Sabtu, 24 Januari 2026

RESENSI BUKU PUISI

 

PENYAIR KOSTELA TERBITKAN ANTOLOGI PUISI

           

            Judul                           : Sajak Berdua Plus Satu

                                                  Antologi Puisi

            Pengarang                   : Herry Lamongan, dkk.

            Penerbit                      : Lensa Publishing, Lamongan

            Cetakan                       : I, Agustus 2025

            Tebal                           : x+98 halaman

            ISBN                           : 978-623-8308-46-0

            Peresensi                     : M. Amir Tohar

 


            Tiga penyair senior kota Lamongan ini yang merupakan penggerak kegiatan bulanan bertajuk Candra Kirana, yaitu sarasehan atau diskusi sastra di kota Lamongan. Bertiga, mereka terbitkan antologi bertajuk Sajak Berdua Plus Satu. Tiga penyair ini juga merupakan dedengkotnya Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan), yang sudah malang-melintang menumbuhkembangkan sastra dan teater di kotanya, Lamongan. Mereka bertiga adalah Herry Lamongan, Pringgo HR, dan Bambang Kempling.

            Bahkan salah satu penyairnya, Herry Lamongan, tahun lalu mendapat penghargaan 40 tahun setia berkarya sastra dari Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Jakarta. Sementara itu, ketiga penyair ini, adalah sosok yang berkiprah di dunia pendidikan, yaitu guru. Herry pensiunan guru SD, Pringgo pensiun guru MAN, dan Bambang Kempling hingga kini masih mengajar di SMPN 4 Lamongan.

            Buku antologi puisi yang diberi pengantar oleh Dr. Sutardi, S.S. M.Pd. (dosen Unisda Lamongan) antara lain mengatakan bahwa,”Puisi Herry Lamongan seringkali menyoroti tema waktu, eksistensi, alam, dan dimensi spiritual. Sedangkan Pringgo HR puisinya menonjolkan eksplorasinya terhadap tema luka, penderitaan, dan ingatan yang berkelindan dengan perja-lanan waktu.” Sementara itu puisi Bambang Kempling, dikatakan Sutardi, menampilkan puisi kontemplatif, seringkali berfokus pada eksistensi, ketiadaan, dan keindahan yang rapuh.

            Menutup kata pengantar, Sutardi, mengatakan bahwa, “Secara keseluruhan Herry Lamongan, Pringgo HR, dan Bambang Kemplings sama-sama memperkaya khazanah puisi Indonesia dengan gaya dan perspektif unik mmereka dalam mengolah tema-tema universal tentang kehidupan, waktu, dan kemanusiaan.”

            Sekarang kita coba baca puisi Herry Lamongan, berjudul Tentang Waktu (hal.9) yang baitnya berbunyi: setiap kering/beriring dari ranting/desir kelaras di raut waktu//daun-daun lunglai pada senja/mengabur warna//kita mungkin cuma abadi/dalam sajak/sejarah diam yang menulis peristiwa tadi/ketika detik jam pasang//atau mungkin tersesat dalam sesal/karena usia tiuada henti menepi/berlinangan setiap sepi/semacam haru terhadap waktu//kesaksian yang sungguh/adalah mata hati/sujud terdalam setiap diri//.

            Dari puisi ini kita merasakan betapa tema waktu digarap secara apik oleh penyair ini.

Sedangkan puisi-puisi dua penyair lainnya, yang dikatakan Sutardi sebagai puisi-puisi luka, dan puisi-puisi kontemplatif; barangkali pembaca perlu memiliki dan membaca bukunya sendiri.

            Barangkali perlu dicatat, bahwa judul bukunya Sajak Berdua Plus Satu sudah menarik untuk dibaca, sebab menggunakan judul yang kurang lazim bagi sebuah buku. Akan tetapi karena tak lazim inilah, yang mungkin menjadi daya tarik tersendiri untuk membacanya. Di samping itu, secara keseluruhan isi puisi-puisi yang termuat, cukup membuat pembaca diajak untuk merenung  arti hidup dan kehidupan ini.

Untuk itulah sungguh buku antologi puisi yang menarik untuk dimiliki dan dibaca bagi pembaca sastra. Apalagi bagi kalangan para guru atau penyuka sastra puisi.

Selamat bagi komunitas Kostela yang terus berulah sastra. Selamat pula atas terbitnya antologi puisi baru ini, semoga akan bisa menumbuhkembangkan sastra di kota Lamongan khususnya, Jawa Timur, dan sastra Indonesia, pada umumnya. (aa).

 

 

 

Tidak ada komentar: