<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599</id><updated>2012-02-16T20:46:57.370+07:00</updated><category term='artikel &quot;tentang sujarahe teater persada&quot;'/><category term='malsasa dari waktu ke waktu'/><category term='proses kreatif aming aminoedhin'/><category term='angkatan sastra malsasa?'/><category term='puisi-puisi ngawi'/><category term='geguritan aming'/><category term='pengajaran sastra puisi'/><category term='profil saya'/><category term='sajak-sajak anak'/><category term='artikel &quot;tentang mh iskan dan teater persada ngawi&quot;'/><category term='puisi-puisi mh iskan'/><category term='biodata penyair m.har harijadi'/><category term='komsas &quot;sinji&quot; sidoarjo'/><category term='maestro teater ngawi'/><category term='sajak-sajak surabaya'/><title type='text'>aming aminoedhin</title><subtitle type='html'>berbekal yakin pasti  berpayung iman nan suci  berusaha sepenuh-ikhlasnya hati  berdoa tiada henti  segala cita segala damba  akan tergapai nanti</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-4522848020680817172</id><published>2012-01-09T23:26:00.003+07:00</published><updated>2012-01-09T23:31:39.315+07:00</updated><title type='text'>BERITA-BERITA  PENGHARGAAN SENI JATIM 2011</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pakde Karwo Beri Penghargaan &lt;br /&gt;pada 10 Seniman Jatim &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jum'at, 06 Januari 2012 17:59:35 WIB &lt;br /&gt;Reporter : Ribut Wijoto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya (beritajatim.com) - Wajah sebanyak 10 seniman Jawa Timur hari ini, Jumat (6/1/2012), tampak sumringah. Bagaimana tidak, mereka mendapatkan hadiah uang tunai dan piagam "Penghargaan 'Seniman Jatim' tahun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di balik senyuman itu, para seniman ternyata menyimpan sesuatu. "Kami mendapat kepercayaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupa penghargaan, untuk itu, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Tetapi, dengan penghargaan ini, kami menjadi lebih dituntut untuk bisa menghasilkan karya terbaik. Itu tanggung jawab yang harus kami emban," ujar Zaenuri, sutradara Bengkel Muda Surabaya (BMS), peraih penghargaan untuk kategori Teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan yang sama dilontarkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Menurutnya, seniman yang mendapat penghargaan harus lebih terpacu untuk memproduksi karya seni. "Kami harapkan, ke depan, bisa muncul lebih banyak karya berkualitas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau menaruh harapan, Pakde Karwo (sapaan akrab Gubernur) mengaku bahwa seniman sudah memberikan kontribusi besar untuk Jawa Timur. "Kontribusi besar seniman terhadap Jawa Timur sudah tidak perlu diragukan lagi. Saya mewakili pemerintah, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memimpin upacara pemberian hadiah, Pakde Karwo meminta kepada seluruh seniman untuk membacakan surat Al Fatihah. "Jawa Timur baru saja kehilangan dua sahabat kita, anggota keluarga kita, mereka adalah Cak Supali seniman ludruk dari Mojokerto dan Lan Fang sastrawan dari Surabaya. Mari kita berdoa agar keduanya diterima di sisi-Nya," kata Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Timur Ahmad Fauzi menyatakan bahwa kehadiran seorang seniman dalam tata pergaulan di masyarakat mempunyai arti khudus. "Ia mempunyai olahrasa dan olahpikir yang dijalankan secara beriringan, sehingga menghasilkan laku kreatif," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena posisi khusus itulah, seorang seniman berbeda dengan kebanyakan umumnya anggota masyarakat. Melalui karya-karyanya, seniman memberikan kontribusi bagi perkembangan kebudayaan. "Maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberikan apreasiasi, penghargaan yang selaras dengan pergaulan ide-ide kreatif," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut 10 seniman yang meraih penghargaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aming Aminoedhin (sastrawan) dari Mojokerto&lt;br /&gt;2. Ahmad Zaenuri (seniman teater) dari Surabaya&lt;br /&gt;3. Alm. Ogeng Heru Supono (perupa) dari Surabaya&lt;br /&gt;4. Suparmo (seniman tradisi) dari Kabupaten Probolinggo&lt;br /&gt;5. Basir Noerdian (seniman musik) dari Banyuwangi&lt;br /&gt;6. Mohammad Sholikin (seniman film) dari Surabaya&lt;br /&gt;7. Toeti Soedarti Soebiono (penggerak kesenian) dari Surabaya&lt;br /&gt;8. Lenon Machali (aktivis kesenian teater) dari Gresik&lt;br /&gt;9. Karni (seniman tradisi) dari Kota Probolinggo&lt;br /&gt;10. Alm. Supakrah (seniman wayang topeng) dari Sumenep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kepada seniman, penghargaan juga diberikan kepada lembaga-lembaga yang dinilai telah berkontribusi besar bagi kesenian di Jawa Timur. Empat lembaga tersebut terdiri dari Majalah Jaya Baya, Majalah Panjebar Semangat, Aksera (Akademi Seni Rupa Surabaya), dan CCCL (Pusat Kebudayaan Perancis). [but]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;10 Seniman Dapat Penghargaan dari&lt;br /&gt;Gubernur Jatim Soekarwo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 7 Jan 2012 10:05 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURABAYA, RIMANEWS - Indonesia ini memiliki banyak seniman yang berbakat untuk mendapatkan apresiasi dan pengakuan dari pemerintah. Karena, jasa seniman bagi negeri ini tidak sedikit nilainya. Atas dasar itulah, Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberikan penghargaan kepada 10 seniman Jatim sebagai bentuk pengakuan dan apresiasi pemerintah terhadap perkembangan kesenian.&lt;br /&gt;”Ini sebagai bentuk rasa terima kasih dan pemerintah wajib memberikan pengakuan atas keberadaan dan konsistensi seni di Jatim,” ujar pejabat yang akrab disapa Pakde Karwo tersebut di Gedung Taman Budaya Cak Durasim, Jalan Genteng Kali, Surabaya, Jumat.&lt;br /&gt;Tali asih diberikan kepada sepuluh seniman yang masing-masing memperoleh uang tunai Rp10 juta serta kepada empat lembaga yang dinilai berperan aktif membangkitkan seni di Jatim.&lt;br /&gt;Sejumlah seniman yang mendapat penghargaan, yakni Aming Aminudin dari Mojokerto di kategori sastra, Suparno dari Probolinggo dalam seni tari, alm O.H Soepomo asal Sidoarjo di kategori seni rupa, Basir Noerdian asal Banyuwangi di seni musik, dan M Solikin asal Surabaya di seni film.&lt;br /&gt;Selanjutnya, Ahmad Zainuri dari Surabaya di kategori seni teater, Lenon Makhali dari Gresik dan Toeti Soedarti Soebiono asal Surabaya di kategori seni berdedikasi, Karni Probolinggo di seni tradisi dan Supakrah asal Sumenep di seni tradisional.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, beberapa lembaga, seperti Majalah Penyebar Semangat, Majalah Jayabaya, Aksera, dan Pusat Kebudayaan Perancis diapresiasi sebagai lembaga yang peduli dengan seni.&lt;br /&gt;”Sebetulnya pengakuan dan penghargaan diberikan kepada seluruh seniman yang ada, tetapi hari ini giliran seniman dan empat lembaga peduli seni,” tukas Pakde Karwo.&lt;br /&gt;Di hadapan para seniman, ia mengaku bersalah sekaligus menyampaikan permohonan maafnya. Ini karena pada 30 Desember 2011 dirinya berhalangan hadir karena bersamaan dengan agenda kedinasan lainnya.&lt;br /&gt;”Sebenarnya saya sudah diminta oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada 30 Desember, tapi waktu itu saya mengukuhkan pelantikan pejabat yang tidak bisa ditunda karena besoknya sudah buka buku baru,” urainya.&lt;br /&gt;Mantan Sekdaprov Jatim tersebut berharap seluruh seniman dan budayawan di Jatim mampu merestrukturisasi kebudayaan menjadi lebih maju dan berkembang. [mam/kps]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gubernur Jatim Beri Penghargaan&lt;br /&gt;kepada 10 Seniman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Surabaya (ANTARA News) – Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberikan penghargaan kepada 10 seniman Jatim sebagai bentuk pengakuan dan apresiasi pemerintah terhadap perkembangan kesenian. &lt;br /&gt;Tali asih diberikan kepada sepulun seniman yang masing-masing memperoleh uang tunai Rp10 juta serta kepada empat lembaga yang dinilai berperan aktif membangkitkan seni di Jatim.&lt;br /&gt;Sejumlah seniman yang mendapat penghargaan yakni Aming Aminoedhin dari Mojokerto di kategori sastra, Suparno dari Probolinggo dalam seni tari, Alm. O.H Soepomo asal Sidoarjo di kategori seni rupa, Basir Noerdian asal Banyuwangi di seni musik dan M. Solikin asal Surabaya di seni film.&lt;br /&gt;Selanjutnya, Ahmad Zainuri dari Surabaya di kategori seni teater, Lenon Makhali dari Gresik dan Toeti Soedarti Soebiono asal Surabaya di kategori seni berdedikasi, Karni Probolinggo di seni tradisi dan Supakrah asal Sumenep di seni tradisional.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, beberapa lembaga seperti Majalah Penyebar Semangat, Majalah Jayabaya, Aksera, dan Pusat Kebudayaan Perancis diapresiasi sebagai lembaga yang peduli dengan seni.&lt;br /&gt;“Sebetulnya pengakuan dan penghargaan diberikan kepada seluruh seniman yang ada, tetapi hari ini giliran seniman dan empat lembaga peduli seni,” tukas Pakde Karwo.&lt;br /&gt;Di hadapan para seniman, ia mengaku bersalah sekaligus menyampaikan permohonan maafnya. Ini karena pada 30 Desember 2011, dirinya berhalangan hadir karena bersamaan dengan agenda kedinasan lainnya.&lt;br /&gt;“Sebenarnya saya sudah diminta oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada 30 Desember, tapi waktu itu saya mengukuhkan pelantikan pejabat yang tidak bisa ditunda, karena besoknya sudah buka buku baru,” urainya.&lt;br /&gt;Mantan Sekdaprov Jatim tersebut berharap seluruh seniman dan budayawan di Jatim mampu merestrukturisasi kebudayaan menjadi lebih maju dan berkembang.&lt;br /&gt;(T.KR-MSW/D009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;diambil dari berbagai sumber di internet.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-4522848020680817172?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/4522848020680817172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=4522848020680817172&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4522848020680817172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4522848020680817172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2012/01/berita-berita-penghargaan-seni-jatim.html' title='BERITA-BERITA  PENGHARGAAN SENI JATIM 2011'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-9111542573824256731</id><published>2011-11-22T21:04:00.003+07:00</published><updated>2011-11-22T21:12:25.496+07:00</updated><title type='text'>PUISI PAHLAWAN SURABAYA</title><content type='html'>aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TELAH KAU ROBEK KAIN BIRU &lt;br /&gt;PADA BENDERA ITU*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                &lt;span style="font-style:italic;"&gt; * pahlawan tak dikenal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ribuan orang bergerak sepanjang jalan &lt;br /&gt;berteriak menuju hotel yamato tengah kota&lt;br /&gt;kibar bendera merah-putih-biru itu &lt;br /&gt;menggemuruhkan gelegak antipati pada hati&lt;br /&gt;tanpa henti tanpa kompromi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ribuan orang bergerak sepanjang jalan &lt;br /&gt;berteriak menuju hotel yamato tengah kota&lt;br /&gt;ribuan orang memanjat hotel itu, dan kau&lt;br /&gt;telah robek kain biru pada bendera itu&lt;br /&gt;ribuan orang bersorak, gemuruh&lt;br /&gt;“Merdeka negeriku!&lt;br /&gt;Merdeka Indonesiaku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ribuan orang bergerak sepanjang jalan &lt;br /&gt;berteriak menuju hotel yamato tengah kota&lt;br /&gt;sorak gemuruh mereka itu kian riuh&lt;br /&gt;“Ini negaraku, negara tercinta&lt;br /&gt; Satu Republik, Indonesia Raya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hai bangsa pemabuk, pemilik &lt;br /&gt;bendera merah-putih-biru&lt;br /&gt;jika tak enyah dari negeriku, bambu runcing&lt;br /&gt;akan menuding mengusirmu! &lt;br /&gt;jika tak juga enyah, kutawarkan semangat&lt;br /&gt;dan darah kami muntah, biarkan tubuh kami&lt;br /&gt;berdarah-darah, tapi kau harus &lt;br /&gt;berserah. kau harus menyerah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah kau robek kain biru pada bendera itu&lt;br /&gt;tinggal merah-putihnya, kian terasa indah&lt;br /&gt;di mata, mata kita semua!&lt;br /&gt;Merdeka! Merdeka! Merdeka!&lt;br /&gt;Jayalah bangsaku, jayalah negeriku!&lt;br /&gt;Jayalah Indonesiaku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto, 15/8/2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-9111542573824256731?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/9111542573824256731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=9111542573824256731&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/9111542573824256731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/9111542573824256731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2011/11/puisi-pahlawan-surabaya.html' title='PUISI PAHLAWAN SURABAYA'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-5167448623176947802</id><published>2011-11-21T19:21:00.001+07:00</published><updated>2011-11-21T19:28:36.472+07:00</updated><title type='text'>akhudiat dan skolah skandal</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKHUDIAT dan SKOLAH SKANDAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sang dramawan yang penyair&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ditulis oleh: aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tak kenal dengan nama Akhudiat? Barangkali bagi kalangan pekerja teater, apalagi dari kalangan kampus, pasti akan kenal nama ini. Kenapa tidak? Karena naskah dramanya berjudul Jaka Tarub dan Rumah Tak Beratap, pernah memenangkan lomba naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1974. Lantas naskah drama lainnya yang ia tuliskan adalah Bui (1975) dan RE (1977).&lt;br /&gt;Secara umum nama Diat, panggilan akrabnya Akhudiat, sangatlah dikenal di dunia teater modern Indonesia. Di samping nama-nama lain, semacam: Rendra, Putu Wijaya, Motenggo Bosje, Arifien C Noor , dan sederet nama-nama lainnya.&lt;br /&gt;Diat mengaku pernah ikut kursus akting di Teater Muslim pimpinan Mohamad Diponegoro, dan juga berguru pada teater milik Arifien C. Noer. Kata Diat, kota Yogyakarta merupakan kota yang membekalinya dengan kosakata teater. Omongan Arifien C. Noer yang selalu dia ingat adalah, “Bacalah naskah drama, pelajari dialog-dialognya, kamu akan bisa menulis naskah sendiri.”&lt;br /&gt; Berangkat dari sinilah, kemudian menulis sendiri, naskah-naskah teaternya, dan bahkan sampai memenangkan lomba penulisan naskah teater di Dewan Kesenian Jakarta tersebut.&lt;br /&gt;Akhudiat,  lahir di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Diat punya ayah bernama  Akwan (lahir 1925), petani yang tekun di desa Karanganyar, Rogojampi, Banyuwangi. Sedangkan ibunya, bernama Musarapah (lahir 1930).&lt;br /&gt;Istrinya bernama Mulyani, dan punya 3 anak: Ayesha Mutiara Diat (lahir 1975, perempuan),  Andre Muhammad Diat (lahir 1976, laki-laki), dan Yasmin Fitrida Diat (lahir 1978, perempuan). &lt;br /&gt;Akhudiat,  pernah kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS), namun tidak diselesaikannya. Lantas ikut kursus Bahasa Inggris di Lembaga Indonesia Amerika (LIA) Jalan Dr. Soetomo Surabaya, hingga tingkat advance. Sarjananya didapatkan 1992 dari Universitas Terbuka (UT) Fakultas Ilmu Sosial (FISIPOL). Akhudiat, pernah pula ikut International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, USA, pada tahun 1975.&lt;br /&gt;Jabatan yang pernah diemban sebagai Komite Sastra dan Teater pada Dewan Kesenian Surabaya tahun 1972—1982. Pada tahun yang sama (1972—1982) sebagai sutradara dan penulis naskah teater  di komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS). Jabatan lainnya, ia anggota pleno di Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), dari tahun 1999 hingga sekarang. Menjabat sebagai steering committee Festival Seni Surabaya (FSS) dari tahun 2000 hingga sekarang.&lt;br /&gt;Sejak masa  kecilnya Diat suka menonton bioskop, sandiwara keliling berbahasa Indonesia, seperti: Bintang Surabaya, Gema Masa, Kintamani, Opera Melayu, Ketoprak, Wayang Orang, dan Ludruk. Dia, Akhudiat, juga menonton Kentrung Trenggalek,  Rengganis, yakni sejenis wayang menak dengan tokoh Amir Ambyah, Umarmoyo- Umarmadi, Putri China, Jin Baghdad, Lamdahur. Tidak itu saja, ia menonton juga Orkes Melayu, Wayang Potehi, Sandiwara Misri, dan banyak lagi. Itulah yang kemudian menjadikan Akhudiat kaya referensi tentang seni dan budaya, dan bahkan ia bisa menulis cerpen, puisi, dan naskah drama.&lt;br /&gt;Melihat “drama” semacam itu, Akhudiat beranggapan kurang imajinatif, kurang “liar”, dan terlalu “diatur”. Menyikapi hal tersebut, bersama komunitas Bengkel Muda Surabaya, Akhudiat menawarkan panggung yang lain, yaitu “panggung kosong”.&lt;br /&gt;Dunia panggung adalah dunia imajiner, make-believe, pura-pura, rekaan, mungkin tiruan alam luar panggung, mungkin juga tidak. Bisa berasal dari mana pun: gagasan sejarah, pengalaman, peristiwa sehari-hari, berita/artikel, mimpi, bahkan pure nothing, diraih dari angin. Maka muncullah di panggung, orang atau barang, baik sebagai pelaku/pelakon atau properti/alat bermain. Semuanya berubah, bergerak, berombak, berirama, berganti, bertukar, berkeliaran, bahkan berontak, menjadi lakon. Maka adegan-adegannya dominan out-door/exterior. Beberapa lakon awal saya juluki dengan “teater jalanan.” Bisa main di dalam gedung, taman, lapangan, halaman, pendapa, arena, atau di mana saja.&lt;br /&gt;Dengan pikiran “teater jalanan” Diat mendapat gagasan ketika sering ketemu corat-coret (graffiti, tunggal: graffito) berupa tulisan atau cukilan di tembok, pohon, batu, bangku, gardu, halte, stasiun, terminal, tempat wisata, atau di mana pun, yang hanya berisi dua nama, pemuda dan pemudi yang sedang bercinta. Pesan singkat ini tentu mengandung kisah panjang di baliknya. Coretan atau “Grafito” kemudian dijadikan judul naskah dramanya.&lt;br /&gt;Di samping menulis naskah drama, artikel, dan esai, Diat juga menulis puisi, cerpen, dan terjemahan apa saja dari bahasa Inggris. Terjemahan terakhirnya adalah drama absurd, “Drama tentang Drama” tulisan Samuel Beckett, yaitu Katastrof dari New Yorker, dengan sub-titel Untuk Vaclav Havel, Sastrawan, Presiden Ceko. Salah satu cerpen Diat berulang kali disiarkan adalah “New York Sesudah Tengah Malam”, pertama kali dimuat di Majalah Horison, Oktober 1984. Karya tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dede Oetomo, dosen Unair Surabaya, dengan New York After Midninght, dan dijadikan judul buku kumpulan sebelas cerpen Indonesia dari 11 cerpenis, merujuk pengalaman tinggal di Amerika Serikat serta pandangan mereka tentang Amerika. Buku tersebut disunting oleh Satyagraha Hoerip (Oyik), diterbitkan Executive Committee, Festival of Indonesia, USA, 1990-1991. Diterjemahkan lagi oleh John H. McGlynn, New York After Midninght, dimasukkan dalam kumpulan puisi, cerpen, dan esai tentang New York setelah mengalami tragedi 11 September 2001. Disunting McGlynn, diterbitkan Lontar, Jakarta, 2001, tiga bulan sesudah tragedi. Terjemahan McGlynn ini dimuat oleh majalah Persimmon, Asian Literature, Art and Culture, Volume III, November 1, Spring 2002, diterbitkan Contemporary Asian Culture, New York. Cerpen New York After Midninght berkisah tentang tiga kota: Jember 1960, New Yok 1975, dan Surabaya 1983, lewat dia narator mengalami semacam dejavu, hadir di suatu tempat atau situasi pertama kali tapi terasa sudah pernah hadir atau mengalami sebelumnya. &lt;br /&gt;Di samping sebagai dramawan, ia juga penyair. Puisinya banyak termuat di beberapa kumpulan puisi sastrawan Jawa Timur. Di antaranya beberapa kali puisinya termuat di buku kumpulan puisi dan geguritan “Malsasa” Malam Sastra Surabaya, terbitan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) periode tahun 2005, 2007, dan 2009. Diat memang sang dramawan yang terkenal tidak hanya kota Surabaya saja, tapi juga di tingkat Nasional. Bukan itu saja,  Diat juga penyair yang handal.&lt;br /&gt;Terakhir kalinya, mulai Juli hingga November, Akhudiat melalui ‘Sanggar Merah Putih’ Surabaya,  menggarap lakon “Skolah Skandal” karya dan sutradara Diat sendiri. Naskah dan lakon ini dipentaskan di Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, event  Festival Seni Surabaya 2011; pada tanggal 3 November 2011. Secara ringkas cerita itu bisa dibaca berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Skolah Skandal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karya dan Sutradara: Akhudiat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah seorang juragan kaya raya di negeri BOH—yang heboh suheboh – dikenal dengan panggilan ‘Ndoro Bunda’ tempat di mana segala orang minta bantuan dan utangan, dengan bunga ‘welasan sapai dupuluhan’ (bahkan kini hingga tiga puluhan, menurut sumber tak resmi dari kalangan ‘bank thithil’. Mulai pinjam ngijon arisan sampai kredit pupuk, dan bahan bakar minyak. Dan segala barang mahal milik orang se-negeri BOH, konon pernah ‘sekolah’ atau ‘parkir’ di rumah nDoro Bunda, gadai gelap, saingan pegadaian resmi Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang juragan nDoro Bunda itu bernama Maryamah, atau Wak Ayam Cawik, baru saja me-‘launching’ kompleks pergudangan baru di kawasan pantai utara, dan gedung serta rumah sakit Amanah Maryamah, tempat praktek aknya dokter Ginah, dan menantunya yang baru saja dapat gelar doktor-dokter. Asal muasalnya, bersama sang ‘misoa’, Wakde Balong, adalah dagang ayam kecil-kecilan, lesehan di tanah tanpa dasaran, di pojok Pasar Kliwon dan Pasar Klitikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ndoro Bunda terkena pasal kriminal karena penyelundupan pupuk dari luar Jawa, dan divonis setahun untuk “sekolah” masuk bui, kandang-kebonya si Alsiponsi, kepala penjara BOH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juragan Bunda sanggup main atas main bawah. Dia membayar “joki narapidana” sebesar 10 juta ripis, untuk menghindari “sekolah” bui. Ketika mbok Wakdenya, Nyi Girah Tamsil, bezuk, sangat kaget bukan kepalang, ternyata di nomor sel “welasan” bukannya wajah cah-ayu Siyam Cawik, keponakannya, tetapi ‘praenan’ orang lain yang nongol mengaku sebagai Ndoro Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyik Girah berteriak, haibat, heboh suheboh, menghebohkan negeri BOH, bahkan se Indonesia Raya, karena baru kali ini ada skandal “joki narapidana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tujuannya lembaga pemasyarakatan adalah “sekolah untuk adaptasi pesakitan kembali ke masyarakat”, Ndoro Bunda dengan jurus “Main atas main bawah” menjadikannya ke ambang tingkat tinggi “Sekolah Sekandal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para atasan dan atasannya atasan yang membikin “gemrengsengnya” dan “abang-ijonya” negeri BOH, semua terlibat dalam permainan Wak Ayam Cawik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana Wakde Balong sang misoa? Dia sudah di maqomnya, asyik masyuk bersama kelompok “adem-ayem-tentrem-marem” mengaji Serat Hidayat Jati, Kyai Kanjeng Ngabehi Ronggowarsito. Amin............................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;desaku Canggu, 21 November 2011&lt;br /&gt;* ditulis kembali aming aminoedhin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-5167448623176947802?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/5167448623176947802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=5167448623176947802&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5167448623176947802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5167448623176947802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2011/11/akhudiat-dan-skolah-skandal.html' title='akhudiat dan skolah skandal'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-9134444583456836551</id><published>2011-08-04T11:18:00.001+07:00</published><updated>2011-08-04T11:22:03.920+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;OEMAR BAKRI BACA PUISI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan: Aming Aminoedhin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru atau para pendidik, yang oleh Iwan Fals dipredikati sebagai Oemar Bakri, baik guru PAUD, TK, SD, SMP/SMA maupun para dosen; adalah sosok seorang yang selalu jadi panutan bagi para siswa dan mahasiswa. Semua yang diajarkan kepada para siswa dan mahasiswanya, selalu saja akan dijadikan semacam pembelajaran dan pengetahuan yang sangat berguna bagi mereka untuk menjalani hidup dan kehidupan ini.&lt;br /&gt;Sejalan dengan hal tersebut di atas, dalam rangka memeringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2011; Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) bekerja sama dengan UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian (Dikbangkes) – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, memrakarsai kegiatan “Malam Sastra Bagi Guru” atau disingkat “Malsabaru 2011.”&lt;br /&gt;Beberapa guru yang kreatif dalam penulisan sastra, khususnya puisi, memang kurang mempunyai wadah untuk berekspresi guna memasyarakatkan karya-karyanya. Sedangkan kegiatan ini, diharapkan mampu menjadi wadah berekspresi, sekaligus aktualisasi diri; bahwa guru tidak hanya mengajar di ruang kelas, tapi juga bisa tampil dalam forum sastra berskala Jawa Timur bertempat di kota Surabaya.&lt;br /&gt;Kegiatan ini, di samping memberi apresiasi bagi guru yang selama ini telah menulis sastra, khususnya puisi/gurit, juga mengajak mereka untuk tampil dan diskusi dalam satu forum kegiatan baca puisi bagi guru seluruh Jawa Timur, bertajuk “Malam Sastra Bagi Guru atau Malsabaru” di UPT Pendidikan dan Pegembangan Kesenian, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur; juga merupakan sosialisasi sastra kepada para peserta didik, sekaligus masyarakat sastra Jawa Timur.&lt;br /&gt;“Malsabaru 2011” ini dimaksudkan untuk memberi wadah kepada para guru kreatif yang menulis sastra, khususnya puisi/gurit, dan sekaligus memasyarakatkan dan meningkatkan apresiasi sastra, di kalangan guru, para siswa dan mahasiswanya yang akan ikut melihat tampilan para guru dan dosennya, membaca karya-karya mereka sendiri.&lt;br /&gt;Kegiatan ini sekaligus ikut memeriahkan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2011 dan menunjukkan kepada masyarakat sastra, bahwa kota Surabaya dan Jawa Timur mempunyai kekhasan dalam mewadahi para guru berkreasi dan berekspresi, dengan cara membaca puisi dan geguritan (puisi berbahasa Jawa).&lt;br /&gt;Ada pun para peserta Malam Sastra Bagi Guru (Malsabaru) 2011 yang diundang adalah para guru; baik PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan Dosen; atau penyair yang setidaknya pernah menjadi guru atau dosen di sebuah lembaga-lembaga sekolah tersebut.&lt;br /&gt;Ucapan permohonan maaf tak terhingga jumlahnya, apabila tidak semua guru, dan penyair yang guru bisa terundang dalam acara Malsabaru 2011 ini. Itu hanyalah karena keterbatasan Panitia, guna mendapatkan referensi secara keseluruhan di seluruh Jawa Timur ini. Tapi itikad yang dipompakan (sebenarnya) adalah akan mengajak semua para guru kreatif, guna unjuk kebolehan menulis dan membaca sastra di depan publiknya.&lt;br /&gt;Kekurangan dan kelemahan adalah sifat manusia, maka jika dalam penerbitan, penyelenggaraan pentas terasa kurang dan lemah, adalah wajar semata. Tapi puisi telah ditulis dengan matahati oleh para Oemar Bakri. Percayalah!&lt;br /&gt;Ucapan terima kasih berjuta, kami sampaikan kepada semua rekan guru, dan penyair yang pernah jadi guru; yang telah ikut mendukung atas terbitnya buku ini.&lt;br /&gt;Terakhir, kepada para Oemar Bakri, selamat untuk tampil membaca guritan dan puisi, yang dijadwalkan selepas Lebaran 2011 nanti. Saran dan kritik konstruktif bagi tumbuhkembangnya sastra, akan kami terima dengan tangan terbuka, dan hati membunga. Salam sastra!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Ramadhan 1432-H/4 Agustus 2011-M&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Aming Aminoedhin,&lt;/span&gt; koordinator &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Malsabaru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diposkan oleh aming a&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-9134444583456836551?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/9134444583456836551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=9134444583456836551&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/9134444583456836551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/9134444583456836551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2011/08/oemar-bakri-baca-puisi-catatan-aming.html' title=''/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8600469586728299731</id><published>2011-08-01T14:05:00.002+07:00</published><updated>2011-08-01T14:08:30.011+07:00</updated><title type='text'>kibar ultah kelima</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOMUNITAS KIBAR TERUS BERKIBARLAH!*&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;*&lt;br /&gt;Catatan oleh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aming Aminoedhin*&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal komunitas sastra di Surabaya dan Jawa Timur, barangkali tidak banyak jumlahnya. Namun jika saja mau mencatat, ternyata masih saja ada dan tetap berlangsung kegiatannya. Keberlangsungan komunitas itu memang tidak secara kontinyu bertemu, tapi komunitas itu muncul dengan cara menerbitkan buku sastra, baik kumpulan cerpen atau puisi. Hal ini untuk membuktikan bahwa komunitas sastranya tetap ada.&lt;br /&gt;Beberapa komunitas tersebut tersebar di berbagai kota, dengan komunitas sastranya masing-masing. Baik sastra Indonesia maupun Jawa. Seperti misalnya komunitas sastra Indonesia, tercatat nama Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS), Bengkel Muda Surabaya (BMS), Forum Apresiasi Sastra Mojokerto (Forasamo), Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela), Komunitas Sastra dan Teater Persada (Ngawi), Komunitas Lembah Pring (Jombang), Surabaya Poetry Community (Surabaya), Forum Studi Sastra Seni Luar Pagar (FS3LP) – Unair (Surabaya), Sanggar Sastra SD Jombatan (Jombang),  Komunitas Sastra Esok (Sidoarjo), Komunitas Sastra Rabo Sore – Unesa (Surabaya), Komunitas Alam Ruang Sastra (ARS) Sidoarjo, Komunitas Pondok Kopi Pacet (Mojokerto),  dan mungkin masih banyak lagi. Sementara itu, komunitas sastra Jawa, tercatat nama Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) yang bergerak di sastra Jawa dan Indonesia (Surabaya),  Sanggar Sastra Jawa Parikuning (Genteng, Banyuwangi), dan Sanggar Sastra Jawa Triwida (Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek), dan mungkin masih ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Festival Sastra Sidoarjo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Kota Sidoarjo punya slogan yang mengatakan adalah sebagai kota festival. Tapi kapan ada festival sastra? Apabila bicara soal sastrawan, banyak sastrawannya domisili di Sidoarjo. Sebut saja nama: Rusdi Zaki, Leres Budi Santosa, Widodo Basuki, R. Giryadi, Lan Fang, dan mungkin masih banyak lagi.&lt;br /&gt; Sedangkan komunitas sastra dan teaternya, ada : Komunitas Sastra Kibar, Alam Ruang Sastra (ARS) Sidoarjo, lantas ada Teater Gedeg, Teater Kibar, Teater SMAN 1,  Taeter Kalam, dan banyak lagi. Beberapa nama yang jadi motivatornya semua ini, antara lain: Bhen Mul Wae alias Mulyono Muksim, Fathur ER, Zabid WS, Syarifudin Miftah, Gepeng Shodikin, Endang ‘Guru’ Kusinati, Yani ‘Guru Senopati’ Setyowati, Siti Muntadiroh, dan beberapa nama lainnya. &lt;br /&gt; Juli 2010 lalu,  komunitas ARS menerbitkan buku antologi puisi bertajuk ‘Gemuruh Sunyi’ yang di dalamnya memuat puisi-puisi berbahasa Indoinesia dan Jawa. Beberapa nama penyair muda puisinya termuat di buku itu, antara lain: Zabid WS, Fathur ER, Bhen Mul Wae, Syarifudin Miftah, Endang Kusniati, Yani Sulistyawati, Masyuns, Achmad Masud Hadi, Nur Rohmania, Joko Jambul, Azizun, dan Tia Ma. Tak ketinggalan pula puisi dari Bupati Sidoarjo waktu itu, Wien Hendarso, dan Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo,  HM Rochani&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komunitas Kibar Sidoarjo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Selain komunitas ARS yang cukup banyak anggotanya, ada juga komunitas sastra teater lainnya, bernama Kibar.  Konon,  kibar berasal dari akronim ‘ kita bareng-bareng atau kita bersama-sama.” &lt;br /&gt; Sungguh sebuah nama komunitas yang sangat sederhana, tapi tidak sesederhana kiprahnya di ajang sastra teater di kota festival, bernama Sidoarjo ini. Mengapa tidak sederhana? Karena setiap derap-langkahnya, tetap bernafaskan seni sastra dan teater.&lt;br /&gt;Menurut catatan dari rekan-rekan Kibar komunitas ini,  berawal dari keresahan yang dirasakan bersama rekan-rekan seniman se angkatan (punya usia rata-rata hampir sama, dari 17 hingga 27-an tahun) yang punya obsesi agar sehabis belajar di sekolah formal, mereka mengadakan semacam latihan kesenian. Baik itu  seni sastra, teater atau baca dan musikalisasi puisi. &lt;br /&gt;Rekan-rekan yang yang punya keresahan yang sama itu, kemudian secara bersama-sama pula membentuk wadah bernama “Kibar” yang pada waktu itu masih banyak beberapa rekan dari anggota Teater Kalam – MAN Sidoarjo. Secara tanggal lahir komunitas Kibar ini adalah tanggal 29 Juni 2006. Ini berarti  bahwa komunitas ini berusia lima tahun lebih. Hebat Bukan?&lt;br /&gt;Beberapa kali komunitas ini bertemu, belatih, dan kemudian berpentas. Jika mau mencatat, komunitas Kibar pernah tampil dalam pementasan teater, ludruk, musikalisasi puisi, dan kerap kali bergandengan dengan ARS (Alam Ruang Sastra) menggarap sebuah kegiatan sastra, seperti Peringatan Hari Sastra “Chairil Anwar” seperti  bulan April 2011 lalu.&lt;br /&gt;Kibar adalah sebagai wadah kreativitas anak-anak muda Sisoarjo, telah bersama-sama untuk bergerak dalam ranah kesenian, dan mencoba menyapa dunia dengan mewujudkan eksistensinya dalam berkarya.  Kibar juga banyak mendampingi sekolah-sekolah Negeri dan Swasta di wilayah Sidoarjo guna memberikan masukan-masukan kreatif, positif, bahkan komptetitif.&lt;br /&gt; Dalam perjalanan awalnya Kibar tidak hanya mampu menarik perhatian para penggiat seni, melainkan juga mampu menumbuhkan semangat berkarya pada beberapa kelompok seni lain, khususnya di kalangan pelajar. Pentas perdana Kibar,  yakni pertunjukan taeter  bertajuk ‘Rempuh’ tahun 2006 di Museum Mpu  Tantular, Sidoarjo; merupakan titik tumpu guna terrus melaju.&lt;br /&gt; Selain itu Kibar juga pernah menyandang juara beberapa Festival Musikalisasi Puisi di Tingkat Provinsi Jawa Timur. Pernah pula menjadi kelompok ludruk tunggal yang didelegasikan langsung oleh Pemerintah Sidoarjo (2007) untuk mewakili daerah, yang kemudian komunitas ini mampu masuk dalam kategori Terbaik se-Jawa Timur , ketika tampil pentas di Taman Krida Budaya, Malang.&lt;br /&gt;  Demikian prestasi yang pernah disandang komunitas Kibar, disamping ada pula para awaknya/anggotanya punya prestasi yang lain. Catat saja misalnya:  nama Fathur ER, naskah drama yang ditulisnya berhasil masuk dalam nominasi naskah drama Terbaik se-Jatim.  