Minggu, 31 Januari 2016

GERAKAN INDONESIA MENULIS SASTRA

GIM AJAKAN MENULIS SASTRA
Oleh: Aming Aminoedhin

Salam sastra Adik-adik!
Secara mudah bicara puisi berarti bicara soal kata yang ditata rapi dengan ketentuan sangat berbeda, jika dibandingkan tulisan berupa kalimat biasa, atau yang ditulis secara prosa (yang kemudian biasa disebut: cerpen, novel, atau roman). Agar sedikit gamblang dan mudah, puisi adalah salah satu ragam karya sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta dalam penyusunan larik dan baitnya. Puisi yang baik adalah puisi yang sedikit kata, tapi punya banyak makna.
            Beberapa waktu lalu, 2015, Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT), menyelenggarakan “Gerakan Indonesia Menulis (GIM) Puisi” bagi siswa Sekolah Dasar se-Jawa Timur di GOR - Unipa Surabaya. Ada seribu anak siswa ikut dalam kegiatan ini. Cukup menggembirakan tentunya. Sebab mereka menulis dengan sungguh-sungguh untuk sebuah puisi yang telah ditentukan temanya oleh Panitia Lomba.
Gerakan Indonesia Menulis 2015’ ini, tidak hanya untuk tingkat SD sederajat saja, melainkan juga SMP dan SMA sederajat. Jika tingkat SD menulis puisi, maka untuk tingkat SMP dilombakan menulis cerpen, dan SMA menulis esai. Gerakan ini bertujuan untuk  menumbuhkembangkan minat menulis sejak dini, memotivasi generasi muda untuk memiliki kebiasaan gemar menulis dan meningkatkan mutu pendidikan mereka.
Barangkali upaya BBJT menyelenggarakan lomba menulis semacam ini, perlu mendapatkan apresiasi tinggi. Sebab dengan mengadakan lomba menulis, mengajak para siswa di Jawa Timur untuk lebih kreatif, kompetitif, dan mengarah ke hal yang positif. Harapan berikut agar mereka tidak hanya berhenti pada saat ada lomba seperti ini saja, melainkan bisa terus menulis, dan menulis lagi. Bahkan diharapkan, mereka bisa kecanduan menulis, baik di koran atau majalah; sehingga menghasilkan yang produktif. Dapat honorarium dari hasil tulisan-tulisannya, baik itu: puisi, cerpen, atau esai.

Lomba Menulis Puisi dalam GIM










Membaca 1000 puisi karya anak-anak siswa se-Jawa Timur yang dilombakan dalam GIM oleh Balai Bahasa Jawa Timur 2015, sungguh saya sangat senang. Ternyata, mereka cukup banyak yang bakat dalam penulisan puisi ini. Bahkan banyak pula yang dalam penulisan puisinya sudah berisi kritikan tentang rusaknya alam, serta pesan agar manusia berlaku baik terhadap alam kepada pembacanya. Kita simak puisi berikut ini:

KERUSAKAN LINGKUNGAN
Vilonia Jasmine E Ifadi
SDN Buduran

kau yang kini tertawa
bermandikan harta
berkawankan kemewahan
dari mana kau dapatkan semuanya
                dari pohon yang kau tebang
dari hewan yang kau bunuh
dari tanah yang kian tandus
dari air yang kian kering
dari sungai yang kian kerontang
dari hutan yang kau jadikan kebakaran
dari asap tebal yang dibakar
apakah kau tak ingat
masih ada anak cucu kita
yang mengharap udara segar
mengharap kesejukan alam
mengharap keindahan dunia
mengharap hijaunya daun
mengharap rindangnya pepohonan
                tidaklah kau sadar
ada banyak nyawa yang kau ambil
ada banyak harapan yang kau renggut
wahai para perusak alam
ingatlah pada hukum alam
kita butuh alam yang indah
kita butuh alam yang sejuk
kita hidup dalam alam
kita bergantung pada alam
jagalah alam
seperti kau menjaga rumahmu sendiri
karena alam kita adalah alam anak cucu kita*

            Dalam penulisan puisinya, bahkan Vilonia Jasmine E Ifadi menggunakan repetisi, sehingga puisi ini menjadi lebih apik dan menarik jika dibacakan. Simaklah bait dua dengan pengulangan kata ‘dari..’, bait ketiga kata ‘mengharap...’ dan bait keempat  ‘ada banyak...’ dan ‘kita butuh...’
            Sementara dalam penulisan puisi yang baik itu, diperlukan kejujuran dan kepolosan penulisnya. Lebih lagi jika penulisnya itu adalah anak-anak siswa SD, maka kejujuran itu muncul itu dengan apa adanya. Biasanya, mereka akan menulis apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan saat mereka bermain. Tanpa rekayasa, dan sangat apa adanya. Lihatlah puisi-puisi berikut ini:
           
