BULAN OKTOBER BULAN BAHASA
oleh: aming aminoedhin
Seperti kita ketahui bersama, bahwa pada bulan Oktober adalah bulannya para pemuda. Karena pada 28 Okotber 1928 yang lalu, para pemuda kita telah bersumpah: bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, danmenjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Sejalan dengan bulan Oktober merupakan bulan yang selalu mengingatkan kita untuk berbahasa satu, bahasa Indonesia, dan sekaligus mengajak untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar, maka bulan Oktober juga punya sebutan, sebagai “Bulan Oktober Bulan Bahasa.”
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dipergunakan oleh bangsa Indonesia, sebagai bahasa persatuan, bahasa Nasional, dan bahasa Negara.
Melalui bahasa Indonesia ini pulalah, kita (para suku bangsa yang begitu banyak di Indonesia), bisa saling berkomunikasi secara mudah. Bahkan melalui bahasa Indonesia ini pulalah, persatuan antarsuku bangsa di Indonesia bisa terjalin dengan indah. Bahasa Indonesia juga diajarkan ke semua siswa, di semua jenjang pendidikan di Indonesia, baik dari tingkat Sekolah Dasar, Menengah, hingga ke tingkat mahasiswa.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang merupakan lingua-franca (bahasa pergaulan) di zaman pejajahan (1920-1945-an) di daratan semenanjung Malaka, Sumatra, dan Jawa. Untuk kemudian, dalam UUD 1945 tahun 1945 ditetapkan sebagai bahasa Nasional, dan bahasa Negara.
Perkembangan Bahasa Indonesia
Sebagai warga negara Indonesia, tentulah kita semua akan menghargai dan menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia. Karena bahasa ini, juga ditetapkan sebagai bahasa Nasional dan bahasa Negara.
Akan tetapi pada masa sekarang ini, di era reformasi, banyak warga negara Indonesia, sudah tidak begitu peduli dengan bahasanya sendiri, bahasa Indonesia. Di mana letak ketidakpeduliannya?
Secara gampang dan gamblang kita bisa menyebut, anak-anak muda sekarang lebih banyak berkata-kata (baca: bercakap-cakap) dengan bahasa ala Jakarta-an. Tanpa merasa bersalah, dan merasa lebih mentereng berbicara.
Pada sisi lain, apabila kita memasuki wilayah kota Surabaya, dari Selatan ke Utara, kita akan menemukan nama-nama gedung dan plaza yang tidak mencerminkan kota di Indonesia. Lihat saja sejak: CITO (City of Tomorrow), Jatim Expo, Royal Plaza, Dramo Trade Centre, Hyatt Hotel, Tunjungan Plaza, BRI Tower, BG Junction, JW Marriot Hotel, Sheraton Hotel, Garden Hotel, Citraland, dan seabreg nama-nama yang semuanya menggunakan bahasa Inggris. Belum lagi ada nama-nama Kentucky Fried Chicken, Mc. Donald, Texas Fried Chicken, dan banyak lagi lainnya.
Padahal nama-nama itu terpampang dengan besar dan mencolok di depan mata kita, saat seseorang melewati jalan-jalan protokol itu.
Memasuki jalan-jalan protokol Surabaya, kita seakan tidak lagi masuk kota di Indonesia. Tapi, sepertinya kita berda di luar negeri, Singapore atau Kuala Lumpur.
Untuk melestarikan bahasa Indonesia dari kepunahan, maka karya sastra merupakan salah satu aspek yang bisa mempertahankan keabadian bahasa Indonesia. Karena sastra, ditulis dengan bahasa Indonesia.
Menyemarakkan acara tersebut, saya juga membacakan dua judul puisi "Surabaya Ajari Aku Tentang Benar" dan "Berjamaah di Plaza".
Bulan Oktober, konon disebut juga sebagai “Bulan Bahasa,” lantas bagaimana kita ikut memperingatinya? Menjaga dan melestarikannya, atau malah seperti orang-orang kaya yang membuat nama-nama gedung menjulang dengan bahasa Inggris itu? Terserah!
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimanakah kita (warga dan bangsa Indonesia, utamanya pihak Pemerintah) dalam menyikapi persoalan ini?
Sebuah tanya, yang barangkali kita bersama-sama berdiskusi! Mari!
Mojokerto, 28 Oktober 2008
Aming Aminoedhin
Penyair!
Catatan:
1. bahan ceramah dan disuksi memperingati "Hari Sumpah Pemuda" 28 Oktober 2008 di UNIPA Ngageldadi, Surabaya, kerjasama UNIPA dan PRO 2 FM 95,2 - Life Style & Entertainment.
2. Selain Aming Aminoedhin, ada dua pembicara lainnya dari dosen UNIPA, Pak Sunu dan Taufiq. Audiens yang hadir mahasiswa, guru, dan para dosen UNIPA Surabaya. Kegiatan ini kerja sama UNIPA dengan PRO 2 FM 95,2 RRI Surabaya, yang akan disiarkan tunda, pada Minggu, 2 November 2008 pukul 20.00.-21.00. WIB.
Rabu, 29 Oktober 2008
Rabu, 22 Oktober 2008
mengapa tak menulis puisi?
MENGAPA TAK MENULIS PUISI?
oleh: aming aminoedhin
Banyak rekan yang kebetulan ketemu saya bertanya, “Bagaimana caranya menulis puisi yang baik?” Pertanyaan yang dilontarkan itu, terkadang membuat saya agak gagu (mungkin) ragu, untuk menjawabnya dengan pasti. Di samping sastra sendiri, utamanya (puisi) merupakan karya sastra yang memuat ambiguitas yang tinggi. Artinya, bahwa puisi yang baik, adalah puisi yang mempunyai makna ganda. Sedikit kata, tapi banyak memuat makna-arti.
Mereka (rekan-rekan) itu, bertanya kepada saya, karena menganggap saya ini adalah penyair (baca pula: presidennya penyair Jatim), yang mana setiap kata bisa dijadikan puisi.
Barangkali itu benar, tapi bisa juga tidak! Sebab, tidak selamanya kata-kata bisa dijadikan puisi di tangan seorang penyair.
Saya sendiri, jika boleh dikatakan penyair (bahkan presidennya penyair) merasa kelabakan jika harus ditanya soal yang satu ini. Soalnya, menterjemah-kan atau katakanlah menerangjelaskannya memang kelewat susah! Susahnya, adalah bagaimana saya harus memulainya? Dari soal kata, membaca, atau bahasa? Soal tema, diksi, intuisi, atau dari soal makna ganda puisi.
Selama ini, saya paling banter akan mengatakan kepada mereka, menulislah apa saja tentang kehidupan ini. Soal cinta, angina, kota atau cuaca yang dingin. Lantas bisa bicara soal laut dan langit, atau matahari dan rembulan. Bisa juga bicara tentang siang yang panas atau malam yang malas. Tentang dedaunan, sungai, dan alam pegunungan nan indah nian. Menulis tentang lapar, para pengemis di pasar, atau menulis soal korupsi yang banyak melanda negeri ini.
Pokoknya, menjawab tanya rekan-rekan tersebut, saya tandaskan untuk cobalah menulis apa saja yang ada di sekitar kita. Ibu, anak, istri, dan anak. Bahkan jika mungkin menulis tentang babu kita, kakek dan nenek, atau tetangga kita.
Seorang penulis, kata WS Rendra, haruslah bisa mendalami elemen dasar kehidupan itu sendiri. Sedangkan Derek Walcott, penerima Hadiah Nobel Sastra 1992, mengatakan bahwa penulis puisi adalah adalah orang yang bergelut dengan lautan emosi.
Dari referensi di atas, maka relevanlah bila saya anjurkan rekan-rekan menulis apa saja yang ada di sekitar mereka sendiri. Soalnya emosi mereka pasti masuk ke dalam hasil karya tulisan puisinya.
Berangkat dari ini semua, maka menulis puisi yang baik, saat seseorang tersebut telah menulis apa saja yang terasa mendesak hati atau emosi penulisnya. Desakan hati (emosi) disebut pula sebagai bisikan hati, dan kemudian secara akademis dinyatakan sebagai intuisi ini,
Yang seharusnya ditulis dalam baris-baris puisi. Dalam menuliskan puisi, saya anjurkan untuk menggunakan bahasa secara minimal, atau sedikit kata, tapi punya banyak makna. Lebih jelas lagi, usahakanlah menulis puisi dengan menggunakan kata-kata ‘dasar’ dalam menuangkan-nya. Bukan menggunakan kata-kata yang sudah merupakan kata jadian, atau kata dasar yang telah mendapatkan imbuhan, baik awalan maupun akhiran.
Menulis Puisi Bersahaja Saja
Seorang William Wordsworth (penyair Inggris, hidup 1770-1850) merasa yakin akan martabat manusia, terutama manusia dari golongan bawah/rendahan. Karena itu, subjek-subjek dalam tulisan puisinya ia pilih tentang kehidupan rakyat jelata, dan bersahaja. Lantas ditulis, dan dinyatakan dalam bahasa yang bersahaja pula. Maka lewat karya puisinya yang bersahaja pulalah, William Wordsworth, menjadi salah tokoh penyair pada zamannya.
Jadi menulis puisi itu memang diperlukan kebersahajaan dan kejujuran, serta ketulusan hati oleh penulisnya. Tidak perlu menulis puisi dengan dipaksakan, apa lagi mengada-ada yang tidak ada. Ini akan menjadikan karya puisi yang ditulis akan terasa tawar dan miskin makna.
Pertanyaan lain yang muncul setelah itu adalah, “Apa hanya itu saja, seseorang bisa menulis puisi dengan baik?”
Jawabnya adalah, “Tidak!
Karena masih banyak perangkat lain yang diperlukan dalam menulis puisi yang baik. Antara lain soal diksi, kemerduan bunyi, kekayaan kosa kata, kekayaan batin dari penulisnya. Agar kaya semua itu, maka perlu pula banyak membaca, baik puisi maupun prosa. Lantas banyak menonton, baik teater, tari, atau pameran seni rupa. Lantas ada pula syarat lain, di antaranya: tipografi penulisan, pesan yang dikandung isi puisi, dan yang terpenting adalah keuniversalan objek yang ditulisnya.
Syarat lain menulis puisi yang baik, adalah puisinya mengandung nilai poly-interpretable (bermakna ganda). Puisinya juga harus gemerlapan bagai intan. Indah bahasannya, dan sekaligus bisa mendedah rasa setiap pembacanya. Puisi yang dibaca hari dan esok, bisa mempunyai kandungan arti yang berbeda.
Untuk itulah, menulislah puisi apa saja, dan sebebas-bebasnya sesuai intuisi yang ada dalam diri penulisnya. Menulislah dengan kebersahajaan tema dan bahasanya; tanpa melupakan pemilihan diksi yang baik, guna menjaga kemerduan bunyi puisi yang ditulisnya, serta masukkan pulan pesan moral atau apa saja bagi pembaca puisi.
Pengalaman Menulis Puisi
Dalam hal menulis puisi, berdasarkan pengalaman penulis, seorang penulis puisi haruslah memperhatikan beberapa hal berikut ini:
a. Puisi mengandung unsur keindahan dan kemerduan bunyi, maka diperlukan pemilihan kata atau diksi yang baik dalam penulisannnya;
b. Sebuah puisi, sebaiknya menggunakan kata-kata dasar dalam penulisannya. Sebab puisi yang baik adalah puisi yang menggunakan sedikit kata, tapi punya banyak makna (multi-interpretable). Untuk itu kata-kata yang dipakai lebih konotatif, bermakna ganda.
c. Sebuah puisi pasti ada pesan (massage) di dalamnya, atau bisa dikatakan sebagai ‘tema puisi’ bisa pesan/tema cinta, moral, religi, kritik sosial, pesan pendidikan, dan banyak lagi. Tapi tidak harus secara jelas/ gamblang diterangkan dalam puisi, tapi sebaiknya disebunyikan/dititipkan pada rangkaian baris dan bait dalam sebuah puisi;
d. Dalam menulis puisi seseorang tidak harus mencari tema/pesan apa yang harus ditulis, karena tema/pesan itu sifatnya abstrak. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana seseorang mau menuliskan apa-apa yang ada dalam obsesi benaknya. Tulis aja, tanpa harus takut bertema apa nanti puisinya.
e. Usahakan menulis dengan tanpa ada rasa beban, mengalir cair saja seperti air dalam sungai. Jadi seseorang menulis puisi itu, tanpa harus memilih tema, tempat dan waktu, dalam menulis. Kapan saja, dan di mana saja bisa menulis puisi.
Nah…. ternyata menulis puisi itu gampang sekali. Lantas mengapa kita tidak
menulis puisi? Mari menulis puisi!
Sidoarjo, 22 Oktober 2008
oleh: aming aminoedhin
Banyak rekan yang kebetulan ketemu saya bertanya, “Bagaimana caranya menulis puisi yang baik?” Pertanyaan yang dilontarkan itu, terkadang membuat saya agak gagu (mungkin) ragu, untuk menjawabnya dengan pasti. Di samping sastra sendiri, utamanya (puisi) merupakan karya sastra yang memuat ambiguitas yang tinggi. Artinya, bahwa puisi yang baik, adalah puisi yang mempunyai makna ganda. Sedikit kata, tapi banyak memuat makna-arti.
Mereka (rekan-rekan) itu, bertanya kepada saya, karena menganggap saya ini adalah penyair (baca pula: presidennya penyair Jatim), yang mana setiap kata bisa dijadikan puisi.
Barangkali itu benar, tapi bisa juga tidak! Sebab, tidak selamanya kata-kata bisa dijadikan puisi di tangan seorang penyair.
Saya sendiri, jika boleh dikatakan penyair (bahkan presidennya penyair) merasa kelabakan jika harus ditanya soal yang satu ini. Soalnya, menterjemah-kan atau katakanlah menerangjelaskannya memang kelewat susah! Susahnya, adalah bagaimana saya harus memulainya? Dari soal kata, membaca, atau bahasa? Soal tema, diksi, intuisi, atau dari soal makna ganda puisi.
Selama ini, saya paling banter akan mengatakan kepada mereka, menulislah apa saja tentang kehidupan ini. Soal cinta, angina, kota atau cuaca yang dingin. Lantas bisa bicara soal laut dan langit, atau matahari dan rembulan. Bisa juga bicara tentang siang yang panas atau malam yang malas. Tentang dedaunan, sungai, dan alam pegunungan nan indah nian. Menulis tentang lapar, para pengemis di pasar, atau menulis soal korupsi yang banyak melanda negeri ini.
Pokoknya, menjawab tanya rekan-rekan tersebut, saya tandaskan untuk cobalah menulis apa saja yang ada di sekitar kita. Ibu, anak, istri, dan anak. Bahkan jika mungkin menulis tentang babu kita, kakek dan nenek, atau tetangga kita.
Seorang penulis, kata WS Rendra, haruslah bisa mendalami elemen dasar kehidupan itu sendiri. Sedangkan Derek Walcott, penerima Hadiah Nobel Sastra 1992, mengatakan bahwa penulis puisi adalah adalah orang yang bergelut dengan lautan emosi.
Dari referensi di atas, maka relevanlah bila saya anjurkan rekan-rekan menulis apa saja yang ada di sekitar mereka sendiri. Soalnya emosi mereka pasti masuk ke dalam hasil karya tulisan puisinya.
Berangkat dari ini semua, maka menulis puisi yang baik, saat seseorang tersebut telah menulis apa saja yang terasa mendesak hati atau emosi penulisnya. Desakan hati (emosi) disebut pula sebagai bisikan hati, dan kemudian secara akademis dinyatakan sebagai intuisi ini,
Yang seharusnya ditulis dalam baris-baris puisi. Dalam menuliskan puisi, saya anjurkan untuk menggunakan bahasa secara minimal, atau sedikit kata, tapi punya banyak makna. Lebih jelas lagi, usahakanlah menulis puisi dengan menggunakan kata-kata ‘dasar’ dalam menuangkan-nya. Bukan menggunakan kata-kata yang sudah merupakan kata jadian, atau kata dasar yang telah mendapatkan imbuhan, baik awalan maupun akhiran.
Menulis Puisi Bersahaja Saja
Seorang William Wordsworth (penyair Inggris, hidup 1770-1850) merasa yakin akan martabat manusia, terutama manusia dari golongan bawah/rendahan. Karena itu, subjek-subjek dalam tulisan puisinya ia pilih tentang kehidupan rakyat jelata, dan bersahaja. Lantas ditulis, dan dinyatakan dalam bahasa yang bersahaja pula. Maka lewat karya puisinya yang bersahaja pulalah, William Wordsworth, menjadi salah tokoh penyair pada zamannya.
Jadi menulis puisi itu memang diperlukan kebersahajaan dan kejujuran, serta ketulusan hati oleh penulisnya. Tidak perlu menulis puisi dengan dipaksakan, apa lagi mengada-ada yang tidak ada. Ini akan menjadikan karya puisi yang ditulis akan terasa tawar dan miskin makna.
Pertanyaan lain yang muncul setelah itu adalah, “Apa hanya itu saja, seseorang bisa menulis puisi dengan baik?”
Jawabnya adalah, “Tidak!
Karena masih banyak perangkat lain yang diperlukan dalam menulis puisi yang baik. Antara lain soal diksi, kemerduan bunyi, kekayaan kosa kata, kekayaan batin dari penulisnya. Agar kaya semua itu, maka perlu pula banyak membaca, baik puisi maupun prosa. Lantas banyak menonton, baik teater, tari, atau pameran seni rupa. Lantas ada pula syarat lain, di antaranya: tipografi penulisan, pesan yang dikandung isi puisi, dan yang terpenting adalah keuniversalan objek yang ditulisnya.
Syarat lain menulis puisi yang baik, adalah puisinya mengandung nilai poly-interpretable (bermakna ganda). Puisinya juga harus gemerlapan bagai intan. Indah bahasannya, dan sekaligus bisa mendedah rasa setiap pembacanya. Puisi yang dibaca hari dan esok, bisa mempunyai kandungan arti yang berbeda.
Untuk itulah, menulislah puisi apa saja, dan sebebas-bebasnya sesuai intuisi yang ada dalam diri penulisnya. Menulislah dengan kebersahajaan tema dan bahasanya; tanpa melupakan pemilihan diksi yang baik, guna menjaga kemerduan bunyi puisi yang ditulisnya, serta masukkan pulan pesan moral atau apa saja bagi pembaca puisi.
Pengalaman Menulis Puisi
Dalam hal menulis puisi, berdasarkan pengalaman penulis, seorang penulis puisi haruslah memperhatikan beberapa hal berikut ini:
a. Puisi mengandung unsur keindahan dan kemerduan bunyi, maka diperlukan pemilihan kata atau diksi yang baik dalam penulisannnya;
b. Sebuah puisi, sebaiknya menggunakan kata-kata dasar dalam penulisannya. Sebab puisi yang baik adalah puisi yang menggunakan sedikit kata, tapi punya banyak makna (multi-interpretable). Untuk itu kata-kata yang dipakai lebih konotatif, bermakna ganda.
c. Sebuah puisi pasti ada pesan (massage) di dalamnya, atau bisa dikatakan sebagai ‘tema puisi’ bisa pesan/tema cinta, moral, religi, kritik sosial, pesan pendidikan, dan banyak lagi. Tapi tidak harus secara jelas/ gamblang diterangkan dalam puisi, tapi sebaiknya disebunyikan/dititipkan pada rangkaian baris dan bait dalam sebuah puisi;
d. Dalam menulis puisi seseorang tidak harus mencari tema/pesan apa yang harus ditulis, karena tema/pesan itu sifatnya abstrak. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana seseorang mau menuliskan apa-apa yang ada dalam obsesi benaknya. Tulis aja, tanpa harus takut bertema apa nanti puisinya.
e. Usahakan menulis dengan tanpa ada rasa beban, mengalir cair saja seperti air dalam sungai. Jadi seseorang menulis puisi itu, tanpa harus memilih tema, tempat dan waktu, dalam menulis. Kapan saja, dan di mana saja bisa menulis puisi.
Nah…. ternyata menulis puisi itu gampang sekali. Lantas mengapa kita tidak
menulis puisi? Mari menulis puisi!
Sidoarjo, 22 Oktober 2008
Selasa, 21 Oktober 2008
Nyanyian Leo Kristi
TEPI SURABAYA
syair nyanyian leo kristi
betapa sepi.... seorang nenek.....
sendiri
di tepi.... lalu coba menyapa....
lewatnya hari, kota lama ini
terlewat tak berakar kaca-kaca miskin jiwa
tepi-tepimu Surabaya
di mana kita mulai semua ini
gema nyanyian pahlawan
kini jadi nyanyian wayang
tepi-tepimu oh.. Surabaya
gelap turun bagi jalan perempuan tua
nenek bukalah pintu yang kuketuk
tapi tidak dengan air matamu
hidup selalu berubah lewat pasang surut Kalimas
sinar lentera dalam kabut tipis
belum juga mati menjelang pagi
sinar lentera berkedip-kedip
tidak juga mati menjelang pagi
ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008
SURABAYA
syair nyanyian leo kristi
engkau keras dan sombong
engkau kasar dan angkuh
tatapan penuh nafsu
keringatku bercucuran di deretan rel-rel
keringatku bercucuran di deretan bordil
keringatku bercucuran di deretan palka
keringatku bercucuran di bordes trem-trem
kota!
ketika kau hadap matahari senja
keringatku sirna oleh desir anginmu
Surabaya …… Surabaya ……. Surabaya…….
aku cinta kau!
hey bangun dan berdiri
nyanyikan tidurmu matahari
Surabaya …….. oh.. Surabaya…… oh.. Surabaya……
Surabaya …….. oh.. Surabaya…… oh.. Surabaya……
hey bangun dan berdiri
nyanyikan tidurmu matahari ....
ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008
OH… SURABAYA
syair nyanyian leo Kristi
dengar tuter dan tuter
mesin-mesin berbunyi riuh-riuh
roda-roda berputar
dari pagi ke pagi
tiada pernah berhenti
tiada pernah berhenti
siapkan ransel, gitar dan tenda
ke luar kota pergi bersama
tinggalkan asap kotor
yang membubung tinggi ke udara
kotamu oh……Surabaya
Oh…. Surabaya……oh… Surabaya….. oh… Surabaya
aku dibesarkan riang
tempatku dibesarkan senang oh… Surabaya
tata…..ta…ta……Tata…..ta….ta…..Tata…. ta…ta….oh…..
kulihat surya di timur
burung-burung bernyanyi riang….riang…..
bangau terbang berarak
pucuk Randu merekah
awal musim panas tiba
awal musim panas tiba
Ka…ka….ka…..ka….ka…..ka…..ka ..…
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Oh…ye…..oh….ye……oh...ye....!!!
Oh..ye..oh..ye..oh...ye....!!!
ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008
SURABAYA BERNYANYI
nyanyian leo Kristi
Lek....! bulannya tunggu lek!
di sisi bunga-bunga enceng
Lek....! bulannya tunggu lek!
di sisi bunga-bunga enceng
kampung kemesraan lek!
Burung-burung kecil selesaikan sarang
Di pucuk –pucuk tangkai ilalang
Aha..... haa.....
Duka... duka istri dalam semalam
Cet...cet... cowet hingga pagi datang
Ke mana mereka pergi
Kembangkan sayap-sayap kecil dan sendiri
Semangat dan rasa terus mengalir
Semangat dan rasa terus mengalir jauh.....
Jongkok... pasar ...tiga kartuku berjajar
Nyari aku pada dipilih
Dengan segala tipumu
Anak manusia yang semakin jauh
Tembok-tembok kepala
Tembok-tembok telinga
Tembok-tembok mata memandang
Malam.............
Lihat jalan layang
Lampu-lampu neon jalanan
Lampu-lampu bintang dan bulan
Lampu-lampu pesawat terbang
Malam........!!!!!
Lihat jalan layang
Tembok-tembok kepala
Tembok-tembok telinga
Tembok-tembok mata memandang
Malam.............
Lintas jalan layang
Di mana terbang lepas... derita....
Lintas jalan layang
Tote lete ......Tote lete..........da...da... litata....
Tote lete ......Tote lete.......da...da....litata.......
Semangat dan rasa
Terus mengalir
Terus mengalir jauh
O...ooo....oooo....oooo....oooo!!!
O....ooo....oooo....oooo....oooo!!!
Anak-anak senyum dan bernyanyi
Di bawah pandan dan duri
Tatap hidup dan mati
Di hari kampung kemesraan
Lintas jalan layang ke taman Walikota
Tatap hidup dan mati.... berani!
Surabayaku bernyanyi.....bernyanyi
Tatap hidup dan mati.... berani!
Surabayaku bernyanyi ..bernyanyi
O.....leya.........leyo!
ditulis kembali: aming aminoedhin
22 Oktober 2008
SOLUS AEGROTI SUPREMA LEX EST
"penderita atau pasien adalah yang utama"
syair nyanyian leo kristi
lilin putih di tepi taman biru
gedung putih luas... tenang..... damai....
serasa tak.... lagi ada.... kota dan perang
karena saatlah dekat..... jalan..... Tuhan
solus aegroti suprema lexest
dilorong pedestrian tunduk melangkah
lorong pedestrian basah airmata
serasa tak... lagi ada.... kota dan perang
karena saatlah dekat... jalan....Tuhan
solus aegroti suprema lexest
lorong pedestrian tunduk melangkah
lorong pedestrian basah airmata
solus aegroti suprema lexest
ditulis lagi: aming aminoedhin
24 oktober 2008
MEMORIAL SUDIRMAN
syair nyanyian leo kristi
di bawah sorot lampu taman
engkau masih saja di situ adiek
tak ada selimut engkau tertidur sayang
berbantal tangan
sedan-sedan lewat
tak ganggu nyenyak tidurmu
keroncong kecil di tanganmu
hati besar di senyummu
senyum pahit di sekelilingmu
senyum manis di hatimu
hu.......hu......hu......
hu........hu......hu.......
adiek nyanyikan aku satu lagu
kasih sayang
tegak bayang-bayang berpedang
bungkukkan badan membelai rambutmu
mengusap wajah lembut kumal
seraya berbisik, “tabahlah hatimu!”
anak sudirman tertidur di bawah telapak kakimu
anak sudirman tertidur di bawah telapak kakimu
o....betapa panjangnya hari....
hari ini dan hari esok kan tiba
adiek nyanyikan aku satu lagu
bara hati..........!! bara hati..........!!!
bara hati..........!! bara hati .........!!!
ditulis kembali: aming aminoedhin
24 oktober 2006
syair nyanyian leo kristi
betapa sepi.... seorang nenek.....
sendiri
di tepi.... lalu coba menyapa....
lewatnya hari, kota lama ini
terlewat tak berakar kaca-kaca miskin jiwa
tepi-tepimu Surabaya
di mana kita mulai semua ini
gema nyanyian pahlawan
kini jadi nyanyian wayang
tepi-tepimu oh.. Surabaya
gelap turun bagi jalan perempuan tua
nenek bukalah pintu yang kuketuk
tapi tidak dengan air matamu
hidup selalu berubah lewat pasang surut Kalimas
sinar lentera dalam kabut tipis
belum juga mati menjelang pagi
sinar lentera berkedip-kedip
tidak juga mati menjelang pagi
ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008
SURABAYA
syair nyanyian leo kristi
engkau keras dan sombong
engkau kasar dan angkuh
tatapan penuh nafsu
keringatku bercucuran di deretan rel-rel
keringatku bercucuran di deretan bordil
keringatku bercucuran di deretan palka
keringatku bercucuran di bordes trem-trem
kota!
ketika kau hadap matahari senja
keringatku sirna oleh desir anginmu
Surabaya …… Surabaya ……. Surabaya…….
aku cinta kau!
hey bangun dan berdiri
nyanyikan tidurmu matahari
Surabaya …….. oh.. Surabaya…… oh.. Surabaya……
Surabaya …….. oh.. Surabaya…… oh.. Surabaya……
hey bangun dan berdiri
nyanyikan tidurmu matahari ....
ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008
OH… SURABAYA
syair nyanyian leo Kristi
dengar tuter dan tuter
mesin-mesin berbunyi riuh-riuh
roda-roda berputar
dari pagi ke pagi
tiada pernah berhenti
tiada pernah berhenti
siapkan ransel, gitar dan tenda
ke luar kota pergi bersama
tinggalkan asap kotor
yang membubung tinggi ke udara
kotamu oh……Surabaya
Oh…. Surabaya……oh… Surabaya….. oh… Surabaya
aku dibesarkan riang
tempatku dibesarkan senang oh… Surabaya
tata…..ta…ta……Tata…..ta….ta…..Tata…. ta…ta….oh…..
kulihat surya di timur
burung-burung bernyanyi riang….riang…..
bangau terbang berarak
pucuk Randu merekah
awal musim panas tiba
awal musim panas tiba
Ka…ka….ka…..ka….ka…..ka…..ka ..…
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...
Oh…ye…..oh….ye……oh...ye....!!!
Oh..ye..oh..ye..oh...ye....!!!
ditulis kembali: aming aminoedhin
20 Oktober 2008
SURABAYA BERNYANYI
nyanyian leo Kristi
Lek....! bulannya tunggu lek!
di sisi bunga-bunga enceng
Lek....! bulannya tunggu lek!
di sisi bunga-bunga enceng
kampung kemesraan lek!
Burung-burung kecil selesaikan sarang
Di pucuk –pucuk tangkai ilalang
Aha..... haa.....
Duka... duka istri dalam semalam
Cet...cet... cowet hingga pagi datang
Ke mana mereka pergi
Kembangkan sayap-sayap kecil dan sendiri
Semangat dan rasa terus mengalir
Semangat dan rasa terus mengalir jauh.....
Jongkok... pasar ...tiga kartuku berjajar
Nyari aku pada dipilih
Dengan segala tipumu
Anak manusia yang semakin jauh
Tembok-tembok kepala
Tembok-tembok telinga
Tembok-tembok mata memandang
Malam.............
Lihat jalan layang
Lampu-lampu neon jalanan
Lampu-lampu bintang dan bulan
Lampu-lampu pesawat terbang
Malam........!!!!!
Lihat jalan layang
Tembok-tembok kepala
Tembok-tembok telinga
Tembok-tembok mata memandang
Malam.............
Lintas jalan layang
Di mana terbang lepas... derita....
Lintas jalan layang
Tote lete ......Tote lete..........da...da... litata....
Tote lete ......Tote lete.......da...da....litata.......
Semangat dan rasa
Terus mengalir
Terus mengalir jauh
O...ooo....oooo....oooo....oooo!!!
O....ooo....oooo....oooo....oooo!!!
Anak-anak senyum dan bernyanyi
Di bawah pandan dan duri
Tatap hidup dan mati
Di hari kampung kemesraan
Lintas jalan layang ke taman Walikota
Tatap hidup dan mati.... berani!
Surabayaku bernyanyi.....bernyanyi
Tatap hidup dan mati.... berani!
Surabayaku bernyanyi ..bernyanyi
O.....leya.........leyo!
ditulis kembali: aming aminoedhin
22 Oktober 2008
SOLUS AEGROTI SUPREMA LEX EST
"penderita atau pasien adalah yang utama"
syair nyanyian leo kristi
lilin putih di tepi taman biru
gedung putih luas... tenang..... damai....
serasa tak.... lagi ada.... kota dan perang
karena saatlah dekat..... jalan..... Tuhan
solus aegroti suprema lexest
dilorong pedestrian tunduk melangkah
lorong pedestrian basah airmata
serasa tak... lagi ada.... kota dan perang
karena saatlah dekat... jalan....Tuhan
solus aegroti suprema lexest
lorong pedestrian tunduk melangkah
lorong pedestrian basah airmata
solus aegroti suprema lexest
ditulis lagi: aming aminoedhin
24 oktober 2008
MEMORIAL SUDIRMAN
syair nyanyian leo kristi
di bawah sorot lampu taman
engkau masih saja di situ adiek
tak ada selimut engkau tertidur sayang
berbantal tangan
sedan-sedan lewat
tak ganggu nyenyak tidurmu
keroncong kecil di tanganmu
hati besar di senyummu
senyum pahit di sekelilingmu
senyum manis di hatimu
hu.......hu......hu......
hu........hu......hu.......
adiek nyanyikan aku satu lagu
kasih sayang
tegak bayang-bayang berpedang
bungkukkan badan membelai rambutmu
mengusap wajah lembut kumal
seraya berbisik, “tabahlah hatimu!”
anak sudirman tertidur di bawah telapak kakimu
anak sudirman tertidur di bawah telapak kakimu
o....betapa panjangnya hari....
hari ini dan hari esok kan tiba
adiek nyanyikan aku satu lagu
bara hati..........!! bara hati..........!!!
bara hati..........!! bara hati .........!!!
ditulis kembali: aming aminoedhin
24 oktober 2006
Jumat, 10 Oktober 2008
tadarus puisi di AREK TEVE
tadarus puisi penyair dan penggurit
di “AREK TEVE” SURABAYA
Penghujung bulan Ramadhan 1429-H lalu, saya rekaman tadarus baca puisi dan guritan bersama rekan-rekan penyair dan penggurit Surabaya, dan Jawa Timur. Mereka antara lain: M. Shoim Anwar, Aming Aminoedhin, Suharmono Kasijun, Bonari Nabonenar, AF Tuasikal, R. Giryadi, Budi Palopo, Widodo Basuki, Suko Widodo (Dosen Unair), Priyo Budi Santoso (anggota DPR-RI), dan Imung Mulyanto (yang jadi juragane Arek Teve).
Ide Tadarus Puisi Bersama Istri
Ide tentang “Tadarus Puisi” ini, berawal saat saya bersama istri berbincang tentang acara “Para Kyai Baca Puisi” yang pernah saya gelar di Festival Seni Surabaya 2006 lalu. Kegiatan itu, banyak mendapat respons positif dari masyarakat. Penontonnya pun saat itu, meluber memenuhi Gedung Balai Pemuda Surabaya. Lantas, secara iseng saya punya ide buat acara “Tadarus Puisi” di televisi.
“Mengapa tidak?” tanya istri saya.
Lantas ide itu saya tulis dalam pesan singkat (sms) ke Imung Mulyanto, yang punya Arek Teve. Ternyata jawaban yang saya terima adalah masih didiskusikan dengan awaknya.
Nah... pada penghujung Ramadhan lalu, saya baru mendapat sms dari Sasetyo Wilutomo (awaknya Arek Teve), guna merealisasikan acara “Tadarus Puisi” itu dengan mengadakan rekaman.
Saya pun agak kelabakan, guna mengkontaks rekan-rekan penyair dan penggurit. Beberapa nama, antara lain: Akhudiat, Ida Nurul Chasanah, Adi Setyowadi, R. Giryadi, AF Tuasikal, M. Shoim Anwar, Budi Palopo, Widodo Basuki, dan kawan-kawan lain; ternyata tidak bisa ikut tampil rekaman. Mereka pada sudah pulang, alias mudik ke kampungnya. Diat, pas ngisi pengajian; Ida telah mudik ke Tuban, dan Adi pulang ke Semarang.
Tetap Rekaman dan Tetap Tayang
Meski hanya beberapa nama penyair dan penggurit, rekaman itu terap jadi dilaksanakan. Bersama rekan-rekan penyair dan penggurit.
Rekaman dimulai sejak lepas tarawih, hingga sahur hampir habis, alias imsak. Tepatnya, pukul 20.30. hingga 03.30 WIB. tanggal 27 September 2008 lalu. Tak hanya baca puisi dan gurit, tapi juga ada tampilan Kelompok Penyanyi Jalanan Surabaya, pimpinan Bokir Surogenggong itu.
Sedangkan dialog pembahasannya oleh: Prof. dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. dari Unesa Surabaya.
Acara ini direkam di halaman depan kantornya AREK Teve, tepatnya Rich Palace, Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Barangkali cukup menarik dalam acara rekaman ini, lantaran yang hadir di saat rekaman itu: ada Wawali Surabaya, Arief Affandi, dan ada juga Gus Ipul yang calon wakil gubernur Jatim itu.
Beberapa puisi, gurit dan lagu direkam yang kemudian ditayang-kan dalam acara bertajuk “Tadarus Puisi”, tanggal 2, 3, dan 4 Oktober 2008. lalu. Ada yang menarik, sebab acara bertajuk “Tadarus Puisi” yang seharusnya tayang sewaktu masih Ramadhan, harus tayang usai lebaran. Ini lantaran harus melalui perjalanan editan-editan dari para awaknya AREK Teve. (aming aminoedhin: amri.mira@gmail.com)
di “AREK TEVE” SURABAYA
Penghujung bulan Ramadhan 1429-H lalu, saya rekaman tadarus baca puisi dan guritan bersama rekan-rekan penyair dan penggurit Surabaya, dan Jawa Timur. Mereka antara lain: M. Shoim Anwar, Aming Aminoedhin, Suharmono Kasijun, Bonari Nabonenar, AF Tuasikal, R. Giryadi, Budi Palopo, Widodo Basuki, Suko Widodo (Dosen Unair), Priyo Budi Santoso (anggota DPR-RI), dan Imung Mulyanto (yang jadi juragane Arek Teve).
Ide Tadarus Puisi Bersama Istri
Ide tentang “Tadarus Puisi” ini, berawal saat saya bersama istri berbincang tentang acara “Para Kyai Baca Puisi” yang pernah saya gelar di Festival Seni Surabaya 2006 lalu. Kegiatan itu, banyak mendapat respons positif dari masyarakat. Penontonnya pun saat itu, meluber memenuhi Gedung Balai Pemuda Surabaya. Lantas, secara iseng saya punya ide buat acara “Tadarus Puisi” di televisi.
“Mengapa tidak?” tanya istri saya.
Lantas ide itu saya tulis dalam pesan singkat (sms) ke Imung Mulyanto, yang punya Arek Teve. Ternyata jawaban yang saya terima adalah masih didiskusikan dengan awaknya.
Nah... pada penghujung Ramadhan lalu, saya baru mendapat sms dari Sasetyo Wilutomo (awaknya Arek Teve), guna merealisasikan acara “Tadarus Puisi” itu dengan mengadakan rekaman.
Saya pun agak kelabakan, guna mengkontaks rekan-rekan penyair dan penggurit. Beberapa nama, antara lain: Akhudiat, Ida Nurul Chasanah, Adi Setyowadi, R. Giryadi, AF Tuasikal, M. Shoim Anwar, Budi Palopo, Widodo Basuki, dan kawan-kawan lain; ternyata tidak bisa ikut tampil rekaman. Mereka pada sudah pulang, alias mudik ke kampungnya. Diat, pas ngisi pengajian; Ida telah mudik ke Tuban, dan Adi pulang ke Semarang.
Tetap Rekaman dan Tetap Tayang
Meski hanya beberapa nama penyair dan penggurit, rekaman itu terap jadi dilaksanakan. Bersama rekan-rekan penyair dan penggurit.
Rekaman dimulai sejak lepas tarawih, hingga sahur hampir habis, alias imsak. Tepatnya, pukul 20.30. hingga 03.30 WIB. tanggal 27 September 2008 lalu. Tak hanya baca puisi dan gurit, tapi juga ada tampilan Kelompok Penyanyi Jalanan Surabaya, pimpinan Bokir Surogenggong itu.
Sedangkan dialog pembahasannya oleh: Prof. dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. dari Unesa Surabaya.
Acara ini direkam di halaman depan kantornya AREK Teve, tepatnya Rich Palace, Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Barangkali cukup menarik dalam acara rekaman ini, lantaran yang hadir di saat rekaman itu: ada Wawali Surabaya, Arief Affandi, dan ada juga Gus Ipul yang calon wakil gubernur Jatim itu.
Beberapa puisi, gurit dan lagu direkam yang kemudian ditayang-kan dalam acara bertajuk “Tadarus Puisi”, tanggal 2, 3, dan 4 Oktober 2008. lalu. Ada yang menarik, sebab acara bertajuk “Tadarus Puisi” yang seharusnya tayang sewaktu masih Ramadhan, harus tayang usai lebaran. Ini lantaran harus melalui perjalanan editan-editan dari para awaknya AREK Teve. (aming aminoedhin: amri.mira@gmail.com)
Selasa, 07 Oktober 2008
proses kreatif aming aminoedhin
proses keatif
aming aminoedhin
Awal Menulis Puisi
Dalam hal menulis karya sastra, saya, selain lingkungan keluarga yang sangat mendukung, karena banyaknya yang suka membaca dan menulis, juga karena aktivitas di sekolah. Sewaktu di sekolah tingkat SMAN Ngawi (1974-1976), saya aktif ikut membuat majalah dinding. Selain aktif sebagai penulis majalah dinding, beberapa karyaku berupa puisi, saya kirimkan ke berbagai majalah di Jakarta.
Pada awalnya saya hanya coba-coba-coba mengirimkan puisi-puisi, tanpa punya mimpi-mimpi. Apa lagi mimpi jadi seorang penyair. Tidak! Saya tidak punya impian itu. Bahkan pada awalnya saya mimpi masuk fakultas pertanian, biar jadi insinyur pertanian. Hanya sayangnya, ketika naik ke kelas dua SMA, saya masuk jurusan SOS atau sosial. Pupuslah harapan saya untuk kuliah di fakultas pertanian.
Berangkat dari jurusan SOS, yang mana teman-teman se-angkatan saya (Puguh Kadaryono, Widodo, Pitoyo, IGA Oka Kusumahadi) sering mengakronimkan sebagai ‘sekolah orang santai’ itulah, yang kemudian menjadikan saya sekolah seenaknya, alias suka pulang pagi sebelum jam pelajaran diakhiri.
Dari awal coba-coba kirim puisi itulah, salah satu puisiku, termuat di Majalah TOP Jakarta, tahun 1975, dan ini merupakan karya puisi pertama dimuat di sebuah majalah. Pada waktu itu, masih kelas II SMA, dan masih menggunakan nama asli Moh Amir Tohar. Dari majalah tersebut, saya mendapatkan honorarium penulisan melalui wesel yang dikirimkan ke sekolah, SMAN Ngawi. Lantas honorarium yang sebesar Rp750,00 (Tujuh Ratus Lima Puluh Rupiah) itulah, yang kemudian untuk mentraktir teman-teman saya sekelas. Berangkat dari sinilah, saya dijuluki teman-teman sekelas, sebagai penyair. Puisi saya yang termuat tersebut berjudul:
BENDERA
merah
putih
biru
hilang paling bawah
Indonesiaku
Ngawi, 1975
Pada waktu puisi itu termuat, nama Aming belum saya gunakan, tapi masih menggunakan nama aslinya Moh. Amir Tohar. Ketika itu masih berada di kota kelahiran, Ngawi, aktif kegiatan remaja masjid dan teater. Dunia bermain teater pernah mengantarkan saya jadi juara, sebagai aktor terbaik Lomba Drama se-Jawa Timur 1983 di Surabaya, dari kelompok Teater Persada Ngawi, pimpinan Mh. Iskan. Melalui komunitas Teater Persada inilah yang kemudian memberikan banyak masukan inspirasi dalam berkarya sastra, utamanya menulis puisi dan bermain drama.
Selepas lulus SMAN Ngawi, saya melanjutkan ke Fakultas Sastra – Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sewaktu kuliah di Fakultas Sastra inilah, saya berkompetisi menulis karya sastra dengan Wieranta (sekarang: Dosen Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta), Junaidi HS (sekarang: Guru SMAN 2 Ngawi), Kristanto Agus Purnomo atau Kriapur (almarhum), Moh. Imam Thobroni, Tito Setyo Budhi (sekarang: pengusaha di Sragen), Dedek Witranto, Bambang AeRTe, Anas Yusuf, Dedet Setiadi, dan Juhardi Basri. Tiga nama yang terakhir adalah generasi di bawah saya, sewaktu kuliah di Fakultas Sastra Sebelas Maret. Mereka bertiga teman berkompetitif antarmahasiswa dalam hal menulis di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret di Surakarta.
Selain itu, ada juga nama-nama: Jil P. Kalaran, Akhudiat, Sirikit Syah, Tengsoe Tjahjono, Redi Panuju, Herry Lamongan, Surasono Rashar, Tan Tjin Siong, Zoya Herawati, Roesdi-Zaki, Pudwianto Arisanto, Shoim Anwar, Suhandayana, Tubagus Hidayathollah (almarhum), dan banyak lagi; yang merupakan teman-teman segenarasi dalam hal menulis karya sastra, ketika saya berada di Surabaya. Menulis sastra, khususnya puisi, seakan tanpa henti. Bahkan membuat pentas-pentas sastra, termasuk Malam Sastra Surabaya, baca puisi di DKS, IKIP Ketintang, dan Taman Budaya.
Prinsip Menulis SastraBagi saya menulis sastra, khususnya puisi, seperti halnya menuliskan ‘wejangan’ atau ‘pitutur’ bagi pembacanya. Artinya, bahwa saya menulis puisi bermaksud menyalurkan pikiran-pikiran/ide-ide kreatif saya tentang bagaimanakah seseorang tersebut bisa berbuat baik, setelah membaca puisi itu. Tidak hanya wejangan dan pitutur atau petuah saja, tapi juga terkadang berisi kritik, agar manusia tergelitik dengan kesalahan yang ada dalam dirinya selama ini.
Menulis sastra puisi, bagi saya juga merupakan ibadah. Karena banyak puisi saya yang bicara soal tentang kebenaran nyata yang ada di dunia ini. Baik itu kebenaran yang berdasarkan Qur’ani atau pun hukum/norma sosial kemasyarakatan yang ada selama ini. Coba kita baca saja puisi-puisi berikut ini:
aming aminoedhin
BERJAMAAH DI PLAZA
kata seorang kyai, belajar ngaji
adalah amalan yang patut dipuji
dan sholat berjamaah
dapat pahala berkah
berlipat-lipat jumlah
tapi kenapa banyak orang
belajar nyanyi, belajar tari
dan baca puisi?
tapi kenapa banyak orang berjamaah
hanya di plaza-plaza
hamburkan uang berjuta-juta?
adakah ini dapat dipuji, dan
adakah plaza menyimpan pahala
berlipat ganda?
ah… barangkali saja, plaza-plaza
telah jadi berhala baru
yang dipoles gincu
begitu indah
dan banyak orang ikut berjamaah
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
SURABAYA I*
pasar kini telah berubah di sini
pasar adalah lampu-lampu iklan
di mana dagangan ditawarkan
lewat lampu-lampu iklan
yang gemerlap tinggi mencuat
aku hanya bisa nelangsa menatap
orang-orang dimuntahkan oleh bis-kota
dan plaza-plaza bertingkat, dan
di kemudian hari ditelan kembali
dengan jumlah dan hitungan kian sarat
plaza-plaza bertingkat
kian semakin padat pengunjung
rumah-rumah ibadat
semakin kehilangan juntrung
oleh pengunjung
lupakah mereka?
Itulah soalnya aku bertanya
Surabaya, 1986
aming aminoedhin
LARUT MALAM SURABAYA*
mobil-mobil yang lintas jalan layang
seakan terbang tanpa sayap
lampu-lampu jalan layang
berjejer diam menyimpan penyap
bunga-bunga taman mayangkara
tidaklah terhitung lengkap
rumput-rumputnya hijau meluas
tanpa ada tersisa sampah-sampah membekas
dan pohonan hias menyejuk mata
di antaranya terselip cahaya
lampu-lampu merkuri menebar asri
lampu-lampu kota warna-warni
lampu-lampu mobil tak mau mati
kota tiada mau diam, meski jam
telah sampai larut malam
kota ini adalah buaya, yang
menelan segala perangkat teknologi
teknologi abad ini, tanpa
terseleksi (diseleksi?)
1989
aming aminoedhin
EMBONG MALANG*
menelusuri jalan embong malang sianghari
terasa jalanan mengambang kebak polusi
kendaraan mengali satu arah
keringatku mencair begitu gerah
memandang selatan jalan embong malang
terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang
engkaukah yang telah mengubah
wajah kota begitu gagah
atau mungkin menyulap kota tampak begitu gagah
sementara di beberapa tempat
banyak orang mengumpat
soal pendapatan upah buruh taklagi diterima utuh
soal rumah leluhur menuimpan arsitektur lama
dengan pongah digusur-gusur, kota lama
seperti telah dikubur
embong malang jalan satu arah
tak memberi satu arah, bagi
arti kehidupan tanpa jurang pemisah
antara yang mewah dan lainnya berdarah
atau mungkin bernanah?
Surabaya, 1996
Kota Surabaya, merupakan kota ketiga saya dalam berkiprah menulis karya sastra. Sebab kota pertama dalam mengawali menulis puisi adalah Ngawi; yang merupakan kota kelahiran. Kota kedua adalah Surakarta, ketika saya menimba ilmu sastra di sana. Lantas di kota Surabaya, saya tidak hanya berkiprah dalam dunia tulis-menulis saja, tapi juga pernah menjadi Pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), Koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS) di PPIA Surabaya (1986-1990-an), Koordinator Himpunan Penulis Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur (1987-1990-an), dan Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) (Forum Sastra Bersama Surabaya).
Ketika berada di kota budaya, Surakarta atau Solo itu, banyak puisi saya termuat di majalah “Zaman” dan “Horison”, yang di antaranya adalah:
aming aminoedhin
SURAT DARI BLORA*
Rumah di atas bukit
bukit bukit berenang atas danau
jembatan kayu gantung menyeberang
dedaun merimbun, jalanan
membelah pohon-pohon
sebelas kilo utara kota
menapak tiga kilo langkah kaki
rumah di atas bukit
Sepi menggasing tanpa tv tanpa polusi
fajar menyingsing ceria mentari
langit jingga berselendang senja
kaki pertama perempuan mandi danau
alam menyapa rembang petang
duka yang kemarin ada
kau tangkap sebentuk sepi
peronda tak kunjung bersuara
kokok ayam tak juga-juga tiba
malam pun enggan menggeliat
hari-hari berlanjut kecut
duka, sepi dan malam kaucampakkan
Sore puluhan putih burung mengepak sayap senja itik berbaris riang pulang kandang
malam perahu di danau, ikan dalam bubu mati udang-udang danau kaucari
Bulan berenang di danau, sendiri
kaudayung perahu arah bulan
bulan pecah, kembali tergantung di awan
sepi mengangkat muka
engkau menatap akrab
sawah meninggi, kali di bawah kaki sawah
air kali tanpa kincir air
sawah kehausan, bak
bulan tanpa malam
siang tanpa mentari
saat waktu lusa kau terlena malam
hari ini bulan masih tersisa, jangan tunda perempuan selalu dihadang waktu
kunci yang kaubawa
kan berkarat nanti
air bagi sawah
malam bagi bulan
mentari bagi siang
adalah kunci-kunci manusiawi
Solo, 1981
Hidup di kota Surabaya inilah yang kemudian saya banyak menulis tentang kota Surabaya, dari persoalan kritik, sosial, dan bahkan kegelisahannya menatap kota metropolitan kedua Indonesia ini. Puisi-puisi saya banyak yang memotret keberadaan kota Surabaya tersebut.
Coba kita simak puisi berikut ini:
SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENARaming aminoedhin
Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat
Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap
Ajari aku tidak angkuh
Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh
Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh
Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta
jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja
seperti orang-orang dewan di Jakarta
Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat
lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
membuat kata putus benar-benar manusiawi
menjalankan program dengan kendaraan nurani hati
Surabaya ajari aku. Ajari aku
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut
yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat
menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad
tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung
Surabaya memang boleh berdandan
Bila malam lampu-lampu iklan warna-warni
Siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi
Senja meremang, mentarinya seindah pagi
Di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita
Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya
Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan
Kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar
Dan suara rakyat adalah suara kebenaran
Tak terbantahkan. Tak terbantahkan!
Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar!
Surabaya, 21 November 2005
Saya juga merupakan penggagas adanya Malam Sastra Surabaya atau lebih dikenal dengan singkatan Malsasa, sejak tahun 1989-an hingga terakhir menggelar pada tahun 2007. Penggagas pula acara baca puisi peduli “Perang Irak” di Taman Budaya Jawa Timur, pentas seni kemanusiaan “Duka Aceh Duka Bersama” di Taman Budaya Jawa Timur. Terakhir, saya punya ide “baca puisi masuk teve”, lantas bulannya pas bulan Ramadhan, maka ide saya gelontorkan ke Imung Mulyanto yang kini jadi juragannya “Arek Teve – Surabaya Raya”. Ide itu ditangkap, lantas saya disuruh koordinir rekan-rekan penyair. Ternyata bisa! Rekaman dari habis tarawih hingga hampir imsak, jadilah rekaman itu dalam tiga episode, bertajuk “Tadarus Puisi”. Tidak hanya penyair dan penggurit yang tampil, ada juga KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) Surabaya, pimpinan Bokir Surogenggong.
Sebagai penulis puisi, saya pernah ikut temu penyair jateng di Semarang (1983), temu penyair indonesia di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1987), dan ikut memberikan pelatihan menulis dan baca puisi di berbagai kota di Jawa Tmur, antara lain: Batu, Lamongan, Madiun, Mojokerto, Lumajang, Banyuwangi, Tulungagung, Blitar, Probolinggo, dan banyak lagi kota.
Karya puisi saya banyak dimuat di koran dan majalah lokal dan ibu kota, antara lain: Surabaya Post, Berita Buana, Republika, Singgalang, Sriwijaya Post, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post dan banyak lagi. Sedang majalah yang memuat puisinya antara lain: Gadis, Putera dan Puteri Indonesia, Pusara, Bende, Media, Zaman, Majalah Sastra Horison, dan Majalah Kebudayaan Basis.
Kumpulan puisinya bersama rekan penyair lain, di antaranya: Husst, Nyenyet, Wajah Bertiga, Reportase Sunyi, Pagelaran, Malsasa ‘92, ‘94, ‘96, 2000, 2005, 2007; Surabaya Kotaku, Burung-Burung, Memo Putih, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Semangat Tanjung Perak, Kabar Saka Bendul Mrisi, Drona Gugat, dan banyak lagi. Kumpulan puisinya sendiri: Berjamaah di Plaza, Mataku Mata Ikan, Embong Malang, Kereta Puisi, dan Sketsa Malam. Kumpulan geguritan Tanpa Mripat, dan kumpulan sajak anak-anak ‘Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu’, " "Memutih Putih Begitu Jernih" (2008),
Sekarang aktif di PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto), Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya), ikut jadi motivator ARS (Alam Ruang Sastra) Komunitas Sastra Sidoarjo, dan kini masih bekerja di Balai Bahasa Surabaya di Sidoarjo.
Buku kumpulan puisi garapan Aming Aminoedhin:
Semangat Tanjung Perak, (editor, 1992).
Surabaya Kotaku (editor, Dewan Kesenian Surabaya, 1990).
Malsasa ’91 (editor, Dewan Kesenian Surabaya & Sufo, 1991)
Malsasa ’92 (editor, Penerbit Sintarlistra, 1992)
Malsasa ’94 (editor, Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, 1994)
Bunga Rampai Bunga Pinggiran (editor, antologi puisi, 1995)
Malsasa ’96 (editor, Dewan Kesenian Surabaya, 1996)
Malsasa 2000 (editor, Balai Bahasa Surabaya, 2000).
Berjamaah di Plaza (kumpulan puisi, Mandiri Press Mojokerto, 2000).
Omonga Apa Wae (editor kumpulan puisi, Taman Budaya Jawa Timur, 2000)
Tanah Persada (editor, Teater Persada Ngawi, 1983)
Tanah Kapur (editor, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1990)
Tanah Rengkah (editor, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1997)
Mataku Mata Ikan (kumpulan puisi, DKJT, 2004).
Embong Malang ( kumpulan puisi, proses cetakan, 2005)
Sketsa Malam (kumpulan puisi, dalam proses, 2000)
Kereta Puisi (kumpulan puisi, Dewan Kesenian Surabaya, 1990)
Wajah Bertiga (editor, Sintarlistra Surabaya, 1987).
Burung-Burung (editor, Sintarlistra Surabaya, 1990)
Tanpa Mripat, kumpulan guritan (FSBS, 2005)
Malsasa 2005 (editor, kumpulan puisi bersama FSBS, 2005)
Surabaya 714, Malsasa 2007 (editor, kumpulan puisi bersama FSBS, 2007)
Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu, kumpulan sajak anak-anak (FSBS. 2008)
MEmutih Putih Begitu Jernih, kumpulan sajak - dalam proses cetakan(FSBS, 2008)
Trilogi Tanah, dalam tahap proses cetak (2008)
Memutih Putih Begitu Jernih, dalam tahap proses cetak (2008)
Latar Belakang Keluarga
Aming Aminoedhin, adalah nama samaran dari nama asli Mohammad Amir Tohar. Lahir di Ngawi, 22 Desember 1957. Ayah saya seorang guru agama Islam di sebuah SMPN, ibu pun juga seorang guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Ayah bernama A.H. Aminoedhin (lahir tahun 1918), sementara ibu bernama Soeparijem (lahir tahun 1925).
Saya adalah anak kelima dari delapan bersaudara. Dari kedelapan saudara ini, kakaknya nomor dua, bernama M. Har Harijadi, juga seorang penulis, baik cerpen, puisi, cerita anak, dan esai (wafat: 27 September 2007). Begitu pula kakak saya nomor empat, bernama Yulia Amirulfata (samaran: Lia Aminoedhin), juga seorang penulis puisi (tidak diteruskan karena sudah disibukkan jadi guru SMP Muhammadiyah di Yogya dan bersuami). Sedangkan dua adik perempuan, Ummi Hanifah Hariyani (samaran: Yani Aminoedhin) dan Ummi Mukharomah Hariyanti (guru SMAN 2 Ngawi), sebenarnya juga menulis; hanya saja tidak diteruskan bakat menulisnya, karena sibuk pekerjaan dan rumah tangga. Secara keseluruhan saudara saya: Ummi Haniek,B.A. (guru SMPN 5 Ngawi), M.Harijadi(almarhum), M. Anies Harijono (TU SMK Muhammadiyah Ngawi), Yulia Amirulfata (Guru SMP Muhammadiyah, Stan, Sleman, Yogyakarta), M. Amir Tohar (alias Aming Aminoedhin), Ummi Hanifah Hariyani (Bu Kadus Krapyak - Yogyakarta), Ummi Mukharomah Hariyanti (Guru SMAN 2 Ngawi), dan M. Yusuf Arsyad (usaha travel di Yogya).
Bakat menulis saya berangkat dari lingkungan keluarga yang banyak menulis, seperti kakak-kakak dan adik-adik. Termasuk pula di antaranya, paman saya seorang sastrawan yang merupakan salah satu tokoh Angkatan ’66 versi HB Jassin, bernama M. Alwan Tafsiri. Begitu pula tetangganya ada juga seorang penulis naskah drama dan puisi, Mh. Iskan.
Istri saya bernama Sulistyani Uran. Mantan seorang perawat RS Darmo Surabaya, kelahiran Kediri, 27 September 1963. Bersama istri, saya mempunyai 4 anak, yaitu Ade Malsasa Akbar (Surabaya, 02-12-1992, laki-laki), Tegar Kartika Akbar (Surabaya, 10-07-1994, laki-laki), Amri Perkasa Akbar (Mojokerto, 30-08-2000, laki-laki), Mira Aulia Alamanda (Mojokerto, 02-04-2003, perempuan).
Latar Belakang Pendidikan
Pendidikan yang pernah saya tempuh adalah: TK Muhammadiyah Ngawi (1968-1969), SDN Ronggowarsito 2 Ngawi (lulus 1970), SMPN 1 Ngawi (lulus 1973), SMAN Ngawi, Jurusan Sosial (lulus 1976).
Selepas pendidikan SD dan SMA, melanjutkan ke Fakultas Sastra, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta (masuk kuliah tahun 1977). Lulus sarjana muda dengan gelar B.A. pada tahun 1982. Sebelum sarjana muda diraih, ia sempat kuliah D-III satu tahun, pada pada jurusan yang sama, fakultas keguruan di universitas yang sama, dengan mendapatkan ijazah Diploma dan Akta III, pada tahun 1981. Setelah itu melanjutkan kembali tingkat dotoralnya di fakultas sastra jurusan yang sama, dengan meraih sarjana sastra, jurusan bahasa dan sastra Indonesia dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, pada tahun 1987.
Latar Belakang Pekerjaan
Selepas kuliah dengan mendapat gelar sarjana muda, Aming Aminoedhin pulang ke kampung halamannya di Ngawi. Selama setahun saya sempat mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP PGRI 1 Ngawi.
Sewaktu masih kuliah pernah bekerja sebagai wartawan lepas di berbagai koran di Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Pernah juga staf redaksi koran kampus ‘Sebelas Maret’ di Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Menjadi PNS di Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sejak tahun 1984. Bekerja di Sub Bagian Penerangan, Bagian Tata Usaha, pada bidang penerbitan majalah bulanan “Media” sebagai pemimpin redaksi. Pernah juga ikut membidani dan mengelola keredaksionalan “Tabloid Bekal” koran pelajar Jawa Timur, yang diprakarsai Harian Surabaya Post dan Kanwil Depdikbud Jawa Timur. Ikut pula menjadi Redaksi Majalah Kebudayaan Kalimas di Surabaya, lantas termasuk ikut dalam Staf Redaksi Buletin DKS (Dewan Kesenian Surabaya), serta Majalah Memorida Kanwil Depdikbud Jawa Timur.
Dalam bidang seni dan budaya, saya, pernah jadi koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS), Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur, dan Forum Apresiasi Sastra Mojokerto (Forasamo). Menjadi pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (2004- sekarang). Periode tahun 1995- sekarang masih jadi pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Dalam PPSJS, ia membidani terbitnya “Teplok-Dluwangwarta PPSJS” sebagai pemimpin redaksi. Saya juga pernah dikirim dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara XII di Singapura, mewakili Jawa Timur (2003).
Jabatan yang masih diemban sampai sekarang Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya) yang telah dua kali penyelenggara pentas Malam Sastra Surabaya (2005-2007).
Sejak tahun 2000, saya, mutasi pekerjaan dari Kanwil Depdikbud Jawa Timur ke Balai Bahasa Surabaya, sebagai kandidat peneliti bahasa dan sastra Indonesia dan Jawa. Karena saya menganggap lebih cocok pada bidang penulisan dan penelitian, sesuai dengan ijazah sarjana sastra saya. Pada waktu itu, 2005, ia telah mengajukan jabatan fungsional sebagai peneliti ke Pusat Bahasa di Jakarta. Tapi hingga sekarang tak pernah turun jabatan fungsional sebagai peneliti. (Konon, umurnya terlalu tua jadi peneliti, ya,,, mau apa? Ya sudah, jadi penyair saja).
Ini hanya sebagian proses kreatif yang bisa saya tulis dengan tergesa-gesa, semoga besok-besok bisa mengedit lebih baik lagi. Salam budaya! (aming aminoedhin)
Desaku Canggu, 7 Oktober 2008
* termuat di Majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989* termuat di Majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989* termuat di Koran Memorandum – Surabaya, 30 Juni 1996* dimuat di majalah Zaman Jakarta, 27 Desember 1981
aming aminoedhin
Awal Menulis PuisiDalam hal menulis karya sastra, saya, selain lingkungan keluarga yang sangat mendukung, karena banyaknya yang suka membaca dan menulis, juga karena aktivitas di sekolah. Sewaktu di sekolah tingkat SMAN Ngawi (1974-1976), saya aktif ikut membuat majalah dinding. Selain aktif sebagai penulis majalah dinding, beberapa karyaku berupa puisi, saya kirimkan ke berbagai majalah di Jakarta.
Pada awalnya saya hanya coba-coba-coba mengirimkan puisi-puisi, tanpa punya mimpi-mimpi. Apa lagi mimpi jadi seorang penyair. Tidak! Saya tidak punya impian itu. Bahkan pada awalnya saya mimpi masuk fakultas pertanian, biar jadi insinyur pertanian. Hanya sayangnya, ketika naik ke kelas dua SMA, saya masuk jurusan SOS atau sosial. Pupuslah harapan saya untuk kuliah di fakultas pertanian.
Berangkat dari jurusan SOS, yang mana teman-teman se-angkatan saya (Puguh Kadaryono, Widodo, Pitoyo, IGA Oka Kusumahadi) sering mengakronimkan sebagai ‘sekolah orang santai’ itulah, yang kemudian menjadikan saya sekolah seenaknya, alias suka pulang pagi sebelum jam pelajaran diakhiri.
Dari awal coba-coba kirim puisi itulah, salah satu puisiku, termuat di Majalah TOP Jakarta, tahun 1975, dan ini merupakan karya puisi pertama dimuat di sebuah majalah. Pada waktu itu, masih kelas II SMA, dan masih menggunakan nama asli Moh Amir Tohar. Dari majalah tersebut, saya mendapatkan honorarium penulisan melalui wesel yang dikirimkan ke sekolah, SMAN Ngawi. Lantas honorarium yang sebesar Rp750,00 (Tujuh Ratus Lima Puluh Rupiah) itulah, yang kemudian untuk mentraktir teman-teman saya sekelas. Berangkat dari sinilah, saya dijuluki teman-teman sekelas, sebagai penyair. Puisi saya yang termuat tersebut berjudul:
BENDERA
merah
putih
biru
hilang paling bawah
Indonesiaku
Ngawi, 1975
Pada waktu puisi itu termuat, nama Aming belum saya gunakan, tapi masih menggunakan nama aslinya Moh. Amir Tohar. Ketika itu masih berada di kota kelahiran, Ngawi, aktif kegiatan remaja masjid dan teater. Dunia bermain teater pernah mengantarkan saya jadi juara, sebagai aktor terbaik Lomba Drama se-Jawa Timur 1983 di Surabaya, dari kelompok Teater Persada Ngawi, pimpinan Mh. Iskan. Melalui komunitas Teater Persada inilah yang kemudian memberikan banyak masukan inspirasi dalam berkarya sastra, utamanya menulis puisi dan bermain drama.
Selepas lulus SMAN Ngawi, saya melanjutkan ke Fakultas Sastra – Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sewaktu kuliah di Fakultas Sastra inilah, saya berkompetisi menulis karya sastra dengan Wieranta (sekarang: Dosen Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta), Junaidi HS (sekarang: Guru SMAN 2 Ngawi), Kristanto Agus Purnomo atau Kriapur (almarhum), Moh. Imam Thobroni, Tito Setyo Budhi (sekarang: pengusaha di Sragen), Dedek Witranto, Bambang AeRTe, Anas Yusuf, Dedet Setiadi, dan Juhardi Basri. Tiga nama yang terakhir adalah generasi di bawah saya, sewaktu kuliah di Fakultas Sastra Sebelas Maret. Mereka bertiga teman berkompetitif antarmahasiswa dalam hal menulis di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret di Surakarta.
Selain itu, ada juga nama-nama: Jil P. Kalaran, Akhudiat, Sirikit Syah, Tengsoe Tjahjono, Redi Panuju, Herry Lamongan, Surasono Rashar, Tan Tjin Siong, Zoya Herawati, Roesdi-Zaki, Pudwianto Arisanto, Shoim Anwar, Suhandayana, Tubagus Hidayathollah (almarhum), dan banyak lagi; yang merupakan teman-teman segenarasi dalam hal menulis karya sastra, ketika saya berada di Surabaya. Menulis sastra, khususnya puisi, seakan tanpa henti. Bahkan membuat pentas-pentas sastra, termasuk Malam Sastra Surabaya, baca puisi di DKS, IKIP Ketintang, dan Taman Budaya.
Prinsip Menulis SastraBagi saya menulis sastra, khususnya puisi, seperti halnya menuliskan ‘wejangan’ atau ‘pitutur’ bagi pembacanya. Artinya, bahwa saya menulis puisi bermaksud menyalurkan pikiran-pikiran/ide-ide kreatif saya tentang bagaimanakah seseorang tersebut bisa berbuat baik, setelah membaca puisi itu. Tidak hanya wejangan dan pitutur atau petuah saja, tapi juga terkadang berisi kritik, agar manusia tergelitik dengan kesalahan yang ada dalam dirinya selama ini.
Menulis sastra puisi, bagi saya juga merupakan ibadah. Karena banyak puisi saya yang bicara soal tentang kebenaran nyata yang ada di dunia ini. Baik itu kebenaran yang berdasarkan Qur’ani atau pun hukum/norma sosial kemasyarakatan yang ada selama ini. Coba kita baca saja puisi-puisi berikut ini:
aming aminoedhin
BERJAMAAH DI PLAZA
kata seorang kyai, belajar ngaji
adalah amalan yang patut dipuji
dan sholat berjamaah
dapat pahala berkah
berlipat-lipat jumlah
tapi kenapa banyak orang
belajar nyanyi, belajar tari
dan baca puisi?
tapi kenapa banyak orang berjamaah
hanya di plaza-plaza
hamburkan uang berjuta-juta?
adakah ini dapat dipuji, dan
adakah plaza menyimpan pahala
berlipat ganda?
ah… barangkali saja, plaza-plaza
telah jadi berhala baru
yang dipoles gincu
begitu indah
dan banyak orang ikut berjamaah
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
SURABAYA I*
pasar kini telah berubah di sini
pasar adalah lampu-lampu iklan
di mana dagangan ditawarkan
lewat lampu-lampu iklan
yang gemerlap tinggi mencuat
aku hanya bisa nelangsa menatap
orang-orang dimuntahkan oleh bis-kota
dan plaza-plaza bertingkat, dan
di kemudian hari ditelan kembali
dengan jumlah dan hitungan kian sarat
plaza-plaza bertingkat
kian semakin padat pengunjung
rumah-rumah ibadat
semakin kehilangan juntrung
oleh pengunjung
lupakah mereka?
Itulah soalnya aku bertanya
Surabaya, 1986
aming aminoedhin
LARUT MALAM SURABAYA*
mobil-mobil yang lintas jalan layang
seakan terbang tanpa sayap
lampu-lampu jalan layang
berjejer diam menyimpan penyap
bunga-bunga taman mayangkara
tidaklah terhitung lengkap
rumput-rumputnya hijau meluas
tanpa ada tersisa sampah-sampah membekas
dan pohonan hias menyejuk mata
di antaranya terselip cahaya
lampu-lampu merkuri menebar asri
lampu-lampu kota warna-warni
lampu-lampu mobil tak mau mati
kota tiada mau diam, meski jam
telah sampai larut malam
kota ini adalah buaya, yang
menelan segala perangkat teknologi
teknologi abad ini, tanpa
terseleksi (diseleksi?)
1989
aming aminoedhin
EMBONG MALANG*
menelusuri jalan embong malang sianghari
terasa jalanan mengambang kebak polusi
kendaraan mengali satu arah
keringatku mencair begitu gerah
memandang selatan jalan embong malang
terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang
engkaukah yang telah mengubah
wajah kota begitu gagah
atau mungkin menyulap kota tampak begitu gagah
sementara di beberapa tempat
banyak orang mengumpat
soal pendapatan upah buruh taklagi diterima utuh
soal rumah leluhur menuimpan arsitektur lama
dengan pongah digusur-gusur, kota lama
seperti telah dikubur
embong malang jalan satu arah
tak memberi satu arah, bagi
arti kehidupan tanpa jurang pemisah
antara yang mewah dan lainnya berdarah
atau mungkin bernanah?
Surabaya, 1996
Kota Surabaya, merupakan kota ketiga saya dalam berkiprah menulis karya sastra. Sebab kota pertama dalam mengawali menulis puisi adalah Ngawi; yang merupakan kota kelahiran. Kota kedua adalah Surakarta, ketika saya menimba ilmu sastra di sana. Lantas di kota Surabaya, saya tidak hanya berkiprah dalam dunia tulis-menulis saja, tapi juga pernah menjadi Pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), Koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS) di PPIA Surabaya (1986-1990-an), Koordinator Himpunan Penulis Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur (1987-1990-an), dan Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) (Forum Sastra Bersama Surabaya).
Ketika berada di kota budaya, Surakarta atau Solo itu, banyak puisi saya termuat di majalah “Zaman” dan “Horison”, yang di antaranya adalah:
aming aminoedhin
SURAT DARI BLORA*
Rumah di atas bukit
bukit bukit berenang atas danau
jembatan kayu gantung menyeberang
dedaun merimbun, jalanan
membelah pohon-pohon
sebelas kilo utara kota
menapak tiga kilo langkah kaki
rumah di atas bukit
Sepi menggasing tanpa tv tanpa polusi
fajar menyingsing ceria mentari
langit jingga berselendang senja
kaki pertama perempuan mandi danau
alam menyapa rembang petang
duka yang kemarin ada
kau tangkap sebentuk sepi
peronda tak kunjung bersuara
kokok ayam tak juga-juga tiba
malam pun enggan menggeliat
hari-hari berlanjut kecut
duka, sepi dan malam kaucampakkan
Sore puluhan putih burung mengepak sayap senja itik berbaris riang pulang kandang
malam perahu di danau, ikan dalam bubu mati udang-udang danau kaucari
Bulan berenang di danau, sendiri
kaudayung perahu arah bulan
bulan pecah, kembali tergantung di awan
sepi mengangkat muka
engkau menatap akrab
sawah meninggi, kali di bawah kaki sawah
air kali tanpa kincir air
sawah kehausan, bak
bulan tanpa malam
siang tanpa mentari
saat waktu lusa kau terlena malam
hari ini bulan masih tersisa, jangan tunda perempuan selalu dihadang waktu
kunci yang kaubawa
kan berkarat nanti
air bagi sawah
malam bagi bulan
mentari bagi siang
adalah kunci-kunci manusiawi
Solo, 1981
Hidup di kota Surabaya inilah yang kemudian saya banyak menulis tentang kota Surabaya, dari persoalan kritik, sosial, dan bahkan kegelisahannya menatap kota metropolitan kedua Indonesia ini. Puisi-puisi saya banyak yang memotret keberadaan kota Surabaya tersebut.
Coba kita simak puisi berikut ini:
SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENARaming aminoedhin
Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat
Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap
Ajari aku tidak angkuh
Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh
Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh
Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta
jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja
seperti orang-orang dewan di Jakarta
Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat
lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
membuat kata putus benar-benar manusiawi
menjalankan program dengan kendaraan nurani hati
Surabaya ajari aku. Ajari aku
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut
yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat
menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad
tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung
Surabaya memang boleh berdandan
Bila malam lampu-lampu iklan warna-warni
Siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi
Senja meremang, mentarinya seindah pagi
Di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita
Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya
Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan
Kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar
Dan suara rakyat adalah suara kebenaran
Tak terbantahkan. Tak terbantahkan!
Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar!
Surabaya, 21 November 2005
Saya juga merupakan penggagas adanya Malam Sastra Surabaya atau lebih dikenal dengan singkatan Malsasa, sejak tahun 1989-an hingga terakhir menggelar pada tahun 2007. Penggagas pula acara baca puisi peduli “Perang Irak” di Taman Budaya Jawa Timur, pentas seni kemanusiaan “Duka Aceh Duka Bersama” di Taman Budaya Jawa Timur. Terakhir, saya punya ide “baca puisi masuk teve”, lantas bulannya pas bulan Ramadhan, maka ide saya gelontorkan ke Imung Mulyanto yang kini jadi juragannya “Arek Teve – Surabaya Raya”. Ide itu ditangkap, lantas saya disuruh koordinir rekan-rekan penyair. Ternyata bisa! Rekaman dari habis tarawih hingga hampir imsak, jadilah rekaman itu dalam tiga episode, bertajuk “Tadarus Puisi”. Tidak hanya penyair dan penggurit yang tampil, ada juga KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) Surabaya, pimpinan Bokir Surogenggong.
Sebagai penulis puisi, saya pernah ikut temu penyair jateng di Semarang (1983), temu penyair indonesia di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1987), dan ikut memberikan pelatihan menulis dan baca puisi di berbagai kota di Jawa Tmur, antara lain: Batu, Lamongan, Madiun, Mojokerto, Lumajang, Banyuwangi, Tulungagung, Blitar, Probolinggo, dan banyak lagi kota.
Karya puisi saya banyak dimuat di koran dan majalah lokal dan ibu kota, antara lain: Surabaya Post, Berita Buana, Republika, Singgalang, Sriwijaya Post, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post dan banyak lagi. Sedang majalah yang memuat puisinya antara lain: Gadis, Putera dan Puteri Indonesia, Pusara, Bende, Media, Zaman, Majalah Sastra Horison, dan Majalah Kebudayaan Basis.
Kumpulan puisinya bersama rekan penyair lain, di antaranya: Husst, Nyenyet, Wajah Bertiga, Reportase Sunyi, Pagelaran, Malsasa ‘92, ‘94, ‘96, 2000, 2005, 2007; Surabaya Kotaku, Burung-Burung, Memo Putih, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Semangat Tanjung Perak, Kabar Saka Bendul Mrisi, Drona Gugat, dan banyak lagi. Kumpulan puisinya sendiri: Berjamaah di Plaza, Mataku Mata Ikan, Embong Malang, Kereta Puisi, dan Sketsa Malam. Kumpulan geguritan Tanpa Mripat, dan kumpulan sajak anak-anak ‘Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu’, " "Memutih Putih Begitu Jernih" (2008),
Sekarang aktif di PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto), Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya), ikut jadi motivator ARS (Alam Ruang Sastra) Komunitas Sastra Sidoarjo, dan kini masih bekerja di Balai Bahasa Surabaya di Sidoarjo.
Buku kumpulan puisi garapan Aming Aminoedhin:
Semangat Tanjung Perak, (editor, 1992).
Surabaya Kotaku (editor, Dewan Kesenian Surabaya, 1990).
Malsasa ’91 (editor, Dewan Kesenian Surabaya & Sufo, 1991)
Malsasa ’92 (editor, Penerbit Sintarlistra, 1992)
Malsasa ’94 (editor, Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, 1994)
Bunga Rampai Bunga Pinggiran (editor, antologi puisi, 1995)
Malsasa ’96 (editor, Dewan Kesenian Surabaya, 1996)
Malsasa 2000 (editor, Balai Bahasa Surabaya, 2000).
Berjamaah di Plaza (kumpulan puisi, Mandiri Press Mojokerto, 2000).
Omonga Apa Wae (editor kumpulan puisi, Taman Budaya Jawa Timur, 2000)
Tanah Persada (editor, Teater Persada Ngawi, 1983)
Tanah Kapur (editor, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1990)
Tanah Rengkah (editor, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1997)
Mataku Mata Ikan (kumpulan puisi, DKJT, 2004).
Embong Malang ( kumpulan puisi, proses cetakan, 2005)
Sketsa Malam (kumpulan puisi, dalam proses, 2000)
Kereta Puisi (kumpulan puisi, Dewan Kesenian Surabaya, 1990)
Wajah Bertiga (editor, Sintarlistra Surabaya, 1987).
Burung-Burung (editor, Sintarlistra Surabaya, 1990)
Tanpa Mripat, kumpulan guritan (FSBS, 2005)
Malsasa 2005 (editor, kumpulan puisi bersama FSBS, 2005)
Surabaya 714, Malsasa 2007 (editor, kumpulan puisi bersama FSBS, 2007)
Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu, kumpulan sajak anak-anak (FSBS. 2008)
MEmutih Putih Begitu Jernih, kumpulan sajak - dalam proses cetakan(FSBS, 2008)
Trilogi Tanah, dalam tahap proses cetak (2008)
Memutih Putih Begitu Jernih, dalam tahap proses cetak (2008)
Latar Belakang Keluarga
Aming Aminoedhin, adalah nama samaran dari nama asli Mohammad Amir Tohar. Lahir di Ngawi, 22 Desember 1957. Ayah saya seorang guru agama Islam di sebuah SMPN, ibu pun juga seorang guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Ayah bernama A.H. Aminoedhin (lahir tahun 1918), sementara ibu bernama Soeparijem (lahir tahun 1925).
Saya adalah anak kelima dari delapan bersaudara. Dari kedelapan saudara ini, kakaknya nomor dua, bernama M. Har Harijadi, juga seorang penulis, baik cerpen, puisi, cerita anak, dan esai (wafat: 27 September 2007). Begitu pula kakak saya nomor empat, bernama Yulia Amirulfata (samaran: Lia Aminoedhin), juga seorang penulis puisi (tidak diteruskan karena sudah disibukkan jadi guru SMP Muhammadiyah di Yogya dan bersuami). Sedangkan dua adik perempuan, Ummi Hanifah Hariyani (samaran: Yani Aminoedhin) dan Ummi Mukharomah Hariyanti (guru SMAN 2 Ngawi), sebenarnya juga menulis; hanya saja tidak diteruskan bakat menulisnya, karena sibuk pekerjaan dan rumah tangga. Secara keseluruhan saudara saya: Ummi Haniek,B.A. (guru SMPN 5 Ngawi), M.Harijadi(almarhum), M. Anies Harijono (TU SMK Muhammadiyah Ngawi), Yulia Amirulfata (Guru SMP Muhammadiyah, Stan, Sleman, Yogyakarta), M. Amir Tohar (alias Aming Aminoedhin), Ummi Hanifah Hariyani (Bu Kadus Krapyak - Yogyakarta), Ummi Mukharomah Hariyanti (Guru SMAN 2 Ngawi), dan M. Yusuf Arsyad (usaha travel di Yogya).
Bakat menulis saya berangkat dari lingkungan keluarga yang banyak menulis, seperti kakak-kakak dan adik-adik. Termasuk pula di antaranya, paman saya seorang sastrawan yang merupakan salah satu tokoh Angkatan ’66 versi HB Jassin, bernama M. Alwan Tafsiri. Begitu pula tetangganya ada juga seorang penulis naskah drama dan puisi, Mh. Iskan.
Istri saya bernama Sulistyani Uran. Mantan seorang perawat RS Darmo Surabaya, kelahiran Kediri, 27 September 1963. Bersama istri, saya mempunyai 4 anak, yaitu Ade Malsasa Akbar (Surabaya, 02-12-1992, laki-laki), Tegar Kartika Akbar (Surabaya, 10-07-1994, laki-laki), Amri Perkasa Akbar (Mojokerto, 30-08-2000, laki-laki), Mira Aulia Alamanda (Mojokerto, 02-04-2003, perempuan).
Latar Belakang Pendidikan
Pendidikan yang pernah saya tempuh adalah: TK Muhammadiyah Ngawi (1968-1969), SDN Ronggowarsito 2 Ngawi (lulus 1970), SMPN 1 Ngawi (lulus 1973), SMAN Ngawi, Jurusan Sosial (lulus 1976).
Selepas pendidikan SD dan SMA, melanjutkan ke Fakultas Sastra, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta (masuk kuliah tahun 1977). Lulus sarjana muda dengan gelar B.A. pada tahun 1982. Sebelum sarjana muda diraih, ia sempat kuliah D-III satu tahun, pada pada jurusan yang sama, fakultas keguruan di universitas yang sama, dengan mendapatkan ijazah Diploma dan Akta III, pada tahun 1981. Setelah itu melanjutkan kembali tingkat dotoralnya di fakultas sastra jurusan yang sama, dengan meraih sarjana sastra, jurusan bahasa dan sastra Indonesia dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, pada tahun 1987.
Latar Belakang Pekerjaan
Selepas kuliah dengan mendapat gelar sarjana muda, Aming Aminoedhin pulang ke kampung halamannya di Ngawi. Selama setahun saya sempat mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP PGRI 1 Ngawi.
Sewaktu masih kuliah pernah bekerja sebagai wartawan lepas di berbagai koran di Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Pernah juga staf redaksi koran kampus ‘Sebelas Maret’ di Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Menjadi PNS di Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sejak tahun 1984. Bekerja di Sub Bagian Penerangan, Bagian Tata Usaha, pada bidang penerbitan majalah bulanan “Media” sebagai pemimpin redaksi. Pernah juga ikut membidani dan mengelola keredaksionalan “Tabloid Bekal” koran pelajar Jawa Timur, yang diprakarsai Harian Surabaya Post dan Kanwil Depdikbud Jawa Timur. Ikut pula menjadi Redaksi Majalah Kebudayaan Kalimas di Surabaya, lantas termasuk ikut dalam Staf Redaksi Buletin DKS (Dewan Kesenian Surabaya), serta Majalah Memorida Kanwil Depdikbud Jawa Timur.
Dalam bidang seni dan budaya, saya, pernah jadi koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS), Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur, dan Forum Apresiasi Sastra Mojokerto (Forasamo). Menjadi pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (2004- sekarang). Periode tahun 1995- sekarang masih jadi pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Dalam PPSJS, ia membidani terbitnya “Teplok-Dluwangwarta PPSJS” sebagai pemimpin redaksi. Saya juga pernah dikirim dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara XII di Singapura, mewakili Jawa Timur (2003).
Jabatan yang masih diemban sampai sekarang Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya) yang telah dua kali penyelenggara pentas Malam Sastra Surabaya (2005-2007).
Sejak tahun 2000, saya, mutasi pekerjaan dari Kanwil Depdikbud Jawa Timur ke Balai Bahasa Surabaya, sebagai kandidat peneliti bahasa dan sastra Indonesia dan Jawa. Karena saya menganggap lebih cocok pada bidang penulisan dan penelitian, sesuai dengan ijazah sarjana sastra saya. Pada waktu itu, 2005, ia telah mengajukan jabatan fungsional sebagai peneliti ke Pusat Bahasa di Jakarta. Tapi hingga sekarang tak pernah turun jabatan fungsional sebagai peneliti. (Konon, umurnya terlalu tua jadi peneliti, ya,,, mau apa? Ya sudah, jadi penyair saja).
Ini hanya sebagian proses kreatif yang bisa saya tulis dengan tergesa-gesa, semoga besok-besok bisa mengedit lebih baik lagi. Salam budaya! (aming aminoedhin)
Desaku Canggu, 7 Oktober 2008
* termuat di Majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989* termuat di Majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989* termuat di Koran Memorandum – Surabaya, 30 Juni 1996* dimuat di majalah Zaman Jakarta, 27 Desember 1981
Senin, 15 September 2008
malsasa dari waktu ke waktu
MALSASA DARI MASA KE MASA
Catatan: Aming Aminoedhin*
Prolog
Pendapa Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), malam itu lampunya telah dipadamkan. Lantas hanya ada sorot lampu ke arah panggung. Setelah basa-basi pewara, Susi Dinang, membuka acara, muncullah Aming Aminoedhin, ketua FSBS dan sebagai penggagas Malsasa (Malam Sastra Surabaya) melaporkan berapa penyair dan penggurit malam itu akan tampil. Setelahnya, Drs. Pribadi Agus Santoso, M.M. kepala TBJT, memberi sambutan, yang dilanjutkan membaca puisinya sendiri Tanah Liat, Matabatinku. Malam itu adalah 20 Agustus 2007, di mana Malam Sastra Surabaya digelarpentaskan dengan menampilkan beberapa penyair dan penggurit Jawa Timur. Beberapa nama penyair dan penggurit tampil bergantian membacakan puisi dan guritan.
Riwayat Malsasa
Malsasa adalah singkatan dari Malam Sastra Surabaya. Berawal pada tahun 1989, kegiatan malsasa ini menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku.” Selanjutnya, Malsasa digelar lagi pada tahun 1991, 1992, 1994, 1996, 2000, 2005 di Dewan Kesenian Surabaya.. Pada tahun 2000, Malsasa diselenggarakan di Balai Bahasa Surabaya, atas prakarsa Kepala Balai Bahasa Surabaya saat itu, Prof. Dr. Suparno (sekarang Rektor UM), yang bisa mendanai kegiatan pentas Malam Sastra Surabaya.
Agak aneh memang, malam sastra Surabaya kok diselenggarakan di Sidoarjo, tapi saya rasa tidak aneh. Sejak awal, pentas Malsasa memang selalu didanai dengan secara patungan oleh para sastrawannya. Tapi lantaran tahun 2000, ada lembaga yang mau mendanai, maka pentas itu digelarpentaskan di Balai Bahasa Surabaya yang berlokasi di Sidoarjo. Apabila bisa disebut aneh, alias agak beda, memang pada Malsasa 2000 ini, tidak hanya memuat puisi dan geguritan saja; akan tetapi juga memuat cerita pendek dan cerita cekak.
Pergelaran “Malam Sastra Surabaya” atau “Malsasa” terakhir kali adalah tahun 2007 lalu, bertempat di Pendapa Taman Budaya, Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya.
Pada awsalnya buku-buku antologi Malsasa, hanya memuat puisi-puisi para penyair saja, lantas pada perkembangannya, juga memuat geguritan, bahkan cerpen dan cerkak. Topik puisi yang diangkat menjadi tema pun, pada awalnya hanya ‘Surabaya’ dengan segala permasalahan dan ketergesaannya. Tapi selanjutnya berkembang tidak hanya memuat yang bertemakan ‘Surabaya’ an-sich, akan tetapi bisa apa saja. Termasuk soal daun, angin, bebintang, sungai mengalir, kereta pagi, mobil berlari, dan indahnya rembulan benderang.
Malsasa, pada awalnya digagas oleh Komunitas Sufo (Surabaya Forum), yang diketuai Jil Panjagir Kalaran, bersama saya. Pertama kali digelar tahun 1989, dengan menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku”. Beberapa nama yang ikut kumpulan itu, antara lain: Ang Tek Khun, Viddy Alymahfoedh Daery, Aming Aminoedhin, Roesdi-Zaki, Jil P. Kalaran, Pudwianto, dan Herry Lamongan.
Malsasa berangkat dari ide beberapa penyair yang ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Mereka menulis puisi dan membacakannya. Topik yang diungkapkan pun beragam, ada yang menyumpahserapahi; ada juga yang mengingatkan kota agar berdandan, tapi jangan sampai lupa soal kemanusiaan; ada juga yang bicara tentang jalan-jalan kota yang tak teduh lagi, banyaknya iklan warna-warni; serta apa saja sesuai hati nurani penyair.
Malsasa dari Masa ke Masa
Jika harus menghitung jumlah pentas Malam Sastra Surabaya (Malsasa), barangkali kita bisa menghitungnya sejak tahun 1989 tersebut hingga sekarang. Karena Malsasa dibarengi dengan penerbitan buku antologi puisinya, maka kegiatan ini, bisa dilacak melalui penerbitan bukunya tersebut.
Secara hitungan jumlah buku antologi yang pernah terbit, antara lain: Surabaya Kotaku, Malsasa ’91, Malsasa ’92, Malsasa ’94, Malsasa ’96, Malsasa 2000, Malsasa 2005, dan sekarang bertajuk “Surabaya 714” Malsasa 2007. Dari sini, tercatat sudah 8 (delapan) kali, pentas Malam Sastra Surabaya digelar di muka publik masyarakat sastra Surabaya, dan Jawa Timur.
Ada banyak nama penyair dan penggurit yang ikut dalam gelaran ini. Tak sedikit, ada yang beberapa kali ikut hadir dan tampil dalam gelar sastra ini. Tapi ada juga yang hanya sekali-dua ikut, lantas menghilang tak ketemu juntrungnya. Ada juga yang lama menghilang, kemudian muncul kembali di tengah-tengah publik sastra kita, seperti: Tan Tjin Siong. Sedangkan yang menghilang: Ang Thek Khun, Mh. Zaelani Tammaka, Sigid Hardadi, Robin Al Kautsar dan beberapa nama lainnya.
Sungguh, Malsasa atau Malam Sastra Surabaya, dari masa ke masa memang ada perkembangannya. Baik dalam jumlah peserta maupun kualitas penerbitan antologi bukunya, ada peningkatan yang cukup signifikan. Awal mulanya hanya berupa stensilan, lantas fotokopian, dan kini terbitan buku antologi yang cukup mewah.
Surabaya 714 Malsasa 2007
Malsasa tahun ini, masih berangkat dari ide beberapa penyair yang ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Di ulang tahun kota Surabaya ke-714 ini, mereka menulis puisi maupun geguritan dan membacakannya. Tema yang digagas bisa bicara apa saja, Surabaya yang kian cantik atau Surabaya kian tak menarik? Bicara negeri ini yang kian cabik-cabik atau mungkin negeri yang penuh intrik? Atau apa saja terserah! Yang pasti, kejujuran dalam menulis karya sastra adalah kuncinya. Karya sastra tanpa kejujuran nurani penulisnya, akan terasa tawar, hambar, dan miskin makna.
Mencatat nama-nama yang tampil malam itu, ada: Bagus Putu Parto, L. Machali, Fahmi Faqih, Budi Palopo, R. Giryadi, Ida Nurul Chasanah, Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, Aming Aminoedhin, AF Tuasikal, M. Har Harijadi, M. Tauhed, Bambang Kempling, Saiful Bahri, Chamim Kohari (penyair); Suharmono Kasijun, Anank Santosa, Bonari Nabonenar, Sugeng Adipitoyo, Widodo Basuki, Herry Lamongan, Pringgo HR (penggurit). Tidak hanya itu, tampil juga tamu dari Pusat Bahasa, Abdul Rozak Zaidan, Kepala Bidang Sastra, yang ikut tampil membacakan puisinya Sitor Situmorang, berjudul “Malam Lebaran.”
Sedangkan jika mencatat jumlah penyairnya ada 34 penyair, 14 penggurit yang masuk dalam antologi puisi “Surabaya 714” Malsasa 2007 ini. Mereka itu terdiri penyair yang berasal dari kota Surabaya, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Ngawi, Bojonegoro, Pamekasan, Ponorogo, Trenggalek, dan Blitar.
Penyelenggaraan Malam Sastra Surabaya atau Malsasa 2007 ini, atas prakarsa Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) kerja sama dengan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Melalui forum ini, saya sebagai penggagas Malsasa, memang berharap bahwa kegiatan ini bisa dijadikan ajang silaturahmi, interaksi, dan kreasi pentas seni sesama penyair dan penggurit, serta menumbuhkembangkan sastra di Surabaya dan Jawa Timur. Persoalan ini sejalan yang dikatakan Kepala TBJT, Pribadi Agus Santoso, bahwa Taman Budaya Jawa Timur merupakan etalase pentas dan pertunjukan seni apa saja. Taman Budaya adalah ajang berinteraksi, ajang berkompetisi, serta berkreasinya antarseniman dari berbagai cabang seni di negeri ini.
Epilog
Malam telah larut, para penyair telah mengakhiri baca puisi dan guritannya, maka pentas Malsasa 2007 usai sudah, tapi kegiatannya tidak hanya malam itu berakhir. Karena, tanggal 30 Agustus 2007, buku “Surabaya 714” Malsasa 2007, dibedah bukunya oleh Redaktur Budaya Senior dari Surabaya Post, RM Yunani Prawiranegara. Bedah buku berlangsung di Toko Buku Diskon Togamas, Jalan Diponegoro 9 Surabaya, yang dimeriahkan musikalisasi puisinya kelompok “Komunitas Sastra Sinji” dimainkan oleh AF Tuasikal dan Sarjiyo Godean.
Bedah buku di Toko Buku Diskon Togas Mas ini, banyak dihadiri para praktisi dan akademisi sastra, antara lain: Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, Ida Nurul Chasanah, Adi Setyowati, Sugeng Adipitoyo, Bonari Nabonenar, Suharmono Kasijun, W. Haryanto, Mashuri, Fahmi Faqih, Widodo Basuki, dan banyak lagi.
Harapan berikutnya yang perlu dipompakan adalah bagaimana terus bisa menum-buhkembangkan dan mensosialisasikan sastra (puisi dan guritan) kepada masyarakat.
Apabila ada kekurangan dalam penerbitan, penyelenggaraan pentas, dan bedah buku,, adalah wajar semata. Tapi puisi telah ditulis dengan matahati dan kata hati penyairnya. Percayalah! Terakhir, saran dan kritik konstruktif bagi tumbuhkembangnya sastra, akan kami terima dengan tangan terbuka, dan hati membunga. Salam budaya!
Sidoarjo, 15 Ramadhan 1429-H/15 September 2008
* Aming Aminoedhin, presiden penyair Jatim, penggagas Malsasa.
Catatan: Aming Aminoedhin*
Prolog
Pendapa Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), malam itu lampunya telah dipadamkan. Lantas hanya ada sorot lampu ke arah panggung. Setelah basa-basi pewara, Susi Dinang, membuka acara, muncullah Aming Aminoedhin, ketua FSBS dan sebagai penggagas Malsasa (Malam Sastra Surabaya) melaporkan berapa penyair dan penggurit malam itu akan tampil. Setelahnya, Drs. Pribadi Agus Santoso, M.M. kepala TBJT, memberi sambutan, yang dilanjutkan membaca puisinya sendiri Tanah Liat, Matabatinku. Malam itu adalah 20 Agustus 2007, di mana Malam Sastra Surabaya digelarpentaskan dengan menampilkan beberapa penyair dan penggurit Jawa Timur. Beberapa nama penyair dan penggurit tampil bergantian membacakan puisi dan guritan.
Riwayat Malsasa
Malsasa adalah singkatan dari Malam Sastra Surabaya. Berawal pada tahun 1989, kegiatan malsasa ini menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku.” Selanjutnya, Malsasa digelar lagi pada tahun 1991, 1992, 1994, 1996, 2000, 2005 di Dewan Kesenian Surabaya.. Pada tahun 2000, Malsasa diselenggarakan di Balai Bahasa Surabaya, atas prakarsa Kepala Balai Bahasa Surabaya saat itu, Prof. Dr. Suparno (sekarang Rektor UM), yang bisa mendanai kegiatan pentas Malam Sastra Surabaya.
Agak aneh memang, malam sastra Surabaya kok diselenggarakan di Sidoarjo, tapi saya rasa tidak aneh. Sejak awal, pentas Malsasa memang selalu didanai dengan secara patungan oleh para sastrawannya. Tapi lantaran tahun 2000, ada lembaga yang mau mendanai, maka pentas itu digelarpentaskan di Balai Bahasa Surabaya yang berlokasi di Sidoarjo. Apabila bisa disebut aneh, alias agak beda, memang pada Malsasa 2000 ini, tidak hanya memuat puisi dan geguritan saja; akan tetapi juga memuat cerita pendek dan cerita cekak.
Pergelaran “Malam Sastra Surabaya” atau “Malsasa” terakhir kali adalah tahun 2007 lalu, bertempat di Pendapa Taman Budaya, Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya.
Pada awsalnya buku-buku antologi Malsasa, hanya memuat puisi-puisi para penyair saja, lantas pada perkembangannya, juga memuat geguritan, bahkan cerpen dan cerkak. Topik puisi yang diangkat menjadi tema pun, pada awalnya hanya ‘Surabaya’ dengan segala permasalahan dan ketergesaannya. Tapi selanjutnya berkembang tidak hanya memuat yang bertemakan ‘Surabaya’ an-sich, akan tetapi bisa apa saja. Termasuk soal daun, angin, bebintang, sungai mengalir, kereta pagi, mobil berlari, dan indahnya rembulan benderang.
Malsasa, pada awalnya digagas oleh Komunitas Sufo (Surabaya Forum), yang diketuai Jil Panjagir Kalaran, bersama saya. Pertama kali digelar tahun 1989, dengan menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku”. Beberapa nama yang ikut kumpulan itu, antara lain: Ang Tek Khun, Viddy Alymahfoedh Daery, Aming Aminoedhin, Roesdi-Zaki, Jil P. Kalaran, Pudwianto, dan Herry Lamongan.
Malsasa berangkat dari ide beberapa penyair yang ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Mereka menulis puisi dan membacakannya. Topik yang diungkapkan pun beragam, ada yang menyumpahserapahi; ada juga yang mengingatkan kota agar berdandan, tapi jangan sampai lupa soal kemanusiaan; ada juga yang bicara tentang jalan-jalan kota yang tak teduh lagi, banyaknya iklan warna-warni; serta apa saja sesuai hati nurani penyair.
Malsasa dari Masa ke Masa
Jika harus menghitung jumlah pentas Malam Sastra Surabaya (Malsasa), barangkali kita bisa menghitungnya sejak tahun 1989 tersebut hingga sekarang. Karena Malsasa dibarengi dengan penerbitan buku antologi puisinya, maka kegiatan ini, bisa dilacak melalui penerbitan bukunya tersebut.
Secara hitungan jumlah buku antologi yang pernah terbit, antara lain: Surabaya Kotaku, Malsasa ’91, Malsasa ’92, Malsasa ’94, Malsasa ’96, Malsasa 2000, Malsasa 2005, dan sekarang bertajuk “Surabaya 714” Malsasa 2007. Dari sini, tercatat sudah 8 (delapan) kali, pentas Malam Sastra Surabaya digelar di muka publik masyarakat sastra Surabaya, dan Jawa Timur.
Ada banyak nama penyair dan penggurit yang ikut dalam gelaran ini. Tak sedikit, ada yang beberapa kali ikut hadir dan tampil dalam gelar sastra ini. Tapi ada juga yang hanya sekali-dua ikut, lantas menghilang tak ketemu juntrungnya. Ada juga yang lama menghilang, kemudian muncul kembali di tengah-tengah publik sastra kita, seperti: Tan Tjin Siong. Sedangkan yang menghilang: Ang Thek Khun, Mh. Zaelani Tammaka, Sigid Hardadi, Robin Al Kautsar dan beberapa nama lainnya.
Sungguh, Malsasa atau Malam Sastra Surabaya, dari masa ke masa memang ada perkembangannya. Baik dalam jumlah peserta maupun kualitas penerbitan antologi bukunya, ada peningkatan yang cukup signifikan. Awal mulanya hanya berupa stensilan, lantas fotokopian, dan kini terbitan buku antologi yang cukup mewah.
Surabaya 714 Malsasa 2007
Malsasa tahun ini, masih berangkat dari ide beberapa penyair yang ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Di ulang tahun kota Surabaya ke-714 ini, mereka menulis puisi maupun geguritan dan membacakannya. Tema yang digagas bisa bicara apa saja, Surabaya yang kian cantik atau Surabaya kian tak menarik? Bicara negeri ini yang kian cabik-cabik atau mungkin negeri yang penuh intrik? Atau apa saja terserah! Yang pasti, kejujuran dalam menulis karya sastra adalah kuncinya. Karya sastra tanpa kejujuran nurani penulisnya, akan terasa tawar, hambar, dan miskin makna.
Mencatat nama-nama yang tampil malam itu, ada: Bagus Putu Parto, L. Machali, Fahmi Faqih, Budi Palopo, R. Giryadi, Ida Nurul Chasanah, Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, Aming Aminoedhin, AF Tuasikal, M. Har Harijadi, M. Tauhed, Bambang Kempling, Saiful Bahri, Chamim Kohari (penyair); Suharmono Kasijun, Anank Santosa, Bonari Nabonenar, Sugeng Adipitoyo, Widodo Basuki, Herry Lamongan, Pringgo HR (penggurit). Tidak hanya itu, tampil juga tamu dari Pusat Bahasa, Abdul Rozak Zaidan, Kepala Bidang Sastra, yang ikut tampil membacakan puisinya Sitor Situmorang, berjudul “Malam Lebaran.”
Sedangkan jika mencatat jumlah penyairnya ada 34 penyair, 14 penggurit yang masuk dalam antologi puisi “Surabaya 714” Malsasa 2007 ini. Mereka itu terdiri penyair yang berasal dari kota Surabaya, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Ngawi, Bojonegoro, Pamekasan, Ponorogo, Trenggalek, dan Blitar.
Penyelenggaraan Malam Sastra Surabaya atau Malsasa 2007 ini, atas prakarsa Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) kerja sama dengan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Melalui forum ini, saya sebagai penggagas Malsasa, memang berharap bahwa kegiatan ini bisa dijadikan ajang silaturahmi, interaksi, dan kreasi pentas seni sesama penyair dan penggurit, serta menumbuhkembangkan sastra di Surabaya dan Jawa Timur. Persoalan ini sejalan yang dikatakan Kepala TBJT, Pribadi Agus Santoso, bahwa Taman Budaya Jawa Timur merupakan etalase pentas dan pertunjukan seni apa saja. Taman Budaya adalah ajang berinteraksi, ajang berkompetisi, serta berkreasinya antarseniman dari berbagai cabang seni di negeri ini.
Epilog
Malam telah larut, para penyair telah mengakhiri baca puisi dan guritannya, maka pentas Malsasa 2007 usai sudah, tapi kegiatannya tidak hanya malam itu berakhir. Karena, tanggal 30 Agustus 2007, buku “Surabaya 714” Malsasa 2007, dibedah bukunya oleh Redaktur Budaya Senior dari Surabaya Post, RM Yunani Prawiranegara. Bedah buku berlangsung di Toko Buku Diskon Togamas, Jalan Diponegoro 9 Surabaya, yang dimeriahkan musikalisasi puisinya kelompok “Komunitas Sastra Sinji” dimainkan oleh AF Tuasikal dan Sarjiyo Godean.
Bedah buku di Toko Buku Diskon Togas Mas ini, banyak dihadiri para praktisi dan akademisi sastra, antara lain: Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, Ida Nurul Chasanah, Adi Setyowati, Sugeng Adipitoyo, Bonari Nabonenar, Suharmono Kasijun, W. Haryanto, Mashuri, Fahmi Faqih, Widodo Basuki, dan banyak lagi.
Harapan berikutnya yang perlu dipompakan adalah bagaimana terus bisa menum-buhkembangkan dan mensosialisasikan sastra (puisi dan guritan) kepada masyarakat.
Apabila ada kekurangan dalam penerbitan, penyelenggaraan pentas, dan bedah buku,, adalah wajar semata. Tapi puisi telah ditulis dengan matahati dan kata hati penyairnya. Percayalah! Terakhir, saran dan kritik konstruktif bagi tumbuhkembangnya sastra, akan kami terima dengan tangan terbuka, dan hati membunga. Salam budaya!
Sidoarjo, 15 Ramadhan 1429-H/15 September 2008
* Aming Aminoedhin, presiden penyair Jatim, penggagas Malsasa.
Jumat, 12 September 2008
biodata m. har harijadi
BIODATA PENYAIR NGAWI
M. HAR HARIJADI
Latar Belakang Keluarga
M. Har Harijadi, adalah nama penulis dari nama asli Mohammad Harijadi Munawari. Lahir di Ngawi, 5 Juli 1951. Meninggal dunia pada 27 September 2007 (pas bulan Ramadhan tahunlalu). Ayahnya seorang guru agama Islam di sebuah SMPN, ibunya pun juga seorang guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Ayahnya bernama A.H. Aminoedhin (lahir tahun 1918), sementara ibunya bernama Soeparijem (lahir tahun 1925). . Har Harijadi adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Dari kedelapan saudara ini, adiknya nomor tiga, bernama Aming Aminoedhin, juga seorang penulis, utamanya menulis puisi. Begitu pula adiknya nomor dua, bernama Yulia Amirulfata (samaran: Lia Aminoedhin), juga seorang penulis puisi (tidak diteruskan karena sudah disibukkan jadi guru SMP di Yogya dan bersuami). Sedangkan dua adiknya perempuan, Ummi Hanifah Hariyani (samaran: Yani Aminoedhin) dan Ummi Mukharomah Hariyanti (guru SMAN 2 Ngawi), sebenarnya juga menulis; hanya saja tidak diteruskan bakat menulisnya, karena sibuk pekerjaan dan rumah tangga.
Bakat menulis Harijadi, menurut pengakuannya karena lingkungan banyak seniman yang menulis, seperti Mh. Iskan, Wahab Asyari, Salimoel Amien, dan banyak lagi. Termasuk pula di antaranya, pamannya seorang sastrawan yang merupakan salah satu tokoh Angkatan ’66 versi HB Jassin, bernama M. Alwan Tafsiri.
Istrinya bernama Ismijati. Seorang karyawan Pemda Kabupaten Ngawi, kelahiran Ngawi, 4 Juli 1958. Bersama istrinya, ia mempunyai 3 anak, yaitu Alif Aulia Ananda (Ngawi, 14-5-1984, laki-laki), Bernas Kurnia Kanthi Inayati (Ngawi, 16-11-1985, perempuan), Cipta Nur Asa (Ngawi, 25-01-1988, laki-laki). Ketiga anaknya kini kuliah di Universitas Gajah Mada. M. Har Harjadi, bersama keluarganya beralamat di Gang Melati, Kauman, Ngawi.
Latar Belakang PendidikanPendidikan yang pernah ditempuh M. Har Harijadi, SDN Ronggowarsito Ngawi (lulus 1963), SMPN 1 Ngawi (lulus 1966), SMAN Ngawi, Jurusan Pasti Alam (lulus 1969). Selepas pendidikan SD dan SMA, ia melanjutkan ke IKIP Cabang Madiun Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, tidak dirampungkan. Sewaktu bekerja di Pemda Kabupaten Ngawi, Harijadi diberi tugas belajar ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang (1981).
Latar Belakang PekerjaanPernah bekerja sebagai wartawan di koran Suara Merdeka Semarang, dari tahun 1973 hingga 1977, sambil banyak menulis cerita pendek dan puisi, serta penyiar radio swasta di Ngawi.
Menjadi PNS di Kantor Pemda Kabupaten Ngawi, yang kemudian mendapatkan tugas belajar di APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Malang, lulus tahun 1981. Selepas lulus APDN, Harijadi pernah menjabat sebagai kepala kantor Kecamatan Sine, kemudian jadi Mantri Polisi di Kecamatan Ngawi. Pernah juga sebagai Kepala Sub Bagian Humas Pemda Kabupaten Ngawi, Kepala Sub Bagian Diklat, dan Kasubdin di Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Kabupaten Ngawi.
Dalam bidang seni dan budaya, M. Har Harijadi, pernah jadi koordinator pentas Teater Persada Ngawi di Festival Drama se Jatim di Surabaya (1983), pentas Monolog Mh. Iskan di Surabaya (2005). Organisasi yang pernah diikuti antara lain: Pelajar Islam Indonesia (PII) Ngawi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Madiun, AMPI dan KNPI di Ngawi. Pada awalnya, ia menulis puisi, dan kemudian cerita pendek. Selanjutnya menjadi wartawan dengan menulis berita-berita. Selepas itu, M. Har Harijadi, banyak menulis artikel dan menulis cerita anak.
Latar Belakang Kesastraan
Dalam hal latar belakang kesastraan ini, M. Har Harijadi, selain lingkungan komunitas yang sangat mendukung, karena banyak yang membaca dan menulis, juga karena aktivitas di beberapa organisasi, antara lain: PII, HMI, Remaja Masjid, AMPI dan KNPI.
Naskah karya sastra M. Har Harijadi yang pertama kali termuat di Koran Berkala Adil Solo, yaitu cerita remaja berjudul ‘Seorang Guru’ dengan tanpa diberi honorarium.
Motivasi dalam menulis karya sastra adalah guna menghidupkan perasaan, utamanya banyak teman-teman juga sebagai penulis. Bahkah serasa ‘gatal’ jika saya tidak menulis karya sastra. Sedangkan kemampuan menulis sastra, lebih banyak otodidak dan banyak membaca, utamanya karya sastra. Genre sastra yang ditulis Harijadi adalah puisi, cerpen, artikel, dan cerita anak.
Naskah puisinya banyak dimuat di koran Surabaya Post, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Adil, Masa Kini, Mercu Suar, Memorandum, Bhirawa, dan Suara Karya. Sedangkan majalahnya adalah: Gadis dan Midi. Naskah cerpennya termuat di Bhirawa, Mercu Suar, Masa Kini, dan Adil. Naskah cerita anaknya termua di: Majalah Bobo, Ananda, Hopla, dan Surabaya Post. Sementara itu artikelnya banyak dimuat di Kompas, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Memorandum, Berita Yudha, dan koran-koran lokal lainnya. Kumpulan puisi bersama rekan-rekan Teater Persada Ngawi, bertajuk ‘Tanah Persada’, ‘Tanah Kapur’, dan ‘Tanah Rengkah’. Lantas ‘Kota Tercinta’ kumpulan puisi sastrawan kota Ngawi (2003).
Berbicara soal proses kreatif, biasanya terpicu oleh peristiwa sesaat/kesan sebentar yang mengharukan lalu dibuat/diproses jadi karya sastra, bisa berupa puisi maupun cerita pendek. Apabila dalam menulis sastra dipaksakan, ternyata secara kualitas terasa tidak baik, dan kurang lancar dalam penulisannya. Seringkali saya mencatat dulu dalam draft awal, sebagai master/babon penulisan karya sastra.
Seperti telah dijelaskan terdahulu, bahwa Harijadi, punya pengalaman di bidang penulisan dan dunia sastra, antara lain: pernah jadi wartawan Suara Merdeka, Surabaya Post, Berita Yudha, dsb. Pengalaman lain adlah berkali-kali jadi juri lomba baca puisi, lomba mengarang, dan lomba pidato di kabupaten Ngawi.
Menulis sastra menurutnya harus sampai akhir hayat, karena menulis berarti juga beribadah dalam hidup dan kehidupan manusia. Menurutnya pula, bahwa sastra Indonesia haruslah lebih semarak, jika mungkin bisa mendunia, atau stidaknya membenua. Setidaknya se Asia Tenggara. Semua ini bisa terjadi bila ada perhatian dari pihak pemodal, Pemerintah, para pejabat, para ulama, serta para sastrawan yang lebih senior lainnya.
Contoh puisi-puisi M. Har Harijadi
SEPANJANG JALAN JENDRAL SUDIRMAN
kuseret dukaku sepanjang jalan sudirman
siang hari yang terik dan menancap jarum-jarum
matahari
pada punggung yang bersarang capekku
dan rambutku yang semakin coklat
kubawa gelisahku setiap hari menumbuki debu kota
walau penat setiap saat menghampir
baju dan celana lusuh menua
serta sepatu yang kian pikun
kuturuti resahku lewat emperan cina
dengan irama-irama sedih gerakan kaki
wajah yang kupaksakan berseri
meski saku tiada sedikitpun berisi
kujalani hidupku menembusi hiruk pikuk kota
kendati nasib tiada sekali membuka mata
namun demikian satu tidak lebih dari pinta
semoga segalanya tiada sia-sia
Ngawi-Madiun, 1970
M. Har Harijadi
ANAK-ANAK KECIL DI MESJID
Sudah berapa jauhkah waktu tertinggal
Tak bisa banyak aku kenangkan
Hari-hari hingga tahun ke tahun
Terasa telah beberapa kurun
Bayangan guru ngajiku sudah luntur
Barangkali jejak hidupku masih ngawur
Apa waktu senggangku kian nihil tepekur
Hanya menuruti sistem jalur-jalur
Sedang kini tuntutan tak pernah berkurang
Harapan-harapan masih akan panjang
Saat seperti ini semakin menerawang
Ternyata nostalgia tak hilang-hilang
Malang, 1978
M. Har Harijadi
LAILATUL QODAR
Aku masih tetap rahasia bagaikan sukma
Siapa yang menduga?
Gemilang langit yang senyap
Dingin yang hangat mengentalkan semangat
Masih tergubal pada alunan sunyi
Seluas rakhmatMu di malam yang tersaji
Bersenandung bumi meluruskan sepoi
Hanya padaMu diam yang abadi temaram
Mei, 1987
M. HAR HARIJADI
- Prolog:
- Tulisan ini saya posting dalam rangka mengenang M. Har Harijadi yang setahun yang lalu, tepatnya juga pada bulan Ramadhan 1428-H, pas tanggal 27 September 2007, telah dipanggil oleh Allah SWT. Semoga segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, dan semoga pula isteri dan anak-anaknya tetap tabah, tetap iman dan selalu taqwa kepada Allah SWT. Amin.
- Dalam waktu dekat ini, saya berencana menerbitkan kumpulan puisi "TRILOGI TANAH" yang diimpikan oleh almarhum M. Har Harijadi. Hanya saja, dananya masih dicari-carikan. Siapa yang mau ikut menyumbangkan dananya guna penerbitan buku ini? Silakan kontak aming aminoedhin via email amri.mira@gmail.com Mumpung bulan Ramadhan, ayo banyak-banyaklah infaq, termasuk infaq buat dunia sastra!
Latar Belakang KeluargaM. Har Harijadi, adalah nama penulis dari nama asli Mohammad Harijadi Munawari. Lahir di Ngawi, 5 Juli 1951. Meninggal dunia pada 27 September 2007 (pas bulan Ramadhan tahunlalu). Ayahnya seorang guru agama Islam di sebuah SMPN, ibunya pun juga seorang guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Ayahnya bernama A.H. Aminoedhin (lahir tahun 1918), sementara ibunya bernama Soeparijem (lahir tahun 1925). . Har Harijadi adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Dari kedelapan saudara ini, adiknya nomor tiga, bernama Aming Aminoedhin, juga seorang penulis, utamanya menulis puisi. Begitu pula adiknya nomor dua, bernama Yulia Amirulfata (samaran: Lia Aminoedhin), juga seorang penulis puisi (tidak diteruskan karena sudah disibukkan jadi guru SMP di Yogya dan bersuami). Sedangkan dua adiknya perempuan, Ummi Hanifah Hariyani (samaran: Yani Aminoedhin) dan Ummi Mukharomah Hariyanti (guru SMAN 2 Ngawi), sebenarnya juga menulis; hanya saja tidak diteruskan bakat menulisnya, karena sibuk pekerjaan dan rumah tangga.
Bakat menulis Harijadi, menurut pengakuannya karena lingkungan banyak seniman yang menulis, seperti Mh. Iskan, Wahab Asyari, Salimoel Amien, dan banyak lagi. Termasuk pula di antaranya, pamannya seorang sastrawan yang merupakan salah satu tokoh Angkatan ’66 versi HB Jassin, bernama M. Alwan Tafsiri.
Istrinya bernama Ismijati. Seorang karyawan Pemda Kabupaten Ngawi, kelahiran Ngawi, 4 Juli 1958. Bersama istrinya, ia mempunyai 3 anak, yaitu Alif Aulia Ananda (Ngawi, 14-5-1984, laki-laki), Bernas Kurnia Kanthi Inayati (Ngawi, 16-11-1985, perempuan), Cipta Nur Asa (Ngawi, 25-01-1988, laki-laki). Ketiga anaknya kini kuliah di Universitas Gajah Mada. M. Har Harjadi, bersama keluarganya beralamat di Gang Melati, Kauman, Ngawi.
Latar Belakang PendidikanPendidikan yang pernah ditempuh M. Har Harijadi, SDN Ronggowarsito Ngawi (lulus 1963), SMPN 1 Ngawi (lulus 1966), SMAN Ngawi, Jurusan Pasti Alam (lulus 1969). Selepas pendidikan SD dan SMA, ia melanjutkan ke IKIP Cabang Madiun Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, tidak dirampungkan. Sewaktu bekerja di Pemda Kabupaten Ngawi, Harijadi diberi tugas belajar ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang (1981).
Latar Belakang PekerjaanPernah bekerja sebagai wartawan di koran Suara Merdeka Semarang, dari tahun 1973 hingga 1977, sambil banyak menulis cerita pendek dan puisi, serta penyiar radio swasta di Ngawi.
Menjadi PNS di Kantor Pemda Kabupaten Ngawi, yang kemudian mendapatkan tugas belajar di APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Malang, lulus tahun 1981. Selepas lulus APDN, Harijadi pernah menjabat sebagai kepala kantor Kecamatan Sine, kemudian jadi Mantri Polisi di Kecamatan Ngawi. Pernah juga sebagai Kepala Sub Bagian Humas Pemda Kabupaten Ngawi, Kepala Sub Bagian Diklat, dan Kasubdin di Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Kabupaten Ngawi.
Dalam bidang seni dan budaya, M. Har Harijadi, pernah jadi koordinator pentas Teater Persada Ngawi di Festival Drama se Jatim di Surabaya (1983), pentas Monolog Mh. Iskan di Surabaya (2005). Organisasi yang pernah diikuti antara lain: Pelajar Islam Indonesia (PII) Ngawi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Madiun, AMPI dan KNPI di Ngawi. Pada awalnya, ia menulis puisi, dan kemudian cerita pendek. Selanjutnya menjadi wartawan dengan menulis berita-berita. Selepas itu, M. Har Harijadi, banyak menulis artikel dan menulis cerita anak.
Latar Belakang Kesastraan
Dalam hal latar belakang kesastraan ini, M. Har Harijadi, selain lingkungan komunitas yang sangat mendukung, karena banyak yang membaca dan menulis, juga karena aktivitas di beberapa organisasi, antara lain: PII, HMI, Remaja Masjid, AMPI dan KNPI.
Naskah karya sastra M. Har Harijadi yang pertama kali termuat di Koran Berkala Adil Solo, yaitu cerita remaja berjudul ‘Seorang Guru’ dengan tanpa diberi honorarium.
Motivasi dalam menulis karya sastra adalah guna menghidupkan perasaan, utamanya banyak teman-teman juga sebagai penulis. Bahkah serasa ‘gatal’ jika saya tidak menulis karya sastra. Sedangkan kemampuan menulis sastra, lebih banyak otodidak dan banyak membaca, utamanya karya sastra. Genre sastra yang ditulis Harijadi adalah puisi, cerpen, artikel, dan cerita anak.
Naskah puisinya banyak dimuat di koran Surabaya Post, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Adil, Masa Kini, Mercu Suar, Memorandum, Bhirawa, dan Suara Karya. Sedangkan majalahnya adalah: Gadis dan Midi. Naskah cerpennya termuat di Bhirawa, Mercu Suar, Masa Kini, dan Adil. Naskah cerita anaknya termua di: Majalah Bobo, Ananda, Hopla, dan Surabaya Post. Sementara itu artikelnya banyak dimuat di Kompas, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Memorandum, Berita Yudha, dan koran-koran lokal lainnya. Kumpulan puisi bersama rekan-rekan Teater Persada Ngawi, bertajuk ‘Tanah Persada’, ‘Tanah Kapur’, dan ‘Tanah Rengkah’. Lantas ‘Kota Tercinta’ kumpulan puisi sastrawan kota Ngawi (2003).
Berbicara soal proses kreatif, biasanya terpicu oleh peristiwa sesaat/kesan sebentar yang mengharukan lalu dibuat/diproses jadi karya sastra, bisa berupa puisi maupun cerita pendek. Apabila dalam menulis sastra dipaksakan, ternyata secara kualitas terasa tidak baik, dan kurang lancar dalam penulisannya. Seringkali saya mencatat dulu dalam draft awal, sebagai master/babon penulisan karya sastra.
Seperti telah dijelaskan terdahulu, bahwa Harijadi, punya pengalaman di bidang penulisan dan dunia sastra, antara lain: pernah jadi wartawan Suara Merdeka, Surabaya Post, Berita Yudha, dsb. Pengalaman lain adlah berkali-kali jadi juri lomba baca puisi, lomba mengarang, dan lomba pidato di kabupaten Ngawi.
Menulis sastra menurutnya harus sampai akhir hayat, karena menulis berarti juga beribadah dalam hidup dan kehidupan manusia. Menurutnya pula, bahwa sastra Indonesia haruslah lebih semarak, jika mungkin bisa mendunia, atau stidaknya membenua. Setidaknya se Asia Tenggara. Semua ini bisa terjadi bila ada perhatian dari pihak pemodal, Pemerintah, para pejabat, para ulama, serta para sastrawan yang lebih senior lainnya.
Contoh puisi-puisi M. Har Harijadi
SEPANJANG JALAN JENDRAL SUDIRMAN
kuseret dukaku sepanjang jalan sudirman
siang hari yang terik dan menancap jarum-jarum
matahari
pada punggung yang bersarang capekku
dan rambutku yang semakin coklat
kubawa gelisahku setiap hari menumbuki debu kota
walau penat setiap saat menghampir
baju dan celana lusuh menua
serta sepatu yang kian pikun
kuturuti resahku lewat emperan cina
dengan irama-irama sedih gerakan kaki
wajah yang kupaksakan berseri
meski saku tiada sedikitpun berisi
kujalani hidupku menembusi hiruk pikuk kota
kendati nasib tiada sekali membuka mata
namun demikian satu tidak lebih dari pinta
semoga segalanya tiada sia-sia
Ngawi-Madiun, 1970
M. Har Harijadi
ANAK-ANAK KECIL DI MESJID
Sudah berapa jauhkah waktu tertinggal
Tak bisa banyak aku kenangkan
Hari-hari hingga tahun ke tahun
Terasa telah beberapa kurun
Bayangan guru ngajiku sudah luntur
Barangkali jejak hidupku masih ngawur
Apa waktu senggangku kian nihil tepekur
Hanya menuruti sistem jalur-jalur
Sedang kini tuntutan tak pernah berkurang
Harapan-harapan masih akan panjang
Saat seperti ini semakin menerawang
Ternyata nostalgia tak hilang-hilang
Malang, 1978
M. Har Harijadi
LAILATUL QODAR
Aku masih tetap rahasia bagaikan sukma
Siapa yang menduga?
Gemilang langit yang senyap
Dingin yang hangat mengentalkan semangat
Masih tergubal pada alunan sunyi
Seluas rakhmatMu di malam yang tersaji
Bersenandung bumi meluruskan sepoi
Hanya padaMu diam yang abadi temaram
Mei, 1987
Senin, 08 September 2008
sajak-sajak anak
sajak anak-anak
cak aming aminoedhin
aming aminoedhin
SAJAK KUNANG-KUNANG
(surat buat: Pak Kayam)
kunang-kunang di kampungmu
pada abad teknologi, telah berubah
jadi merkuri
hanya suara katak pada malam
menghadirkan sajak pada kelam
yang abadi di kampung ini
hanya seni hanya sepi
Ngawi, 1982
aming aminoedhin
DI MANA MEREKA SEKOLAH
desa temanku tenggelam sudah
tak ada lagi tanaman hijau
tinggal kini terlihat atap-atap rumah
tampak seperti mengigau
igauan suaranya perih
atap-atap rumah seakan merintih
dari lumpur yang membuat hancur
hingga beribu penghuninya kabur
desa temanku tenggelam sudah
aku tak tahu ke mana mereka pindah
di mana mereka kini sekolah
Sidoarjo, 12/2/2008
aming aminoedhin
BALON UDARA
Sungguh indah di mata
ada balon udara berwarna-warni
mengudara di langit tinggi
Hatiku serasa ikut terbang bersamanya
meraih bintang menjangkau rembulan
Tapi aku tak ikut
di dalam balon udara itu
hanya anganku
seakan ikut terbang
bersamamu
Balon udara nan terbang tinggi
kirimkan salam cinta pada Nenekku
yang kini berada di Ngawi
Mojokerto, 2008
aming aminoedhin
TAK ADA KATA PUTUS ASA
kata ayahku, putus asa putus harapan
tak ada dalam kamus kita
putus asa putus harapan
adalah penyakit batin nan pahit
tak terperikan
putus asa putus harapan
tak ada obat mujarabnya
selain satu kata berupa iman
cita-cita harus tinggi dan mulia
agar teraih di tangan kita, dengan
perjuangan, dan belajar dari pengalaman
kegagalan sewaktu berjalan
tak ada kata putus asa
lantaran putus asa putus harapan
akan sia-sia bagi diri kita
akan sia-sia bagi masa depan
Mojokerto, 2008
aming aminoedhin
BULAN RAMADHAN
Setiap bulan ramadhan tiba
bersama Adikku tarawih di mushola
Ibu Bapak juga ada di sana
sholat berjamaah bersama tetangga
Bulan ramadhan tahun ini
Adikku juga berpuasa
hanya saja tidak sampai maghrib tiba
tapi saat bedug dhuhur ditabuh
ia berlari pulang untuk berbuka
Bulan ramadhan tahun ini
aku juga ikut tadarus di mushola
mengaji bersama kawan
menyimak setiap bacaannya
Selepas tadarus bersama
kami sering berebut takjilnya
wah... begitu indah kenangan
bulan Ramadhan di mushola
Mojokerto, 2007
aming aminoedhin
IDUL FITRI
Seperti biasa saat idul fitri
setelah bersalam-salaman
bersama paklik dan bulik
pakde dan bude, serta
nenekku tercinta
yang berada di desa
kami lantas berdoa bersama
Kata Ibu, padaku
doa kita yang suci hati
mudah terkabulkan Tuhan
lantaran kita usai sebulan berpuasa, dan
puasa itu membersihkan hati dan jiwa
Seperti biasa saat idul fitri
yang kutunggu dengan gembira, hanya satu
paklik bulik, pakde dan bude, serta
nenekku tercinta
membagi uang saku
bagi semua cucu
Ngawi, 2007
aming aminoedhin
BUKU ITU GUDANG ILMU
Di dalam buku
kubaca segala ilmu
dari soal bahasa, tatakrama
sastra, dan juga matematika
Buku adalah sahabatku
kubaca setiap waktu
saat istirahat sekolah
dan juga saat libur sekolah
Buku, kata Mamaku
adalah gudangnya ilmu
maka membaca buku
seperti membuka
jendela dunia, semua
ilmu kau pasti akan tahu
Mojokerto, 19/10/1999
aming aminoedhin
JENDELA DUNIA
Almari Bapakku dipenuhi buku
kata Ibu, semua buku-buku itu
adalah jendela dunia
jika aku mau baca
segala ilmu akan kusua
Ternyata benar, kata Ibu
selepas buku-buku kubaca
dunia tampak ada di sana
ada yang hitam dan putih
ada yang senang dan sedih
Jadi kawan!
bacalah buku agar kau
bertemu segala ilmu
Baca dan bacalah buku
karena buku adalah jendela dunia
sejuta ilmu pasti kau sua
Mojokerto, 19/10/1999
aming aminoedhin
AKU LUPA MENGAJI
Pada musim kemarau rumput-rumput di tanah lapang
mengering. Daun di pepohonan kering
Angin terlalu kencang
menerbangkan debu dan layang-layang
layang-layangku nan gagah terbang
diulur panjangnya benang
Hati ini jadi riang
bermain layang-layang
hingga aku lupa
belajar mengaji
di mushola
Barangkali aku berdosa
lantas aku berjanji dalam hati
tak mengulangnya di esok hari
Mojokerto, 1999
cak aming aminoedhin
aming aminoedhin
SAJAK KUNANG-KUNANG
(surat buat: Pak Kayam)
kunang-kunang di kampungmu
pada abad teknologi, telah berubah
jadi merkuri
hanya suara katak pada malam
menghadirkan sajak pada kelam
yang abadi di kampung ini
hanya seni hanya sepi
Ngawi, 1982
aming aminoedhin
DI MANA MEREKA SEKOLAH
desa temanku tenggelam sudah
tak ada lagi tanaman hijau
tinggal kini terlihat atap-atap rumah
tampak seperti mengigau
igauan suaranya perih
atap-atap rumah seakan merintih
dari lumpur yang membuat hancur
hingga beribu penghuninya kabur
desa temanku tenggelam sudah
aku tak tahu ke mana mereka pindah
di mana mereka kini sekolah
Sidoarjo, 12/2/2008
aming aminoedhin
BALON UDARA
Sungguh indah di mata
ada balon udara berwarna-warni
mengudara di langit tinggi
Hatiku serasa ikut terbang bersamanya
meraih bintang menjangkau rembulan
Tapi aku tak ikut
di dalam balon udara itu
hanya anganku
seakan ikut terbang
bersamamu
Balon udara nan terbang tinggi
kirimkan salam cinta pada Nenekku
yang kini berada di Ngawi
Mojokerto, 2008
aming aminoedhin
TAK ADA KATA PUTUS ASA
kata ayahku, putus asa putus harapan
tak ada dalam kamus kita
putus asa putus harapan
adalah penyakit batin nan pahit
tak terperikan
putus asa putus harapan
tak ada obat mujarabnya
selain satu kata berupa iman
cita-cita harus tinggi dan mulia
agar teraih di tangan kita, dengan
perjuangan, dan belajar dari pengalaman
kegagalan sewaktu berjalan
tak ada kata putus asa
lantaran putus asa putus harapan
akan sia-sia bagi diri kita
akan sia-sia bagi masa depan
Mojokerto, 2008
aming aminoedhin
BULAN RAMADHAN
Setiap bulan ramadhan tiba
bersama Adikku tarawih di mushola
Ibu Bapak juga ada di sana
sholat berjamaah bersama tetangga
Bulan ramadhan tahun ini
Adikku juga berpuasa
hanya saja tidak sampai maghrib tiba
tapi saat bedug dhuhur ditabuh
ia berlari pulang untuk berbuka
Bulan ramadhan tahun ini
aku juga ikut tadarus di mushola
mengaji bersama kawan
menyimak setiap bacaannya
Selepas tadarus bersama
kami sering berebut takjilnya
wah... begitu indah kenangan
bulan Ramadhan di mushola
Mojokerto, 2007
aming aminoedhin
IDUL FITRI
Seperti biasa saat idul fitri
setelah bersalam-salaman
bersama paklik dan bulik
pakde dan bude, serta
nenekku tercinta
yang berada di desa
kami lantas berdoa bersama
Kata Ibu, padaku
doa kita yang suci hati
mudah terkabulkan Tuhan
lantaran kita usai sebulan berpuasa, dan
puasa itu membersihkan hati dan jiwa
Seperti biasa saat idul fitri
yang kutunggu dengan gembira, hanya satu
paklik bulik, pakde dan bude, serta
nenekku tercinta
membagi uang saku
bagi semua cucu
Ngawi, 2007
aming aminoedhin
BUKU ITU GUDANG ILMU
Di dalam buku
kubaca segala ilmu
dari soal bahasa, tatakrama
sastra, dan juga matematika
Buku adalah sahabatku
kubaca setiap waktu
saat istirahat sekolah
dan juga saat libur sekolah
Buku, kata Mamaku
adalah gudangnya ilmu
maka membaca buku
seperti membuka
jendela dunia, semua
ilmu kau pasti akan tahu
Mojokerto, 19/10/1999
aming aminoedhin
JENDELA DUNIA
Almari Bapakku dipenuhi buku
kata Ibu, semua buku-buku itu
adalah jendela dunia
jika aku mau baca
segala ilmu akan kusua
Ternyata benar, kata Ibu
selepas buku-buku kubaca
dunia tampak ada di sana
ada yang hitam dan putih
ada yang senang dan sedih
Jadi kawan!
bacalah buku agar kau
bertemu segala ilmu
Baca dan bacalah buku
karena buku adalah jendela dunia
sejuta ilmu pasti kau sua
Mojokerto, 19/10/1999
aming aminoedhin
AKU LUPA MENGAJI
Pada musim kemarau rumput-rumput di tanah lapang
mengering. Daun di pepohonan kering
Angin terlalu kencang
menerbangkan debu dan layang-layang
layang-layangku nan gagah terbang
diulur panjangnya benang
Hati ini jadi riang
bermain layang-layang
hingga aku lupa
belajar mengaji
di mushola
Barangkali aku berdosa
lantas aku berjanji dalam hati
tak mengulangnya di esok hari
Mojokerto, 1999
Kamis, 04 September 2008
komsas 'sinji' sidoarjo
Selintas Catatan Komunitas Sastra “Sinji”
oleh: af. tuasikal
waktu itu senja telah meremang tampak di ujung seberang jalan, bisa juga disebut dengan remang senja atau senja merembang. sesekali kereta api lewat begitu lambat, terkadang cepat seperti tak mau terlambat. ada tiga cangkir kopi panas telah tersedu. lantas kopi itu, menawarkan sesuatu tentang warna merah jingga, bersama hembus angin senja membuat kami bertiga: af. tuasikal, sarjiyo godean dan rahmidi harto utomo, tiba-tiba muncul emosi hati menelorkan obsesi. gitar terpetik ikuti lentik jari-jemari sekan menari-nari tanpa arti. ada kemudian bibir bergetar menyuarakan sebuah puisi, lantas berteriak, serentak membentuk musikalisasi puisi asal bunyi.
meski teriak kami asal bunyi, tanpa kita sadari, semua hadir mengalir dari sebuah puisi jawa (geguritan) karya senior kami aming aminoedhin.* guritan itu bertajuk “tanpa mripat”.
apa pun bentuk suara musikalisasi puisi itu, tapi niat kami yang pertama, bagaimana menyambut kehadiran sang presiden penyair jawa timur untuk minum kopi bersama. agar tampak beda tak seperti biasa, dari waktu ke waktu dari itu ke itu, minum kopi dan merokok bersama, lantas makan makan pisang dan pohong goreng.
senja itu memang agak lain. ada sesuatu yang telah terasa jadi terjalin.
sebuah musikalisasi guritan, sederhana tapi nyata adanya.
aming aminoedhin, si empunya guritan, jadi sangat tertarik dengan aksi-aksi kami bertiga, lantas ikut bergabung mendukung. bahkan sekaligus menjadi motor penggerak komunitas ini. tidak cuma aming, ada juga anang sp santosa ikut memperkuat tampilannya. kemudian kami semua sepakat memberi nama komunitas itu, bernama “sinji “ yang berasal dari akronim siwalanpanji, sebuah nama desa yang terletak di buduran, sidoarjo.
komunitas sastra ‘sinji’ resmi lahir pada tanggal 24 oktober 2006. minggu pertama setelah sinji lahir, kami tampil pentas di kantor kami sendiri balai bahasa surabaya, minggu berikutnya ‘sinji’ pentas di launching antologi ‘buku mojokerto dalam puisi’, dua minggu berikutnya ‘sinji’ memasuki ranah taman budaya jawa timur berpentas di gedung cak durasim.
satu bulan setelah itu ‘sinji’ pentas di depan forum para guru-guru kpi (konsorsium pendidikan islam) surabaya. pernah pula pentas di ‘purnama sastra’ yang di gelar di fbs – unesa, lidah wetan, surabaya. pernah juga menjadi bintang tamu acara sastra teater smkn 9 surabaya di balai pemuda surabaya
‘sinji’ tak hanya pentas di negeri sendiri, tapi juga di luar kota: festival sastra buruh di blitar, dan pekan seni dan olah raga pelajar smk se-Indonesia di malang.
terakhir ‘sinji’ pentas kembali memeriahkan bedah buku antologi puisi “Surabaya-714 Malsasa 2007” yang di gelar di toko buku diskon togamas, jalan diponegoro 9 surabaya.
lantas sampai kapankah ‘sinji’ akan terus beraksi? sebuah tanya yang terus memompa kami untuk terus selalu bermain dan beraksi.
* presiden penyair jawa timur
oleh: af. tuasikal
waktu itu senja telah meremang tampak di ujung seberang jalan, bisa juga disebut dengan remang senja atau senja merembang. sesekali kereta api lewat begitu lambat, terkadang cepat seperti tak mau terlambat. ada tiga cangkir kopi panas telah tersedu. lantas kopi itu, menawarkan sesuatu tentang warna merah jingga, bersama hembus angin senja membuat kami bertiga: af. tuasikal, sarjiyo godean dan rahmidi harto utomo, tiba-tiba muncul emosi hati menelorkan obsesi. gitar terpetik ikuti lentik jari-jemari sekan menari-nari tanpa arti. ada kemudian bibir bergetar menyuarakan sebuah puisi, lantas berteriak, serentak membentuk musikalisasi puisi asal bunyi.
meski teriak kami asal bunyi, tanpa kita sadari, semua hadir mengalir dari sebuah puisi jawa (geguritan) karya senior kami aming aminoedhin.* guritan itu bertajuk “tanpa mripat”.
apa pun bentuk suara musikalisasi puisi itu, tapi niat kami yang pertama, bagaimana menyambut kehadiran sang presiden penyair jawa timur untuk minum kopi bersama. agar tampak beda tak seperti biasa, dari waktu ke waktu dari itu ke itu, minum kopi dan merokok bersama, lantas makan makan pisang dan pohong goreng.
senja itu memang agak lain. ada sesuatu yang telah terasa jadi terjalin.
sebuah musikalisasi guritan, sederhana tapi nyata adanya.
aming aminoedhin, si empunya guritan, jadi sangat tertarik dengan aksi-aksi kami bertiga, lantas ikut bergabung mendukung. bahkan sekaligus menjadi motor penggerak komunitas ini. tidak cuma aming, ada juga anang sp santosa ikut memperkuat tampilannya. kemudian kami semua sepakat memberi nama komunitas itu, bernama “sinji “ yang berasal dari akronim siwalanpanji, sebuah nama desa yang terletak di buduran, sidoarjo.
komunitas sastra ‘sinji’ resmi lahir pada tanggal 24 oktober 2006. minggu pertama setelah sinji lahir, kami tampil pentas di kantor kami sendiri balai bahasa surabaya, minggu berikutnya ‘sinji’ pentas di launching antologi ‘buku mojokerto dalam puisi’, dua minggu berikutnya ‘sinji’ memasuki ranah taman budaya jawa timur berpentas di gedung cak durasim.
satu bulan setelah itu ‘sinji’ pentas di depan forum para guru-guru kpi (konsorsium pendidikan islam) surabaya. pernah pula pentas di ‘purnama sastra’ yang di gelar di fbs – unesa, lidah wetan, surabaya. pernah juga menjadi bintang tamu acara sastra teater smkn 9 surabaya di balai pemuda surabaya
‘sinji’ tak hanya pentas di negeri sendiri, tapi juga di luar kota: festival sastra buruh di blitar, dan pekan seni dan olah raga pelajar smk se-Indonesia di malang.
terakhir ‘sinji’ pentas kembali memeriahkan bedah buku antologi puisi “Surabaya-714 Malsasa 2007” yang di gelar di toko buku diskon togamas, jalan diponegoro 9 surabaya.
lantas sampai kapankah ‘sinji’ akan terus beraksi? sebuah tanya yang terus memompa kami untuk terus selalu bermain dan beraksi.
* presiden penyair jawa timur
Rabu, 27 Agustus 2008
sajak-sajak surabaya
SAJAK-SAJAK SURABAYA
aming aminoedhin
SURABAYA I*
pasar kini telah berubah di sini
pasar adalah lampu-lampu iklan
di mana dagangan ditawarkan
lewat lampu-lampu iklan
yang gemerlap tinggi mencuat
aku hanya bisa nelangsa menatap
orang-orang dimuntahkan oleh bis-kota
dan plaza-plaza bertingkat, dan
di kemudian hari ditelan kembali
dengan jumlah dan hitungan kian sarat
plaza-plaza bertingkat
kian semakin padat pengunjung
rumah-rumah ibadat
semakin kehilangan juntrung
oleh penghujung
lupakah mereka?
Itulah soalnya aku bertanya
Surabaya, 1986
aming aminoedhin
SURABAYA II*
apa yang harus kutulis tentang surabaya
kecuali panas cuaca dan gerah suasana
pada setiap harinya, ketika
musim kemarau tiba
hari-hari melintas cemas
hidup kian semakin bergegas
ruang kehidupan kian pula terbatas
pada sudut-sudut kota
semakin pula sulit membedakan
antara waria dan kupu-kupu malam
antara tante girang dan lelaki
hidung belang
surabaya surabaya
orang semakin gampang
berkata mengulurkan tangan
demi mendapat pekerjaan
dengan sekedar uang imbalan
surabaya surabaya
menjadi kabur batas bantuan
dan niat kepalsuan
lampu-lampu iklan
kian semakin gemerlapan
saling berebut ketinggian
saling berebut pasaran
surabaya surabaya
jalan-jalan semakin hijau
asap beribu mobil semakin kacau
surabaya musim kemarau
hanya debu ketergesaan semakin galau
segalanya berlalu tanpa batas
siapa menunggu kelak tergilas
lampu-lampu iklan
kian semakin gemerlapan
saling berebut ketinggian
saling berebut pasaran
surabaya musim kemarau
aku menatapnya semakin risau
Surabaya 1986
aming aminoedhin
LARUT MALAM SURABAYA*
mobil-mobil yang lintas jalan layang
seakan terbang tanpa sayap
lampu-lampu jalan layang
berjejer diam menyimpan penyap
bunga-bunga taman mayangkara
tidaklah terhitung lengkap
rumput-rumputnya hijau meluas
tanpa ada tersisa sampah-sampah membekas
dan pohonan hias menyejuk mata
di antaranya terselip cahaya
lampu-lampu merkuri menebar asri
lampu-lampu kota warna-warni
lampu-lampu mobil tak mau mati
kota tiada mau diam, meski jam
telah sampai larut malam
kota ini adalah buaya, yang
menelan segala perangkat teknologi
teknologi abad ini, tanpa
terseleksi (diseleksi?)
1989
aming aminoedhin
TAMAN SURYA BULAN PAHLAWAN*
malam ini tidak seperti biasanya
taman surya hanya sepi saja, anak-anak
dan orangtua mereka tak nampak
bermain di antara bunga-bunga
di dekat pintu pagar utama
ada terpancang baliho besar
memuat kobar semangat pahlawan
bagi siapa melihatnya
di luar pagar ada berjajar
sepuluh sang saka jumlahnya
berkibar karena angin menerpa
di antara bunga-bunga taman
kain rumbai berjuntai warna-warni
diterpa angin menderai
taman surya kian asri malam ini
penjual-penjual balon mainan anak
tidak juga kulihat di sana
spanduk slogan kepahlawanan
terpampang di atas baliho
dan di antara pepohonan hijau
meneriakkan pesan-pesan
pahlawan
lampu-lampu hias
di sekitar patung sudirman
menambah pantas tata-rias
di gelap malam kota pahlawan
pasukan kuning masih tampak setia
mengayun sapu lidinya malam ini
menyiapkan keindahan rasa setiap mata
sebelum parak pagi menjemput tiba
esok hari, adalah hari pahlawan
kita peringati bersama
kita adakan upacara bendera
melepas ikhlas doa
teruntuk sang pahlawan bangsa
taman surya malam hari pahlawan
semakin cantik berdandan
malam sepi di taman surya
semakin mengusik hatiku berkata
“pahlawan bangsa
tidak hanya mengangkat senjata
pasukan kuning dan sapu lidinya
guru dan rasa ikhlasnya, termasuk
di antara mereka.”
Surabaya, 9/11/1988
aming aminoedhin
TERMINAL LARUT MALAM*
malam selarut ini, pernah
kita terperangah harus ke mana arah
diputuskan?
sebab kita nyaris alpa
jika garis kencan malam telah habis
(mungkin kita alpa atau barangkali
kita melupakan garis tepi?)
kembali ke alamat semula
atau harus pulang
ke rumah pondokan?
(sulit menentukan batas pasti)
padahal kita tahu jika
pintu rumah keduanya
telah pasti tertutup rapi
pada malam selarut ini
lalu hanya bisa termangu-mangu
menghitung jam menunggu pagi
malam selarut ini
ke mana langkah kaki kita
diarahkan lagi?
malam selarut ini
kini aku sendiri di sini
sambil mengingat peristiwa lama
yang dulu merupakan dilema
malam selarut ini
hanya sisa kenangan tertinggal
lantas ada terminal dalam hati
kian terasa sepi
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
GENTENGKALI SIANGHARI*
hari telah siang. ada rimis hujan jatuh sebentar
telah habis oleh mentari yang kembali membakar
ada perasaan riang. setelah sua dalam kabar
dengan perempuan berkacamata yang berbinar
cerita-cerita lama kembali digelar
seperti air yang mengalir terasa segar
cerita-cerita memilih artinya sendiri
pada kenangan yang masih sempat terpatri
ternyata pintu hati masih terbuka
untuk misteri bernama cinta
meski tertangkap samar, namun masih
terasa ada bergetar
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
PATUNG SUDIRMAN I*
pada hari pahlawan ini
kau semakin tampak tegap berdiri
pedang di pinggang
menatap panasnya siang
aku hanya bisa melepas doa
bagimu, sang pahlawan
doa seorang penyair
sepanjang dzikir
Surabaya, 1988
aming aminoedhin
PATUNG SUDIRMAN II*
aku menatapmu lama-lama
pada hari pahlawan tiba
mengamati sosok patung pahlawan
negeri ini, dengan
membaca pesan-pesan tertulisi
di bawah patungmu sepi
aku menatapmu lama-lama
pada hari pahlawan tiba, lalu
ada suara hati melepas doa
terucap tanpa suara
mengamati patungmu berdiri
mengaca pada cermin sendiri
ternyata, kita semua
belum berbuat apa-apa
untuk negeri tercinta
Surabaya, 1988
aming aminoedhin
EMBONG MALANG*
menelusuri jalan embong malang sianghari
terasa jalanan mengambang kebak polusi
kendaraan mengalir satu arah
keringatku mencair begitu gerah
memandang selatan jalan embong malang
terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang
engkaukah yang telah mengubah
wajah kota begitu gagah
atau mungkin menyulap kota tampak begitu gagah
sementara di beberapa tempat
banyak orang mengumpat
soal pendapatan upah buruh taklagi diterima utuh
soal rumah leluhur menyimpan arsitektur lama
dengan pongah digusur-gusur, kota lama
seperti telah dikubur
embong malang jalan satu arah
tak memberi satu arah, bagi
arti kehidupan tanpa jurang pemisah
antara yang mewah dan lainnya berdarah
atau mungkin bernanah?
Surabaya, 1996
aming aminoedhin
DI KOTA*
di kota
pabrik itulah yang mengubah udara
jadi bertuba
di kota
manusia itulah yang mengubah anak
jadi robot tanpa jiwa
di kota
manusia itulah yang mengubah cinta
jadi uang yang segalanya
di kota
akulah orang yang terpuruk
kehilangan suara
Surabaya, 7 Januari 1996
aming aminoedhin
SIMPANG LIMA BLAURAN
di simpang lima Blauran waktu malam
hanya kulihat lampu-lampu iklan gemerlap
beribu orang lalu-lalang, dan beribu
lampu-lampu mobil dengan cahaya bersilangan
di trotoar jalan Blauran penuh pedagang
pedagang kakilima mengadu peruntungan
di bawah angin di bawah hujan di bawah malam
dari penjual koran, kupon undian sampai celana dalam
lampu iklan warna-warni, dengan
cahaya kelap-kelip sepanjang malam
berebut menarik sejuta mata pembeli
agar mereka jatuh hati
di simpang lima Blauran waktu malam
aku hanya bisa menatap lampu iklan gemerlap
tanpa menaruh hati. tanpa punya niat
untuk terjerat membeli
Surabaya, 1986
aming aminoedhin
TAMAN SURYA BULAN PAHLAWAN
malam ini tidak seperti biasanya
taman surya hanya sepi saja, anak-anak
dan orangtua mereka tak nampak
bermain di antara bunga-bunga
di dekat pintu pagar utama
ada terpancang baliho besar
memuat kobar semangat pahlawan
bagi siapa melihatnya
di luar pagar ada berjajar
sepuluh sang saka jumlahnya
berkibar karena angin menerpa
di antara bunga-bunga taman
kain rumbai berjuntai warna-warni
diterpa angin menderai
taman surya kian asri malam ini
penjual-penjual balon mainan anak
tidak juga kulihat di sana
spanduk slogan kepahlawanan
terpampang di atas baliho
dan di antara pepohonan hijau
meneriakkan pesan-pesan
pahlawan
lampu-lampu hias
di sekitar patung sudirman
menambah pantas tata-rias
di gelap malam kota pahlawan
pasukan kuning masih tampak setia
mengayun sapu lidinya malam ini
menyiapkan keindahan rasa setiap mata
sebelum parak pagi menjemput tiba
esok hari, adalah hari pahlawan
kita peringati bersama
kita adakan upacara bendera
melepas ikhlas doa
teruntuk sang pahlawan bangsa
taman surya malam hari pahlawan
semakin cantik berdandan
malam sepi di taman surya
semakin mengusik hatiku berkata
“pahlawan bangsa
tidak hanya mengangkat senjata
pasukan kuning dan sapu lidinya
guru dan rasa ikhlasnya, termasuk
di antara mereka.”
Surabaya, 9/11/1988
aming aminoedhin
SURABAYA, CINTAKU KIAN BERJUTA
surabaya
adalah kota yang tak pernah ada
dalam impian benakku sejak mula
masa kecilku di desa
surabaya bagiku ketika itu
adalah kota maha dahsyat
penuh maksiat, tetapi sekaligus kota
santri di kampung arab
bermula ketakutanku datang
di kotamu, hanya rasa bimbang
dan seribu ambigu tentang kedahsyatan
maksiat yang sarat atas kotamu
adakah bisa bertahan jiwa iman
dalam diriku, jika aku harus
mengais hidup di kotamu
tapi surabaya
adalah kota yang kemudian
menjadi pantai, di mana aku
terdampar menggapai-gapai
bermula hidup di surabaya
terasa hari-hari penuh fatamorgana
tertatih berjalan melewati
kerikil tajam kehidupan
meraba-raba seperti tanpa mata
mencari sisa rasa cintanya, yang berjatuhan
entah di mana?
surabaya
setelah serpih demi serpih cintamu
tergenggam tanganku, ada benih
beribu rasa cintaku mengembang
surabaya
kini cintaku kepadamu kian tumbuh
kotamu jika siang semakin teduh
kian mempesona lantaran adipura
semakin asri jika datang malam hari
sebab lampu-lampu iklan
yang selalu gemerlapan
surabaya
lampu-lampu iklanmu
adalah sebagai kekayaan kota
tapi sekaligus racun bagi
wargamu, dan merupakan gincu
keindahan yang hanya semu
surabaya
cintaku kian berjuta jumlahnya
tapi berjuta pula rasa inginku
meninggalkan kotamu
mengapa bisa begitu
aku tiada pernah tahu?
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
ENTAH BISA DEMIKIAN JADINYA
* pro. hm
di surabaya ini, aku tak kuasa lagi bicara
soal politik, apalagi bicara sosial berbau kritik
sedang bicara moral, seperti telah
kehilangan akal
entah bisa demikian jadinya?
padahal dulu, ketika masih kuliah bersamamu
kita punya ambisi jadi politisi atau kritisi
bahkan jika mungkin jadi kyai
tapi semua, ternyata hanya mimpi belaka
entah bisa demikian jadinya?
kota ini telah demikian padat iklan
kebanyakan orang tanpa sadar kehilangan iman
aku terjerat dan bahkan tersudutkan
(barangkali benar arti kata politik
yang dulu kita analisa sebagai barbar
mencapai tujuan halalkan cara apa saja)
sebab di sini banyak orang berdagang dan bekerja
menggunakan politik sebagai pisaunya
sedang kritik yang terlontar dan diteriakkan
hanya menggelitik tawar tak lagi mempan
kerja sosial berbau amal dan moral, hanya
sebatas tercatat di koran harian atau berita
televisi yang tampaknya manusiawi
bicara religi, kota hanya suara nyanyian tawar
yang kudengar. sedang orang ngaji
tak pernah terdengar lagi
di surabaya ini, hampir-hampir aku tak lagi
bisa menulis tentang puisi. mungkin karena
polusi atau karena sirnanya semua ambisi
dan jika kembali kau sempat sua
aku tak lagi bicara seperti dulu
demikian berambisi dan menggebu
entah bisa demikian jadinya?
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
TANJUNG PERAK MALAM KESEKIAN
bemo itulah yang mengantarku
ke tanjung perak malam kesekian
lantaran mataku tak mau pejam
hingga larut malam begini sunyi
harus sendirian pergi
sepanjang perjalanan kutempuh
telah lengang dari orang, sedang suara-suara riuh
yang sesekali terdengar, adalah truk-truk
trailer dengan muatan sarat terbatuk-batuk
tanjung perak malam kesekian
kutempuh karena mata tak mau pejam
kapal-kapal bersandar di dermaga tegar
lampu-lampunya terang bersinar
kuli-kuli pelabuhan masih setia
menurunnkan muatan di malam buta
begitu pula pemancing muda usia
setia mengganti umpan pada kailnya
sesuap nasi, ternyata ada yang harus
melawan kantuknya malam
melawan bisunya kelam
sekeping hati, ternyata ada yang pupus
melawan suntuknya mata terpejam
melawan rindunya terpendam
karena di tanjung perak
tak kutemukan lagi jejak
ke mana perginya sosokmu
hingga berminggu-minggu
tanjung perak malam kesekian kali
hanya aku yang termangu-mangu
sedang rinduku disembunyikan
kapal-kapal itu, yang bergoyangan
dihempas laut tetap tegak membisu
Surabaya, 1990
aming aminoedhin
SURABAYA MUSIM KEMARAU
surabaya kini lagi musim angin
malam begitu dingin. karena sahabat setia
kemarau panjang ini adalah debu
yang diterbangkan angin polusi selalu
dengan cuaca begitu panas sekali
di siang hari
ke mana perginya awan dan hujan
aku tiada pernah mengerti?
daun-daun pepohonan sepanjang jalan kota
telah berapa lama jatuh
dahan dan ratingnya kering. matahari
dengan leluasa membakar bumi. sangar sekali
air kalimas susut. berwarna keruh
hitam dan menakutkan
ini musim kemarau panjang. tapi limbah industri
terus mengapungkan busa. putih-putih
di atas sepanjang alur kalimas berbuih
kalimas merintih!
akulah saksi itu., surabaya musim kemarau
segalanya seperti risau. bahkan suara-suara
mobil berlarian terdengar parau. kacau!
kota telah dibakar laju peradaban dunia
barangkali mengejar mimpi teknologi
bahkan mungkin ambisi demi ambisi
tanpa batas tepi. tanpa ada teraih di tangan
seorang pemimpi. ilusi!
surabaya musim kemarau
hijau daun pepohonan berganti warna
asap cerobong pabrik terus mengobrak-abrik
udara kota. sesak terasa di dada
sandiwara peradaban kota terus berlangsung
tanpa ujung tanpa juntrung
lantas ke mana rasa bimbang ini
harus ditimbang?
kepada dewan walikota. atau pada
pak walikota? kepada angin, atau pada
musim dingin?
surabaya musim kemarau
teriakanku semakin parau
hati pun kian semakin risau
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
THR SURABAYA MALL
lalu lampu-lampu itu pun padam
keindahan taman tinggal kelam
tinggal sepi (mungkin) sunyi
menyekap diri
tak ada lagi gemontang musik rock
di pangung terbuka. tak ada lagi
gelak tawa penonton srimulat
dan tepuk riuh
penonton wayang orang bergemuruh
tak ada lagi! tak ada lagi!
hanya lagu disko. ada juga dangdut
dari la-surya kian membalut
malam larut. kian membuat hanyut
dalam goyang berlarut-larut
bagi mereka yang tersudut
sedang ludruk tinggal cerita
dari mulut ke mulut
tak pernah runtut. selebihnya
ada di televisi tanpa rohnya lagi
barangkali hambar (mungkin) tawar
di telingamu kini
lalu lampu-lampu itu pun padam
keindahan taman tinggal kelam
tinggal sepi (mungkin) sunyi
sedang mengingat ludruk kembali
terasa kehilangan diri
Surabaya, 1991
*) la-surya, rumah disko atau diskotik
aming aminoedhin
SEKALI LAGI SURABAYA
· teruntuk annie di cimahi
surabaya telah mengajarku membaca
tentang lupa, dusta dan segala dosa
yang ditawarkan setiap hari-harinya
surabaya telah mengajariku berkata
untuk tidak gampang lupa gampang berdusta
tidak pula gampang menghimpun dosa
tanpa memperhitungkan angka
surabaya telah mengajariku membuka hati
seluas padang sabana menghijau warna
surabaya telah mengajariku membuka pikir
sebening telaga sejernih air segarnya
tanpa rasa pongah apa lagi kikir dalam berpikir
lantas pintar berdusta dan lupa segala
tidak! sekali lagi tidak!
surabaya telah mengajarkan ketegaran demi ketegaran
dari seribu sandungan demi sandungan
tanpa terhitungkan. dengan beribu batu sandung uji
aku tetap berdiri tegak bersitahan. sendiri!
surabaya! sekali lagi surabaya!
telah mengajarku bicara apa adanya
meski kau tahu pasti
bahwa surabaya begitu gemerlap
penuh gincu keindahan yang hanya sekejap
surabaya penuh rumah mewah nan megah
tanpa satu pun aku memiliki tiada pernah
penuh mobil-mobil bergengsi dan beribu taksi
tapi aku tak punya. hanya naik bemo lebih nikmat terasa
surabaya! sekali lagi surabaya!
sejuta keangkuhan ditebar di jalanan
sejuta maksiat disembunyikan lampu gemerlap
surabaya! sekali lagi surabaya!
berjuta orang meneguhkan iman di bulan ramadhan
berjuta orang berbuat demi hidup yang sehat
surabaya! sekali lagi surabaya!
kebersihan kotanya mendapatkan adipura
adalah kebersihan warga bersama walikota
menata metropolitan kedua ini jadi mempesona
surabaya! sekali lagi surabaya!
hanya berbekal segerobak cinta
mengekalkan kesetiaan imanku tegak adanya
surabaya! sekali lagi surabaya!
mengajariku lebih banyak membaca tanda-tanda
mengajariku tahu hidup lebih sederhana
apa adanya. tanpa muatan prasangka-prasangka
seperti pahlawan bangsa
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
MEMANG BENARLAH MALANG
malanglah kau jika dalam langkahmu sekarang
di mana kota telah mengajarmu pintar berdusta
lebih lagi bila gincu dan gemerlapnya barang-barang
sebagai topeng sembunyikan segala
padahal bagiku, kota
adalah referensi bagi teguhnya hati
tetap tegak berdiri. tanpa goyah
meski batu-batu uji
telah saling-silang berganti
seperti tanpa henti
memang benarlah malang
apabila kota menjanjikan kata bimbang
lewat persimpangan-persimpangan
tampak begitu gemerlap, dan
kau memilih gemerlap yang hanya sekejap
barangkali kota pula
yang telah menggergaji ingatan janji
menepiskan impian mudah sekali pergi
tanpa timbangan hati nurani
memang benarlah malang
bagi orang yang lupa diri
tanpa kendali
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
BERJAMAAH DI PLAZA
kata seorang kyai, belajar ngaji
adalah amalan yang patut dipuji
dan sholat berjamaah
dapat pahala berkah
berlipat-lipat jumlah
tapi kenapa banyak orang
belajar nyanyi, belajar tari
dan baca puisi?
tapi kenapa banyak orang berjamaah
hanya di plaza-plaza
hamburkan uang berjuta-juta?
adakah ini dapat dipuji, dan
adakah plaza menyimpan pahala
berlipat ganda?
ah… barangkali saja, plaza-plaza
telah jadi berhala baru
yang dipoles gincu
begitu indah
dan banyak orang ikut berjamaah
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
KEPADAMU SURABAYA AKU BERTANYA
· kalung ulang tahun Surabaya 701
kepadamu surabaya aku bertanya
ke mana arah singgah
bermilyar rupiah itu
bermuara setiap hari?
ke mana aku harus mencari
jejaknya yang tiada tampak
oleh silaunya lampu iklan gemerlap
oleh gebalaunya mesin pabrik
oleh saling-silangnya mobil mewah
di jalan raya, mengusung
polusi udara di atas kota
langit jadi mendung
tapi hujan tak juga turun
ke mana aku harus mencari
jejaknya yang tiada juga tampak
oleh gelapnya jalan keadilan
oleh gelapnya jalan kebenaran
sedang tatap mataku pada lampu iklan
telah begitu asing
sementara kupingku bising oleh suara mesin
mataku kabur oleh polusi udara menghablur
mataku kabur oleh jalan kebenaran
yang hanya menghibur
barangkali hanya kepadamu surabaya
aku terus menterorkan tanya
ke mana kausembunyikan pembunuh
Marsinah, sedang para buruh
terus kau peras untuk menekan
rasa lelah dan menekan bayaran upah
di mana ada pintu sanubari terbuka
semua terkunci bagi penggagas hati nurani
semua terkunci bagi penggagas seni murni
dan terkunci pula pikiran waras
yang kini dikebiri
kepadamu surabaya aku bertanya
benarkah beribu pasang lampu iklan
di sepanjang jalan, hanya sebagai
gincu keindahan kota berdandan
dan kelap-kelipnya iklan
seakan cibiran bagi slogan
“mengentas kemiskinan”
yang banyak didengungkan birokrat
hampir tiap saat
tidakkah kita bersama-sama
“mementaskan kemiskinan”
dan kemudian bersama-sama pula
mata kita terjaga atau mungkin geleng kepala
bahwa kemiskinan ternyata masih
terlalu banyak dari hitungan sebenarnya
kepadamu surabaya aku bertanya
ke mana arah singgah pertanyaanku
akan terjawab oleh keindahan kotamu
mungkinkah gedung-gedung menjulang
telah sembunyikan jawaban
atau kelap-kelip lampu iklan
yang telah membungkus kebusukan beribu
dengan gincu keindahan yang hanya semu
kepadamu surabaya aku bertanya
sekali lagi kepadamu
surabaya kotaku
Surabaya, 1994
aming aminoedhin
MEMANDANG SURABAYA KINI
memandang surabaya kini
kau pasti tak percaya lagi
kota bagai mimpi
kalimas begitu indah bersih
tak terdengar lagi suaranya sedih
yang dulu terdengar bagai merintih
rintih begitu perih
bila malam melangkah
kalimas kini begitu indah
lampu-lampu taman kota
berkelipan di cermin
alirnya air kalimas nan jernih
senja hari tiba
taman kota pinggir kalimas
menjanjikan arena bermain
tanpa bayar bagi anak-anak kota
hingga puas
memandang surabaya kini
seperti masuk kota mimpi
segala disulap begitu gemerlap
lampu-lampu iklan di jalanan
tanpa henti berkejap semalaman
perempuan bagai peri berjajar
di jalanan, menebar birahi
bagi lelaki kesepian
memandang surabaya kini
kau tak percaya lagi
taman-taman kota tertata rapi
pohon-pohon pelindung jalan
meneduhi, sedang di sisi lain
unjuk rasa berbagai soal
terus didengungkan jalin-menjalin
ah… barangkali saja
surabaya kini potretnya pabrik
unjuk rasa yang telah jadi tradisi
dan ini adalah menarik
bagi peneliti
Surabaya, 1996
aming aminoedhin
EMBONG MALANG
menapaki trotoar jalan embong malang
terasa jalanan mengambang kebak polusi
kendaran mengalir satu arah
keringatku mencair begitu gerah
memandang selatan jalan embong malang
terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang
engkaukah yang telah mengubah
wajah kota begitu indah
atau mungkin menyulap kota
tampak begitu gagah?
sementara di beberapa tempat
banyak orang mengumpat
soal pendapatan upah buruh
tak lagi diterima utuh
soal rumah leluhur menyimpan arsitektur lama
dengan pongah digusur-gusur, kota lama
seperti telah dikubur
embong malang jalan satu arah
tak memberi satu arah, bagi
arti kehidupan tanpa
jurang pemisah, antara yang mewah
dan lainnya berdarah, atau
mungkin bernanah
Surabaya, 1996
aming aminoedhin
MENYUSURI JALAN KOTA SURABAYA
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
tak kutemukan sejumput kata
untuk direkrut dalam bangunan sajak
di hiruk-pikuk kota menggelegak
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
dibangun kantor-kantor bank berjejer
padahal jaman tergelontor krisis moneter
kantor-kantor bank kian megah bertengger
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
mata kita dipaksa membaca iklan gagah terpampang
dari kelap-kelip lampu waktu malam
gambar gadis ayu jualan sabun di siang terang
sampai iklan-iklan kecil jamu racikan
les privat, badut ulang tahun, dan tukang talang
terpajang di pohon-pohon perindang jalan
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
mobil berdesakan sering terjadi kemacetan
jalan-jalan kota kian kebak polusi
hari-hari polusi serasa tiada henti
sedang polisi yang jaga sejak pagi
hanya mencari kesalahan
dan bukan membenarkan salah pengendara
rambu-rambu berfungsi semu. mungkin hanya gincu
untuk menjebak pengendara tak tahu
terpaksa keluarkan uang saku
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
tak kutemukan sejumput kata
untuk direkrut dalam bangunan sajak
agar hidup tak terasa sesak tak terasa berdesak
Surabaya, 1999/2000
aming aminoedhin
JEMBATAN MERAH I
di terminal jembatan merah hati gelisah
menanti janji kemarin diucapkan
tentang kencan seorang kawan
cuaca kota semakin gerah
di antara asap kepul kendaraan
yang berebut penumpang, telah
melaju menjangkah tujuan
jam semakin cepat merambat
senja semakin memburu kita
perasaan semakin memberat
dalam lingkar keinginan sua
matahari terlena senja pun tiba
keberangkatan tanpa bertemu
menekan sejuta rasa jemu
dalam menunggu
1985
aming aminoedhin
JEMBATAN MERAH II
menepati janji sendiri
terkadang bagai bumerang
bagi diri sendiri
dari siang hingga senja merembang
teman kunanti tak juga datang
membuat hati semakin bimbang
jembatan merah
merahnya semakin merah
dalam tatap mata mengharap
kawan sekerja terdekat
belum juga terlihat
adakah pasti diperpanjang lagi
saat menanti seperti ini
sedang rasa jenuh telah luruh
pada hati menyeluruh
adakah?
1985
aming aminoedhin
JEMBATAN MERAH III
penantianmu sia-sia saja
sebab kencan yang telah diucapkan
hanya lahir dari bibir belaka
penantianmu tanpa makna
hingga jenuh dalam menunggu
takkan sampai arah sua
asap mobil, suara calo, dan tukang becak
tukang parkir, sopir bemo, dan pedagang sawo
takkan bisa menjawabnya
jembatan merah dan gedung megah
jalan raya dan terminal
takkan bisa ditanya
deru bus mangkal di terminal
memburu hatimu bertambah kesal
1985
aming aminoedhin
RAYA DARMO
demikian panjang jalan raya
dan padat kendaraan berlarian
demikian teduhnya raya darmo
terbelah pepohonan nan hijau
seperti panjangnya rinduku
memuat hasrat berpacu
seperti luruhnya hati risau
bila telah kembali bertemu dikau
(ada hasrat tetap melesat
tapi pintu sua kembali
tak berujung pasti)
jalanan semakin panjang
kaki menempuhnya bimbang
lalu ada wajah keruh
hanya berupa bayang
semakin mengambang
Surabaya, 1988
aming aminoedhin
JOYOBOYO DINIHARI
kelelahanmu telah mengantarkan
matamu terpejam sejenak
dari perjalanan malam
tanpa kepastian jarak
bersandar pada kursi ruang tunggu
menanti pagi menjemput kembali
menuju kota semalam kautinggalkan
ternyata kata cinta
mengalahkan segala
memang benar adanya
kerja seharian melelahkan
jadi sirna oleh satu kata cinta
memasuki terminal joyoboyo dinihari
suatu kali, mengingatkan kau kembali
tertidur memelas bersandar kursi
mamasuki terminal joyoboyo dinihari
hanya ilusi mengejar membuntuti
sedang kau tak ada lagi di sini
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
BILA TERASA SESAK DI KOTA*
Bila kau telah merasa sesak di tengah kota
bernafas tak bisa lega
bekerja tak bisa prima
beranak-pinak merasa tersiksa
maka tak pelak lagi, kau harus bergerak
tinggalkan kota, dan kau harus
tinggal di kampungku kini
Kampung yang pepohonannya rimbun
burung-burung masih berkicau merdu
udaranya tak bermuatan asap polusi
dan rumah-rumahnya tertata rapi
Tak perlu khawatir, kampungku
telah punya air melalui pipa-pipa
yang setiap hari mengalir
demikian pula listrik sumber cahaya
malam hari, telah menyala apik
jika malam tiba
Dari perkotaan, kampungku tak begitu jauh
hanya beberapa menit dapat ditempuh
Sekali lagi, bila kau merasa sesak di tengah kota
kini tinggalah di kampungku yang menjanjikan
hidup ini lebih punya makna arti
Surabaya, 3/10/1989
aming aminoedhin
SENJA DI STASIUN KOTA
ketika senja telah merapat
kereta itu pun berangkat
ke mana perginya sepi
dibawa peluit kereta barangkali?
stasiun kini tinggal bangku peron
kosong melompong seperti pentas ludruk
yang kini surut ditinggal penonton
mentari tinggal warna merahnya
melukis langit di ujung senja
sepi kian kental adanya
menggaris dan menggigit rasa
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
DI ATAS BEMO TENGAH KOTA
Aku tersudut di pojok tempat duduk bemo, mengantarku
ke tempat kerja, menembus hutan beton, dan rimbanya mobil-mobil
yang berebutan jalan di siang yang panas. Peluh yang berjatuhan
dari tubuhku, seperti hujan yang jatuh. Kota demikian gerah
oleh matahari yang membakar gagah.
Di atas bemo itu, seorang Ibu muda bercerita tentang
anaknya yang tidak diterima sekolahan negeri, dan
terpaksa ke sekolah swasta. Kepada temannya yang juga
tampak masih muda usia, dia mengeluh, betapa mahalnya
buku dan bangku yang harus dibayar ketika itu.
Sementara itu dua perawan yang tampaknya mahasiswa, dialog
tentang masalah sosial budaya kini tak lagi diacuhkannya.
Mereka bicara soal betapa gagahnya plaza yang satu, dengan
lainnya. Sedangkan bicara kritik apa lagi politik, telah sirna
dari mulutnya. Kering bagai pergigi di musim kemarau panjang
sekali. Tapi jangan tanya soal lipstik dan diskotik, dia lebih tahu
dari disiplin ilmu yang kini ditekuninya.
Seorang lelaki setengah baya, bertanya kepada seorang Ibu tua
yang baru pulang dari pasar menjual dagangannya. Pertanyaan
tentang rugi-laba yang dibawa pulang, setelah kerja semalaman.
Dan ternyata jawaban yang terlontar, di luar dugaan yang saya
kira. Di luar dugaan kita. Dan kau pasti tak percaya!
Lantas aku hanya bisa mengelus dada. Ternyata hidup tidak
selamanya diharapkan semula. Memburu untung malah buntung.
Merasa rugi, ternyata malah ketiban rejeki.
Bemo terus berlari, asapnya menambah polusi
setiap pembicaraan yang kutangkap hari ini
Penumpang selebihnya, adalah pegawai negeri yang bicara soal
kantornya yang kini kena wajib apel siang dan pagi. Dan
kebingungan, lantaran harus ngantar anaknya sekolah pagi-pagi.
Ada juga penumpang yang tampaknya wanita pramuniaga sebuah
toko di plaza --- diam, dengan dandanan seronok --- membuat
mata lelaki siapa tak melorok?
Bemo terus berlari, di antara mobil-mobil begengsi
Seperti larinya pikiranku dan hati, yang menyimpan rasa iri
Di Jalan Gentengkali aku turun. Sedang celoteh dua Ibu muda,
dua perawan mahasiswa, lelaki setengah baya, Ibu tua, dan
semua penumpang bemo di atasnya --- aku tak tahu lagi
kelanjutannya --- ke mana dan tentang apa?
Surabaya, 1990
aming aminoedhin
KOTA KETIGA*
* surabaya
kota ketiga ternyata hanya
menakar hidup dengan angka-angka
setiap detak langkah manusia
dihitung dengan angka
dari angka ke angka
surabaya ditakar harganya
sejengkal tanah jutaan harganya
di atas gedung bertingkat adalah angka iklan
berjuta pula harga ditawarkan
jalan-jalan raya tengah kota
dihitung pula dengan angka
karena bemo dan bus kota
taksi dan angguna
saling berebut angka-angka
belum lagi soal mulut bicara
di gedung-gedung bertingkat digelar
dari soal janda, busana, senam, dan bahkan
seks jadi bahan seminar. semua itu
dibayar dengan angka-angka
kota ketiga bernama surabaya
mataku risih menatapnya. lalu
adakah rasa samar dalam kalbu
bersih sirna pada perahu hidupku
di hari esok melaju
Surabaya, 1990
aming aminoedhin
TAMAN KOTA
* taman surya
di taman kota
aku memandang keindahan sempurna
bunga-bunga rapih tertata
jalan-jalan kecilnya bersih di mata
sedang bangku-bangku diam membisu
air mancur di tengah taman kota itu
gemericik tak mau diam
tiang-tiang bendera berjajar
dengan benderanya berkibar-kibar
di depan halaman taman kota
lampu-lampu taman kota bersinar
cahayanya terang berbinar
di taman kota
aku terbayang wajah kumuh kota
di pinggir-pinggir kalimas
begitu jelas membekas
rumah-rumah plastik
berderet jemuran baju cabik-cabik
ada juga celana dalam dan beha lusuh warna
sedang penghuninya orang-orang tersisih
mengais sisa rejeki kota bisa teraih
sepanjang hari tertatih-tatih
tanpa sedikitpun merintih
di taman kota
aku membaca diri tanpa tahu diri
tentang sebuah arti rasa iri
tak perlu di perpanjang lagi
karena etos kerja tanpa henti
adalah kunci
karena rasa iri hanya menggergaji
diri sendiri
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
PLEMAHAN LAMPU MATI
ketika sunyi menyapaku kembali
lantas apa yang harus kutulis
dalam baris puisi
malam pekat di sini. hanya melati
aromanya tegak berdiri. mewangi
menyapa diri
ada juga lompatan hati
terasa ada yang telah pergi
datang kembali
barangkali nama perempuan
atau mungkin bernama kesunyian?
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
SEPANJANG JALAN KREMBANGAN
* listya uran
melangkahkan kaki di larut malam begini
terasa segalanya jadi sunyi
karena ada ketidakpastian
di hati berkejaran
(hanya suara sepatuku kian teratur
memberi isyarat tetapnya hati menghibur
melangkah berani. melangkah pasti)
sepanjang jalan krembangan
masih menyimpan suara bimbang
suara-suara siapakah?
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
RAYA DARMO SUATU SIANG
orang-orang berarakan sepanjang raya darmo
berkostum merah menyala dengan merah bendera di tangan
sambil meneriakkan yel-yel kemenangan, berbareng
suara motor-motor mereka yang memekakkan telinga
tanpa hiraukan panas cuaca, tanpa hiraukan serak tenggorokan
tanpa pula menghitung siapa punya jalan?
mereka itu adalah barisan anak-anak muda
berhati berani semerah kostum mereka
mengacungkan tiga jari tinggi-tinggi
meraih massa diajak bermimpi
orang-orang berarakan sepanjang raya darmo
mempolusikan udara kota tanpa hirau
ini sebuah pesta demokrasi
mengapa kau tak ikut meraih mimpi-mimpi?
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
SAL RS DARMO
* perawat tercinta
suara igauan atau erangankah itu
yang menggetarkanku di malam
telah lengang seperti ini?
sementara aku tergeletak lemah di ranjang
terbaring sakit menahan segala erang
yang menjepit seluruh tubuh
hingga parak subuh
barangkali malaikat telah turun
menjengukmu kawan, atau
mencari data sesiapa yang bakal
diajaknya pergi ke surga
di esok lusa?
di ruangan sal rumah sakit Darmo
aku hanya bisa berdoa, sambil
terbaring menghitung tetes air infus
yang mengunciku di ranjang
tak bisa beranjak, apa lagi pulang
ah… kawan, suara igauan
atau eranganmu itu, hanya menambah
debaran hatiku kian berlarian
semakin lelah semakin resah
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
SEPIRING NASI KAKILIMA
surabaya, aku telah lelah menuliskannya
barangkali tak ada yang menarik
bicara kritik apa lagi tentang politik
bicara kritik dilawan clurit
tentang politik dikatakan sengit
sebab kegelisahan warga kota
telah terwakili koran pagi
di halaman muka
di surabaya ini
opini masyarakat
telah digiring dalam satu jaring
(mufakat) untuk secara bersama
dalam satu suara
surabaya, aku telah lelah bicara
tentang kotamu yang kian malang-melintang
oleh jalan, dan gedung-gedung menjulang
lelah bicara iklan-iklan yang menantang
mengubur slogan kebersihan
mengubur rambu-rambu jalanan
surabaya, aku telah lelah bicara
tentang kritik apa lagi politik
karena suara puisi
hanya membentur dinding-dinding kota
dan harga sebuah puisi
hanya sepiring nasi kakilima
ingat, sepiring nasi kakilima
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
PURABAYA SABTU SENJA I
setiap hari sabtu senja di purabaya
melaut manusia berebut tumpangan bus antarkota
beribu manusia seperti memburu waktu
padahal jam terus melaju
mentari di barat seperti memberat
beribu manusia berjejal hampir sekarat
bus antarkota melaju terseok-seok
kami semua yang tak terangkut melongok-longok
Surabaya, 2000
aming aminoedhin
PURABAYA SABTU SENJA II
panorama sabtu senja di purabaya
kau aku seperti tak percaya
orang-orang begitu melaut jumlah
berlari ke sana kemari tanpa rasa lelah
panorama sabtu senja di purabaya
kau aku seperti tak percaya
orang-orang berebut mencari kursi
di bus antarkota tanpa henti
orang-orang berebut mencari kursi
layaknya kursi legislatif yang dicari
panorama sabtu senja di purabaya
kau aku pasti akan terkesima
melihat Ibu tua tak terangkut bus antarkota
tersedu menangis
di kursi ruang tunggu purabaya
tanpa ada orang menggubris
Surabaya, 2000
aming aminoedhin
NYANYIAN KOTA
pengamen kecil dengan ukulele kecil
berdendang di atas bus kota dengan suara melengking
nyanyian suaranya bersaing dengan deru suara knalpot
lagunya mendendangkan negeri kian berantakan
terasa pekak di telinga penumpang yang sesak
yang didesak. sedang pencopet terus gerilya
di antara lengah penumpang. repot!
penumpang berteriak, “dompetku dicopet!”
dompetnya melayang entah ke tangan siapa? orang-orang
yang tahu tak mampu memberitahu pencopetnya. karena takut
jika teman-teman seprofesinya mengancam keamanan pribadi
atau mungkin malah kena pisau belati
yang kehilangan hanya bisa bengong
mungkin terbengong-bengong? karena uang yang dibawa
pencopet, baru saja diambil dari hasil pinjam koperasi
kantornya. sedang anak-anak di rumah menunggu uang itu
untuk membayar seragam sekolah dan keperluan makan
sehari-hari. ternyata pulang hanya bawa tangan kosong
hidup katanya, “ternyata hanya dari kata ompong
ke ompong yang lain.”
bus kota terus melaju. anak pengamen mengedarkan kantong
ajaibnya. meminta bunga-bunga sosial penumpang yang ada
yang lain, masih memainkan ukulele dengan suara serak
bersama suara kenalpot berderak. nyanyiannya melagukan
tentang keroncong carut-marutnya negeri tercinta
lalu aku duduk terkantuk di antara kursi bus kota
hanya bisa bertanya, “benarkah Indonesia
sedang dalam frame carut-marut
bagi masyarakatnya?”
Surabaya, 2000
aming aminoedhin
PLAZA-PLAZA ITU
plaza-plaza itu dibangun tinggi megah
orang-orang berduyun memasuki berjamaah
plaza-plaza tinggi itu kian megah
mungkin juga pongah. lantaran
masjid kian sedikit orang jamaah
sedang plaza banyak orang ikut berjamaah
kian hari semakin bertambah
dengan hitungan tumpah-ruah
barangkali makanan amerika, sandang
dan hiasan dari eropa, serta hiburan sesaat
(mungkin sesat) dari negeri-negeri jauh itulah
menyihir orang-orang patuh ikut berjamaah
atau mungkin mereka itu mengira
bahwa plaza itu telah jadi agama baru
padahal plaza menyimpan gemerlap
hanya dalam hitungan sekejap
menawarkan hiburan penuh gincu
memuat keindahan hanya semu
barangkali plaza telah menjanjikan surga
bagi para jamaahnya. atau mungkin mereka lupa
ditipu keindahan lampu-lampu plaza
Surabaya, 2000
aming aminoedhin
SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR
Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat
Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap
Ajari aku tidak angkuh
Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh
Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh
Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta
jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja
seperti orang-orang dewan di Jakarta
Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat
lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
membuat kata putus benar-benar manusiawi
menjalankan program dengan kendaraan nurani hati
Surabaya ajari aku. Ajari aku
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut
yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat
menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad
tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung
Surabaya memang boleh berdandan
bila malam lampu-lampu iklan warna-warni
siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi
senja meremang, mentarinya seindah pagi
di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita
Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya
sebab suara rakyat adalah suara Tuhan
kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar
dan suara rakyat adalah suara kebenaran
tak terbantahkan. Tak terbantahkan!
Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar!
Surabaya, 21 November 2005
aming aminoedhin
BENAR-BENAR MABUK MABUK BENAR-BENAR
Surabaya, benar-benar mengajariku mabuk
Mabuk tak hanya benar-benar mabuk mansion dan wisky
Tapi juga mabuk segala silau oleh gemerlap lampu bagai mata pisau
Meski aku tahu, penuh tipu penuh gincu
Aku juga mabuk tentang sebentuk kursi
Membiarkan orang-orang sekitar jadi frustasi
Surabayalah yang mengajariku mabuk lupa mabuk berdusta
Setiap langkah hanya kealpaan dan kedustaan
Besliweran di otak dan kepala
Dosa hanya seperti fatamorgana
Memakan dan memamah hak orang
Adalah kerja keseharian
Bahkan hak seorang kawan, apalagi lawan
Adalah sah bagi pemabuk jagoan
Bicara hati nurani aku tak sanggup lagi
Kebenaran adalah mansion
Keadilan adalah wisky
Rakyat biarkan mlarat kesrakat
Asal aku tetap sehat tetap kuat membabat
Benar-benar mabuk, mabuk benar-benar
Karena kata salah telah patah
kata benar telah tawar
kata hati telah mati
kata kursi telah jadi mimpi
Aku benar-benar mabuk, mabuk benar-benar
Surabaya, benar-benar mengajariku mabuk
Mabuk tak hanya benar-benar mabuk mansion dan wisky
bahkan mabuk mencari kebenaran dan keadilan
di rimba beton kota ini
aku tak kuasa menemukan hingga kini.
Surabaya, benar-benar mengajariku mabuk
Benar-benar mabuk, mabuk benar-benar
aku tak temukan kata benar hakiki
aku tak temukan kata adil yang pasti
Surabaya, 14/06/2006
aming aminoedhin
MEMBACA BULAN MERDEKA
* antara ngawi-surabaya
sepanjang perjalanan berlubang
jutaan bendera merah putih berkibar
barangkali indah di mata indah di hati
tanda ulang tahun negeri ini terayakan
oleh semua rakyat semua pejabat
tanda negeri ini merdeka, tapi entah kesekian kali
tak juga menemukan solusi kata merdeka
sepanjang perjalanan bulan merdeka ini
ratusan pejabat masih berlaku bar-bar
gembar-gembor bersuara menebar mimpi-mimpi kita
sementara rakyat hanya diajak bersabar
tanpa menemukan solusi ke arah negeri merdeka
benar-benar merdeka
kehormatan memang telah dibuang
keyakinan & iman telah lekang
upacara hanya sekedar upacara
hanya sebuah nama, tanpa memberi harga
apa lagi memberi sebentuk makna arti. merdeka
hanya baru dalam kata, tak menyentuh
makna arti hakiki, selebihnya janji-janji
sebentuk imaji
atau mungkin mimpi-mimpi
seringkali mimpi bisa jadi misteri
asa tinggal hampa, lantaran merdeka
tak kunjung tiba juntrungnya. sedang pejabat
hanya mengajak tamasya angan ke jauh awan
tak tersentuh genggam tangan
sepanjang perjalanan bulan merdeka ini
aku bertanya, hari merdeka telah tiba
adakah berjuta kibar bendera menyentuh matabatin kita
membuka mata membuka daun pintu merdeka
benar-benar merdeka?
membaca bulan merdeka
adakah masih perlu upacara
jika pejabat masih tetap bejat makan duit rakyat?
masih adakah?
Surabaya, 17/8/2006
aming aminoedhin
MEMBACA SURABAYA
membaca surabaya membaca negeri kaya raya tak terhitung angka-angka. harapan dan impian seperti hampa bagi pemula. tapi tidak bagi yang terbiasa mabuk dengan mulut berbusa. omongan tanpa rambu tanpa jeda, tak bisa dibedakan mana benar mana dusta. semua sama semua tanpa beda. benar adalah fatamorgana, dan fatamorgana adalah kebenaran nyata. siapa sangka?
membaca surabaya membaca negeri penuh para psk *yang menjaja di sepanjang jalan raya. rumah-rumah bordil, dari dolly hingga sepanjang rel. negeri indah menabur maksiat, tanpa merasa bejat. tanpa merasa tersesat. meski hidup kian melarat, hidup kian kesrakat.
membaca surabaya membaca negeri penuh iklan warna-warni. menawarkan lampu iklan di sudut-sudut jalan kota. menawarkan ketakbenaran dalam kemasan kebenaran. menawarkan racun yang hanya gincu. menawarkan indah yang hanya semu.
membaca surabaya membaca negeri menawarkan dzikir di taman-taman, tanpa pernah tahu kapan dzikir itu sampai kepada Tuhan. sebab segala dzikir yang diucap hanya sebatas bibir, tanpa muatan keyakinan. bukan syiar tapi malah lebih disebut unjuk gelar kekuatan. mungkin bisa bermuatan politik atau mungkin mencari massa mengarah satu titik? mungkin?
ah…. membaca surabaya seperti membaca warna-warna. ada merah menyala semerah saga, ada hijau muda dan tua, ada kuning sekuning bendera, dan bahkan ada biru sebiru rindu kita, menemukan kebenaran dan keadilan bagi semua
tak ketemu juntrungnya
membaca surabaya aku tak tahan meneruskannya. barangkali kau bisa membuat sederet lagi
kenyataan tak masuk akal
kenyataan-kenyataan tak bermoral
yang ada di kotamu, surabaya?
barangkali…?
Surabaya, 7-7-2006
* termuat di majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989
* termuat di koran Suara Merdeka Edisi Minggu – Semarang, April 1989
* termuat di majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989
* termuat di koran Surabaya Post Minggu, 28 Mei 1989
* termuat di koran Singgalang Edisi Minggu – Padang, 15 Oktober 1989
* termuat di koran Suara Indonesia – Malang, 28 Mei 1989
* termuat di koran Banjarmasin Post, 16 September 1989
* termuat di koran Banjarmasin Post, 16 September 1989
* termuat di koran Memorandum – Surabaya, 30 Juni 1996
*termuat di majalah Kebudayaan Basis – Yogya, September-Oktober 1997
* naskah pemenang lomba puisi iklan di koran kampus Undip, Semarang, 1989
* termuat di koran Surabaya Post, 3 Juni 1990
* penjaja seks komersial alias pelacur
aming aminoedhin
SURABAYA I*
pasar kini telah berubah di sini
pasar adalah lampu-lampu iklan
di mana dagangan ditawarkan
lewat lampu-lampu iklan
yang gemerlap tinggi mencuat
aku hanya bisa nelangsa menatap
orang-orang dimuntahkan oleh bis-kota
dan plaza-plaza bertingkat, dan
di kemudian hari ditelan kembali
dengan jumlah dan hitungan kian sarat
plaza-plaza bertingkat
kian semakin padat pengunjung
rumah-rumah ibadat
semakin kehilangan juntrung
oleh penghujung
lupakah mereka?
Itulah soalnya aku bertanya
Surabaya, 1986
aming aminoedhin
SURABAYA II*
apa yang harus kutulis tentang surabaya
kecuali panas cuaca dan gerah suasana
pada setiap harinya, ketika
musim kemarau tiba
hari-hari melintas cemas
hidup kian semakin bergegas
ruang kehidupan kian pula terbatas
pada sudut-sudut kota
semakin pula sulit membedakan
antara waria dan kupu-kupu malam
antara tante girang dan lelaki
hidung belang
surabaya surabaya
orang semakin gampang
berkata mengulurkan tangan
demi mendapat pekerjaan
dengan sekedar uang imbalan
surabaya surabaya
menjadi kabur batas bantuan
dan niat kepalsuan
lampu-lampu iklan
kian semakin gemerlapan
saling berebut ketinggian
saling berebut pasaran
surabaya surabaya
jalan-jalan semakin hijau
asap beribu mobil semakin kacau
surabaya musim kemarau
hanya debu ketergesaan semakin galau
segalanya berlalu tanpa batas
siapa menunggu kelak tergilas
lampu-lampu iklan
kian semakin gemerlapan
saling berebut ketinggian
saling berebut pasaran
surabaya musim kemarau
aku menatapnya semakin risau
Surabaya 1986
aming aminoedhin
LARUT MALAM SURABAYA*
mobil-mobil yang lintas jalan layang
seakan terbang tanpa sayap
lampu-lampu jalan layang
berjejer diam menyimpan penyap
bunga-bunga taman mayangkara
tidaklah terhitung lengkap
rumput-rumputnya hijau meluas
tanpa ada tersisa sampah-sampah membekas
dan pohonan hias menyejuk mata
di antaranya terselip cahaya
lampu-lampu merkuri menebar asri
lampu-lampu kota warna-warni
lampu-lampu mobil tak mau mati
kota tiada mau diam, meski jam
telah sampai larut malam
kota ini adalah buaya, yang
menelan segala perangkat teknologi
teknologi abad ini, tanpa
terseleksi (diseleksi?)
1989
aming aminoedhin
TAMAN SURYA BULAN PAHLAWAN*
malam ini tidak seperti biasanya
taman surya hanya sepi saja, anak-anak
dan orangtua mereka tak nampak
bermain di antara bunga-bunga
di dekat pintu pagar utama
ada terpancang baliho besar
memuat kobar semangat pahlawan
bagi siapa melihatnya
di luar pagar ada berjajar
sepuluh sang saka jumlahnya
berkibar karena angin menerpa
di antara bunga-bunga taman
kain rumbai berjuntai warna-warni
diterpa angin menderai
taman surya kian asri malam ini
penjual-penjual balon mainan anak
tidak juga kulihat di sana
spanduk slogan kepahlawanan
terpampang di atas baliho
dan di antara pepohonan hijau
meneriakkan pesan-pesan
pahlawan
lampu-lampu hias
di sekitar patung sudirman
menambah pantas tata-rias
di gelap malam kota pahlawan
pasukan kuning masih tampak setia
mengayun sapu lidinya malam ini
menyiapkan keindahan rasa setiap mata
sebelum parak pagi menjemput tiba
esok hari, adalah hari pahlawan
kita peringati bersama
kita adakan upacara bendera
melepas ikhlas doa
teruntuk sang pahlawan bangsa
taman surya malam hari pahlawan
semakin cantik berdandan
malam sepi di taman surya
semakin mengusik hatiku berkata
“pahlawan bangsa
tidak hanya mengangkat senjata
pasukan kuning dan sapu lidinya
guru dan rasa ikhlasnya, termasuk
di antara mereka.”
Surabaya, 9/11/1988
aming aminoedhin
TERMINAL LARUT MALAM*
malam selarut ini, pernah
kita terperangah harus ke mana arah
diputuskan?
sebab kita nyaris alpa
jika garis kencan malam telah habis
(mungkin kita alpa atau barangkali
kita melupakan garis tepi?)
kembali ke alamat semula
atau harus pulang
ke rumah pondokan?
(sulit menentukan batas pasti)
padahal kita tahu jika
pintu rumah keduanya
telah pasti tertutup rapi
pada malam selarut ini
lalu hanya bisa termangu-mangu
menghitung jam menunggu pagi
malam selarut ini
ke mana langkah kaki kita
diarahkan lagi?
malam selarut ini
kini aku sendiri di sini
sambil mengingat peristiwa lama
yang dulu merupakan dilema
malam selarut ini
hanya sisa kenangan tertinggal
lantas ada terminal dalam hati
kian terasa sepi
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
GENTENGKALI SIANGHARI*
hari telah siang. ada rimis hujan jatuh sebentar
telah habis oleh mentari yang kembali membakar
ada perasaan riang. setelah sua dalam kabar
dengan perempuan berkacamata yang berbinar
cerita-cerita lama kembali digelar
seperti air yang mengalir terasa segar
cerita-cerita memilih artinya sendiri
pada kenangan yang masih sempat terpatri
ternyata pintu hati masih terbuka
untuk misteri bernama cinta
meski tertangkap samar, namun masih
terasa ada bergetar
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
PATUNG SUDIRMAN I*
pada hari pahlawan ini
kau semakin tampak tegap berdiri
pedang di pinggang
menatap panasnya siang
aku hanya bisa melepas doa
bagimu, sang pahlawan
doa seorang penyair
sepanjang dzikir
Surabaya, 1988
aming aminoedhin
PATUNG SUDIRMAN II*
aku menatapmu lama-lama
pada hari pahlawan tiba
mengamati sosok patung pahlawan
negeri ini, dengan
membaca pesan-pesan tertulisi
di bawah patungmu sepi
aku menatapmu lama-lama
pada hari pahlawan tiba, lalu
ada suara hati melepas doa
terucap tanpa suara
mengamati patungmu berdiri
mengaca pada cermin sendiri
ternyata, kita semua
belum berbuat apa-apa
untuk negeri tercinta
Surabaya, 1988
aming aminoedhin
EMBONG MALANG*
menelusuri jalan embong malang sianghari
terasa jalanan mengambang kebak polusi
kendaraan mengalir satu arah
keringatku mencair begitu gerah
memandang selatan jalan embong malang
terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang
engkaukah yang telah mengubah
wajah kota begitu gagah
atau mungkin menyulap kota tampak begitu gagah
sementara di beberapa tempat
banyak orang mengumpat
soal pendapatan upah buruh taklagi diterima utuh
soal rumah leluhur menyimpan arsitektur lama
dengan pongah digusur-gusur, kota lama
seperti telah dikubur
embong malang jalan satu arah
tak memberi satu arah, bagi
arti kehidupan tanpa jurang pemisah
antara yang mewah dan lainnya berdarah
atau mungkin bernanah?
Surabaya, 1996
aming aminoedhin
DI KOTA*
di kota
pabrik itulah yang mengubah udara
jadi bertuba
di kota
manusia itulah yang mengubah anak
jadi robot tanpa jiwa
di kota
manusia itulah yang mengubah cinta
jadi uang yang segalanya
di kota
akulah orang yang terpuruk
kehilangan suara
Surabaya, 7 Januari 1996
aming aminoedhin
SIMPANG LIMA BLAURAN
di simpang lima Blauran waktu malam
hanya kulihat lampu-lampu iklan gemerlap
beribu orang lalu-lalang, dan beribu
lampu-lampu mobil dengan cahaya bersilangan
di trotoar jalan Blauran penuh pedagang
pedagang kakilima mengadu peruntungan
di bawah angin di bawah hujan di bawah malam
dari penjual koran, kupon undian sampai celana dalam
lampu iklan warna-warni, dengan
cahaya kelap-kelip sepanjang malam
berebut menarik sejuta mata pembeli
agar mereka jatuh hati
di simpang lima Blauran waktu malam
aku hanya bisa menatap lampu iklan gemerlap
tanpa menaruh hati. tanpa punya niat
untuk terjerat membeli
Surabaya, 1986
aming aminoedhin
TAMAN SURYA BULAN PAHLAWAN
malam ini tidak seperti biasanya
taman surya hanya sepi saja, anak-anak
dan orangtua mereka tak nampak
bermain di antara bunga-bunga
di dekat pintu pagar utama
ada terpancang baliho besar
memuat kobar semangat pahlawan
bagi siapa melihatnya
di luar pagar ada berjajar
sepuluh sang saka jumlahnya
berkibar karena angin menerpa
di antara bunga-bunga taman
kain rumbai berjuntai warna-warni
diterpa angin menderai
taman surya kian asri malam ini
penjual-penjual balon mainan anak
tidak juga kulihat di sana
spanduk slogan kepahlawanan
terpampang di atas baliho
dan di antara pepohonan hijau
meneriakkan pesan-pesan
pahlawan
lampu-lampu hias
di sekitar patung sudirman
menambah pantas tata-rias
di gelap malam kota pahlawan
pasukan kuning masih tampak setia
mengayun sapu lidinya malam ini
menyiapkan keindahan rasa setiap mata
sebelum parak pagi menjemput tiba
esok hari, adalah hari pahlawan
kita peringati bersama
kita adakan upacara bendera
melepas ikhlas doa
teruntuk sang pahlawan bangsa
taman surya malam hari pahlawan
semakin cantik berdandan
malam sepi di taman surya
semakin mengusik hatiku berkata
“pahlawan bangsa
tidak hanya mengangkat senjata
pasukan kuning dan sapu lidinya
guru dan rasa ikhlasnya, termasuk
di antara mereka.”
Surabaya, 9/11/1988
aming aminoedhin
SURABAYA, CINTAKU KIAN BERJUTA
surabaya
adalah kota yang tak pernah ada
dalam impian benakku sejak mula
masa kecilku di desa
surabaya bagiku ketika itu
adalah kota maha dahsyat
penuh maksiat, tetapi sekaligus kota
santri di kampung arab
bermula ketakutanku datang
di kotamu, hanya rasa bimbang
dan seribu ambigu tentang kedahsyatan
maksiat yang sarat atas kotamu
adakah bisa bertahan jiwa iman
dalam diriku, jika aku harus
mengais hidup di kotamu
tapi surabaya
adalah kota yang kemudian
menjadi pantai, di mana aku
terdampar menggapai-gapai
bermula hidup di surabaya
terasa hari-hari penuh fatamorgana
tertatih berjalan melewati
kerikil tajam kehidupan
meraba-raba seperti tanpa mata
mencari sisa rasa cintanya, yang berjatuhan
entah di mana?
surabaya
setelah serpih demi serpih cintamu
tergenggam tanganku, ada benih
beribu rasa cintaku mengembang
surabaya
kini cintaku kepadamu kian tumbuh
kotamu jika siang semakin teduh
kian mempesona lantaran adipura
semakin asri jika datang malam hari
sebab lampu-lampu iklan
yang selalu gemerlapan
surabaya
lampu-lampu iklanmu
adalah sebagai kekayaan kota
tapi sekaligus racun bagi
wargamu, dan merupakan gincu
keindahan yang hanya semu
surabaya
cintaku kian berjuta jumlahnya
tapi berjuta pula rasa inginku
meninggalkan kotamu
mengapa bisa begitu
aku tiada pernah tahu?
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
ENTAH BISA DEMIKIAN JADINYA
* pro. hm
di surabaya ini, aku tak kuasa lagi bicara
soal politik, apalagi bicara sosial berbau kritik
sedang bicara moral, seperti telah
kehilangan akal
entah bisa demikian jadinya?
padahal dulu, ketika masih kuliah bersamamu
kita punya ambisi jadi politisi atau kritisi
bahkan jika mungkin jadi kyai
tapi semua, ternyata hanya mimpi belaka
entah bisa demikian jadinya?
kota ini telah demikian padat iklan
kebanyakan orang tanpa sadar kehilangan iman
aku terjerat dan bahkan tersudutkan
(barangkali benar arti kata politik
yang dulu kita analisa sebagai barbar
mencapai tujuan halalkan cara apa saja)
sebab di sini banyak orang berdagang dan bekerja
menggunakan politik sebagai pisaunya
sedang kritik yang terlontar dan diteriakkan
hanya menggelitik tawar tak lagi mempan
kerja sosial berbau amal dan moral, hanya
sebatas tercatat di koran harian atau berita
televisi yang tampaknya manusiawi
bicara religi, kota hanya suara nyanyian tawar
yang kudengar. sedang orang ngaji
tak pernah terdengar lagi
di surabaya ini, hampir-hampir aku tak lagi
bisa menulis tentang puisi. mungkin karena
polusi atau karena sirnanya semua ambisi
dan jika kembali kau sempat sua
aku tak lagi bicara seperti dulu
demikian berambisi dan menggebu
entah bisa demikian jadinya?
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
TANJUNG PERAK MALAM KESEKIAN
bemo itulah yang mengantarku
ke tanjung perak malam kesekian
lantaran mataku tak mau pejam
hingga larut malam begini sunyi
harus sendirian pergi
sepanjang perjalanan kutempuh
telah lengang dari orang, sedang suara-suara riuh
yang sesekali terdengar, adalah truk-truk
trailer dengan muatan sarat terbatuk-batuk
tanjung perak malam kesekian
kutempuh karena mata tak mau pejam
kapal-kapal bersandar di dermaga tegar
lampu-lampunya terang bersinar
kuli-kuli pelabuhan masih setia
menurunnkan muatan di malam buta
begitu pula pemancing muda usia
setia mengganti umpan pada kailnya
sesuap nasi, ternyata ada yang harus
melawan kantuknya malam
melawan bisunya kelam
sekeping hati, ternyata ada yang pupus
melawan suntuknya mata terpejam
melawan rindunya terpendam
karena di tanjung perak
tak kutemukan lagi jejak
ke mana perginya sosokmu
hingga berminggu-minggu
tanjung perak malam kesekian kali
hanya aku yang termangu-mangu
sedang rinduku disembunyikan
kapal-kapal itu, yang bergoyangan
dihempas laut tetap tegak membisu
Surabaya, 1990
aming aminoedhin
SURABAYA MUSIM KEMARAU
surabaya kini lagi musim angin
malam begitu dingin. karena sahabat setia
kemarau panjang ini adalah debu
yang diterbangkan angin polusi selalu
dengan cuaca begitu panas sekali
di siang hari
ke mana perginya awan dan hujan
aku tiada pernah mengerti?
daun-daun pepohonan sepanjang jalan kota
telah berapa lama jatuh
dahan dan ratingnya kering. matahari
dengan leluasa membakar bumi. sangar sekali
air kalimas susut. berwarna keruh
hitam dan menakutkan
ini musim kemarau panjang. tapi limbah industri
terus mengapungkan busa. putih-putih
di atas sepanjang alur kalimas berbuih
kalimas merintih!
akulah saksi itu., surabaya musim kemarau
segalanya seperti risau. bahkan suara-suara
mobil berlarian terdengar parau. kacau!
kota telah dibakar laju peradaban dunia
barangkali mengejar mimpi teknologi
bahkan mungkin ambisi demi ambisi
tanpa batas tepi. tanpa ada teraih di tangan
seorang pemimpi. ilusi!
surabaya musim kemarau
hijau daun pepohonan berganti warna
asap cerobong pabrik terus mengobrak-abrik
udara kota. sesak terasa di dada
sandiwara peradaban kota terus berlangsung
tanpa ujung tanpa juntrung
lantas ke mana rasa bimbang ini
harus ditimbang?
kepada dewan walikota. atau pada
pak walikota? kepada angin, atau pada
musim dingin?
surabaya musim kemarau
teriakanku semakin parau
hati pun kian semakin risau
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
THR SURABAYA MALL
lalu lampu-lampu itu pun padam
keindahan taman tinggal kelam
tinggal sepi (mungkin) sunyi
menyekap diri
tak ada lagi gemontang musik rock
di pangung terbuka. tak ada lagi
gelak tawa penonton srimulat
dan tepuk riuh
penonton wayang orang bergemuruh
tak ada lagi! tak ada lagi!
hanya lagu disko. ada juga dangdut
dari la-surya kian membalut
malam larut. kian membuat hanyut
dalam goyang berlarut-larut
bagi mereka yang tersudut
sedang ludruk tinggal cerita
dari mulut ke mulut
tak pernah runtut. selebihnya
ada di televisi tanpa rohnya lagi
barangkali hambar (mungkin) tawar
di telingamu kini
lalu lampu-lampu itu pun padam
keindahan taman tinggal kelam
tinggal sepi (mungkin) sunyi
sedang mengingat ludruk kembali
terasa kehilangan diri
Surabaya, 1991
*) la-surya, rumah disko atau diskotik
aming aminoedhin
SEKALI LAGI SURABAYA
· teruntuk annie di cimahi
surabaya telah mengajarku membaca
tentang lupa, dusta dan segala dosa
yang ditawarkan setiap hari-harinya
surabaya telah mengajariku berkata
untuk tidak gampang lupa gampang berdusta
tidak pula gampang menghimpun dosa
tanpa memperhitungkan angka
surabaya telah mengajariku membuka hati
seluas padang sabana menghijau warna
surabaya telah mengajariku membuka pikir
sebening telaga sejernih air segarnya
tanpa rasa pongah apa lagi kikir dalam berpikir
lantas pintar berdusta dan lupa segala
tidak! sekali lagi tidak!
surabaya telah mengajarkan ketegaran demi ketegaran
dari seribu sandungan demi sandungan
tanpa terhitungkan. dengan beribu batu sandung uji
aku tetap berdiri tegak bersitahan. sendiri!
surabaya! sekali lagi surabaya!
telah mengajarku bicara apa adanya
meski kau tahu pasti
bahwa surabaya begitu gemerlap
penuh gincu keindahan yang hanya sekejap
surabaya penuh rumah mewah nan megah
tanpa satu pun aku memiliki tiada pernah
penuh mobil-mobil bergengsi dan beribu taksi
tapi aku tak punya. hanya naik bemo lebih nikmat terasa
surabaya! sekali lagi surabaya!
sejuta keangkuhan ditebar di jalanan
sejuta maksiat disembunyikan lampu gemerlap
surabaya! sekali lagi surabaya!
berjuta orang meneguhkan iman di bulan ramadhan
berjuta orang berbuat demi hidup yang sehat
surabaya! sekali lagi surabaya!
kebersihan kotanya mendapatkan adipura
adalah kebersihan warga bersama walikota
menata metropolitan kedua ini jadi mempesona
surabaya! sekali lagi surabaya!
hanya berbekal segerobak cinta
mengekalkan kesetiaan imanku tegak adanya
surabaya! sekali lagi surabaya!
mengajariku lebih banyak membaca tanda-tanda
mengajariku tahu hidup lebih sederhana
apa adanya. tanpa muatan prasangka-prasangka
seperti pahlawan bangsa
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
MEMANG BENARLAH MALANG
malanglah kau jika dalam langkahmu sekarang
di mana kota telah mengajarmu pintar berdusta
lebih lagi bila gincu dan gemerlapnya barang-barang
sebagai topeng sembunyikan segala
padahal bagiku, kota
adalah referensi bagi teguhnya hati
tetap tegak berdiri. tanpa goyah
meski batu-batu uji
telah saling-silang berganti
seperti tanpa henti
memang benarlah malang
apabila kota menjanjikan kata bimbang
lewat persimpangan-persimpangan
tampak begitu gemerlap, dan
kau memilih gemerlap yang hanya sekejap
barangkali kota pula
yang telah menggergaji ingatan janji
menepiskan impian mudah sekali pergi
tanpa timbangan hati nurani
memang benarlah malang
bagi orang yang lupa diri
tanpa kendali
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
BERJAMAAH DI PLAZA
kata seorang kyai, belajar ngaji
adalah amalan yang patut dipuji
dan sholat berjamaah
dapat pahala berkah
berlipat-lipat jumlah
tapi kenapa banyak orang
belajar nyanyi, belajar tari
dan baca puisi?
tapi kenapa banyak orang berjamaah
hanya di plaza-plaza
hamburkan uang berjuta-juta?
adakah ini dapat dipuji, dan
adakah plaza menyimpan pahala
berlipat ganda?
ah… barangkali saja, plaza-plaza
telah jadi berhala baru
yang dipoles gincu
begitu indah
dan banyak orang ikut berjamaah
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
KEPADAMU SURABAYA AKU BERTANYA
· kalung ulang tahun Surabaya 701
kepadamu surabaya aku bertanya
ke mana arah singgah
bermilyar rupiah itu
bermuara setiap hari?
ke mana aku harus mencari
jejaknya yang tiada tampak
oleh silaunya lampu iklan gemerlap
oleh gebalaunya mesin pabrik
oleh saling-silangnya mobil mewah
di jalan raya, mengusung
polusi udara di atas kota
langit jadi mendung
tapi hujan tak juga turun
ke mana aku harus mencari
jejaknya yang tiada juga tampak
oleh gelapnya jalan keadilan
oleh gelapnya jalan kebenaran
sedang tatap mataku pada lampu iklan
telah begitu asing
sementara kupingku bising oleh suara mesin
mataku kabur oleh polusi udara menghablur
mataku kabur oleh jalan kebenaran
yang hanya menghibur
barangkali hanya kepadamu surabaya
aku terus menterorkan tanya
ke mana kausembunyikan pembunuh
Marsinah, sedang para buruh
terus kau peras untuk menekan
rasa lelah dan menekan bayaran upah
di mana ada pintu sanubari terbuka
semua terkunci bagi penggagas hati nurani
semua terkunci bagi penggagas seni murni
dan terkunci pula pikiran waras
yang kini dikebiri
kepadamu surabaya aku bertanya
benarkah beribu pasang lampu iklan
di sepanjang jalan, hanya sebagai
gincu keindahan kota berdandan
dan kelap-kelipnya iklan
seakan cibiran bagi slogan
“mengentas kemiskinan”
yang banyak didengungkan birokrat
hampir tiap saat
tidakkah kita bersama-sama
“mementaskan kemiskinan”
dan kemudian bersama-sama pula
mata kita terjaga atau mungkin geleng kepala
bahwa kemiskinan ternyata masih
terlalu banyak dari hitungan sebenarnya
kepadamu surabaya aku bertanya
ke mana arah singgah pertanyaanku
akan terjawab oleh keindahan kotamu
mungkinkah gedung-gedung menjulang
telah sembunyikan jawaban
atau kelap-kelip lampu iklan
yang telah membungkus kebusukan beribu
dengan gincu keindahan yang hanya semu
kepadamu surabaya aku bertanya
sekali lagi kepadamu
surabaya kotaku
Surabaya, 1994
aming aminoedhin
MEMANDANG SURABAYA KINI
memandang surabaya kini
kau pasti tak percaya lagi
kota bagai mimpi
kalimas begitu indah bersih
tak terdengar lagi suaranya sedih
yang dulu terdengar bagai merintih
rintih begitu perih
bila malam melangkah
kalimas kini begitu indah
lampu-lampu taman kota
berkelipan di cermin
alirnya air kalimas nan jernih
senja hari tiba
taman kota pinggir kalimas
menjanjikan arena bermain
tanpa bayar bagi anak-anak kota
hingga puas
memandang surabaya kini
seperti masuk kota mimpi
segala disulap begitu gemerlap
lampu-lampu iklan di jalanan
tanpa henti berkejap semalaman
perempuan bagai peri berjajar
di jalanan, menebar birahi
bagi lelaki kesepian
memandang surabaya kini
kau tak percaya lagi
taman-taman kota tertata rapi
pohon-pohon pelindung jalan
meneduhi, sedang di sisi lain
unjuk rasa berbagai soal
terus didengungkan jalin-menjalin
ah… barangkali saja
surabaya kini potretnya pabrik
unjuk rasa yang telah jadi tradisi
dan ini adalah menarik
bagi peneliti
Surabaya, 1996
aming aminoedhin
EMBONG MALANG
menapaki trotoar jalan embong malang
terasa jalanan mengambang kebak polusi
kendaran mengalir satu arah
keringatku mencair begitu gerah
memandang selatan jalan embong malang
terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang
engkaukah yang telah mengubah
wajah kota begitu indah
atau mungkin menyulap kota
tampak begitu gagah?
sementara di beberapa tempat
banyak orang mengumpat
soal pendapatan upah buruh
tak lagi diterima utuh
soal rumah leluhur menyimpan arsitektur lama
dengan pongah digusur-gusur, kota lama
seperti telah dikubur
embong malang jalan satu arah
tak memberi satu arah, bagi
arti kehidupan tanpa
jurang pemisah, antara yang mewah
dan lainnya berdarah, atau
mungkin bernanah
Surabaya, 1996
aming aminoedhin
MENYUSURI JALAN KOTA SURABAYA
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
tak kutemukan sejumput kata
untuk direkrut dalam bangunan sajak
di hiruk-pikuk kota menggelegak
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
dibangun kantor-kantor bank berjejer
padahal jaman tergelontor krisis moneter
kantor-kantor bank kian megah bertengger
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
mata kita dipaksa membaca iklan gagah terpampang
dari kelap-kelip lampu waktu malam
gambar gadis ayu jualan sabun di siang terang
sampai iklan-iklan kecil jamu racikan
les privat, badut ulang tahun, dan tukang talang
terpajang di pohon-pohon perindang jalan
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
mobil berdesakan sering terjadi kemacetan
jalan-jalan kota kian kebak polusi
hari-hari polusi serasa tiada henti
sedang polisi yang jaga sejak pagi
hanya mencari kesalahan
dan bukan membenarkan salah pengendara
rambu-rambu berfungsi semu. mungkin hanya gincu
untuk menjebak pengendara tak tahu
terpaksa keluarkan uang saku
menyusuri jalan-jalan kota surabaya
tak kutemukan sejumput kata
untuk direkrut dalam bangunan sajak
agar hidup tak terasa sesak tak terasa berdesak
Surabaya, 1999/2000
aming aminoedhin
JEMBATAN MERAH I
di terminal jembatan merah hati gelisah
menanti janji kemarin diucapkan
tentang kencan seorang kawan
cuaca kota semakin gerah
di antara asap kepul kendaraan
yang berebut penumpang, telah
melaju menjangkah tujuan
jam semakin cepat merambat
senja semakin memburu kita
perasaan semakin memberat
dalam lingkar keinginan sua
matahari terlena senja pun tiba
keberangkatan tanpa bertemu
menekan sejuta rasa jemu
dalam menunggu
1985
aming aminoedhin
JEMBATAN MERAH II
menepati janji sendiri
terkadang bagai bumerang
bagi diri sendiri
dari siang hingga senja merembang
teman kunanti tak juga datang
membuat hati semakin bimbang
jembatan merah
merahnya semakin merah
dalam tatap mata mengharap
kawan sekerja terdekat
belum juga terlihat
adakah pasti diperpanjang lagi
saat menanti seperti ini
sedang rasa jenuh telah luruh
pada hati menyeluruh
adakah?
1985
aming aminoedhin
JEMBATAN MERAH III
penantianmu sia-sia saja
sebab kencan yang telah diucapkan
hanya lahir dari bibir belaka
penantianmu tanpa makna
hingga jenuh dalam menunggu
takkan sampai arah sua
asap mobil, suara calo, dan tukang becak
tukang parkir, sopir bemo, dan pedagang sawo
takkan bisa menjawabnya
jembatan merah dan gedung megah
jalan raya dan terminal
takkan bisa ditanya
deru bus mangkal di terminal
memburu hatimu bertambah kesal
1985
aming aminoedhin
RAYA DARMO
demikian panjang jalan raya
dan padat kendaraan berlarian
demikian teduhnya raya darmo
terbelah pepohonan nan hijau
seperti panjangnya rinduku
memuat hasrat berpacu
seperti luruhnya hati risau
bila telah kembali bertemu dikau
(ada hasrat tetap melesat
tapi pintu sua kembali
tak berujung pasti)
jalanan semakin panjang
kaki menempuhnya bimbang
lalu ada wajah keruh
hanya berupa bayang
semakin mengambang
Surabaya, 1988
aming aminoedhin
JOYOBOYO DINIHARI
kelelahanmu telah mengantarkan
matamu terpejam sejenak
dari perjalanan malam
tanpa kepastian jarak
bersandar pada kursi ruang tunggu
menanti pagi menjemput kembali
menuju kota semalam kautinggalkan
ternyata kata cinta
mengalahkan segala
memang benar adanya
kerja seharian melelahkan
jadi sirna oleh satu kata cinta
memasuki terminal joyoboyo dinihari
suatu kali, mengingatkan kau kembali
tertidur memelas bersandar kursi
mamasuki terminal joyoboyo dinihari
hanya ilusi mengejar membuntuti
sedang kau tak ada lagi di sini
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
BILA TERASA SESAK DI KOTA*
Bila kau telah merasa sesak di tengah kota
bernafas tak bisa lega
bekerja tak bisa prima
beranak-pinak merasa tersiksa
maka tak pelak lagi, kau harus bergerak
tinggalkan kota, dan kau harus
tinggal di kampungku kini
Kampung yang pepohonannya rimbun
burung-burung masih berkicau merdu
udaranya tak bermuatan asap polusi
dan rumah-rumahnya tertata rapi
Tak perlu khawatir, kampungku
telah punya air melalui pipa-pipa
yang setiap hari mengalir
demikian pula listrik sumber cahaya
malam hari, telah menyala apik
jika malam tiba
Dari perkotaan, kampungku tak begitu jauh
hanya beberapa menit dapat ditempuh
Sekali lagi, bila kau merasa sesak di tengah kota
kini tinggalah di kampungku yang menjanjikan
hidup ini lebih punya makna arti
Surabaya, 3/10/1989
aming aminoedhin
SENJA DI STASIUN KOTA
ketika senja telah merapat
kereta itu pun berangkat
ke mana perginya sepi
dibawa peluit kereta barangkali?
stasiun kini tinggal bangku peron
kosong melompong seperti pentas ludruk
yang kini surut ditinggal penonton
mentari tinggal warna merahnya
melukis langit di ujung senja
sepi kian kental adanya
menggaris dan menggigit rasa
Surabaya, 1989
aming aminoedhin
DI ATAS BEMO TENGAH KOTA
Aku tersudut di pojok tempat duduk bemo, mengantarku
ke tempat kerja, menembus hutan beton, dan rimbanya mobil-mobil
yang berebutan jalan di siang yang panas. Peluh yang berjatuhan
dari tubuhku, seperti hujan yang jatuh. Kota demikian gerah
oleh matahari yang membakar gagah.
Di atas bemo itu, seorang Ibu muda bercerita tentang
anaknya yang tidak diterima sekolahan negeri, dan
terpaksa ke sekolah swasta. Kepada temannya yang juga
tampak masih muda usia, dia mengeluh, betapa mahalnya
buku dan bangku yang harus dibayar ketika itu.
Sementara itu dua perawan yang tampaknya mahasiswa, dialog
tentang masalah sosial budaya kini tak lagi diacuhkannya.
Mereka bicara soal betapa gagahnya plaza yang satu, dengan
lainnya. Sedangkan bicara kritik apa lagi politik, telah sirna
dari mulutnya. Kering bagai pergigi di musim kemarau panjang
sekali. Tapi jangan tanya soal lipstik dan diskotik, dia lebih tahu
dari disiplin ilmu yang kini ditekuninya.
Seorang lelaki setengah baya, bertanya kepada seorang Ibu tua
yang baru pulang dari pasar menjual dagangannya. Pertanyaan
tentang rugi-laba yang dibawa pulang, setelah kerja semalaman.
Dan ternyata jawaban yang terlontar, di luar dugaan yang saya
kira. Di luar dugaan kita. Dan kau pasti tak percaya!
Lantas aku hanya bisa mengelus dada. Ternyata hidup tidak
selamanya diharapkan semula. Memburu untung malah buntung.
Merasa rugi, ternyata malah ketiban rejeki.
Bemo terus berlari, asapnya menambah polusi
setiap pembicaraan yang kutangkap hari ini
Penumpang selebihnya, adalah pegawai negeri yang bicara soal
kantornya yang kini kena wajib apel siang dan pagi. Dan
kebingungan, lantaran harus ngantar anaknya sekolah pagi-pagi.
Ada juga penumpang yang tampaknya wanita pramuniaga sebuah
toko di plaza --- diam, dengan dandanan seronok --- membuat
mata lelaki siapa tak melorok?
Bemo terus berlari, di antara mobil-mobil begengsi
Seperti larinya pikiranku dan hati, yang menyimpan rasa iri
Di Jalan Gentengkali aku turun. Sedang celoteh dua Ibu muda,
dua perawan mahasiswa, lelaki setengah baya, Ibu tua, dan
semua penumpang bemo di atasnya --- aku tak tahu lagi
kelanjutannya --- ke mana dan tentang apa?
Surabaya, 1990
aming aminoedhin
KOTA KETIGA*
* surabaya
kota ketiga ternyata hanya
menakar hidup dengan angka-angka
setiap detak langkah manusia
dihitung dengan angka
dari angka ke angka
surabaya ditakar harganya
sejengkal tanah jutaan harganya
di atas gedung bertingkat adalah angka iklan
berjuta pula harga ditawarkan
jalan-jalan raya tengah kota
dihitung pula dengan angka
karena bemo dan bus kota
taksi dan angguna
saling berebut angka-angka
belum lagi soal mulut bicara
di gedung-gedung bertingkat digelar
dari soal janda, busana, senam, dan bahkan
seks jadi bahan seminar. semua itu
dibayar dengan angka-angka
kota ketiga bernama surabaya
mataku risih menatapnya. lalu
adakah rasa samar dalam kalbu
bersih sirna pada perahu hidupku
di hari esok melaju
Surabaya, 1990
aming aminoedhin
TAMAN KOTA
* taman surya
di taman kota
aku memandang keindahan sempurna
bunga-bunga rapih tertata
jalan-jalan kecilnya bersih di mata
sedang bangku-bangku diam membisu
air mancur di tengah taman kota itu
gemericik tak mau diam
tiang-tiang bendera berjajar
dengan benderanya berkibar-kibar
di depan halaman taman kota
lampu-lampu taman kota bersinar
cahayanya terang berbinar
di taman kota
aku terbayang wajah kumuh kota
di pinggir-pinggir kalimas
begitu jelas membekas
rumah-rumah plastik
berderet jemuran baju cabik-cabik
ada juga celana dalam dan beha lusuh warna
sedang penghuninya orang-orang tersisih
mengais sisa rejeki kota bisa teraih
sepanjang hari tertatih-tatih
tanpa sedikitpun merintih
di taman kota
aku membaca diri tanpa tahu diri
tentang sebuah arti rasa iri
tak perlu di perpanjang lagi
karena etos kerja tanpa henti
adalah kunci
karena rasa iri hanya menggergaji
diri sendiri
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
PLEMAHAN LAMPU MATI
ketika sunyi menyapaku kembali
lantas apa yang harus kutulis
dalam baris puisi
malam pekat di sini. hanya melati
aromanya tegak berdiri. mewangi
menyapa diri
ada juga lompatan hati
terasa ada yang telah pergi
datang kembali
barangkali nama perempuan
atau mungkin bernama kesunyian?
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
SEPANJANG JALAN KREMBANGAN
* listya uran
melangkahkan kaki di larut malam begini
terasa segalanya jadi sunyi
karena ada ketidakpastian
di hati berkejaran
(hanya suara sepatuku kian teratur
memberi isyarat tetapnya hati menghibur
melangkah berani. melangkah pasti)
sepanjang jalan krembangan
masih menyimpan suara bimbang
suara-suara siapakah?
Surabaya, 1991
aming aminoedhin
RAYA DARMO SUATU SIANG
orang-orang berarakan sepanjang raya darmo
berkostum merah menyala dengan merah bendera di tangan
sambil meneriakkan yel-yel kemenangan, berbareng
suara motor-motor mereka yang memekakkan telinga
tanpa hiraukan panas cuaca, tanpa hiraukan serak tenggorokan
tanpa pula menghitung siapa punya jalan?
mereka itu adalah barisan anak-anak muda
berhati berani semerah kostum mereka
mengacungkan tiga jari tinggi-tinggi
meraih massa diajak bermimpi
orang-orang berarakan sepanjang raya darmo
mempolusikan udara kota tanpa hirau
ini sebuah pesta demokrasi
mengapa kau tak ikut meraih mimpi-mimpi?
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
SAL RS DARMO
* perawat tercinta
suara igauan atau erangankah itu
yang menggetarkanku di malam
telah lengang seperti ini?
sementara aku tergeletak lemah di ranjang
terbaring sakit menahan segala erang
yang menjepit seluruh tubuh
hingga parak subuh
barangkali malaikat telah turun
menjengukmu kawan, atau
mencari data sesiapa yang bakal
diajaknya pergi ke surga
di esok lusa?
di ruangan sal rumah sakit Darmo
aku hanya bisa berdoa, sambil
terbaring menghitung tetes air infus
yang mengunciku di ranjang
tak bisa beranjak, apa lagi pulang
ah… kawan, suara igauan
atau eranganmu itu, hanya menambah
debaran hatiku kian berlarian
semakin lelah semakin resah
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
SEPIRING NASI KAKILIMA
surabaya, aku telah lelah menuliskannya
barangkali tak ada yang menarik
bicara kritik apa lagi tentang politik
bicara kritik dilawan clurit
tentang politik dikatakan sengit
sebab kegelisahan warga kota
telah terwakili koran pagi
di halaman muka
di surabaya ini
opini masyarakat
telah digiring dalam satu jaring
(mufakat) untuk secara bersama
dalam satu suara
surabaya, aku telah lelah bicara
tentang kotamu yang kian malang-melintang
oleh jalan, dan gedung-gedung menjulang
lelah bicara iklan-iklan yang menantang
mengubur slogan kebersihan
mengubur rambu-rambu jalanan
surabaya, aku telah lelah bicara
tentang kritik apa lagi politik
karena suara puisi
hanya membentur dinding-dinding kota
dan harga sebuah puisi
hanya sepiring nasi kakilima
ingat, sepiring nasi kakilima
Surabaya, 1992
aming aminoedhin
PURABAYA SABTU SENJA I
setiap hari sabtu senja di purabaya
melaut manusia berebut tumpangan bus antarkota
beribu manusia seperti memburu waktu
padahal jam terus melaju
mentari di barat seperti memberat
beribu manusia berjejal hampir sekarat
bus antarkota melaju terseok-seok
kami semua yang tak terangkut melongok-longok
Surabaya, 2000
aming aminoedhin
PURABAYA SABTU SENJA II
panorama sabtu senja di purabaya
kau aku seperti tak percaya
orang-orang begitu melaut jumlah
berlari ke sana kemari tanpa rasa lelah
panorama sabtu senja di purabaya
kau aku seperti tak percaya
orang-orang berebut mencari kursi
di bus antarkota tanpa henti
orang-orang berebut mencari kursi
layaknya kursi legislatif yang dicari
panorama sabtu senja di purabaya
kau aku pasti akan terkesima
melihat Ibu tua tak terangkut bus antarkota
tersedu menangis
di kursi ruang tunggu purabaya
tanpa ada orang menggubris
Surabaya, 2000
aming aminoedhin
NYANYIAN KOTA
pengamen kecil dengan ukulele kecil
berdendang di atas bus kota dengan suara melengking
nyanyian suaranya bersaing dengan deru suara knalpot
lagunya mendendangkan negeri kian berantakan
terasa pekak di telinga penumpang yang sesak
yang didesak. sedang pencopet terus gerilya
di antara lengah penumpang. repot!
penumpang berteriak, “dompetku dicopet!”
dompetnya melayang entah ke tangan siapa? orang-orang
yang tahu tak mampu memberitahu pencopetnya. karena takut
jika teman-teman seprofesinya mengancam keamanan pribadi
atau mungkin malah kena pisau belati
yang kehilangan hanya bisa bengong
mungkin terbengong-bengong? karena uang yang dibawa
pencopet, baru saja diambil dari hasil pinjam koperasi
kantornya. sedang anak-anak di rumah menunggu uang itu
untuk membayar seragam sekolah dan keperluan makan
sehari-hari. ternyata pulang hanya bawa tangan kosong
hidup katanya, “ternyata hanya dari kata ompong
ke ompong yang lain.”
bus kota terus melaju. anak pengamen mengedarkan kantong
ajaibnya. meminta bunga-bunga sosial penumpang yang ada
yang lain, masih memainkan ukulele dengan suara serak
bersama suara kenalpot berderak. nyanyiannya melagukan
tentang keroncong carut-marutnya negeri tercinta
lalu aku duduk terkantuk di antara kursi bus kota
hanya bisa bertanya, “benarkah Indonesia
sedang dalam frame carut-marut
bagi masyarakatnya?”
Surabaya, 2000
aming aminoedhin
PLAZA-PLAZA ITU
plaza-plaza itu dibangun tinggi megah
orang-orang berduyun memasuki berjamaah
plaza-plaza tinggi itu kian megah
mungkin juga pongah. lantaran
masjid kian sedikit orang jamaah
sedang plaza banyak orang ikut berjamaah
kian hari semakin bertambah
dengan hitungan tumpah-ruah
barangkali makanan amerika, sandang
dan hiasan dari eropa, serta hiburan sesaat
(mungkin sesat) dari negeri-negeri jauh itulah
menyihir orang-orang patuh ikut berjamaah
atau mungkin mereka itu mengira
bahwa plaza itu telah jadi agama baru
padahal plaza menyimpan gemerlap
hanya dalam hitungan sekejap
menawarkan hiburan penuh gincu
memuat keindahan hanya semu
barangkali plaza telah menjanjikan surga
bagi para jamaahnya. atau mungkin mereka lupa
ditipu keindahan lampu-lampu plaza
Surabaya, 2000
aming aminoedhin
SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR
Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat
Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap
Ajari aku tidak angkuh
Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh
Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh
Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta
jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja
seperti orang-orang dewan di Jakarta
Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat
lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
membuat kata putus benar-benar manusiawi
menjalankan program dengan kendaraan nurani hati
Surabaya ajari aku. Ajari aku
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut
yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat
menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad
tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung
Surabaya memang boleh berdandan
bila malam lampu-lampu iklan warna-warni
siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi
senja meremang, mentarinya seindah pagi
di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita
Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya
sebab suara rakyat adalah suara Tuhan
kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar
dan suara rakyat adalah suara kebenaran
tak terbantahkan. Tak terbantahkan!
Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar!
Surabaya, 21 November 2005
aming aminoedhin
BENAR-BENAR MABUK MABUK BENAR-BENAR
Surabaya, benar-benar mengajariku mabuk
Mabuk tak hanya benar-benar mabuk mansion dan wisky
Tapi juga mabuk segala silau oleh gemerlap lampu bagai mata pisau
Meski aku tahu, penuh tipu penuh gincu
Aku juga mabuk tentang sebentuk kursi
Membiarkan orang-orang sekitar jadi frustasi
Surabayalah yang mengajariku mabuk lupa mabuk berdusta
Setiap langkah hanya kealpaan dan kedustaan
Besliweran di otak dan kepala
Dosa hanya seperti fatamorgana
Memakan dan memamah hak orang
Adalah kerja keseharian
Bahkan hak seorang kawan, apalagi lawan
Adalah sah bagi pemabuk jagoan
Bicara hati nurani aku tak sanggup lagi
Kebenaran adalah mansion
Keadilan adalah wisky
Rakyat biarkan mlarat kesrakat
Asal aku tetap sehat tetap kuat membabat
Benar-benar mabuk, mabuk benar-benar
Karena kata salah telah patah
kata benar telah tawar
kata hati telah mati
kata kursi telah jadi mimpi
Aku benar-benar mabuk, mabuk benar-benar
Surabaya, benar-benar mengajariku mabuk
Mabuk tak hanya benar-benar mabuk mansion dan wisky
bahkan mabuk mencari kebenaran dan keadilan
di rimba beton kota ini
aku tak kuasa menemukan hingga kini.
Surabaya, benar-benar mengajariku mabuk
Benar-benar mabuk, mabuk benar-benar
aku tak temukan kata benar hakiki
aku tak temukan kata adil yang pasti
Surabaya, 14/06/2006
aming aminoedhin
MEMBACA BULAN MERDEKA
* antara ngawi-surabaya
sepanjang perjalanan berlubang
jutaan bendera merah putih berkibar
barangkali indah di mata indah di hati
tanda ulang tahun negeri ini terayakan
oleh semua rakyat semua pejabat
tanda negeri ini merdeka, tapi entah kesekian kali
tak juga menemukan solusi kata merdeka
sepanjang perjalanan bulan merdeka ini
ratusan pejabat masih berlaku bar-bar
gembar-gembor bersuara menebar mimpi-mimpi kita
sementara rakyat hanya diajak bersabar
tanpa menemukan solusi ke arah negeri merdeka
benar-benar merdeka
kehormatan memang telah dibuang
keyakinan & iman telah lekang
upacara hanya sekedar upacara
hanya sebuah nama, tanpa memberi harga
apa lagi memberi sebentuk makna arti. merdeka
hanya baru dalam kata, tak menyentuh
makna arti hakiki, selebihnya janji-janji
sebentuk imaji
atau mungkin mimpi-mimpi
seringkali mimpi bisa jadi misteri
asa tinggal hampa, lantaran merdeka
tak kunjung tiba juntrungnya. sedang pejabat
hanya mengajak tamasya angan ke jauh awan
tak tersentuh genggam tangan
sepanjang perjalanan bulan merdeka ini
aku bertanya, hari merdeka telah tiba
adakah berjuta kibar bendera menyentuh matabatin kita
membuka mata membuka daun pintu merdeka
benar-benar merdeka?
membaca bulan merdeka
adakah masih perlu upacara
jika pejabat masih tetap bejat makan duit rakyat?
masih adakah?
Surabaya, 17/8/2006
aming aminoedhin
MEMBACA SURABAYA
membaca surabaya membaca negeri kaya raya tak terhitung angka-angka. harapan dan impian seperti hampa bagi pemula. tapi tidak bagi yang terbiasa mabuk dengan mulut berbusa. omongan tanpa rambu tanpa jeda, tak bisa dibedakan mana benar mana dusta. semua sama semua tanpa beda. benar adalah fatamorgana, dan fatamorgana adalah kebenaran nyata. siapa sangka?
membaca surabaya membaca negeri penuh para psk *yang menjaja di sepanjang jalan raya. rumah-rumah bordil, dari dolly hingga sepanjang rel. negeri indah menabur maksiat, tanpa merasa bejat. tanpa merasa tersesat. meski hidup kian melarat, hidup kian kesrakat.
membaca surabaya membaca negeri penuh iklan warna-warni. menawarkan lampu iklan di sudut-sudut jalan kota. menawarkan ketakbenaran dalam kemasan kebenaran. menawarkan racun yang hanya gincu. menawarkan indah yang hanya semu.
membaca surabaya membaca negeri menawarkan dzikir di taman-taman, tanpa pernah tahu kapan dzikir itu sampai kepada Tuhan. sebab segala dzikir yang diucap hanya sebatas bibir, tanpa muatan keyakinan. bukan syiar tapi malah lebih disebut unjuk gelar kekuatan. mungkin bisa bermuatan politik atau mungkin mencari massa mengarah satu titik? mungkin?
ah…. membaca surabaya seperti membaca warna-warna. ada merah menyala semerah saga, ada hijau muda dan tua, ada kuning sekuning bendera, dan bahkan ada biru sebiru rindu kita, menemukan kebenaran dan keadilan bagi semua
tak ketemu juntrungnya
membaca surabaya aku tak tahan meneruskannya. barangkali kau bisa membuat sederet lagi
kenyataan tak masuk akal
kenyataan-kenyataan tak bermoral
yang ada di kotamu, surabaya?
barangkali…?
Surabaya, 7-7-2006
* termuat di majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989
* termuat di koran Suara Merdeka Edisi Minggu – Semarang, April 1989
* termuat di majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989
* termuat di koran Surabaya Post Minggu, 28 Mei 1989
* termuat di koran Singgalang Edisi Minggu – Padang, 15 Oktober 1989
* termuat di koran Suara Indonesia – Malang, 28 Mei 1989
* termuat di koran Banjarmasin Post, 16 September 1989
* termuat di koran Banjarmasin Post, 16 September 1989
* termuat di koran Memorandum – Surabaya, 30 Juni 1996
*termuat di majalah Kebudayaan Basis – Yogya, September-Oktober 1997
* naskah pemenang lomba puisi iklan di koran kampus Undip, Semarang, 1989
* termuat di koran Surabaya Post, 3 Juni 1990
* penjaja seks komersial alias pelacur
Langganan:
Postingan (Atom)