Ia juga pernah menjadi juara lomba baca puisi sekaligus pernah menyutradarai drama yang meraih predikat penyaji terbaik pada Festival Teater Remaja di Taman Budaya Jatim. Lantas nama lain ada: M Zainul, sebagai pemenang lomba baca puisi tingkat remaja Terbaik se-Jawa Timur yang diadakan oleh Teater “Q” IAIN Surabaya; lantas Ghepenk,  pernah membawa komunitas ini menjuarai lomba musikalisasi puisi Tingkat Jawa Timur;  M. Shodikin : pernah menjuarai lomba musikalisasi puisi tingkat Jatim, dan kemudian Joko Dwi: pernah membuat antologi sendiri; serta Yeni,  meraih gelar aktris terbaik dalam lomba drama remaja, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt; Jika mau mencatat aktivitas Kibar lainnya, beberapa waktu lalu, ketika ARS punya gawe mau tampil di acara “Padhang Rembulan”-nya UPT Dikbangkes – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur;  sebagian besar personal yang ikut tampil adalah anak-anak komunitas Kibar. Sebut saja: Fatchur, Ghepenk,  Endang Kusinati, Yani Setyowti, Muntadiroh, dan banyak lagi. &lt;br /&gt; Ketika itu, mereka menggarap puisi-puisi saya, antara lain: Cerita Nabi Nuh dan Cerita-Cerita Khayal Yang Jauh, Di Mana Mereka Sekolah, dan Akulah Itu yang Diam, ketiganya karya Aming Aminoedhin. &lt;br /&gt; Harmonisasi musik, gerak, nyanyi, dan baca puisi dalam tampilan musikalisasi puisi komunitas ARS yang di dalamnya banyak rekan Kibar sore itu, memang telah mengelaborasikan dengan sempurna. Terbukti ketika mereka tampil, mendapat tepuk tangan audiens yang kebanyakan adalah para pelajar cukup menggemuruh. Ini membuktikan bahwa mereka (audiens) cukup puas dengan tampilan mereka.&lt;br /&gt; Semua yang telah dilakukan rekan-rekan Kibar memang sudah cukup banyak, tapi bukan berarti lantas tak lagi berkiprah lagi. Tapi teruslah selalu berkibar, meski mungkin hanya sebatas membuat compact disc (CD) musikalisasi. Tapi ini sebuah kerja bersama yang banyak kendala dan tantangan, di samping mungkin perlu pula kesabaran dan kesungguhan dalam menggarapnya. Selamat atas CD Musikalisasi Puisinya! &lt;br /&gt; Melihat dari dekat komunitas Kibar, barangkali memang ada yang punya satu nama, mengikuti dua komunitas, yaitu ARS dan Kibar. Tapi tak apa! Itu tidak juga haram! Itu malah merupakan kreativitas bagi seseorang yang tak mau lelah untuk terus berkarya. Atau sebut saja, agar derap langkah berkesenian terus saja berjalan. Apa pun namanya, itu tidak penting. Yang terpenting, mau berkiprah dan melangkah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Melihat perkembangan komunitas sastra teater di Jawa Timur memang tak banyak jumlahnya. Dari yang tidak banyak itu, banyak juga yang kini tak ada kedengaran aktivitasnya. Sebut saja: FASS, Forasamo, PS3LP-Unair, PPSJS, Persada Ngawi, Komunitas SD Djombatan Jombang, dan mungkin masih banyak lagi.&lt;br /&gt; Harapan yang harus selalu saya pompakan adalah bagaimana komunitas ini terus berderap, melangkah, dan kemudian pentas dengan indah. Sedangkan masyarakat penontonnya teopuk tangan meriah! Selamat berultah Kibar! Teruslah untuk selalu berkibar! Layaknya mentari pagi bersinar! Salam budaya!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;       Siwalanpanji, 17 Juli 2011&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8600469586728299731?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8600469586728299731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8600469586728299731&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8600469586728299731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8600469586728299731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2011/08/kibar-ultah-kelima.html' title='kibar ultah kelima'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-314345688055596284</id><published>2011-08-01T13:53:00.002+07:00</published><updated>2011-08-01T13:56:08.679+07:00</updated><title type='text'>REUNI SASTRA MESEN 1977</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sketsa Reuni Anak Sastra Mesen 1977&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU ”CANDIK ALA 1965”&lt;br /&gt;DI BALAI SOEDJATMOKO SALA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sungguh, sebuah kemahadahsyatan Allah SWT memanglah tak tertandingi. Betapa tidak? Tanpa disangka-sangka waktu bersahabat dengan kami semua, anak-anak mahasiswa Falutas Sastra –  UNS 11 Maret – angkatan 1977,    bisa bertemu sua kembali. &lt;br /&gt;Berpuluh tahun kami tak bertemu, dan ketika seorang kawan bernama Tinuk R. Yampolsky menggelar bedah bukunya “Candik Ala 1965”; tiba-tiba kami seakan tersedot untuk melangkah menggerakkan kaki-kaki bergairah, bersepakat untuk datang sebagai penggembira di acara sederhana, tapi ternyata tak sederhana itu. &lt;br /&gt; Pembicara dalam bedah buku itu adalah Sapardi Djoko Damono, yang kemudian seakan menjadi magnet tersendiri bagi kami semua untuk berjumpa. Silaturahim, kata banyak orang, memperpanjang umur dan mendatangkan rejeki tiada terduga. Dan niat silaturahim itulah, yang kami semua mengemas dalam bingkai reuni mahasiswa sastra Mesen, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.&lt;br /&gt; Meski tak semuanya anak-anak sastra Indonesia, sebab ada Kristanta (Fakultas Teknik) dan ada Kuncahyono (sastra Inggris), tapi kegairahan pertemuan sungguh menakjubkan. Sedangkan mereka yang hadir  itu: Listyawatie Sulistyo (Watiek), Hari Dwi Utomo (Hari), Bachrul Ulum Zuhri (Bachrul), Minto Rahayu (Yayuk), M. Amir Tohar (Aming), Budi Wijayani (Budi), Wieranta (Pakde Wier), Kintarsih Kartika Purbayani (Kintarsih), Tinuk Rosalia Yampolsky (Tinuk) yang bukunya dibedah, Widyarni (Wiwied), dan Kuncahyono (Si Kun dari Wonosobo).&lt;br /&gt; Beberapa kawan yang lain: Pudji Isdriyani, Murtini, Markamah, Royswan Isgandi, Sugino, Engkon, Ujang Sutedjo, Dadiyo, Farida Rohyuli Hardiyanti, Prasanti Handayani, Saudah, Junaidi Haes, Wulan Dwiyanti, dan Ratna, tak bisa hadir.  Barangkali mereka semua lagi sibuk dengan pekerjaannya, atau mungkin lagi gundah melihat negeri ini? Atau bisa juga tak mendengar kabar yang menyenangkan ini?&lt;br /&gt; Pertemuan yang terselenggara di Balai Soedjatmoko, Toko Buku Gramedia - Jalan Slamet Riyadi - Surakarta itu; 24 Juli 2011 malam; berlangsung sukses. &lt;br /&gt; Ucapaan terima kasih tak terhingga jumlahnya, tentu akan kita tujukan kepada Tuhan YME, lantas Tinuk yang punya gawe, dan Watiek Sulistyo yang tak lelah memompakan pentingnya temu-sua itu. Watiek memang EO-nya acara. Sehingga harus diberi reward jempol sebanyak-banyaknya!&lt;br /&gt; Lantas,  setelah itu, kami semua rame-rame ke warung wedangan yang biasa kita sebut bernama HIK (Hidangan Istimewa Kampung)-nya Kemin di sekitar Monumen Pers Nasional, Jalan Yosodipuro, Sala. &lt;br /&gt; Duh..... betapa nikmatnya, ketika minum kopi dan makan tempe-tahu bacem yang dibakar oleh Kemin. Tentunya, sambil bercerita tentang indahnya ketika kuliah di bawah tanjung Mesen yang memberi berjuta inspirasi menulis puisi itu. Cerita juga tentang kawan-kawan yang kini tak lagi terdengar juntrungnya ke mana? Atau cerita-cerita lucu yang dikemas dari rumah, termasuk anak-anak mereka yang kini mulai sekolah atau kuliah!&lt;br /&gt; Sungguh pertemuan yang menyejukkan! Sekali-kali, memang perlu, ada pertemuan semacam ini. Pertanyaan yang kemudian muncul, kapan akan diadakan lagi?&lt;br /&gt; Sebuah tanya yang barangkali teman-teman yang akan bisa menjawabnya! Atau barangkali Bachrul akan mengundang kami semua ke Yogya? Ah..... betapa senangnya! &lt;br /&gt; Terakhir, terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan kembali kawan-kawan kami yang tetap setia dengan sastra. Apa pun maknanya, berapa pun kadar kesastraannya! Terima kasih, Tuhan!***(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aming &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aminoedhin)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-314345688055596284?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/314345688055596284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=314345688055596284&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/314345688055596284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/314345688055596284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2011/08/reuni-sastra-mesen-1977.html' title='REUNI SASTRA MESEN 1977'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-6242869142921044116</id><published>2011-04-24T21:55:00.002+07:00</published><updated>2011-04-24T22:00:19.498+07:00</updated><title type='text'>REMBUGAN  KBJ V SURABAYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REMBUGAN KBJ V DARI HATI KE HATI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh: Aming Aminoedhin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penyair, Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut agenda kegiatan 2011, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur, ketiban sampur, jadi penyelenggara Kongres Bahasa Jawa (KBJ) V. Konon, akan diselenggarakan di kota Surabaya. Tapi adakah sudah dipersiapkan uba-rampe, sarana dan prasarana, kegiatan adanya kongres yang berskala besar itu?  Saya tidak tahu persis akan hal ini. Seorang kawan di PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), Bonari Nabonenar, sang ketuanya, bahkan katanya tidak diundang pada rapat awal persiapan KBJ V nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Majalah Bahasa Jawa&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;Dalam perjalanan panjang sebagai penulis, berkali sudah saya menjadi juri lomba baca  dan tulis geguritan, yang menggunakan media bahasa Jawa. Sebut saja tahun lalu, 2009, bertempat di Museum Mpu Tantular, dalam rangka menggelar Festival Tantular. Ada lebih 100 pelajar (laki-laki dan perempuan) se-Jawa Timur, yang menjadi peserta lomba ini. Lantas ada pula kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata &amp; Kebudayaan, Dinas Pendidikan Surabaya, kerja sama Kalawarti  Basa Jawa ‘Jaya Baya’ di Cak DurasimTaman Budaya Jawa Timur; juga diikuti lebih dari 100 pelajar (laki-laki+perempuan) se-Kota Surabaya.&lt;br /&gt; Contoh lain yang agak mengagetkan, ketika buku saya yang penerbitannya secara swadana, dan tercetak hanya sekitar 300 eksemplar, bertajuk “Tanpa Mripat” ‘kumpulan geguritan gagrag anyar’ terjual ludes, meski hanya melalui acara ceramah-ceramah sastra saya yang sangat insidentil. Kumpulan geguritan (puisi berbahasa Jawa) tersebut, ternyata mendapatkan respons positif pada masyarakat sastra Jawa di Jawa Timur.&lt;br /&gt; Hal  yang sama juga dilakukan oleh penggurit Widodo Basuki, ketika berceramah di depan para guru, mahasiswa, dan siswa; dia selalu menjual kumpulan guritannya ‘Layang Saka Paran’ dan ‘Meditasi Alang-Alang.’ Menurut Widodo, diistilahkan ngamen ceramah sekaligus jualan buku gurit, ternyata juga laku. Lumayan, katanya, kampanye sastra Jawa dan jualan bukunya. &lt;br /&gt; Dari kegiatan tersebut di atas, membuktikan bahwa minat pelajar di Surabaya dan Jawa Timur masih cukup antusias pada sastra Jawa. Hal ini menepis anggapan adanya asumsi yang mengatakan bahwa sastra Jawa telah terpinggirkan. Menepis pula anggapan bahwa program “Java Days” (berbahasa Jawa) yang dilakukan sekolah-sekolah di Surabaya tidak efektif. Meski agak ironis memang, penamaan program sehari berbahasa Jawa di sekolah-sekolah Surabaya, dengan bertajuk “Java Days” yang menggunakan bahasa Inggris itu. Ironis!&lt;br /&gt; Terlepas dari persoalan di atas, bahwa minat masyarakat Surabaya dan Jawa Timur terhadap sastra Jawa masih tergolong cukup lumayan, jika tidak boleh dikatakan cukup banyak. Lebih lagi, jika mengingat bahwa hanya di kota Surabaya-lah, yang masih tetap ada penerbitan malah berbahasa Jawa, dengan persebaran pembacanya hingga luar Jawa. Sungguh sebuah prestasi pelestarian  bahasa Jawa yang perlu diacungi dua jempol sekaligus. Dua majalah berbahasa Jawa tersebut adalah “Panjebar Semangat” dan “Jaya Baya” yang hingga kini masih terbit, setiap minggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bonari dan Keliek Eswe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Persiapan menyongsong Kongres Bahasa Jawa (KBJ) V di kota Surabaya yang dijadwalkan akan dilangsungkan 2011 nanti, hingga kini belum terdengar grengseng (gairah)-nya. Setidaknya kegiatan-kegiatan yang mengarah ke persoalan masalah bahasa dan sastra Jawa. Misalnya saja, semacam lomba-lomba penulis sastra Jawa, lomba baca dan tulis gurit, macapat, tembang, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; Persoalan lain yang tak kalah pentingnya, seharusnyalah Panitia KBJ V melibatkan para praktisi sastra Jawa yang setia menulis sastra Jawa,  dalam mempersiapkan KBJ V nanti. Mereka itu seperti; Djajus Pete, JFX Hoery, Suparto Brata, Bonari Nabonenar, Keliek Eswe, Sunarko Sodrun Budiman, Budi Palopo, Sumono Sandy Asmoro, Suharmono Kasijun, Widodo Basuki, Anie Sumarno, Mbah Brintik, Sita T Sita, Titah Rahayu, Yunani, dan mungkin masih sederet lagi nama yang tak mungkin  dipajangkan di sini.&lt;br /&gt; Mengapa melibatkan mereka? Agar tidak terulang kasus yang terjadi pada KBJ III dan IV, yang mana beberapa nama pengarang sastra yang tak terlibat KBJ, membuat sendiri, bertajuk  Kongres Sastra Jawa (KSJ) I (Solo), dan KSJ II (Semarang). Kegiatan KSJ ini, lantas banyak orang mengatakan sebagai tandingan dari Kongres Bahasa Jawa. &lt;br /&gt;KBJ dengan dana Pemerintah yang milyaran rupiah, sedangkan KSJ dengan biaya patungan, alias bantuan dari dana driyah. Betapa pun sederhananya, bahkan saat ada KSJ I di Solo, sempat dihadiri oleh  Bambang Sadono, Arswendo Atmowiloto, dan WS Rendra (almarhum). &lt;br /&gt; Tokoh kontroversial yang jadi motivatornya KSJ adalah: Bonari Nabonenar dan Keliek Eswe, dua nama pengarang sastra Jawa yang keduanya cukup kreatif, inovatif, dan konstruktif dalam memandang dan menyikapi KBJ dengan menyelenggarakan sendiri Kongres Sastra Jawa.&lt;br /&gt; Pertanyaan yang kini muncul adalah, masihkah Bonari dan Keliek, pada KBJ V Surabaya 2011 nanti; juga akan menyelenggarakan KSJ yang banyak asumsi orang  mengatakan sebagai tandingan? Walahu allam bishawab........ &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Rembugan KBJ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila KBJ V benar-benar diselenggarakan di kota Surabaya, barangkali menarik untuk bisa mengkampanyekan bahasa Jawa lebih efektif di sekolah. Kenapa? Karena selama ini, ada satu hari yang dijadwalkan ber-“Java Days”, atau berbahasa Jawa di lingkungan sekolah. Sekaligus, mengecek keberadaan ‘Java Days’ yang diprogramkan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, apakah bisa berjalan lancar dan kontinyu dijalankan atau hanya isapan jempol belaka? Apakah bisa diterapkan, atau mungkin  hanya sekedar himbauan, yang tak wajib dijalankan? &lt;br /&gt; Sungguh, bahasa Jawa, bahasa Ibu-nya orang Jawa, sebenarnya mempunyai kekayaan kosa kata yang tiada bandingnya. Jika mau jujur, saya sebagai penulis sastra (media Indonesia dan Jawa), merasakan bahwa ungkapan dalam kosa kata sastra Jawa, memang lebih banyak jumlahnya, dan terasa indah dituliskan. Bahkan kosa-kotanya, terkadang sulit diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bahasa Jawa juga sangat efektif guna mengingatkan manusia Jawa, semacam: pitutur luhur, tembang macapat, dan juga geguritan gagrag anyar. Apalagi dalam tulisan atau lisannya menggunakan bahasa krama inggil.&lt;br /&gt; Menyosong Kongres Bahasa Jawa, barangkali kita memang diingatkan agar kita semua tetap ‘nguri-uri’ (melestarikan) bahasa Ibu kita, bahasa  Jawa. Menyongsong KBJ V selayaknyalah kita (utamanya Pemda Provinsi Jawa Timur) mempersiapkan kegiatan itu secara maksimal. Tidak hanya semacam seremonial belaka. Utamanya, ajaklah praktisi sastra Jawa, seperti: Suparto Brata, Bonari Nabonenar, Keliek Eswe, Suharmono Kasijun, Widodo Basuki untuk rembugan soal ini. Agar KBJ V Jawa Timur ini benar-benar akan menghasilkan yang terbaik bagi perkembangan bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Mari kita persiapkan KBJ V dengan membuka hati bagi semua praktisi budaya Jawa. Rembugan dari hati ke hati. Mari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Desaku Canggu, 27 Juli  2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-6242869142921044116?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/6242869142921044116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=6242869142921044116&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6242869142921044116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6242869142921044116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2011/04/rembugan-kbj-v-surabaya.html' title='REMBUGAN  KBJ V SURABAYA'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-1075507356556111223</id><published>2011-02-10T17:41:00.001+07:00</published><updated>2011-02-10T17:48:44.204+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOTA NGAWI dan SASTRAWAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan Kecil dari anggota Komunitas Persada Ngawi&lt;br /&gt;ditulis: Aming Aminoedhin&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan sastra Indonesia telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan, dengan ditandai banyaknya pengarang-pengarang muda yang bermunculan, baik laki-laki maupun pengarang perempuan. Begitu pula karya-karya yang diterbitkan, baik prosa, puisi, maupun naskah drama; sangatlah beragam corak, tema, dan gaya penulisannnya. Begitu pula perkembangan sastra di provinsi Jawa Timur ini, juga mengalami kepesatan dalam hal jumlah pengarang, maupun mutu karya yang diterbitkan.&lt;br /&gt;Perkembangan sastra di wilayah ini, meski tidak sefenomenal daerah lain, jika ditilik dari sisi perkembangan kuantitas dan kualitas penggiat pelaku sastra,  di provinsi ini patut mendapat perhatian tersendiri. Banyak karya sastra ditulis oleh pengarang sastra Indonesia yang lahir atau berdomisili di Jawa Timur ini. Di sisi lain, ada suatu ironi, yakni ketidaktahuan masyarakat tentang keberadaan pengarang sastra Indonesia di Jawa Timur beserta karya-karya sastranya.&lt;br /&gt;Salah satu indikator perkembangan sastra Indonesia di Jawa Timur dapat dilihat dari pemunculan karya-karya pangarang dan penyair di media massa. Dari beberapa nama yang ada, sejumlah nama pengarang sering muncul di surat kabar atau majalah, yaitu: Budi Darma, Suripan Sadi Hutomo, Akhudiat, Aming Aminoedhin, M. Shoim Anwar, D. Zawawi Imron, Rusdi-Zaki, Beni Setia, Sirikit Syah, Luthfi Rachman, Muhammad Ali, Tengsoe Tjahjono, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widiyanto, Herry Lamongan, Mashuri, Indra Tjahyadi, W. Haryanto, S. Yoga, S. Jai dan sederet nama terkenal lainnya. Berbagai genre sastra yang mereka tampilkan meliputi prosa (cerpen/cerita sambung/novel), puisi, bahkan naskah drama.&lt;br /&gt;Sebagai salah satu cabang kesenian, berupa sastra di Jawa Timur cukup banyak digemari. Banyaknya komunitas sastra yang hidup dan berkembang di provinsi Jawa Timur merupakan salah satu bukti, di samping seringnya dilakukan pementasan-pementasan sastra. Beberapa komunitas sastra Indonesia yang dapat dicatat adalah FASS (Forum Apresiasi Sastra Surabaya), Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto),  Komunitas Sastra Teater Persada (Ngawi), Komunitas BMS (Bengkel Muda Surabaya), Kostela (Komunitas Sastra dan Teater Lamongan), Komunitas Sastra Pesantren Al-Amien (Sumenep), Komunitas Sastra dan Teater Gapus (Fakultas Sastra Unair Surabaya), Komunitas Kalimas (Unesa/IKIP Surabaya) Forum Seni Sastra Luar Pagar (Unair Surabaya),  dan FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya)&lt;br /&gt; Ironisnya, banyaknya pergelaran kesastraan ternyata tidak diikuti oleh kepopuleran  para sastrawan yang melakoninya. Para pengarang sastra Indonesia di Jawa Timur memang kurang dikenal oleh masyarakat Jawa Timur sendiri. Padahal di antara pengarang dan penyair tersebut, ternyata telah menghasilkan beberapa karya yang monumental dan cukup fenomenal. Puisi berjudul “Ibu” karya D. Zawawi Imron, puisi berjudul “Berjamaah di Plaza” karya Aming Aminoedhin, novel “Olenka” karya Budi Darma, novel “Saksi Mata” dan “Kremil” karya Suparto Brata, merupakan beberapa contoh karya tersebut.&lt;br /&gt; Berangkat dari persoalan inilah, penulis ingin mencoba menyajikan  keseimbangan antara ciptaan dan pencipta, haruslah juga dikenalkan kepada masyarakat pembacanya, yaitu keberadaan komunitas ‘Teater Persada’ yang secara kebetulan saya pernah jadi anggotanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teater Persada Ngawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan sejarah komunitas sastra ‘Teater Persada’ Ngawi, cukuplah panjang perjalanannya. Menurut keterangan, Mh. Iskan, ketua Teater Persada, bahwa kelompoknya berawal dari komunitas para pelajar yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Ngawi,  tahun 1960-an. &lt;br /&gt; Dari komunitas ini,  kemudian terbentuklah apa yang dinamakan komunitas bernama “Himpunan Pecinta Sastra Etsa’ kemudian lebih dikenal kelompk ‘Etsa Divina Artis Magistra’ yang merupakan gabungan para pelajar PII tersebut, dengan membuat sebuah kelompok seni pertunjukan, menampilkan berbagai cabang seni. Di antaranya: pentas keroncong, drama,  dan baca puisi. Beberapa nama yang aktif di komunitas ini adalah: Anwaroeddin, Suwandi Black, Mh. Iskan, Ummi Haniek, Rodiyah, Sutomo Ete, Gisran, Rosyid Hamidi, Wahab Asyhari, Salimoel Amien, A. Mukhlis Subekti, M. Har Harijadi, Heru, Aming Aminoedhin, Djoko Mulyono, Ratih Ratri, Alina Evawanti, Susilowati, Agnes Maria Soejono,  dan banyak lagi. &lt;br /&gt; Pada mulanya komunitas ini hanya tampil di komunitasnya sendiri, Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Ngawi, tapi pada perkembangannya bisa mementaskan seni pertunjukannya di luar komunitasnya. Misalnya diundang di Bupati Ngawi, pentas drama di pendapa Kabupaten Ngawi.&lt;br /&gt; Berawal dari intensnya komunitas ini berkumpul dan latihan seni pertunjukan inilah yang kemudian memunculkan ide memberi nama komunitas, yaitu ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ pada tahun 1978. Pada waktu itu, kata Mh. Iskan, komunitas ini akan mengikuti Lomba Drama se Jawa Timur di Surabaya.&lt;br /&gt; Susunan kepengurusan, Mh. Iskan, terpilih sebagai ketuanya; dan M. Har Harijadi menjadi sekretaris. Beberapa nama yang ikut jadi pengurus antara lain: Salimoel Amien, A. Mukhlis Subekti, Wahab Asyhari, dan Suwandi Black.&lt;br /&gt; Markas atau pangkalan dari Komunitas Sastra Teater Persada adalah Jalan Trunojoyo 90, Ngawi; yang merupakan rumah pribadi Mh. Iskan. Sedangkan latihan-latihan drama, dan baca puisi, biasanya dilaksanakan di pendapa Paseban WR. Soepratman Widyodiningrat, yang berada di depan Kantor Bupati Ngawi. Alternatif lain dalam penyelenggaraan latihan drama dan puisi, berada di halaman masjid besar Ngawi atau di rumah AM. Subekti di dekat masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aktivitas Teater Persada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan panjangnya ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi adalah mengadakan latihan-latihan baca puisi dan drama. Dari latihan-latihan tersebut, ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ berkali-kali pentas drama/teater dan selalu diawali dengan pembacaan puisi, bahkan tak jarang di dalam pentas drama/teaternya selalu memasukkan unsur di dalamnya.&lt;br /&gt; Dalam aktivitas pentas drama, ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ tidak hanya pentas drama panggung, tapi juga drama radio di RKPD (Radio Khusus Pemerintah Daerah) Kabupaten Ngawi, dan Radio Al-Azhar (Radio Swasta milik Pelajar Islam Indonesia) Cabang Ngawi. &lt;br /&gt; Selain pentas drama radio, ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi,  juga pernah membuat video-film bekerja sama dengan BKKBN Jawa Timur, dengan KPU Kabupaten Ngawi, dan instansi pemerintah di Kabupaten Ngawi.&lt;br /&gt; Pentas drama panggung ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi tidak hanya di kotanya sendiri Ngawi, dan berulang kali; akan tetapi juga tercatat pernah pentas di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo, Surakarta,  Taman Budaya Jawa Timur, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA), Dharmahusada Barat, Surabaya, Taman Budaya Jawa Tengah di Surabaya; dan Taman Budaya Yogyakarta.&lt;br /&gt; Mh. Iskan sebagai ketua komunitas, ketika teman-teman Persada tidak lagi bisa diajak bermain, maka dia memainkan sendiri sebuah naskah monolog karya Putu Wijaya berjudul ‘Mulut’. Pentas monolog berdurasi sekitar satu jam ini, telah digelarpentaskan 5 kali pertunjukan. Pentas pertama di depan siswa-siswa SMAN 1 Ngawi, MAN Ngawi, Dewan Kesenian Surabaya, dan SMAN 2 Ngawi; pada  tahun 2006. Sedangkan tahun 2007 dipentaskan di depan mahasiswa Universitas Widya Mandala Madiun (tidak ingat tanggal dan hari pentasnya).&lt;br /&gt; Naskah-naskah drama yang dipentaskan oleh‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, kebanyakan memang naskah yang ditulis dan disutradarai sendiri oleh ketuanya, Mh. Iskan; kecuali naskah pementasan dalam rangka lomba drama se-Jawa Timur.&lt;br /&gt; Dalam rangka lomba pementasan drama se-Jawa Timur, ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, pernah mendapatkan predikat terbaik (sutradara dan kelompok) di tahun&lt;br /&gt;1978; serta sutradara, kelompok,  dan aktor terbaik pada tahun 1983. Secara catatan prestasi ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi sudah memenangkan dua kali kemenangan di tingkat Jawa Timur, yaitu 1978 dan 1983. Belum lagi, telah beberapa kali para anggotanya memenangkan beberapa kali lomba baca dan menulis puisi di berbagai lomba.&lt;br /&gt; Aktivitas dari ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi memang tak pernah berhenti, bahkan ketuanya sendiri, Mh. Iskan, tetap bermonolog sendiri serta pentas di berbagai tempat dan komunitas lain. Di samping itu, Mh. Iskan, juga masih melukis dengan corak lukisan gaya ‘Sanggar Bambu” Yogyakarta, di mana dulu ia termasuk anggota komunitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbitan BukuTeater Persada&lt;br /&gt;Membicarakan sejarah perjalanan ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, maka tidak lengkap apabila tidak membicarakan penerbitan yang telah dihasilkan komunitas ini. Secara hitungan, ada tiga kumpulan puisi (meski sederhana bentuknya), tapi merupakan bukti keberadaannya selama ini.&lt;br /&gt; Ketiga buku penerbitan ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi tersebut adalah merupakan trilogi kumpulan puisi, yaitu Tanah Persada (1983), Tanah Kapur (1986), dan Tanah Rengkah (1998). Para penulisnya adalah tiga penyair, yaitu: Mh. Iskan, M. Har Harijadi, dan Aming Aminoedhin yang selalu ada dalam kumpulan puisi tersebut. Hanya pada kumpulan Tanah Persada terbitan tahun 1983, ada salah satu anggotanya ikut menulis puisi dalam kumpulan tersebut, bernama LH. Irmawati &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanah Persada, kumpulan puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Kumpulan puisi yang berjudul ‘ Tanah Persada’ ini  diterbitkan oleh kelompok Teater Persada Ngawi, tahun 1983. Dalam kumpulan puisi yang sederhana (stensilan) ini, diberi kata pengantar oleh M. Har Harijadi, salah satu dari penyair yang puisi-puisinya termuat dalam kumpulan ini.&lt;br /&gt; Dalam kata pengantarnya, antara lain dikatakan, “ Beberapa puisi yang termuat, dihimpun dengan acak, dalam artian tak ketat selektif, mengingat waktu mempersiapkan hanya sehari semalam – setelah ide mencuat dari seseorang yang obsesinya telah lama terpendam – namun dilanda kesibukan. Di antaranya pernah termuat di surat kabar atau majalah yang entah kapan tahun penerbitannya, serta yang lain bertahun lebih dari satu dekade dari yang sekarang. Apa boleh buat, suatu ‘kehadiran’ terkadang memang hanya satu kebetulan. Yang penting, mari diisi dengan perbuatan. Keliru tidak malu, yang benar kita kejar. Setuju?&lt;br /&gt; Pengantar M. Har Harijadi menunjukkan betapa ‘Komunitas Sastra Teater Persada’ Ngawi, telah menunjukkan kehadirannnya lewat kumpulan puisi ‘ Tanah Persada’ ini, betapapun sederhananya. Serta berbuat untuk mengkoleksi puisi-puisi para anggota komunitasnya.&lt;br /&gt; Kumpulan puisi ‘Tanah Persada’ bersisi  28 judul puisi, terdiri 5 judul puisi karya Mh. Iskan, 7 judul karya M. Har Harijadi, 8 judul karya Aming Aminoedhin, dan 8 judul puisi karya LH. Irmawanti S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa karya yang termuat dalam kumpulan tersebut  penulis sertakan guna melengkapi penelitian ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mh. iskan&lt;br /&gt;SEBUAH JENDELA TERBUKA &lt;br /&gt;PAGI INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salamku saja untukmu, gadis kecil&lt;br /&gt;yang berdiri tegak di jendela&lt;br /&gt;pagi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benang-benang mentarimenciummu kasih&lt;br /&gt;bagai selaksa bidadari turun&lt;br /&gt;beruntun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salamku saja untukmu, gadis kecil&lt;br /&gt;yang mengerti bunga mekar pagi hari&lt;br /&gt;tubuhmu ranum-ranum buah pisang&lt;br /&gt;di jendela segar&lt;br /&gt;alangkah terdampar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah jendela terbuka &lt;br /&gt;pagi ini&lt;br /&gt;di jantung kota&lt;br /&gt;menara yang tegak adalah ibunya&lt;br /&gt;di bawah taman lebat berbunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan gadis kecil itu&lt;br /&gt;masih saja sayu menatapnya&lt;br /&gt;-adakah bonekaku ketemu di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;segala tanpa kata&lt;br /&gt;sebab jendela itu tinggi&lt;br /&gt;dan gadis itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1967 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mh. iskan&lt;br /&gt;DI JALAN-JALAN TENGAH KOTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di jalan-jalan tengah kota&lt;br /&gt;orang bicara tentang kematian, peperangan dan kedengkian&lt;br /&gt;setiap kata adalah keyakinan&lt;br /&gt;meski cuma dengar dari berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di jalan-jalan tengah kota&lt;br /&gt;orang lebih tertarik untuk duduk&lt;br /&gt;dan bicara seenaknya tentang perburuan&lt;br /&gt;nyawa anak-anak yang di pertaruhkan&lt;br /&gt;dan serpihan-serpihan logam jadi akrab&lt;br /&gt;di antara padang-padang rumput&lt;br /&gt;hutanpun lata penuh asap mesiu&lt;br /&gt;kota-kota jadi mati&lt;br /&gt;kabut semakin rendah, semakin rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langitpun mulai mengeluh&lt;br /&gt;kapan bayi-bayi itu damai dalam gendongan&lt;br /&gt;tak terganggu desingan peluru&lt;br /&gt;tapi ini adalah permainan&lt;br /&gt;dari tangan-tangan yang haus&lt;br /&gt;dan jiwa-jiwa yang sunyi&lt;br /&gt;dari tuntutan kemerdekaan&lt;br /&gt;atau kerinduan yang dicanangkan&lt;br /&gt;lewat sumur-sumur bermata bangkai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di jalan-jalan tengah kota&lt;br /&gt;dimana-mana barat timur utara&lt;br /&gt;kabutpun semakin rendah, semakin rendah&lt;br /&gt;sementara burung-burung nyanyi lagu duka&lt;br /&gt;dan dimatanya terkenang nanah&lt;br /&gt;yang setiap kali meleleh&lt;br /&gt;genderang-genderang sayup mengetup satu-satu&lt;br /&gt;diantara kibaran-kibaran bendera setengah tiang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langitpun tetap mengeluh&lt;br /&gt;kabut semakin rendah, semakin rendah&lt;br /&gt;bumi seperti biasa mendukung beban&lt;br /&gt;meski tangis ini tertahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di jalan-jalan tengah kota&lt;br /&gt;orang bicara tentang kematian, peperangan dan kedengkian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, 1972&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mh. har harijadi&lt;br /&gt;SIANG HARI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ruang persegi empat ini pengap&lt;br /&gt;tubuhku lungkrah dan dadaku sesak&lt;br /&gt;haruskah tinggal berlama-lama menatap&lt;br /&gt;tanpa sedikitpun berusaha&lt;br /&gt;melapangkan nurani yang mendesak&lt;br /&gt;doapun telah berlaksa dilafazkan&lt;br /&gt;hatipun yang gundah telah dicobasegarkan&lt;br /&gt;tapi hanya padaMu-lah Tuhan &lt;br /&gt;yang kuasa menyejukkan&lt;br /&gt;apalah arti seorang hamba&lt;br /&gt;apalah arti segala usaha&lt;br /&gt;apalah artinya seorang manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngawi, 1973&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mh. har harijadi&lt;br /&gt;SEBELUM SENJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tercenung setelah tidur siang hari&lt;br /&gt;resahku yang abadi&lt;br /&gt;mengeram dalam hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari belum senja&lt;br /&gt;mestinya hari-haripun masih panjang pula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngawi, 1972&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;SELAMAT TINGGAL KOTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku seperti tak kuasa berucap ‘selamat tinggal’&lt;br /&gt;kota tanahku tercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selayang kulihat beburung berarak terbang menjauh kian jauh&lt;br /&gt;seperti telah jenuh melihat kotaku selalu melenguhkan keluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi akankah aku tetap bertahan&lt;br /&gt;pada sebuah kota, di mana &lt;br /&gt;yang abadi hanya sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota yang berbatas kali dan berbatas kali&lt;br /&gt;dan bila air meluap musim hujan, di jalan raya&lt;br /&gt;pasti sebatas lutut kaki. mobil terhenti&lt;br /&gt;anak-anak mendorong bernyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bila saatnya nanti, aku memang harus enyah&lt;br /&gt;melangkah pergi. mungkinkah resahku akan istirah&lt;br /&gt;dan sepiku akan menepi&lt;br /&gt;atau lebih terpatri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang ludah yang telah kuludahkan&lt;br /&gt;tiadalah mungkin akan kujilat kembali &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya pesan padamu, mitraku&lt;br /&gt;kata ‘kenangan’ hanya memunculkan keindahan beragam&lt;br /&gt;tapi cinta dengan beribu jalan bisa tetap bertahan&lt;br /&gt;meski sejuta luas samudra jarak terbentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngawi, 1982&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;PATUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kupatungkan wajahmu&lt;br /&gt;pada hatiku. Yang berarti ini tak&lt;br /&gt;memungkinkan bayang-bayang wajah&lt;br /&gt;akan lagi bergerak mendesak&lt;br /&gt;pada hati yang gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahmu telah jadi petapa yang semedi&lt;br /&gt;tenang. Seperti cendawan, pada &lt;br /&gt;hatiku tersimpan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kulihat dirimu masih rawan&lt;br /&gt;di hadapanku enggan. Di matamu&lt;br /&gt;memuat ragu-ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ngawi, 1983&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;lh. irmawanti s.&lt;br /&gt;TELAGA SARANGAN&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;        milikMukah ini Tuhan &lt;br /&gt;       telaga menghijau, bening, tenang &lt;br /&gt;       berbingkai Lawu?