Selasa, 13 Juli 2010

LABEL BAHASA INDONESIA

LABEL BAHASA INDONESIA*)
Oleh: Aming Aminoedhin
Penyair, Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), mantan pengurus DKS

*) artikel ini termuat di koran Radar Surabaya Minggu, rubrik Horizon, 4 Juli 2010, hal. 7


Saya tergelitik membaca Radar Surabaya (21/5/2010) memuat berita berjudul Wajib Label Bahasa Indonesia Mulai 1 Juli yang dalam inti berita mengatakan bahwa, “Jika tidak ditaati akan diberikan sanksi mulai dari pencabutan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), denda Rp 2 milyar, atau hukuman kurungan maksimal 5 tahun.”
Sungguh sebuah upaya sangat melegakan bagi kalangan yang sangat peduli dengan keberlangsungan Bahasa Indonesia, antara lain: Pusat Bahasa, Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, serta para guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Di mana mereka tak pernah lelah untuk terus menumbuhkembangkan Bahasa dan Sastra Indonesia. Begitu pula para guru, yang mengajarkan berbahasa Indonesia yang baik dan benar kepada para siswanya. Lebih melegakan lagi, bagi masyarakat pengguna Bahasa Indonesia, sebab mereka tidak akan susah untuk mengetahui cara pemakaian atau penggunaan barang-barang luar negeri yang telah dibelinya itu.
Kasus yang terjadi, beberapa produk luar negeri (obat maupun barang lain) yang masuk ke Indonesia memang hampir semuanya masih berbahasa dengan menggunakan bahasa produsen. Produk China masih berbahasa China, produk Jepang masih berbahasa Jepang, produk Taiwan masih berbahasa Taiwan dst.dst. Lihat saja, ketika kita beli obat atau mainan anak dari China, maka bahasa petunjuknya masih menggunakan bahasa China. Begitu pula, barang-barang elektronik produk Jepang, masih menggunakan bahasa Jepang atau bahasa Inggris. Ini cukup menyusahkan bagi orang yang tidak mengetahui bahasa Inggris, apa lagi Jepang. Mereka, para konsumen pembelinya akan bisa salah artikan penggunaan barang yang dibelinya.
Melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 62/M-DAG/Per-12/2009 tentang kewajiban pencantuman label barang Berbahasa Indonesia inilah, barangkali kita ma-syarakat akan menyambut gembira atas peraturan ini. Setidaknya bagi masyarakat konsu-men barang-barang luar negeri, tidak lagi dibingungkan atas petunjuk penggunaan dan pemakaiannya, barang-barang yang telah dibelinya.
Peraturan MENDAG Nomor 62/2009 ini, barangkali perlu kita sambut gembira, karena melalui peraturan ini pula, setidaknya Pemerintah RI melalui Permendag telah ikut pula menjaga, menumbuhkembangkan, serta melestarikan Bahasa Indonesia. Ini sekaligus bagi orang luar negeri yang akan masuk Indonesia (meski hanya barangnya) itu, mau belajar dan menggunakan bahasa Indonesia.
Permendag Nomor 62/2009 ini harus dilaksanakan dengan tegas, mulai 1 Juli 2010 nanti, bagi yang melanggar benar-benar diberi sanksi. Jangan sampai Permendag ini hanyalah diberlakukan secara hangat-hangat tai ayam, alias tidak berani menindak karena backingnya jenderal, menteri atau ketua partai tertentu. Tidak! Tidak boleh begitu. Siapa pun pelakunya, harus diberi sanksi dan tindakan tegas. Kita harus belajar berdemokrasi dari hal ini. Berani berkata benar, dan menindak dengan benar pula!
Demi kepentingan itulah, perlu adanya pengawasan yang ketat dalam pelaksana-annya. Setidaknya, pada 1 Juli 2010, pihak Kementerian Perdagangan RI perlu menerjun-kan tim pengawas ke beberapa barang-barang produk luar negeri yang dijajakan di pasar-pasar tradisional maupun supermarket, plaza, serta mall-mall. Bahkan jika mungkin, masyarakat juga ikut terlibat mengawasi adanya barang-barang luar negeri yang masih berlabel dengan menggunakan bahasa produsennya.
Untuk itu, perlu kiranya Kementerian Perdagangan, membuka web atau portal pengaduan di jagad maya bagi masyarakat yang ikut peduli akan hal ini. Setidaknya, melalui portal itu masyarakat bisa melaporkan temuan-temuannya, jika memang pada bulan Juli 2010 nanti masih banyak barang-brang luar negeri berlabel non-bahasa Indonesia.

Sejalan Permendag Nomor 62/2009 ini seharusnya memang ditindaklanjuti oleh Kementerian Dalam Negeri, dengan peraturan baru yang melarang perusahaan yang mencantumkan nama perusahaannya yang tidak mencerminkan bahasa Indonesia. Lihat saja di kota Surabaya, yang banyak sekali memasang baner-baner perusahaan dengan skala besar-besar, terpampang di jalanan tengah kota, yang mana tidak mencerminkan bahasa Indonesia, tapi lebih menggunakan bahasa Inggris. Sebut saja, City of Tomorrow), Hypertmart, Royal Plaza, Giant Hypermarket, Carrefour, Dramo Trade Centre, Mercure Hotel, Mc. Donald, Kentucky Fried Chicken, Tunjungan Plaza, The Empire Palace Hotel, BRI Tower, BG Junction, JW Marriot Hotel, Sheraton Hotel, Garden Palace Hotel, dan mungkin masih banyak lagi.
Apabila Mendagri juga membuat Permendagri yang juga melarang penggunaan nama perusahaaan berbahasa Inggris, barangkali kita tidak akan merasa asing di kotanya sendiri. Artinya, memasuki kota Surabaya, seperti memasuki kota di luar negeri. Atau setidaknya, jika nama-nama itu sudah terlanjur terkenal; minimal tidak memasang banernya dengan ukuran yang besar, dan mencolok mata kita.
Ini hanyalah semacam usulan saja. Agar masyarakat Indonesia kian mencintai bahasanya sendiri, bahasa Indonesia. Sedangkan kebijakan, kembali kepada pengambil keputusan, yaitu Menteri Dalam Negeri RI sendiri.
Yang patut disyukuri bahwa Permendag Nomor 62/2009 itu, minimal telah ikut menjaga, menumbuhkembangkan, dan melestarikan Bahasa Indonesia. Bravo buat Menteri Pedagangan RI! Menteri apa lagi yang menyusul?


Desaku Canggu, 9 Juni 2010

Rabu, 02 Juni 2010

surabaya kehilangan jati diri

KOTA SURABAYA KEHILANGAN JATI DIRI
oleh: aming aminoedhin*

artikel ini termuat di koran Radar Surabaya edisi khusus menyambut Ultah Kota Surabaya 717 -- Senin, 31 Mei 2010


Menurut asumsi hampir semua orang di Indonesia, bahwa kota Surabaya, adalah kota kedua di Indonesia, setelah yang pertama Jakarta, sebagai ibu kota negara. Sebagian yang lain, ada juga berasumsi bahwa kota Surabaya, bukan lagi kota kedua, tetapi sebagai kota peringkat enam terbesar di Indonesia. Mengapa demikian? Karena di atas kota Surabaya, ada lima kota lainnya, yaitu: Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan ada Jakarta Timur. Sehingga sebagai kota terbesar di Indonesia, kota Surabaya hanya menduduki peringkat keenamnya.

  
         Terlepas dari persoalan Surabaya sebagai kota kedua atau keenam, yang pasti Surabaya sebentar lagi akan ada pilihan walikota baru. Para kandidatnya sekarang lagi kampanye, agar benar-benar jadi walikota. Bahkan Surabaya, tahun ini, telah sudah 717 tahun usianya. Surabaya, kota besar setelah Jakarta, terus saja berbenah mengejar ketertinggalannya. Meski belum punya bus-way, seperti Trans Jakarta dan Trans Yogya. Meski pun belum punya kereta rel listrik (KRL), tapi Surabaya sudah punya ‘komuter’, kereta angkutan penumpang murah-meriah bagi warga masyarakatnya. Lantas baru-baru ini ada jembatan terpanjang di Indonesia bernama “Suramadu” yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura.
Sebagai kota besar yang konon berjaya di sebagai kota kedua atau keenam ini, infrastrukturnya pun cukup memadai. Surabaya mempunyai pelabuhan besar ‘Tanjung Perak’ guna mendukung laju perkembangan kotanya. Belum lagi, Surabaya, juga mempunyai bandara internasional ‘Juanda’, lantas jalan-jalan tol yang terus dibangun, terminal bus antarkota ‘Purabaya’ yang representatif sarana dan prasarananya. Belum lagi banyaknya gedung-gedung menjulang berupa mal-mal, pusat perkantoran, hingga plaza, pasar swalayan, hotel, dan seabreg rumah-rumah susun yang dibangun.
Bahkan konon, Surabaya, sebagai kota besar juga punya julukan yang tidak tanggung-tanggung, katanya sebagai kota nomor wahid soal pelacurannya.
Apakah ini benar? Masih perlu penelitian lebih mendalam. Tapi jika mau melihat kenyataan, memang sebenarnya bisa dibenarkan. Karena hampir di semua sudut kota ini, banyak sekali praktik-praktik pelacuran. Dari yang hanya berdiri di pinggir jalan, pinggir rel kereta api, ruang-ruang tunggu terminal, dan bahkan yang terang-terangan, seperti kawasan: Dolly, Njarak, dan Kremil. Belum lagi, praktik-praktik pelacuran yang di hotel-hotel, kost-kosan, dan banyak lagi.
Bahkan kini Surabaya sedang ngebut menata-garap jalan Ahmad Yani sisi timurnya, yang konon nantinya akan dijadikan satu arah menuju selatan. Konon, juga akan digarap jalur bus-way, dan kereta mono-rail? Wah.... Surabaya kian mempesona, jadinya!
Surabaya, memanglah kota hebat, sehebat pahlawannya yang mengusir para penjajah yang mencoba kembali memasuki negeri ini.
Pada ulang tahunnya ke-717, angka yang sangat cantik layaknya nomor cantik telepon seluler ini, adakah yang hilang dari kota ini?

Benarkah ini kota Surabaya?

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang kawan dari Ngawi yang datang ke kota Surabaya. Dalam pembicaraan malang-melintang tersebut, termasuk di antaranya bicara kangen-kangenan tentang kota Ngawi yang sepi, masjid (yang sebenarnya cagar budaya) telah diambrugkan, bicara pula kawan-kawan lama yang tak lagi bersua. Kawan-kawan yang kini telah jadi kaya, lantas kawan yang tetap setia dengan idealismenya, dan ada juga pembicaraan tentang bahasa. Berbicara tentang item yang terakhir, yaitu bahasa inilah, yang kemudian saya jadi terjaga.
Mengapa terjaga? Karena pertanyaan yang dilontarkan kawan lama saya tersebut adalah, “Apakah orang kota Surabaya ini, sudah tidak bisa berbahasa Indonesia lagi?”
“Lho, memangnya kenapa?” tanya saya kemudian.
“Ming, aku memasuki Surabaya kini, seperti memasuki kota di luar negeri!” katanya kalem, tanpa ekspresi.
“Lantas apanya yang luar negeri!” tanyaku mendesak.
Dengan berbisik menggelitik dia mengatakan bahwa Surabaya kini, sudah keinggris-inggrisan, padahal masih tetap ada tukang becak, ada pasar loak, ada wilayah kumuh (jika tak boleh dikatakan rusuh). Ini kan lucu? Lihatlah, dengan mentereng di jalan-jalan protokol itu, bahasanya sangat Inggris. Sebut saja misalnya: Cito (City of Tomorrow) yang di atasnya tertulis FIRST, Jatim Expo International, Hypertmart Royal Plaza, Giant Hypermarket, Carrefour, Dramo Trade Centre, Mercure Hotel, Mc. Donald, Kentucky FC, Tunjungan Plaza, The Empire Palace Hotel, BRI Tower, BG Junction, JW Marriot Hotel, Sheraton Hotel, Garden Palace Hotel, Citraland, dan seabreg nama-nama yang semuanya menggunakan bahasa Inggris. Belum lagi ada nama-nama Kentucky Fried Chicken, Mc. Donald, Texas Fried Chicken, dan banyak lagi lainnya.
Dari keterangan kawan lama tersebut, saya benar-benar terjaga. Ternyata, memang benar, kota Surabaya, telah jadi kota yang kehilangan jati diri, sebagai kota yang berada di Indonesia. Semuanya hampir berlabel bahasa Inggris, lantas benarkah ini kota Surabaya? Dari sini kemudian muncul tanya, siapakah yang harus disalahkan? Balai Bahasa Jawa Timur? Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Indonesia? Walikota? Atau Gubernur?
Saya tak tahu jawabnya?