DI POHON SAWO
KUDENGAR BURUNG BERKICAU
Dyah Cahyaning Pramesti
SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage

Di belakang rumahku
Sebatang sawo tumbuh lebat menghijau
Daunnya yang rimbun
Membuat burung-burung tertegun
                                Ketika pagi hari, aku bangun
                                Di pohon sawo, kudengar burung berkicau
Burung pipit ramai bercuit
Burung kutilang berteriak lantang
Burung trucukan bersahutan.
Ketika siang hari
Di pohon sawo, kudengar burung berkicau
Derkuku hinggap terus berlagu
Perkutut pun datang bersuara merdu.
                Ketika sawo berbuah
Kicau burung kian meriah
Mereka bernyanyi sambil makan buah
Ayo burung-burung datanglah
Biar kudengar kicauanmu yang indah.**






TARIAN SEKELOMPOK DAUN
Putu Retno Indriyani Manik
SDN Pucang III Sidoarjo

Kupandangi dedaunan itu
Ia diterpa angin yang kencang
Awalnya mereka tampak menari
Tetapi daunnya gugur satu per satu
                Andai mereka dapat berkata-kata
Mungkin mereka akan berteriak meminta tolong ‘tuk diselamatkan
Ketika angin kencang bertiup keras mendorongnya
Goyangan dedaunan itupun semakin menjadi-jadi, meliuk ke kanan dan kiri
Rintik hujan pun mulai turun
Membasahi jalanan yang semua kering kerontang
Dedaunan itu pun mulai berhenti menari
Namun, kulihat daunnya semakin sedikit
Bunga-bunga kecil yang tumbuh di sela-sela merekapun ikut berterbangan,
Hilang tanpa sisa
Akupun berpikir…
Bahwa daun yang menari belum tentu mencintai angin.***


KE DESA
Mochammad Ariel Sulton
MI TarbiyatusSyarifah

Orang kota!
Pernahkah tuan pergi ke desa
Menghirup udara segar
Baru dicangkul menyegarkan rasa

Pernahkah tuan tegak di tepi sawah
Padi indahkan mata
Pipit bercicit
Riang gembira

Pernahkah tuan duduk di tengah ladang
Dengan peladang bersenda gurau
Menunggu jagung menjadi anggun
Sebelum cangkul pergi mengayun

Pernahkah tuan….
Pernahkah bila tuan ingin mencari penawar resah
Pergilah tuan, pergi ke desa.*


ALAMKU YANG INDAH
Akyun Nina
SDN Buduran

Gemerisik suara kicauan burung di pagi hari
Kunyanyikan lagu indah tentang alam
Teriring semilir angin di pagi hari
Membantu terbuai alam nan permai

Alamku, desaku tercinta
Kini hanya dapat kukenang
Setelah deru mesin pengolah batu itu
Merampas indahnya pepohonanku
Membakar tanah yang subur ini, dengan panas polusimu

Mungkin mereka berkepentingan
Mungkin mereka punya uang
Tapi bukan ini jalan untuk alam
Kini, kudapati udara yang kering
Bersama dedaunan yang kian menguning
Entah kapan lagi dapat kulihat
Alamku yang indah.*


DERAI CEMARA UDANG
Dzikron Fathir  R.
SDN Buduran

Angin pantai di sela hujan gerimis
Mendera pelan, sejenak
Berteduh di bawah
Pohon-pohon cemara udang

Kemudian lenyap ke arah timur
Gubuk-gubuk bamboo yang reot
Tanpa atap di tepian jalanan pantai

Pantai ini telah sepi
Hanya beberapa derai cemara udang
Hanya rintik gerimis yang tidak kunjung reda
Tidak juga menjadi hujan deras

Senja waktu ini
Tiada yang romantika tau membius kenangan
Ke dalam khayal yang beku

Ada yang berubah
Pantai ini mengubah dirinya menjadi teduh, hijau
Di beberapa sudut ditumbuhi oleh padang rumput yang banyak
Ada cemara udang, perahu nelayan yang sembilan tahun yang
lalu belum kulihat ini, adalah pantai kenangan.**



Dalam penulisan puisi-puisinya,  tampak sekali mereka menulis apa yang mereka lihat, tentang burung-burung di dekat rumahnya, tentang dedaunan, tentang desanya, tentang alam nan indah, dan tentang cemara yang mereka lihat. Mereka menulis kesederhaan dan kejujuran. Sehingga puisinya terasa enak dibaca, dan bermuatan pesan kepada pembacanya.
            Puisi yang baik adalah puisi yang ditulis dengan kejujuran penulisnya. Puisi yang baik juga memerlukan irama atau kemerduan bunyi jika dibacakan. Puisi yang baik adalah puisi yang bermuatkan pesan yang baik bagi pembacanya.
            Kelima puisi yang termuat belakangan ini, sudah mempunyai kriteria tersebut. Sedangkan puisi-puisi yang lain, sudah cukup baik, namun terkadang masih banyak terlalu boros dalam menggunakan kata-kata. Misalnya, puisinya tersebut banyak yang memuat kata-kata berimbuhan, serta seringkali menggunakan kata sambung yang sebenarnya tidak teramat diperlukan.
            Untuk sekedar saran saja, bagi Adik-adik, usahakan dalam menulis puisi itu menggunakan kata-kata ‘dasar’, artinya bukan kata yang telah mendapatkan imbuhan dan akhiran. Jika memungkinkan buanglah kata sambung ‘yang’ atau ‘dan’ dalam penulisan puisinya. Sehingga jadilah puisi yang sedikit kata, tapi punya banyak makna.
            Bagi yang menang sebagai juara, tidaklah harus merasa besar kepala; dan yang tidak juara jadikan ini semacam lecutan untuk menulis lebih baik lagi. Semoga di tahun depan, Adik-lah yang akan jadi juara. Kata orang, kekalahan tahun ini; hanyalah kemenangan yang tertunda untuk tahun berikutnya.
            Kumpulan puisi anak ini, diharapkan bisa membawa Adik-adik berlatih mem-baca dan menulis sastra, sekalian bisa dijadikan buku rujukan bagi guru, orangtua, dan siswa guna membentuk dan mengembangkan karakter budi pekerti mereka.
            Terakhir, semoga itikad baik dari Balai Bahasa Jawa Timur, dalam menyelenggarakan GIM, dan akan membukukan  karya-karya yang dihasilkan ini, membuahkan tumbuhkembangnya penulisan sastra di Jawa Timur. Semoga!
            Salam sastra!

Surabaya, 7 Januari 2016








































Senin, 21 Desember 2015

PAMERAN LUKISAN NGGAGAS YOGYA DI BATU






TENTANG PAMERAN LUKISAN
KELOMPOK NGGAGAS YOGYA*
Oleh: Aming Aminoedhin**

Bicara soal seni rupa di Jawa Timur, barangkali punya riwayat panjang. Mungkin sepanjang kali Brantas yang melintas membelah provinsi ini. Kali Brantas berawal dari Bumiaji – Batu, mengalir ke arah Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, dan Mojokerto. Dari Mojokerto, terbelah dua sungai yaitu Kali Mas ke arah Surabaya, dan Kali Porong mengarah ke Porong.
                Sungguh! Perjalanan panjang sungai itu identik perjalanan panjangnya seni rupa Jawa Timur, dan bila mau mengingat nama-nama pelukis Jawa Timur yang cukup dikenal di dunia seni rupa kita; sekedar menyebut nama yang saya ingat: OH Soepono, S. Toyo, Daryono, Amang Rahman, Tedja Suminar, M. Roeslan, Liem Keng, Rudi Isbandi, Khrisna Mustadjab, Wiwiek Hidajat, Koempoel, Nurzulis Koto, M. Thalib Prasodjo, Cak Kandar, Asri Nugroho, Dwidjo Sukatmo, Ivan Hariyanto, Agus Koecink, dan banyak nama-nama lainnya. Ada juga nama pelukis nenek gaek yang cukup fenomenal asal Gresik, bernama Masmoendari yang terkenal dengan lukisan naifnya damar kurung. Namanya cukup melejit, setelah beliau pameran di berbagai hotel berbintang di Surabaya.
Lantas belakangan ada nama-nama pelukis lain yang cukup diperhitungkan di kancah Nasional; sebut saja mana: Kubu Sarawan (Batu), Joni Ramlan (Mojokerto), Supar Pakis (almarhum, Surabaya), Mas Dibyo (Tuban), dan beberapa nama lainnya.
Seni rupa Jawa Timur, memang cukup panjang jalannya. Beberapa pameran lukisan memang banyak dilakukan, baik di galeri-galeri, hotel, kantor bank, dan juga kantor-kantor pemerintahan. Se-dangkan bila bicara soal galeri senirupa di Surabaya tidak banyak jumlahnya, sebut saja: Galeri Seni Surabaya (DKS), Orasis Art Gallery, House of Sampurno, Gedung Merah Putih – Balai Pemuda Surabaya, dan baru saja dibuka Galeri Prabangkara di Taman Budaya Jawa Timur.




Barangkali terlalu sedikit galeri seni rupa di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia yang punya banyak pelukis-pelukis handal di kancah Nasional ini. Tidak heran, jika kemudian Kelompok Nggagas Yogya, memilih pameran di Galeri Raos – Kota Batu ini. Sebab kota Batu memang punya masyarakat yang cukup apresiasitif terhadap seni lukis. Atau ini memang seperti dikatakan Rudi Isbandi (Surabaya: 1985) bahwa ‘Seniman perlu memiliki kemandirian dalam memandang kehidupan, dan lingkungannya; agar karya-karyanya tidak sekedar objek hiasan untuk mempercantik ruangan, tetapi mampu menjadi subjek yang memperkaya jiwa manusia menjadi lebih arif.” Dan mereka bersembilan sepakat mandiri untuk berpameran di sini, di Galeri Raos - Batu ini.
Wallahu alam bisawab!

Pelukis yang Menulis

                Seperti telah saya tulis di muka, bahwa beberapa pelukis Jawa Timur, memang banyak yang melejit di kancah Nasional; tapi tidak banyak pelukis yang mau menulis. Padahal, di era globalisasi ini peran tulisan sangat penting bagi pelukis guna menginformasikan seberapa apik dan baiknya lukisan seseorang pelukis. Lukisan sendiri atau lukisan teman kelompoknya.
                Bila saja mau mencatatnya, barangkali angkanya tidak melebihi dari lima jari kita. Kita coba teliti, pelukis yang mau menulis di Jawa Timur angkatan tua itu, seingat saya  hanya Rudi Isbandi dengan buku yang bertajuk ‘Percakapan dengan Rudi Isbandi” (CV Fajar Harapan, Surabaya: 1985) dan satu lagi buku lupa judulnya. Belakangan ada Djoeli Djatipambudi (pelukis, kurator, dosen di Unesa), dan Agus Koecink (pelukis, dosen STKW). Dua pelukis muda ini intens menulis tentang seni rupa , baik koran maupun jurnal seni rupa.
       Bagi saya, menulis memang perlu dilakukan oleh pelukis, mengapa tidak? Selain bisa jadi kritikus seni rupa, juga bisa jadi menulis sejarah kepenulisannya sendiri. Setidaknya bisa mencatat sejarah seni rupa kelompoknya, dan/atau senirupa di kotanya; bahkan mungkin sejarah seni rupa Indonesia. Nah... sekarang pelukis ditantang untuk bisa menulis. Kapan? Sejak sekarang!

Memagut Mimpi-2

                Sejak awal saya punya asumsi, jika ada pameran lukisan ‘Memagut Mimpi-2’ berarti sebelumnya ada ‘Memagut Mimpi-1.’  Itu pasti! Nah.... dari pameran ‘Memagut Mimpi-2’ ini saya merasakan adanya ketidakpercayaan para pelukisnya akan pameran terdahulu ‘Memagut Mimpi-1’ itu; maka mengulangnya kembali dengan tajuk sama, hanya saja diberi label 2.  Benarkah? Tanyakan pada mereka bersembilan.
                Terlepas dari persoalan benar-tidaknya asumsi saya di atas, yang harus diapresiasi adalah kesembilan pelukis yang tergabung dalam ‘Kelompok Nggagas Yogya’ ini, mereka mau berpameran lukisannya di kota Batu. Memberikan suguhan pameran lukisan yang sangat berbeda dengan lukisan-lukisan yang mungkin digarap oleh para pelukis Jawa Timur. Lebih lagi, jika mereka bersembilan (M. Yusuf Arsyad, Rudatin Runtik, TJ Yoewono, Heri Suyanto, Teguh S, Rokhyat, Wahyu Teres, Kokom Komariah, dan Sanja Parwanto) adalah para pelukis (yang hampir semuanya) merupakan alumni perguruan tinggi seni di Yogya. Sungguh, sebuah apresiasi yang patut diacungi jempol bagi semua pelukisnya.

                Sebagai seniman barangkali kita memang tidak harus hanyut ikut heboh dengan berita-berita seperti: Setya Novanto dan Nikita Mirzani di Jakarta itu. Tapi bagaimanakah kita bisa merenung, dan kemudian berkarya membuat lukisan yang spektakuler sekaliber berita itu.
                Tentang pameran ini, pilihan mereka, seorang penyair, untuk membuka pameran lukisannya kali ini, tidaklah salah. Sebab penyair layaknya juga pelukis. Dua kreator ini memang sangat berdekatan. Kedekatannya, adalah sama-sama berkarya dengan kejujuran. Hanya saja, pelukis dengan kanvas, garis, dan warna; sedang penyair dengan kertas dan kata-kata. Kerja seni, apalagi lukisan dan puisi; memang butuh kejujuran hati. Sebab kejujuran bagi saya adalah mata uang yang berlaku di mana saja.
                Apalah arti lukisan bagus, tapi dari hasil garapan lukisan palsu/dipalsukan. Apalah arti puisi bagus, ketika tulisannya hasil dari plagiator penyair lain. Sungguh, haram hukumnya!


                Malam ini, sejarah seni rupa Jawa Timur mencatat, bahwa ada sembilan pelukis Yogya berpameran lukisan di Galeri Raos, Jalan PB Soedirman – Kota Batu. Mereka telah menorehkan cat pada kanvas, memberi warna, memberi sugesti agar kita para penikmatnya untuk mengapresiasi. Tentunya, ucapan terima kasih tak terhingga jumlahnya buat mereka bersembilan. Begitu juga kuratornya Ahmad Budi Santoso, yang telah memilah dan memilih yang terbaik guna dipamerkan!
Harapan yang harus dipompakan adalah bagaimana lukisan-lukisan mereka cukup memberi stimulan bagi penikmatnya. Harapan lain, bagaimana pula mereka pelukis (yang berpameran dan tidak pameran), sudi menulis seni rupa guna perkembangan seni rupa itu sendiri . Semoga pula para pelukis yang berpameran ini akan mengikuti pelukis-pelukis muda terdahulu, yang telah melambung seperti: Kubu Sarawan dan Joni Ramlan. Tentunya, tetap dengan kejujuran dalam berkarya! Semoga!
                Selamat berpameran “Memagut Mimpi-2.” Semoga pagutan impian yang dibawa dari Yogya itu, benar-benar tergapai di tangan mereka! Amin! Salam budaya!


                Desaku Canggu, 17 Desember 2015




* Untuk pembukaan pameran lukisan ‘Memagut Mimpi-2’ Kelompok Nggagas Yogya, Galeri Raos – Batu, 19 Desember 2015
** Presiden Penyair Jawa Timur

Catatan: Pameran lukisan ini dibuka oleh presiden penyair Jatim, Aming Aminoedhin. Di samping membaca tulisan di atas juga membaca puisi bertajuk 'Memang Benarlah Malang' dan "Catatan Pecundang-2" Seusai sambutan dua-tiga patah kata dan membuka pameran, Aming dapat tali asih berupa lukisan bergambar dirinya dari Kelompak Nggagas Yogya. Foto di atas Heri Suyanto menyampaikan lukisannya. Salam!

Kamis, 06 Agustus 2015

PPSJS TAMPIL DI TEMBI RUMAH BUDAYA - YOGYA


GEGURITAN CAMPUR LUDRUK
JADILAH TONTONAN PENUH TAWA
Oleh: Ons Untoro

Suasana khas surabayaan mendominasi dan nuansa akrab terasa muncul antara pemain dan penonton. Pembaca puisi dan pemain saling membanyol sehingga mengundang tawa. Bahkan antara pemain dan penonton juga saling meledek sehingga gelak tawa tak bisa dihindarkan.
Sebuah pertunjukan yang menarik ditampilkan dalam acara Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya, Jumat malam 31 Juli 2015, yakni pembacaan geguritan yang dikemas dalam bentuk ludruk Jawa Timuran, yang dipentaskan oleh para penggurit dari Surabaya. Pertunjukan ini memadukan pembacaan geguritan dan ludruk.
Para penggurit dari Surabaya itu Aming Aminoedhin, Widodo Basuki, Giryadi dan Suharmono. Aming dan Widodo Basuki memukul gendang dan Giryadi memainkan wayang. Suasana khas surabayaan mendominasi dan nuansa akrab terasa muncul antara pemain dan penonton. Pembaca puisi dan pemain saling membanyol sehingga mengundang tawa. Bahkan antara pemain dan penonton juga saling meledek sehingga gelak tawa tak bisa dihindarkan.
“Kita memang sengaja mencoba tampil beda tanpa melepaskan khas surabayaan, meskipun geguritan ditulis dengan bahasa Jawa yang halus,” ujar Aming Aminoedhin.
Para pembaca geguritan dari Surabaya dalam gaya ludrukan ini memang kocak dan sadar akan panggung, sehingga dalam membaca bisa merespon gejala yang dirasakannya, seperti apa yang dilakukan Giryadi. Ketika dia sedang membaca geguritan ada seorang anak yang tiba-tiba menangis.
‘Kosik ta, aja nangis aku tak maca dhisik (Nanti dulu, jangan menangis aku membaca dulu),” kata Giryadi.
Tentu saja penonton tergelak, dan Giryadi dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa, kembali melanjutkan membaca geguritan, yang terkumpul dalam antologi geguritan ‘Gurit Bandha Donya.’
Sambil memainkan wayang, Giryadi, Widodo Basuki dan Aming Aminoedhin, saling meledek. Melalui tokoh Gareng, Giryadi yang memainkan wayang itu bisa meledek siapa saja, sehingga suasana segar dan tawa tak bisa dihilangkan.
Pertunjukan sastra, dalam konteks ini membaca geguritan, memang perlu menghidupkan suasana, agar tidak kaku dan tegang sehingga membuat penonton cepat bosan. Tetapi ludrukan geguritan dari penggurit Surabaya ini membuat penonton tidak cepat bosan, dan seolah pertunjukan seperti cepat selesai.
Para penggurit dari Surabaya ini tergabung dalam satu komunitas yang mereka namakan PPSJS kependekan dari Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, yang sudah berumur 38 tahun. Satu umur yang termasuk tidak muda untuk sebuah komunitas sastra Jawa.
“Malam ini, tepat 31 Juli 2015 saat acara Sastra Bulan Purnama diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya, usia PPSJS genap berumur 38 tahun,” kata Suharmono, ketua PPSJS mengawali pengantar sebelum membaca geguritan karyanya.
Apa yang kita lakukan dengan ludruk geguritan ini, demikian Suharmono mengatakan, merupakan satu aktvitas yang kita sebut sebagai ngamen geguritan atau ngamen sastra. Kita sudah melakukan ngamen seperti ini di beberapa kota di Jawa dan malam ini kita ngamen di Tembi Rumah Budaya.
Sambil ludrukan dan memukul gendang, para penggurit saling bergantian membaca geguritan. Widodo Basuki, yang mengenakan pakaian serba hitam, membacakan geguritan karyanya sambil tidak melupakan banyolan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Aming Aminoedhin dan penggurut lainnya.
Ludruk geguritan jelas merupakan terobosan dari pertunjukan sastra. Ons Untoro – Foto-foto: Barata


Senin, 06 Juli 2015

aming aminoedhin - surabaya ajari aku tentang benar

NASKAH-NASKAH TEATER DIAT

NASKAH LAKON DIAT ITU HINGAR-BINGAR DAN LIAR
Oleh: Aming Aminoedhin
*

            Suatu hari di akhir tahun lalu, Desember 2014,  Akhudiat, menelpon saya untuk mengambil buku baru bertajuk “Antologi 5 Lakon Akhudiat” di rumahnya, di bilangan tengah kota Surabaya. Lewat telepon selular itu pula saya jawab, akan mengambilnya jika saya (yang berumah di Mojokerto) kebetulan pas ke kota Surabaya. Buku itu, memuat lima naskah lakon yang kesemuanya pernah memenangkan sayembara penulisan naskah lakon oleh Dewan Kesenian Jakarta. Masing-masing:  Grafito (naskah lakon, 1972),  Jaka Tarub (naskah lakon, 1974),  Rumah Tak Beratap (naskah lakon, 1974), Bui (naskah lakon, 1975), RE (naskah lakon eksperimen,  1977).
            Ketika suatu hari saya bisa sampai rumahnya, Diat, sedang menata-nata bukunya yang seabreg jumlahnya itu. Ada yang berbahasa Jawa, Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, dan Belanda. Kebanyakan buku sastra, baik puisi, prosa, dan naskah drama. Memang, ia baru saja pindah rumah baru di Gayungan Grand Residence itu. Setelah duduk dan mengambilkan buku yang dijanjikan, lantas ia bercerita tentang lima naskah lakonnya tersebut. Katanya, mengapa ia menulis lakon dengan gaya yang berbe-da dengan yang lain, karena saya merasa, selama ini naskah lakon selalu berdasarkan pang-gung presinium. Panggungnya seperti sandiwara dan tonil, persisnya seperti Srimulat, katanya. Lebih jauh, Diat bercerita bahwa lima naskah lakonnya ini, juga telah mengantarkan seseorang jadi doktor sastra di Universitas Indonesia, Jakarta. Orangnya bernama, M. Yoesoef, yang dalam penelitiannya (Juli, 2013) menyimpulkan bahwa, “Secara umum karya-karya Akhudiat itu memperlihatkan sebuah kolase dari keragaman bahasa, masyarakat, dan permasalahan sosial, budaya, dan politik yang dihadapi masyarakat pada tahun 1970-an. Diat merefleksikan kehingar-bingaran itu melalui interaksi orang-orang yang dipotretnya menjadi tokoh-tokoh di dalam kelima karyanya. Kelima karya Akhudiat tersebut menunjukkan adanya model baru pada penulisan sastra drama di era tahun 1970-an, terutama melalui ajang sayembara.”
Berangkat dari hal lima naskahnya yang telah diteliti mahasiswa S-2 itu pulalah, yang kemudian mendorong untuk kembali mencetak kelima naskahnya tersebut jadi satu buku. Dan terbitlah buku itu pada Desember 2014, bertajuk “ Antologi 5 Naskah Lakon Akhudiat” diterbitkan Pagan Press, Lamongan. Ironis memang, nama tokoh sebesar Akhudiat, yang domisilinya Surabaya, bukunya diterbitkan oleh percetakan di Lamongan.

Naskah Diat, Liar, Nakal dan Aktual
Membaca naskah-naskah lakon Diat, terasa kita akan mendapatkan sesuatu yang liar. Mengapa liar? Seperti dikatakan M. Yoesoef, bahasa yang digunakannya bermacam varian: Jawa, Indonesia, Inggris, terkadang Perancis, dan Belanda. Hal ini, adalah wajar, sebab Diat pernah mengikuti  International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, USA, pada tahun 1975. Wawasan dan pengalamannya luas, seluas Rogojampi dan New York. Dialog-dialog tokohnya bisa berbahasa Jawa, Inggris, dan Perancis. Bahkan  tokohnya,  bisa  orang kebanyakan semacam: ledek, tukang koran, pelacur, hansip, tukang becak, penjudi, wartawan, hingga sang juragan.


Jika bicara nakalnya, Diat sangat nakal dalam menulis naskah lakonnya dengan memasukkan unsur guyonan yang terkadang terasa cabul, tapi tak terasa apa-apa bagi penikmat/pembacanya. Sebab secara enak, dialognya para tokoh begitu mengalir dan cair. Seperti misalnya pada dialog lakon ‘Rumah Tak Beratap’ antara Andre (mahasiswa) dan Yu (ledek) berikut ini: YU: Dingin ya.. Mas? ANDRE: Mengangguk. YU: Mas nggak dingin? ANDRE: Hm-Heemm! YU: Mas dingin, aku kompornya! ANDRE: Hahhh? YU: Tapi bukan kompos gas, Mas. Elpiji. Saya sih L.X. (hal. 136).
Dalam naskah-naskah lakon Diat memang hampir semua menyuarakan masalah sosial yang ada di negeri ini. Terasa aktual pada zamannya, dan bahkan terkadang menyindir penikmat/pembacanya. Simak suara koor pada lakon ‘Grafito’ berikut ini: Kyai, kami memang punya rumah/Tetapi ayah ibu tak pernah sempat singgah/Cuma jongos babu yang ramah-tamah/Karena uang kami melimpah-ruah/Lalu ke mana harus pulang?/Selain begadang di jalan-jalan. (hal. 36).
Keaktualan lakon pada zamannya, juga terlihat pada lakon ‘Rumah Tak Beratap’ yang dalam dialog lakonnya bicarakan soal kode buntut. Di mana pada tahun itu (1974-an), sangatlah digemari masyarakat kebanyakan. Begitu pula, pada lakon ‘Jaka Tarub’ yang zaman itu sedang ramai baju long-dress dan tas ransel: tokohnya Jaka Tarub, berpakaian ala anak muda zaman itu, bawa tas cangklong ransel bagi pelancong. Sementara Nawang Wulan, berpakaian over-all bagian atas back-less.

Masih bicara naskah lakon Akhudiat. Saya dikenalkan naskah-naskah lakon Akhudiat, sewaktu masih kuliah (1978-an) di Fakultas Sastra – Sebelas Maret – Surakarta. Ketika itu, dosen mata kuliah teater modern, adalah Drs. Soediro Satoto, kini telah bergelar profesor doktor itu. Kata beliau, Akhudiat-lah yang pertama-tama membuat naskah lakon dengan mengusung lima adegan di satu panggung. Naskahnya adalah “RE.” Sungguh, suatu yang luar biasa hebat, tambah Soediro Satoto waktu itu. Ini, satu-satunya naskah lakon yang belum pernah ada di Indonesia, tiada tanding tiada banding, tandasnya meyakinkan! Imajinasinya melompat-lompat. Panggung diisi oleh lima tampilan adegan yang berdiri sendiri-sendiri. Hingar-bingar dan liar! Fantastis!

Diat dan Penggiat Teater Modern
Akhudiat, yang biasa dipanggil dengan Diat, lahir di Rogojampi, Banyuwangi, 5 Mei 1946.  Jadi Dosen Luar Biasa pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Terakhir, naskah lakon terbarunya ‘Skolah Skandal’ dimainpentaskan ‘Sanggar Merah Putih’ Surabaya, November 2011. Menyedot penonton teater begitu banyak, lantaran lama Diat memang tak menggarap lakonnya.
Bagi penggiat teater modern Indonesia saat ini, adalah kurang lengkap, jika tak membaca buku naskah lakon ini. Ada naskah lakon yang hingar-bingar dan liar, serta luar biasa. Itu semua tulisannya Diat! Selamat membaca!

Desaku Canggu, 17/6/2015





* penyair, dan ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), tinggal di Mojokerto.

LENGGANG-LENGGOK BADAI LAUTKU - LEO KRISTI (Original Song)

Leo Kristi "KERETA LAJU" PSLI 2014

Leo Kristi "DI DERETAN REL REL" PSLI 2014

Leo Kristi "SALUS AEGROTI SUPREMA LEX" PSLI 2014

Jumat, 05 Juni 2015

HASIL LOMBA BACA DAN MUSIKALISASI PUISI - PSP - 2015

HASIL LOMBA BACA DAN MUSIKALISASI PUISI
PEKAN SENI PELAJAR (PSP) PROVINSI JAWA TIMUR
BANYUWANGI, 1-3 JUNI 2015

Tingkat Sekolah Dasar (SD)
Peserta Lomba Baca Puisi Putri:
Juara I:
1.       Kota Mojokerto
2.      Kabupaten Bangkalan
3.      Kota Surabaya
Harapan-1: Kabupaten Banyuwangi
Harapan-2: Kabupaten Lamongan
Harapan-3: Kabupaten Pamekasan

Peserta Lomba Baca Puisi Putra:
Juara I:
1.       Kabupaten Mojokerto
2.      Kabupaten Pasuruan
3.      Kabupaten Nganjuk
Harapan-1: Kota Probolinggo
Harapan-2: Kabupaten Banyuwangi
Harapan-3: Kabupaten Situbondo

Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Peserta Lomba Baca Puisi Putri:
Juara I:
1.       Kota Batu
2.      Kota Malang
3.      Kabupaten Probolinggo
Harapan-1: Kabupaten Pasuruan
Harapan-2: Kabupaten Trenggalek
Harapan-3: Kabupaten Sampang

Peserta Lomba Baca Puisi Putra:
Juara I:
1.       Kota Madiun
2.      Kabupaten Pamekasan
3.      Kabupaten Situbondo
Harapan-1: Kabupaten Pasuruan
Harapan-2: Kabupaten Jombang
Harapan-3: Kota Surabaya


Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK)
Lomba Musikalisasi Puisi
1.       Kabupaten Tuban
2.      Kabupaten Tulungagung
3.      Kabupaten Gresik
Harapan-1: Kabupaten Sumenep
Harapan-2: Kabupaten Pamekasan
Harapan-3: Kabupaten Trenggalek


Selamat buat para juara, semoga semakin giat berlatih dan berproses dalam seni baca dan musikalisasi puisi. Dan bagi yang belum juara, semoga kian semakin giat berlatih dan berproses dalam seni baca dan musikalisasi puisi.  Esok kan masih ada waktu, untuk tampil jadi juara! Salam sastra! (aming aminoedhin)