&lt;br /&gt;       teriak bocah-bocah kecil &lt;br /&gt;       tawarkan sekeranjang sayuran &lt;br /&gt;       juga mainan anak-anak &lt;br /&gt;       berjalan sepetak &lt;br /&gt;       perempuan tua &lt;br /&gt;       tawarkan barang serupa &lt;br /&gt;       milikMukah Tuhan &lt;br /&gt;       lalu laki-laki &lt;br /&gt;       dengan kuda &lt;br /&gt;        tujuh ratus lima puluh keliling telaga &lt;br /&gt;        milikMukah Tuhan &lt;br /&gt;        juga orang-orang papa &lt;br /&gt;        yang gemetar memohon kasih? &lt;br /&gt;        milikMukah Tuhan &lt;br /&gt;        telaga menghijau, bening, tenang &lt;br /&gt;        berbingkai Lawu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;lh. irmawanti s.&lt;br /&gt;PAHLAWAN TANPA TANDA JASA&lt;br /&gt;yang tercinta Ibu Bapak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan berdebu &lt;br /&gt;setia kalian lalui &lt;br /&gt;dengan beban &lt;br /&gt;makin sarat di pundak &lt;br /&gt;engkau kian senja &lt;br /&gt;sedang aku &lt;br /&gt;baru sampai pada titian pertama &lt;br /&gt;Tuhan &lt;br /&gt;nyalakan lilinMu &lt;br /&gt;singkirkan kerikil &lt;br /&gt;di jalan berdebu itu!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanah Kapur, kumpulan puisi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan puisi yang berjudul ‘ Tanah Kapur’ ini  diterbitkan oleh kelompok Teater Persada Ngawi, tahun 1986. Dalam kumpulan puisi yang sederhana (fotokopian) ini, diberi kata pengantar oleh M. Har Harijadi, salah satu dari penyair yang puisi-puisinya termuat dalam kumpulan ini.&lt;br /&gt; Dalam kata pengantarnya, antara lain dikatakan,” Perjalanan panjang Teater Persada memang tak bisa tercatat secara keseluruhan, namun demikian kegiatan yang pasti adalah teater/drama, dan beberapa kegiatan lain seperti baca puisi, serta membuat semacam latihan-latihan kesenian lainnya.&lt;br /&gt; Dalam perjalanan selama ini, Teater Persada pernah mencatat sebagai pemenang festival Drama se-Jawa Timur pada tahun 12978 dan 1983 di Surabaya.&lt;br /&gt; Lebih dari itu, sementara waktu ini Teater Persada Ngawi hanya berlatih teater secara tidak rutin di kampungnya sendiri, misalnya untuk persaiapan pementasan sewaktu-waktu. Lantara beberapa waktu berselang – sementara sedang gencar-gencarnya mempersiapkan ikut Festival teater di Surabaya – kabar yang terdengaer justru festival dibatalkan. Barangkali ada menyelinap kecewa, namun ada pula terasa yang diambil maknanya.&lt;br /&gt; Sebab itu kemudian memunculkan ide untu menerbitkan kumpulan sajak ‘Tanah kapur ini, agar komunikasi masih ada terjalin.”&lt;br /&gt;Dari kata pengantar ini, bisa diketahui bahwa Teater Persada Ngawi, memang tidak lelah-lelahnya berproses latihan teater. Sedang melalui latihan latihan-latihan itu, yang kemudian memunculkan ide lain berupa penerbitan kumpulan puisi ‘Tanah Kapur.”&lt;br /&gt;Kumpulan puisi ini memuat karya-karya puisi dari tiga penyair, yaitu: Mh. Iskan,  M. Har Harijadi, dan Aming Aminoedhin; memuat sejumlah 45 judul puisi, terbagi atas 12 judul karya Mh. Iskan, 19 judul karya M. Har Harijadi, dan 14 judul karya Aming Aminoedhin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karya yang termuat dalam kumpulan tersebut  penulis sertakan guna melengkapi penelitian ini:&lt;br /&gt;mh. iskan&lt;br /&gt;RUMPUT-RUMPUT BERGOYANG&lt;br /&gt;DI TANAH LAPANG&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;      rumput-rumput bergoyang di tanah lapang, adik&lt;br /&gt;      rindu rumput rindu jemput menggamit jiwaku&lt;br /&gt;      adalah kehadiran yang memanjang dan menyesak&lt;br /&gt;      jika rumput-rumput bergoyangan&lt;br /&gt;      di tanah lapang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      sepotong dukana nyangkut di daun pintu &lt;br /&gt;      dan aku menatap goyangan perdu &lt;br /&gt;      di bendul jendela &lt;br /&gt;       nyanyi sunyi di padang itu &lt;br /&gt;       jengkerik pun menyusut sayapnya &lt;br /&gt;       rindu rumput rindu lumut adalah menyatu &lt;br /&gt;      dalam tatapan warna senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       rumput-rumput bergoyang di tanah lapang, adik &lt;br /&gt;       rumput rindu menyaput dukana &lt;br /&gt;       yang membasuh warna malam &lt;br /&gt;       melantunkan suara merdeka &lt;br /&gt;      damai di bumi damai adalah kerinduan &lt;br /&gt;      seperti nyala rinduku padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ngawi, 1976&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mh. iskan&lt;br /&gt;AKRABNYA BIRU LANGI T&lt;br /&gt;DI ATAS BUKIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   akrabnya biru langit di atas bukit &lt;br /&gt;                   simphoni menyusup lewat senja itu &lt;br /&gt;                   secangkir teh mengulum hasratku &lt;br /&gt;                   yang sekian kali kutahan &lt;br /&gt;                   dan alam adalah selimutku &lt;br /&gt;                   di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         angin jatuh satu-satu &lt;br /&gt;                    sementara gembala itu meniti senja &lt;br /&gt;                    namun suara gaung doaku &lt;br /&gt;                    menepis punggung-punggung bukit &lt;br /&gt;                    mengalir di gerisik air mengelus batu-batu &lt;br /&gt;                    secangkir teh melewatkan sepiku &lt;br /&gt;                    dan doaku telah kuendap &lt;br /&gt;                     jadilah jiwa yang menuntunku ke lembah sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         dan perjalananku tak usah kau tangisi &lt;br /&gt;                     karena inilah hasrat untuk menembus waktu &lt;br /&gt;                     sampai kapan jam menghentikan detaknya &lt;br /&gt;                     akrabnya biru langit di atas bukit &lt;br /&gt;                     nyala sepiku menggugah &lt;br /&gt;                     aroma dan sendrian mengurut punggung bukit &lt;br /&gt;                     di sini kutatah namaku &lt;br /&gt;                     menjelang usia yang ketiga puluh enam&lt;br /&gt;      Ngawi, 1978&lt;br /&gt;mh. har harijadi&lt;br /&gt;SEBELUM PATAH HATI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;segera setelah mencintai &lt;br /&gt;kutetapkan syarat-syarat administrasi &lt;br /&gt;demi efisiensi &lt;br /&gt;abad teknologi&lt;br /&gt;                             Ngawi, 1978&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;mh. har harijadi&lt;br /&gt;DI NGAWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apalagi yang bisa saya pelajari &lt;br /&gt;pengulangan itu sudah membosankan &lt;br /&gt;sulit ditarik sepercik kemanfaatan &lt;br /&gt;sedang jadwal masih begini hari-hari &lt;br /&gt;tumpah darah katanya harus dijunjung tinggi &lt;br /&gt;saya malah tak bisa krasan-krasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1979&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;STASIUN BALAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara gerbong-gerbong barang&lt;br /&gt;Matahari panas menyerang. Stasiun &lt;br /&gt;seperti terbakar. Membakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara gerbong-gerbong renta &lt;br /&gt;Aku berlindung dari matahari yang tua. Terjepit &lt;br /&gt;tersudut antara gerbong-gerbong bisu &lt;br /&gt;Terkantuk-kantuk mata. Menunggu &lt;br /&gt;Menunggu lama. Saat loko tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara gerbong-gerbong yang ada &lt;br /&gt;Laparku menghunjam perut, seperti &lt;br /&gt;keris yang punya tuah. Bersiap &lt;br /&gt;menancap untuk membedah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta belum berangkat, meski &lt;br /&gt;muatan barang dan penumpang telah &lt;br /&gt;sarat. Sarat muatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerah tengah hari membakar &lt;br /&gt;Aku lelah duduk bersandar &lt;br /&gt;Menekan pikirrasaku berlayar&lt;br /&gt;Menekan perutku yang lapar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Solo, 1983&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       aming aminoedhin&lt;br /&gt;       TANAH KAPUR&lt;br /&gt;* sketsa kota ngawi pagi hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       tanah pegunungan kendheng memanjang tampak kabur &lt;br /&gt;      oleh kabut pagi, dan matahari muncul memerah &lt;br /&gt;      di timur menyenandung. berbaur suara &lt;br /&gt;       kicau burung dan indahnya embun di rumput daun &lt;br /&gt;       mengucap kata selamat pagi kota ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       rerumput di alun-alun berembun &lt;br /&gt;       alun-alun nan luas, dan tetukang kayu &lt;br /&gt;       memikul beban kayunya melintas &lt;br /&gt;       dari arah utara kota baris berjalan memanjang &lt;br /&gt;       menuju selatan ke pasar Beran, punya tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       adakah yang lebih berat &lt;br /&gt;       memikul kayu yang sarat demi nasi sesuap &lt;br /&gt;       atau menjual lebatnya hutan jati &lt;br /&gt;       demi mengejar tingkat teknologi abad ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       adakah kita kan kehilangan hutan jati &lt;br /&gt;       kicau burung, indahnya embun di rumput daun &lt;br /&gt;       saat matahari menjemput pagi &lt;br /&gt;       di esok hari nanti?&lt;br /&gt;     1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanah Rengkah, kumpulan puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan puisi yang berjudul ‘ Tanah Rengkah’ ini  diterbitkan oleh kelompok Teater Persada Ngawi, tahun 1998. Dalam kumpulan puisi yang sederhana (masih berbentuk fotokopian) ini, diberi kata pengantar oleh Aming Aminoedhin, salah satu dari penyair yang puisi-puisinya termuat dalam kumpulan ini.&lt;br /&gt;Dalam kata pengantarnya Aming Aminoedhin antara lain, mengatakan,”Ada semacam benang-merah yang melatarbelakangi terbitnya kumpulan puisi ini. Bermula dari omong kosong (Saya, Mas Iskan, dan Mas Harijadi) di beranda rumahnya Mh. Iskan yang kebak lukisan itu, tentang betapa banyaknya sekarang ini, generasi muda yang kepingin jadi penyair tanpa melalui tempaan pengalaman yang tearasa tiada mudah untuk menyandang ‘sang penyair’. Tak kurang pula bicara soal pentas ‘Wayangan Sabtu Legi’ di pendapa Bupati yang kini jadi tradisi di Ngawi. Kemudian dilanjutkan perbincangan soal perlu kiranya menyambung dua kumpulan puisi terdahulu terbitan Teater Persada Ngawi, yaitu Tanah Persada dan tanah Kapur. Lantas ketemulah ide untuk menerbitkan ‘Tanah Rengkah’ sebagai trilogi kumpulan puisi dari Teater Persada Ngawi. &lt;br /&gt;Sebenarnya tidak itu saja, kumpulan puisi yang terbit dari kota Ngawi. Bilau mau mencatat (dan itu pun tidak lengkap) adalah kumpulan puisi ‘Surat dari Ngawi’ (Mei, 1994) diterbitkan Kelompok Lingkar Sastra ‘ Tanah Kapur’ Ngawi,  yang ternyata sebagian besar penulisnya juga anak-anak Teater Persada Ngawi sendiri. Begitu pula  kumpulan puisi berjudul ‘Suluk Hitam Perjalanan Hitam di Kota Hitam’ (November, 1994), terbitan Teater Sampar Ngawi, yang para awaknya juga embrio dari Teater Persada Ngawi.&lt;br /&gt; Dari catatan pengantarnya kumpulan tersebut di atas, bisa diketahui bahwa di kota Ngawi juga banyak kelompok teater lain yang cukup berkembang keberadaannya. Belum lagi ada nama Teater Magnit yang diketuai oleh Kuspriyanto Namma, seorang penggagas Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP).&lt;br /&gt;Kumpulan puisi ‘Tanah Rengkah’ ini, masih memuat karya-karya puisi dari tiga penyair, yaitu: Mh. Iskan,  M. Har Harijadi, dan Aming Aminoedhin; memuat sejumlah 41 judul puisi, terbagi atas 14 judul karya Mh. Iskan, 13 judul karya M. Har Harijadi, dan 14 judul karya Aming Aminoedhin.&lt;br /&gt;Beberapa karya yang termuat dalam kumpulan tersebut  penulis sertakan guna melengkapi penelitian ini:&lt;br /&gt;mh. iskan&lt;br /&gt;LEMBAYUNG BAKUNG&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;      lembayung bakung &lt;br /&gt;      nagasari santapan pagi &lt;br /&gt;      tak mungkin sirna oleh teknologi &lt;br /&gt;      tak mungin mati oleh gerigi-gerigi &lt;br /&gt;      lembayung kangkung, serai madu, jenang ragi &lt;br /&gt;      adalah tumbal raga, adalah ruh lembah cadasku &lt;br /&gt;      yang tumbuh menurut getar jari-jari mencakari bumi &lt;br /&gt;      yang tumbuh melumasi otot-otot bayi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      napas lembayung daun kunci laos jahe &lt;br /&gt;      adalah bau kesturi menggugah alam pagi &lt;br /&gt;      menapaki ranjam batu dan desah tanah &lt;br /&gt;      yang tergugah &lt;br /&gt;      karena jiwa-jiwa yang pasrah &lt;br /&gt;      kemurnian yang abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      lembayung-lembayung bakung &lt;br /&gt;      nagasari santapan pagi &lt;br /&gt;      selalu kutemui setiap jengkal tanah &lt;br /&gt;     dan tubuhku menyatu di pusar raganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     ngawi, 1993 &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;mh. iskan&lt;br /&gt;SAJAK TEMBANG KAPUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin letih menepisi ranting &lt;br /&gt;dan bau tanah purba bangkit &lt;br /&gt;merebak di kulit bumi &lt;br /&gt;adalah nafas sukma yang bening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harumnya tanah kapur, coklatnya lembah &lt;br /&gt;tak mengubah niat yang tabah &lt;br /&gt;kali sunyi adalah rengkuh &lt;br /&gt;tembang megatruh &lt;br /&gt;menyusup jiwa-jiwa yang pasrah &lt;br /&gt;tak pernah istirah &lt;br /&gt;adalah tonggak adalah akar adalah &lt;br /&gt;getar yang memuput bongkah tebing cadas &lt;br /&gt;dicium langit tak wingit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ngawi, 1994&lt;br /&gt; mh. har harijadi&lt;br /&gt;         SEPANJANG JALAN RAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kadang terasa hina, tak berani mempercepat kendaraan&lt;br /&gt;          Waktu sudah kencang jalannya, hanya mati ketakutan satu-satunya&lt;br /&gt;           Aku yakin tak tahu nasib apa selama di jalan raya&lt;br /&gt;Tapi segalanya begitu gampang terlaksana&lt;br /&gt;Seperti yang sudah kerap terlihat, namun tak pernah teralami&lt;br /&gt;Padahal kini semuanya kian memaksa, tak bisa menghindari&lt;br /&gt;Ah, biarlah ditertawakan, lantaran terlalu berjaga-jaga&lt;br /&gt;  Padahal kini, harus banyak pergi menuruti arah teknologi&lt;br /&gt;Barangkali belum terlambat, masih selalu mengucap doa&lt;br /&gt;  Walau orang semakin tak saling mengenalnya&lt;br /&gt;  Tak pernah lagi perlu basa-basi, menyapa sekedarnya&lt;br /&gt;  Kini aku malah merasa dekat Tuhan berada di jalan&lt;br /&gt;  Aku berjumpa Tuhan di mana-mana&lt;br /&gt;  Sampai kapan berlaku hari-hari demikian&lt;br /&gt;  Siapakah yang patut disalahkan?&lt;br /&gt;  Jika memang begini keadaan&lt;br /&gt;  Kesimpulannya? Anak jaman akan kembali padaMu sendirian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ngawi, 1979&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            mh. har harijadi&lt;br /&gt;GEDONGTATAAN&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;saya ingin menyalahkan petani kalau begini &lt;br /&gt;sudah bertransmigrasi lalu pulang kembali &lt;br /&gt;tidakkah sesuai dengan profesi &lt;br /&gt;hidup bertahun di dusun ternyata tak dihayati &lt;br /&gt;masihkah hasrat mengekalkan urbanisasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hutan yang bergayutan bukan untuk ditakutkan &lt;br /&gt;betapa luasnya tak terhitungkan masa depan &lt;br /&gt;salamkan hatimu, kita adalah satu &lt;br /&gt;mari kita benah, sama-sama punya rumah &lt;br /&gt;bukankah ini khalifah yang telah jadi anugrah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebenarnya tak lagi perlu tawaran&lt;br /&gt;kalau kita sudah darahkan pikiran &lt;br /&gt;tinggallah keteguhan, barangkali juga segumpal pengorbanan &lt;br /&gt;di sana juga kerasan, kenapa di tanah sini tak kerasan &lt;br /&gt;ahoi hidup bukan lagi hanya menerima sesuap makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Lampung, 1980&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;MATAKU MATA IKAN&lt;br /&gt;malam telah begitu larut&lt;br /&gt;tapi mataku adalah mata ikan                        &lt;br /&gt;terjaga. tanpa ada kantuk&lt;br /&gt;datang menyerang sepanjang malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika harus dirunut awalnya&lt;br /&gt;barangkali hanya hati yang hanyut&lt;br /&gt;pada kenangan teramat indah&lt;br /&gt;mendepakku ke ujung dunia yang resah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mataku mata ikan malam ini&lt;br /&gt;terjaga sepanjang malam begitu sunyi&lt;br /&gt;hatiku hati yang lebam kini&lt;br /&gt;begitu hitam seperti kelam berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mataku mata ikan&lt;br /&gt;hingga berlabuhnya parak pagi&lt;br /&gt;hatiku hati rawan&lt;br /&gt;begitu rapuh didepak sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Surabaya, 1991&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  aming aminoedhin&lt;br /&gt;TANAH RENGKAH I&lt;br /&gt;* mashar + mh. iskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selalu saja kita bincangkan seni&lt;br /&gt;di kota tanah rengkah ini&lt;br /&gt;selebihnya seperti telah bertahun&lt;br /&gt;kutulis dalam baris puisi&lt;br /&gt;yang abadi di kota ini&lt;br /&gt;hanya sepi hanya seni&lt;br /&gt;meski kota dilanda hujan&lt;br /&gt;                  dilanda banjir&lt;br /&gt;                  dilanda kemarau panjang&lt;br /&gt;                  kehabisan air&lt;br /&gt;hanya seni terus bernafas segar&lt;br /&gt;                  mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masihkah kita akan menipu diri&lt;br /&gt;mengacuhkan nafas seni&lt;br /&gt;yang mengental dalam dada ini&lt;br /&gt;yang mengakar dari generasi&lt;br /&gt;ke generasi, mengalir&lt;br /&gt;tanpa mau henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota tanah rengkah yang tua&lt;br /&gt;telah mencatat peristiwa budaya&lt;br /&gt;ke peristiwa budaya&lt;br /&gt;yang mengkristal dalam dada&lt;br /&gt;adakah kita akan lupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam telah begitu larut&lt;br /&gt;suasana terasa nglangut&lt;br /&gt;dari pendapa bupati&lt;br /&gt;masih terdengar pergelaran&lt;br /&gt;wayang kulit sabtu legi&lt;br /&gt;lamat-lamat menyibak sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah kita akan menipu&lt;br /&gt;dan lupa diri?&lt;br /&gt;                          Ngawi, 2 Maret 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kota Tercinta, kumpulan puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Komunitas Sastra Teater Persada Ngawi, telah menerbitkan buku  3 (tiga) kumpulan puisi tersebut, juga memprakarsai penerbitan buku kumpulan puisi dan cerpen bertajuk ‘Kota Tercinta’ (November, 2003) berisi tulisan sastra para alumni SMAN Ngawi, pada acara semarak Lima Windu atau 40 Tahun SMAN  Ngawi yang kemudian berubah jadi SMAN 2 Ngawi. Dalam buku ini termuat tulisan puisi-puisi karya: Aming Aminoedhin, M. Har Harijadi, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widiyanto, serta cerita pendek karya Etik Minarti. Dalam kata pengantar yang ditulis M. har Harijadi, antara lain dikatakan, “Memang banyak sastrawan kelahiran Ngawi yang sudah terkenal, bahkan sudah almarhum, tapi mereka bukan alumni SMA Ngawi. Selain mereka menulis dalam bahasa Indonesia, juga di antaranya menulis dengan bahasa daerah, Jawa. Ada nama Poerwadi Atmodihardjo, Umar Kayam, satim Kadarjono, M. alwan Tafsiri, Mh. Iskan, Basuki Rahmad, Djajus Pete, Hardho sayoko SPB, Hamdy Salad, Junaidi Haes, Kuspriyanto Namma, dan banyak lagi.&lt;br /&gt; Sementara itu komunitas sastra teater lainnya ada juga yang menerbitkan kumpulan puisi, yaitu: Kelompok Lingkar Sastra ‘Tanah Kapur’, dan  ‘Teater Sampar’.&lt;br /&gt;Kelompok Lingkar Sastra ‘Tanah Kapur’&lt;br /&gt; Kelompok lain bernama Lingkar sastra Tanah Kapur, diprakarsai oleh Tjahjono Widarmanto, telah menerbitkan buku antologi 9 penyair Ngawi bertajuk ‘Surat Dari Ngawi’. Mereka para penyair tersebut adalah: Mh. Iskan, Junaidi Haes, Aming Aminoedhin, Tjahjono Widiyanto,  Anas Yusuf, Tjahjono Widarmanto,  M. Har Harijadi, Agus Honk, dan Setiyono.&lt;br /&gt; Antologi ini memuat sebanyak 59 judul puisi, terbagi masing-masing 7 judul puisi karyaMh. Iskan, Junaidi Haes, Aming Aminoedhin, Tjahjono Widiyanto,  Tjahjono Widarmanto, dan M. Har Harijadi. Sedangkan Anas Yusuf karyanya termuat 8 judul, Agus Honk 5 judul, dan Setiyono 4 judul puisi.&lt;br /&gt; Selain itu, komunitas ini juga pada bulan Maret 2001, dalam rangka ulang tahun jurnal kebudayaan ‘Rontal’ menerbitkan buku kumpulan puisi ‘Secangkir Kopi Buat Kota Ngawi’ sekaligus acara malam baca puisinya, bertempat di Pendapa Kabupaten Ngawi. Kumpulan ini adalah antologi puisi 12 penyair asal Jakarta, Surakarta, Surabaya, Mojokerto, Madiun dan Ngawi. Mereka itu adalah: Dari kota Ngawi ada nama: Kuspriyanto Namma, Meidyna Arrisandi, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widiyanto.Dari kota Madiun: Anas Yusuf dan Beni setia, dari kota Surabaya: Syaiful Hadjar, dan Tengsoe Tjahjono; sedang dari Mojokerto adan nama: Hardjono WS dan Aming Aminoedhin. Sedangkan masing-masing satu penyair adalah Hardho Sayoko SPB (Jakarta), dan Sosiawan Leak (Surakarta). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Kelompok Teater Sampar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi kelompok bernama kelompok “Teater Sampar Ngawi,” dengan tokohnya Anas Yusuf dan Tjahjono Widarmanto, menerbitkan kumpulan puisi bertajuk ‘Suluk Hitam Perjalanan Hitam di Kota Hitam’ (November, 1994), berisi tulisan puisi karya penyair empat kota: Ngawi, Surabaya, Solo dan Malang. Mereka itu antara lain: Mh. Iskan, M. Har Harijadi, Aming Aminoedhin, Anas Yusuf, dan Tjahono Widarmanto (Ngawi), Arief B. Prasetyo, Leres Budi Santosa, dan Saiful Hadjar (Surabaya), Sosiawan Leak (Solo), Tjahjono Widiyanto (saat itu masih di Malang, mewakili kota Malang).&lt;br /&gt;Ini hanya sekedar catatan sepenggal sejarah susastra kota Ngawi dan para penyairnya.Jika saja ada yang terlewatkan, barangkali hanyalah keterbatasan saya mencari data yang tidak komplit. Maaf! &lt;br /&gt; Setidaknya saya telah mencoba mencatatnya, betapa pun sederhananya. Salam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;span style="font-style:italic;"&gt;    Desaku Canggu, 22 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-1075507356556111223?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/1075507356556111223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=1075507356556111223&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1075507356556111223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1075507356556111223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2011/02/kota-ngawi-dan-sastrawan-catatan-kecil.html' title=''/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8949707173640532406</id><published>2010-11-04T14:24:00.003+07:00</published><updated>2010-11-04T14:33:13.053+07:00</updated><title type='text'>PUISI-PUISI RENDRA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Balada Terbunuhnya Atmo Karpo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;WS Rendra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi&lt;br /&gt;bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para&lt;br /&gt;mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu&lt;br /&gt;surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segenap warga desa mengepung hutan itu&lt;br /&gt;dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo&lt;br /&gt;mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang&lt;br /&gt;berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu demi satu yang maju tersadap darahnya&lt;br /&gt;penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!&lt;br /&gt;  Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Majulah Joko Pandan! Di mana ia?&lt;br /&gt;  Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak panah empat arah dan musuh tiga silang&lt;br /&gt;Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Joko Pandan! Di mana ia?&lt;br /&gt;  Hanya padanya seorang kukandung dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedah perutnya tapi masih setan ia!&lt;br /&gt;menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Joko Pandan! Di mana ia?&lt;br /&gt;  Hanya padanya seorang kukandung dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan&lt;br /&gt;segala menyibak bagi derapnya kuda hitam&lt;br /&gt;ridla dada bagi derunya dendam yang tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada langkah pertama keduanya sama baja&lt;br /&gt;Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo&lt;br /&gt;Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka&lt;br /&gt;pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang&lt;br /&gt;Ia telah membunuh Bapanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt; Bengkel Muda Surabaya, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKU TULIS PAMFLET INI&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;WS Rendra &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku tulis pamflet ini &lt;br /&gt;karena lembaga pendapat umum &lt;br /&gt;ditutupi jaring laba-laba &lt;br /&gt;Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, &lt;br /&gt;dan ungkapan diri ditekan &lt;br /&gt;menjadi peng - iya - an &lt;br /&gt;Apa yang terpegang hari ini &lt;br /&gt;bisa luput besok pagi &lt;br /&gt;Ketidakpastian merajalela &lt;br /&gt;Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki &lt;br /&gt;menjadi marabahaya &lt;br /&gt;menjadi isi kebon binatang &lt;br /&gt;Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, &lt;br /&gt;maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam &lt;br /&gt;Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. &lt;br /&gt;Tidak mengandung perdebatan &lt;br /&gt;Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan &lt;br /&gt;Aku tulis pamflet ini &lt;br /&gt;karena pamflet bukan tabu bagi penyair &lt;br /&gt;Aku inginkan merpati pos &lt;br /&gt;Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku &lt;br /&gt;Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian &lt;br /&gt;Aku tidak melihat alasan &lt;br /&gt;kenapa harus diam tertekan dan termangu &lt;br /&gt;Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar &lt;br /&gt;Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju &lt;br /&gt;Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran? &lt;br /&gt;Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan &lt;br /&gt;Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka &lt;br /&gt;Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api &lt;br /&gt;Rembulan memberi mimpi pada dendam &lt;br /&gt;Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah &lt;br /&gt;  yang teronggok bagai  sampah &lt;br /&gt;  Kegamangan. Kecurigaan &lt;br /&gt;  Ketakutan&lt;br /&gt;  Kelesuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tulis pamflet ini &lt;br /&gt;karena kawan dan lawan adalah saudara &lt;br /&gt;Di dalam alam masih ada cahaya. &lt;br /&gt;Matahari yang tenggelam diganti rembulan &lt;br /&gt;Lalu besok pagi pasti terbit kembali&lt;br /&gt;Dan di dalam air lumpur kehidupan, &lt;br /&gt;aku melihat bagai terkaca : &lt;br /&gt;ternyata kita, toh, manusia ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pejambon Jakarta 27 April 1978 &lt;br /&gt;Potret Pembangunan dalam Puisi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BULAN KOTA JAKARTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;WS Rendra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan telah pingsan &lt;br /&gt;di atas kota Jakarta&lt;br /&gt;tapi tak seorang menatapnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, getirnya kulit limau!&lt;br /&gt;   O, betapa lunglainya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan telah pingsan &lt;br /&gt;Mama, bulan telah pingsan&lt;br /&gt;Menusuk tikaman beracun&lt;br /&gt;dari lampu-lampu kota Jakarta&lt;br /&gt;dan gedung-gedung tak berdarah&lt;br /&gt;berpaling dari bundanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulannya! Bulannya!&lt;br /&gt;Jamur bundar kedinginan&lt;br /&gt;bocah pucat tanpa mainan&lt;br /&gt;pesta tanpa bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O  kurindu nafas gaib!&lt;br /&gt;O  kurindu sihir mata langit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan merambat-rambat&lt;br /&gt;Mama, betapa sepi dan sendirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mati napas tabuh-tabuhan&lt;br /&gt;maka penari pejamkan mata-matanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan telah pingsan&lt;br /&gt;di atas kota Jakarta&lt;br /&gt;tapi tak seorang menatapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulanku! Bulanku!&lt;br /&gt;Tidurlah sayang, di hatiku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siwalanpanji, Menjelang Pentas Mengenang Rendra 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8949707173640532406?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8949707173640532406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8949707173640532406&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8949707173640532406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8949707173640532406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/11/puisi-puisi-rendra.html' title='PUISI-PUISI RENDRA'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-2816449629266714837</id><published>2010-09-23T08:33:00.001+07:00</published><updated>2010-09-23T08:36:14.265+07:00</updated><title type='text'>TADARUS PUISI RAMADHAN SUCI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TADARUS PUISI RAMADHAN SUCI 1431-H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aming Aminoedhin&lt;br /&gt;Penyair, Ketua  FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Memasuki bulan Ramadhan 1431 Hijriyah tahun ini, saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, bahwa kegiatan menyambut Ramadhan selalu diramaikan bebeberapa kegiatan religius di berbagai masjid dan mushola. Sedangkan bentuknya bisa bermacam-macam, dari pengajian biasa, tadarusan, hingga pentas-pentas keseniannya, berupa pentas hadrah, pentas drama Islami, hinggga musikalisasi puisi.&lt;br /&gt; Bila saja mau mencatat kegiatan sastra yang punya korelasi keagamaan (baca: dalam arti Islami), maka saya bisa mencatat tahun 1986 lalu, Dewan Kesenian Jakarta pernah menggelar acara bertajuk “Tuhan Kita Begitu Dekat” – Tadarus Puisi Bulan Suci.&lt;br /&gt;Waktu itu, kegiatannya menyambut bulan Ramadhan tahun 1986. Tak urung seorang HB Jassin (paus sastra Indonesia) ikut memberi sambutan. Dalam sambutannya, Jassin (alm.) antara lain mengatakan, “Di tengah hiruk pikuk dunia serba mesin dan komputer sekarang ini, dengan tempo teknik dan teknologi yang serba cepat dan kian  cepat, amatlah sedikit waktu kita untuk berada dengan diri kita sendiri, dan merenungkan arti hidup kita. Hubungan kita dengan dunia,  lingkungan, dan dengan Tuhan.” Lebih lanjut HB Jassin menandaskan, “Maka beruntunglah kita bahwa ada penyair-penyair yang mencoba menyelami hakekat hidup, hakekat gerak, hakekat diam dan sunyi, yang mempertemukan kita dengan keabadian. Penyair melihat dengan matabatinnya, apa yang hidup dan bergolak di bawah permukaan segala kejadian yang nampak dan tidak, oleh mata kepala kita yang kasar”.&lt;br /&gt; Sederet nama penyair ikut tergabung dalam acara itu, ada Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Leon Agusta, Mohammad Saribi, Goenawan Mohamad, Mohammad Diponegoro, Taufiq Ismail, dan Masbuchin.&lt;br /&gt; Menengok di tingkat provinsi Jawa Timur, maka perhelatan sastra Islami yang cukup besar yang pernah digelar tahun 1993,  adalah di Go Skate – Surabaya Indah – Jalan Embong Malang Surabaya; dengan tajuk “Parade Puisi Sejuta Doa Untuk Bosnia.”. Kegiatan yang melibatkan MUI Jatim, Kanwil Depag, Masjid Al-Falah, Mujahidin, Kemayoran, serta Dewan Kesenian Surabaya tersebut, cukup meriah. Acara digelar cukup mendapatkan respons positif pada waktu itu. Terbukti, penonton yang hadir memenuhi ruangan lantai dua Go Skate Surabaya Indah. Beberapa nama penyair besar Jakarta turun pada acara ini. Ada Sutardji Calzoum Bachri,  Hammid Jabbar, Ikranegara, Jose Rizal Manua, Taufiq Ismail, Slamet Sukirnanto, Soeparwan G Parikesit, Pertiwi Hasan, dan Aspar Paturisi. Sedangkan penyair Jawa Timur yang tampil ketika itu: Sam Abede Pareno. D. Zawawi Imron, Budi Darma, Aming Aminoedhin. M. Fudoli Zaini, dan Emha Ainun Nadjib.&lt;br /&gt; Selanjutnya, pada 2006 lalu, ketika menggelar Festival Seni Surabaya (FSS), saya sebagai orang menangani sastranya, dengan berbekal keberanian menampilkan pentas sastra “Para Kyai Baca Puisi”. Ada beberapa kyai dijadwalkan baca puisi, mereka adalah:  A. Mustofa Bisri (Rembang),  D. Zawawi Imron (Sumenep),  Ali Maschan Moesa (PW-NU Jatim, Surabaya), Wahib Wahab (Dosen IAIN Surabaya), dan   Muhammad Thohir  (Surabaya), dan Gus Ali (Kyai Tulangan, Sidoarjo). Hanya sayangnya, kyai asal Rembang, A. Mustofa Bisri, tidak hadir dan tampil baca puisi. Dari tampilan mereka, terbukti para kyai cukup baik dalam menulis dan membacakan puisinya. Bahkan penonton membludak memenuhi gedung Balai Pemuda Surabaya tersebut. &lt;br /&gt;Kembali masuk di bulan Ramadhan, dua tahun lalu, tepatnya September 2008, meski hanya beberapa nama penyair dan penggurit, Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) dengan Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Surabaya, dan Arek Teve juga menggelar acara “Tadarus Puisi Bulan Suci” di halaman depan kantor Arek Tevelisi, Rich Palace, Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Mereka yang tampil waktu itu: M. Shoim Anwar, Aming Aminoedhin,  Suharmono Kasijun, Bonari Nabonenar, AF Tuasikal, R. Giryadi, Budi Palopo, Widodo Basuki, Suko Widodo (Dosen Unair), Priyo Budi Santoso (anggota DPR-RI), dan Imung Mulyanto (Arek Teve). Di sela-sela penyair tampil, ada tampilan Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Surabaya, yang dipimpin oleh Bokir Surogenggong.&lt;br /&gt;Acara tadarus puisi bulan suci yang direkam oleh Arek Televisi, sejak mulai lepas tarawih, hingga sahur dekati imsak baru usai rekamnya. Kemudian rekaman tadarus puisi pun juga ditayangkan oleh Arek Televisi. Meski penayangannya agak lambat waktunya, tapi tadarus puisi itu tetap bisa ditayangkan bagi warga masyarakat Jawa Timur.&lt;br /&gt; Puasa ramadhan adalah untuk menahan nafsu dari berbagai syahwat, sehingga manusia bersiap meniti dan mencari sesuatu yang menjadi puncak kebahagiaannya. Puasa tidaklah hanya menahan nafsu makan dan minum saja, akan tetapi juga menahan nafsu seks (birahi) seorang manusia, pada waktu siang hari. Menurut  Abdul Munir Mulkan (Kompas-Opini, 10/8/2010), hakikat puasa adalah kesantunan kemanusiaan berbasis kerendah-hatian (tawadldlu’), dan pengendalian  diri (nafsu) sebagai akar nilai hak asasi manusia. &lt;br /&gt;Untuk itu, ketawadldlu’an dan pengendalian nafsu seorang manusia,  bukanlah diartikan diam saja. Akan tetapi, dalam menjalankan puasa, sebagai manusia yang berpuasa, bukan lantas tidak berbuat apa-apa.  Tidak!  Tidak harus begitu! Bahkan sebagai pengarang (baca: penyair), saya tidaklah salah jika mengajak rekan-rekan penyair muslim se-Jatim untuk menggelar acara seperti dua tahun lalu, “Tadarus Puisi Ramadhan Suci”  di pertengahan Ramadhan 1431-H tahun ini.  Kebetulan, Drs. Karsono, M.Pd. sebagai kepala UPT Dikbangkes Taman Budaya Jatim, kemarin menawarkan tempatnya di pendapa Taman Budaya Jatim, dan FSBS bisa menggelarnya pada Jumat, 27 Agustus 2010 ini. Beberapa kawan yang ikut tampil di acara “Tadarus Puisi Ramadhan Suci 1431-H” tidak hanya dari Surabaya, tapi juga dari: Malang,  Lamongan, Blitar, Bangkalan, Bojonegoro, Mojokerto, dan Sidoarjo. &lt;br /&gt; Mereka itu adalah: Akhudiat (Surabaya), Bonari Nabonenar (Malang), Herry Lamongan,  Pringgo HR, Bambang Kempling (Lamongan), Puput Amiranti, W. Haryanto (Blitar), Dewi ‘Bangkalan’  Masyithoh (Bangkalan), Ariyoko KSMB (Bojonegoro), AF Tuasikal, Aming Aminoedhin, Suyitno Ethexs (Mojokerto), serta Yudi Joyokusumo, Pung AD Mulya, Sarifudin Miftah (Sidoarjo). Beberapa nama yang sebenarnya juga akan tampil dan berhalangan adalah R. Giryadi dan Widodo Basuki (Sidoarjo) dan Budi Palopo (Gresik).&lt;br /&gt;Adapun musik religius yang tampil adalah dari arek-arek Sanggar Alang-Alang pimpinan Didiet Hape, yang menyajikan dengan sangat memberi warna lain pada tampilan malam “Tadarus Suci Ramdhan Suci 1431-H” tersebut.&lt;br /&gt; Selain syiar Islam, serta meningkatkan iman dan taqwa di bulan ramadhan suci ini, kegiatan ini juga menepis istilah bahwa orang puasa itu hanya bermalas-malas saja. Menepis anggapan bahwa penyair ketika puasa tidak kreatif adalah salah. Penyair tetap kreatif, dan akan tetap ngaji puisi, pada malam yang Ramadhan suci tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tadarus Puisi DKKM Mojokerto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Setelah  sukses menggelarpentaskan malam “Tadarus Puisi Bulan Suci 1431-H” di pendapa Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya; Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) selanjutnya menggandeng Dewan Kesenian Kabuapten Mojokerto (DKKM) untuk menggelarpentaskan kembali acara tersebut.&lt;br /&gt; Tertanggal 7 September 2010, acara serupa digelar di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, Jalan Jayanegara, Mojokerto. Mereka yang tampil tidak hanya penyair Mojokerto, tapi juga kyai Wahab Wahib, Wakil Bupati Terpilih, Ibu Hajjah Khairunnissa. Musik religi ditampilkan kelompok musik Girilaya Mojokerto.&lt;br /&gt;Gelaran malam “Tadarus Puisi Ramadhan Suci 1431-H”, selain membaca al-Quran, juga membaca puisi Islami, serta musik-musik shalawatan yang membawa angin surgawi. Semoga acara ini bisa digelar di Ramadhan yang akan datang, seperti telah dijanjikan Drs. Karsono, M.Pd. Kepala UPT DikBangKes Taman Budaya Jatim, dan Drs. H. Eko Edy Susanto, M.Si., ketua DKKM Mojokerto. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    Desaku Canggu, Idul Fitri 1431-H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-2816449629266714837?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/2816449629266714837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=2816449629266714837&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2816449629266714837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2816449629266714837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/09/tadarus-puisi-ramadhan-suci.html' title='TADARUS PUISI RAMADHAN SUCI'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-5429295518537966388</id><published>2010-08-22T23:19:00.003+07:00</published><updated>2010-08-22T23:23:45.643+07:00</updated><title type='text'>dua puisi untuk tadarus puisi 2010</title><content type='html'>Jawa Pos, Minggu, 22 Agustus 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Puisi-Puisi Aming Aminoedhin &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKU MASIH MELIHAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;* catatan ramadhan 1431-h &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih melihat &lt;br /&gt;orang-orang melangkah ke masjid &lt;br /&gt;selepas magrib jelang isya tiba &lt;br /&gt;berharap bisa tarawih dengan berjamaah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih melihat &lt;br /&gt;orang-orang melangkah ke mal dan plasa &lt;br /&gt;melepas duit jelang hari raya &lt;br /&gt;agar lebaran tampak gagah lupa hati pongah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih melihat &lt;br /&gt;mal dan plasa berjuta orang &lt;br /&gt;mengigau berjamaah, hamburkan uang &lt;br /&gt;tanpa pernah dirasa atau merasa &lt;br /&gt;ada berjuta orang di luar sana &lt;br /&gt;atau mungkin di sekitar kita&lt;br /&gt;teramat miskin papa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih melihat &lt;br /&gt;jurang menganga &lt;br /&gt;begitu dalam tak terjangkau &lt;br /&gt;dari matabatin orang-orang mengigau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih melihat &lt;br /&gt;berjuta orang meracau dan mengigau &lt;br /&gt;di negeriku yang kacau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Canggu, 19 Agustus 2010 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MATEMATIKA LAILATUL QODAR &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;pakar matematika pernah berhitung &lt;br /&gt;jika seribu bulan &lt;br /&gt;adalah 83 tahun lebih umurnya &lt;br /&gt;sedang usia manusia &lt;br /&gt;tak lebihi angka sejumlah itu &lt;br /&gt;maka bersujud dan beramallah &lt;br /&gt;pada saat lailatul qodar &lt;br /&gt;hingga impaslah segala dosamu &lt;br /&gt;dibayar oleh sujud-amalan &lt;br /&gt;di malam qodar itu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku termangu (mungkin ragu) &lt;br /&gt;lantas kita semua terjaga &lt;br /&gt;apa benar begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Canggu, 19/8/2010&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DENTANG SUARA&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dentang suara benar itu tak selamanya enak didengar. hari-hari biasa kau bisa diburu langkahmu. hanya lantaran suara kebenaran yang kau kicaukan terasa sesakkan dada penguasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dentang suara yang kaunyanyikan bukan lagu merdu bagi penguasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkahmu hari ini bisa terhenti. tapi berjuta politisi jalankan kembali langkahmu, yang kian mengarah suara benar tak enak didengar itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dentang suaramu mendedah bagi penguasa berhati pongah (mungkin serakah) dalam hidup ini. mengalah bukan kalah, saudaraku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kau semakin tak peduli. bahkan mungkin rakyat &lt;br /&gt;juga kian ingin bukti kebenaran itu terungkap&lt;br /&gt;dentang suaramu memang tak enak didengar&lt;br /&gt;tapi benar yang kau tebar akan jadi bukti&lt;br /&gt;nyanyian kau lantunkan adalah kebenaran&lt;br /&gt;tak terbantahkan. tak terbantahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Desaku Canggu, 13/4/2010 &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PELUIT ITU JADI NYANYIAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peluit kau tiup ketika para penguasa butuh atap tertutup&lt;br /&gt;telah memporakporandakan negeri ini&lt;br /&gt;peluit yang kau tiup bagai nyanyian indah tak terbantah&lt;br /&gt;telah membelalakkan mata rakyat tak percaya&lt;br /&gt;dunia memang telah jungkirbalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;polisi menangkap maling, dan malingnya&lt;br /&gt;berbalik tangkap polisi&lt;br /&gt;peluit itu terus bernyanyi, bagai peluit keretaapi&lt;br /&gt;setiap stasiun berbunyi. setiap pejabat korup&lt;br /&gt;peluit berbunyi. suara peluitmu, jadi hantu&lt;br /&gt;bagi setiap pejabat korup jadi takut&lt;br /&gt;adakah pada dirinya akan juga bernyanyi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peluit kau tiup ketika para penguasa butuh atap tertutup&lt;br /&gt;telah memporakporandakan negeri ini&lt;br /&gt;peluit yang kau tiup bagai nyanyian indah tak terbantah&lt;br /&gt;telah membelalakkan mata rakyat tak percaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternyata masih ada juga manusia berhati mulia&lt;br /&gt;semulia nyanyian peluitmu terus memburu&lt;br /&gt;para koruptor itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Desaku Canggu, 13/4/2010 &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TELAH TAMAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* sp &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;persetan amat. semua telah tamat&lt;br /&gt;hari berlalu beku. tawar tanpa makna&lt;br /&gt;helatan kau tawarkan basi. tanpa makna arti &lt;br /&gt;sebab segala acara, hanya bersandar pada takar harta &lt;br /&gt;bukan getar jiwa. puisi adalah getar jiwa &lt;br /&gt;bukan harga takar uang kau punya. bukan!&lt;br /&gt;puisi berwarna dasar hati suci mewangi, sedang kau &lt;br /&gt;coba tawarkan otak keledai berbungkus bangkai&lt;br /&gt;busuk dan masai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak tahu ada juga ikut barisan itu&lt;br /&gt;beriring-iringan bagai keledai nan bodoh&lt;br /&gt;mengangkut berkarung kesalahan tak senonoh&lt;br /&gt;tapi mereka tak paham, terus berjalan&lt;br /&gt;ke mana arah dilangkahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;persetan amat. semua telah tamat&lt;br /&gt;hari berlalu beku. tawar tanpa makna&lt;br /&gt;gedung itu bisu. kau kian tambah bisu&lt;br /&gt;hati kelu menimbun beribu-ribu, dan&lt;br /&gt;barisan mereka hanya bilang setuju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sidoarjo, 8/6/2010 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aming Aminoedhin,&lt;/span&gt; staf Balai Bahasa Surabaya, penggagas Malam Sastra Surabaya (Malsasa). Penyair, tinggal di Mojokerto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**) termuat di Jawa Pos Minggu, 22 Agustus 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-5429295518537966388?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/5429295518537966388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=5429295518537966388&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5429295518537966388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5429295518537966388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/08/dua-puisi-untuk-tadarus-puisi-2010.html' title='dua puisi untuk tadarus puisi 2010'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-1132828000747985554</id><published>2010-08-09T15:40:00.001+07:00</published><updated>2010-08-09T15:40:47.775+07:00</updated><title type='text'>MARKUS SASTRA JAWA, ADAKAH?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MARKUS SASTRA JAWA, ADAKAH?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aming Aminoedhin&lt;br /&gt;Penyair, Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style:italic;"&gt;artikel ini dimuat di Radar Surabaya, Minggu, 8 Agustus 2010. Rubrik Horizon,  di halaman 7.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu ada beberapa artikel yang menyoal tentang perhelatan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) V terpublikasi. Mereka itu antara lain dari pikiran birokrat peduli sastra Jawa, yaitu Tirto Suwondo (kepala Balai Bahasa Yogyarkata). Dia menulis di koran Jawa Pos, menyoal tentang persiapan KBJ V yang dirasa belum terasa maksimal tersebut. &lt;br /&gt;Ada juga ada Beni Setia, Aming Aminoedhin, Bonari Nabonenar, dan W. Haryanto, yang tulisannya termuat di koran Kompas, Radar Surabaya, Jawa Pos, Kompas dan Radar Surabaya. Hampir semua artikel mempertanyakan persiapan KBJ V yang akan diselenggarakan Pemprov Jawa Timur.&lt;br /&gt;Pada ranah majalah berbahasa Jawa, juga ramai bermunculan tulisan gonjang-ganjing persiapan KBJ V. Tak urung penulis asal Tulungagung,  Sunarko ‘Sodrun’ Budiman, ketua Sanggar Triwida, menulis tentang adanya markus Bahasa Jawa dalam jagad sastra Jawa. Narko menulis adanya markus tanpa menyebut nama seseorang.  Artikel Sodrun berjudul, Mapag KBJ V, Markus Basa Jawa, Sumono Gugat, dimuat di PS, No.  18, 1 Mei 2010. &lt;br /&gt;Dari tulisan itu, kemudian ditanggapi, Bonari Nabonenar, ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), dengan judul artikel ‘Bonari Nabonenar Markus-e Basa Jawa?’ dimuat di PS No. 20, 15 Mei 2010.&lt;br /&gt;Artikel yang ditulis dalam bahasa Jawa tersebut, Bonari merasa seperti tertuduh sebagai markus, padahal secara eksplisit Sodrun tidak menuduh nama seseorang. Bahkan dalam tulisan itu pula, Bonari tidak lagi  hanya bicara soal markus bahasa Jawa, tapi juga menyangkut masalah penghargaan sastra Rancange yang konon pada tahun ini, dia akan mendapatkan hadiah tersebut. Meskipun hadiah itupun, hanya pengalihan dari RM Yunani yang kebetulan meninggal dunia. Sehingga harus dialihkan kepada seseorang yang masih ada (baca: hidup), dan kemudian terpilihlah Bonari. Sebab penerima hadiah Rancage tidak mungkin diterimakan kepada orang telah meninggal dunia. &lt;br /&gt;Bonari, sang calon penerima Hadiah Rancage tahun ini, saya pikir panitia pemilihan Hadiah Sastra Rancage tidaklah salah pilih. Sebab, betapa pun sang Bonari memang telah malang-melintang di ranah sastra Jawa berpuluh tahun. Bahkan mungkin telah sampai berdarah-darah! Menulis cerkak dan guritan, juga punya jam terbang cukup lama.  Lantas menangani PPSJS telah bertahun lamanya. Meski sekarang ini, PPSJS  mungkin kurang ada gaungnya, lantaran program Lomba Baca Guritan se-Jatim yang harusnya dua tahunan digelar tak juga digelar. Namun sang Bonari masih bersedia jadi ketuanya. Sebab selama ini,  hampir semua orang di komunitas PPSJS ini,  menolak jika dipilih jadi ketua.&lt;br /&gt;Apabila Bonari, bersama Keliek Eswe sebagai sang penggagas Kongres Sastra Jawa (KSJ) Solo dan Semarang, yang dinilai banyak orang sebagai tandingan KBJ III dan IV pada tahun-tahun sebelumnya, itu pun bukanlah salah, apa lagi dosa. Namun malah merupakan sebuah kerja kreatif, kompetitif, dan sekaligus kritik bagi penyelenggara KBJ.&lt;br /&gt;Membaca beberapa artikel yang ramai  menyoal KBJ V Surabaya,  yang antara lain: bicara soal sastrawan Jawa masuk sekolah, persiapan yang belum matang, belum terimplementasikan hasil KBJ terdahulu, dan ramainya sastra Jawa di majalah bahasa Jawa soal markus sastra Jawa; barangkali perlu direspons positif oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur. Betapa pun wacana tentang KBJ V Surabaya memang perlu dipersiapkan secara matang.&lt;br /&gt;Menyosong Kongres Bahasa Jawa 2011, tugas utama kita memang agar semua manusia Jawa tetap ‘nguri-uri’ (melestarikan) bahasa  Jawa. Toh yang punya gawe juga Pemda Jatim, DIY, dan Jateng. Menyongsong KBJ V selayaknyalah para Panitia Penyelenggara mempersiapkan kegiatan itu secara maksimal, dan tidak hanya seremonial belaka. Sebab biayanya, konon,  milyaran rupiah!&lt;br /&gt;Barangkali kita tak perlu mempersoalkan lagi adakah markus sastra Jawa di negeri ini, tapi bagaimana kita bisa nyengkuyung (bersama-sama) mempersiapkan dan melaksanakan KBJ V ini dengan nurani hati. Tidak syak wasangka kepada sesama. Dan bekerja dengan hati terbuka hati pun membunga!  Hasilnya, pasti KBJ V akan sukses terselenggara! Mari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Desaku Canggu, 7 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-1132828000747985554?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/1132828000747985554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=1132828000747985554&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1132828000747985554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1132828000747985554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/08/markus-sastra-jawa-adakah.html' title='MARKUS SASTRA JAWA, ADAKAH?'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-4131667642078719073</id><published>2010-08-06T17:38:00.003+07:00</published><updated>2010-08-09T15:39:56.722+07:00</updated><title type='text'>OBITUARI M. THALIB PRASODJO</title><content type='html'>Obituari M. Thalib Prasodjo&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PELUKIS YANG PENYAIR JATIM*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aming Aminoedhin&lt;br /&gt;Penyair, Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mantan&lt;/span&gt; Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya (DKS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*)artikel ini termuat di Harian Kompas Jatim, Jumat, 6 Agustus 2010. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika  itu Kamis pagi (5/8/2010) lalu, saya ikut takziah mengantarkan M. Thalib Prasodjo (pelukis/sketser) ke pemakaman umum di Taman Praloyo, Jalan Lingkar Timur, Sidoarjo; saya sempat bertemu beberapa seniman dan  pelukis. Di antaranya: Akhudiat, Sabrot D. Malioboro, Henry Nurcahyo, Wadjie MS, Cak Poeng, Dhargandhen, Surachman KS, dan Haryadjie BS.&lt;br /&gt; Dari pertemuan tersebut, yang paling menarik dan berkesan atas ketokohan Mbah Thalib, adalah berbincang dengan Harryadjie BS. Sebab, ketika saya menanyakan tentang puisi-puisinya, dia menjawab, bahwa sekarang ia tak lagi bisa menulis puisi. Tapi ia lebih banyak menanam pohon di berbagai hutan di berbagai kota, antara Lumajang, Malang, dan Lamongan.&lt;br /&gt; Hal itu hanya sebagai ilustrasi saja, betapa ingatan saya jadi meloncat 17 tahun yang lalu, tepatnya 1993, ketika saya (sebagai biro sastra DKS) membuat kumpulan sajak pelukis bertajuk “Jembatan Merah” yang diterbitkan oleh biro sastra Dewan Kesenian Surabaya, dan Harryadjie BS adalah salah satu penyair yang ikut bergabung dalam kumpulan tersebut. Kumpulan sajak pelukis yang sangat sederhana tersebut, memuat 40 judul puisi yang ditulis oleh para pelukis semua. Mereka itu: Abdul Kadir Zaelani (alm.)   menulis 7 puisi, Rudi Isbandi  ada 8 judul puisi, Harryadjie BS ada  7 judul puisi, Hardjono WS menulis 11 judul puisi, dan Wiwiek Hidayat (alm.) menulis 7 judul puisi. &lt;br /&gt;Tidak hanya puisi yang termuat dalam kumpulan sajak “Jembatan Merah,” akan tetapi  juga memuat sketsa-sketsanya M. Thalib Prasodjo. Selain sketsa bergambar jembatan merah yang dijadikan sampul kumpulan sajak, di dalamnya juga memuat sketsa-sketsa beliau yang melukiskan gambar Gereja Maranatha (hal. 1), Pasar Krempyeng (hal. 7), Jembatan Merah (hal. 15), Baca Puisi Malsasa ‘92 (hal. 22), dan gambar Gedung Balai Pemuda (hal. 32).&lt;br /&gt; Fakta tersebut di atas membuktikan bahwa seorang M. Thalib Prasodjo memang benar-benar seorang sketser sejati. Meski pada waktu itu, saya hanya menda-patkan fotokopian-nya saja, akan tetapi beliau mau meminjamkan sketsanya guna me-lengkapi tampilan kumpulan sajak para pelukis Surabaya ini. &lt;br /&gt; Tidak hanya itu, Mbah Thalib pernah pula bercerita tentang sosok Markeso (alm.), ludruk garingan yang kerap kali mampir di DKS itu. Kata beliau, Markeso tidak pernah minta uang, tapi selalu menggunakan sanepan (sindiran), dengan mengatakan begini, “Mbah bojoku gorung nempur hari ini!” (Mbah istri saya belum beli beras hari ini). Dengan mengatakan kalimat itu, Mbah Thalib tahu, bahwa Markeso tidak punya uang. Maka  beliau pasti akan memberikan uang meski tidak banyak jumlahnya, tapi yang pasti bisa buat beli 2-3 kilogram beras.&lt;br /&gt; Mbah Thalib, sungguh seniman yang tahu kesulitan seniman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jembatan Merah &lt;/span&gt; &lt;br /&gt; Kembali bicara masalah kumpulan sajak pelukis,  bertajuk “Jembatan Merah” (Biro Sastra DKS, 1993); bahwa untuk menghimpun sajak-sajak pelukis ini memanglah amat sulitnya. Seperti yang tercatat dalam pengantar saya dengan judul “Pelukis Baca Puisi” yang antara lain mengatakan, “Ide dan rencana ini sudah lama sekali, hanya naskah yang masuk pada Biro Sastra DKS teramat lambatnya. Dan sementara naskah-naskah yang masuk telah saya ketiki, sedang lainnya belum kirim sama sekali. Sehingga amatlah sulit terbit secepatnya. Payah memang, tapi tak harus patah dengan kendala yang menghadang.”&lt;br /&gt; Menarik untuk dicatat pula, bahwa ketika kumpulan sajak ini digelarpentaskan di DKS, banyak yang bertanya, mengapa nama pelukis se-kaliber Amang Rahman, kok tidak ikut dalam kumpulan puisi ini? Padahal Amang juga banyak menulis puisi. Syukurlah saya telah menjawabnya dalam pengantar, yang antara lain saya katakan, “Seperti misalnya Amang Rahman, tidak masuk dalam antologi ini – karena sudah berkali-kali ditagih karyanya, tak pernah memberi. Sayang sekali!”&lt;br /&gt; Dari perjalanan panjang sastra Indonesia, maka beberapa nama pelukis yang juga menulis sastra (utamanya: puisi) memang tidak banyak jumlahnya. Tapi masih ada tercatat ada beberapa nama. Meski tidak lengkap saya bisa mencoba menyebut di antaranya: Nasyah Djamin, Motinggo Bosje, Walujati, Trisno Sumardjo, Danarto, D. Zawawi Imron, Rudi Isbandi, Amang Rahman, Jeihan, Wiwiek Hidayat, Adul Kadir Zaelani, Hardjono WS, Harryadjie BS, Mh. Iskan, dan mungkin masih banyak lagi.&lt;br /&gt; Sedangkan para pelukis Jawa Timur, termasuk cukup banyak jumlahnya. Jika kita mau memilah dari semua nama di atas, maka pelukis Jawa Timurnya adalah: Trisno Sumardjo, Rudi Isbandi, Amang Rahman, D. Zawawi Imron, Mh. Iskan, Wiwiek Hidayat, Hardjono WS, Harryadjie BS , Abdul Kadir Zaelani, dan mungkin juga masih ada lagi, hanya tak tercatat di tulisan pendek ini.&lt;br /&gt; Dari pelukis yang penyair di Jawa Timur yang tidak banyak jumlahnya tersebut, ternyata ada juga yang peduli, serta rela puisinya dibukukan dalam kumpulan puisi yang sangat sederhana tersebut. “Jembatan Merah” kumpulan sajak pelukis, yang diprakarsai biro sastra Dewan Kesenian Surabaya (DKS) waktu itu, sungguh sebuah dokumentasi sastra yang agak berbeda dengan lainnya. Kumpulan sajak yang ditulis oleh pelukis, sekaligus lengkap dengan ilustrasi sketsanya. Meskipun sketsa itu hanya dibuat M. Thalib Prasodjo, tapi cukup memberikan warna berbeda dengan yang lainnya. Terima kasih Mbah Thalib yang telah banyak ikut berkiprah merealisasikan semua ini.&lt;br /&gt; Mengakhiri tulisan ini, barangkali menarik yang ditulis oleh Rudi Isbandi dalam larik-larik puisi berjudul “Rumah Sakit Simpang” yang berbunyi seperti ini:&lt;br /&gt;/Tak ada yang kekal memang. Tak ada&lt;br /&gt;yang tiba dan yang pergi silih berganti&lt;br /&gt;hari demi hari memanjang menjadi kenyataan&lt;br /&gt;kehidupan memberikan sukaduka dan bahagia&lt;br /&gt;(dari Jembatan Merah, halaman 14) &lt;br /&gt; Selamat jalan Mbah Thalib, semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan mengampuni segala dosa. Amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;span style="font-style:italic;"&gt;  Desaku Canggu, 5 Agustus 2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-4131667642078719073?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/4131667642078719073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=4131667642078719073&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4131667642078719073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4131667642078719073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/08/orbituari-m-thalib-prasodjo.html' title='OBITUARI M. THALIB PRASODJO'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-1036715605110839476</id><published>2010-07-13T11:41:00.001+07:00</published><updated>2010-07-13T14:00:51.086+07:00</updated><title type='text'>LABEL BAHASA INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LABEL BAHASA INDONESIA*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aming Aminoedhin&lt;br /&gt;Penyair, Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), mantan pengurus DKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*)  artikel ini termuat di koran Radar Surabaya Minggu,  rubrik Horizon, 4 Juli 2010, hal. 7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tergelitik membaca Radar Surabaya (21/5/2010) memuat berita berjudul  Wajib Label Bahasa Indonesia Mulai 1 Juli yang dalam inti berita mengatakan bahwa, “Jika tidak ditaati akan diberikan sanksi mulai dari pencabutan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), denda Rp 2 milyar, atau hukuman kurungan maksimal 5 tahun.”&lt;br /&gt; Sungguh sebuah upaya sangat melegakan bagi kalangan yang sangat peduli dengan keberlangsungan Bahasa Indonesia, antara lain: Pusat Bahasa, Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, serta para guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Di mana mereka tak pernah lelah untuk terus menumbuhkembangkan Bahasa dan Sastra Indonesia. Begitu pula para guru, yang mengajarkan berbahasa Indonesia yang baik dan benar kepada para siswanya. Lebih melegakan lagi, bagi masyarakat pengguna Bahasa Indonesia, sebab mereka tidak akan susah untuk mengetahui cara pemakaian atau penggunaan barang-barang luar negeri yang telah dibelinya itu.&lt;br /&gt; Kasus yang terjadi, beberapa produk luar negeri (obat maupun barang lain) yang masuk ke Indonesia memang hampir semuanya masih berbahasa dengan menggunakan bahasa produsen. Produk China masih berbahasa China, produk Jepang masih berbahasa Jepang, produk Taiwan masih berbahasa Taiwan dst.dst. Lihat saja, ketika kita beli obat  atau mainan anak dari China, maka bahasa petunjuknya masih menggunakan bahasa China. Begitu pula, barang-barang elektronik produk Jepang, masih menggunakan bahasa Jepang atau bahasa Inggris. Ini cukup menyusahkan bagi orang yang tidak mengetahui bahasa Inggris, apa lagi Jepang. Mereka, para konsumen pembelinya akan bisa salah artikan penggunaan barang yang dibelinya. &lt;br /&gt; Melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 62/M-DAG/Per-12/2009 tentang kewajiban pencantuman label barang Berbahasa Indonesia inilah, barangkali kita ma-syarakat akan menyambut gembira atas peraturan ini. Setidaknya bagi masyarakat konsu-men barang-barang luar negeri, tidak lagi dibingungkan atas petunjuk penggunaan dan pemakaiannya, barang-barang yang telah dibelinya.&lt;br /&gt; Peraturan MENDAG Nomor 62/2009 ini, barangkali perlu kita sambut gembira, karena melalui peraturan ini pula, setidaknya Pemerintah RI melalui Permendag telah ikut pula menjaga, menumbuhkembangkan, serta melestarikan Bahasa Indonesia. Ini sekaligus bagi orang luar negeri yang akan masuk Indonesia (meski hanya barangnya) itu,  mau belajar  dan menggunakan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt; Permendag Nomor 62/2009 ini harus dilaksanakan dengan tegas, mulai 1 Juli 2010 nanti,  bagi yang melanggar benar-benar diberi sanksi. Jangan sampai Permendag ini hanyalah diberlakukan secara hangat-hangat tai ayam, alias tidak berani menindak karena backingnya jenderal, menteri atau ketua partai tertentu. Tidak! Tidak boleh begitu. Siapa pun  pelakunya, harus diberi sanksi dan tindakan tegas. Kita harus belajar berdemokrasi dari hal ini. Berani berkata benar, dan menindak dengan benar pula!&lt;br /&gt;Demi kepentingan itulah, perlu adanya pengawasan yang ketat dalam pelaksana-annya. Setidaknya, pada 1 Juli 2010, pihak Kementerian Perdagangan RI perlu menerjun-kan tim pengawas ke beberapa barang-barang produk luar negeri yang dijajakan di pasar-pasar tradisional maupun supermarket, plaza, serta mall-mall. Bahkan jika mungkin, masyarakat juga ikut terlibat mengawasi adanya barang-barang luar negeri yang masih berlabel dengan menggunakan bahasa produsennya.&lt;br /&gt;Untuk itu,  perlu kiranya Kementerian Perdagangan, membuka web atau portal pengaduan di jagad maya bagi masyarakat yang ikut peduli akan hal ini. Setidaknya, melalui portal itu masyarakat bisa melaporkan temuan-temuannya, jika memang pada bulan Juli 2010 nanti masih banyak barang-brang luar negeri berlabel non-bahasa Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sejalan Permendag Nomor 62/2009 ini seharusnya memang ditindaklanjuti oleh Kementerian Dalam Negeri, dengan peraturan baru yang melarang perusahaan yang mencantumkan nama perusahaannya yang tidak mencerminkan bahasa Indonesia. Lihat saja di kota Surabaya, yang banyak sekali memasang baner-baner perusahaan dengan skala besar-besar, terpampang di jalanan tengah kota,  yang mana tidak mencerminkan bahasa Indonesia, tapi lebih menggunakan bahasa Inggris. Sebut saja, City of Tomorrow), Hypertmart,  Royal Plaza, Giant Hypermarket, Carrefour, Dramo Trade Centre, Mercure Hotel, Mc. Donald, Kentucky Fried Chicken, Tunjungan Plaza, The Empire Palace Hotel, BRI Tower, BG Junction, JW Marriot Hotel, Sheraton Hotel, Garden Palace Hotel, dan mungkin masih banyak lagi.&lt;br /&gt; Apabila Mendagri juga membuat Permendagri yang juga melarang penggunaan nama perusahaaan berbahasa Inggris, barangkali kita tidak akan merasa asing di kotanya sendiri. Artinya, memasuki kota Surabaya, seperti memasuki kota di luar negeri. Atau setidaknya, jika nama-nama itu sudah terlanjur terkenal; minimal tidak memasang banernya dengan ukuran yang besar, dan mencolok mata kita.&lt;br /&gt; Ini hanyalah semacam usulan saja. Agar masyarakat Indonesia kian mencintai bahasanya sendiri, bahasa Indonesia. Sedangkan kebijakan, kembali kepada pengambil keputusan, yaitu Menteri Dalam Negeri RI sendiri. &lt;br /&gt; Yang patut disyukuri bahwa Permendag Nomor 62/2009  itu, minimal telah ikut menjaga, menumbuhkembangkan, dan melestarikan Bahasa Indonesia. Bravo buat Menteri Pedagangan RI! Menteri apa lagi yang menyusul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       &lt;span style="font-style:italic;"&gt; Desaku Canggu, 9 Juni 2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-1036715605110839476?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/1036715605110839476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=1036715605110839476&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1036715605110839476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1036715605110839476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/07/label-bahasa-indonesia.html' title='LABEL BAHASA INDONESIA'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-7966978632883154984</id><published>2010-06-02T14:58:00.004+07:00</published><updated>2010-06-03T12:24:11.345+07:00</updated><title type='text'>surabaya kehilangan jati diri</title><content type='html'>&lt;strong&gt;KOTA SURABAYA KEHILANGAN JATI DIRI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;oleh: aming aminoedhin*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• &lt;em&gt;artikel ini termuat di koran Radar Surabaya edisi khusus menyambut Ultah Kota Surabaya 717 -- Senin, 31 Mei 2010&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut asumsi hampir semua orang di Indonesia, bahwa kota Surabaya, adalah kota kedua di Indonesia, setelah yang pertama Jakarta, sebagai ibu kota negara.  Sebagian yang lain, ada juga berasumsi bahwa kota Surabaya, bukan lagi kota kedua, tetapi sebagai kota peringkat enam terbesar di Indonesia. Mengapa demikian? Karena di atas kota Surabaya, ada lima kota lainnya, yaitu: Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan ada Jakarta Timur. Sehingga sebagai kota terbesar di Indonesia, kota Surabaya hanya menduduki peringkat keenamnya.&lt;br /&gt; Terlepas dari persoalan Surabaya sebagai kota kedua atau keenam, yang pasti Surabaya sebentar lagi akan ada pilihan walikota baru. Para kandidatnya sekarang lagi kampanye, agar benar-benar jadi walikota. Bahkan Surabaya, tahun ini, telah sudah 717 tahun usianya. Surabaya, kota besar setelah Jakarta,  terus saja berbenah mengejar ketertinggalannya. Meski belum punya bus-way, seperti Trans Jakarta dan Trans Yogya. Meski pun belum punya kereta rel listrik (KRL), tapi Surabaya sudah punya ‘komuter’, kereta angkutan penumpang murah-meriah bagi warga masyarakatnya. Lantas baru-baru ini ada jembatan terpanjang di Indonesia bernama “Suramadu” yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura.&lt;br /&gt;  Sebagai kota besar yang konon berjaya di sebagai kota kedua atau keenam ini, infrastrukturnya pun cukup memadai. Surabaya mempunyai pelabuhan besar ‘Tanjung Perak’ guna mendukung laju perkembangan kotanya. Belum lagi, Surabaya, juga mempunyai bandara internasional ‘Juanda’, lantas jalan-jalan tol yang terus dibangun, terminal bus antarkota ‘Purabaya’ yang representatif sarana dan prasarananya. Belum lagi banyaknya gedung-gedung menjulang berupa mal-mal, pusat perkantoran, hingga plaza, pasar swalayan, hotel, dan seabreg rumah-rumah susun yang dibangun.&lt;br /&gt; Bahkan konon, Surabaya, sebagai kota besar juga punya julukan yang tidak tanggung-tanggung, katanya sebagai kota nomor wahid soal pelacurannya.&lt;br /&gt;Apakah ini benar? Masih perlu penelitian lebih mendalam. Tapi jika mau melihat kenyataan, memang sebenarnya bisa dibenarkan. Karena hampir di semua sudut kota ini, banyak sekali praktik-praktik pelacuran. Dari yang hanya berdiri di pinggir jalan, pinggir rel kereta api, ruang-ruang tunggu terminal, dan bahkan yang terang-terangan, seperti kawasan: Dolly, Njarak, dan Kremil. Belum lagi, praktik-praktik pelacuran yang di hotel-hotel, kost-kosan, dan banyak lagi.&lt;br /&gt; Bahkan kini Surabaya sedang ngebut menata-garap jalan Ahmad Yani sisi timurnya, yang konon nantinya akan dijadikan satu arah menuju selatan. Konon, juga akan digarap jalur bus-way, dan kereta mono-rail? Wah.... Surabaya kian mempesona, jadinya!&lt;br /&gt; Surabaya, memanglah kota hebat, sehebat pahlawannya yang mengusir para penjajah yang mencoba kembali memasuki negeri ini.&lt;br /&gt; Pada  ulang tahunnya ke-717, angka yang sangat cantik layaknya nomor cantik telepon seluler ini,  adakah yang hilang dari kota ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Benarkah ini kota Surabaya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang kawan dari Ngawi yang datang ke  kota Surabaya. Dalam pembicaraan malang-melintang tersebut, termasuk di antaranya bicara kangen-kangenan tentang kota Ngawi yang sepi, masjid (yang sebenarnya cagar budaya) telah diambrugkan, bicara pula kawan-kawan lama yang tak lagi bersua. Kawan-kawan yang kini telah jadi kaya, lantas kawan yang tetap setia dengan idealismenya, dan ada juga pembicaraan tentang bahasa. Berbicara tentang item yang terakhir, yaitu bahasa inilah, yang kemudian saya jadi terjaga.&lt;br /&gt; Mengapa terjaga? Karena pertanyaan yang dilontarkan kawan lama saya tersebut adalah, “Apakah orang kota Surabaya ini, sudah tidak bisa berbahasa Indonesia lagi?”&lt;br /&gt;“Lho, memangnya kenapa?” tanya saya kemudian.&lt;br /&gt;“Ming, aku memasuki Surabaya kini, seperti memasuki kota di luar negeri!” katanya kalem, tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;“Lantas apanya yang luar negeri!” tanyaku mendesak.&lt;br /&gt;Dengan berbisik menggelitik dia mengatakan bahwa Surabaya kini, sudah keinggris-inggrisan, padahal masih tetap ada tukang becak, ada pasar loak, ada wilayah kumuh (jika tak boleh dikatakan rusuh). Ini kan lucu? Lihatlah, dengan mentereng di jalan-jalan protokol itu, bahasanya sangat Inggris. Sebut saja misalnya: Cito (City of Tomorrow) yang di atasnya tertulis FIRST, Jatim Expo International, Hypertmart Royal Plaza, Giant Hypermarket, Carrefour, Dramo Trade Centre, Mercure Hotel, Mc. Donald, Kentucky FC, Tunjungan Plaza, The Empire Palace Hotel, BRI Tower, BG Junction, JW Marriot Hotel, Sheraton Hotel, Garden Palace Hotel, Citraland, dan seabreg nama-nama yang semuanya menggunakan bahasa Inggris. Belum lagi ada nama-nama Kentucky Fried Chicken, Mc. Donald, Texas Fried Chicken, dan banyak lagi lainnya.&lt;br /&gt; Dari keterangan kawan lama tersebut, saya benar-benar terjaga. Ternyata, memang benar, kota Surabaya, telah jadi kota yang kehilangan jati diri, sebagai kota yang berada di Indonesia. Semuanya hampir berlabel bahasa Inggris, lantas benarkah ini kota Surabaya? Dari sini kemudian muncul tanya, siapakah yang harus disalahkan? Balai Bahasa Jawa Timur? Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Indonesia? Walikota? Atau Gubernur? &lt;br /&gt; Saya tak tahu jawabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               &lt;em&gt; Surabaya, Jelang Ultah 717&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-7966978632883154984?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/7966978632883154984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=7966978632883154984&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/7966978632883154984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/7966978632883154984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/06/surabaya-kehilangan-jati-diri.html' title='surabaya kehilangan jati diri'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-1172281795994179629</id><published>2010-04-19T13:42:00.004+07:00</published><updated>2010-06-03T12:42:05.796+07:00</updated><title type='text'>KARTINI, BUMI DAN SASTRA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KARTINI, BUMI DAN SASTRA*&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aming Aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penyair, Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), koordinator Malsasa&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* tulisan ini termuat di koran Radar Surabaya, rubrik Horizon, Minggu 18 April 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungannya Kartini, Bumi, dan Sastra? Pertanyaan itu memang wajar dimunculkan, sebab ketika kita memasuki bulan April yang diingat masyarakat adalah Hari Kartini. Pendekar emansipasi wanita negeri ini. Padahal, di bulan April, ada peringatan hari besar lainnya yaitu Hari Bumi dan Hari Sastra. Namun demikian, banyak orang tidak tahu adanya dua peringatan yang saya sebut terakhir. Ironis memang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Kartini&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu di harian Kompas (Minggu, 21/3/2010) saya baca berita tentang ‘Gairah Mendaki di Usia 50 Tahun” yang di dalam laporannya mengisahkan tentang kegairahan para perempuan berusia lebih dari 50 tahun tetap melakukan pendakian gunung, lantaran hobby mereka sejak masih muda. Komunitas itu ada dua, yaitu Fit@Fifty dan Kartini Petualang (Karpet). Bahkan mereka para pendaki perempuan ini akan merencanakan pendakian Gunung Himalaya, dan merayakan Hari Kartini, 21 April 2010 di puncaknya. &lt;br /&gt; Dari berita ini membuktikan bahwa perempuan itu bukanlah sebagai kanca wingking belaka, teman di belakang suami saja, adalah benar! Buktinya,  mereka juga bisa beraktivitas tanpa harus merengek pada suaminya. Mendaki gunung bersama sesama kaum perempuan lain, bahkan ketika mereka telah berusia di atas 50 tahun.&lt;br /&gt;Kata perempuan mempunyai konotasi wanita. Jika wanita, bisa diartikan dalam bahasa Jawa wani ditata, berani ditata; maka kata perempuan, yang berasal dari kata empu dan puan, lebih berkonotasi lebih terhormat katimbang wanita. Sebab kata empu, berarti gelar kehormatan yang berarti tuan atau seorang ahli (utamanya keris), dan puan, berarti tempat sirih dari emas atau perak. Perempuan, artinya orang yang harus dihormati, dan harganya cukup mahal karena layaknya emas, yang termasuk barang mulia. Maka, perempuan seharusnya dihormati dan dimuliakan.&lt;br /&gt; Perempun di negeri kita, Indonesia, hampir semua mengidoalakan perempuan bernama Kartini. Pahlawan bangsa, yang telah memperjuangkan  kesejajaran (emansipasi) antara perempuan dan lelaki. Kartini, juga seorang yang telah berjuang agar para perempuan juga mendapatkan pendidikan, seperti layaknya kaum lelaki.&lt;br /&gt; Bila kita mau menerjemahkan agak luas lagi, kata perempuan identik juga ibu. Sedangkan kata ibu, mempunyai keampuhan makna tersendiri. Betapa tidak? Bayangkan, ketika dalam bahasa Indonesia, ada kata Ibu Jari, Ibu Pertiwi, Hari Ibu, Ibu Negara, Ibu Peri, dan Ibu Kota, dan mungkin masih banyak lagi. Jika kata-kata tersebut kita coba untuk  dipertentangkan, maka tidak akan pernah ada kata: Bapak Jari, Bapak Pertiwi, Hari Bapak, Bapak Negara, Bapak Peri, dan Bapak Kota.&lt;br /&gt; Kata-kata tersebut meyakinkan kepada kita semua bahwa perempuan yang identik dengan ibu itu memanglah hebat atau ampuh, seampuh sebutannya perempuan.  Ini sekaligus memperkuat komitmen Nabi Besar Muhammad SAW, yang meletakkan Ibu pada urutan satu sampai tiga dalam menghormati dan selalu memuliakannya. Baru kemudian angka keempatnya, disebutkan Bapak.&lt;br /&gt; Perempuan, tidak selamanya lemah, terbukti ada para perempuan yang berusia 50-an tahun ke atas masih tetap tegar, dan akan mendaki gunung Himalaya, dalam peringati Hari Kartini tahun ini. Perempuan, itu bisa jadi pemimpin yang tangguh. Selamat berhari Kartini, dan janganlah para perempuan selalu merasa lemah. Bergairahlah, seperti para perempuan komunitas Fit@Fifty dan Karpet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Bumi&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat tanggal 22 April 2010 ini adalah Hari Bumi Internasional, maka selayaknyalah kita mengingatkan kembali kepada warga masyarakat Indonesia, termasuk diri kita sendiri; untuk tidak berbuat kerusakan di bumi ini. &lt;br /&gt;Persoalan lingkungan hidup memang terkadang dilupakan begitu saja, dan bahkan  manusia baru sadar ketika bencana itu datang dengan tiba-tiba. Banjir, misalnya; yang menenggelamkan ribuan rumah-rumah penduduk. Menelan korban bagi manusia yang tak sempat mencari selamat, karena banjir datang tiba-tiba. Begitu pula tanah longsor yang mengubur manusia hidup-hidup dalam sekejap saja. Lebih lagi bencana gempa seperti tsunami di Aceh, yang menyapu bersih ribuan manusia dan rumah-rumahnya. Begitu cepat, begitu tiba-tiba.&lt;br /&gt; Sungguh, semua itu adalah tanda-tanda kebesaran Ilahi, dan sekaligus pertanda bahwa manusia tidak boleh berbuat kerusakan di muka bumi ini. Manusia, seharusnya merawat bumi, agar bumi tetap lestari dan tetap nyaman dihuni bagi manusia berikutnya, dari generasi ke generasi. Mari lestarikan bumi, dengan mewajibkan seorang anak manusia menanamkan satu pohon,  pada peringatan Hari Bumi  tahun ini.&lt;br /&gt; Mengingat Hari Bumi berarti kita harus menyadari bahwa dunia semakin tua, tak layak bagi kita membuatnya kian renta, kian runyam, dan kita tetap berbuat kerusakan bagi alam sekitar. Tidak! Tidak harus begitu!  Mari bersama kita menanam pohon di kota, agar kota juga bisa bernafas lega. Punya jantung atau paru-pru kota,  bernama hutan kota. Bersihkan pula sungai dari kotoran  dan limbah, agar kota kian jadi indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Sastra&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang tahu, bahwa pada tanggal 28 April adalah peringatan Hari Sastra, yang mana pada tanggal itu tahun 1949 lalu, merupakan tanggal wafatnya sang penyair binatang jalang, Chairil Anwar. &lt;br /&gt;          Meskipun penetapan tanggal 28 April sebagai Hari Sastra menuai pro-kontra dari para sastrawan pada waktu itu, tapi yang pasti banyak para mahasiswa fakultas sastra di berbagai perguruan tingggi, akan tetap memperingatinya. Mengapa demikian? Karena Chairil Anwar merupakan tonggak kepenyairan Indonesia di zamannya, dan tetap diakui hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;Bahkan kritikus sastra, yang berpredikat paus sastra Indonesia, HB Jassin; sang penyair Chairil Anwar, atau yang punya predikat si binatang jalang itu, telah dinobatkan sebagai tokoh Angkatan ’45 dalam sastra Indonesia. Chairil, dari catatan Jassin. ternyata selama periode tahun 1942 hingga 1949 hanya membuat  70 puisi asli tulisannya sendiri, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan,  6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. &lt;br /&gt;           Tidak banyak ternyata! Tapi namanya sangat melambung tinggi ke langit peta sastra Indonesia. Begitu pula karyanya, melebihi usianya yang tidak panjang itu, bahkan puisinya berjudul ‘Aku’ telah melampaui abad terdahulu. Dari abad 20 ke abad 21. &lt;br /&gt;Untuk mengingatkan kembali puisi berjudul ‘Aku’  itu, kami muatkan puisinya secara utuh dalam tulisan ini. Berikut ini adalah bait-baitnya: Kalau sampai waktuku/’Ku mau tak seorang ‘kan merayu/Tidak juga kau// Tak perlu sedu sedan itu//Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang//Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang menerjang//Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri//Dan aku akan lebih tidak perduli//Aku mau hidup seribu tahun lagi//Maret 1943.&lt;br /&gt;Menyimak isi yang tersurat dan tersirat dalam puisi itu, seseorang akan merasakan betapa seorang Chairil, memang sosok pahlawan yang pantang menyerah. Bahkan rayuan apapun tak akan menggoyahkan kemauannya untuk terus melangkah. Begitu pula, jika ada peluru yang akan merobektembuskan tubuhnya, ia akan tetap meradang menerjang demi kemauan citanya itu. Ada luka ada bisa, tetap meneguhkan hati untuk tetap berlari, meraih cita hingga perih luka jadi sirna. Tidak perduli! Chairil,  kemudian mengunci puisinya dengan kalimat: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sebuah semangat berjuang yang terasa tak pernah mau mati.&lt;br /&gt;           Perjuangan Kartini perlu diteladani, bumi harus dijaga lestari, dan semangat Chairil Anwar tak harus mati di bumi Indonesia tercinta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     &lt;span style="font-style:italic;"&gt;  Desaku Canggu, 11  April  2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-1172281795994179629?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/1172281795994179629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=1172281795994179629&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1172281795994179629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1172281795994179629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/04/kartini-bumi-dan-sastra.html' title='KARTINI, BUMI DAN SASTRA'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-3973172257511244859</id><published>2010-03-30T15:17:00.003+07:00</published><updated>2010-06-03T12:43:34.049+07:00</updated><title type='text'>sastra jawa masuk sekolah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SASTRA JAWA MASUK SEKOLAH*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aming Aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tulisan ini termuat di Radar Surabaya, Minggu, 28 Maret 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut asumsi bahwa masyarakat Jawa Timur hampir sebagian besar atau lebih dari 75% masyarakatnya, menggunakan bahasa pergaulan (lingua-franca) bahasa Jawa. Dari sejumlah pengguna bahasa Jawa tersebut, muncul pengarang-pengarang yang menggunakan bahasa Jawa sebagai media penulisan dalam karya-karya mereka. Sebut saja nama-nama terkenal di ranah pengarang sastra Jawa ini, seperti: Satim Kadarjono, Suparto Brata, Yunani, Suharmono Kasijun, Djajus Pete, JFX Hoery. Lantas nama-nama lain yang lebih muda usia, seperti: Bonari Nabonenar, Keliek Eswe, Sunarko ‘Sodrun’ Budiman, Titah Rahayu, Sita T. Sita, Herry Lamongan, Widodo Basuki, Sumono Sandhy Asmoro,  W. Haryanto, Wahyudi, Suyitno Ethexs, dan sederet lagi nama lain yang mungkin belum masuk dalam daftar urutan ini. &lt;br /&gt;Perkembangan jumlah pengarang sastra Jawa di Jawa Timur yang signifikan ini, seharusnya menyadarkan kita betapa tidak terbatasnya olah kreasi dari orang-orang yang berkecimpung dalam dunia sastra Jawa. Menyikapi hal tersebut, tidaklah berlebihan apabila Pemerintah (Dinas Pendidikan) perlu mengadakan semacam apresiasi sastra Jawa di ruang-ruang kelas, pada sekolah-sekolah setingkat Sekolah Dasar  (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kenapa demikian? &lt;br /&gt;Melalui sastrawan Jawa masuk sekolah diharapkan bisa menumbuhkembangkan sastra Jawa yang diasumsikan banyak kalangan telah terpinggirkan atau ditinggalkan penuturnya. Melalui kegiatan ini pula diharapkan akan bisa memberikan pendidikan budi pekerti, yang dirasa telah agak luntur (jika tak boleh dikatakan sirna) dari budaya Jawa.&lt;br /&gt;Jika dalam ranah sastra Indonesia, diawali majalah sastra Horison bersama Taufiq Ismail, telah menyelenggarakan kegiatan “Sastrawan Masuk Sekolah”, maka apa salahnya jika hal itu ditiru. Misalnya saja, sastrawan Jawa masuk sekolah pula.&lt;br /&gt;Jawa Timur memiliki banyak sastrawan Jawa yang sangatlah handal. Sebut saja, maestronya pengarang Suparto Brata, yang telah banyak menulis karya-karya berbahasa Jawa. Salah satunya yang sangat dikenal, kumpulan cerkak ‘Trem’ yang memuat sekian banyak cerkak karangan Suparto Brata. Lantas sederet karangan lainnya: Donyane Wong Culika, Kremil, Tiada Nasi Lain, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;Belum lagi jika mau menghitung nama-nama pengarang sastra Jawa, asal Jawa Timur yang telah mendapatkan hadiah ‘Rancage’-nya Ajip Rosidi. Mereka itu, di antaranya: Suharmono Kasijun, Suparto Brata, Widodo Basuki, JFX Hoery, Esmiet. Bahkan konon, tahun ini ada juga nama yang penggurit Sumono Sandhy Asmoro dan Bonari Nabonenar, akan mendapatkan hadiah sastra ‘Rancage’ tersebut.&lt;br /&gt;Kegiatan apresiasi sastra dapat diartikan sebagai usaha pengenalan  dan  pemahaman  yang tepat terhadap karya sastra, sehingga dapat menimbulkan kegairahan terhadap sastra tersebut. Apresiasi sastra juga dapat menciptakan kenikmatan yang timbul sebagai akibat pengenalan dan pemahaman terhadap sastra, yaitu dengan membaca karya sastra. Sedangkan sastra Jawa, dalam hal ini baca cerkak dan geguritan, sangatlah bisa dijadikan sarana guna meraih apresiasi sastra Jawa tersebut. Sekaligus akan dapat mengajarkan budi pekerti kepada para siswa yang mengapresiasi sastra Jawa tersebut. Karena dalam karya sastra Jawa memuat pesan-pesan moral budaya Jawa yang secara tersirat ada di dalam karya tersebut.&lt;br /&gt;Peluang untuk memasuki sekolah-sekolah tersebut ada, yaitu dalam mata pelajaran bahasa Jawa yang masih diajarkan di sekolah tingkat SD maupun SMP. Betapa pun kecilnya jam pelajaran yang ada, tetapi setiap minggunya pasti ada. Nah ... barangkali dalam satu semester, bisa diambil salah satu minggu (pada mata pelajaran sastra Jawa) untuk apresiasi pengarang sastra Jawa berhadapan para siswa.&lt;br /&gt;Lantas bagaimanakah tekniknya?&lt;br /&gt;Barangkali memang agak sulit mencari waktunya, para pengarang sastra Jawa tersebut, bisa terjun langsung ke sekolah. Akan tetapi, saya percaya, bila sekolah memang telah mengagendakan jadwalnya, mungkin para pengarang sastra Jawa juga akan mau dan mampu membagi waktu bagi para pelajar yang ingin apresiasi sastra Jawa tersebut. Mungkin bisa kerja sama dengan mengontaks PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro), atau Sanggar Triwida Tulungagung; FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya), yang keempatnya tak lelah-lelahnya nguri-uri (melestarikan) bahasa  dan sastra Jawa. &lt;br /&gt;Program ini akan lebih menarik lagi, apabila kegiatan ini dalam rangka menyongsong Kongres Bahasa Jawa V yang akan digelar di kota Surabaya tahun 2011 oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur. Mungkinkah Pemda Jatim telah mempersiapkan hal ini? Walahu alam bishawab!&lt;br /&gt;Selanjutnya, apabila para pengarang sastra Jawa telah masuk beberapa sekolah tersebut, kemudian ditindaklanjuti dengan lomba-lomba yang mengarah ke persoalan sastra Jawa, misalnya lomba tulis dan baca guritan. Lomba baca dan tulis cerkak bagi para siswa yang telah mendapatkan pelajaran apresiasi sastra Jawa di sekolahnya, oleh para pengarang sastra Jawa.&lt;br /&gt;Solusi lain, barangkali Pemerintah Pemda Jawa Timur, bisa memfasilitasi para pengarang sastra Jawa dengan mau menerbitkan buku-buku karangan mereka, lantas mensosialisasikannya di sekolah. Akan lebih baik jika, ada juga pembuatan rekaman dalam bentuk disc, yang berisi pelajaran baca geguritan, baca cerita cekak, dan juga baca tembang macapat.&lt;br /&gt;Melalui garapan para pengarang sastra Jawa yang telah dibuat ini, selanjutkan didistribusikan kepada para guru-guru sastra Jawa yang ada di sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;Mengapa demikian?&lt;br /&gt;Selama ini, memang banyak guru mata pelajaran bahasa Jawa, yang tidak mempunyai vak (keahlian/ijazah) bahasa Jawa. Sehingga, banyak sekali, mereka merasa kesulitan dalam megajarkan  bahasa Jawa kepada siswa.&lt;br /&gt;Semua ini hanyalah solusi yang mungkin cukup baik, agar mata pelajaran bahasa Jawa, bisa intens diajarkan kepada siswa tanpa harus ada kendala bagi gurunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;span style="font-style:italic;"&gt; Desaku Canggu, 16 Maret 2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-3973172257511244859?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/3973172257511244859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=3973172257511244859&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/3973172257511244859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/3973172257511244859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/03/sastra-jawa-masuk-sekolah.html' title='sastra jawa masuk sekolah'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-3690456058571613844</id><published>2010-03-15T17:39:00.002+07:00</published><updated>2010-03-15T17:50:56.271+07:00</updated><title type='text'>Bahasa Ibuku Bahasa Jawa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAHASA JAWA BAHASA IBUKU*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aming Aminoedhin&lt;br /&gt;Penyair, Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencatat kegiatan yang sangat berhubungan dengan bahasa pada bulan Februari, barangkali bisa disebut adalah tanggal 9 Februari ada Hari Pers Nasional, lantas pada tanggal 21-nya ada Hari Bahasa Ibu Internasional. Untuk peringatan  Hari Pers Nasional lebih mengedepankan bagaimanakah para jurnalis menulis berita dengan baik dan berimbang. Artinya, tulisan berita itu haruslah berimbang antara nara sumber dan fakta yang ada di lapangan. Bahkan jika perlu, nara sumber tidak hanya satu, tapi bisa banyak jumlahnya. Sehingga akan didapatkan keakuratan berita. &lt;br /&gt;Menulis berita, artinya seseorang wartawan akan menggunakan bahasa untuk menyampaikan beritanya kepada pembaca. Meski melalui televisi, pastilah berita itu ditulis dengan menggunakan bahasa. Begitu pula berita yang ada di radio.&lt;br /&gt;Sedangkan bicara soal Hari Bahasa Ibu Internasional, maka kita jadi ingat bahwa kegiatan Hari Bahasa Ibu Internasional ini diperingati setiap tahun, dan telah disahkan oleh Unesco, sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu. &lt;br /&gt; Membicarakan kegiatan kebahasaan yang kedua, Hari Bahasa Ibu Internasional, saya jadi teringat yang dikatakan oleh beberapa kawan pada acara ‘Mengenang RM Yunani’ (18/2/2010) di Galeri Surabaya. Menurut  Dhimam Abror, bahwa RM Yunani adalah seorang jurnalis yang konsistens dalam pemakaian bahasa, terutama bahasa Jawa. &lt;br /&gt;Beliau, kata Dhiman menambahkan, adalah sosok yang serba bisa, dan punya wawasan dan kepandaian menulis luar biasa. Seorang sastrawan Jawa, Suharmono Kasijun, mengatakan bahwa budayawan yang satu ini adalah seorang jurnalis yang berani dalam tulisan-tulisan beritanya. Sementara begawan sastra Jawa Timur, Suparto Brata, lain lagi. Sang begawan mengatakan, bahwa RM Yunani itu seorang guru yang menulis cerita anak sangat baik, pada tahun 1971-an. Mengapa begitu? Lantaran RM  Yunani selalu mengirimkan naskah ke majalah anak ‘Kuncup’ yang pada waktu itu, Suparto Brata jadi redakturnya. Lebih jauh begawan sastra ini juga mengatakan bahwa Dahlan Iskan (yang punya Jawa Pos, dan kini Direktur PLN itu) mengakui bahwa RM Yunani adalah guru jurnalisnya, sewaktu masih berada di Samarinda.&lt;br /&gt; Lantas apa hubungannya dengan Bahasa Ibu Internasional?&lt;br /&gt; Menurut catatan yang saya baca di berbagai situs di internet dikatakan, bahwa dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, kita tidak boleh melupakan pada bahasa Ibu kita sendiri. Padahal di Indonesia, mempunyai banyak suku bangsa dengan banyak pula bahasa daerah (baca: bahasa Ibu) yang dipunyainya. Jika boleh mencatat bahkan ada bahasa daerah yang konon mempunyai sistem tulisan sendiri, seperti: Jawa, Lampung, Bali, Bugis, dan Batak.&lt;br /&gt; Terlepas dari persoalan apa hubungannya dengan Hari Bahasa Ibu Internasional, dengan bahasa daerah, yang pasti kita sadari bahwa kondisi bahasa, sastra, dan aksara daerah pada saat ini, sudah agak terpinggirkan. Jika tidak boleh dikatakan ditinggalkan oleh penuturnya. Maka tidak mengherankan, jika Bahasa Jawa telah dikongreskan sampai ketiga, dalam rangka melestarikan bahasa Jawa yang terpinggirkan itu. &lt;br /&gt; Dalam rangka merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional tahun ini, tidaklah berlebihan saya sebagai orang Jawa akan juga memperingati Hari Bahasa Ibuku sendiri,  bahasa Jawa, meski tidak pas tanggalnya. Karena saya termasuk sastrawan Jawa, perkenankan pula saya muatkan guritan bertajuk ‘Ndhuk Anakku Wadon’, guna melengkapi tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; //ndhuk, anakku wadon sing ayu dhewe/dadi wong wadon iku kudu/suci uni, suci rupi, lan suci ati//amarga donya wis menehi tandha/akeh wong wadon lambene bengak-bengok/akeh wong wadon matane plerak-plerok/akeh wong wadon aten-atene bosok/lungguh methothok mlaku ora ndedelok/kabeh iku aja mbok tiru, anakku//ndhuk, anakku wadon, delengen ing tawang /mbulan ora werna abang mbranang/lintang-lintang ora gelem gumebyar/lan srengenge kaya ngece-ece//mula iku omonga sing apik/dandana sing resik/mlakuwa sing becik/ing ngalam donya/ndhuk, anakku wadon sing ayu dhewe/goleka dalan swarga liwat tetep madhep/lan manteb terus dhedhepe marang Gusti// Canggu, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harafiah terjemahannya sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nak, anakku perempuan yang paling cantik/ jadi perempuan itu harus/ suci bicara, suci wajah, dan suci hati// lantaran dunia sudah memberi tanda/banyak anak perempuan mulutnya teriak-teriak/banyak perempuan matanya jelalatan/banyak perempuan hati busuk/duduk seenaknya jalan sembarangan/semua itu jangan ditiru, anakku//nak, anakku perempuan, lihatlah di langit/ bulan tak lagi berwarna merah/bintang-bintang tak mau berpijar/ dan matahari seperti meledek// untuk itu, bicara yang baik/berbusana yang bersih/jalanlah yang baik/di dunia ini// nak, anakku perempuan yang paling cantik/carilah jalan ke surga dengan tetap selalu setia/mantap mendekat kepada Allah SWT//Canggu, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guritan atau puisi di atas menyadarkan kepada kita, bahwa perempuan sekarang ini telah memasuki pergeseran budaya yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Tidaklah berlebihan, ketika kita mempunyai anak perempuan akan merasa ketakutan apabila anak perempuan kita tersebut jadi ikut-ikutan seperti yang tertera dalam guritan tersebut.&lt;br /&gt;Sekali lagi bahasa Jawa cukup efektif untuk mengingatkan manusia Jawa agar berbuat baik, dan berlaku sopan santun dalam mejalani hidupnya. Belum lagi jika kita mau membaca beberapa buku sastra Jawa yang banyak memuat pitutur luhur di dalamnya.&lt;br /&gt;Kembali pada persoalan Hari Bahasa Ibu Internasional,  saya adalah orang yang sering jadi juri lomba baca  dan tulis geguritan. Tahun lalu saja, 2009, di Museum Mpu Tantular, pada Festival Tantular, tercatat lebih dari 100 pelajar (laki-laki dan perempuan) se-Jawa Timur ambil bagian jadi peserta lomba ini. Kemudian pada  kegiatan sejenis diselenggarakan Dinas Pendidikan Surabaya, Dinas Pariwisata &amp; Kebudayaan Surabaya, kerja sama Kalawarti  Basa Jawa ‘Jaya Baya’ di Cak DurasimTaman Budaya Jawa Timur; juga diikuti lebih dari 100 pelajar (laki-laki+perempuan) se-Kota Surabaya.&lt;br /&gt;Begitu pula terbitan majalah berbahasa Jawa, juga diterbitkan dari kota Surabaya. Majalahnya adalah ‘Panjebar Semangat’ dan ‘Jaya Baya”. Lantas ada program ‘Jawa Days’ yang diwajibkan sekolah-sekolah di Surabaya, harus berbahasa Jawa pada hari tertentu. Pertanyaan yang muncul, adakah program ‘Jawa Days” ini bisa efektif dilaksanakan di sekolah? Perlu penelitian tersendiri.&lt;br /&gt;Dari catatan ini terindikasi bahwa bahasa Jawa masih diminati oleh orang Jawa sendiri. Setidaknya bagi beberapa lembaga Pemerintah maupun swasta yang masih terus memompakan semangat agar generasi muda tetap mencintai bahasa Jawa. Terlepas, apakah mereka hanya ikut karena disuruh gurunya, atau pun memang mereka punya keinginan  sendiri guna mengikuti lomba-lomba ini. Pastinya, masih banyak peminat lomba baca dan tulis gurit diikuti para siswanya.&lt;br /&gt; Menyongsong Kongres Bahasa Jawa V yang akan diselenggarakan di Jawa Timur, pada tahun mendatang, maka sewajarlahnya bila Pemerintah Jawa Timur dan swasta yang terkait dengan hal ini, bersegeralah kembali mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bahasa Jawa. Lomba penulisan sastra Jawa, lomba baca guritan dan macapatan, atau semacamnya. Akan lebih pas pula, jika diselenggarakan bercerita atau mendongeng dengan menggunakan bahasa Jawa.&lt;br /&gt;Bahasa Jawa merupakan bahasa Ibu bagi suku bangsa Jawa. Orang Jawa di Indonesia sudah tersebar di berbagai daerah dan wilayah Indonesia, dari Sumatra hingga Papua. Akankah bahasa itu akan tetap terpinggirkan? Sebuah tanya yang barangkali perlu jawaban pasti bagi suku Jawa sendiri?&lt;br /&gt;Bahasa Jawa bahasa Ibuku, itu hanya sebuah pengakuan. Praktiknya di lapangan, sebagai orang Jawa (ternyata banyak jumlahnya) tidak bisa berbahasa Jawa. Ironis memang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Desaku Canggu, 19/2/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*) Tulisan ini telah termuat di koran Radar Surabaya, Jawa Pos Grup, Minggu, 28 Februari 2010.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-3690456058571613844?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/3690456058571613844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=3690456058571613844&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/3690456058571613844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/3690456058571613844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/03/bahasa-ibuku-bahasa-jawa.html' title='Bahasa Ibuku Bahasa Jawa'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-256697251395970754</id><published>2010-01-26T13:29:00.003+07:00</published><updated>2010-01-26T13:38:13.525+07:00</updated><title type='text'>BEDAH BUKU JAGAD BERKATA-KATA</title><content type='html'>Selamat Datang &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DI DUNIA ANGAN DAN BAYANG-BAYANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Masihkah kita Bimbang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;catatan&lt;/span&gt;: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Makalah bedah buku ini disampaikan di STKIP PGRI Jombang, 15 Januari 2010. Pertama di tahun 2010 ini, aming aminoedhin, memulai ceramah sastra.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selamat datang di dunia angan dan bayang-bayang! Masihkah bimbang?&lt;br /&gt; Barangkali kalimat itu yang akan saya kedepankan lebih dahulu. Karena menulis puisi, identik dengan memasuki wilayah dunia angan dan bayang-bayang. Angan dan bayang-bayang yang kemudian diejawantahkan dalam bentuk tulisan bernama, puisi. Ini berarti, rekan-rekan mahasiswa STKIP PGRI Jombang telah melangkah ke dalam dunia angan dan bayang-bayang.&lt;br /&gt; Membaca antologi puisi “Jagad Berkata-kata” karya para mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2006, STKIP PGRI Jombang, yang diserahkan via email, saya jadi suka membacanya. Lantas dikirim pula, bukunya (meski terlambat), sudah berbentuk yang apik dan menarik. Buku kumpulan itu mengingatkan saya tentang  beberapa komunitas sastra yang membuat kumpulan puisi semacam. Ada komunitas Kostela – Lamongan, diprakarsai Herry Lamongan, ada komunitas Dewan Sastra Jatim, dimotori W. Haryanto, komunitas sastra Luar Pagar Unair - Surabaya, yang di dalamnya ada Ribut Wijoto, FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya) yang berkali buat kumpulan Malsasa, komunitas sastra Forasamo-Mojoketo, bersama Saiful Bakri dan Suyitno Ethexs-nya, serta komunitas lingkar sastra Tanah Kapur – Ngawi dimotori Tjahjono Widarmanto, dan Komunitas Teater Persada Ngawi, pimpinan Mh. Iskan. &lt;br /&gt;Mereka semua hanya sebagian kecil dari komunitas sastra yang tetap eksis di peta sastra Jawa Timur, agar terus bergerak menumbuhkembangkan sastra kian marak kian beranak-pinak. Artinya, komunitas ini telah mencoba menjembatani dan mewadahi karya sastra melalui pener-bitan kumpulan puisi, betapa pun sederhananya.&lt;br /&gt; Barangkali apresiasi yang tinggi saya acungkan buat Imam Ghozali dan kawan-kawan di STKIP PGRI Jombang yang telah memotori  acara semacam ini. Saya yakin itikad yang baik ini akan membuahkan komunitas sastra Jombang kian membaik. Meski, sebenarnya telah baik, tapi gaung eksposenya yang kurang baik. &lt;br /&gt;  Bicara soal antologinya “Jagad Berkata-kata” saya bukanlah kritikus sastra yang baik. Tapi karena harus diberi mandat memberi komentar dan saran, maka yang harus saya katakan awal,  adalah ‘bagus’ semua. Seperti guru lukis Tino Sidin, yang selalu mengatakan ‘bagus’ untuk semua pengirim lukisan kepadanya.&lt;br /&gt; Mengapa bagus? Karena mereka telah berani membuat puisi, dan menerbitkan dalam sebuah antologi puisi. Keberanian menulis inilah sebuah proses panjang yang harus dilalui oleh seorang pengarang atau penyair. Artinya, tidak ada penyair yang tiba-tiba menjadi penyair. Mereka pasti melalui proses panjang menulis, menulis, dan menulis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Baik itu Jujur Bicara&lt;br /&gt; Apabila mau bicara secara keseluruhan puisi yang ada dalam antologi, maka kebanyak-an mereka para penyairnya masih menulis dengan berpanjang-panjang kata. Padahal, puisi yang baik, menurut saya, masih tetap yang ‘sedikit kata tapi banyak makna.’ Sedangkan rekan-rekan kita masih banyak yang menggunakan kata sambung dan imbuhan yang berlebihan. Padahal sebenarnya, menulis puisi bagi saya, mengusahakan (jika mungkin) menulis tanpa kata imbuhan dan tanpa kata sambung. Sehingga tulisan puisinya benar-benar menganut sedikit kata, tapi kaya makna tersebut.&lt;br /&gt; Coba kita simak puisi berjudul ‘Titik’ berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Lucky Ali Murfiqi&lt;br /&gt;TITIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik tak akan pernah kau temui dalam kehidupanku&lt;br /&gt;dan titik pun tak ada dalam matiku&lt;br /&gt;titik hanyalah suatu koma yang panjang yang tak berujung&lt;br /&gt;dan berakhir di balasan benih yang kau tanam di dunia yang hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi sungai yang meliuk &lt;br /&gt;hilangnya bulu sayap yang terpuruk &lt;br /&gt;mengikuti arus hidup yang kikuk &lt;br /&gt;hingga menyadari insani yang terburuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;arus hidup yang tak menentu &lt;br /&gt;tak ada seorang pun yang dapat tahu &lt;br /&gt;ke mana perjalanan hidup mereka &lt;br /&gt;tak ada yang mampu merubah semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     (Jagad Berkata-kata, halaman 74)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Puisi di atas, apabila kata sambung ‘yang’-nya dihilangkan semua, pasti puisi itu masih bisa berdiri dan enak dibaca. Bahkan artinya yang dikandungnya, tak berubah makna. &lt;br /&gt; Kelemahan yang lain, jika boleh saya sebutkan, bahwa seorang penyair itu adalah orang lebih tahu tentang bahasa. Maka tidaklah harus salah dalam penulisannya. Baca larik akhir puisi ‘Titik’ di atas,  kata ‘merubah’ sebenarnya ‘mengubah’. Lantas ada sederet panjang lagi kesalahan tulis dari kawan-kawan kita ini. Tak perlu disebutkan di sini. Malah nanti gak mau menulis puisi. Tapi itu semua memang proses untuk menjadi “penyair,” maka harus tahu kesalahannya yang ternyata tidak mahir.&lt;br /&gt; Jika harus disebutkan mana puisi yang mendekati baik, dan punya prospek ke depan jadi penyair beneran, maka saya hanya menyebut beberapa judul puisi yang telah saya coba baca sehari ini, tanpa mengulang kembali. Maaf! Bukan berarti yang lain, lantas tidak punya prospek, tapi lebih ke arah mereka perlu berproses lebih panjang lagi. Artinya, harus terus menulis lagi, bukan lantas berhenti.&lt;br /&gt; Mereka itu itu: Yang Terakhir oleh Nur Khoitoni, Aku Islam Abangan oleh Eli Sobikah, Kontroversi – Arie Oktaviyanti, Jalang- Ishom Junaidi, Masihkah Pantas – Muzayin, Kemeja Warna Emas – Maratus Shiolikhah, Sandi Leluhur – Khusnul Khotimah, Tragedi Hidup – Syamsah Ayuningrum, Jagat Berkata-kata, Supa’at, Pena- Nuril Baidlowi, Keranda – Andri Eko Yuwono, Ruang Cinta -  Sudirman, Omong=O – Faisol Hidayatullah AF, Awal Belum Berakhir – Miftahul Huda Firmansyah, Timang-timang Badan  - Niken Fajarwati, Sepotong Rasa - Zulmi Faktullah, Satu – Eli Nurmelia, Hallah Tanpa Kata – Tedi Subohastowo, dan Coro – Zainul Arifin, Puisi Hujan dan  Kamu – Nugrahwati, Kuawali Dengan Airmata – Fitri Zahnya F.&lt;br /&gt; Mengapa juga mereka mendekati baik? Lantaran tulisan puisinya tampak bicara dengan kejujuran hatinya. Penyair, harus jujur! Maka dalam tulisannya, harus bermuatan tulisan yang jujur pula. Lantas apa  lagi? Mereka menulis dengan kesederhanaan dalam penulisan, dan bahkan ide yang diungkapkan. Sederhana tapi ada sesuatu yang ditawarkan kepada pembacanya. Tidak percaya? Coba simak puisi ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitri Zahnya F&lt;br /&gt;KUAWALI DENGAN AIRMATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ku awali langkah jam&lt;br /&gt;Dengan air mata semalam&lt;br /&gt;Sujud yang bening&lt;br /&gt;Subuh yang hening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpah segala penyelesaian&lt;br /&gt;Karena kemarin&lt;br /&gt;Aku membawa jam – Mu&lt;br /&gt;Ke negeri jauh&lt;br /&gt;Tak bertanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, jika hari ini&lt;br /&gt;Kuawali langkah jam&lt;br /&gt;Dengan air mata dan nama Mu&lt;br /&gt;Perkenankan sisa jejak-jejakku&lt;br /&gt;Dengan satu ucap sakti Mu&lt;br /&gt;  Kun !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa peristiwa sehari  hari&lt;br /&gt;Tiada henti menggodaku?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   (Jagad Berkata-kata, halaman 87)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah sederhana? Kata kunci “Kun”  atau “Jadilah” adalah hal yang ditawarkan Fitri, bahwa ternyata peristiwa sehari-hari di dunia tetap menggoda. Kemerduan bunyi baris puisinya juga indah dan merdu. Baca bait pertamanya, indah bukan?&lt;br /&gt;   Pada puisi lainnya,  seorang Eli Sobikah, menulis dengan kejujurannya “Aku Islam Abangan” yang membuat pembacanya akan terdedah rasa hati, dan terjaga kesadarannya. Setidaknya, banyak manusia kita, masih seperti yang dikatakan Eli. Sangat sederhana, tapi memuat banyak makna bagi pembacanya. Kita simak puisinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eli Sobikah&lt;br /&gt;AKU ISLAM ABANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Islam tapi masih abangan&lt;br /&gt;Aku percaya Allah adalah Tuhan&lt;br /&gt;Tapi mengapa aku memberi sesajen&lt;br /&gt;Pada pohon tua yang penuh syaitan&lt;br /&gt;Aku Islam tapi masih abangan&lt;br /&gt;Aku tahu Muhammad sebagai anutan&lt;br /&gt;Tapi mengapa aku patuh pada dukun&lt;br /&gt;Pada saat menjalani semua kehidupan&lt;br /&gt;                                  (Jagad Berkata-kata, halaman 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Puisi jujur yang lain, ditulis Gressi Tania Ayu, yang bicara wajar dan apa adanya. Jujur itulah mutiara. Kita baca puisinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gressi Tania Ayu Dewi Rantau S.&lt;br /&gt;TERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah teri &lt;br /&gt;Seorang yang tak ada apa-apanya&lt;br /&gt;Hanya seorang yang kecil&lt;br /&gt;Tak berpengetahuan&lt;br /&gt;Hanya bermodalkan keberanian&lt;br /&gt;Menampakkan diri dengan tulisan&lt;br /&gt;Yang tak beraturan&lt;br /&gt;Kacau, tak berirama&lt;br /&gt;Dengan ungkapan yang polos&lt;br /&gt;Itulah aku&lt;br /&gt;Yang tak pantas bersanding dengan pujangga sastra&lt;br /&gt;Sekalipun dalam mimpi&lt;br /&gt;                                   (Jagad Berkata-kata, halaman 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Mbeling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membaca puisinya Faisol Hidayatulloh AF berjudul  Omong = 0 saya jadi teringat puisi mbelingnya Remy Sylado. Sederhana, tapi membuat pembacanya terjaga. Terjaga dalam arti membenarkan puisi mbeling itu.&lt;br /&gt; Saya adalah orang yang berangkat dari puisi mbeling itu. Puisi pertama saya yang termuat juga puisi kategori ‘mbeling’. Saat itu, termuat di Majalah ‘Top’ Jakarta tahun 1975. Puisi saya berjudul ‘Bendera’. Sedangkan larik dan barisnya sangat sederhana. Secara lengkap saya kutipkan naskah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin &lt;br /&gt;BENDERA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Merah&lt;br /&gt; Putih &lt;br /&gt; Biru&lt;br /&gt;            Hilang paling bawah&lt;br /&gt; Indonesiaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Puisi Faisol di bawah ini juga termasuk kategori puisi mbeling. Mbeling ide kreatifnya, tapi juga memuat pesan yang benar di kandungnya. Menurut Faisol, bahwa ketika kita banyak ngomong, hasilnya adalah nol. Atau ketika seseorang hanya omong-omong, dan omong saja, maka yang dikatakan adalah tanda kosong. Ini terbukti, bahwa banyak rekan kita yang ‘ngomong doang’ tapi tak pernah bekerja. Kerjanya yang ‘omong’ itu. Kita simak puisinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong = 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wah gak mau tampil puisimu, Sol! Maaf, agak gaptek!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      (Jagad Berkata-kata, halaman 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi mbeling yang lain, menurut saya adalah tulisan Diana. Bahkan judul puisinya pun dengan angka, bukan kata. Tapi ada yang dipesankan kepada kita pembacanya, bahwa kita manusia, yang berawal dari 1 dan 2. Satu mewakili ayah, dan dua mewakili Ibu. Benarkah? Tanyakan pada penulisnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diana&lt;br /&gt;1.2&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Bila kita menjadi &lt;br /&gt;Tentu tak ada dua&lt;br /&gt;Bila kita menjadi&lt;br /&gt;Tentu masing-masing tak mendua&lt;br /&gt;Bila kita menjadi&lt;br /&gt;Tentu takkan ada angka setelah itu…!!&lt;br /&gt;Satu titik dua&lt;br /&gt;Manusia selalu ada&lt;br /&gt;    (Jagad Berkata-kata, halaman 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori puisi mbeling yang lain, ditulis Miftaqul HF, sederhana tapi mengandung makna. Kita simak saja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Miftaqul  Huda Firmansyah&lt;br /&gt; AWAL BELUM BERAKHIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata berawal dari&lt;br /&gt;A&lt;br /&gt;B&lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;Angka berawal dari&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Musik berawal dari&lt;br /&gt;Do&lt;br /&gt;Re&lt;br /&gt;  Mi&lt;br /&gt;Kisahku berawal dari&lt;br /&gt;Panggung&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;         Sepi-ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   (Jagad Berkata-kata, halaman 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas ada juga termasuk mbeling berjudul 'Sepuluh' pada halaman 100 yang ditulis oleh Ainul Yaqin. Hanya saja main-main angkanya itu tak tertebak oleh sang pembaca.  Minimal saya, sulit menangkap pesan yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format Buku dan Tata Letak&lt;br /&gt; Seperti saya katakan di muka, bukunya apik dan menarik. Hanya saja format ukuran akan lebih cantik jika diperkecil,  20 X 13 sentimeter. Tata letaknya, sudah baik, hanya konsistensi spasi tiap puisi tidak sama, begitu juga font hurufnya, sehingga agak mengganggu pembaca. Coba kita lihat puisi pada halaman 7, 86, 88, 90, serta halaman 28 fontnya lebih besar dari yang lain.&lt;br /&gt; Jika dicari salahnya lagi, judul buku 'Jagad Berkata-Kata' tidak konsisten dengan puisinya yang termuat di halaman 60, yang menulisnya dengan 'Jagat Berkata-kata'. Penulisan kata 'jagad' pada puisinya bertuliskan 'jagat' pakai konsonan 't'. Nah... ini juga mengganggu.&lt;br /&gt; Kelemahan yang lain, jika harus dicari salahnya, adalah sang editor tidak menyertakan biodata penyair atau penulisnya. Sehingga tidak diketahui persis usia berapa mereka menulis puisi. Akan lebih lengkap, apabila disertakan pula aktivitas yang pernah dilakukan penyair tersebut.  Lantas ada pula, salah yang agak ironis, ketika buku itu tak menuliskan angka tahun pembuatan/penerbitan buku. Bahkan dalam buku itu, tak ada satu pun angka 2010, yang mana buku ini telah diterbitkan. Sayang!&lt;br /&gt; Tapi itu hanya kesalahan, dan kekurangan yang teramat kecil saja. Ada yang lebih besar dari hal itu, yaitu kemauan, keberanian, vitalitas, dan kreativitas yang tak terbatas, karena mau mengumpulkan dan menerbitkan buku puisi itu. Selamatlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt; Barangkali itulah yang bisa saya tulis dalam bahasan tentang kumpulan “Jagad Berkata-kata” ini, tentu banyak lemahnya. Kajiannya, memang tanpa teori. Maaf! Sebab selama ini, saya memang kurang pas dengan berbagai teori. Bahkan, ketika lulus sekolah sastra, saya mencoba membuang semua teori tentang sastra. Sekali lagi maaf!&lt;br /&gt;Selamat datang di dunia angan dan bayang-bayang. Masihkah kalian semua bimbang? Menulis memang kerja sambilan, tapi jika kita mau serius, barangkali cukup menjanjikan. Selamat datang!&lt;br /&gt; Yang harus diyakini adalah bagaimanakah kita tetap mau menulis untuk berproses menjadi penyair itu. Belajar menulis, menulis lagi, dan menulis tanpa henti. Insya Allah, segala damba akan tergapai nanti. Seperti pedoman saya dalam penulisan (termuat di blogger dan fb saya), “berbekal yakin pasti, berpayung iman nan suci, berusaha sepenuh ikhlasnya hati, lantas berdoa tanpa henti, insya allah segala damba segala cita, bahkan cinta akan tergapai nanti.”&lt;br /&gt; Sukses buat komunitas sastra STKIP PGRI Jombang! Sukses buat Cak Imam Ghozali yang telah menebarkan virus sastra ini. Terima kasih rekan-rekan semua, yang percaya pada Aming Aminoedhin, untuk bicara. Sekali lagi, optimis tinggi adalah kunci. Semoga rintisan dengan itikad baik ini akan membuahkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat.&lt;br /&gt; Atas semua bahasan di atas, rekan-rekan boleh bersetuju atau tidak bersetuju,  tapi saya bicara dengan itikad baik agar sastra terus melaju laju di kotamu, Jombang Beriman itu. Lantas,  mari kita dialog sastra! Betapa pun sederhananya. Mari!&lt;br /&gt;Salam sastra!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Desaku Canggu, 13 Januari 2010        Aming Aminoedhin, sang penyair&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-256697251395970754?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/256697251395970754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=256697251395970754&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/256697251395970754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/256697251395970754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/01/bedah-buku-jagad-berkata-kata.html' title='BEDAH BUKU JAGAD BERKATA-KATA'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-6684360284866663544</id><published>2010-01-11T09:32:00.001+07:00</published><updated>2010-01-11T09:36:51.455+07:00</updated><title type='text'>PUISI-PUISI AMING AMINOEDHIN</title><content type='html'>Puisi-puisi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aming Aminoedhin&lt;/span&gt; yang termuat di Jawa Pos Minggu, 10 Januari 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KUSIMPAN KANGEN INI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kusimpan kangen ini&lt;br /&gt;kusimpan. ternyata aku tak bisa&lt;br /&gt;tak bisa tak membuka &lt;br /&gt;dan kubuka hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membaca tanda atas status tertera&lt;br /&gt;barangkali hanya kata usang &lt;br /&gt;tak berubah, hingga petang&lt;br /&gt;telah tiba kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lama nian tak bersua&lt;br /&gt;lantaran jarak mendinding antara&lt;br /&gt;tapi dunia maya, antarkan&lt;br /&gt;semua bisa bicara. ada sesuatu&lt;br /&gt;begitu menggoda. lalu .........&lt;br /&gt;sepi. begitu sepi, dan barangkali&lt;br /&gt;hanya sejumlah doa&lt;br /&gt;terucap tanpa terasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada sesuatu terkadang bisa lupa&lt;br /&gt;ada sesuatu terkadang menghadang&lt;br /&gt;termasuk jarak lokasi dan waktu&lt;br /&gt;ada juga sebersit rasa ingin memburu&lt;br /&gt;tapi hanya mimpi angan yang sirna&lt;br /&gt;ditelan jarak dan waktu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kangen, bikin hidup kian gairah&lt;br /&gt;meski mungkin hanya desah&lt;br /&gt;ah...... &lt;br /&gt;kangenku kusimpan di ujung resah&lt;br /&gt;pada hujan petang yang basah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;canggu, desember rain 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;GERIMIS TELAH HABIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila sesuatu kadang lupa&lt;br /&gt;tak harus ada  curiga&lt;br /&gt;gerimis telah habis pada senja&lt;br /&gt;ketika aku bersiap menangis&lt;br /&gt;pada sesuatu terlupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali gerimis menipu kita&lt;br /&gt;tanda setujunya berpuluh tahun lalu&lt;br /&gt;hanya sekedar kata-kata&lt;br /&gt;tak pernah ada. tak pernah ada&lt;br /&gt;tanpa ada ujung dan juntrungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi gerimis telah habis&lt;br /&gt;aku kehilangan angan menulis&lt;br /&gt;senja berdiri hanya sunyi&lt;br /&gt;selebihnya langit hitam&lt;br /&gt;lorong jalanan, tak ada orang &lt;br /&gt;lalu-lalang. begitu menakutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jarum jam tak bergerak&lt;br /&gt;seperti aku dan kau&lt;br /&gt;dibatasi waktu dan jarak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siwalanpanji, 10 /12/ 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MELANGKAH KE SURAU ITU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis siapakah itu&lt;br /&gt;membentur pada dinding waktu&lt;br /&gt;senja memang telah berlalu&lt;br /&gt;tinggal gerimis, dan kerdip lampu-lampu&lt;br /&gt;dibalut kabut terasa syahdu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis siapakah itu&lt;br /&gt;mengetuk pintuku lantas berlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disc musik mozart mengalun&lt;br /&gt;antarkan senja pada rembang petang itu&lt;br /&gt;kadang menghentak kadang syahdu&lt;br /&gt;membalutbangunkan angan rinduku&lt;br /&gt;ada juga suara adzan terdengar&lt;br /&gt;sayup-sayup di kejauhan&lt;br /&gt;ajak langkahku menuju surau itu, lalu&lt;br /&gt;kubunuh mozart menghentak syahdu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis belum juga habis&lt;br /&gt;kucari payung tak kutemu juntrung&lt;br /&gt;gerimis terus saja jatuh&lt;br /&gt;tak harus membuat hatiku kisruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika ada rinduku bertumbuh&lt;br /&gt;biarkan tumbuh di surau-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerimis boleh menghadangku&lt;br /&gt;tapi langkah rinduku tetap bermuara&lt;br /&gt;pada-Mu, kaki melangkah ke surau itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Desaku Canggu, 10 /12/ 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TENTANG GURITA ITU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penghujung tahun langit warna kelabu&lt;br /&gt;ada gurita bernama buku&lt;br /&gt;mengganggu langkah&lt;br /&gt;setiap jaga-tidur rakyatmu&lt;br /&gt;tapi langkah bisa tak terarah&lt;br /&gt;angin demokrasi telah berhembus&lt;br /&gt;tak perlu risau atas semua itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahun baru perlu ada buku baru&lt;br /&gt;barangkali bukan tentang gurita&lt;br /&gt;tapi bisa tentang paus, raja-diraja ikan&lt;br /&gt;yang berkuasa di samudra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahun lalu biarkan berlalu&lt;br /&gt;kita berbenah di tahun baru&lt;br /&gt;menulis buku tanpa mengganggu&lt;br /&gt;tidur-jaga rakyat yang berseteru&lt;br /&gt;menulis buku demokrasi bukan democrazy&lt;br /&gt;menulis buku politik bukan sekedar kritik&lt;br /&gt;menulis buku tentang cinta sesama, lantas&lt;br /&gt;menulis buku yang bermuara&lt;br /&gt;atas kebesar-esaan-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Mojokerto, 27/12/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-6684360284866663544?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/6684360284866663544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=6684360284866663544&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6684360284866663544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6684360284866663544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/01/puisi-puisi-aming-aminoedhin.html' title='PUISI-PUISI AMING AMINOEDHIN'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-1131258135429385437</id><published>2010-01-08T19:18:00.003+07:00</published><updated>2010-01-08T19:29:17.061+07:00</updated><title type='text'>malsasa 2009 sukses pentas</title><content type='html'>Meriah dan Sukses!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENTAS KESEMBILAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MALSASA 2009 DI TBJT SURABAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Banyak bintang tamu ikut tampil baca puisi&lt;br /&gt;• Dimeriahkan Sanggar Alang-alang – Didiet Hape&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : Aming Aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Angka sembilan merupakan angka terbesar nilainya, dibandingkan angka delapan, tujuh dan seterusnya. Tapi adakah angka sembilan pada pesta Malam Sastra Surabaya 2009 tahun ini benar-benar akan yang terbesar dalam perhelatannya? Sebuah tanya yang barangkali kita semua baru bisa menjawabnya, setelah pentas benar-benar digelar.&lt;br /&gt; Hanya saja bahwa ketika pada tahun ini, 2009,  acara Festival Seni Surabaya (FSS) dan Festival Cak Durasim (FCD) tidakdiselenggarakan, praktis acara sastra yang berlevel Jawa Timur berkurang. Karena  kedua festival tersebut, biasa mengusung kegiatan sastra pada kedua aktivitasnya. Setidaknya kegiatan sastra yang melibatkan banyak penyair atau cerpenis sastra Jawa Timur beraktivitas (menonton acaranya atau ikut terlibat jadi panitianya), serta ikut tampil dan baca sastra,  tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejalan dengan persoalan inilah, maka saya bersama komunitas FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya), mencoba kembali menggelarpentaskan “Malsasa 2009” atau malam sastra Surabaya, betapa pun pahitnya. Karena kegiatan sastra yang didanai sendiri, hampir semua orang tahu pasti, adalah sebuah kegiatan yang merupakan projek merugi. Kegiatan ini pun, masih seperti tahun-tahun sebelumnya, membuat buku dan pentas sastranya, didanai secara patungan (urunan dana) oleh para penyair dan pengguritnya. Adanya Malsasa 2009 ini,  sekaligus untuk menjawab atas tidak adanya kedua festival yang sudah cukup dikenal masyarakat Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Setidaknya ada sedikit  angin segar yang akan mewarnai peta sastra Surabaya dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Malsasa 2009 digelar pada penghujung tahun 2009, tepatnya 29 Desember 2009, bertempat di pendapa Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya. Diawali dengan sambutan Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Sabrot D. Malioboro. Lantas penyair, Aming Aminoedhin, sang penggagas Malsasa, sedikit memberikan cerita tentang sejarah awal kegiatan Malsasa yang digelar sejak tahun 1989 hingga tahun ini. Dilanjutkan kepala Taman Budaya Jawa Timur, Drs. Karsono M.Pd., memberikan sambutan, dan sekaligus membaca salah satu puisi karya penyair yang ada dalam kumpulan guritan dan puisi Malsasa 2009, yaitu puisi berjudul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;af. tuasikal&lt;br /&gt;SUARA LIAR TERDENGAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;hari pertama&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sesekali kita harus menengok ke bawah&lt;br /&gt;tundukkan congkak lenturkan jiwa&lt;br /&gt;suara liar terdengar mengunci langkah &lt;br /&gt;ketika ku hanya lewat berlalu saja&lt;br /&gt;tak hirau cermin di dinding hatiku&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;hari kedua&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sesekali kita harus ulurkan tangan tanpa harapan&lt;br /&gt;tumpahkan harta luluhkan serakah&lt;br /&gt;suara liar terdengar mengunci langkah &lt;br /&gt;ketika ku tetap lewat berlalu saja&lt;br /&gt;tak hirau cermin di brankas hati ikhlas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;hari ketiga&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sebelum suara-suara liar terdengar&lt;br /&gt;sebelum suara-suara mengunci langkah&lt;br /&gt;ketika ku hanya lewat berlalu saja&lt;br /&gt;ku coba berkaca pada cermin&lt;br /&gt;di dinding hatiku&lt;br /&gt;ku coba berkaca pada cermin&lt;br /&gt;di brankas hati ikhlas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;namun tak kutemukan apa-apa&lt;br /&gt;di depan wajah yang hanya bias cahaya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;hari keempat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tanpa mendengar bisikan &lt;br /&gt;atau suara-suara liar terdengar&lt;br /&gt;ketika ku hanya berlalu begitu saja&lt;br /&gt;ku langsung berdiri di depan cermin itu&lt;br /&gt;“kau menatapku dan aku menatapmu”&lt;br /&gt;tanpa kedip berkedip aku tetap menatapmu&lt;br /&gt;dan kau juga tetap menatapku &lt;br /&gt;mungkin bisa dihitung dengan beberapa kedip berlalu&lt;br /&gt;lalu tanpa berkata aku mendesah&lt;br /&gt;kenapa tak kutemukan apa-apa&lt;br /&gt;di depan wajah yang hanya bias cahaya&lt;br /&gt;apa barangkali ada sekat di cermin hati&lt;br /&gt;hingga bias cahaya &lt;br /&gt;tak dapat tampak tertangkap mata &lt;br /&gt;tak dapat tampak terbaca jiwa&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;hari kelima&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tanpa suara-suara yang membuatku terjaga&lt;br /&gt;ketika ku hanya berlalu tak hirau cermin itu&lt;br /&gt;aku biasakan memandang bias diriku&lt;br /&gt;meski hanya sekilas &lt;br /&gt;ternyata banyak sesuatu terkupas&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;hari keenam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;suara-suara itu tak ada lagi&lt;br /&gt;yang ada hanya diam &lt;br /&gt;di depan mata&lt;br /&gt;memandang mata &lt;br /&gt;membaca kaca&lt;br /&gt;mengeja jiwa&lt;br /&gt;menghitung alpa&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;hari ketujuh&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;suara itu datang lagi &lt;br /&gt;“lenturkan jiwa &lt;br /&gt;luluhkan serakah&lt;br /&gt;cerminku adalah cermin hatimu&lt;br /&gt;suaraku adalah suara hatimu&lt;br /&gt;bercerminlah &lt;br /&gt;sebelum kau melangkah&lt;br /&gt;bercerminlah”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sidoarjo, 17--24 oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malsasa 2009 juga dimeriahkan oleh komunitas anak-anak “Sanggar Alang-Alang” pimpinan Didiet Hape, yang menyuguhkan komposisi angklung versi Jawa Timuran. Kata Didiet Hape, bahwa komposisi ini memang digarap dengan media angklung yang ada di Jawa Timur, yaitu angklung Banyuwangi, Ponorogo, dan Tengger-Bromo, Probolinggo. Ketiganya diramu dan kemudian ditampilkan apik di hadapan penonton Malsasa, malam itu. Lengkap pula dengan dua anak-gadis menari yang melanggak-lenggok dengan gemulainya. Sungguh sebuah seni pertunjukan yang menawan.&lt;br /&gt; Malsasa 2009 benar-benar sebuah pentas sastra yang cukup menarik dan enak dinikmati. Tak urung, Arek Teve Surabaya dan Radio Suara Surabaya, juga meliput atas gelaran Malsasa tahun ini.&lt;br /&gt; Setelah Drs. Karsono, membuka dengan baca puisi; dilanjutkan dengan beberapa penyair dan penggurit tampil membacakan puisi dan guritannya. Ada Tengsoe Tjahjono, Sabrot D. Malioboro, Suharmono Kasijun, Aming Aminoedhin, Bonari Nabonenar, Widodo Basuki, AF Tuasikal, W. Haryanto, Hardho Sayoko SPB, Kusprihyanto Namma, Akhudiat, Herry Lamongan, Bambang Kempling, Pringgo HR, dan Budi Palopo.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt; Sayang beberapa nama yang seharusnya ikut tampil harus absen, mereka itu: Anas Yusuf dan Beni Setia (Madiun), Samsudin Adlawi (Banyuwangi), R. Giryadi  dan Rusdi Zaki (Sidoarjo), Fahmi Faqih, Ribut Wijoto dan Tan Tjin Siong (Surabaya), Bagus Putu Parto dan Puput Amiranti (Blitar), serta JFX Hoery (Bojonegoro). Namun demikian, ketidakhadiran mereka, tidak mengurangi semaraknya pentas Malsasa 2009 malam itu, karena ada beberapa bintang tamu yang banyak tampil malam itu: Pribadi Agus Santosa (mantan Kepala TBJT), Yudho Herbeno (penyair kawakan Surabaya), Alfiana Latief (guru dari SMAN 3 Ciamis-Jabar), Arieyoko dan Gampang (Bojonegoro), Aan Tjandra Anie Asmara  dan Yanto (Surabaya).&lt;br /&gt; Gaya baca puisinya pun berbeda-beda, Aming yang menghipnotis audiensnya. Sabrot baca datar tapi cukup menarik. Akhudiat, sebelum baca puisi malah berorasi. Kata Diat, ketika zaman sudah tanpa batas, campur bawur informasi yang tiada henti, Aming tetap mengajak baca puisi. Bahkan mungkin, kata Diat, ketika datang seperti zaman seperti Nabi Nuh, semua pulau tenggelam, maka Aming tetap baca puisi. Lantas dengan santainya, Diat membaca dua judul puisinya.&lt;br /&gt; Lain Aming, Diat, dan Sabrot, Widodo Basuki sang penggurit, sebelum baca gurit melantunkan sepenggal tembang Jawa yang berupa doa. AF tampil bacakan puisinya Fahmi Faqih, selain baca dua puisinya sendiri. Sedang penggurit yang lain, Bonari Nabonenar, tidak baca gurit, tetapi malah mengajak rembugan setelah acara pentas Malsasa. Tapi, apa lacur, dia malah menghilang duluan, sedang yang lain masih rembugan.&lt;br /&gt; Tiga penyair asal Lamongan, Bambang Kempling, Herry Lamongan, dan Pringgo HR tampil biasa saja. Kecuali Pringgo agak tampak memberi muatan seni dalam pembacaan puisinya. Kota Blitar, diwakili W. Haryanto baca dua puisinya, dan kota Malang, tampil Tengsoe Tjahjono yang juga dosen Unesa, tampil menarik di depan audiens yang lesehan memenuhi di  pendapa Taman Budaya Jawa Timur itu.&lt;br /&gt; Seperti juga Diat, Budi Palopo, tampil baca puisi dengan mengawali orasi dulu. Bicara soal keris dan semacamnya. Tapi Budi tampil apik dan menarik.&lt;br /&gt; Sungguh pentas Malsasa 2009 ini cukup memuaskan para audiens yang hadir malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengenang Malsasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mau mengenang  Malsasa-Malsasa sebelumnya, maka kita akan mencatat nama-nama pengarang seperti: Hardjono WS, Akhudiat, Tengsoe Tjahjono, Tjahjono Widarmanto, Robin Al-Kautsar, Mh. Zaelani Tammaka, W. Haryanto, S. Yoga, Sirikit Syah, Adi Setijowati, Ida Nurul Chasanah, Debora Indrisoewari, Puput Amiranti, Suhandayana,  Zoya Herawati. L. Machali, HU Mardiluhung,  Tan Tjin Siong, Tubagus Hidayathullah, Surasono Rashar, Poedwianto Arisanto, Sigit Hardadi, Saiful Hadjar, Saiful Bakri,  Arief B. Prasetyo, M. Shoim Anwar, Leres Budi Santosa, Mashuri, Jil Kalaran, Roesdi-Zaki, Redi Panuju,adalah nama-nama yang pernah ikut tampil di Malsasa.&lt;br /&gt;Pada awalnya Malsasa hanya melibatkan penyair  saja, lantas pada perkembangannya Malsasa juga melibatkan penggurit, bahkan juga cerpenis dalam buku Malsasa tersebut. &lt;br /&gt;Sedangkan pada gelaran pentas Malsasa 2009,  melibatkan 26 penulis sastra (pernyair dan penggurit) yang akan tampil akhir tahun 2009, di Taman Budaya Jatim. Nama-nama  yang akan tampil adalah: AF Tuasikal, Akhudiat, Anas Yusuf, Aming Aminoedhin, Bagus Putu Parto, Bambang Kempling, Bonari Nabonenar, Budi Palopo, Beni Setia, Fahmi Faqih, Hardho Sayoko SPB, Herry Lamongan, J.F.X. Hoery,  Kusprihyanto Namma,  Tan Tjin Siong, Tengsoe Tjahjono, Rusdi Zaki, Ribut Wijoto, R. Giryadi, Sabrot D. Malioboro, Samsudin Adlawi, Suharmono Kasijun, Pringgo HR, Puput Amiranti, W. Haryanto, dan Widodo Basuki. &lt;br /&gt; Harapan pentas Malsasa ini adalah menjawab atas kurang adanya aktivitas sastra berlevel Jawa Timur pada tahun ini, dan sekaligus menumbuhkembangkan kembali pentas sastra di depan masyarakatnya. Karena sastra, tanpa sosialisasi secara pentas sastra semacam ini, kurang ada gaungnya. Meski saya sadar, bahwa tidak selamanya karena sosialisasi pentas sastra, mesti berhasil. Mesti bergaung! Tidak! Tidak selamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kegiatan ini juga diharapkan memicu kreativitas dan aktivitas penyair-penyair muda lainnya untuk juga tampil, dan sekaligus membuat kegiatan semacam Malsasa di waktu lainnya. Artinya, bahwa penyair muda Jawa Timur, haruslah juga mempunyai greget bersastra melebihi penyiar-penyair terdahulu. Semoga!&lt;br /&gt; Kembali ke awal tulisan,  yang mempertanyakan kebesaran pentas Malsasa 2009.  Angka sembilan merupakan angka terbesar nilainya, dibandingkan angka delapan, tujuh dan seterusnya. Tapi adakah angka sembilan pada pesta Malam Sastra Surabaya 2009 tahun ini benar-benar akan yang terbesar dalam perhelatannya? &lt;br /&gt; Jawabnya, memang selama Malsasa digelar dari waktu ke waktu, Malsasa ke-9 ini memang yang paling meriah. Selain banyak bintang tamu hadir dan tampil, juga ada tampilan "Sanggar Alang-Alang" yang tampil menawan. Sanggar Alang-alang pimpinan Didiet Hape, menyumbangkan seni pertunjukan angklung Jawa Timuran yang tampil apik dan menarik, bahkan menyemarakkan malam sastra kian mempesona. Lepas tampilan malam itu, komunitas ini, langsung ke Denpasar – Bali, untuk tampil pada malam tahun baruan di pulau Dewata. &lt;br /&gt; Apakah Malsasa kesepuluh nanti masih bisa digelar kembali? Apakah angka sepuluh seampuh angkanya? Wallahu alam bissawab!&lt;br /&gt; Tinggal apakah kita semua bisa tetap bersinergi untuk urunan kembali menggelar Malsasa tahun 2010 dengan suka cita. Mari! Mari bersinergi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;** Desaku Canggu,  Penghujung Desember nan  Basah 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-1131258135429385437?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/1131258135429385437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=1131258135429385437&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1131258135429385437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1131258135429385437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2010/01/malsasa-2009-sukses-pentas.html' title='malsasa 2009 sukses pentas'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-5803427516171258243</id><published>2009-12-09T09:15:00.005+07:00</published><updated>2009-12-09T10:19:51.301+07:00</updated><title type='text'>MENGGELAR MALSASA 2009</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MALSASA 2009 MAU DIGELARPENTASKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang akan tampil baca puisi dan guriit adalah: &lt;style="font-weight:bold;"&gt;AF Tuasikal&lt;/span&gt; dengan puisi: Suara Liar Terdengar, Seliweran Kata, Selepas Kata; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhudiat&lt;/span&gt; yang biasa dipanggil nama bekennya Cak Diat, akan baca: Keindahan Ada Di Mana-mana, Takziah Bagi Pornografer dan Rindu Padamu. Sementara penggagas Malsasa, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aming Aminoedhin&lt;/span&gt; akan tampil membaca:  Surabaya Kian Melaju Maju,  Di Atas Bus Surabaya-Malang, dan  Kereta Hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair asal Madiun, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anas Yusuf&lt;/span&gt; juga akan ikut tampil baca sajaknya bertajuk:  Aku Hanya Ingin Mendengarkan Sungai,  Pelarianku Menuju Hutan,  Lanskap Senja Penyair. Sedangkan penyair yang se-kota dengan Anas Yusuf, berasal dari Caruban, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beni Setia&lt;/span&gt;, akan membaca puisi:  Cempaka,  Melati dan Cendana,  Surga Edisi Harian, The Oldman’s Blues.  Penyair yang kini jadi juragan roti, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagus Putu Parto&lt;/span&gt;, menulis dan bacakan:  Bung Karno-Bung Hatta, Kirim Kami Somasi!, Sajak Anak Negeri Tentang Proklamasi, dan i Manakah Kau Indonesiaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan penyair asal Lamongan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bambang Kempling&lt;/span&gt;, tampil dengan:  Bertandang Kepada Angin,  Pada Yang Tak Bernama,  Kesunyian Mengantarmu. Sementara dedengkotnya Kostela Lamongan, &lt;span Style="font-weight:bold;"&gt;Herry Lamongan &lt;/span&gt;malah mengirimkan guritnya yang bertajuk:  Sigeg Ing Bumi,  Winih Katresnan,  Mendhung Klawu Ing Kendal Kemlagi. Penggurit &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bonari Nabonenar&lt;/span&gt;, membacakan guritnya:  Sajroning Sepi,  Peteng,  Sang Andon Laku; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Widodo Basuki&lt;/span&gt;, penggurit yang pernah dapat Rancage akan bacakan:  Kucing Ireng Lan Lakon SenopatI,  Ritus Kelairan,  Sangkan.  Seorang dedengkot PPSJS (karena lama jadi Ketua PPSJS) penggurit &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Suharmono Kasijun &lt;/span&gt;akan membacakan:  Ing Desa Ora Ana Apa-Apa,  Ing Sendratari Ramayana. Penggurit asal Bojonegoro, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;J.F.X. Hoery&lt;/span&gt; baca guritnya:  Kukuben Kabeh Kang Sumawur,  Dhuh Gusti Punapa Karsa Paduka,  Nalika Srengenge Ambyar Ing Plataran. Penyair dan sekaligus penggurit &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Budi Palopo &lt;/span&gt;akan membacakan: Kutabuh Rebana,  Gurit Manohara,  Senyum Sang Jenderal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi Faqih,&lt;/span&gt; seorang penyair yang malang-melintang Surabaya-Bandung, dan terkadang Jakarta, serta Banjarmasin ini, akan membaca puisinya: Malmo, dan Perempuan Yang Menunggu,  Surat Tak Bertanggal,  Aku Tak Percaya. Dua orang penyair asal kota sepi Ngawi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hardho Sayoko SPB&lt;/span&gt; akan baca    Menjelang Fajar Penghabisan,  Setelah Hingar Tinggal Sisa Gema,  Sepanjang Pinggiran Hutan Jati, dan temannya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kusprihyanto Namma,&lt;/span&gt; akan membacakan:  Suatu Siang,  Untuk Hanifa Pandanarum,  Catatan Tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pringgo HR&lt;/span&gt;, penyair yang guru di Lamongan, akan membacakan:  Sajak Ulang Tahun,  Malam Depan Kalimas Hotel,  Mengkhianati Siang. Begitu pula penyair guru, dan satu-satunya penyair perempuan yang tampil di Malsasa 2009, adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Puput Amiranti &lt;/span&gt;akan bacakan:&lt;br /&gt; Mustikawati, Another Day In Paradise, Mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang wartawan, dan bergiat pula di dunia teater, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;R. Giryadi,&lt;/span&gt; akan ikut tampil baca:  Hari Ini Aku Mengembara,  Sajak Bisu Buat Ibu, dan  Bluto. Sedang penyair yang juga wartawan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ribut Wijoto&lt;/span&gt; bacakan:  Harga Beras,  Cicak, dan  Kenangan Yang Dilumuri Matahari. Begitu pula, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Samsudin Adlawi&lt;/span&gt;, wartawan Banyuwangi ini, akan bacakan:  Rumah Sepi,  Pemakaman Botol-Botol,  Awan Hitam.&lt;br /&gt;Penyair lain yang akan tampil, adalah dari Bengkel Muda Surabaya (BMS) Sabrot dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rusdi Zaki.&lt;/span&gt; Dosen yang penyair ini, Rusdi Zaki akan bacakan:  Kemerdekaan Adalah, Waspadalah, Manyar Kertoarjo. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sabrot D. Malioboro&lt;/span&gt;-nya akan bacakan:  Ibu Tanpa Potret,  Bulan Berlayar, Tembaga.  Penyair yang cerpenis juga, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tan Tjin Siong&lt;/span&gt; akan bacakan puisinya berjudul:    Kerinduan I, Kerinduan II, Tentang Lagu-Mu. Sedangkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tengsoe Tjahjono&lt;/span&gt;, akan baca puisi:  Sebatang Rokok, Tak Ada Yang Menakdirkanmu Jadi Tikus,  Bukit.&lt;br /&gt;Lelaki yang kebetulan istrinya ikut pula Malsasa 2009 ini adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;W. Haryanto&lt;/span&gt;, akan bacakan: Keputran 2020, Masjid Dekat Tikungan, Acil+Chusnul=Segitiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar pentas Malsasa 2009, akan dijadwalkan melibatkan 26 penulis sastra (pernyair dan penggurit) yang akan tampil (Insya Allah 17 Desember 2009, di Taman Budaya Jatim),  jika tidak ada perubahan jadwalnya.  Nama-nama  yang akan tampil adalah: AF Tuasikal, Akhudiat, Anas Yusuf, Aming Aminoedhin, Bagus Putu Parto, Bambang Kempling, Bonari Nabonenar, Budi Palopo, Beni Setia, Fahmi Faqih, Hardho Sayoko SPB, Herry Lamongan, J.F.X. Hoery,  Kusprihyanto Namma,  Tan Tjin Siong, Tengsoe Tjahjono, Rusdi Zaki, Ribut Wijoto, R. Giryadi, Sabrot D. Malioboro, Samsudin Adlawi, Suharmono Kasijun, Pringgo HR, Puput Amiranti, W. Haryanto, dan Widodo Basuki. &lt;br /&gt; Gelar pentas Malsasa ini adalah menjawab atas kurang adanya aktivitas sastra berlevel Jawa Timur pada tahun ini, dan sekaligus menumbuhkembangkan kembali pentas sastra di depan masyarakatnya. Karena sastra, tanpa sosialisasi secara pentas sastra semacam ini, kurang ada gaungnya. Meski saya sadar, bahwa tidak selamanya karena sosialisasi pentas sastra, mesti berhasil. Mesti bergaung! Tidak! Tidak selamanya!&lt;br /&gt;Mengakhiri tulisan esai pendek ini, ijinkan saya mengutip potongan akhir puisi berjudul &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keindahan Ada di Mana-mana&lt;/span&gt; karya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akhudiat&lt;/span&gt;, yang termuat di Malsasa 2009 halaman 6, yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.............................................&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bersama kita buka majelis puisi ini&lt;br /&gt;Selamat menikmati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bermalam sastra Surabaya bagi penikmat sastra Surabaya dan Jawa Timur, serta kawan-kawan yang ikut berpesta Malsasa 2009!@ @*** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Desaku Canggu,  Desember Rain 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-5803427516171258243?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/5803427516171258243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=5803427516171258243&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5803427516171258243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5803427516171258243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/12/malsasa-mau-digelarpentaskan.html' title='MENGGELAR MALSASA 2009'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-4964951076453635190</id><published>2009-11-12T11:41:00.003+07:00</published><updated>2009-11-12T12:13:49.076+07:00</updated><title type='text'>SEMINAR  SASTRA BOJONEGORO</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;seminar sehari pengajaran bahasa dan sastra indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DI MGMP BI BOJONEGORO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis dan membaca sastra (khususnya: puisi) tidak mudah, maka Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia se-Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Seminar Sehari Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bertempat di aula SMAN 3 Bojonegoro, acara itu digelar, dengan menghadirkan Aming Aminoedhin (penyair) dan Tjahjono Widarmanto (Guru SMAN 2 Ngawi, sekaligus praktisi sastra).&lt;br /&gt;Acara yang diketuai oleh Gus Jalil (Guru SMAN 1 Bojonegoro)itu, berlangsung Sabtu, 7 November 2009, diikuti sekitar 85-an peserta; yang terdiri dari guru dan mahasiswa yang peduli akan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;Menarik pula untuk dicatat, bahwa acara itu dihadiri oleh Bupati Bojonegoro, dan bahkan ikut membaca puisi. Bupati yang peduli semacam ini, memang jarang terjadi, tapi masyarakat kabupaten Bojonegoro, bolehlah berbangga hati. Karena Bupati masih peduli dengan seni, dan bahkan bahasa dan sastra, yang kebanyakan orang (baca: pejabat) tidak mau peduli.&lt;br /&gt;Selain seminar yang saat diskusinya cukup hangatdengan ditandai peserta antusias bertanya soal sastra tersebut, acaranya diawali dengan pemberian hadiah kepada para siswa pemenang lomba baca cerpen dan menulis esai bagi siswa se Kabupaten Bojonegoro. Lomba-lomba tersebut dilangsungkan beberapa hari sebelumnya oleh MGMP BI Bojonegoro, kerja sama dengan wartawan, dan sponsorship. &lt;br /&gt;Tradisi lomba menulis dan baca cerpen tersebut adalah cukup membanggakan, dan seharusnya diselenggarakan secara kontinyu, agar para siswa akan lebih cerdas dan punya banyak wawasan kreatif. Setidaknya, MGMP BI Bojonegoro dalam rangka &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bulan Bahasa 2009&lt;/span&gt; telah melangkah berbuat yang terbaik bagi negerinya Bojonegoro. Semoga upaya kreatif, kompetitif, dan positif ini akan terus bisa berlangsung setiap tahun. Semoga!&lt;br /&gt;Kegiatan seminar sehari yang mendatangkan praktisi sastra, semacam kedatangan Aming Aminoedhin dan Tjahjono Widarmanto (penyair) akan menambah wawasan lebih banyak bagi para guru dalam pengajaran sastra di sekolah. &lt;br /&gt;Membaca dan menulis puisi memang tidak mudah, tapi upaya mendatangkan penyair (praktisi sastra) berbicara di depan para guru dalam seminar itu, setidaknya bisa menjawabnya. Meski tidak semuanya akan bisa terjawab semua. Selamat dan sukses MGMP BI Bojonegoro! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(mat).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-4964951076453635190?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/4964951076453635190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=4964951076453635190&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4964951076453635190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4964951076453635190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/11/seminar-sastra-bojonegoro.html' title='SEMINAR  SASTRA BOJONEGORO'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-3584177680748768814</id><published>2009-11-02T14:02:00.003+07:00</published><updated>2009-11-02T14:33:01.623+07:00</updated><title type='text'>LAMONGAN ART</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AHAD, WE DAN AMING BACA PUISI DI LAMONGAN ART&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu dan Minggu, 31 Oktober dan 1 November 2009, di markasnya Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Jalan Lamongrejo (Timur Aloon-aloon Kota)Lamongan,  telah digelar acara dialog sastra. Hari Sabtunya, ada tampil Tengsoe Tjahjono, IndraTjahyadi, dan Mashuri; berdialog dengan masyarakat sastra, dan para guru-guru Bahasa Indonesia. Sedangkan hari Ahadnya, 1 November 2009, tampil baca puisi Aming Aminoedhin dan W. Haryanto. Selepas acara baca-baca puisi (termasuk Cak Sonhaji, ketua DKL; Herry Lamongan, biro sastranya, dan Javed, sastrawan muda Lamongan)dilanjutkan dengan dialog sastra yang ada di Jawa Timur. Puisi-puisi yang dibacakan adalah dari antologi puisi yang berjudul "Kidung Tanjung" terbitan DKL 2009, memuat sejumlah puisi karya para penyair: W. Haryanto, Aming Aminoedhin, Tengsoe Tjahjono, Kusprihyanto Namma, Indra Tjahyadi, dan Mashuri. Pengantar buku 'Kidung Tanjung' yang ditulis Herry Lamongan, sebagai biro sastra, mengatakan, "Kehadiran seniman tamu dalam hal ini (Lamongan Art) diharapkan akan memacu kreativitas dan semangat berkarya para seniman Lamongan."&lt;br /&gt;Dalam dialog sastra siang itu, dibicarakan pula soal bagaimana menulis puisi bagi pemula, bagaimana sastra mengangkat budaya lokal, apa saja yang harus dikembangtumbuhkan dalam belajar menulis sastra puisi. Lantas ada pula yang bicara soal sastra yang penulisnya menipu diri. Artinya, menulis puisi tanpa kejujuran hati kejujuran nurani. Padahal kejujuran nurani dan hati dalam menulis puisi adalah kunci!&lt;br /&gt;Tampak hadir beberapa sastrawan dan pelukis muda Lamongan pada acara dialog sastra siang itu. Tampak juga penyair: Pringgo HR, Bambang Kempling, dan Dosen Sutardi; serta beberapa rekan dari Kostela.&lt;br /&gt;Selain tampilan sastra, ada juga pameran lukisan yang bertajuk "Estetika Pelangi" yang diikuti 23 pelukis Lamongan. Pameran seni rupa ini digelar di Tribun Aloon-aloon Kota Lamongan dari 29 Oktober hingga 1 November 2009.&lt;br /&gt;Sungguh suatu aktivitas seni yang perlu diacungi jempol tinggi-tinggi, lantaran &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lamongan Art&lt;/span&gt; telah digelar beberapa kali, secara kontinyu setiap tahun sekali. Sukses buat teman seniman Lamongan. Sukses akan selalu mengiringi! Semoga! (mat)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-3584177680748768814?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/3584177680748768814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=3584177680748768814&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/3584177680748768814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/3584177680748768814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/11/lamongan-art.html' title='LAMONGAN ART'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-5190392459177501286</id><published>2009-10-19T10:02:00.003+07:00</published><updated>2009-10-19T10:43:39.425+07:00</updated><title type='text'>TEMU SASTRA JATIM</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;temu sastra jatim 2009&lt;br /&gt;di kantor budpar jatim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selama dua hari, 13-14 oktober 2009 lalu, ada 'temu sastra jatim' di kantor kebudayaan dan pariwisata jawa timur, jalan menanggal, surabaya. ada 15 penyair tampil baca puisi, di antaranya: af tuasikal, aming aminoedhin, w. haryanto, tengsoe tjahjono, tjahjono widarmanto, s. yoga, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;sebagai pembicara tampil: beni setia (caruban, madiun), dan tjahjono widijanto (ngawi) membahas perkembangan kepenyairan jawa timur.&lt;br /&gt;selain 15 penyair tampil dan 2 pembahas bicara, diundang pula beberapa penyair dan pemerhati sastra dari seluruh jawa timur. kegiatan temu sastra ini adalah yang keempat, dan akan diagendakan setiap tahun diselenggarakan, demikian kata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bagus purnomo&lt;/span&gt;,kabid seni dan perfilman dinas kebudayaan pariwisata jatim, dalam sambutan pembukaannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;r. giryadi&lt;/span&gt;, sebagai pemrakarsa kegiatan ini, meyakinkan akan ada penilaian buku sastra pada tahun mendatang, pada acara yang sama. demikian dikatakan giryadi, saat menutup acara. maka perlu kiranya, penyair kini membuat buku kumpulan puisi, tandasnya!(mat).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-5190392459177501286?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/5190392459177501286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=5190392459177501286&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5190392459177501286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5190392459177501286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/10/temu-sastra-jatim.html' title='TEMU SASTRA JATIM'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-7836375068231183025</id><published>2009-10-06T14:45:00.002+07:00</published><updated>2009-10-06T15:15:23.610+07:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN NEGERI PORSENI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEMBANGUN NEGERI PORSENI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;karya : aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari pagi ini begitu indah di timur memerah&lt;br /&gt;Seindah wajah kita akan bertempur&lt;br /&gt;Menorehkan catatan sejarah&lt;br /&gt;Pada sepekan di negeri porseni Jawa Timur ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Jawa Timur negeri nan makmur&lt;br /&gt;Para siswanya pandai berolah raga&lt;br /&gt;Pandai pula mengolah komposisi artistik seni&lt;br /&gt;Untuk diadu, digelar dalam ajang negeri porseni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri porseni adalah negeri kibar bendera&lt;br /&gt;Berwarna-warni indah di mata indah di hati&lt;br /&gt;Negeri porseni adalah ajang saling tantang di gelanggang&lt;br /&gt;Negeri suara-suara genderang berdentang&lt;br /&gt;Negeri porseni adalah negeri menantang&lt;br /&gt;Siapa unggul akan jadi pemenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi negeri porseni tidak hanya itu, saudaraku&lt;br /&gt;Porseni juga ajang bersahabat, ajang saling berjabat&lt;br /&gt;Mengakui keunggulan lawan tanpa menggerutu&lt;br /&gt;Men sana in corpore sano&lt;br /&gt;Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja meremang, mentari akan tenggelam&lt;br /&gt;Indah sinar-merahnya adalah sugesti bagi kita&lt;br /&gt;Dengan membangun negeri porseni kami semua &lt;br /&gt;Berucap terima kasih kepada Bapak Rasiyo&lt;br /&gt;Terima kasih pula kepada Bapak Imam Utomo&lt;br /&gt;Jayalah porseniku&lt;br /&gt;Jayalah Jawa Timurku&lt;br /&gt;Jayalah negeriku, Indonesia tercinta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Surabaya, 23 Juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Instruktur: Fauzi, praktisi teater (Guru Bahasa Indonesia SMAN 6 Surabaya. Penulis Puisi: Aming Aminoedhin, penyair (Balai Bahasa Surabaya.&lt;br /&gt;Peserta Musikalisasi Puisi: Para siswa SMPN 1, 3 dan 4,  SMAN 5,  serta SMP Stanislause Surabaya; sekitar 30-an peserta dan 7 pemusik. Puisi tampil di pembukaan PORSENI SLTP JATIM 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-7836375068231183025?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/7836375068231183025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=7836375068231183025&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/7836375068231183025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/7836375068231183025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/10/membangun-negeri-porseni.html' title='MEMBANGUN NEGERI PORSENI'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-5661950960918561744</id><published>2009-09-27T21:52:00.010+07:00</published><updated>2009-10-06T15:12:34.298+07:00</updated><title type='text'>MENGEJAR PRESTASI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENGEJAR PRESTASI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;karya: aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah melaju maju&lt;br /&gt;Lari seribu mengejar mimpimu&lt;br /&gt;Berdetak langkah melompat harap&lt;br /&gt;Berderap lari meraih tercepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan Olahraga Jawa Timur&lt;br /&gt;Wadah bersahabat, ajang saling berjabat&lt;br /&gt;Akui keunggulan lawan tanpa menggerutu&lt;br /&gt;Akui kekalahan jika lawan lebih bermutu&lt;br /&gt;Men sana in corpore sano&lt;br /&gt;Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa nan kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan Olahraga Jawa Timur&lt;br /&gt;Ajang gelorakan olahraga bagi masyarakat&lt;br /&gt;Ajang gelorakan masyarakat berolahraga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan Olahraga Jawa Timur&lt;br /&gt;Ajang saling tantang di gelanggang&lt;br /&gt;Bersama suara-suara genderang berdentang&lt;br /&gt;Bersama kibar bendera warna-warni melayang-layang &lt;br /&gt;Siapa unggul pasti jadi bintang&lt;br /&gt;Siapa juara pasti jadi pemenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan Olahraga Jawa Timur&lt;br /&gt;Ajang mengukir prestasi daerahnya sendiri&lt;br /&gt;Ajang mengukur sportivitas dengan kualitas&lt;br /&gt;Ajang mengakar persahabatan antar-sesama&lt;br /&gt;Ajang mempersatukan masyarakat kita&lt;br /&gt;Masyarakat Jawa Timur nan makmur ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah melaju maju&lt;br /&gt;Lari seribu mengejar mimpimu&lt;br /&gt;Berdetak langkah melompat harap&lt;br /&gt;Berderap lari meraih tercepat&lt;br /&gt;Menjemput prestasimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lari mengejar mimpi!&lt;br /&gt;Mari kita lari mengejar prestasi!&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mojokerto, 7/9/2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan&lt;/span&gt;: &lt;br /&gt;puisi ini dibacakan pada pembukaan PORPROV JATIM II di GOR KEN AROK MALANG 5 Oktober 2009, yang dimainkan dalam bentuk "Teaterikalisasi Puisi" dengan 47 penari, 5 pembaca puisi, dan 10 pemusik. Penulis puisi: Aming Aminoedhin, Sutradara: Anang Hanani, Guru Pendamping: Drs. Fauzi (SMAN 6 Surabaya). Penata tari: Tetra Yogiarta, Pemusik: Pambuko Kristian, Pembaca puisi: Lela Latifah, Faris, Ganda, Helen Novitri, dan Aditya. Penari antara lain: Firdha, Intan, Karina Amelia, Fransisca, Mitra, Audya Aanda, Rezza, Yanuar, Rizka DA, Dyah. Inge, Astrid dan banyak lagi.&lt;br /&gt;Tampilan mereka cukup mengesankan para peserta dan hadirin, utamanya: MenPORA Adhyaksa Dault,  Ketua KONI Jatim Imam Utomo, dan Gubernur Jatim Pakde Karwo.&lt;br /&gt;Tampilan mereka didanapanitiai oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.&lt;br /&gt;Acara ini ditayangkan langsung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(on-air)&lt;/span&gt; via JTV-Rek dan TVRI Surabaya.(mat).***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-5661950960918561744?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/5661950960918561744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=5661950960918561744&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5661950960918561744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5661950960918561744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/09/kari-mengejar-mimpi.html' title='MENGEJAR PRESTASI'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8326124554047078148</id><published>2009-09-27T21:27:00.002+07:00</published><updated>2009-09-27T21:49:30.192+07:00</updated><title type='text'>Baca Puisi di Ngawi &amp; Reuni Yani Gama</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BACA PUISI DI NGAWI DAN REUNI YANI GAMA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lebaran tahun ini, tepatnya tanggal 20 September 2009, seperti biasa Aming Aminoedhin pulang kampung di kotanya nan indah, Ngawi. Ada yang menarik pada lebaran tahun ini, masjid agungnya (yang dirobohkan itu) kini telah berdiri. Begitu gagah begitu indah.&lt;br /&gt;Peristiwa lain yang tak kalah menariknya, adalah adanya acara "Penyair Baca Puisi dan Diskusi Sastra" di rumah seni 'Mh. Iskan' jalan Trunojoyo 90 Ngawi. Ada banyak kawan bertemu di acara ini: Hardho Sayoko SPB, Kuspriyanto Namma dan seabreg muridnya teater 'Magnit' itu, Mh. Iskan, dan tentunya Aming Aminoedhin. Acara ini digelar 22 September2009, dua hari setelah idul fitri. Selepas Isya hingga sekitar pukul 22.00.WIB. Sebenarnya banyak yang diundang, tapi sayang tak bisa datang. Beni Setia, Anas Yusuf (Madiun), Arim Kamandoko dan Tedjo (Ponorogo) semua pesan via SMS tak bisa hadir.&lt;br /&gt;Selepas acara Penyair Baca Puisi, saya lantas mendatangi acara 'Reuni Yani Gama' yang lebih dikenal Komunitas Ahmad Yani Tiga Lima (padahal sekarang namanya Jalan Yos Sudarso) bertempat di rumahnya Kanang (Wakil Bupati Ngawi) Jalan Hasanudin Ngawi.&lt;br /&gt;Beberapa kawan lama tampak datang pada reuni ini. Dari angkatan zaman gak enak sampai angkatan wis rada-rada enak, dan zaman enak. Beberapa nama itu: Puguh Kadaryono, Kawit, Dirman Para, Remick 'Darsono' Atmadja, Kasan, Nggayot, Karno Leak, &lt;br /&gt;Kodho, John, Pudjonya Gandik, Katir, Bintang, Singkek, Abimanyu, dan sebreg kawan yang lain. Ada dua wanita wanita cantik yang hadir: Heni dan istrinya Kanang. Sedang nama-nama yang lain saya lupa.&lt;br /&gt;Acara diisi dengan menyanyi dan menyanyi, di samping ngekek-ngekek mengenang masa lalu yang katanya indah itu. Acara rampung sekitar pukul 01.00. WIB. Lantas dilanjut ngopi di Alun-alun Ngawi, hingga pukul 03.00. dinihari.&lt;br /&gt;Reuni &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yani Gama&lt;/span&gt; kali ini cukup menggembirakan, tapi banyak kawan yang tak juga hadir, seperti: Rochadi dan Titisnya, Anung, Anang, Nunun, dan entah siapa lagi!&lt;br /&gt;Aduh nikmatnya, cerita kota Ngawi dengan segala keindahan dan kenangannya. Kapan reuni lagi? Aku tunggu kontaksnya! (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;aming aminoedhin&lt;/span&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8326124554047078148?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8326124554047078148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8326124554047078148&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8326124554047078148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8326124554047078148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/09/baca-puisi-di-ngawi-reuni-yani-gama.html' title='Baca Puisi di Ngawi &amp; Reuni Yani Gama'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-2113266596681943213</id><published>2009-08-13T14:10:00.002+07:00</published><updated>2009-08-13T14:30:06.299+07:00</updated><title type='text'>PENGAJARAN SASTRA DI SEKOLAH</title><content type='html'>pengajaran sastra di sekolah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DIKLAT BACA DAN TULIS PUISI BAGI GURU SD DI KEDIRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu, 8 Agustus 2009 lalu, bertempat di aula Balai Pendidikan Kecamatan Mojoroto, Jalan Jaksa Agung Suprapto Kediri, telah diselenggarakan kegiatan Diklat Pengajaran Sastra di Sekolah. Ada sekitar 70-an guru-guru SD se-Kota Kediri mengikuti diklat ini dengan serius.&lt;br /&gt;Kegiatan ini digelar atas prakarsa Forum Karya Pendidikan (FKP) Kota Kediri yang dimotori oleh Suhartini, Kepala SDN Singonegaran 2 Kota Kediri. Dalam laporan sambutannya, bahwa kegiatan ini didanai sendiri oleh para peserta, dengan semangat agar mendapatkan pengetahuan tentang pengajaran sastra tersebut. Lebih lanjut, Hartini, juga mengatakan bahwa kegiatan ini diharapkan bisa merangsang kegiatan lain, serta ada tindaklanjutnya. Seperti misalnya, pertemuan berkala atau mengadakan semacam lomba baca puisi bagi para guru-guru di kota Kediri.&lt;br /&gt;Satu-satunya narasumber yang tampil adalah Aming Aminoedhin, presiden penyair Jatim, yang memberikan ceramahnya secara santai dan spontan. Respons dari para guru yang ikut diklat ini sangat positif, terbukti banyak yang ikut tampil latihan baca dan tulis puisi. Bahkan mereka sangat antusias bertanya soal puisi dan baca puisi.&lt;br /&gt;Pada awalnya, banyak guru yang malu-malu untuk maju membaca puisinya, tapi setelah beberapa kawan guru sudah tampil, mereka dengan yakinnya membacakan puisinya.&lt;br /&gt;Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Bidang Pendidikan TK/SD, Dinas Pendidikan Kota Kediri. Dalam sambutannya, Kabid Pendidikan TK/SD, menyambut positif atas prakarsa kegiatan ini. Bahkan anggaran tahun depan, FKP akan dibantu soal pendanaan kegiatannya. Semoga!&lt;br /&gt;Acara yang diselenggarakan dengan swadana ini, ternyata cukup sukses, dan mendapat respons positif dari para guru yang hadir dan ikut tampil baca puisi. ****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-2113266596681943213?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/2113266596681943213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=2113266596681943213&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2113266596681943213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2113266596681943213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/08/pengajaran-sastra-di-sekolah.html' title='PENGAJARAN SASTRA DI SEKOLAH'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8873515161161077315</id><published>2009-07-29T10:25:00.002+07:00</published><updated>2009-08-20T08:22:35.251+07:00</updated><title type='text'>SWARGA ORA BISA DITUKU</title><content type='html'>aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SWARGA ORA BISA DITUKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;dina-dina sing mlaku kaya-kaya mburu awakmu&lt;br /&gt;ana polah kang salah kaprah tanpa arah&lt;br /&gt;dina-dina mburi iki kaya langit werna peteng&lt;br /&gt;ireng njanges kaya langese senthir&lt;br /&gt;peteng ndhedhet ana telenge atimu&lt;br /&gt;ati-ati nek kena lara kenthir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ana panah kang wus kok uculake&lt;br /&gt;saka gandewane, mlayu tanpa arah&lt;br /&gt;apa bisa kabeneran iku kok bengkokake&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;urip mono mung sakderma mampir ngombe&lt;br /&gt;ora susah gawe laraning liyan, apa maneh&lt;br /&gt;rumangsa menang dhewe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dina-dina mlaku katon mlayu nguber awakmu&lt;br /&gt;ana jam kaya ora mlaku. atimu kaya beku&lt;br /&gt;ora ana swarga kang bisa dibayar karo dhuwitmu&lt;br /&gt;swarga mono ora bisa dituku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siwalanpanji, 28/7/2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8873515161161077315?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8873515161161077315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8873515161161077315&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8873515161161077315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8873515161161077315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/07/swarga-ora-bisa-dituku.html' title='SWARGA ORA BISA DITUKU'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-9154738958369652743</id><published>2009-06-22T11:28:00.003+07:00</published><updated>2009-06-22T11:37:18.090+07:00</updated><title type='text'>BACA PUISI HAUL BK 39</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AMING AMINOEDHIN BACA PUISI HAUL BK&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Sabtu, 19 Juni 2009 lalu. Bertempat di amphitheatre kompleks makam Bung Karno, Blitar; telah diselenggarakan kegiatan "Haul Bung Karno ke-39". Beberapa seniman dan pejabat, serta rakyat berbaur jadi satu memperingati haul tersebut.&lt;br /&gt;Komunitas tari, teater, seniman, penyair, dan pejabat Bupati dan Walikota, tumpleg- bleg ada di sana. Mereka menyanyikan lagu, menari, musikalisasi puisi, membaca puisi.&lt;br /&gt;Ada Bupati Blitar baca puisi, ada Walikota Blitar baca puisi, dan ada juga penyair yang tampil baca puisi.&lt;br /&gt;Bintang tamu, adalah Aming Aminoedhin, presiden penyair Jawa Timur, yang ikut membacakan puisinya berjudul "Membaca Indonesia Saat Ini" dan "Surabaya Ajari Aku Tentang Benar".&lt;br /&gt;Acara yang bertajuk "Haul Bung Karno ke-39" ini, pada hari keduanya juga ada pembacaan doa-doa bagi sang proklamator. (amg)***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-9154738958369652743?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/9154738958369652743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=9154738958369652743&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/9154738958369652743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/9154738958369652743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/06/baca-puisi-haul-bk-39.html' title='BACA PUISI HAUL BK 39'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-7615098257682506709</id><published>2009-06-17T14:52:00.001+07:00</published><updated>2009-06-17T14:54:44.434+07:00</updated><title type='text'>MENULIS PUISI LAGI</title><content type='html'>aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RAHASIA TUHAN &lt;br /&gt;MEMANG TAK TERTEBAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*af&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah kau asah pedang kesabaran itu&lt;br /&gt;janji yang direndahkan akan berbalik&lt;br /&gt;diangkat tinggi, terasa lama nian ditunggu&lt;br /&gt;hidup memang terasa jungkir balik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rahasia Tuhan memang tak tertebak&lt;br /&gt;ada apa di balik waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau harus kian rajin mengasah tajamnya pedang&lt;br /&gt;kesabaran, karena bisa menusuk kehidupan&lt;br /&gt;kian tampak benderang di depan, bagai&lt;br /&gt;bianglala penuh warna, bagai bebintang&lt;br /&gt;di langit bertaburan gemerlapan&lt;br /&gt;indah menawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bacalah buku apa saja, jadikan kitab suci&lt;br /&gt;agar kau kian sadar akan arti hidup ini&lt;br /&gt;tak hanya membaca buku, tapi membaca&lt;br /&gt;cuaca, membaca suasana, dan membaca &lt;br /&gt;manusia di antara kita, kian jumpalitan&lt;br /&gt;tingkah-polah-serakahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rahasia Tuhan memang tak tertebak&lt;br /&gt;ada apa di balik waktu?&lt;br /&gt;barangkali ada doa-doa&lt;br /&gt;selebihnya menunggu janji itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siwalanpanji, 22/4/2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-7615098257682506709?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/7615098257682506709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=7615098257682506709&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/7615098257682506709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/7615098257682506709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/06/menulis-puisi-lagi.html' title='MENULIS PUISI LAGI'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-4487584939157011721</id><published>2009-06-08T11:32:00.002+07:00</published><updated>2009-06-08T11:39:47.876+07:00</updated><title type='text'>MH. ISKAN PENTAS MONOLOG LAGI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DEDENGKOT TEATER PERSADA NGAWI&lt;br /&gt;PENTAS MONOLOG LAGI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Sabtu, 13 Juni 2009, Pukul 19.30. WIB. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sang Maestro Teater Persada Ngawi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mh. Iskan&lt;/span&gt;, akan pentas monolog lagi. Tempatnya di Aula Kantor Depag Kabupaten Ngawi, Jalan Kartini. Tajuk yang dimainkan "Tonggak" ditulis, dimainkan, dan disutradarai sendiri oleh aktor gaek ini. &lt;br /&gt;Mh. Iskan berusia 67 tahun. Yang tua saja mau tetap bermain, yang muda mana tampilannya? Sebuah acara pentas yang sebenarnya menantang para muda yang gemar dan bermain teater, mana garapanmu? Dan Mh. Iskan, lagi-lagi mengajak tetap berkreativitas dalam dunia teater ini. Pentas habis-habisan, bermonolog sendirian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mh. Iskan&lt;/span&gt;, dan Teater Persada Ngawinya pernah memenangkan Lomba Drama se-Jatim tahun 1978 dan 1983. Melahirkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aming aminoedhin&lt;/span&gt;, sebagai aktor terbaik tahun 1983 di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memungkin ada waktu datanglah dan nontoklah pentas ini. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Tonggak"&lt;/span&gt; monolog yang ditulis, dimainkan, dan disutradarai sendiri oleh &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mh. Iskan&lt;/span&gt;. Semoga pentasnya sukses!&lt;br /&gt;(aa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-4487584939157011721?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/4487584939157011721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=4487584939157011721&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4487584939157011721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4487584939157011721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/06/mh-iskan-pentas-monolog-lagi.html' title='MH. ISKAN PENTAS MONOLOG LAGI'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-2770804178970905498</id><published>2009-05-20T11:37:00.001+07:00</published><updated>2009-05-20T11:39:35.524+07:00</updated><title type='text'>BERJAMAAH DI FACEBOOK</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BERJAMAAH DI FACEBOOK&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;karya: aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berjamaah di facebook itu&lt;br /&gt;tanpa ada imam ataupun makmum &lt;br /&gt;semua jadi imam semua jadi makmum&lt;br /&gt;tanpa ada yang jadi jenderal tanpa ada prajurit&lt;br /&gt;sejajar hidup bersama asal punya duit&lt;br /&gt;boleh saling colek, asal tidak meledek&lt;br /&gt;ada norma facebook-iyah sebagai tuntunan&lt;br /&gt;kapan saja, dan di mana saja bolehlah&lt;br /&gt;beribadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berjamaah di facebook itu&lt;br /&gt;memang luar biasa dahsyatnya&lt;br /&gt;menemukan kawan lama tak sua&lt;br /&gt;tiba-tiba muncul tanpa terkira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berjamaah di facebook itu&lt;br /&gt;memang luar biasa dahsyatnya&lt;br /&gt;menyihir manusia jadi lupa waktu&lt;br /&gt;(mungkin lupa segala) tak tentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berjamaah di facebook itu&lt;br /&gt;memang luar biasa dahsyatnya&lt;br /&gt;menyihir manusia jadi lupa waktu&lt;br /&gt;ada adzan maghrib menyeru&lt;br /&gt;tak terdengar, lantaran tersihir&lt;br /&gt;layar kaca ajaib itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Desaku Canggu, 25/3/2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-2770804178970905498?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/2770804178970905498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=2770804178970905498&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2770804178970905498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2770804178970905498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/05/berjamaah-di-facebook.html' title='BERJAMAAH DI FACEBOOK'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-4800022776480019386</id><published>2009-04-29T11:51:00.005+07:00</published><updated>2009-04-29T12:16:24.407+07:00</updated><title type='text'>SMS SELAMAT ATAS JUARA LOMBA MEWARNA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEMUA SENANG AKU JADI JUARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;mira aulia alamanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, tepatnya Sabtu, 25 April 2009, aku Mira Aulia Alamanda, ikut lomba mewarna antarsiswa TK se-Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Cukup menyenangkan acara lomba itu, ada banyak kawanku ikut berbagai jenis lomba yang ada pada acara HAN 2009, dan aku ikut pada jenis lomba mewarnai gambar kartini.&lt;br /&gt;Hari Senin, 27 April 2009, sekolahku upacara. Ibu guruku mengumumkan kemenangan atas kejuaraanku yang nomor satu, pada jenis lomba mewarna itu. Aduh, betapa gembiranya hatiku. Ada rasa tak percaya atas semua. Tapi ternyata benar adanya.&lt;br /&gt;Setelah itu, rasa gembiraku ku-sms-kan kepada semua sanak famili. Dan ternyata mereka ikut gembira atas kejuaraan ini. Beberapa sms itu antara lain berbunyi: Selamat Buat Mira (Om Yus, Pelukis di Yogya), Waduh dapat Hadiah apa ya Dik Mira? Dapat Sepeda Baru Warna Jambon kali ya! (Tante Linda, Surabaya), Wah hebat ya, giat belajar lagi biar jadi pelukis yang handal. Selamat belajar semoga sukses (Pakde Herman-Kapten Kapal di Banjar), Baiklah, dan bersyukurlah (Pakde Fidelis, Atambua-Flores), Waduh huebat, selamat buat Mira. Belajar terus, agar sampai Jakarta (Pakde Anies, Ngawi), Pintar sekali, teruskan prestasimu Mira (Bude Nanuk, Surabaya). Selamat buat Mbak Mira, pengin hadiah apa? (Tante Entiek, SMAN 2 Ngawi), Selamat jadi juara lomba, Mbak Mira (Bulik Ninief ikut gembira, Yogya), Oke, selamat buat Mira. Belajar dan belajarlah terus! (Bude Liliek, Meguwo, Sleman).&lt;br /&gt;Wah....... banyak yang mengucapkan selamat untukku.&lt;br /&gt;Terima kasih kepada semua Pakde-Bude, dan Paklik-Bulikku, atas ucapan dan dorongan untuk terus maju! &lt;br /&gt;Terima kasih guruku yang mengikutkan aku lomba mewarna.&lt;br /&gt;Terima kasih pula Ibu dan Ayahku, yang menungguiku saat lomba itu. &lt;br /&gt;Terima kasih pula ayahku yang membuatkan puisi buatku atas kemenangan itu, yang judul puisinya : Mewarnai Gambar Kartini. Terima kasih semuanya, dan salam cintaku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mira&lt;br /&gt;Desaku Canggu, 29/4/2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan: Puisi "Mewarnai Gambar Kartini" juga termuat di blogger ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-4800022776480019386?