Surabaya, Jelang Ultah 717

Senin, 19 April 2010

KARTINI, BUMI DAN SASTRA

KARTINI, BUMI DAN SASTRA*
Oleh: Aming Aminoedhin

Penyair, Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), koordinator Malsasa


* tulisan ini termuat di koran Radar Surabaya, rubrik Horizon, Minggu 18 April 2010



Apa hubungannya Kartini, Bumi, dan Sastra? Pertanyaan itu memang wajar dimunculkan, sebab ketika kita memasuki bulan April yang diingat masyarakat adalah Hari Kartini. Pendekar emansipasi wanita negeri ini. Padahal, di bulan April, ada peringatan hari besar lainnya yaitu Hari Bumi dan Hari Sastra. Namun demikian, banyak orang tidak tahu adanya dua peringatan yang saya sebut terakhir. Ironis memang!

Hari Kartini

Beberapa waktu yang lalu di harian Kompas (Minggu, 21/3/2010) saya baca berita tentang ‘Gairah Mendaki di Usia 50 Tahun” yang di dalam laporannya mengisahkan tentang kegairahan para perempuan berusia lebih dari 50 tahun tetap melakukan pendakian gunung, lantaran hobby mereka sejak masih muda. Komunitas itu ada dua, yaitu Fit@Fifty dan Kartini Petualang (Karpet). Bahkan mereka para pendaki perempuan ini akan merencanakan pendakian Gunung Himalaya, dan merayakan Hari Kartini, 21 April 2010 di puncaknya.
Dari berita ini membuktikan bahwa perempuan itu bukanlah sebagai kanca wingking belaka, teman di belakang suami saja, adalah benar! Buktinya, mereka juga bisa beraktivitas tanpa harus merengek pada suaminya. Mendaki gunung bersama sesama kaum perempuan lain, bahkan ketika mereka telah berusia di atas 50 tahun.
Kata perempuan mempunyai konotasi wanita. Jika wanita, bisa diartikan dalam bahasa Jawa wani ditata, berani ditata; maka kata perempuan, yang berasal dari kata empu dan puan, lebih berkonotasi lebih terhormat katimbang wanita. Sebab kata empu, berarti gelar kehormatan yang berarti tuan atau seorang ahli (utamanya keris), dan puan, berarti tempat sirih dari emas atau perak. Perempuan, artinya orang yang harus dihormati, dan harganya cukup mahal karena layaknya emas, yang termasuk barang mulia. Maka, perempuan seharusnya dihormati dan dimuliakan.
Perempun di negeri kita, Indonesia, hampir semua mengidoalakan perempuan bernama Kartini. Pahlawan bangsa, yang telah memperjuangkan kesejajaran (emansipasi) antara perempuan dan lelaki. Kartini, juga seorang yang telah berjuang agar para perempuan juga mendapatkan pendidikan, seperti layaknya kaum lelaki.
Bila kita mau menerjemahkan agak luas lagi, kata perempuan identik juga ibu. Sedangkan kata ibu, mempunyai keampuhan makna tersendiri. Betapa tidak? Bayangkan, ketika dalam bahasa Indonesia, ada kata Ibu Jari, Ibu Pertiwi, Hari Ibu, Ibu Negara, Ibu Peri, dan Ibu Kota, dan mungkin masih banyak lagi. Jika kata-kata tersebut kita coba untuk dipertentangkan, maka tidak akan pernah ada kata: Bapak Jari, Bapak Pertiwi, Hari Bapak, Bapak Negara, Bapak Peri, dan Bapak Kota.
Kata-kata tersebut meyakinkan kepada kita semua bahwa perempuan yang identik dengan ibu itu memanglah hebat atau ampuh, seampuh sebutannya perempuan. Ini sekaligus memperkuat komitmen Nabi Besar Muhammad SAW, yang meletakkan Ibu pada urutan satu sampai tiga dalam menghormati dan selalu memuliakannya. Baru kemudian angka keempatnya, disebutkan Bapak.
Perempuan, tidak selamanya lemah, terbukti ada para perempuan yang berusia 50-an tahun ke atas masih tetap tegar, dan akan mendaki gunung Himalaya, dalam peringati Hari Kartini tahun ini. Perempuan, itu bisa jadi pemimpin yang tangguh. Selamat berhari Kartini, dan janganlah para perempuan selalu merasa lemah. Bergairahlah, seperti para perempuan komunitas Fit@Fifty dan Karpet itu.

Hari Bumi

Mengingat tanggal 22 April 2010 ini adalah Hari Bumi Internasional, maka selayaknyalah kita mengingatkan kembali kepada warga masyarakat Indonesia, termasuk diri kita sendiri; untuk tidak berbuat kerusakan di bumi ini.
Persoalan lingkungan hidup memang terkadang dilupakan begitu saja, dan bahkan manusia baru sadar ketika bencana itu datang dengan tiba-tiba. Banjir, misalnya; yang menenggelamkan ribuan rumah-rumah penduduk. Menelan korban bagi manusia yang tak sempat mencari selamat, karena banjir datang tiba-tiba. Begitu pula tanah longsor yang mengubur manusia hidup-hidup dalam sekejap saja. Lebih lagi bencana gempa seperti tsunami di Aceh, yang menyapu bersih ribuan manusia dan rumah-rumahnya. Begitu cepat, begitu tiba-tiba.
Sungguh, semua itu adalah tanda-tanda kebesaran Ilahi, dan sekaligus pertanda bahwa manusia tidak boleh berbuat kerusakan di muka bumi ini. Manusia, seharusnya merawat bumi, agar bumi tetap lestari dan tetap nyaman dihuni bagi manusia berikutnya, dari generasi ke generasi. Mari lestarikan bumi, dengan mewajibkan seorang anak manusia menanamkan satu pohon, pada peringatan Hari Bumi tahun ini.
Mengingat Hari Bumi berarti kita harus menyadari bahwa dunia semakin tua, tak layak bagi kita membuatnya kian renta, kian runyam, dan kita tetap berbuat kerusakan bagi alam sekitar. Tidak! Tidak harus begitu! Mari bersama kita menanam pohon di kota, agar kota juga bisa bernafas lega. Punya jantung atau paru-pru kota, bernama hutan kota. Bersihkan pula sungai dari kotoran dan limbah, agar kota kian jadi indah.

Hari Sastra


Tidak banyak yang tahu, bahwa pada tanggal 28 April adalah peringatan Hari Sastra, yang mana pada tanggal itu tahun 1949 lalu, merupakan tanggal wafatnya sang penyair binatang jalang, Chairil Anwar.
Meskipun penetapan tanggal 28 April sebagai Hari Sastra menuai pro-kontra dari para sastrawan pada waktu itu, tapi yang pasti banyak para mahasiswa fakultas sastra di berbagai perguruan tingggi, akan tetap memperingatinya. Mengapa demikian? Karena Chairil Anwar merupakan tonggak kepenyairan Indonesia di zamannya, dan tetap diakui hingga sekarang ini.
Bahkan kritikus sastra, yang berpredikat paus sastra Indonesia, HB Jassin; sang penyair Chairil Anwar, atau yang punya predikat si binatang jalang itu, telah dinobatkan sebagai tokoh Angkatan ’45 dalam sastra Indonesia. Chairil, dari catatan Jassin. ternyata selama periode tahun 1942 hingga 1949 hanya membuat 70 puisi asli tulisannya sendiri, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan.
Tidak banyak ternyata! Tapi namanya sangat melambung tinggi ke langit peta sastra Indonesia. Begitu pula karyanya, melebihi usianya yang tidak panjang itu, bahkan puisinya berjudul ‘Aku’ telah melampaui abad terdahulu. Dari abad 20 ke abad 21.
Untuk mengingatkan kembali puisi berjudul ‘Aku’ itu, kami muatkan puisinya secara utuh dalam tulisan ini. Berikut ini adalah bait-baitnya: Kalau sampai waktuku/’Ku mau tak seorang ‘kan merayu/Tidak juga kau// Tak perlu sedu sedan itu//Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang//Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang menerjang//Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri//Dan aku akan lebih tidak perduli//Aku mau hidup seribu tahun lagi//Maret 1943.
Menyimak isi yang tersurat dan tersirat dalam puisi itu, seseorang akan merasakan betapa seorang Chairil, memang sosok pahlawan yang pantang menyerah. Bahkan rayuan apapun tak akan menggoyahkan kemauannya untuk terus melangkah. Begitu pula, jika ada peluru yang akan merobektembuskan tubuhnya, ia akan tetap meradang menerjang demi kemauan citanya itu. Ada luka ada bisa, tetap meneguhkan hati untuk tetap berlari, meraih cita hingga perih luka jadi sirna. Tidak perduli! Chairil, kemudian mengunci puisinya dengan kalimat: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sebuah semangat berjuang yang terasa tak pernah mau mati.
Perjuangan Kartini perlu diteladani, bumi harus dijaga lestari, dan semangat Chairil Anwar tak harus mati di bumi Indonesia tercinta ini.

