Herry Lamongan
MENULIS ITU KESAKSIAN ATAS HIDUP
Laporan: Aming Aminoedhin
Sosok lelaki agak pendiam yang suka pakai topi ketika tampil baca puisi itu, bernama Herry Lamongan. Itu adalah nama samaran dalam menulis karya sastra. Nama aslinya Djuhaeri. Lahir di Bondowoso, 8 Mei 1959. Pensiunan guru SD, yang banyak mendapat juara penulisan sastra.
Herry Lamongan, saat beraksi baca puisi. (foto:istimewa)
Ditanya soal bakat menulis, katanya bermula dari menulis buku harian, mencatat berbagai peristiwa yang terjadi setiap hari, kemudian berkorepondensi dengan banyak kawan di seluruh Indonesia. Lalu pada gilirannya kemudian ingin menggubah puisi sendiri, untuk terus dipublikasikan/dikirimkan media-massa cetak (baik itu koran, majalah lokal dan ibu kota). Hingga kini pekerjaan ini terus dilakukan, mencatat, merevisi naskah lama, lantas mengirimkan untuk publikasinya.
Dalam menulis karya sastra, Herry Lamongan akan terus melakukan hingga ‘mampus’, karena menulis sastra baginya adalah katarsis, pencerahan batin, tonikum penyegar diri, di samping kesaksian abadi dalam menjalani kehidupan selama ini.
Meski tetap menulis puisi dan guritan, namun kini sudah agak jarang mengirimkan koran dan majalah. Tapi dua tahun belakangan ini, masih kirim naskah geguriuan ke Jaya Baya, dan masih ada beberapa yang termuat. Ini hanya bukti, bahwa beliau masih eksis dalam dunia literasi sastra.
Aming Aminoedhin (penulis, baju biru) dan Herry Lamongan (kaos hitam) saat wawancara di rumah Madedadi VI/36 Lamongan. (foto: AmAm).
Mengingat masa lalu, tambahnya dalam dialog sore itu, dalam berkorespondensi sastra, beliau bertemu dengan komunitas HP3N (Himpunan Penulis, Pengarang, dan Penyair Nusantara) yang berpusat di Mataram, dengan ketuanya Putu Arya Tirtawirya. Lantas melalui HP3N inilah, yang kemudian nama besarnya sebagai penyair diakui oleh komunitas sastra se Indonesia. Berada di wilayah Jawa Timur, HP3N waktu itu sekitar 1986-1990-an ada nama lain selain Herry Lamongan, yaitu Ang Thek Khun dan Aming Aminoedhin (Surabaya), Tan Tjin Siong (Batu-Malang), Surasono Rashar – Ali Surakhman (Lumajang), dan Yani Aminoedhin (Jember),
Lelaki bernama Djuhaeri yang beristrikan Ashabul Maimanah (yang juga seorang guru) ini, mempunyai 3 orang anak, yaitu: Radite Erlangga Adipalguna, Nur Jannati Kallista Putri, dan anak ketiganya bernama Sazma Aulia Al Kautsar. Dua anaknya sudah berkeluarga, dan yang terakhir masih di rumah, dan mengajar jadi guru Bahasa Indonesia di Lamongan.
Dari kanan, Aming (penulis), Herry Lamongan dan istri saat foto depan rumah Madedadi VI/36 Lamongan. (foto: istimewa).
Perbincangan sastra sore itu, kadang memang ditemani juga istrinya, Ashabul Maimanah, sehingga kian jadi makin panjang, dan bahkan malang melintang. Termasuk mengingatkan saya, ketika dulu (puluhan tahun lalu - sekitar, 1989-1990-an), saya kerap datang di rumah itu. Zaman di mana belum ada hape, tapi silaturahmi selalu ramai perbincangkan sastranya, meski hanya berdua saja, sama Herry Lamongan. Entah apa saja yang dibincangkan saat itu, saya sendiri juga lupa? Yang pasti sastra koran dan majalah yang waktu itu lagi booming-nya.
Dalam perjalanan hidup dan kehidupan ini, Herry Lamongan, hingga sekarang ini tetap kerasan tinggal di kota alit Lamongan. Ia menyatakan akan terus menulis sajak sebagai kesaksian yang sederhana atas hidup dan kehidupannya
Bicarakan malang-melintang di dunia sastra, Herry Lamongan, aktif di berbagai komunitas sastra, di antaranya: HP3N (Himpunan, Penulis, Pengarang, dan Penyair Nasional) Jawa Timur (1985-1990), PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) tahun 1991-1994, Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) tahun 2000-sekarang, DKL (Dewan Kesenian Lamongan) tahun 2003-2007. Tidak hanya aktif di komunitas sastra Lamongan dan Jawa Timur, tetapi juga berkali-kali jadi juri lomba tulis dan baca puisi di tingkat Kabupaten Lamongan maupun Jawa Timur.
Bicara Kostela, ia mengaku salah satu penggagas, dan jadi motivator utamanya. Komunitas ini buat acara kegiatan Candra Kirana, yang merupakan ruang dialog dan diskusi sastra setiap bulan sekali hingga sekarang ini. Dan kini telah mengadakan acara kegiatan secara kontinyu ratusan kali pertemuan. Ampuh temenan!
Kumpulan puisinya bersama kawan penyair lain banyak jumlahnya, di antaranya: Sang Penyair (1986), Lamat (1987), Surabaya Kotaku (1989), Jejak (1991), Semangat Tanjung Perak (1992), Malsasa 1991, 1992, l994, 1996, 2000, 2005, 2017, Bunga Rampai Bunga Pinggiran (1995), Memo Putih (2000), Bulan Merayap (2004), Lanskap Telunjuk (2004), Duka Atjeh Duka Bersama (2005), Khianat Waktu (2006), dan banyak lagi. Sedangkan tahun ini puisinya terkumpulkan dalam kumpulan puisi sendirinya Mata Air Sunyi (Januari, 2025), dan Sajak Berdua Plus Satu, ditulis bersama Bambang Kempling dan Pringgo HR. (Agustus, 2025).
Buku-buku puisi yang memuat karya sajaknya Herry Lamongan. (foto: AmAm).
Penghargaan kesusastraan yang pernah diraih adalah penulis terbaik versi Sanggar Minum Kopi Denpasar (1989), Pemakalah Festival Puisi di Batu-Malang (1990), Penulis Gurit terbaik versi Sanggar Triwida (1995). Lalu pernah juara 1 Nasional pada penulisan buku pengayaan kepribadian bidang puisi anak SD/MI 2012, berjudul Langgam Kesabaran. Penghargaan Seniman Jawa Timur Bidang Sastra – dari Gubernur Jatim 2013. Tidak hanya itu, masih juga mendapat . Anugerah Sutasoma - Balai Bahasa Jatim- 2023, dan pada tahun 2024-nya dapat penghargaan Badan Bahasa Jakarta, atas dedikasinya menulis sastra selama 40 tahun berkarya.
Dalam perjalanan hidup dan kehidupan ini, Herry Lamongan, hingga sekarang ini tetap kerasan tinggal di kota alit Lamongan. Ia menyatakan akan terus menulis sajak sebagai kesaksian yang sederhana atas hidup dan kehidupannya.
Jelang senja, mumpung hujan belum juga turun -- saya pamitan pulang -- setelah lama berbincang-panjang penuh riang. Sebab mengingat masa lalu, terkadang lucu, dan kadang bikin haru, bahkan mungkin indah dan syahdu. Tapi yang pasti, kita tetap sehat wal-afiat selalu. Meski sudah pensiun, saya ucapkan selamat hari guru, dan salam sastra! (Aming Aminoedhin).
Catatan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar