Kamis, 30 Mei 2013

DONNA, SANG JUARA


DONNA ASAL BLITAR
SANG  JUARA CIPTA DAN BACA PUISI HAN 2013
TAMPIL EKSPRESIF


Melalui penilaian yang diketuai oleh Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. berserta dua anggota juri Dr. Suharmono Kasijun, M.Pd. dan  Drs. Aming Aminoedhin; nama Donna Mega Ayudia Anwar – SDN Kepanjen Lor 2 dari Kota Blitar, meraih sebagai juara pertama lomba cipta dan baca puisi Hari Anak Nasional Tingkat Jawa Timur 2013. Juara lainnya masing-masing diraih: juara II dan III masing-masing: Moch Fakri A – SDN Kranggan 1- asal Kota Mojokerto, dan Amelia Agustina – SDN Jambekumbu 1 – asal Kab. Lumajang.
            Juara harapan I, II, dan III diraih oleh: Devin Elysia D. - SDN Mangkujayan 1 (Kab. Ponorogo), Galuh Ajeng Pramesti - SDN Cengkok 1 (Kab. Nganjuk), dan Syabella Rachma Diaocta T – MIN Manisrejo (Kota Madiun).
Seperti dikatakan dalam sambutan pembukaan, oleh ketua Kepala Dikbangkes, Dra. Effi, bahwa, “Pendidikan seni di sekolah merupakan satu aspek yang teramat penting, karena punya peran dalam pembentukan pribadi siswa yang harmonis antara: logika, etika, dan  estetika dalam pengembangan kreativitas, serta dapat menumbuhkan kesadaran, serta kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya bagi siswa.” Lebih lanjut, Effi, menandaskan, “Hal inilah yang kemudian melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, bidang Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Sekolah (Dikbangkes) menyeleng-garakan Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Sekolah Dasar se-Jatim.”
 Lomba berlangsung di Kantor Dikbangkes, Jalan Jagir Sidoresmo V, Surabaya; 21 Mei 2013 lalu. Adapun cabang seni yang dilombakan antara lain: Lomba Cipta dan Baca Puisi, Festival Musik Tradisi, Lomba Melukis, dan Membatik. Dari tangkai lomba cipta dan baca puisi, yang berlangsung di lantai III Kantor Dikbangkes, diikuti hanya 19 peserta dari seluruh daerah Jawa Timur. Peserta lomba tidak dibedakan pria maupun wanita. Artinya, daerah tingkat dua boleh mengirimkan peserta lelaki atau perempuan. Sebenarnya, harus 38 siswa yang ikut lomba ini, mewakili daerahnya. Tapi tahun ini, hanya ada 19 daerah yang mengirimkan pesertanya.
 
            Melalui proses awal, yaitu lomba penulisan puisinya yang berdurasi 1 jam, lantas istirahat selama 15 menit, kemudian dilanjutkan baca puisinya. Mereka para siswa peserta lomba cukup antusias mengikuti  kegiatan lomba.
            Rata-rata peserta telah menulis, dan membacakan puisi dengan baik. Hanya ada beberapa puisi yang masih terasa bukan puisi, tapi semacam slogan atau iklan budaya.
Tema besar yang diangkat dalam lomba tulis puisi tahun ini adalah ‘kebudayaan Indonesia’, sedangkan tema saat lomba adalah ‘mencintai budaya kita, Indonesia.’
            Secara tampilan dalam pembacaan puisi, Donna, sang juara pertama asal Kota Blitar, memanglah sangat eskpresif dalam pembawaannya. Sedangkan naskah puisinya juga cukup bagus dalam penggarapannya, sesuai tema yang diminta. Sedangkan diksi yang dipakai penulisan puisinya juga cukup kaya dan bagus. (aa)***