Desaku Canggu, 11 April 2010

Selasa, 30 Maret 2010

sastra jawa masuk sekolah

SASTRA JAWA MASUK SEKOLAH*
Oleh: Aming Aminoedhin

tulisan ini termuat di Radar Surabaya, Minggu, 28 Maret 2010

Menurut asumsi bahwa masyarakat Jawa Timur hampir sebagian besar atau lebih dari 75% masyarakatnya, menggunakan bahasa pergaulan (lingua-franca) bahasa Jawa. Dari sejumlah pengguna bahasa Jawa tersebut, muncul pengarang-pengarang yang menggunakan bahasa Jawa sebagai media penulisan dalam karya-karya mereka. Sebut saja nama-nama terkenal di ranah pengarang sastra Jawa ini, seperti: Satim Kadarjono, Suparto Brata, Yunani, Suharmono Kasijun, Djajus Pete, JFX Hoery. Lantas nama-nama lain yang lebih muda usia, seperti: Bonari Nabonenar, Keliek Eswe, Sunarko ‘Sodrun’ Budiman, Titah Rahayu, Sita T. Sita, Herry Lamongan, Widodo Basuki, Sumono Sandhy Asmoro, W. Haryanto, Wahyudi, Suyitno Ethexs, dan sederet lagi nama lain yang mungkin belum masuk dalam daftar urutan ini.
Perkembangan jumlah pengarang sastra Jawa di Jawa Timur yang signifikan ini, seharusnya menyadarkan kita betapa tidak terbatasnya olah kreasi dari orang-orang yang berkecimpung dalam dunia sastra Jawa. Menyikapi hal tersebut, tidaklah berlebihan apabila Pemerintah (Dinas Pendidikan) perlu mengadakan semacam apresiasi sastra Jawa di ruang-ruang kelas, pada sekolah-sekolah setingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kenapa demikian?
Melalui sastrawan Jawa masuk sekolah diharapkan bisa menumbuhkembangkan sastra Jawa yang diasumsikan banyak kalangan telah terpinggirkan atau ditinggalkan penuturnya. Melalui kegiatan ini pula diharapkan akan bisa memberikan pendidikan budi pekerti, yang dirasa telah agak luntur (jika tak boleh dikatakan sirna) dari budaya Jawa.
Jika dalam ranah sastra Indonesia, diawali majalah sastra Horison bersama Taufiq Ismail, telah menyelenggarakan kegiatan “Sastrawan Masuk Sekolah”, maka apa salahnya jika hal itu ditiru. Misalnya saja, sastrawan Jawa masuk sekolah pula.
Jawa Timur memiliki banyak sastrawan Jawa yang sangatlah handal. Sebut saja, maestronya pengarang Suparto Brata, yang telah banyak menulis karya-karya berbahasa Jawa. Salah satunya yang sangat dikenal, kumpulan cerkak ‘Trem’ yang memuat sekian banyak cerkak karangan Suparto Brata. Lantas sederet karangan lainnya: Donyane Wong Culika, Kremil, Tiada Nasi Lain, dan banyak lagi.
Belum lagi jika mau menghitung nama-nama pengarang sastra Jawa, asal Jawa Timur yang telah mendapatkan hadiah ‘Rancage’-nya Ajip Rosidi. Mereka itu, di antaranya: Suharmono Kasijun, Suparto Brata, Widodo Basuki, JFX Hoery, Esmiet. Bahkan konon, tahun ini ada juga nama yang penggurit Sumono Sandhy Asmoro dan Bonari Nabonenar, akan mendapatkan hadiah sastra ‘Rancage’ tersebut.
Kegiatan apresiasi sastra dapat diartikan sebagai usaha pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap karya sastra, sehingga dapat menimbulkan kegairahan terhadap sastra tersebut. Apresiasi sastra juga dapat menciptakan kenikmatan yang timbul sebagai akibat pengenalan dan pemahaman terhadap sastra, yaitu dengan membaca karya sastra. Sedangkan sastra Jawa, dalam hal ini baca cerkak dan geguritan, sangatlah bisa dijadikan sarana guna meraih apresiasi sastra Jawa tersebut. Sekaligus akan dapat mengajarkan budi pekerti kepada para siswa yang mengapresiasi sastra Jawa tersebut. Karena dalam karya sastra Jawa memuat pesan-pesan moral budaya Jawa yang secara tersirat ada di dalam karya tersebut.
Peluang untuk memasuki sekolah-sekolah tersebut ada, yaitu dalam mata pelajaran bahasa Jawa yang masih diajarkan di sekolah tingkat SD maupun SMP. Betapa pun kecilnya jam pelajaran yang ada, tetapi setiap minggunya pasti ada. Nah ... barangkali dalam satu semester, bisa diambil salah satu minggu (pada mata pelajaran sastra Jawa) untuk apresiasi pengarang sastra Jawa berhadapan para siswa.
Lantas bagaimanakah tekniknya?
Barangkali memang agak sulit mencari waktunya, para pengarang sastra Jawa tersebut, bisa terjun langsung ke sekolah. Akan tetapi, saya percaya, bila sekolah memang telah mengagendakan jadwalnya, mungkin para pengarang sastra Jawa juga akan mau dan mampu membagi waktu bagi para pelajar yang ingin apresiasi sastra Jawa tersebut. Mungkin bisa kerja sama dengan mengontaks PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro), atau Sanggar Triwida Tulungagung; FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya), yang keempatnya tak lelah-lelahnya nguri-uri (melestarikan) bahasa dan sastra Jawa.
Program ini akan lebih menarik lagi, apabila kegiatan ini dalam rangka menyongsong Kongres Bahasa Jawa V yang akan digelar di kota Surabaya tahun 2011 oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur. Mungkinkah Pemda Jatim telah mempersiapkan hal ini? Walahu alam bishawab!
Selanjutnya, apabila para pengarang sastra Jawa telah masuk beberapa sekolah tersebut, kemudian ditindaklanjuti dengan lomba-lomba yang mengarah ke persoalan sastra Jawa, misalnya lomba tulis dan baca guritan. Lomba baca dan tulis cerkak bagi para siswa yang telah mendapatkan pelajaran apresiasi sastra Jawa di sekolahnya, oleh para pengarang sastra Jawa.
Solusi lain, barangkali Pemerintah Pemda Jawa Timur, bisa memfasilitasi para pengarang sastra Jawa dengan mau menerbitkan buku-buku karangan mereka, lantas mensosialisasikannya di sekolah. Akan lebih baik jika, ada juga pembuatan rekaman dalam bentuk disc, yang berisi pelajaran baca geguritan, baca cerita cekak, dan juga baca tembang macapat.
Melalui garapan para pengarang sastra Jawa yang telah dibuat ini, selanjutkan didistribusikan kepada para guru-guru sastra Jawa yang ada di sekolah-sekolah.
Mengapa demikian?
Selama ini, memang banyak guru mata pelajaran bahasa Jawa, yang tidak mempunyai vak (keahlian/ijazah) bahasa Jawa. Sehingga, banyak sekali, mereka merasa kesulitan dalam megajarkan bahasa Jawa kepada siswa.
Semua ini hanyalah solusi yang mungkin cukup baik, agar mata pelajaran bahasa Jawa, bisa intens diajarkan kepada siswa tanpa harus ada kendala bagi gurunya.

Desaku Canggu, 16 Maret 2010

Senin, 15 Maret 2010

Bahasa Ibuku Bahasa Jawa

BAHASA JAWA BAHASA IBUKU*)

Oleh: Aming Aminoedhin
Penyair, Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya)

Mencatat kegiatan yang sangat berhubungan dengan bahasa pada bulan Februari, barangkali bisa disebut adalah tanggal 9 Februari ada Hari Pers Nasional, lantas pada tanggal 21-nya ada Hari Bahasa Ibu Internasional. Untuk peringatan Hari Pers Nasional lebih mengedepankan bagaimanakah para jurnalis menulis berita dengan baik dan berimbang. Artinya, tulisan berita itu haruslah berimbang antara nara sumber dan fakta yang ada di lapangan. Bahkan jika perlu, nara sumber tidak hanya satu, tapi bisa banyak jumlahnya. Sehingga akan didapatkan keakuratan berita.
Menulis berita, artinya seseorang wartawan akan menggunakan bahasa untuk menyampaikan beritanya kepada pembaca. Meski melalui televisi, pastilah berita itu ditulis dengan menggunakan bahasa. Begitu pula berita yang ada di radio.
Sedangkan bicara soal Hari Bahasa Ibu Internasional, maka kita jadi ingat bahwa kegiatan Hari Bahasa Ibu Internasional ini diperingati setiap tahun, dan telah disahkan oleh Unesco, sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Membicarakan kegiatan kebahasaan yang kedua, Hari Bahasa Ibu Internasional, saya jadi teringat yang dikatakan oleh beberapa kawan pada acara ‘Mengenang RM Yunani’ (18/2/2010) di Galeri Surabaya. Menurut Dhimam Abror, bahwa RM Yunani adalah seorang jurnalis yang konsistens dalam pemakaian bahasa, terutama bahasa Jawa.
Beliau, kata Dhiman menambahkan, adalah sosok yang serba bisa, dan punya wawasan dan kepandaian menulis luar biasa. Seorang sastrawan Jawa, Suharmono Kasijun, mengatakan bahwa budayawan yang satu ini adalah seorang jurnalis yang berani dalam tulisan-tulisan beritanya. Sementara begawan sastra Jawa Timur, Suparto Brata, lain lagi. Sang begawan mengatakan, bahwa RM Yunani itu seorang guru yang menulis cerita anak sangat baik, pada tahun 1971-an. Mengapa begitu? Lantaran RM Yunani selalu mengirimkan naskah ke majalah anak ‘Kuncup’ yang pada waktu itu, Suparto Brata jadi redakturnya. Lebih jauh begawan sastra ini juga mengatakan bahwa Dahlan Iskan (yang punya Jawa Pos, dan kini Direktur PLN itu) mengakui bahwa RM Yunani adalah guru jurnalisnya, sewaktu masih berada di Samarinda.
Lantas apa hubungannya dengan Bahasa Ibu Internasional?
Menurut catatan yang saya baca di berbagai situs di internet dikatakan, bahwa dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, kita tidak boleh melupakan pada bahasa Ibu kita sendiri. Padahal di Indonesia, mempunyai banyak suku bangsa dengan banyak pula bahasa daerah (baca: bahasa Ibu) yang dipunyainya. Jika boleh mencatat bahkan ada bahasa daerah yang konon mempunyai sistem tulisan sendiri, seperti: Jawa, Lampung, Bali, Bugis, dan Batak.
Terlepas dari persoalan apa hubungannya dengan Hari Bahasa Ibu Internasional, dengan bahasa daerah, yang pasti kita sadari bahwa kondisi bahasa, sastra, dan aksara daerah pada saat ini, sudah agak terpinggirkan. Jika tidak boleh dikatakan ditinggalkan oleh penuturnya. Maka tidak mengherankan, jika Bahasa Jawa telah dikongreskan sampai ketiga, dalam rangka melestarikan bahasa Jawa yang terpinggirkan itu.
Dalam rangka merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional tahun ini, tidaklah berlebihan saya sebagai orang Jawa akan juga memperingati Hari Bahasa Ibuku sendiri, bahasa Jawa, meski tidak pas tanggalnya. Karena saya termasuk sastrawan Jawa, perkenankan pula saya muatkan guritan bertajuk ‘Ndhuk Anakku Wadon’, guna melengkapi tulisan ini.

//ndhuk, anakku wadon sing ayu dhewe/dadi wong wadon iku kudu/suci uni, suci rupi, lan suci ati//amarga donya wis menehi tandha/akeh wong wadon lambene bengak-bengok/akeh wong wadon matane plerak-plerok/akeh wong wadon aten-atene bosok/lungguh methothok mlaku ora ndedelok/kabeh iku aja mbok tiru, anakku//ndhuk, anakku wadon, delengen ing tawang /mbulan ora werna abang mbranang/lintang-lintang ora gelem gumebyar/lan srengenge kaya ngece-ece//mula iku omonga sing apik/dandana sing resik/mlakuwa sing becik/ing ngalam donya/ndhuk, anakku wadon sing ayu dhewe/goleka dalan swarga liwat tetep madhep/lan manteb terus dhedhepe marang Gusti// Canggu, 2003

Secara harafiah terjemahannya sebagai berikut:

nak, anakku perempuan yang paling cantik/ jadi perempuan itu harus/ suci bicara, suci wajah, dan suci hati// lantaran dunia sudah memberi tanda/banyak anak perempuan mulutnya teriak-teriak/banyak perempuan matanya jelalatan/banyak perempuan hati busuk/duduk seenaknya jalan sembarangan/semua itu jangan ditiru, anakku//nak, anakku perempuan, lihatlah di langit/ bulan tak lagi berwarna merah/bintang-bintang tak mau berpijar/ dan matahari seperti meledek// untuk itu, bicara yang baik/berbusana yang bersih/jalanlah yang baik/di dunia ini// nak, anakku perempuan yang paling cantik/carilah jalan ke surga dengan tetap selalu setia/mantap mendekat kepada Allah SWT//Canggu, 2003

Guritan atau puisi di atas menyadarkan kepada kita, bahwa perempuan sekarang ini telah memasuki pergeseran budaya yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Tidaklah berlebihan, ketika kita mempunyai anak perempuan akan merasa ketakutan apabila anak perempuan kita tersebut jadi ikut-ikutan seperti yang tertera dalam guritan tersebut.
Sekali lagi bahasa Jawa cukup efektif untuk mengingatkan manusia Jawa agar berbuat baik, dan berlaku sopan santun dalam mejalani hidupnya. Belum lagi jika kita mau membaca beberapa buku sastra Jawa yang banyak memuat pitutur luhur di dalamnya.
Kembali pada persoalan Hari Bahasa Ibu Internasional, saya adalah orang yang sering jadi juri lomba baca dan tulis geguritan. Tahun lalu saja, 2009, di Museum Mpu Tantular, pada Festival Tantular, tercatat lebih dari 100 pelajar (laki-laki dan perempuan) se-Jawa Timur ambil bagian jadi peserta lomba ini. Kemudian pada kegiatan sejenis diselenggarakan Dinas Pendidikan Surabaya, Dinas Pariwisata & Kebudayaan Surabaya, kerja sama Kalawarti Basa Jawa ‘Jaya Baya’ di Cak DurasimTaman Budaya Jawa Timur; juga diikuti lebih dari 100 pelajar (laki-laki+perempuan) se-Kota Surabaya.
Begitu pula terbitan majalah berbahasa Jawa, juga diterbitkan dari kota Surabaya. Majalahnya adalah ‘Panjebar Semangat’ dan ‘Jaya Baya”. Lantas ada program ‘Jawa Days’ yang diwajibkan sekolah-sekolah di Surabaya, harus berbahasa Jawa pada hari tertentu. Pertanyaan yang muncul, adakah program ‘Jawa Days” ini bisa efektif dilaksanakan di sekolah? Perlu penelitian tersendiri.
Dari catatan ini terindikasi bahwa bahasa Jawa masih diminati oleh orang Jawa sendiri. Setidaknya bagi beberapa lembaga Pemerintah maupun swasta yang masih terus memompakan semangat agar generasi muda tetap mencintai bahasa Jawa. Terlepas, apakah mereka hanya ikut karena disuruh gurunya, atau pun memang mereka punya keinginan sendiri guna mengikuti lomba-lomba ini. Pastinya, masih banyak peminat lomba baca dan tulis gurit diikuti para siswanya.
Menyongsong Kongres Bahasa Jawa V yang akan diselenggarakan di Jawa Timur, pada tahun mendatang, maka sewajarlahnya bila Pemerintah Jawa Timur dan swasta yang terkait dengan hal ini, bersegeralah kembali mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bahasa Jawa. Lomba penulisan sastra Jawa, lomba baca guritan dan macapatan, atau semacamnya. Akan lebih pas pula, jika diselenggarakan bercerita atau mendongeng dengan menggunakan bahasa Jawa.
Bahasa Jawa merupakan bahasa Ibu bagi suku bangsa Jawa. Orang Jawa di Indonesia sudah tersebar di berbagai daerah dan wilayah Indonesia, dari Sumatra hingga Papua. Akankah bahasa itu akan tetap terpinggirkan? Sebuah tanya yang barangkali perlu jawaban pasti bagi suku Jawa sendiri?
Bahasa Jawa bahasa Ibuku, itu hanya sebuah pengakuan. Praktiknya di lapangan, sebagai orang Jawa (ternyata banyak jumlahnya) tidak bisa berbahasa Jawa. Ironis memang!

Desaku Canggu, 19/2/2010


*) Tulisan ini telah termuat di koran Radar Surabaya, Jawa Pos Grup, Minggu, 28 Februari 2010.

Selasa, 26 Januari 2010

BEDAH BUKU JAGAD BERKATA-KATA

Selamat Datang
DI DUNIA ANGAN DAN BAYANG-BAYANG
Masihkah kita Bimbang?


oleh: aming aminoedhin

catatan: Makalah bedah buku ini disampaikan di STKIP PGRI Jombang, 15 Januari 2010. Pertama di tahun 2010 ini, aming aminoedhin, memulai ceramah sastra.


Selamat datang di dunia angan dan bayang-bayang! Masihkah bimbang?
Barangkali kalimat itu yang akan saya kedepankan lebih dahulu. Karena menulis puisi, identik dengan memasuki wilayah dunia angan dan bayang-bayang. Angan dan bayang-bayang yang kemudian diejawantahkan dalam bentuk tulisan bernama, puisi. Ini berarti, rekan-rekan mahasiswa STKIP PGRI Jombang telah melangkah ke dalam dunia angan dan bayang-bayang.
Membaca antologi puisi “Jagad Berkata-kata” karya para mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2006, STKIP PGRI Jombang, yang diserahkan via email, saya jadi suka membacanya. Lantas dikirim pula, bukunya (meski terlambat), sudah berbentuk yang apik dan menarik. Buku kumpulan itu mengingatkan saya tentang beberapa komunitas sastra yang membuat kumpulan puisi semacam. Ada komunitas Kostela – Lamongan, diprakarsai Herry Lamongan, ada komunitas Dewan Sastra Jatim, dimotori W. Haryanto, komunitas sastra Luar Pagar Unair - Surabaya, yang di dalamnya ada Ribut Wijoto, FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya) yang berkali buat kumpulan Malsasa, komunitas sastra Forasamo-Mojoketo, bersama Saiful Bakri dan Suyitno Ethexs-nya, serta komunitas lingkar sastra Tanah Kapur – Ngawi dimotori Tjahjono Widarmanto, dan Komunitas Teater Persada Ngawi, pimpinan Mh. Iskan.
Mereka semua hanya sebagian kecil dari komunitas sastra yang tetap eksis di peta sastra Jawa Timur, agar terus bergerak menumbuhkembangkan sastra kian marak kian beranak-pinak. Artinya, komunitas ini telah mencoba menjembatani dan mewadahi karya sastra melalui pener-bitan kumpulan puisi, betapa pun sederhananya.
Barangkali apresiasi yang tinggi saya acungkan buat Imam Ghozali dan kawan-kawan di STKIP PGRI Jombang yang telah memotori acara semacam ini. Saya yakin itikad yang baik ini akan membuahkan komunitas sastra Jombang kian membaik. Meski, sebenarnya telah baik, tapi gaung eksposenya yang kurang baik.
Bicara soal antologinya “Jagad Berkata-kata” saya bukanlah kritikus sastra yang baik. Tapi karena harus diberi mandat memberi komentar dan saran, maka yang harus saya katakan awal, adalah ‘bagus’ semua. Seperti guru lukis Tino Sidin, yang selalu mengatakan ‘bagus’ untuk semua pengirim lukisan kepadanya.
Mengapa bagus? Karena mereka telah berani membuat puisi, dan menerbitkan dalam sebuah antologi puisi. Keberanian menulis inilah sebuah proses panjang yang harus dilalui oleh seorang pengarang atau penyair. Artinya, tidak ada penyair yang tiba-tiba menjadi penyair. Mereka pasti melalui proses panjang menulis, menulis, dan menulis lagi.

Puisi Baik itu Jujur Bicara
Apabila mau bicara secara keseluruhan puisi yang ada dalam antologi, maka kebanyak-an mereka para penyairnya masih menulis dengan berpanjang-panjang kata. Padahal, puisi yang baik, menurut saya, masih tetap yang ‘sedikit kata tapi banyak makna.’ Sedangkan rekan-rekan kita masih banyak yang menggunakan kata sambung dan imbuhan yang berlebihan. Padahal sebenarnya, menulis puisi bagi saya, mengusahakan (jika mungkin) menulis tanpa kata imbuhan dan tanpa kata sambung. Sehingga tulisan puisinya benar-benar menganut sedikit kata, tapi kaya makna tersebut.
Coba kita simak puisi berjudul ‘Titik’ berikut ini:

Muhammad Lucky Ali Murfiqi
TITIK

Titik tak akan pernah kau temui dalam kehidupanku
dan titik pun tak ada dalam matiku
titik hanyalah suatu koma yang panjang yang tak berujung
dan berakhir di balasan benih yang kau tanam di dunia yang hilang

Energi sungai yang meliuk
hilangnya bulu sayap yang terpuruk
mengikuti arus hidup yang kikuk
hingga menyadari insani yang terburuk

arus hidup yang tak menentu
tak ada seorang pun yang dapat tahu
ke mana perjalanan hidup mereka
tak ada yang mampu merubah semuanya

(Jagad Berkata-kata, halaman 74)

Puisi di atas, apabila kata sambung ‘yang’-nya dihilangkan semua, pasti puisi itu masih bisa berdiri dan enak dibaca. Bahkan artinya yang dikandungnya, tak berubah makna.
Kelemahan yang lain, jika boleh saya sebutkan, bahwa seorang penyair itu adalah orang lebih tahu tentang bahasa. Maka tidaklah harus salah dalam penulisannya. Baca larik akhir puisi ‘Titik’ di atas, kata ‘merubah’ sebenarnya ‘mengubah’. Lantas ada sederet panjang lagi kesalahan tulis dari kawan-kawan kita ini. Tak perlu disebutkan di sini. Malah nanti gak mau menulis puisi. Tapi itu semua memang proses untuk menjadi “penyair,” maka harus tahu kesalahannya yang ternyata tidak mahir.
Jika harus disebutkan mana puisi yang mendekati baik, dan punya prospek ke depan jadi penyair beneran, maka saya hanya menyebut beberapa judul puisi yang telah saya coba baca sehari ini, tanpa mengulang kembali. Maaf! Bukan berarti yang lain, lantas tidak punya prospek, tapi lebih ke arah mereka perlu berproses lebih panjang lagi. Artinya, harus terus menulis lagi, bukan lantas berhenti.
Mereka itu itu: Yang Terakhir oleh Nur Khoitoni, Aku Islam Abangan oleh Eli Sobikah, Kontroversi – Arie Oktaviyanti, Jalang- Ishom Junaidi, Masihkah Pantas – Muzayin, Kemeja Warna Emas – Maratus Shiolikhah, Sandi Leluhur – Khusnul Khotimah, Tragedi Hidup – Syamsah Ayuningrum, Jagat Berkata-kata, Supa’at, Pena- Nuril Baidlowi, Keranda – Andri Eko Yuwono, Ruang Cinta - Sudirman, Omong=O – Faisol Hidayatullah AF, Awal Belum Berakhir – Miftahul Huda Firmansyah, Timang-timang Badan - Niken Fajarwati, Sepotong Rasa - Zulmi Faktullah, Satu – Eli Nurmelia, Hallah Tanpa Kata – Tedi Subohastowo, dan Coro – Zainul Arifin, Puisi Hujan dan Kamu – Nugrahwati, Kuawali Dengan Airmata – Fitri Zahnya F.
Mengapa juga mereka mendekati baik? Lantaran tulisan puisinya tampak bicara dengan kejujuran hatinya. Penyair, harus jujur! Maka dalam tulisannya, harus bermuatan tulisan yang jujur pula. Lantas apa lagi? Mereka menulis dengan kesederhanaan dalam penulisan, dan bahkan ide yang diungkapkan. Sederhana tapi ada sesuatu yang ditawarkan kepada pembacanya. Tidak percaya? Coba simak puisi ini:

Fitri Zahnya F
KUAWALI DENGAN AIRMATA

Hari ini ku awali langkah jam
Dengan air mata semalam
Sujud yang bening
Subuh yang hening

Tumpah segala penyelesaian
Karena kemarin
Aku membawa jam – Mu
Ke negeri jauh
Tak bertanda

Karenanya, jika hari ini
Kuawali langkah jam
Dengan air mata dan nama Mu
Perkenankan sisa jejak-jejakku
Dengan satu ucap sakti Mu
Kun !

Tapi kenapa peristiwa sehari hari
Tiada henti menggodaku?

(Jagad Berkata-kata, halaman 87)

Tidakkah sederhana? Kata kunci “Kun” atau “Jadilah” adalah hal yang ditawarkan Fitri, bahwa ternyata peristiwa sehari-hari di dunia tetap menggoda. Kemerduan bunyi baris puisinya juga indah dan merdu. Baca bait pertamanya, indah bukan?
Pada puisi lainnya, seorang Eli Sobikah, menulis dengan kejujurannya “Aku Islam Abangan” yang membuat pembacanya akan terdedah rasa hati, dan terjaga kesadarannya. Setidaknya, banyak manusia kita, masih seperti yang dikatakan Eli. Sangat sederhana, tapi memuat banyak makna bagi pembacanya. Kita simak puisinya:

Eli Sobikah
AKU ISLAM ABANGAN

Aku Islam tapi masih abangan
Aku percaya Allah adalah Tuhan
Tapi mengapa aku memberi sesajen
Pada pohon tua yang penuh syaitan
Aku Islam tapi masih abangan
Aku tahu Muhammad sebagai anutan
Tapi mengapa aku patuh pada dukun
Pada saat menjalani semua kehidupan
(Jagad Berkata-kata, halaman 42)


Puisi jujur yang lain, ditulis Gressi Tania Ayu, yang bicara wajar dan apa adanya. Jujur itulah mutiara. Kita baca puisinya:

Gressi Tania Ayu Dewi Rantau S.
TERI

Akulah teri
Seorang yang tak ada apa-apanya
Hanya seorang yang kecil
Tak berpengetahuan
Hanya bermodalkan keberanian
Menampakkan diri dengan tulisan
Yang tak beraturan
Kacau, tak berirama
Dengan ungkapan yang polos
Itulah aku
Yang tak pantas bersanding dengan pujangga sastra
Sekalipun dalam mimpi
(Jagad Berkata-kata, halaman 5)


Puisi Mbeling

Membaca puisinya Faisol Hidayatulloh AF berjudul Omong = 0 saya jadi teringat puisi mbelingnya Remy Sylado. Sederhana, tapi membuat pembacanya terjaga. Terjaga dalam arti membenarkan puisi mbeling itu.
Saya adalah orang yang berangkat dari puisi mbeling itu. Puisi pertama saya yang termuat juga puisi kategori ‘mbeling’. Saat itu, termuat di Majalah ‘Top’ Jakarta tahun 1975. Puisi saya berjudul ‘Bendera’. Sedangkan larik dan barisnya sangat sederhana. Secara lengkap saya kutipkan naskah itu.

aming aminoedhin
BENDERA

Merah
Putih
Biru
Hilang paling bawah
Indonesiaku

1975.

Puisi Faisol di bawah ini juga termasuk kategori puisi mbeling. Mbeling ide kreatifnya, tapi juga memuat pesan yang benar di kandungnya. Menurut Faisol, bahwa ketika kita banyak ngomong, hasilnya adalah nol. Atau ketika seseorang hanya omong-omong, dan omong saja, maka yang dikatakan adalah tanda kosong. Ini terbukti, bahwa banyak rekan kita yang ‘ngomong doang’ tapi tak pernah bekerja. Kerjanya yang ‘omong’ itu. Kita simak puisinya:


Omong = 0

(Wah gak mau tampil puisimu, Sol! Maaf, agak gaptek!)

(Jagad Berkata-kata, halaman 14)

Puisi mbeling yang lain, menurut saya adalah tulisan Diana. Bahkan judul puisinya pun dengan angka, bukan kata. Tapi ada yang dipesankan kepada kita pembacanya, bahwa kita manusia, yang berawal dari 1 dan 2. Satu mewakili ayah, dan dua mewakili Ibu. Benarkah? Tanyakan pada penulisnya?


Diana
1.2

Bila kita menjadi
Tentu tak ada dua
Bila kita menjadi
Tentu masing-masing tak mendua
Bila kita menjadi
Tentu takkan ada angka setelah itu…!!
Satu titik dua
Manusia selalu ada
(Jagad Berkata-kata, halaman 24)


Kategori puisi mbeling yang lain, ditulis Miftaqul HF, sederhana tapi mengandung makna. Kita simak saja:



Miftaqul Huda Firmansyah
AWAL BELUM BERAKHIR

kata berawal dari
A
B
C
Angka berawal dari
1
2
3
Musik berawal dari
Do
Re
Mi
Kisahku berawal dari
Panggung
dan
Sepi-ku

(Jagad Berkata-kata, halaman 11)


Lantas ada juga termasuk mbeling berjudul 'Sepuluh' pada halaman 100 yang ditulis oleh Ainul Yaqin. Hanya saja main-main angkanya itu tak tertebak oleh sang pembaca. Minimal saya, sulit menangkap pesan yang dikandungnya.

Format Buku dan Tata Letak
Seperti saya katakan di muka, bukunya apik dan menarik. Hanya saja format ukuran akan lebih cantik jika diperkecil, 20 X 13 sentimeter. Tata letaknya, sudah baik, hanya konsistensi spasi tiap puisi tidak sama, begitu juga font hurufnya, sehingga agak mengganggu pembaca. Coba kita lihat puisi pada halaman 7, 86, 88, 90, serta halaman 28 fontnya lebih besar dari yang lain.
Jika dicari salahnya lagi, judul buku 'Jagad Berkata-Kata' tidak konsisten dengan puisinya yang termuat di halaman 60, yang menulisnya dengan 'Jagat Berkata-kata'. Penulisan kata 'jagad' pada puisinya bertuliskan 'jagat' pakai konsonan 't'. Nah... ini juga mengganggu.
Kelemahan yang lain, jika harus dicari salahnya, adalah sang editor tidak menyertakan biodata penyair atau penulisnya. Sehingga tidak diketahui persis usia berapa mereka menulis puisi. Akan lebih lengkap, apabila disertakan pula aktivitas yang pernah dilakukan penyair tersebut. Lantas ada pula, salah yang agak ironis, ketika buku itu tak menuliskan angka tahun pembuatan/penerbitan buku. Bahkan dalam buku itu, tak ada satu pun angka 2010, yang mana buku ini telah diterbitkan. Sayang!
Tapi itu hanya kesalahan, dan kekurangan yang teramat kecil saja. Ada yang lebih besar dari hal itu, yaitu kemauan, keberanian, vitalitas, dan kreativitas yang tak terbatas, karena mau mengumpulkan dan menerbitkan buku puisi itu. Selamatlah!

Penutup
Barangkali itulah yang bisa saya tulis dalam bahasan tentang kumpulan “Jagad Berkata-kata” ini, tentu banyak lemahnya. Kajiannya, memang tanpa teori. Maaf! Sebab selama ini, saya memang kurang pas dengan berbagai teori. Bahkan, ketika lulus sekolah sastra, saya mencoba membuang semua teori tentang sastra. Sekali lagi maaf!
Selamat datang di dunia angan dan bayang-bayang. Masihkah kalian semua bimbang? Menulis memang kerja sambilan, tapi jika kita mau serius, barangkali cukup menjanjikan. Selamat datang!
Yang harus diyakini adalah bagaimanakah kita tetap mau menulis untuk berproses menjadi penyair itu. Belajar menulis, menulis lagi, dan menulis tanpa henti. Insya Allah, segala damba akan tergapai nanti. Seperti pedoman saya dalam penulisan (termuat di blogger dan fb saya), “berbekal yakin pasti, berpayung iman nan suci, berusaha sepenuh ikhlasnya hati, lantas berdoa tanpa henti, insya allah segala damba segala cita, bahkan cinta akan tergapai nanti.”
Sukses buat komunitas sastra STKIP PGRI Jombang! Sukses buat Cak Imam Ghozali yang telah menebarkan virus sastra ini. Terima kasih rekan-rekan semua, yang percaya pada Aming Aminoedhin, untuk bicara. Sekali lagi, optimis tinggi adalah kunci. Semoga rintisan dengan itikad baik ini akan membuahkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat.
Atas semua bahasan di atas, rekan-rekan boleh bersetuju atau tidak bersetuju, tapi saya bicara dengan itikad baik agar sastra terus melaju laju di kotamu, Jombang Beriman itu. Lantas, mari kita dialog sastra! Betapa pun sederhananya. Mari!
Salam sastra!

Desaku Canggu, 13 Januari 2010 Aming Aminoedhin, sang penyair

Senin, 11 Januari 2010

PUISI-PUISI AMING AMINOEDHIN

Puisi-puisi Aming Aminoedhin
yang termuat di Jawa Pos Minggu, 10 Januari 2010.



aming aminoedhin
KUSIMPAN KANGEN INI

kusimpan kangen ini
kusimpan. ternyata aku tak bisa
tak bisa tak membuka
dan kubuka hati

membaca tanda atas status tertera
barangkali hanya kata usang
tak berubah, hingga petang
telah tiba kini

lama nian tak bersua
lantaran jarak mendinding antara
tapi dunia maya, antarkan
semua bisa bicara. ada sesuatu
begitu menggoda. lalu .........
sepi. begitu sepi, dan barangkali
hanya sejumlah doa
terucap tanpa terasa

ada sesuatu terkadang bisa lupa
ada sesuatu terkadang menghadang
termasuk jarak lokasi dan waktu
ada juga sebersit rasa ingin memburu
tapi hanya mimpi angan yang sirna
ditelan jarak dan waktu itu

kangen, bikin hidup kian gairah
meski mungkin hanya desah
ah......
kangenku kusimpan di ujung resah
pada hujan petang yang basah!

canggu, desember rain 2009

aming aminoedhin
GERIMIS TELAH HABIS

bila sesuatu kadang lupa
tak harus ada curiga
gerimis telah habis pada senja
ketika aku bersiap menangis
pada sesuatu terlupa

barangkali gerimis menipu kita
tanda setujunya berpuluh tahun lalu
hanya sekedar kata-kata
tak pernah ada. tak pernah ada
tanpa ada ujung dan juntrungnya

tapi gerimis telah habis
aku kehilangan angan menulis
senja berdiri hanya sunyi
selebihnya langit hitam
lorong jalanan, tak ada orang
lalu-lalang. begitu menakutkan

jarum jam tak bergerak
seperti aku dan kau
dibatasi waktu dan jarak

Siwalanpanji, 10 /12/ 2009

aming aminoedhin
MELANGKAH KE SURAU ITU

gerimis siapakah itu
membentur pada dinding waktu
senja memang telah berlalu
tinggal gerimis, dan kerdip lampu-lampu
dibalut kabut terasa syahdu

gerimis siapakah itu
mengetuk pintuku lantas berlalu

disc musik mozart mengalun
antarkan senja pada rembang petang itu
kadang menghentak kadang syahdu
membalutbangunkan angan rinduku
ada juga suara adzan terdengar
sayup-sayup di kejauhan
ajak langkahku menuju surau itu, lalu
kubunuh mozart menghentak syahdu

gerimis belum juga habis
kucari payung tak kutemu juntrung
gerimis terus saja jatuh
tak harus membuat hatiku kisruh

jika ada rinduku bertumbuh
biarkan tumbuh di surau-Mu

gerimis boleh menghadangku
tapi langkah rinduku tetap bermuara
pada-Mu, kaki melangkah ke surau itu

Desaku Canggu, 10 /12/ 2009

aming aminoedhin
TENTANG GURITA ITU


penghujung tahun langit warna kelabu
ada gurita bernama buku
mengganggu langkah
setiap jaga-tidur rakyatmu
tapi langkah bisa tak terarah
angin demokrasi telah berhembus
tak perlu risau atas semua itu

tahun baru perlu ada buku baru
barangkali bukan tentang gurita
tapi bisa tentang paus, raja-diraja ikan
yang berkuasa di samudra

tahun lalu biarkan berlalu
kita berbenah di tahun baru
menulis buku tanpa mengganggu
tidur-jaga rakyat yang berseteru
menulis buku demokrasi bukan democrazy
menulis buku politik bukan sekedar kritik
menulis buku tentang cinta sesama, lantas
menulis buku yang bermuara
atas kebesar-esaan-Mu

Mojokerto, 27/12/2009

Jumat, 08 Januari 2010

malsasa 2009 sukses pentas

Meriah dan Sukses!
PENTAS KESEMBILAN
MALSASA 2009 DI TBJT SURABAYA

Banyak bintang tamu ikut tampil baca puisi
• Dimeriahkan Sanggar Alang-alang – Didiet Hape

Catatan : Aming Aminoedhin


           Angka sembilan merupakan angka terbesar nilainya, dibandingkan angka delapan, tujuh dan seterusnya. Tapi adakah angka sembilan pada pesta Malam Sastra Surabaya 2009 tahun ini benar-benar akan yang terbesar dalam perhelatannya? Sebuah tanya yang barangkali kita semua baru bisa menjawabnya, setelah pentas benar-benar digelar.
           Hanya saja bahwa ketika pada tahun ini, 2009, acara Festival Seni Surabaya (FSS) dan Festival Cak Durasim (FCD) tidakdiselenggarakan, praktis acara sastra yang berlevel Jawa Timur berkurang. Karena kedua festival tersebut, biasa mengusung kegiatan sastra pada kedua aktivitasnya. Setidaknya kegiatan sastra yang melibatkan banyak penyair atau cerpenis sastra Jawa Timur beraktivitas (menonton acaranya atau ikut terlibat jadi panitianya), serta ikut tampil dan baca sastra, tidak ada lagi.
               Sejalan dengan persoalan inilah, maka saya bersama komunitas FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya), mencoba kembali menggelarpentaskan “Malsasa 2009” atau malam sastra Surabaya, betapa pun pahitnya. Karena kegiatan sastra yang didanai sendiri, hampir semua orang tahu pasti, adalah sebuah kegiatan yang merupakan projek merugi. Kegiatan ini pun, masih seperti tahun-tahun sebelumnya, membuat buku dan pentas sastranya, didanai secara patungan (urunan dana) oleh para penyair dan pengguritnya. Adanya Malsasa 2009 ini, sekaligus untuk menjawab atas tidak adanya kedua festival yang sudah cukup dikenal masyarakat Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Setidaknya ada sedikit angin segar yang akan mewarnai peta sastra Surabaya dan Jawa Timur.

Malsasa 2009 digelar pada penghujung tahun 2009, tepatnya 29 Desember 2009, bertempat di pendapa Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya. Diawali dengan sambutan Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Sabrot D. Malioboro. Lantas penyair, Aming Aminoedhin, sang penggagas Malsasa, sedikit memberikan cerita tentang sejarah awal kegiatan Malsasa yang digelar sejak tahun 1989 hingga tahun ini. Dilanjutkan kepala Taman Budaya Jawa Timur, Drs. Karsono M.Pd., memberikan sambutan, dan sekaligus membaca salah satu puisi karya penyair yang ada dalam kumpulan guritan dan puisi Malsasa 2009.

Malsasa 2009 juga dimeriahkan oleh komunitas anak-anak “Sanggar Alang-Alang” pimpinan Didiet Hape, yang menyuguhkan komposisi angklung versi Jawa Timuran. Kata Didiet Hape, bahwa komposisi ini memang digarap dengan media angklung yang ada di Jawa Timur, yaitu angklung Banyuwangi, Ponorogo, dan Tengger-Bromo, Probolinggo. Ketiganya diramu dan kemudian ditampilkan apik di hadapan penonton Malsasa, malam itu. Lengkap pula dengan dua anak-gadis menari yang melanggak-lenggok dengan gemulainya. Sungguh sebuah seni pertunjukan yang menawan.
Malsasa 2009 benar-benar sebuah pentas sastra yang cukup menarik dan enak dinikmati. Tak urung, Arek Teve Surabaya dan Radio Suara Surabaya, juga meliput atas gelaran Malsasa tahun ini.
Setelah Drs. Karsono, membuka dengan baca puisi; dilanjutkan dengan beberapa penyair dan penggurit tampil membacakan puisi dan guritannya. Ada Tengsoe Tjahjono, Sabrot D. Malioboro, Suharmono Kasijun, Aming Aminoedhin, Bonari Nabonenar, Widodo Basuki, AF Tuasikal, W. Haryanto, Hardho Sayoko SPB, Kusprihyanto Namma, Akhudiat, Herry Lamongan, Bambang Kempling, Pringgo HR, dan Budi Palopo.

 


  Sayang beberapa nama yang seharusnya ikut tampil harus absen, mereka itu: Anas Yusuf dan Beni Setia (Madiun), Samsudin Adlawi (Banyuwangi), R. Giryadi dan Rusdi Zaki (Sidoarjo), Fahmi Faqih, Ribut Wijoto dan Tan Tjin Siong (Surabaya), Bagus Putu Parto dan Puput Amiranti (Blitar), serta JFX Hoery (Bojonegoro). Namun demikian, ketidakhadiran mereka, tidak mengurangi semaraknya pentas Malsasa 2009 malam itu, karena ada beberapa bintang tamu yang banyak tampil malam itu: Pribadi Agus Santosa (mantan Kepala TBJT), Yudho Herbeno (penyair kawakan Surabaya), Alfiana Latief (guru dari SMAN 3 Ciamis-Jabar), Arieyoko dan Gampang (Bojonegoro), Aan Tjandra Anie Asmara dan Yanto (Surabaya).

Gaya baca puisinya pun berbeda-beda, Aming yang menghipnotis audiensnya. Sabrot baca datar tapi cukup menarik. Akhudiat, sebelum baca puisi malah berorasi. Kata Diat, ketika zaman sudah tanpa batas, campur bawur informasi yang tiada henti, Aming tetap mengajak baca puisi. Bahkan mungkin, kata Diat, ketika datang seperti zaman seperti Nabi Nuh, semua pulau tenggelam, maka Aming tetap baca puisi. Lantas dengan santainya, Diat membaca dua judul puisinya.
 
             Lain Aming, Diat, dan Sabrot, Widodo Basuki sang penggurit, sebelum baca gurit melantunkan sepenggal tembang Jawa yang berupa doa. AF tampil bacakan puisinya Fahmi Faqih, selain baca dua puisinya sendiri. Sedang penggurit yang lain, Bonari Nabonenar, tidak baca gurit, tetapi malah mengajak rembugan setelah acara pentas Malsasa. Tapi, apa lacur, dia malah menghilang duluan, sedang yang lain masih rembugan.
Tiga penyair asal Lamongan, Bambang Kempling, Herry Lamongan, dan Pringgo HR tampil biasa saja. Kecuali Pringgo agak tampak memberi muatan seni dalam pembacaan puisinya. Kota Blitar, diwakili W. Haryanto baca dua puisinya, dan kota Malang, tampil Tengsoe Tjahjono yang juga dosen Unesa, tampil menarik di depan audiens yang lesehan memenuhi di pendapa Taman Budaya Jawa Timur itu.
Seperti juga Diat, Budi Palopo, tampil baca puisi dengan mengawali orasi dulu. Bicara soal keris dan semacamnya. Tapi Budi tampil apik dan menarik.
Sungguh pentas Malsasa 2009 ini cukup memuaskan para audiens yang hadir malam itu.


Mengenang Malsasa

                     Ketika kita mau mengenang Malsasa-Malsasa sebelumnya, maka kita akan mencatat nama-nama pengarang seperti: Hardjono WS, Akhudiat, Tengsoe Tjahjono, Tjahjono Widarmanto, Robin Al-Kautsar, Mh. Zaelani Tammaka, W. Haryanto, S. Yoga, Sirikit Syah, Adi Setijowati, Ida Nurul Chasanah, Debora Indrisoewari, Puput Amiranti, Suhandayana, Zoya Herawati. L. Machali, HU Mardiluhung, Tan Tjin Siong, Tubagus Hidayathullah, Surasono Rashar, Poedwianto Arisanto, Sigit Hardadi, Saiful Hadjar, Saiful Bakri, Arief B. Prasetyo, M. Shoim Anwar, Leres Budi Santosa, Mashuri, Jil Kalaran, Roesdi-Zaki, Redi Panuju,adalah nama-nama yang pernah ikut tampil di Malsasa.
                     Pada awalnya Malsasa hanya melibatkan penyair saja, lantas pada perkembangannya Malsasa juga melibatkan penggurit, bahkan juga cerpenis dalam buku Malsasa tersebut.
Sedangkan pada gelaran pentas Malsasa 2009, melibatkan 26 penulis sastra (pernyair dan penggurit) yang akan tampil akhir tahun 2009, di Taman Budaya Jatim. Nama-nama yang akan tampil adalah: AF Tuasikal, Akhudiat, Anas Yusuf, Aming Aminoedhin, Bagus Putu Parto, Bambang Kempling, Bonari Nabonenar, Budi Palopo, Beni Setia, Fahmi Faqih, Hardho Sayoko SPB, Herry Lamongan, J.F.X. Hoery, Kusprihyanto Namma, Tan Tjin Siong, Tengsoe Tjahjono, Rusdi Zaki, Ribut Wijoto, R. Giryadi, Sabrot D. Malioboro, Samsudin Adlawi, Suharmono Kasijun, Pringgo HR, Puput Amiranti, W. Haryanto, dan Widodo Basuki.
            
             Harapan pentas Malsasa ini adalah menjawab atas kurang adanya aktivitas sastra berlevel Jawa Timur pada tahun ini, dan sekaligus menumbuhkembangkan kembali pentas sastra di depan masyarakatnya. Karena sastra, tanpa sosialisasi secara pentas sastra semacam ini, kurang ada gaungnya. Meski saya sadar, bahwa tidak selamanya karena sosialisasi pentas sastra, mesti berhasil. Mesti bergaung! Tidak! Tidak selamanya!
              Kegiatan ini juga diharapkan memicu kreativitas dan aktivitas penyair-penyair muda lainnya untuk juga tampil, dan sekaligus membuat kegiatan semacam Malsasa di waktu lainnya. Artinya, bahwa penyair muda Jawa Timur, haruslah juga mempunyai greget bersastra melebihi penyiar-penyair terdahulu. Semoga!
Kembali ke awal tulisan, yang mempertanyakan kebesaran pentas Malsasa 2009. Angka sembilan merupakan angka terbesar nilainya, dibandingkan angka delapan, tujuh dan seterusnya. Tapi adakah angka sembilan pada pesta Malam Sastra Surabaya 2009 tahun ini benar-benar akan yang terbesar dalam perhelatannya?
Jawabnya, memang selama Malsasa digelar dari waktu ke waktu, Malsasa ke-9 ini memang yang paling meriah. Selain banyak bintang tamu hadir dan tampil, juga ada tampilan "Sanggar Alang-Alang" yang tampil menawan. Sanggar Alang-alang pimpinan Didiet Hape, menyumbangkan seni pertunjukan angklung Jawa Timuran yang tampil apik dan menarik, bahkan menyemarakkan malam sastra kian mempesona. Lepas tampilan malam itu, komunitas ini, langsung ke Denpasar – Bali, untuk tampil pada malam tahun baruan di pulau Dewata.
Apakah Malsasa kesepuluh nanti masih bisa digelar kembali? Apakah angka sepuluh seampuh angkanya? Wallahu alam bissawab!
Tinggal apakah kita semua bisa tetap bersinergi untuk urunan kembali menggelar Malsasa tahun 2010 dengan suka cita. Mari! Mari bersinergi!

** Desaku Canggu, Penghujung Desember nan Basah 2009

Rabu, 09 Desember 2009

MENGGELAR MALSASA 2009

MALSASA 2009 MAU DIGELARPENTASKAN

Mereka yang akan tampil baca puisi dan guriit adalah: AF Tuasikal dengan puisi: Suara Liar Terdengar, Seliweran Kata, Selepas Kata; Akhudiat yang biasa dipanggil nama bekennya Cak Diat, akan baca: Keindahan Ada Di Mana-mana, Takziah Bagi Pornografer dan Rindu Padamu. Sementara penggagas Malsasa, Aming Aminoedhin akan tampil membaca: Surabaya Kian Melaju Maju, Di Atas Bus Surabaya-Malang, dan Kereta Hati.

Penyair asal Madiun, Anas Yusuf juga akan ikut tampil baca sajaknya bertajuk: Aku Hanya Ingin Mendengarkan Sungai, Pelarianku Menuju Hutan, Lanskap Senja Penyair. Sedangkan penyair yang se-kota dengan Anas Yusuf, berasal dari Caruban, Beni Setia, akan membaca puisi: Cempaka, Melati dan Cendana, Surga Edisi Harian, The Oldman’s Blues. Penyair yang kini jadi juragan roti, Bagus Putu Parto, menulis dan bacakan: Bung Karno-Bung Hatta, Kirim Kami Somasi!, Sajak Anak Negeri Tentang Proklamasi, dan i Manakah Kau Indonesiaku?

Kawan penyair asal Lamongan, Bambang Kempling, tampil dengan: Bertandang Kepada Angin, Pada Yang Tak Bernama, Kesunyian Mengantarmu. Sementara dedengkotnya Kostela Lamongan, Herry Lamongan malah mengirimkan guritnya yang bertajuk: Sigeg Ing Bumi, Winih Katresnan, Mendhung Klawu Ing Kendal Kemlagi. Penggurit Bonari Nabonenar, membacakan guritnya: Sajroning Sepi, Peteng, Sang Andon Laku; dan Widodo Basuki, penggurit yang pernah dapat Rancage akan bacakan: Kucing Ireng Lan Lakon SenopatI, Ritus Kelairan, Sangkan. Seorang dedengkot PPSJS (karena lama jadi Ketua PPSJS) penggurit Suharmono Kasijun akan membacakan: Ing Desa Ora Ana Apa-Apa, Ing Sendratari Ramayana. Penggurit asal Bojonegoro, J.F.X. Hoery baca guritnya: Kukuben Kabeh Kang Sumawur, Dhuh Gusti Punapa Karsa Paduka, Nalika Srengenge Ambyar Ing Plataran. Penyair dan sekaligus penggurit Budi Palopo akan membacakan: Kutabuh Rebana, Gurit Manohara, Senyum Sang Jenderal.

Fahmi Faqih, seorang penyair yang malang-melintang Surabaya-Bandung, dan terkadang Jakarta, serta Banjarmasin ini, akan membaca puisinya: Malmo, dan Perempuan Yang Menunggu, Surat Tak Bertanggal, Aku Tak Percaya. Dua orang penyair asal kota sepi Ngawi, Hardho Sayoko SPB akan baca Menjelang Fajar Penghabisan, Setelah Hingar Tinggal Sisa Gema, Sepanjang Pinggiran Hutan Jati, dan temannya Kusprihyanto Namma, akan membacakan: Suatu Siang, Untuk Hanifa Pandanarum, Catatan Tahun 2007.
Pringgo HR, penyair yang guru di Lamongan, akan membacakan: Sajak Ulang Tahun, Malam Depan Kalimas Hotel, Mengkhianati Siang. Begitu pula penyair guru, dan satu-satunya penyair perempuan yang tampil di Malsasa 2009, adalah Puput Amiranti akan bacakan:
Mustikawati, Another Day In Paradise, Mudik.

Penyair yang wartawan, dan bergiat pula di dunia teater, R. Giryadi, akan ikut tampil baca: Hari Ini Aku Mengembara, Sajak Bisu Buat Ibu, dan Bluto. Sedang penyair yang juga wartawan, Ribut Wijoto bacakan: Harga Beras, Cicak, dan Kenangan Yang Dilumuri Matahari. Begitu pula, Samsudin Adlawi, wartawan Banyuwangi ini, akan bacakan: Rumah Sepi, Pemakaman Botol-Botol, Awan Hitam.
Penyair lain yang akan tampil, adalah dari Bengkel Muda Surabaya (BMS) Sabrot dan Rusdi Zaki. Dosen yang penyair ini, Rusdi Zaki akan bacakan: Kemerdekaan Adalah, Waspadalah, Manyar Kertoarjo. Sabrot D. Malioboro-nya akan bacakan: Ibu Tanpa Potret, Bulan Berlayar, Tembaga. Penyair yang cerpenis juga, Tan Tjin Siong akan bacakan puisinya berjudul: Kerinduan I, Kerinduan II, Tentang Lagu-Mu. Sedangkan Tengsoe Tjahjono, akan baca puisi: Sebatang Rokok, Tak Ada Yang Menakdirkanmu Jadi Tikus, Bukit.
Lelaki yang kebetulan istrinya ikut pula Malsasa 2009 ini adalah W. Haryanto, akan bacakan: Keputran 2020, Masjid Dekat Tikungan, Acil+Chusnul=Segitiga.

Gelar pentas Malsasa 2009, akan dijadwalkan melibatkan 26 penulis sastra (pernyair dan penggurit) yang akan tampil (Insya Allah 17 Desember 2009, di Taman Budaya Jatim), jika tidak ada perubahan jadwalnya. Nama-nama yang akan tampil adalah: AF Tuasikal, Akhudiat, Anas Yusuf, Aming Aminoedhin, Bagus Putu Parto, Bambang Kempling, Bonari Nabonenar, Budi Palopo, Beni Setia, Fahmi Faqih, Hardho Sayoko SPB, Herry Lamongan, J.F.X. Hoery, Kusprihyanto Namma, Tan Tjin Siong, Tengsoe Tjahjono, Rusdi Zaki, Ribut Wijoto, R. Giryadi, Sabrot D. Malioboro, Samsudin Adlawi, Suharmono Kasijun, Pringgo HR, Puput Amiranti, W. Haryanto, dan Widodo Basuki.
Gelar pentas Malsasa ini adalah menjawab atas kurang adanya aktivitas sastra berlevel Jawa Timur pada tahun ini, dan sekaligus menumbuhkembangkan kembali pentas sastra di depan masyarakatnya. Karena sastra, tanpa sosialisasi secara pentas sastra semacam ini, kurang ada gaungnya. Meski saya sadar, bahwa tidak selamanya karena sosialisasi pentas sastra, mesti berhasil. Mesti bergaung! Tidak! Tidak selamanya!
Mengakhiri tulisan esai pendek ini, ijinkan saya mengutip potongan akhir puisi berjudul Keindahan Ada di Mana-mana karya Akhudiat, yang termuat di Malsasa 2009 halaman 6, yang berbunyi:

.............................................
Bersama kita buka majelis puisi ini
Selamat menikmati


Selamat bermalam sastra Surabaya bagi penikmat sastra Surabaya dan Jawa Timur, serta kawan-kawan yang ikut berpesta Malsasa 2009!@ @***


Desaku Canggu, Desember Rain 2009

Kamis, 12 November 2009

SEMINAR SASTRA BOJONEGORO

seminar sehari pengajaran bahasa dan sastra indonesia
DI MGMP BI BOJONEGORO

Menulis dan membaca sastra (khususnya: puisi) tidak mudah, maka Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia se-Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Seminar Sehari Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bertempat di aula SMAN 3 Bojonegoro, acara itu digelar, dengan menghadirkan Aming Aminoedhin (penyair) dan Tjahjono Widarmanto (Guru SMAN 2 Ngawi, sekaligus praktisi sastra).
Acara yang diketuai oleh Gus Jalil (Guru SMAN 1 Bojonegoro)itu, berlangsung Sabtu, 7 November 2009, diikuti sekitar 85-an peserta; yang terdiri dari guru dan mahasiswa yang peduli akan sastra Indonesia.
Menarik pula untuk dicatat, bahwa acara itu dihadiri oleh Bupati Bojonegoro, dan bahkan ikut membaca puisi. Bupati yang peduli semacam ini, memang jarang terjadi, tapi masyarakat kabupaten Bojonegoro, bolehlah berbangga hati. Karena Bupati masih peduli dengan seni, dan bahkan bahasa dan sastra, yang kebanyakan orang (baca: pejabat) tidak mau peduli.
Selain seminar yang saat diskusinya cukup hangatdengan ditandai peserta antusias bertanya soal sastra tersebut, acaranya diawali dengan pemberian hadiah kepada para siswa pemenang lomba baca cerpen dan menulis esai bagi siswa se Kabupaten Bojonegoro. Lomba-lomba tersebut dilangsungkan beberapa hari sebelumnya oleh MGMP BI Bojonegoro, kerja sama dengan wartawan, dan sponsorship.
Tradisi lomba menulis dan baca cerpen tersebut adalah cukup membanggakan, dan seharusnya diselenggarakan secara kontinyu, agar para siswa akan lebih cerdas dan punya banyak wawasan kreatif. Setidaknya, MGMP BI Bojonegoro dalam rangka Bulan Bahasa 2009 telah melangkah berbuat yang terbaik bagi negerinya Bojonegoro. Semoga upaya kreatif, kompetitif, dan positif ini akan terus bisa berlangsung setiap tahun. Semoga!
Kegiatan seminar sehari yang mendatangkan praktisi sastra, semacam kedatangan Aming Aminoedhin dan Tjahjono Widarmanto (penyair) akan menambah wawasan lebih banyak bagi para guru dalam pengajaran sastra di sekolah.
Membaca dan menulis puisi memang tidak mudah, tapi upaya mendatangkan penyair (praktisi sastra) berbicara di depan para guru dalam seminar itu, setidaknya bisa menjawabnya. Meski tidak semuanya akan bisa terjawab semua. Selamat dan sukses MGMP BI Bojonegoro! (mat).

Senin, 02 November 2009

LAMONGAN ART

AHAD, WE DAN AMING BACA PUISI DI LAMONGAN ART

Sabtu dan Minggu, 31 Oktober dan 1 November 2009, di markasnya Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Jalan Lamongrejo (Timur Aloon-aloon Kota)Lamongan, telah digelar acara dialog sastra. Hari Sabtunya, ada tampil Tengsoe Tjahjono, IndraTjahyadi, dan Mashuri; berdialog dengan masyarakat sastra, dan para guru-guru Bahasa Indonesia. Sedangkan hari Ahadnya, 1 November 2009, tampil baca puisi Aming Aminoedhin dan W. Haryanto. Selepas acara baca-baca puisi (termasuk Cak Sonhaji, ketua DKL; Herry Lamongan, biro sastranya, dan Javed, sastrawan muda Lamongan)dilanjutkan dengan dialog sastra yang ada di Jawa Timur. Puisi-puisi yang dibacakan adalah dari antologi puisi yang berjudul "Kidung Tanjung" terbitan DKL 2009, memuat sejumlah puisi karya para penyair: W. Haryanto, Aming Aminoedhin, Tengsoe Tjahjono, Kusprihyanto Namma, Indra Tjahyadi, dan Mashuri. Pengantar buku 'Kidung Tanjung' yang ditulis Herry Lamongan, sebagai biro sastra, mengatakan, "Kehadiran seniman tamu dalam hal ini (Lamongan Art) diharapkan akan memacu kreativitas dan semangat berkarya para seniman Lamongan."
Dalam dialog sastra siang itu, dibicarakan pula soal bagaimana menulis puisi bagi pemula, bagaimana sastra mengangkat budaya lokal, apa saja yang harus dikembangtumbuhkan dalam belajar menulis sastra puisi. Lantas ada pula yang bicara soal sastra yang penulisnya menipu diri. Artinya, menulis puisi tanpa kejujuran hati kejujuran nurani. Padahal kejujuran nurani dan hati dalam menulis puisi adalah kunci!
Tampak hadir beberapa sastrawan dan pelukis muda Lamongan pada acara dialog sastra siang itu. Tampak juga penyair: Pringgo HR, Bambang Kempling, dan Dosen Sutardi; serta beberapa rekan dari Kostela.
Selain tampilan sastra, ada juga pameran lukisan yang bertajuk "Estetika Pelangi" yang diikuti 23 pelukis Lamongan. Pameran seni rupa ini digelar di Tribun Aloon-aloon Kota Lamongan dari 29 Oktober hingga 1 November 2009.
Sungguh suatu aktivitas seni yang perlu diacungi jempol tinggi-tinggi, lantaran Lamongan Art telah digelar beberapa kali, secara kontinyu setiap tahun sekali. Sukses buat teman seniman Lamongan. Sukses akan selalu mengiringi! Semoga! (mat)

Senin, 19 Oktober 2009

TEMU SASTRA JATIM

temu sastra jatim 2009
di kantor budpar jatim


selama dua hari, 13-14 oktober 2009 lalu, ada 'temu sastra jatim' di kantor kebudayaan dan pariwisata jawa timur, jalan menanggal, surabaya. ada 15 penyair tampil baca puisi, di antaranya: af tuasikal, aming aminoedhin, w. haryanto, tengsoe tjahjono, tjahjono widarmanto, s. yoga, dan banyak lagi.
sebagai pembicara tampil: beni setia (caruban, madiun), dan tjahjono widijanto (ngawi) membahas perkembangan kepenyairan jawa timur.
selain 15 penyair tampil dan 2 pembahas bicara, diundang pula beberapa penyair dan pemerhati sastra dari seluruh jawa timur. kegiatan temu sastra ini adalah yang keempat, dan akan diagendakan setiap tahun diselenggarakan, demikian kata bagus purnomo,kabid seni dan perfilman dinas kebudayaan pariwisata jatim, dalam sambutan pembukaannya.
r. giryadi, sebagai pemrakarsa kegiatan ini, meyakinkan akan ada penilaian buku sastra pada tahun mendatang, pada acara yang sama. demikian dikatakan giryadi, saat menutup acara. maka perlu kiranya, penyair kini membuat buku kumpulan puisi, tandasnya!(mat).

Selasa, 06 Oktober 2009

MEMBANGUN NEGERI PORSENI

MEMBANGUN NEGERI PORSENI
karya : aming aminoedhin

Mentari pagi ini begitu indah di timur memerah
Seindah wajah kita akan bertempur
Menorehkan catatan sejarah
Pada sepekan di negeri porseni Jawa Timur ini

Negeri Jawa Timur negeri nan makmur
Para siswanya pandai berolah raga
Pandai pula mengolah komposisi artistik seni
Untuk diadu, digelar dalam ajang negeri porseni

Negeri porseni adalah negeri kibar bendera
Berwarna-warni indah di mata indah di hati
Negeri porseni adalah ajang saling tantang di gelanggang
Negeri suara-suara genderang berdentang
Negeri porseni adalah negeri menantang
Siapa unggul akan jadi pemenang

Tapi negeri porseni tidak hanya itu, saudaraku
Porseni juga ajang bersahabat, ajang saling berjabat
Mengakui keunggulan lawan tanpa menggerutu
Men sana in corpore sano
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat

Senja meremang, mentari akan tenggelam
Indah sinar-merahnya adalah sugesti bagi kita
Dengan membangun negeri porseni kami semua
Berucap terima kasih kepada Bapak Rasiyo
Terima kasih pula kepada Bapak Imam Utomo
Jayalah porseniku
Jayalah Jawa Timurku
Jayalah negeriku, Indonesia tercinta

Surabaya, 23 Juli 2006

Catatan:
Instruktur: Fauzi, praktisi teater (Guru Bahasa Indonesia SMAN 6 Surabaya. Penulis Puisi: Aming Aminoedhin, penyair (Balai Bahasa Surabaya.
Peserta Musikalisasi Puisi: Para siswa SMPN 1, 3 dan 4, SMAN 5, serta SMP Stanislause Surabaya; sekitar 30-an peserta dan 7 pemusik. Puisi tampil di pembukaan PORSENI SLTP JATIM 2006.

Minggu, 27 September 2009

MENGEJAR PRESTASI

MENGEJAR PRESTASI
karya: aming aminoedhin


Langkah-langkah melaju maju
Lari seribu mengejar mimpimu
Berdetak langkah melompat harap
Berderap lari meraih tercepat

Pekan Olahraga Jawa Timur
Wadah bersahabat, ajang saling berjabat
Akui keunggulan lawan tanpa menggerutu
Akui kekalahan jika lawan lebih bermutu
Men sana in corpore sano
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa nan kuat

Pekan Olahraga Jawa Timur
Ajang gelorakan olahraga bagi masyarakat
Ajang gelorakan masyarakat berolahraga

Pekan Olahraga Jawa Timur
Ajang saling tantang di gelanggang
Bersama suara-suara genderang berdentang
Bersama kibar bendera warna-warni melayang-layang
Siapa unggul pasti jadi bintang
Siapa juara pasti jadi pemenang

Pekan Olahraga Jawa Timur
Ajang mengukir prestasi daerahnya sendiri
Ajang mengukur sportivitas dengan kualitas
Ajang mengakar persahabatan antar-sesama
Ajang mempersatukan masyarakat kita
Masyarakat Jawa Timur nan makmur ini

Langkah-langkah melaju maju
Lari seribu mengejar mimpimu
Berdetak langkah melompat harap
Berderap lari meraih tercepat
Menjemput prestasimu!

Mari kita lari mengejar mimpi!
Mari kita lari mengejar prestasi!


Mojokerto, 7/9/2009

Catatan:
puisi ini dibacakan pada pembukaan PORPROV JATIM II di GOR KEN AROK MALANG 5 Oktober 2009, yang dimainkan dalam bentuk "Teaterikalisasi Puisi" dengan 47 penari, 5 pembaca puisi, dan 10 pemusik. Penulis puisi: Aming Aminoedhin, Sutradara: Anang Hanani, Guru Pendamping: Drs. Fauzi (SMAN 6 Surabaya). Penata tari: Tetra Yogiarta, Pemusik: Pambuko Kristian, Pembaca puisi: Lela Latifah, Faris, Ganda, Helen Novitri, dan Aditya. Penari antara lain: Firdha, Intan, Karina Amelia, Fransisca, Mitra, Audya Aanda, Rezza, Yanuar, Rizka DA, Dyah. Inge, Astrid dan banyak lagi.
Tampilan mereka cukup mengesankan para peserta dan hadirin, utamanya: MenPORA Adhyaksa Dault, Ketua KONI Jatim Imam Utomo, dan Gubernur Jatim Pakde Karwo.
Tampilan mereka didanapanitiai oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Acara ini ditayangkan langsung (on-air) via JTV-Rek dan TVRI Surabaya.(mat).***

Baca Puisi di Ngawi & Reuni Yani Gama


BACA PUISI DI NGAWI DAN REUNI YANI GAMA
Oleh: Aming Aminoedhin


Lebaran tahun ini, tepatnya tanggal 20 September 2009, seperti biasa Aming Aminoedhin pulang kampung di kotanya nan indah, Ngawi. Ada yang menarik pada lebaran tahun ini, masjid agungnya (yang dirobohkan itu) kini telah berdiri. Begitu gagah begitu indah.
Peristiwa lain yang tak kalah menariknya, adalah adanya acara "Penyair Baca Puisi dan Diskusi Sastra" di rumah seni 'Mh. Iskan' jalan Trunojoyo 90 Ngawi. Ada banyak kawan bertemu di acara ini: Hardho Sayoko SPB, Kuspriyanto Namma dan seabreg muridnya teater 'Magnit' itu, Mh. Iskan, dan tentunya Aming Aminoedhin. Acara ini digelar 22 September2009, dua hari setelah idul fitri. Selepas Isya hingga sekitar pukul 22.00.WIB. Sebenarnya banyak yang diundang, tapi sayang tak bisa datang. Beni Setia, Anas Yusuf (Madiun), Arim Kamandoko dan Tedjo (Ponorogo) semua pesan via SMS tak bisa hadir.\


Selepas acara Penyair Baca Puisi, saya lantas mendatangi acara 'Reuni Yani Gama' yang lebih dikenal Komunitas Ahmad Yani Tiga Lima (padahal sekarang namanya Jalan Yos Sudarso) bertempat di rumahnya Kanang (Wakil Bupati Ngawi) Jalan Hasanudin Ngawi.
Beberapa kawan lama tampak datang pada reuni ini. Dari angkatan zaman gak enak sampai angkatan wis rada-rada enak, dan zaman enak. Beberapa nama itu: Puguh Kadaryono, Kawit, Dirman Para, Remick 'Darsono' Atmadja, Kasan, Nggayot, Karno Leak,
Kodho, John, Pudjonya Gandik, Katir, Bintang, Singkek, Abimanyu, dan sebreg kawan yang lain. Ada dua wanita wanita cantik yang hadir: Heni dan istrinya Kanang. Sedang nama-nama     yang lain saya lupa.
Acara diisi dengan menyanyi dan menyanyi, di samping ngekek-ngekek mengenang masa lalu yang katanya indah itu. Acara rampung sekitar pukul 01.00. WIB. Lantas dilanjut ngopi di Alun-alun Ngawi, hingga pukul 03.00. dinihari.


Reuni Yani Gama kali ini cukup menggembirakan, tapi banyak kawan yang tak juga hadir, seperti: Rochadi dan Titisnya, Anung, Anang, Nunun, dan entah siapa lagi!
Aduh nikmatnya, cerita kota Ngawi dengan segala keindahan dan kenangannya. Kapan reuni lagi? Aku tunggu kontaksnya! (aming aminoedhin)

Kamis, 13 Agustus 2009

PENGAJARAN SASTRA DI SEKOLAH

pengajaran sastra di sekolah
DIKLAT BACA DAN TULIS PUISI BAGI GURU SD DI KEDIRI

Hari Sabtu, 8 Agustus 2009 lalu, bertempat di aula Balai Pendidikan Kecamatan Mojoroto, Jalan Jaksa Agung Suprapto Kediri, telah diselenggarakan kegiatan Diklat Pengajaran Sastra di Sekolah. Ada sekitar 70-an guru-guru SD se-Kota Kediri mengikuti diklat ini dengan serius.
Kegiatan ini digelar atas prakarsa Forum Karya Pendidikan (FKP) Kota Kediri yang dimotori oleh Suhartini, Kepala SDN Singonegaran 2 Kota Kediri. Dalam laporan sambutannya, bahwa kegiatan ini didanai sendiri oleh para peserta, dengan semangat agar mendapatkan pengetahuan tentang pengajaran sastra tersebut. Lebih lanjut, Hartini, juga mengatakan bahwa kegiatan ini diharapkan bisa merangsang kegiatan lain, serta ada tindaklanjutnya. Seperti misalnya, pertemuan berkala atau mengadakan semacam lomba baca puisi bagi para guru-guru di kota Kediri.
Satu-satunya narasumber yang tampil adalah Aming Aminoedhin, presiden penyair Jatim, yang memberikan ceramahnya secara santai dan spontan. Respons dari para guru yang ikut diklat ini sangat positif, terbukti banyak yang ikut tampil latihan baca dan tulis puisi. Bahkan mereka sangat antusias bertanya soal puisi dan baca puisi.
Pada awalnya, banyak guru yang malu-malu untuk maju membaca puisinya, tapi setelah beberapa kawan guru sudah tampil, mereka dengan yakinnya membacakan puisinya.
Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Bidang Pendidikan TK/SD, Dinas Pendidikan Kota Kediri. Dalam sambutannya, Kabid Pendidikan TK/SD, menyambut positif atas prakarsa kegiatan ini. Bahkan anggaran tahun depan, FKP akan dibantu soal pendanaan kegiatannya. Semoga!
Acara yang diselenggarakan dengan swadana ini, ternyata cukup sukses, dan mendapat respons positif dari para guru yang hadir dan ikut tampil baca puisi. ****

Rabu, 29 Juli 2009

SWARGA ORA BISA DITUKU

aming aminoedhin
SWARGA ORA BISA DITUKU

dina-dina sing mlaku kaya-kaya mburu awakmu
ana polah kang salah kaprah tanpa arah
dina-dina mburi iki kaya langit werna peteng
ireng njanges kaya langese senthir
peteng ndhedhet ana telenge atimu
ati-ati nek kena lara kenthir

ana panah kang wus kok uculake
saka gandewane, mlayu tanpa arah
apa bisa kabeneran iku kok bengkokake

urip mono mung sakderma mampir ngombe
ora susah gawe laraning liyan, apa maneh
rumangsa menang dhewe

dina-dina mlaku katon mlayu nguber awakmu
ana jam kaya ora mlaku. atimu kaya beku
ora ana swarga kang bisa dibayar karo dhuwitmu
swarga mono ora bisa dituku

Siwalanpanji, 28/7/2009

Senin, 22 Juni 2009

BACA PUISI HAUL BK 39

AMING AMINOEDHIN BACA PUISI HAUL BK

Pada hari Sabtu, 19 Juni 2009 lalu. Bertempat di amphitheatre kompleks makam Bung Karno, Blitar; telah diselenggarakan kegiatan "Haul Bung Karno ke-39". Beberapa seniman dan pejabat, serta rakyat berbaur jadi satu memperingati haul tersebut.
Komunitas tari, teater, seniman, penyair, dan pejabat Bupati dan Walikota, tumpleg- bleg ada di sana. Mereka menyanyikan lagu, menari, musikalisasi puisi, membaca puisi.
Ada Bupati Blitar baca puisi, ada Walikota Blitar baca puisi, dan ada juga penyair yang tampil baca puisi.
Bintang tamu, adalah Aming Aminoedhin, presiden penyair Jawa Timur, yang ikut membacakan puisinya berjudul "Membaca Indonesia Saat Ini" dan "Surabaya Ajari Aku Tentang Benar".
Acara yang bertajuk "Haul Bung Karno ke-39" ini, pada hari keduanya juga ada pembacaan doa-doa bagi sang proklamator. (amg)***

Rabu, 17 Juni 2009

MENULIS PUISI LAGI

aming aminoedhin
RAHASIA TUHAN
MEMANG TAK TERTEBAK

*af

telah kau asah pedang kesabaran itu
janji yang direndahkan akan berbalik
diangkat tinggi, terasa lama nian ditunggu
hidup memang terasa jungkir balik

rahasia Tuhan memang tak tertebak
ada apa di balik waktu?

kau harus kian rajin mengasah tajamnya pedang
kesabaran, karena bisa menusuk kehidupan
kian tampak benderang di depan, bagai
bianglala penuh warna, bagai bebintang
di langit bertaburan gemerlapan
indah menawan

bacalah buku apa saja, jadikan kitab suci
agar kau kian sadar akan arti hidup ini
tak hanya membaca buku, tapi membaca
cuaca, membaca suasana, dan membaca
manusia di antara kita, kian jumpalitan
tingkah-polah-serakahnya

rahasia Tuhan memang tak tertebak
ada apa di balik waktu?
barangkali ada doa-doa
selebihnya menunggu janji itu


Siwalanpanji, 22/4/2009

Senin, 08 Juni 2009

MH. ISKAN PENTAS MONOLOG LAGI

DEDENGKOT TEATER PERSADA NGAWI
PENTAS MONOLOG LAGI


Pada hari Sabtu, 13 Juni 2009, Pukul 19.30. WIB. sang Maestro Teater Persada Ngawi, Mh. Iskan, akan pentas monolog lagi. Tempatnya di Aula Kantor Depag Kabupaten Ngawi, Jalan Kartini. Tajuk yang dimainkan "Tonggak" ditulis, dimainkan, dan disutradarai sendiri oleh aktor gaek ini.
Mh. Iskan berusia 67 tahun. Yang tua saja mau tetap bermain, yang muda mana tampilannya? Sebuah acara pentas yang sebenarnya menantang para muda yang gemar dan bermain teater, mana garapanmu? Dan Mh. Iskan, lagi-lagi mengajak tetap berkreativitas dalam dunia teater ini. Pentas habis-habisan, bermonolog sendirian!

Mh. Iskan, dan Teater Persada Ngawinya pernah memenangkan Lomba Drama se-Jatim tahun 1978 dan 1983. Melahirkan aming aminoedhin, sebagai aktor terbaik tahun 1983 di Jawa Timur.

Jika memungkin ada waktu datanglah dan nontoklah pentas ini. "Tonggak" monolog yang ditulis, dimainkan, dan disutradarai sendiri oleh Mh. Iskan. Semoga pentasnya sukses!
(aa)