Selasa, 11 Juli 2017

SKETSA-SKETSA LEO KRISTI



SKETSA-SKETSA CERITA LK
Oleh: Aming Aminoedhin

            Banyak cerita-cerita tentang Leo Kristi yang menarik bagi saya, selain dia orang yang suka senyum setiap waktu, setiap bertemu; ia suka  mau cerita jika kita mau bertanya. Saya bertemu, Leo Kristi, pertama kali sejak masih Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menempati gedung lawasnya. Depan gedung lawas itu, masih ada pohon keresnya, dan berandanya tak begitu luas itu, biasa untuk latihan apa saja: baca puisi, nyanyi, atau sekedar untuk kongkow-kongkow seniman apa saja. Leo Kristi (LK) dan kelompoknya, waktu itu, pernah juga berlatih di tempat ini. Selepas Isya, mereka berlatih melantunkan lagu-lagunya nan indah itu, jika tak salah waktu itu vokalis perempuannya, Cicilia, yang selalu pakai celena pendek warna putih. Aku lupa tahun berapa waktu itu. Tapi masih terngiang lagu-lagu Leo Kristi itu indah dilantunkan riang. Heroik tapi juga romantik.
            Selain Leo Kristi, di DKS, saya juga sering ketemu Naniel, personilnya Konser Rakyat Leo Kristi. Suatu waktu, kuputar lagu-lagu Leo dari ponsel-ku, sambil berbincang soal LK.  Naniel pernah cerita bahwa  gambaran sosok guru tua pada lagu Di Deretan Rel-Rel itu, adalah tokoh Pak Guru Tua yang jualan kopi di stasiun Lawang, dekat Malang. Selengkapnya syair lagunya seperti ini:

DI DERETAN REL-REL

 

Pagi masih sunyi seperti hatiku
Ketika kududuk di bangku peron
Tiada seorang pun menemani
Majalah dan koran pagi, tak banyak menolongku
Dan hati mulai bernyanyi

Olalai olai oleiei…oleilei oleieioleiei…
Olalai olai oleioi…oleilei oleoleioi…

Becek hujan turun semalaman
Menambah dinginnya pagi
Dengan seratus rupiah di kantong
Dapatkan rokok keretek , kopi panas dan goreng pisang
Di kedai pak guru tua

Olalai..olai oleioi…oleilei oleoleioi…
Olalai olai oleioi…oleilei oleoleioi…

Saat pulang kini telah tiba
Kereta pagi berangkat siang hari
Satu gerbong seratus penumpang
Di sela-sela tumpukan keranjang dan karung-karung
Perempuan berteriak ribut
Bayi-bayi menangis

Hmmmm…jalan menuju kota gaduh selalu
Hmmmm…jalan menuju kota gaduh selalu
Hmmmm…jalan menuju kota gaduh selalu

Lalalallalalala..lalalalalallalalla……

Lihat kereta apiku mengeluh
Lihat kereta tua mengeluh!
                        *                      *                      *

            Suatu ketika Leo Kristi pernah juga diundang untuk ikut memeriahkan Festival Seni Surabaya (tahunnya lupa). Dalam tampilan itu, ia minta memasang lukisan-lukisannya dengan ukuran besar-besar di pajang di dinding-dinding Balai Pemuda. Minta pula dalam arena panggung pentasnya nanti diletakkkan beberapa balok es besar-besar yang tak beraturan (alias malang-melintang) untuk mendukung tampilannya.
            Panitia FSS, ketika itu juga menyanggupi atas semua permintaan Leo Kristi yang agak aneh ini. Dan saat waktunya tiba ia harus tampil, ternyata dia hanya ke luar sebentar mencangklong gitar, seraya berucap selamat malam. Lantas turun panggung, dan menghilang entah ke mana?
            Beberapa penonton, penggemar dan fans-nya Leo Kristi, banyak yang berteriak-teriak; tapi pertunjukan ternyata telah usai. Itulah gaya tampilan seni pertunjukan Leo Kristi!
Tak perlu risau tak perlu galau! Biasa saja!
            Jika tak aneh, maka bukanlah Leo Kristi!

  *                    *                      *

            Pernah juga suatu ketika, ketika saya dolan ke DKS, saat ada pameran lukisan entah punya siapa (lupa juga tahunnya), saya bertemu Asri Nugroho (pelukis) yang berada di acara pameran itu. Lantas tiba-tiba ia, mengajak saya ke rumah Leo Kristi yang berada di Karang Empat, Surabaya. Katanya, “Ayo ke rumah Leo, dia sekarang lagi doyan melukis. Ayo kita lihat lukisannya!” ajaknya.
            Dengan menumpang mobil Asri Nugroho, saya meluncur ke rumah Leo Kristi di Karang Empat itu. Tiba di rumahnya, benar, dia sedang melukis. Rumahnya yang agak aneh, karena di dinding-dinding tersandar ada perahu, jaring, dan dayung-dayung di pohon randu yang ada di dalam rumah. Terpajang juga beberapa lukisan abstraknya yang berukuran besar-besar itu. Sungguh saya senang bisa ikut berkunjung ke rumahnya itu. Aneh dan sekaligus cerminan rumah seniman.




            Tapi ada yang menarik dalam kunjungan itu, ketika kami sama-sama melihat tayangan Ebiet G Ade, di televisi, dia bertanya pada saya, “Pira jumlahe rek, albume Ebiet?”
            Saya jawab dengan sekenanya, “Wah....ya wis huakeh, Rek!”
            “Iya....rek, awake dhewe, kalah akeh!” kata Leo Kristi.
            Dalam dialog itu, tampak bahwa Leo Kristi merasakan bahwa ia kurang produktif dalam karya album yang dibuatnya. Padahal seingat saya, kemunculan Leo Kristi, memang lebih dulu katimbang Ebiet G Ade. Tapi menurut saya pribadi, nasib memang tak selamanya tertib. Dan pilihan, serta kesunggguhan berkarya dalam berkesenian memang tidak harus sama. Leo Kristi, telah memilih jalur konser rakyat! Dan itu pilihan berat, tepat sekaligus bermatabat! Selamat, dan salut, Cak!

                        *                      *                      *
            Sosok yang suka pakai celana pendek, bertopi, bersepatu putih adalah gambaran Leo Kristi yang nyentrik ini. Dia suka pula mengikat rambutnya dengan ada bulu (lar) ayam atau burung (tak jelas) di sela rambutnya itu. Selalu senyuman ramah yang tersungging di bibirnya, jika bertemu siapa saja. Namun kenyentrikannya, tidak lepas dari persoalan sosial semacam mau takziah ketika seorang teman seniman meninggal dunia.


            Waktu itu, aku bersama dia ikut takziah pemakaman Mas Yunani Prawiranegara, yang dikuburkan di Surabaya utara. Selepas pemakaman, aku berjalan pulang bersamanya, melalui jalan setapak saja. Karena panas mentari menyengat kami berdua, berhentilah di bawah pohon kamboja dekat jalan setapak itu. Dari arah utara menuju ke selatan itu hanya jalan setapak, dan waktu itu akan lewat Prof. Dr. Tjuk Sukiadi yang sama-sama takziah.
            Lantas secara guyonan aku bicara sama dia, “Sik-sik.... nanti Pak Tjuk Sukiadi lewat jalan ini, apakah beliau akan menyapa Anda atau tidak? Jika tidak, maka kau memang tidak terkenal di kota Surabaya.”
            Leo menjawab,”Oke! Kita lihat saja nanti!” tandasnya.
            Ternyata ketika Pak Tjuk lewat, tidak menyapa, bahkan menoleh pun tidak!
            Setelah Pak Tjuk Sukiadi berlalu agak jauh, lantas kami berdua ngakak bersama-sama, dan berucap bareng-bareng, “Ternyata kita tidak terkenal di Surabaya!”
            “Hidup memang ternyata sungguh tidak dinyana. Kita bisa terkenal di blantika musik atau sastra, tapi tidak ada apa-apanya, ketika di blantika pemakaman semacam ini,” kataku sambil kami beriringan menuju parkiran.
            Leo Kristi hanya mengiyakan kata-kata saya tadi, sambil tertawa.
            Siang itu panas begitu menyengat, Leo Kristi pulang dengan motor Ninja warna hijaunya, dan aku numpak Honda lawas yang kupunya. Selamat jalan, Mas Yunani! Selamat jalan juga buat Leo Kristi!***(aming aminoedhin).

TENTANG LEO KRISTI



CERITA TENTANG LEO KRISTI
Oleh: Aming Aminoedhin

            Penghujung tahun lalu, tepatnya 22-27 Desember 2016, ketika Cak Poeng pameran tunggal seni rupa di Galeri Dewan Kesenian Surabaya. Entah hari keberapa pameran (lupa), saya mampir ikut nontok pamerannya, kebetulan bertemu dengan Leo Kristi. Waktu itu hujan memang membasahi kota Surabaya. Sejak selepas Isya hingga menjelang parak pagi tiba. Jalanan basah, dan aku enggan melangkah pulang ke rumah. Bincang lukisan terasa begitu indah! Lebih lagi ada si Leo Kristi yang juga baru saja pameran lukisan di sini.

            Pengunjung pameran, ketika itu memang tidak banyak jumlahnya. Sehingga kami bisa sangat leluasa berbincang panjang dengan Cak Pung, Saya, Leo Kristi, dan Widodo Basuki, serta Mr. X yang mengaku dari Madura. Secara kebetulan Mr. X kenal sekali dengan Cak Pung sejak lama. Sehingga perbincangan kian seru soal sketsa, lukisan, dan pameran lukisan.
            Dalam bincang panjang tersebut, Mr. X mengaku sebagai pemalsu lukisan, para pelukis terkenal Indonesia. Buat dia, hal itu biasa saja, dan tidak merasa berdosa. Saya, Leo Kristi, dan Widodo Basuki; jadi ngakak dibuatnya. Tidak hanya ngakak, tapi terbelalak menganga!
            “Kok masih ada umat kayak dia ya?” kami bertiga bertanya-tanya.
            Selanjutnya kian serulah, kami bertiga melontarkan pertanyaan-pertanyaan  kepada Mr. X yang ternyata tidak tahu persis siapa yang dihadapi waktu itu. Cerita tentang bagai-mana cara melukis persis seperti aslinya, dan kemudian cara menjualnya kepada kolektor lukisan. Bagaimana pula membeli kurator atau kritikus seni rupa. Termasuk bicara siapa kritikus seni rupa yang bisa dibayar, dan siapa pula yang tidak bisa dibayar. Bicara pula siapa kolektor yang suka terima lukisan palsu, dan banyak lagi tentang lukisan asli dan lukisan palsu. Sungguh, perbicangan lukisan seru kala itu.

            Di luar galeri DKS, hujan masih saja turun. Kian deras, dan kian pula kami bertiga merasa menemukan kawan baru yang asyik diajak bicara soal lukisan-lukisan. Bahkan telah berbatang-batang rokok kami sulut habis, cerita tentang lukisan palsu dan orang yang meng-aku pernah memalsu itu, belum juga habis ceritanya.
            Terselip juga perbincangan bisik-bisik saya dan Leo, bahwa orang ini gila juga. Bera-ni mengaku sebagai pemalsu lukisan pelukis terkenal. Bahkan ketika saya katakan pada Mr. X, bahwa yang dihadapi itu adalah Leo Kristi, dia baru terjaga. Tersadar, dan kemudian berkata, “Bagaimana kalau dia mau mengundang Leo Kristi di Madura?”
            Mr. X bilang, “Nama Leo Kristi bisa dijual di Madura,” katanya.
            Leo Kristi menjawab, “Ya, nanti sama Aming Presiden Penyair Jatim ini. Saya nyanyi, dan Aming Aminoedhin baca puisinya.”
            Kemudian Mr. X minta nomor hape Leo Kristi, dan berjanji akan mengundang kami ke Madura, untuk tampilan pentasnya. Tapi hingga Leo tiada (21/5/2017), tak ada kabar beritanya. Hanya angan-angan belaka!!!
            Lewat tengah malam, waktu itu hujan masih menetes, tapi tipis tinggal rimis saja. Sang troubador Leo Kristi pamit mau pulang, katanya “Aku mau packing Ming, esok pagi mau ke Bandung!”
            “Oh...ya selamat jalan, Cak! Semoga lancar dan sukses!” jawabku.
            Dengan sepeda motor maticnya, dia meluncur ke luar dari kompleks Balai Pemuda Surabaya. Malam terasa beku, meski merasa kehangatan bincang bersamanya penuh tawa, pada bincang terakhir kali di Balai Pemuda Surabaya itu. Akhir tahun 2016 lalu.
            Selamat jalan, Leo Kristi. Semoga senyummu terkembang walau kausendiri, seperti potongan syair lagumu “Kereta Laju” (serasa melayang serasa terbang senyumku terkembang walau kusendiri). *** (aming aminoedhin)



Minggu, 15 Januari 2017

KLIPING KORAN PPSJS SURABAYA

PPSJS
Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), telah banyak berkiprah dalam menumbuhkembangkan sastra Jawa di Jawa Timur, bahkan menjangkau Jawa Tengah dan Yogyakarta. Beberapa waktu lalu pernah menerbitkan buku kumpulan guritan dan cerkak yang dibacakan pengguritnnya di berbagai kota: Surabaya, Solo, dan Yogya. Berikut kliping koran yang saya punya, saya coba unggah di blogger saya. Semoga bermanfaat, bagi pembaca!




KLIPING-KLIPING KORAN TENTANG MALSASA


Selasa, 19 Juli 2016

LAKON ITU BERNAMA LENNON

LAKON ITU BERNAMA LENNON
catatan: aming aminoedhin


Sudah sejak lama, saya berkenalan dengan Lennon Machali. Beberapa kali saya ketemu, selalu ia pas mengikuti berbagai lomba seni: baik teater, fragmen budi pekerti, musikalisasi puisi atau baca puisi. Ia tidak ikut sendiri, tapi mengantarkan anak didiknya yang akan ikut berlomba.
Kebetulan beberapa kali pula, saya pas macak/bertindak sebagai kelompok dewan jurinya, dan secara kebetulan pula (seringkali) anak didiknya selalu jadi juara. Tidak hanya sekali dua, tapi berkali-kali memenangi juara seni lomba semacam ini. Baik di tingkat Kabupaten Gresik, kegiatan di Surabaya, dan bahkan di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Ini membuktikan bahwa Lennon, memang tidak pernah setengah hati menangani seni pertunjukan semacam ini. Barangkali berlatih dengan berdarah-darah, agar mimpi jadi juara itu teraih nanti.