MALAM CHAIRIL ANWAR 2013


MALAM “CHAIRIL ANWAR” 2013
DEWAN KESENIAN SURABAYA               

 
Di penghujung bulan April 2013, tepatnya hari Minggu 28 April 2013 telah digelar acara “Malam Mengenang Chairil Anwar” di Galeri Surabaya, Dewan Kesenian Surabaya. Acara yang diprakarsai Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Sanggar Merah Putih Surabaya (SMPS), dan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) ini; mendapatkan respons positif dari beberapa penulis sastra di Jawa Timur.
Beberapa penulis yang ikut gabung hadir dan tampil pada malam itu: M. Anis, Toto Sonata, Aming Aminoedhin, Andi Pocek, Wina Bojonegoro, Okta Vey, Lenon Machali, Uyun S. Wahyuni (Gresik), R. Djoko Prakosa, Ardi Susanti (Tulungagung), Suyitno Ethexs (Mojokerto), Dukut Imam Widodo, Imam Haryadi, Widodo Basuki (Sidoarjo), Saiful Hadjar, Heri Nuhun, serta hadir pula dua doktor sastra: Tengsoe Tjahjono dan Suharmono Kasijun (Sidoarjo).

Dalam sambutannya, ketua DKS, Sabrot D. Malioboro, antara lain mengatakan bahwa kegiatan semacam ini memang harus selalu diadakan, guna menumbuhkembangkan apresiasi sastra di Surabaya dan Jawa Timur. Chairil Anwar, adalah sosok maestro sastra Indonesia. Beliaulah angkatan sastra 1945, yang kita semua haruslah mengenang dan mengingat atas jasanya dalam perkembangan sastra Indonesia. Ke depan, Sabrot, juga akan menampilkan para sastrawan perempuan, komunitas sastra Jawa, dan penulis sastra lainnya guna mengisi acara di Dewan Kesenian Surabaya ini; dalam tajuk “Halte sastra.”
Malam itu yang hadir dan tampil, hampir semuanya membaca puisi-puisi Chairil Anwar, dari puisi berjudul: Aku, Senja di Pelabuhan Kecil, Prajurit Jaga Malam, hingga puisi legendaris berjudul Krawang Bekasi. Rata-rata mereka membaca dengan apik dan menarik.

Seorang penulis kenamaan Surabaya, Dukut Imam Widodo, malam itu berorasi tentang riwayat hidup sang maestro Chairil Anwar. Dukut, bercerita tentang pacar Chairil yang bernama Sumirat, perempuan asal Paron, Ngawi; yang teramat digandrunginya. Dalam sajak berjudul “Sajak Putih”-nya ia mencantumkan namanya dengan tulisan: buat tunanganku Mirat.
Menurut Dukut, percintaannya dengan Mirat ini berakhir tragis, karena ia tidak jadi menikahi Sumirat. Selengkapnya, puisi itu berbunyi:

SAJAK PUTIH
Chairil Anwar


            * buat tunanganku Mirat

bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…


18 Januari 1944
 
Selepas acara pembacaan puisi-puisi Chairil Anwar, dilanjutkan dengan diskusi tentang ketokohan sang maestro sastra Indonesia. Beberapa orang ikut bicara, antara lain: Toto Sonata, Dr. Suharmono Kasijun, Sabrot D. Malioboro, Aming aminoedhin, Wododo Basuki, M. Anis, dan banyak lagi.
Malam itu, sungguh malam sastra yang cukup hidup dalam pembacaan dan diskusinya. Selamat Hari Sastra, semoga kita tidak melupakan sang sastrawan kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini. Salam budaya! (mat)***

Jumat, 26 April 2013

MENGENANG CHAIRIL ANWAR

MALAM MENGENANG
SANG MAESTRO SASTRA INDONESIA
"CHAIRIL ANWAR" 28 APRIL 2013

Chairil Anwar
penulis puisi “AKU”, “KRAWANG BEKASI”, “DOA” dan banyak lagi ini
lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, ia meninggal di ibu kota
Jakarta, 28 April 1949 pada usia 26 tahun, tepatnya tanggal ini pula biasanya sering
dibacakan puisi-puisi beliau oleh komunitas sastra di penjuru negeri, ia dijuluki
sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair
terkemuka Indonesia. Maestro penyair Indonesia, tiada tanding tiada banding.
Dalam rangka memperingati Hari Sastra 2013, Dewan Kesenian Surabaya (DKS), kerja sama dengan Sanggar Merah Putih Surabaya (SMPS), dan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) akan menggelarbacakan puisi Chairil Anwar, 28 April 2013 di Galeri Surabaya, Kompleks Balai Pemuda Surabaya, pukul 19.45. WIB.
Siapa saja boleh hadir dan tampil baca puisi!
Berikut puisi-puisi Chairil Anwar untuk referensi bacanya!
(aming aminoedhin)*



CINTAKU JAUH DI PULAU

Chairil Anwar

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!

Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946



SENJA DI PELABUHAN KECIL

Chairil Anwar

* buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.


1946



DERAI-DERAI CEMARA

Chairil Anwar


cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949











*** sajak-sajak ini adalah bahan untuk baca puisi pada peringatan
“malam mengenang chairil anwar”
digelar oleh dewan kesenian surabaya (dks), sanggar merah putih surabaya (smps),
serta forum sastra bersama surabaya (fsbs), 28 april 2013

di galeri surabaya, dewan kesenian surabaya

pukul 19.45. wib. (aa)*

















Selasa, 26 Februari 2013

MH ISKAN & TEATER PERSADA NGAWI

Mh. Iskan identik Teater Persada Ngawi    *** Sutradara dan Pimpinan Teater Persada
oleh: aming aminoedhin

PrologLelaki tua yang sederhana dengan rambut yang sudah banyak beruban itu, ditemui penulis di rumahnya di Jalan Trunijoyo 90 Ngawi. Dengan sangat santainya ia bercerita banyak tentang komunitas dan dirinya, yaitu Teater Persada Ngawi.

Lelaki tua yang berkacamata itu, bernama asli Muhammad Iskan; kemudian kata Muhammad disingkat dengan sebutan Mh untuk inisial menulis karya sastra atau pada lukisan-lukisan yang dihasilkannya. Mh. Iskan lahir di Ngawi, 11 November 1942. Selain memakai nama Mh. Iskan, lelaki ini juga memakai julukan lain Esko. Ayahnya seorang pensiunan Kantor Departemen Agama Kabupaten Ngawi, bernama Muh. Iskak (1921), ibunya bernama Mainah ( lupa kelahirannya). Keduanya kini sudah almarhum.
Istrinya yang seorang bidan terkenal di kota Ngawi, bernama Sutidjah (Ngawi, 9 November 1941). Mh. Iskan tidak mempunyai seorang pun anak, oleh sebab itu ia banyak menghidupi sepupu-sepupunya.

Sekolah, Kerja, dan Ulah SeniDitanya soal sekolah, ia mengatakan bahwa pendidikan yang pernah ditempuh selama ini adalah lulus Sekolah Dasar di Ngawi (1956), lulus SMP di Madiun (1959), dan SMSR di Yogyakarta (1965). Selain pendidikan formal, Iskan juga pernah mengikuti pendidikan nonformal, seperti: Kursus Tari Bagong Kussudiardjo (Yogyakarta), Berlatih Teater dan Seni Rupa di Sanggar Bambu (Yogyakarta), bermain teater bersama Putu Wijaya dan Arifin C. Noer di Teater Mandiri dan Teater Kecil (Jakarta).
Ia tidak banyak punya latar belakang pekerjaan, akunya, karena selama ini Mh. Iskan tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi. Selain itu, ia banyak menulis, melukis dan bermain drama, serta melatih drama dan melukis bagi rekan-rekannya di Teater Persada Ngawi. Hingga ia pensiun, Mh. Iskan mempunyai jabatan sebagai Penilik Kebudayaan di Kecamatan Ngawi.

             Sedangkan ulah seni dan budaya yang pernah dilakukan antara lain: melukis, menulis sastra secara otodidak, kemudian bertemu dengan berbagai komunitas, termasuk komunitas teater. Pada awalnya menulis puisi, membuat sketsa, cerita pendek, dan naskah drama, yang kesemuanya ditulis dengan media bahasa Indonesia dan Jawa.
Tulisannya pertama kali dimuat media-massa pada tahun 1969, lupa nama korannya. Hingga kini honorarium yang diterima terakhir Rp 300.000,00 (Tiga Ratus Ribu Rupiah).
Menurut Iskan, bahwa dengan berorganisasi dengan berbagai komunitas, ia banyak mendapatkan inspirasi untuk menulis karya sastra dan ide untuk beberapa lukisannya.
Komunitas yang pernah diikutinya antara lain: Teater Mandiri dan Teater Kecil (Jakarta), Sanggar Bambu (Yogya), Etsa Divina Artis Magistra (Ngawi), Teater Persada (Ngawi), dan Remaja Masjid di Ngawi.
Naskah puisinya terkumpul dalam kumpulan puisi bersama rekannya: Tanah Persada, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Surat Dari Ngawi, dan banyak lagi. Puisinya termuat di koran Sinar Harapan, Suara Karya, dan sketsa termuat di Majalah Sastra Horison (Jakarta).
Dalam dunia kesastraan, Iskan sering menjadi juri lomba baca dan tulis puisi di Ngawi, juri lomba drama di Surabaya, menjadi sutradara teater Persada, dan sutradara film garapan BKKBN Jawa Timur (1985), film KPU Ngawi (2004), dan film Dinas Kesehatan Ngawi (2005). Prestasi yang pernah disandang adalah dua kali sebagai sutradara terbaik pada Festival Drama se Jawa Timur tahun 978 dan 1983. Sedangkan pada tahun 1983 tersebut, Teater Persada Ngawi tidak hanya mendapatkan predikat penyutradaan terbaik, akan juga mengangkat salah satu aktornya mendapat predikat aktor terbaik, atas nama Aming Aminoedhin.
           Melukis dan menulis sastra, kata Mh. Iskan akan terus dilakukan hingga ajal tiba, karena tanpa menulis dan melukis, hidup terasa hampa tanpa makna.

Sejarah dan Prestasi Teater PersadaDi ruang tamu rumahnya yang kebak terpajang lukisannya, penulis menanyakan tentang Teater Persada Ngawi, dengan antusias Iskan menjawab, dan bercerita tentang komunitas yang dipimpinnya tersebut.
Berbicara sejarah komunitas ‘Teater Persada’ Ngawi, cukuplah panjang perjalanannya, katanya mengawali. Menurutnya ‘Teater Persada’, berawal dari komunitas para pelajar yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Ngawi, tahun 1960-an. Dari komunitas ini, kemudian terbentuklah apa yang dinamakan komunitas bernama “Himpunan Pecinta Sastra Etsa’ kemudian lebih dikenal kelompk ‘Etsa Divina Artis Magistra’ yang merupakan gabungan para pelajar PII tersebut, dengan membuat sebuah kelompok seni pertunjukan, menampilkan berbagai cabang seni. Di antaranya: pentas keroncong, drama, dan baca puisi. Beberapa nama yang aktif di komunitas ini adalah: Anwaroeddin, Suwandi Black, Mh. Iskan, Ummi Haniek, Rodiyah, Sutomo Ete, Gisran, Rosyid Hamidi, Wahab Asyhari, Salimoel Amien, A. Mukhlis Subekti, M. Har Harijadi, Heru, Aming Aminoedhin, Djoko Mulyono, Ratih Ratri, Susilowati, Siti Alfiana Latief, Agnes Maria Soejono, dan banyak lagi.
Pada mulanya, kata Iskan, komunitas ini tampil di komunitasnya sendiri, Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Ngawi, tapi pada perkembangannya bisa mementaskan seni pertunjukannya di luar komunitasnya. Misalnya diundang di Bupati Ngawi, pentas drama di pendapa Kabupaten Ngawi.
Berawal dari intensnya komunitas ini berkumpul dan latihan seni pertunjukan inilah yang kemudian memunculkan ide memberi nama komunitas, yaitu ‘Komunitas Teater Persada’ pada tahun 1978. Pada waktu itu, kata Mh. Iskan, komunitas ini akan mengikuti Lomba Drama se Jawa Timur di Surabaya.
Susunan kepengurusan, Mh. Iskan, terpilih sebagai ketuanya; dan M. Har Harijadi menjadi sekretaris. Beberapa nama yang ikut jadi pengurus antara lain: Salimoel Amien, A. Mukhlis Subekti, Wahab Asyhari, dan Suwandi Black.
Markas atau pangkalan dari Komunitas Sastra Teater Persada adalah Jalan Trunojoyo 90, Ngawi; yang merupakan rumah pribadi Mh. Iskan. Sedangkan latihan-latihan drama, dan baca puisi, biasanya dilaksanakan di pendapa Paseban WR. Soepratman Widyodiningrat, yang berada di depan Kantor Bupati Ngawi. Alternatif lain dalam penyelenggaraan latihan drama dan puisi, berada di halaman masjid besar Ngawi atau di rumah AM. Subekti di dekat masjid.
Dalam aktivitas pentas drama, kenangnya, ‘Komunitas Teater Persada’ tidak hanya pentas drama panggung, tapi juga drama radio di RKPD (Radio Khusus Pemerintah Daerah) Kabupaten Ngawi, dan Radio Al-Azhar (Radio Swasta milik Pelajar Islam Indonesia) Cabang Ngawi.
Selain pentas drama radio, ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi, juga pernah membuat video-film bekerja sama dengan BKKBN Jawa Timur, dengan KPU Kabupaten Ngawi, dan instansi pemerintah di Kabupaten Ngawi.
Pentas drama panggung ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi tidak hanya di kotanya sendiri Ngawi, dan berulang kali; akan tetapi juga tercatat pernah pentas di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo, Surakarta, Taman Budaya Jawa Timur, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA), Dharmahusada Barat, Surabaya, Taman Budaya Jawa Tengah di Surabaya; dan Taman Budaya Yogyakarta.
Mh. Iskan sebagai ketua komunitas, ketika teman-teman Persada tidak lagi bisa diajak bermain, maka dia memainkan sendiri sebuah naskah monolog karya Putu Wijaya berjudul ‘Mulut’. Pentas monolog berdurasi sekitar satu jam ini, telah digelarpentaskan 5 kali pertunjukan. Pentas pertama di depan siswa-siswa SMAN 1 Ngawi, MAN Ngawi, Dewan Kesenian Surabaya, dan SMAN 2 Ngawi; pada tahun 2006. Sedangkan tahun 2007 dipentaskan di depan mahasiswa Universitas Widya Mandala Madiun (tidak ingat tanggal dan hari pentasnya).
Naskah-naskah drama yang dipentaskan oleh ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi, kebanyakan memang naskah yang ditulis dan disutradarai sendiri oleh ketuanya, Mh. Iskan; kecuali naskah pementasan dalam rangka lomba drama se-Jawa Timur.
Dalam rangka lomba pementasan drama se-Jawa Timur, ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi, pernah mendapatkan predikat terbaik (sutradara dan kelompok) di tahun 1978; serta sutradara, kelompok, dan aktor terbaik pada tahun 1983. Secara catatan prestasi ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi sudah memenangkan dua kali kemenangan di tingkat Jawa Timur, yaitu 1978 dan 1983. Belum lagi, telah beberapa kali para anggotanya memenangkan beberapa kali lomba baca dan menulis puisi di berbagai lomba.
Aktivitas dari ‘Komunitas Teater Persada’ Ngawi memang tak pernah berhenti, bahkan saya sendiri, Mh. Iskan, tetap bermonolog sendiri serta pentas di berbagai tempat dan komunitas lain. Di samping itu, Mh. Iskan, juga masih melukis dengan corak lukisan gaya ‘Sanggar Bambu” Yogyakarta, di mana dulu ia termasuk anggota komunitas itu.

Epilog


       Di penghujung wawancara, Mh. Iskan, merasa kehilangan atas meninggalnya M. Har Harijadi, salah satu teman diskusi seni, serta termasuk tokoh kehumasannya Teater Persada Ngawi, yang tak pernah berhenti terus menyemangati pentas-pentas teater dan monolognya. Dia, Harijadi, katanya, orangnya tak pernah lelah dalam mengkomunikasikan kegiatan Teater Persada Ngawi ke media-massa, bahkan hanya lewat SMS (pesan singkat) hand-phone. Kini Mh. Iskan masih tetap aktif melukis di rumah, dan menulis sastra.
Dari hasil wawancara ini, Mh. Iskan dan Teater Persada Ngawi, telah banyak melakukan kegiatan seni dan budaya di kotanya. Dan komunitasnya telah banyak memberikan inspirasi dan sugesti seni budaya kepada teman-teman seniman lainnya, di tanah Ngawi yang sepi itu. Teater Persada identik dengan Mh. Iskan, dan Mh. Iskan identik Teater Persada. Mh. Iskan mendapatkan penghargaan seni bidang teater dari Gubernur Jawa Timur tahun 2008 ini. Sebuah penghargaan yang layak bagi beliau, karena beliau berkesenian tanpa lelah, tanpa merasa patah, apa lagi kata kalah. Meski mungkin berkesenian hingga berdarah-darah, tapi seni budaya harus terus bersuara. Tak ada kata kalah atau menyerah, bila bicara soal seni budaya, tak ada dalam kamus hidupnya. Selamat dan sukses selalu! (diperbaharui, bersama foto-foto aming.syair@gmail.com - 26/2/2013).

Senin, 25 Februari 2013

PORSENI I GURU TK AISYIYAH JATIM 2013


PORSENI GURU TK BA JATIM
Ajang Kreativitas Guru TK Bustanul Athfal Jatim


Porseni Pertama Para Guru Bustanul Athfal (BA) Aisyiyah se-Jawa Timur, baru-baru ini diselenggarakan di Rusunawa ‘Sang Surya’ Universitas Muhammadiyah Malang, Jalan Karya Wiguna 370 Tegalgondo, Karangploso, Malang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, tanggal 8-9 Januari 2013 tersebut melibatkan  sebanyak 338 guru TK BA se-Jawa Timur.
Porseni I Guru BA Aisyiyah se Jawa Timur ini,  bertemakan, “Melalui Porseni Kita Tingkatkan Sumber Daya Insani Ikatan Guru Bustanul Athfal Aisyiyah Jawa Timur Yang Berkemajuan.” Sedangkan tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai ajang kreativitas, meningkatkan sumber daya guru, dan sekaligus tali silaturahim antarguru Bustanul Athfal Asyiyah se-Jawa Timur.

 

Adapun yang kegiatan lomba porseni ini meliputi: Musabaqoh Tilawatil Qur’an, Membuat Buku Cerita Bergambar, Membuat Alat Permainan Edukatif (APE) Bidang Sains, Cipta dan Baca Puisi, Kaligrafi, Pidato, dan Bercerita. Sedangkan olahraganya, adalah lomba senam fantasi berdasar cerita Guru.
Kegiatan yang melibatkan para Guru TK BA se-Jawa Timur tersebut, berlangsung meriah, dan dapat berlangsung dengan sukses. Hal ini dikarenakan mereka para guru ditempatkan dalam satu lokasi, Rusunawa Sang Surya, sehingga interaksi antara para guru dari berbagai daerah bisa terjalin dengan baik. Sekaligus bisa terjalin tali silaturahim secara intens sekali.


tema yang diusung:
MELALUI PORSENI  I KITA
TINGKATKAN SDI IGB                 
AISYIYAH
JAWA TIMUR YANG
BERKEMAJUAN
2013


          Dalam ajang lomba tulis dan baca puisi, tampil sebagai dewan juri: Aming Aminoedhin, Lennon Machali, dan Herry Lamongan. Menurut  Aming, sebagai ketua dewan juri dikatakan, bahwa kemampuan rata-rata para guru TK BA se-Jawa Timur, dalam hal baca puisi, cukup baik. Tapi, ada beberapa kelemahan, terutama dalam hal penulisan puisinya. Sehingga, mereka perlu diberikan semacam pelatihan menulis, dan sekaligus baca puisinya pada suatu waktu. Agar mereka mendapatkan bekal pengayaan kemampuan menulis dan baca puisi, apabila pada tahun berikutnya mengikuti kegiatan serupa.
               Secara penyelenggaraan Porseni I Guru TK BA se-Jawa Timur, berjalan lancar dan sukses!
Semoga kita akan bisa bertemu di Porseni II Para Guru TK Aisyiyah se-Jawa Timur di tahun mendatang, 2014. Jangan lupa adakan dulu, semacam pelatihannya bagi guru. Kapan? Tentunya, sebelum acara Porseni II digelar kembali. Semoga! (aulia alamanda)**