PENYAIR KOSTELA TERBITKAN ANTOLOGI PUISI
Judul :
Sajak Berdua Plus Satu
Antologi Puisi
Pengarang : Herry Lamongan, dkk.
Penerbit : Lensa Publishing, Lamongan
Cetakan : I, Agustus 2025
Tebal : x+98 halaman
ISBN : 978-623-8308-46-0
Peresensi : M. Amir Tohar
Tiga
penyair senior kota Lamongan ini yang merupakan penggerak kegiatan bulanan
bertajuk Candra Kirana, yaitu sarasehan atau diskusi sastra di kota
Lamongan. Bertiga, mereka terbitkan antologi bertajuk Sajak
Berdua Plus Satu. Tiga penyair ini juga merupakan dedengkotnya
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan), yang sudah malang-melintang
menumbuhkembangkan sastra dan teater di kotanya, Lamongan. Mereka bertiga
adalah Herry Lamongan, Pringgo HR, dan Bambang Kempling.
Bahkan
salah satu penyairnya, Herry Lamongan, tahun lalu mendapat penghargaan 40 tahun
setia berkarya sastra dari Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa
dan Sastra – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Jakarta. Sementara itu,
ketiga penyair ini, adalah sosok yang berkiprah di dunia pendidikan, yaitu
guru. Herry pensiunan guru SD, Pringgo pensiun guru MAN, dan Bambang Kempling
hingga kini masih mengajar di SMPN 4 Lamongan.
Buku antologi puisi yang diberi
pengantar oleh Dr. Sutardi, S.S. M.Pd. (dosen Unisda Lamongan) antara lain
mengatakan bahwa,”Puisi Herry Lamongan seringkali menyoroti tema waktu,
eksistensi, alam, dan dimensi spiritual. Sedangkan Pringgo HR puisinya
menonjolkan eksplorasinya terhadap tema luka, penderitaan, dan ingatan yang
berkelindan dengan perja-lanan waktu.” Sementara itu puisi Bambang Kempling,
dikatakan Sutardi, menampilkan puisi kontemplatif, seringkali berfokus pada
eksistensi, ketiadaan, dan keindahan yang rapuh.
Menutup kata pengantar, Sutardi,
mengatakan bahwa, “Secara keseluruhan Herry Lamongan, Pringgo HR, dan Bambang
Kemplings sama-sama memperkaya khazanah puisi Indonesia dengan gaya dan
perspektif unik mmereka dalam mengolah tema-tema universal tentang kehidupan,
waktu, dan kemanusiaan.”
Sekarang kita coba baca puisi Herry
Lamongan, berjudul Tentang Waktu (hal.9) yang baitnya berbunyi: setiap
kering/beriring dari ranting/desir kelaras di raut waktu//daun-daun lunglai
pada senja/mengabur warna//kita mungkin cuma abadi/dalam sajak/sejarah diam
yang menulis peristiwa tadi/ketika detik jam pasang//atau mungkin tersesat
dalam sesal/karena usia tiuada henti menepi/berlinangan setiap sepi/semacam
haru terhadap waktu//kesaksian yang sungguh/adalah mata hati/sujud terdalam
setiap diri//.
Dari puisi ini kita merasakan betapa
tema waktu digarap secara apik oleh penyair ini.
Sedangkan
puisi-puisi dua penyair lainnya, yang dikatakan Sutardi sebagai puisi-puisi
luka, dan puisi-puisi kontemplatif; barangkali pembaca perlu memiliki dan
membaca bukunya sendiri.
Barangkali perlu dicatat, bahwa
judul bukunya Sajak Berdua
Plus Satu sudah menarik untuk dibaca, sebab menggunakan judul yang kurang
lazim bagi sebuah buku. Akan tetapi karena tak lazim inilah, yang mungkin
menjadi daya tarik tersendiri untuk membacanya. Di samping itu, secara
keseluruhan isi puisi-puisi yang termuat, cukup membuat pembaca diajak untuk
merenung arti hidup dan kehidupan ini.
Untuk
itulah sungguh buku antologi puisi yang menarik untuk dimiliki dan dibaca bagi
pembaca sastra. Apalagi bagi kalangan para guru atau penyuka sastra puisi.
Selamat
bagi komunitas Kostela yang terus berulah sastra. Selamat pula atas terbitnya antologi
puisi baru ini, semoga akan bisa menumbuhkembangkan sastra di kota Lamongan
khususnya, Jawa Timur, dan sastra Indonesia, pada umumnya. (aa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar