membentuk unsur metafora yang indah pula, dengan kata-kata yang secara semantis tidak berbelit-belit, unsur kata yang penuh dengan renungan untuk pembaca terutama anak-anak. 
              Kumpulan sajaknya yang berjudul ‘Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu’ yang diterbitkan oleh Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) pada tahun 2008.
Pada karya inilah yang akan dikupas habis hingga akar-akarnya tentang proses kreatifnya, dan juga tentang sejauh kecintaannya terhadap dunia anak sehingga dapat menghasilkan karya spektakuler untuk anak-anak Indonesia khususnya. Aming Aminoedhin merupakan sosok ayah, yang sangat perduli terhadap anak-anaknya. Inii terbukti dengan menjadikan anak-anaknya sebagai inspirasi penciptaan sajak dalam puisi-puisinya. Dalam sajak-sajaknya juga ia tulis pengalaman masa kecilnya, yang mungkin dengan sengaja sebagai proses berbagi inspirasi untuk anak-anak zaman sekarang.

Sosok Aming Aminoedhin
              Mungkin sebagian dari kita masih belum mengenal secara jelas sosok ini, sosok sastrawan dari Jawa Timur yang mungkin belum seterkenal WS. Rendra, Chairil Anwar Sapardi Djoko Damono, dan lain sebagainya. Tapi sumbangsihnya terhadap karya sastra mungkin dikatakan hampir sama perannya, atau bahkan mungkin lebih, karena kebanyakan sastrawan jarang sekali yang mengangkat tema kepolosan dan kecerian dunia anak sebagai proses kreatifnya. 
              Kebanyakan dari mereka lebih mengangkat dunia kritik sosial dan cinta. Katakanlah Rendra pernah sesekali mengangkat dunia anak dalam beberapa sajaknya, tapi dengan maksud dan tujuan yang berbeda, konteks anak dalam puisi Rendra mungkin berbeda, konteks anak dalam puisi-puisi Rendra digunakan sebagai metafor untuk menunjukkan makna tertentu yang fungsinya tetap menunjukan ciri khasnya sebagai kritikus sasial lewat karya sastra seperti dalam puisi-puisi pamfletnya. 
              Keadaan yang berbeda ditunjukkan oleh sosok Aming yang datang dengan membawa suatu suasana yang baru, yang berbeda dengan tema-tema yang ditulis sastrawan pada zaman itu, dia datang dengan membawa bekal kecintaan terhadap dunia anak-anak dengan kepolosan dan kelucuan tingkah yang tak terduga, dan sulit ditebak seperti sajak yang ia tulis pada bagian depan sampul kumpulan puisinya “Sajak Kunang-kunang dan Kupu-kupu” yang mendeskripsikan tentang anak-anak.

Anak adalah yang tak pernah lelah bergerak
Anak adalah kertas putih tanpa noda
Dunia anak adalah dunia bermain gerak
Dunia anak adalah dunia tanpa dihantui kata dosa
Dunia anak adalah dunia tanpa tepi
                        (Aming Aminoedhin, 2008)

             Seperti dalam kutipan pembukaan dalam kumpulan puisinya, gambaran anak yang dibayangkan Aming sebagai inspirasi untuk menulis sajak-sajak tentang anak. Kepolosan, gerak bebas seorang anak yang menuntun penanya untuk menggembala metaforanya ke dalam ladang penulisan sajak yang indah. Sumbangsihnya terhadap dunia sastra mungkin boleh dikatakan sudah cukup lama dalam mengarungi samudra sastra beserta gelombangnya, karena Aming bergelut di dunia sastra sejak tahun 1982.     
            Untuk pembuktiannya lagi tentang sosok Aming bahwa dunia sastra telah melekat dalam jiwanya, ia pernah menimba ilmu bahasa dan sastra Indonesia di bangku kuliah untuk menajamkan, dan mematangkan konsep dan teorinya dalam dunia sastra. Dia menimba ilmu pada Fakultas Sastra - Universitas sebelas Maret Surakarta (UNS) semasa kuliah dia juga aktif dalam kegiatan teater bahkan pernah mendapat predikat “aktor terbaik” Festival Drama se-Jawa Timur tahun 1983, dari paguyuban ‘Teater Persada’ Ngawi. Aming merupakan sosok yang berperan penting dalam dunia sastra di wilayah Surabaya, dan Jawa Timur khususnya. 
           Ini terbukti bahwa ia pernah menjabat Biro Sastra - Dewan Kesenian Surabaya, ketua HP-3-N (Himpunan Pengarang, Penulis, dan Penyair Nusantara) Jatim, koordinator FASS (Forum Apresiasi Sastra Surabaya), dan penggagas kegiatan ‘Malam Sastra Surabaya’ atau yang disingkat “Malsasa” di Dewan Kesenian Surabaya. 
          Bahkan untuk membuktikan bahwa dia bukan orang sembarangan di dunia sastra, dia pernah dijuluki atau diberi predikat “presiden penyair jawa timur” oleh doktor kentrung Suripan Sadi Hutomo, almarhum. Dari banyaknya pengalaman yang telah ia dapat dalam dunia sastra, khususnya sastra Indonesia, dia sering kali mengisi ceramah atau seminar-seminar tentang sastra Indonesia di wilayah Jawa Timur. Sudah sangat terbukti kredibilitasnya, dalam dunia sastra tidak hanya isapan jempol belaka. 
         Dalam dunia puisi anak, yang notabene merupakan sebuah eksplorasi batin pengarang yang dirasakan ketika, yang bersangkutan menjadi anak-anak, atau bahkan melalui proses pendekatan terhadap dunia anak, telah diramu menjadi sebuah sajak-sajak dengan bahasa sederhana, dengan bahasa anak-anak yang mudah dipahami oleh anak-anak. Pada hakikatnya penciptaan karya sastra harus memenuhi kegunaan praktis, baik sebagaimana sarana menumbuh-kembangkan kreativitas, sarana menanamkan nilai-nilai moral dan karakter, dalam bahasa teknisnya karya sastra ini harus memenuh unsur dulce dan utile yang artinya keindahan dan kebermanfaatan. 
                 Secara garis besar memang karya-karya Aming Aminoedhin sangat cocok digunakan untuk memupuk nilai moral, nilai-nilai sosial anak, yang sekarang dunia pendidikan gadang-gadangkan sebagai pendidikan karakter melalui karya sastra, yang pada hakikatnya merupakan kapling dari orang-orang pengampu pendidikan agama. Dengan seiring berkembangnya zaman, kebutuhan pendidikan karakter menjadi sangat dibutuhkan untuk mengatasi kebobrokan zaman yang tergerus oleh modernisasi yang tidak bisa dihentikan lajunya, yang terkadang modernisasi ini menjadi sesuatu yang tidak cocok dengan budaya Indonesia, tapi karena proses bombardir pengaruh yang begitu dahsyatnya mau tidak mau laju modernisasi harus diterima dengan konsekuensi banyak nilai-nilai budaya yang hilang dan tergerus oleh proses ini. 
               Untuk melawan reaksi tersebut memerlukan serangan dalam beberapa lini, termasuk memberdayakan karya sastra untuk memberikan nilai-nilai karakter. Berbicara mengenai puisi anak,  mungkin ini terobosan yang menarik untuk memperkokoh pendidikan karakter yang ditanamkan ke dalam karya sastra khususnya puisi. Mungkin tujuan ini yang akan dilakukan oleh Aming Aminoedhin sebagai presiden sastra yang harus bisa memberdayakan sesuatu, yang ia tekuni sejak lama memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan Negara. Dengan karya yang tidak banyak sastrawan Indonesia lakukan, yang mengangkat dunia anak sebagai tema dalam pembuatan karyanya.

Pendidikan Karakter Melalui Puisi
            Mungkin sebagian dari kita semua sudah tidak asing lagi mendengar kata pendidikan karakter, baik di lingkup keluarga atau bahkan di lingkungan pendidikan. Pendidikan karakter yang kini sedang digalakkan oleh Pemerintah dengan cara menggerakan setiap unsur dan elemen pemerintahan dari segi pendidikan dan kebudayan. 
          Pemerintah melakukan hal ini karena bangsa ini sedang mengalami krisis moral, krisis sosial, dan krisis nurani. Negara ini yang dikenal dunia dengan negara multikultural yang sangat menghargai keberagaman dan sangat menjunjung tinggi nilai toleransi, ternyata sudah mulai terkikis habis sedikit demi sedikit. Adapun  yang tersisa sekarang tinggal kebobrokan moral yang sekarang dalam proses penyembuhan dan perbaikan, dari berbagai lini dengan merevitalisasi pendidikan karakter yang digalakan pada generasi muda termasuk dalam dunia pendidikan. 
          Dalam hal ini terdapat terobosan baru tentang pendidikan karakter melalui karya sastra. Sadar atau tidak suatu pendidikan moral yang disisipkan melalui suatu karya itu akan berdampak positif pada penikmatnya, pada proses ini akan terjalin komunikasi satu arah antara penulis karya dengan pembaca, terjalin transfer kode-kode yang dituliskan, dan akan diserap melalui pembaca dengan skemata yang dimilikinya kemudian secara bersamaan akan memengaruhi alam bawah sadar pembaca dalam kegiatan inilah proses pengaruh terjadi. 
          Pembaca akan meresapi setiap makna, dan pesan dalam karya, serta sadar atau tidak ini akan mengontrol perilakunya dalam segala hal, baik dari segi tindakan maupun sikap. Mungkin hal inilah yang disadari oleh sosok Aming sebagai orang yang bergelut di dunia sastra, dia ingin menjadikan karyanya sebagai penyambung pendidikan moral, bagi anak-anak yang membaca karyanya. Melalui puisi-puisinya, Aming memberikan pesan-pesan lewat metafora sederhana yang ditata rapi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Tampaknya Aming sadar betul melalui puisi ini yang disisipi pesan-pesan moral akan membuat anak lebih menerapkan pesan yang telah ia terima dari pada omelan atau tuturan langsung dari orang tuanya. Dalam puisinya yang terdapat dalam kumpulan “Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu” Aming banyak menyisipkan pesan-pesan moral yang sangat berguna, bagi anak-anak yang membaca untuk memperdayakan pendidikan karakter melalui karya sastra. Dalam konteks ini adalah puisi, seperti yang terdapat dalam puisi berikut:

FAJAR SUBUH

memerah warna langit ditimur
ada perasaan mengucap puji syukur
berarti fajar subuh telah tiba
adzan berkumandang berirama
indah terdengar di telinga

suara sipakah itu?
mengajak lebih baik sholat
dari pada tidur mendengkur

Ibuku telah bermukena putih
bersama rukuhnya, sedang
Ayah bersarung kopiah
tanpa perduli dingin cuaca
Tanpa peduli embun jatuh menyentuh

di belakangnya, aku bersarung sendiri
ikut melangkah pasti

fajar subuh dingin menyentuh
di masjid tua itu, sholat subuh berjamaah
lantas melantunkan doa-doa
bersama Ibu Bapak
dengan khusuk dengan suntuk

                                   Ngawi, 1987


dalam puisi tersebut jelas dapat dilihat, bahwa maksud penulis adalah menanamkan nilai-nilai agama atau religius kepada anak-anak secara eksplisit dengan bahasa yang mudah, dan indah tanpa bermaksud bersifat menggurui dengan disajikan rangkaian kalimat sebagai modeling, bahwa ada seorang anak yang menceritakan kisahnya ketika sholat shubuh di masjid bersama ayah ibunya.

suara siapakah itu?
mengajak lebih baik sholat
dari pada tidur mendengkur

       Pada kutipan di atas jelas sebagai nilai yang dapat digunakan untuk menyadarkan sisi kejiwaan dari seorang anak dengan membaca bait dari puisi tersebut, bahwa sholat itu lebih baik, dan lebih mendapatkan pahala yang banyak dari Tuhan dari pada anak yang di waktu sholat hanya tidur.

Nilai Kasih Sayang dalam Puisi
         Dalam kutipan puisi berikut terdapat nilai kasih sayang, yang mencoba ditanamkan oleh Aming Aminoedhin sebagai sarana penyambung nilai-nilai melalui karya sastra.

KADO ULTAH ADIKKU

Saat sekolah telah pulang
aku lihat di halaman sekolah
masih ada penjual ikan koki
berdagang

Kuraba saku, masih tersisa uang sakuku
Guna membeli seekor koki

Di dalam plastik
berisi air, berenang melonjak
si koki tampak senang sekali

Tiba di rumah
kuberikan koki pada Adikku
sebagai kado ultahnya hari ini
betapa riang adikku
melonjak-lonjak girang bagai si koki

Mojokerto, 10/7/1999

         Dari puisi tersebut jelas terlihat, nilai kasih sayang yang ditanamkan oleh penulis kepada pembaca dalam hal ini adalah anak-anak. Kasih sayang yang digambarkan seorang kakak kepada adiknya yang penuh cinta dan kasih sayang. Seorang kakak yang ingat hari ulang tahun adiknya, dengan ditambah merelakan uang sakunya untuk dibelikan kado untuk adiknya yang sedang berulang tahun. Meskipun dengan kado yang sederhana berupa ikan mas koki.

BUKU ITU GUDANG ILMU

Di dalam buku
kubaca  segala ilmu
dari soal bahasa, tatakrama
sastra, dan juga matematika

Buku adalah sahabatku
kubaca setiap waktu
saat istirahat sekolah
dan juga saat libur sekolah

Buku, kata Mamaku
adalah gudangnya ilmu
maka membaca buku
seperti membuka
jendela dunia, semua
ilmu kau pasti akan tahu

Mojokerto, 19/10/1999

          Dari puisi tersebut, maksud penulis ingin menyampaikan, dan mengajarkan kepada anak-anak untuk menjadi seorang yang rajin membaca, karena buku merupakan gudangnya ilmu, jendela ilmu pengetahuan. Dari puisi tersebut dapat ditarik suatu pembelajaran untuk anak-anak supaya untuk menjadi anak yang pandai harus sering membaca buku, dengan membaca buku akan tahu tentang dunia. Dari segi bahasa penulis menggunakan bahasa yang lugas dengan di sisipi beberapa metafora yang sederhana yang masih mudah dipahami oleh anak-anak. 
          Puisi tersebut mempunyai sambungan dengan puisi yang lain yang diciptakan Aming, yaitu pada puisi yang berjudul “Jendela Dunia” puisi ini merupakan sambungan dari puisi di atas, karena secara makna dan judul mempunyai korelasi kontinuitas. Berikut ini adalah puisinya:

JENDELA DUNIA

Almari Bapakku dipenuhi buku
kata Ibu, semua buku-buku itu
adalah jendela dunia
jika aku mau baca
Segala ilmu akan kusua

Ternyata benar, kata Ibu
selepas buku-buku kubaca
dunia tampak ada di sana
ada yang hitam dan putih
ada yang senang dan sedih

Jadi kawan!
bacalah buku agar kau
bertemu segala ilmu

Baca dan bacalah buku
karena buku adalah jendela dunia
sejuta ilmu pasti kau sua

Mojokerto, 19/10/1999

              Secara semantis atau makna dari puisi tersebut mempunyai makna yang berkelanjutan dengan puisi yang berjudul “Buku itu Gudang Ilmu” karena memang puisi ini merupakan puisi yang sengaja dibuat secara bersambung. Secara pesan atau amanat yang terkandung juga memiliki kesamaan, yaitu penulis ingin menyampaikan kepada anak-anak dengan membaca buku mereka akan tahu dunia, karena buku adalah jendela dunia. 
             Aming menggunakan bahasa yang lugas juga dalam puisi ini, dengan sedikit sentuhan metafora dan makna kias yang tidak terlalu berat untuk anak-anak.

Penutup
            Seorang sastrawan dari Jawa Timur yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia seni khususnya dunia sastra, telah membawa sosok ini pada sebuah karya masterpiece yang dipersembahkan khusus, untuk dunia anak-anak. Puisi-puisinya sangat berguna bagi tumbuh kembang anak Indonesia, sebagai calon penerus bangsa, karena terdapat muatan pendidikan karakter di dalam puisi-puisi yang ia ciptakan. Tidak banyak sastrawan Indonesia yang khusus menulis puisi untuk anak-anak, karena kebanyakan sastrawan besar lebih menekankan penulisan karya-karyanya pada kritik sosial, cinta, dan hal-hal yang berbau politis yang sudah umum sastrawan lakukan untuk menyuarakan teriakan-teriakan orang banyak melalui media karya. 
               Pada posisi ini,  Aming Aminoedhin lebih memilih alternatif lain dalam hal tema, untuk menulis puisi yang tentunya lebih berguna, seperti yang telah diketahui tidak banyak puisi untuk anak-anak dan hal menyebabkan ketidak-seimbangan dalam proses pengkaryaan khususnya dalam konteks ini puisi. Banyak anak-anak dalam perlombaan membaca puisi menggunakan puisi-puisi untuk remaja yang bertemakan cinta, dan bahkan puisi-puisi untuk orang dewasa. Ini merupakan ironi yang harus dihindari, berangkat dari hal itu Aming Aminoedhin memutuskan untuk menulis puisi untuk anak-anak yang disisipi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan agama dan lain sebagainya.***

  
 diunggah oleh aming aminoedhin, 27 juli 2013