Lennon Machali, kelahiran Gresik, 13 Maret 1953 ini memang lakon dalam setiap menggarap-pentaskan sebuah seni pertunjukan semacam teater, dan musikalisasi puisi. Tiada tanding, tiada banding! Terbukti, seperti yang telah saya tuturkan di atas, selalu juara dan juara lagi.
Bersama Lennon yang biasa jadi lakon ini, saya pernah satu panggung pentas teater bertajuk "Skolah Skandal" karya sutradara Akhudiat, pada 3 November 2011. Ketika itu yang ikut main ada: Deny Tri Aryanti, Wina Bojonegoro, Aming Aminoedhin, Yuyun Wahyuni (istri Lennon), Desemba, dan beberapa anak-anak siswa SMKI Surabaya. Lennon, benar-benar dadi lakon, karena ia memerankan dhalang dengan sangat bagusnya.
Lantas, sebagai juri lomba baca dan tulis puisi, saya pernah diajak Lennon Machali, bersama Herry Lamongan, jadi juri Lomba Tulis Baca Puisi bagi Guru TK/PAUD Muhammadiyah di kota Malang.
Dari sini lahirnya gagasan membuat kumpulan puisi bersama bertajuk "Gresla Mamoso" yang berisi puisinya: Lennon Machali, Herry Lamongan, Tengsoe Tjahjono, Aming Aminoedhin, dan R. Giryadi.
Kumpulan puisi ini kemudian dibacakan di kota: Batu, Gresik, Blitar, dan Lamongan. Sungguh sebuah kenangan yang teramat indah jika mengingatnya. Dan Lennon, selalu hadir dalam setiap perhelatan baca puisinya.
Lennon, juga tercatat kerap ikut berkonstribusi dalam gelaran acara saya yang bertajuk "Malam Sastra Surabaya" atau Malsasa. Begitu pula acara Tadarus Puisi Bulan Suci, yang pernah saya gelar  pada acara bulan-bulan Ramadhan. Ia, selalu siap jika diajak bersastra-sastra. Meski ia tahu, bahwa sastra,  hanyalah kegiatan yang banyak meruginya. Tapi hatinya tak pernah merugi. Terbukti, ia selalu tegar dan sabar dalam menjalani.
Beberapa kali, bersama Lennon Machali, juga tampil acara baca puisi di Rumah Budaya "Kalimasada" Blitar, milik Bagus Putu Parto dan Endang Kalimasada itu. Bahkan terakhir, masih ikut tampilan pada acara tasyakuran ultah perkawinannya, dengan menerbitka buku 'Jalan Sunyi Doktorandus Kartomarmo'.
Lennon benar-benar jadi lakon dalam setiap tampilannya. Lebih lagi kesabaran dan kebesarannya dalam menagani seni susastra. Tampilannya yang selalu low-profile itu, ternyata menyimpan keampuhan yang tiada tara. Tiada tanding tiada banding, lebih lagi di kotanya Gresik.
Kemarin, 18 Juli 2016, pukul 09.00 pagi; tokoh kita Lennon yang lakon ini, meninggalkan kita semua. Terasa tak percaya, tapi benar adanya. Sungguh, saya sebagai temannya, merasa kehilangan sosok seniman yang sabar, tapi punya impian yang besar ini.
Selamat jalan kawan! Semoga surga sebagai tempatmu! Amin!

Desaku Canggu, 19 Juli2 2016







Minggu, 19 Juni 2016

DALANE URIPKU PAK SUPRAWOTO



LITERASI BAHASA JAWA TETAP ADA
Oleh: Aming Aminoedhin*


            Ketika pada hari Minggu (21/2/2016) rubrik Ruang Putih - Jawa Pos, memuat artikel tentang ‘Stagnasi Edukasi Sastra Jawa’ tulisan Ari Kristianawati; menyulut  ingatan saya akan kegiatan literasi berbahasa Jawa, yaitu peluncuran buku ‘Dalane Uripku’ yang selanjutnya disingkat ‘DU’ karya Suprawoto. Apa yang menarik dari bahasa dan budaya Jawa? Barangkali wejangan atau pitutur luhurnya yang selalu diusung dalam literasi bahasa Jawa tersebut, sehingga tetap tertulis di dalamnya.
            Berbicara soal literasi bahasa Jawa, seorang redaktur Majalah Jaya Baya Surabaya, Widodo Basuki, pernah mengatakan bahwa, “ Ketika ia membuka rubrik calon pengarang bagi para siswa, maka cerita yang dikirimkan ke redaksi kebanyakan bicara soal unggah-ungguh atau tata krama, kejujuran, dan budi pekerti luhur dalam kehidupan ini. Meskipun ceritanya tersebut ditulis dalam bahasa Jawa ngoko.”
            Kembali ke persoalan peluncuran buku DU yang ditulis dalam bahasa Jawa, dilun-curkan pertama kali di Mercure Grand Mirama Hotel – Jalan Raya Darmo – Surabaya, 12 Februari 2016 lalu. Letaknya di tengah atau jantung kota Surabaya. Sungguh terasa wah..., jika tak bisa dikatakan mewah. Buku yang diterbitkan oleh PT Panjebar Semangat Surabaya, dicetak pertama Februari 2016, dengan tebal 640 halaman tersebut, cukup eksklusif atau mewah - semewah tempat acara peluncurannya.
            Tampak banyak undangan hadir pada kesempatan tersebut, baik kalangan akademis, seniman, dan sastrawan, baik Indonesia maupun Jawa. Acara peluncuran DU itu terasa cair, ketika pemandunya Suko Widodo dan Priyo Aljabar. Banyak guyonan parikena dilontarkan, hingga dialog jadi terasa segar. Bahkan saya sebagai tamu didaulat pula untuk membacakan 2 geguritan guna meramaikan acara.
            Jika harus dikritisi acara ini, mengapa acaranya digelar di Mercure Hotel? Mengapa tidak diselenggarakan di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Taman Budaya Jatim, atau di kampus-kampus? Utamanya kampus Unesa yang mempunyai jurusan Bahasa Jawanya? Sebab acara literasi bahasa Jawa diadakan di hotel, terasa membuat jarak dengan orang Jawa kebanyakan yang suka bahasa dan sastra Jawa. Mau datang dan bergabung terasa kikuk, bahkan mungkin canggung.
            Sebaiknya acara ini memang harus digelar kembali, karena pentingnya isi buku ini,  dengan mengetengahkan juru bedah buku yang mumpuni bahasa dan sastra Jawa, seperti misalnya: Dr. Suharmono Kasijun atau Dr. Tengsoe Tjahjono, yang kebetulan keduanya dari Unesa. Atau siapa saja yang punya kapasitas mengulasnya, seperti redaktur Jaya Baya, Widodo Basuki.

Dalane Uripku

            Pada awalnya membaca buku setebal 640 halaman itu, memang terasa agak terasa malas. Namun setelah kita coba mulai membacanya, akan terasa cair mengalir tanpa terasa. Mengapa demikian? Ditulis dalam bahasa Jawa ngoko secara bercerita, tanpa harus meng-gurui pembacanya. Lebih lagi bagi orang Jawa yang gemar membaca, pasti akan terasa enak, dan kita (pembaca) mendapatkan banyak inspirasi yang apik dan menarik. Kenapa menarik?
Ada beberapa hal yang terasa lucu, dan bahkan mengingatkan kita sewaktu masih sekolah dulu. Ada guru yang galak, dan guru yang halus atau biasa-biasa saja.
            Simak potongan kalimat hal. 111 berikut ini: Beda karo Pak Supeno kang alus kaya Arjuna. Yen Pak Sukiran priyayine tegas, trengginas, lan kawentar kereng. Yen ana murid kang ora nggatekake utawa ora apal isine wulangan, biyasane dithuthuk nganggo githik. Mula bocah-bocah yen wis mlebu kelas ora ana kang wani cemuwit kae. (Beda sama Pak Supeno yang halus seperti Arjuna. Pak Sukiran orangnya tegas, trengginas, dan terkenal galak. Jika ada murid tidak memperhatikan atau tidak hafal isi pelajaran, biasanya dipukul pakai bilah kayu. Makanya anak-anak jika sudah masuk kelas tak berani bersuara sama sekali).

            Buku berjudul DU ini berkisah autobiografinya Suprawoto, mantan Kepala Dinas Infokom Jawa Timur (2002-2005). Barangkali orang media, utamanya wartawan cetak, elektronik (radio, televisi, dan online) yang ada di Surabaya, pasti kenal tokoh yang satu ini.
Apa lagi ketika,  ia jadi kepala biro humas PON 2000 di Jawa Timur, wartawan luar Jatim dan bahkan mancanegara pasti kenal beliau.
            DU mengisahkan perjalanan hidup Suprawoto, sejak dari desanya Maospati – Magetan, sekolah TK hingga SMA di daerahnya, hingga kuliah di berbagai jenjang perguruan tinggi berbeda, sampai meraih gelar doktor yang dicita-citakannya. Kisah tentang rumah tangga yang diarungi bersama istri, Titik Sudarti dengan segala kendalanya, serta bercerita pula tentang bagaimana ia bekerja yang salah jalur di DPU, lantas pindah ke Deppen, hingga terakhir menjadi Sekjen Kominfo – RI.
            Menceritakan dengan gaya penulisan bahasa Jawa yang santai, cair, dan mengalir itulah yang membikin pembaca yang pada awalnya enggan membaca, jadi tak mau berhenti untuk menyelesaikan membaca buku itu. Lebih lagi bagi orang Jawa yang sudah berumur sekitar 40 hingga 50-an ke atas, pasti akan terasa diajak tamasya oleh Pak Prawoto. Pembaca seperti diajak untuk merasa tabah ketika datang musibah, dan bersyukur ketika mendapatkan anugerah. Tidak hanya itu, pembaca juga diajak untuk tetap berusaha tanpa ada kata putus asa.
            Membaca buku ini serasa kita mendapatkan banyak pitutur luhur, untuk selalu berbuat baik kepada sesama, berjuang tanpa pantang menyerah, serta tidak lupa harus selalu bersyu-kur,dan berdoa. Sekaligus ini membuktikan bahwa literasi tulisan bahasa Jawa selalu saja bicara soal-soal budi pekerti luhur, seperti yang dikatakan Widodo Basuki di muka.
            Dalam buku autobigorafi Suprawoto yang ditulis menggunakan bahasa Jawa ini, membuktikan juga bahwa literasi Jawa tetap eksis. Artinya keberadaan literasi Jawa terus berlangsung, meski bukan berupa sastra.

Literasi Bahasa Jawa Tetap Ada

            Jika saja, kita baru-baru ini kita kehilangan tokoh sastrawan Jawa, Suparto Brata, yang meninggal dunia karena usia; bukan berarti kita lantas dengan serta merta takut literasi bahasa Jawa akan mati. Tidak! Buktinya masih ada tulisan autobiografi berbahasa Jawa, tulisan Suprawoto ini. Sedangkan bentuk karya sastra Jawanya, teman-teman komunitas Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), dan Sanggar Triwida Tulungagung; beberapa tahun terakhir ini tetap bertahan dengan menerbitkan buku-buku sastra Jawa.
            Berdasar uraian di atas, menjelaskan bahwa literasi bahasa Jawa, ternyata masih tetap memuat pitutur luhur atau budi pekerti luhur  (meski bukan berupa sastra) kepada pembaca, sekaligus membuktikan bahwa literasi bahasa Jawa tetap ada, dan terus ada!**

Desaku Canggu, 22 Februari 2016



* penyair/penggurit, sekretaris ppsjs – tinggal di mojokerto.

Senin, 08 Februari 2016

LUDRUK PUISI FSBS LUNCURKAN "DKJS"

PENTAS “DENDANG KECIL  JALAN SUNYI”
di TEMBI –YOGYA dan  KAFE GELASS SURABAYA

            Peluncuran buku kumpulan puisi “Dendang Kecil Jalan Sunyi” terbitan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) 2015, telah digelar di dua kota. Pertama di Tem-bi Rumah Budaya – Sewon – Bantul - Yogyakarta,   29 Otober 2015; dan Kafe Gelass – Jalan Kayun 16-18 Surabaya , 22 Desember 2015 lalu.  Buku kumpulan puisi “Den-dang Kecil Jalan Sunyi” yang berisi  puisi-puisi para penyair Jawa Timur, kebetulan mereka pernah jadi juri lomba bidang sastra (baik menulis dan baca puisi, cerpen, dan teater) tingkat Provinsi Jawa Timur.
            Mereka itu, antara lain: Jack Parmin, R. Giryadi, Aming Aminoedhin, Ayomi Tyas Wening (Suharmono Kasijun), Herry Lamongan, Bagus Putu Parto, Ida Nurul Chasanah, Lennon Machali, R. Djoko Prakosa, Tengsoe Tjahjono, Widodo Basuki, dan Tjahjono Widarmanto.  

Tembi Rumah Budaya Yogya

            Peluncuran buku di Yogyakarta, dalam tajuk Sastra Bulan Purnama ke-49 Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul; digarap dengan tam-pilan Ludruk Puisi ala FSBS yang bikin penonton tertawa-tawa atas tampilan kawan-kawan penyair. Ada pun yang tampil di Tembi adalah: Jokasmo (potolan: Srimulat), R. Giryadi, Aming Aminoedhin, Widodo Basuki, Tjahjono Widarmanto, Lennon Machali, Bagus Putu Parto, dan Endang Kalimasada.
            Lakon yang diangkat malam itu ’Joko Sambang’ bikin meriahnya malam.
            Pentas semalam di Yogyakarta tersebut, secara tampilan cukup mendapatkan respons positif dari masyarakat sastra Yogyakarta. Terbukti, meski tampil di acara paling terakhir, penonton tetap padat memenuhi amphytheater-nya rumah budaya tersebut. Bahkan tampilan ludruk puisi menjadi semacam ‘gong’ acara malam itu.

            Sungguh, awak ludruk FSBS juga cukup puas atas tampilan malam itu.  Apa
lagi ada juga bintang perempuannya yang ikut baca puisi, bernama Endang Kali-masada. Bahkan Tengsoe Tjahjono, yang berada di Seoul – Korea Selatan – suaranya bisa didatangkan untuk membacakan salah satu puisi yang termuat di kumpulan  ‘Dendang Kecil Jalan Sunyi’ tersebut.



Kafe Gelass Surabaya

            Selepas tampil di Yogya,  awak ludruk FSBS merasa perlu meluncurkan kem-bali  buku kumpulan puisi “Dendang Kecil Jalan Sunyi” di kota Surabaya. Terpilih-lah, Kafe Gelass, Jalan Kayun 16-18 Surabaya, pada 22 Desember 2015. Lakon yang diangkat adalah ‘Suminten Ilang’ yang diperankan Deny Tri Aryanti.

            Awak yang tampil malam itu, antara lain: Jokasmo, R. Giryadi, Aming Ami-noedhin, Widodo Basuki, Deny Tri Aryanti, Ida Nurul Chasanah, Endang Kalimasa-da, Bagus Putu Parto, Suharmono Kasijun, dan R.Djoko Prakosa. Mereka awak ludruk FSBS tampaknya memang sudah terbiasa di atas panggung. Sehingga, mereka semua tampak tak canggung. Bahkan secara improvisasi gerak maupun dialog sepertinya begitu mengalir cair dalam gelaranpentasnya. Lebih lagi, ada potolan Srimulat, sang Jokasmo, ikut meramaikan pentas malam itu. Kian ger-geran, dan tertawa tanpa jeda.





            Sebelum gelaran ludruk puisi, sempat Bokir Surogenggong,  pengelola kafe memberikan basa-basi selamat datang. Selanjutnya, gelaran ludruk dimulai dengan kidungannya R. Giryadi. Selanjutnya cerita mengalir dengan enak, dan penuh tawa gelak penonton yang hadir malam itu. Kebetulan, tanggal 22 Desember 2015 adalah hari Ibu, dan sekaligus ulang tahun Aming Aminoedhin; maka para perempuan awal ludruk FSBS memberikan bunga merah-putih tanda ucapan selamat.

            Yang pasti, pentas Ludruk Puisi ala FSBS dalam rangka peluncuran buku ’Dendang Kecil Jalan Sunyi’ di dua kota besar, Yogya dan Surabaya; cukup sukses digelarpentaskan oleh awak ludruknya. 
Berikutnya, akan juga tampil di Kafe Pustaka , Universitas Negeri Malang, menggelar lakon "Felix Mencuci Piring" karya Tengsoe Tjahjono.  Sampai jumpa di Kafe Pustaka Malang,  Salam!  -  dari Desaku Canggu, 25 Desember 2015. (mat)**