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/4800022776480019386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=4800022776480019386&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4800022776480019386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4800022776480019386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/04/sms-selamat-atas-juara-lomba-mewarna.html' title='SMS SELAMAT ATAS JUARA LOMBA MEWARNA'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-5449786110722816417</id><published>2009-04-28T13:17:00.002+07:00</published><updated>2009-05-20T11:36:49.121+07:00</updated><title type='text'>PUISI SANG JUARA</title><content type='html'>aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEWARNAI GAMBAR KARTINI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  * mira aulia alamanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua temanku sekolah telah siap &lt;br /&gt;berangkat kartinian ikut lomba mewarna&lt;br /&gt;bawa krayon dan meja kerja, ada juga &lt;br /&gt;bersiap ikut lomba nyanyi hari anak &lt;br /&gt;dengan hati berdetak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beratus-ratus anak sebaya &lt;br /&gt;berpakaian indah warna-warni &lt;br /&gt;aku ikut gembira melihat ini &lt;br /&gt;kecamatanku maju juga ternyata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari ratusan anak berlomba mewarna &lt;br /&gt;aku ada di antara mereka, duduk &lt;br /&gt;menggoreskan krayon menata warna &lt;br /&gt;merunduk-suntuk bersama-sama &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mewarnai gambar kartini &lt;br /&gt;ada banyak warna dituangkan &lt;br /&gt;kartini jadi ayu di kertas gambar itu &lt;br /&gt;ada gambar pohon menghijau warna&lt;br /&gt;ada juga memberi warna merah jambon &lt;br /&gt;kuning, biru, hijau, ungu, dan merah menyala &lt;br /&gt;bagai gambar bianglala indah di mata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua hari setelah itu, ketika sekolah upacara &lt;br /&gt;aku dipanggil bu guru, mewarnaku&lt;br /&gt;jadi juara satu dalam lomba itu &lt;br /&gt;serasa aku tak percaya kata-kata guruku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mewarnai gambar kartini itu, Tuhan&lt;br /&gt;atas budi baik Ayah-Ibu, dan guru yang mengajarku &lt;br /&gt;setiap waktu, dan mengantarkan diriku&lt;br /&gt;bersyukur atas kebesaran-MU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Desaku Canggu-Jetis, 27/4/2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-5449786110722816417?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/5449786110722816417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=5449786110722816417&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5449786110722816417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/5449786110722816417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/04/puisi-sang-juara.html' title='PUISI SANG JUARA'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-4017333429859810290</id><published>2009-04-14T14:21:00.000+07:00</published><updated>2009-04-14T14:25:52.045+07:00</updated><title type='text'>SELEPAS PEMILU ITU</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;aming aminoedhin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KURSI KUWI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sapa ta sing oyok-oyokan kursi kuwi?&lt;br /&gt;apa wis padha lali, dene mbah kerto&lt;br /&gt;pinter gawe kursi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kursi kang dioyok lan dioyak mono&lt;br /&gt;dudu kursi gaweyane mbah kerto&lt;br /&gt;nanging kursi sing bisa kanggo lungguh&lt;br /&gt;ndadekake uripe kukuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menawa kursine mbah kerto&lt;br /&gt;sembarang dengah wong bisa lungguh&lt;br /&gt;angger gelem mbayar regane&lt;br /&gt;nanging kursi siji kuwi ora sakbaene&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kursi kuwi bisa gawe laline pikir&lt;br /&gt;marang kanca lan sapadha-padha&lt;br /&gt;nanging kursi kuwi bisa uga lingsir&lt;br /&gt;ndadekake wong bisa kenthir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Guritan ini sudah saya tulis 6 tahun lalu, tapi isinya masih saja cocok dibaca siapapun pada saat “Pemilu Telah Berlalu”. Barangkali benar isi guritan atau puisi ini, berebut kursi memang bisa menjadikan seseorang itu jadi “kenthir” alias “gila.” Lantas, apakah kita akan ikut dalam daftar panjang kegilaan ini? Sebuah tanya yang barangkali bisa dijadikan “renungan” selepas pemilu itu berlalu. &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;aming aminoedhin&lt;/span&gt;).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-4017333429859810290?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/4017333429859810290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=4017333429859810290&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4017333429859810290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4017333429859810290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/04/selepas-pemilu-itu.html' title='SELEPAS PEMILU ITU'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8694058217072995987</id><published>2009-04-13T13:43:00.003+07:00</published><updated>2009-04-13T13:51:37.729+07:00</updated><title type='text'>SYAIR LAGU LAWAS SAID EFFENDI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FATWA PUJANGGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh: Said Effendi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kuterima suratmu nan lalu&lt;br /&gt;Penuh sanjungan kata nan merayu&lt;br /&gt;Syair dan pantun tersusun indah sayang&lt;br /&gt;Bagaikan syair fatwa Pujangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kan kusimpan suratmu yang itu&lt;br /&gt;Bak pusaka yang sangat bermutu&lt;br /&gt;Walau kita tak pernah bersua sayang&lt;br /&gt;Cukup sudah tandamu setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang, sayang....sayang.....&lt;br /&gt;Seribu kali sayang........................&lt;br /&gt;Ke manakah risalahku ku alamatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semogalah dik, kau tak putus asa sayang&lt;br /&gt;Pasti kelak kita kan berjumpa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       ditulis kembali: aming aminoedhin&lt;br /&gt;  13  April  2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu lawas ini adalah lagu yang kerap kali diputar oleh Nuim Khaiyath, penyiar Radio Austrlia, siaran Bahasa Indonesia. Nuim kerap memutar pada Hari Sabtu pagi. Bagi penggemar dan pendengar setia Radio Australia siarannya Nuim, pasti ingat akan lagu yang kerap kali diputar ini. Selain lagu Fatwa Pujangga, dia juga sering memutar lagu lawas lainnya, seperti: Bunga Seroja, Jembatan Merah, Bengawan Solo, dan banyak lagi.  Ingat? Mari bernyanyi bersama! Apa masih ada ya... Nuim Khaiyath itu? Masih siarankah? Saya lama tak dengarkan ABC (Radio Australia)itu.(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;aming aminoedhin&lt;/span&gt;)**.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8694058217072995987?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8694058217072995987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8694058217072995987&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8694058217072995987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8694058217072995987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/04/lagu-lawas-said-effendi.html' title='SYAIR LAGU LAWAS SAID EFFENDI'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-6847268712822733970</id><published>2009-03-16T11:14:00.000+07:00</published><updated>2009-03-16T11:20:35.420+07:00</updated><title type='text'>SAJAK BUAT GURU</title><content type='html'>aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JIKA ADA RASA IKHLAS ITU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ymr, inna simpang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu gelisahku bertemu &lt;br /&gt;kawan lama bertahun tak sua &lt;br /&gt;kujumpai pada siang terik mentari &lt;br /&gt;surabaya tak alang kepalang panasnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di lobby inna simpang hotel nan sejuk &lt;br /&gt;mengurai bimbang cerita-cerita lama &lt;br /&gt;tanpa ujung batas tentang kawan sebangku &lt;br /&gt;tentang kawan-kawan kuliah tak pernah temu &lt;br /&gt;tanpa rasa-rasa jemu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari seakan berlari kembali &lt;br /&gt;ke arah waktu lampau &lt;br /&gt;saat di bawah tanjung kampus kita &lt;br /&gt;bersama mimpi dan mengigau &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasib selalu tak tertib &lt;br /&gt;waktu bisa menggergaji ingatan &lt;br /&gt;lupa kepada seorang kawan &lt;br /&gt;adalah biasa. hanya perubahan &lt;br /&gt;adalah abadi di alam ini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wajahmu seakan tak berubah &lt;br /&gt;hanya perilaku jauh dari dulu &lt;br /&gt;ada mukena membalut rambutmu &lt;br /&gt;seperti ustadzah kampungku &lt;br /&gt;begitu ayu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wajahmu seakan tak berubah &lt;br /&gt;hanya laku tomboy dulu &lt;br /&gt;musnah di mataku. ditelan indah &lt;br /&gt;mukena. mukenamu &lt;br /&gt;begitu sederhana. begitu mempesona &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benar pilihanmu &lt;br /&gt;guru adalah pekerjaan paling mulia &lt;br /&gt;jika ada rasa ikhlas itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Surabaya, 10/7/2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-6847268712822733970?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/6847268712822733970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=6847268712822733970&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6847268712822733970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6847268712822733970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/03/sajak-buat-guru.html' title='SAJAK BUAT GURU'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-4566588462560481982</id><published>2009-02-20T13:51:00.003+07:00</published><updated>2009-02-20T13:55:13.749+07:00</updated><title type='text'>komunitas sastra fsbs</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOMUNITAS DAN BUKU SASTRA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;* Adakah Malsasa bisa digelar tahun ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan: Tulisan ini telah termuat di Surabaya Post Minggu, 15 Februari 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komunitas Sastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa Timur memang cukup banyak berdiri komunitas sastra, baik di kota Surabaya maupun di kota-kota kecil, semacam: Ngawi, Lamongan, Tulungagung, Bojonegoro, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Lumajang, Batu, Jombang, Sidoarjo, dan Gresik.&lt;br /&gt; Untuk menyebutkan beberapa nama yang pernah ada, misalnya: Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS, PPIA Surabaya), Surabaya Poetry Community (Surabaya), Komunitas Sastra Luar Pagar (Unair, Surabaya), Sanggar Sastra Kalimas-nya Tengsoe Tjahjono (Surabaya), Sanggar Sastra Ketintang (IKIP Surabaya), Bengkel Muda Surabaya (BMS), Paguyuban Pengarang sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), Komunitas Sastra Teater Persada dan Komunitas Sastra Lingkar Tanah Kapur (Ngawi), Komunitas Sastra Teater Lamongan (Kostela, Lamongan), Sanggar Dian (Lumajang), Sanggar Triwida (Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar), Pamarsudi Basa Jawi Bojonegoro (PSJB), ARS (Alam Ruang Sastra Sidoarjo), Komunitas Lingkar Sastra Junok (Bangkalan), Sanggar Sastra SD Jombatan (Jombang), dan banyak lagi.&lt;br /&gt; Dari sekian banyak komunitas sastra yang ada, memang tidak banyak mau menerbitkan buku sastra. Jika mau mencatat, mungkin ada: FASS, Komunitas Sastra Teater Persada, Sastra Lingkar Tanah Kapur, Kostela, Kalimas, Ketintang, PPSJS, Triwida, PSJB, dan beberapa komunitas yang lain. Itu pun tidak banyak jumlah penerbitannya. Biasanya, menerbitkan sekali kumpulan puisi, lantas komunitas itu mati. Menyedihkan memang, tapi tidaklah kita lantas surut menulis sastra, dan surut membuat komunitasnya.&lt;br /&gt; Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS) yang berpangkalan di PPIA, Jalan Dr. Soetomo, yang lantas pindah di Dharmahusada Indah Barat,  Surabaya; di mana saya pernah jadi motivatornya itu, juga tidak banyak menerbitkan buku. Jika mau mencatat hanya: Nuansa Biru, Reportase Sunyi, Gelombang, dan kumpulan puisi Festival Puisi XIII.&lt;br /&gt; Sementara itu komunitas Tanah Persada, menerbitkan: Tanah Persada, Tanah Kapur, dan Tanah Rengkah. Komunitas Sastra Lingkar Tanah Kapur menerbitkan: Surat dari Ngawi, Secangkir Kopi Buat Kota Ngawi, Suluk Hitam Perjalanan Hitam. Surabaya Poetry Community menerbitkan: Mataku Mata Ikan, Cerita Buat Putri Rajab, Pengantin Lumpur. Sanggar Sastra Kalimas menerbitkan Dialog Warung Kaki Lima; dan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan),  yang dimotori Herry Lamongan ini, cukup banyak menerbitkan buku-buku sastra (data saya tidak lengkap), baik kumpulan puisi maupun cerpen. Begitu pula komunitas BMS (Bengkel Muda Surabaya). Lantas PPSJS menerbitkan kumpulan guritan Kabar saka Bendulmrisi, dan mungkin sederet lagi yang bisa kita tuliskan dalam tulisan lain.&lt;br /&gt; Semua yang saya sebutkan di atas, hanyalah beberapa contoh komunitas sastra dan penerbitannya. Datanya memang tidak lengkap, tapi dari data di atas membuktikan bahwa komunitas sastra di Jawa Timur, cukup banyak jumlahnya, serta mereka mau menerbitkan buku-buku sastra. Meski masih ada juga yang sangat sederhana (stensilan/fotokopian), ada juga yang sudah dicetak baik, dan ber-ISBN sebagai buku yang berstandar nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana  FSBS&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Komunitas yang berawakkan dari komunitas sastrawan Jawa Timur, yang terdiri dari sastrawan yang menulis dengan menggunakan media bahasa Indonesia, dan media bahasa Jawa. Berdiri sejak 2 Desember 2005 lalu, ketika akan menerbitkan kumpulan sajak bertajuk ‘Malsasa’.&lt;br /&gt; Beberapa nama yang ikut memotori ini, sebut saja Aming Aminoedhin, Sugeng Adipitoyo, Anang Santosa, dan W. Haryanto. Nama lain yang lebih yunior, ada: AF Tuasikal, dan Fahmi Faqih. &lt;br /&gt; Awalnya berangkat dari pertemuan warungkopian yang biasa mangkal di Warung Delima, alias Delapan Lima, Taman Budaya Jawa Timur,  Jalan Gentengkali 85 Surabaya. Dari hasil kongkow-kongkow itulah, yang kemudian melahirkan beberapa ide membentuk komunitas ini, yang akan menerbitkan antologi puisi dan geguritan.Terbentuklah kemudian komunitas bernama Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), yang terdiri sastrawan Indonesia dan Jawa tersebut. Dari hasil pertemuan nonformal inilah yang kemudian benar-benar melahirkan sebuah antologi puisi dan geguritan ‘Malsasa 2005’ yang dibacakan para penyair dan pengguritnya di Galeri Seni,  Dewan Kesenian Surabaya, Jalan Gubernur Suryo 15 Surabaya.&lt;br /&gt; Secara formal pertemuan rekan-rekan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) tidak pernah rutin, tapi secara nonformal bertemu dan berembug pada acara-acara pentas seni yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur di Gentengkali. Bahkan terkadang, secara spontanitas, tapi ternyata dapat terealitaskan kegiatannya. Tidak hanya berupa pentas sastra dan bedah buku; tapi juga penerbitan buku, utamanya buku sastra. &lt;br /&gt; Secara hitungan, penerbitannya sudah lumayan banyak buku  yang telah dan akan diterbitkan oleh Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), antara lain: Malsasa (antologi puisi dan geguritan, 2005), Tanpa Mripat, karya Aming Aminoedhin (kumpulan geguritan gagrag anyar, 2006), Mampir Ngombe karya Indri S. Diarwanti (kumpulan geguritan gagrag anyar, 2006), Timbil karya Trinil (kumpulan wacan bocah, 2006), Surabaya 714 (antologi malam sastra surabaya, 2007), Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu karya Aming Aminoedhin (kumpulan sajak anak-anak, 2008), Senyum Rel Kian Jauh karya AF Tuasikal (kumpulan puisi, 2008), dan Memutih Putih Begitu Jernih karya Aming Aminoedhin (kumpulan puisi, 2008).&lt;br /&gt; Buku-buku di atas semuanya telah beredar di masyarakat, dan cukup mendapatkan respons positif masyarakat sastra Jawa Timur. Sedangkan ketiga buku yang disebut terakhir adalah tinggal launching-nya saja di awal tahun ini.&lt;br /&gt; Secara hitungan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) telah dua kali menerbitkan kumpulan puisi dan geguritan (tergabung dalam satu buku), dalam rangka memeriahkan acara Malam Sastra Surabaya atau lebih dikenal dengan Malsasa. Terbit pertama pada tahun 2005 dan disusul tahun 2007. Tahun 2005 melibatkan sejumlah 25 penyair  dan 7 penggurit, ikut bergabung dalam kumpulan “Malsasa 2005,” sedangkan pada tahun 2007 ada 34 penyair dan 14 penggurit karya-karyanya masuk di antologi ‘Surabaya 714’.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Malsasa 2009, Adakah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS)  yang telah dua kali menerbitkan kumpulan puisi dan geguritan Malam Sastra Surabaya (Malsasa) 2005 dan 2007, maka pada tahun 2009,  dituntut kembali untuk menerbitkan dan menggelarpentaskan Masasa ini. Secara historis Malsasa memang selalu mebukukan kumpulan puisi dan geguritan sastrawan, dan sekaligus mengacarakan pentasnya. Apabila bicara Malsasa,  memang seharusnya dua tahunan acara ini kembali digelar. Tapi persoalannya, komunitas Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS)  ini, jarang sekali mengadakan pertemuan. Ini yang menjadikan kendala, adakah Malsasa tahun ini bisa digelarpentaskan kembali?&lt;br /&gt; Beberapa rekan penyair memang menanyakan hal ini, tapi saya sebagai ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) belum bisa menjawab dengan pasti.&lt;br /&gt; Selama ini kegiatan ini memang selalu didanai secara patungan, adakah tahun ini masih patungan? Atau mungkin ada pihak sponsor yang mau mendanai?&lt;br /&gt; Mari kita bicarakan bersama, mumpung masih di awal tahun. Kapan? Terserah rekan-rekan sastrawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Desaku Canggu, 17 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-4566588462560481982?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/4566588462560481982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=4566588462560481982&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4566588462560481982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4566588462560481982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/02/komunitas-sastra-fsbs.html' title='komunitas sastra fsbs'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8841312539068959599</id><published>2009-02-19T10:36:00.002+07:00</published><updated>2009-02-19T10:41:44.354+07:00</updated><title type='text'>syair nyanyian leo kristi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Salam dari Desa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku&lt;br /&gt;katakan padanya padi-padi telah kembang&lt;br /&gt;ani-ani seluas padang roda giling berputar putar&lt;br /&gt;siang malam tapi bukan kami punya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku&lt;br /&gt;katakan padanya tebu-tebu telah kembang&lt;br /&gt;putih-putih seluas padang&lt;br /&gt;roda lori berputar –putar siang malam&lt;br /&gt;tapi bukan kami punya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka&lt;br /&gt;nyanyi-nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung&lt;br /&gt;anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka&lt;br /&gt;nyanyi-nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanah pusaka tanah yang kaya&lt;br /&gt;tumpah darahku di sana kuberdiri&lt;br /&gt;di sana kumengabdi dan mati &lt;br /&gt;dalam cinta yang suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku&lt;br /&gt;katakan padanya nasi tumbuk telah masak&lt;br /&gt;kan kutunggu sepanjang hari&lt;br /&gt;kita makan bersama-sama berbincang-bincang&lt;br /&gt;di gubuk sudut dari desa&lt;br /&gt;di gubuk sudut dari desa&lt;br /&gt;di gubuk sudut dari desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    19 januari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lewat Kiara Condong &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lewat Kiara Condong kereta laju&lt;br /&gt;panorama di sana memaksa ku tersenyum&lt;br /&gt;bocah bocah tak berbaju&lt;br /&gt;berlari-lari disepanjang tepi&lt;br /&gt;di setiap detak roda yang kelima&lt;br /&gt;bergerombol bocah-bocah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bermain gundu kudaku lepas&lt;br /&gt;mengejar layang sampai ke awan&lt;br /&gt;bermain gundu kudaku lepas&lt;br /&gt;mengejar layang sampai ke awan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh... bilakah mereka mainkan buku &lt;br /&gt;dan pena di tangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lewat Kiara Condong kereta laju&lt;br /&gt;seorang gadis telanjang dada&lt;br /&gt;basah rambutnya berkeramas&lt;br /&gt;sempat kulihat tisik kainnya&lt;br /&gt;dibalik dinding bambu &lt;br /&gt;reyot dan tak beratap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika lewat Kiara Condong&lt;br /&gt;matahari tidur…dibalik gunung&lt;br /&gt;ketika lewat Kiara Condong&lt;br /&gt;tuan-tuan tidur di sejuk gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    19 januari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hati Muda Ley Ley &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;riuh di terminal bis malam&lt;br /&gt;seorang gadis gelandangan&lt;br /&gt;menangis tersedu di sudut&lt;br /&gt;gagal mencuri nasi&lt;br /&gt;sedang di belakangku&lt;br /&gt;seorang bocah merengek-rengek&lt;br /&gt;sambil melemparkan kulit coklat&lt;br /&gt;ke segala sudut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;campur berisik suara kaset yang merengek-rengek&lt;br /&gt;..uhhh pusingnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujan lebat lewat bus malam&lt;br /&gt;di sisi cikar-cikar sayup&lt;br /&gt;dengan percik lumpur jalanan&lt;br /&gt;dalam jaket tua yang lemah&lt;br /&gt;kududuk di sisi pak sopir&lt;br /&gt;dengan mata burung hantu malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersama hilangnya bayangmu&lt;br /&gt;bis malamku tiba&lt;br /&gt;lai loley ley lai loley lai loley ley&lt;br /&gt;oleiyo ooooo..&lt;br /&gt;lai loley ley lai loley lai loley ley&lt;br /&gt;oleiyo ooooo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepi di terminal bis malam&lt;br /&gt;lampu lampu neon telah padam&lt;br /&gt;ketika kutersandar letih&lt;br /&gt;sesekali suara memaki&lt;br /&gt;senda gurau menjelang pagi&lt;br /&gt;membuat hati resah berahi&lt;br /&gt;senyum yang kucari tiada jumpa&lt;br /&gt;betapa rinduku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hati muda ley ley&lt;br /&gt;hati muda ley ley&lt;br /&gt;hati muda ley ley&lt;br /&gt;hmmmmmm……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Roda Pedati &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;roda pedati telah menunggu&lt;br /&gt;selamat tinggal&lt;br /&gt;salam bagimu cinta dan doa adik&lt;br /&gt;cakrawala langit biru tidurku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;roda pedati malam sepi ini&lt;br /&gt;dingin beku&lt;br /&gt;salam bagimu cinta dan doa adikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-style:italic;"&gt; ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kereta Laju &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kereta melaju berlari&lt;br /&gt;di atas kopor ku angkat kaki&lt;br /&gt;serasa melayang serasa terbang&lt;br /&gt;senyumku terkembang walau kusendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bawalah aku cepat berlari&lt;br /&gt;bawalah aku jauh-jauh pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ai ai ai ai&lt;br /&gt;kum bam ba kum ba kum bam ba kum ba&lt;br /&gt;aahhhhh….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Langit Makin Merah-Hitam&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia saudaraku&lt;br /&gt;dia saudaraku&lt;br /&gt;bernyanyi riang di ufuk fajar&lt;br /&gt;dalam ytidur senyap ini&lt;br /&gt;bersama nya bunga-bunga&lt;br /&gt;dengan tiga butir peluru di dada.&lt;br /&gt;di dada…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hai kaihoro..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia saudaraku&lt;br /&gt;dia saudaraku&lt;br /&gt;yang kini menang kedamaian&lt;br /&gt;tertelungkup atas salib&lt;br /&gt;di depan altar suci&lt;br /&gt;dengan tiga butir peluru di dada&lt;br /&gt;di dada..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langit makin merah hitam&lt;br /&gt;langit makin merah hitam&lt;br /&gt;merah hitam , hitam merah , hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia saudaraku&lt;br /&gt;dia saudaraku&lt;br /&gt;terlentang di padang kunang-kunang&lt;br /&gt;bongkah tanah di genggamnya&lt;br /&gt;tanah air yang tercinta&lt;br /&gt;dengan tiga butir peluru di dada&lt;br /&gt;hai kaihoro..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langit makin merah hitam&lt;br /&gt;langit makin merah hitam&lt;br /&gt;merah hitam , hitam merah , hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jabat Tangan Erat-Erat Saudaraku&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihatlah layar layar terkembang di laut&lt;br /&gt;panji –panji merah dan putih turun senja&lt;br /&gt;kini tiba saatnya nyalakan bara hati&lt;br /&gt;angin bertiup semakin dingin&lt;br /&gt;di simpang-simpang gelap&lt;br /&gt;lentera-lentara jalan tak mengenal dirinya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau cermin tak lagi punya arti&lt;br /&gt;pecahkan berkeping-keping&lt;br /&gt;kita berkaca di riak gelombang&lt;br /&gt;dan sebut satu kata : hakku !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jabat tangan erat-erat&lt;br /&gt;jabat tangan erat-erat&lt;br /&gt;jabat tangan erat-erat&lt;br /&gt;saudaraku!&lt;br /&gt;saudaraku!&lt;br /&gt;saudaraku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Di atas Sukapura 2 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh dusunku ,oh dusunku&lt;br /&gt;akan lama kutinggalkan dirimu&lt;br /&gt;selamat tinggal gadis manis&lt;br /&gt;tak kulupa hangat tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sunyi…&lt;br /&gt;pagi ini aku melangkah&lt;br /&gt;dinginnya pagi tak terasa&lt;br /&gt;lalalalala…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukit…bukit…&lt;br /&gt;betapa indah warna rona&lt;br /&gt;di sela-sela kabut putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gunung gunung biru kurindu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nyanyian Pantai &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;nyanyian leo kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tepian pantai serakan lokan&lt;br /&gt;angin laut yang bertiup&lt;br /&gt;deburan ombak suara pekik bangau&lt;br /&gt;sinar surya memeluk pantai&lt;br /&gt;sinar surya pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulihat camar-camar&lt;br /&gt;kulihat layar-layar&lt;br /&gt;di batas cakrawala&lt;br /&gt;bersama mengalunkan&lt;br /&gt;simfoni kedamaian&lt;br /&gt;hu…….. kedamaian!&lt;br /&gt;Laila….ila….la…. kedamaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Laut Lepas Kita Pergi&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;nyanyian leo Kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin sepoi ……….&lt;br /&gt;angin sepoi………..&lt;br /&gt;layar-layar di dermaga&lt;br /&gt;telah tumbuh telah tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tegukkan cangkir kopi terakhir&lt;br /&gt;senja ini senja ini&lt;br /&gt;kemarin hanya mimpi&lt;br /&gt;diteluh tangan sakti&lt;br /&gt;aku tak mengerti&lt;br /&gt;gelapnya dunia ini&lt;br /&gt;hingga hari yang sepi&lt;br /&gt;kuterjaga dari mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;layar-layar di dermaga&lt;br /&gt;telah tumbuh telah tumbuh&lt;br /&gt;apa lagi kau tangisi&lt;br /&gt;ucapkanlah selamat tinggal&lt;br /&gt;hari kemarin&lt;br /&gt;ke laut lepas kita pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hu….hu….hu….. hu….&lt;br /&gt;ai…ai…..ai…..ai……&lt;br /&gt;kemarin hanya mimpi&lt;br /&gt;diteluh tangan sakti&lt;br /&gt;aku tak mengerti&lt;br /&gt;gelapnya dunia ini&lt;br /&gt;hingga hari yang sepi&lt;br /&gt;kuterjaga dari mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jerami &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;nyanyian leo Kristi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumput jerami tepi dangau&lt;br /&gt;jadi istana malam ini&lt;br /&gt;dijalin tangan ku dan dia&lt;br /&gt;sepanjang malam purnama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;petikan kecapi dan tembang sunyi&lt;br /&gt;sayup seiring berahi&lt;br /&gt;di sini siang hari berjajar tangis&lt;br /&gt;dengan ani-ani dan nyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lai lai lai lai lai lai&lt;br /&gt;lai lai lai lai lai lai&lt;br /&gt;ani ani nyanyi nyanyi&lt;br /&gt;ani ani dan nyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mata tertutup rambutku kukusut&lt;br /&gt;sepanjang malam jerami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lai lai lai lai lai lai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali aming aminoedhin&lt;br /&gt;    13 februari 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8841312539068959599?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8841312539068959599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8841312539068959599&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8841312539068959599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8841312539068959599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/02/syair-nyanyian-leo-kristi_19.html' title='syair nyanyian leo kristi'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-7504163237692686240</id><published>2009-02-12T11:58:00.002+07:00</published><updated>2009-02-12T12:05:36.069+07:00</updated><title type='text'>konsep nulisnya putu wijaya</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;KONSEP MENULIS&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;8 Nopember 2007 &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh: Putu Wijaya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan Aming Aminoedhin: &lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengawali catatan ini, saya ijin Pak Putu Wijaya untuk memuatkan tulisan ini di blog saya, agar tulisannya bisa menular (etung-etung sambil beramal) bagi para pemula yang suka menulis. Ucapan terima kasih, tentunya, saya sampaikan kepada Pak Putu, lantaran belum sempat kontak via email maupun hape. (Nomorku hilang,mungkan Mbah Mh. Iskan punya, tapi gak sempat kontak beliau). Yang pasti, tulisan Putu Wijaya ini cukup menarik dan apik. Barangkali bisa dijadikan referensi bagi yang belajar menulis dan penulis sastra sendiri. Setidaknya, tulisan ini cukup menggelitik kita, bahwa konsep menulis itu adalah “menteror pembacanya”. Meski Putu Wijaya juga sadar, konsep itu bisa salah atau tidak lagi manjur digunakan, maka tak segan Putu akan juga berpindah konsep menulisnya.&lt;br /&gt;Untuk itu, perlu pembacanya blog “aming aminoedhin” ikut membaca! Selamat baca! (aming aminoedhin, penyair)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentang bagaimana saya menulis. Bukan tentang bagaimana seseorang sebaiknya, apalagi seharusnya menulis. Tidak mudah menulis bimbingan menulis yang umum, karena itu segera akan menjadi kiat yang kedaluwarsa.&lt;br /&gt;Perkembangan dalam banyak hal sudah begitu cepat dan dahsyat. Manusia berubah dan sastra pun selalu menjadi baru. Bidang penulisan terus menemukan kiat-kiat terkini, meskipun yang lama tidak dengan sendirinya musnah.&lt;br /&gt;Memang ada yang umum dan mungkin akan masih berlaku. Misalnya teknik menulis. Buku “Teknik Mengarang” yang ditulis oleh Mochtar Lubis sampai sekarang tetap saya anggap sebagai pedoman menulis yang terbaik.&lt;br /&gt;Pertama sarannya untuk membuang dua atau tiga alenia pertama (bahkan mungkin lembar pertama) dari yang sudah kita tulis. Karena itu biasanya bagian-bagian emosional yang tak terkendali.&lt;br /&gt;Kemudian anjurannya untuk pembukaan tulisan yang langsung menggedor dengan masalah. Di dalam buku itu diberi contoh bagaimana Anton Chekov, sudah menabur pertanyaan dalam kalimat pertama. Pembaca jadi penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi. Dan Chekov memang seorang master dalam “plot” yang selalu memberikan kejutan yang mempesona di akhir cerita.&lt;br /&gt;Yang ketiga, Mochtar Lubis menyarankan untuk tidak berhenti menulis kalau sedang buntu. Kalau itu dilakukan, besar kemungkinan penulis tidak akan pernah kembali melanjutkan. Setiap hendak melanjutkan sudah langsung mumet melihat jalan buntu yang menunggunya.&lt;br /&gt;Berhenti sebaiknya dilakukan justru saat sedang lancar dan berapi-api. Di samping membantu mengendapkan emosi, itu sercara psikologis akan menjaga semangat untuk meneruskan bekerja.&lt;br /&gt;Unsur cerita secara umum juga masih berlaku, walau kehadirannya sudah teracak-acak. Bahkan ada yang sama sekali menjungkir-balik dan memperlakukan berbeda. Dulu cerita memerlukan tokoh, riwayat, alur dan penuturan. Sekarang cerita masih terpakai, tetapi diacak hancur dan tidak harus memakai unsur-unsur tadi.&lt;br /&gt;Pernah keindahan bahasa menjadi tujuan utama. Mengarang jadi kehebohan memberi gincu , memoles dan memasang berbagai asesoris, sehingga yang mau disampaikan jadi berdandan keren. Bahasa Indonesia dalam masa Pujangga Baru, misalnya, seperti menari-nari melakukan gerak indah.&lt;br /&gt;Tetapi kemudian digeser oleh Angkatan 45 yang ceplas-ceplos, kasar kadang cenderung kurang-ajar (Surabaya oleh Idrus), tapi terasa lebih menggigit dan konkrit. Kekenesan dan kegenitan pun ditinggal. Bahasa penulisan menjadi lebih dinamis, padat dan berdarah. Bahasa Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontany dan Mochtar Lubis membuat sastra Indonesia memasuki babak baru.&lt;br /&gt;Mohtar Lubis adalah wartawan terkenal yang menulis dengan mempergunakan kiat dan pengalamannya sebagai wartawan. Bahasa pers yang dulu dianggap bahasa berita yang kering, menjadi lain ketika penulis “Jalan Tak Ada Ujung” ini memberinya muatan.&lt;br /&gt;Tak pernah dipersoalkan sebagai cela lagi, kalau ada pengarang yang menulis fiksi dengan ketrampilan wartawan. Majalah TEMPO yang didirikan pada tahun 70-an bahkan kemudian menggabungkan bahasa sastra ke dalam pemberitaan, sehingga bukan hanya bahasa sastra berkembang, bahasa pers juga berubah, keduanya saling menghampiri.&lt;br /&gt;Pernah tema besar menjadi primadona. Tulisan yang mengangkat tentang nasib manusia, perang, revolusi dan sebagainya menjadi tiket untuk dianggap sebagai karya bergengsi. Kita masih terus mengagumi War And Peace karya Tolstoy dan Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak dan Hamlet-nya Shakespeare.&lt;br /&gt;Tetapi cerita kemalangan seorang nelayan kecil dalam The Old Man and The Sea dari Hemingway pun dianggap luar biasa. Juga penantian Didi dan Gogo dalam Waiting for Godot karya Beckett dianggap sebagai sebuah fenomena, setelah pernah lama hanya ditoleh dengan sebelah mata karena seperti dagelan.&lt;br /&gt;Pada suatu siang (tahun 70-an) di kantor majalah TEMPO di bilangan Senen Raya, saya pernah bertanya pada Goenawan Mohamad. Apakah tema besar besar itu menentukan nilai sebuah karya. Artinya sebuah karya tulisan tidak akan pernah besar kalau temanya tidak besar. Pemimpin Redaksi Tempo yang juga salah seorang penyair dan eseis Indonesia kelas satu itu dengan tak ragu-ragu menjawab: “Tidak!”&lt;br /&gt;Saat itu saya sedang menulis novel “Telegram” dan naskah drama “Aduh”. Keduanya tidak punya tema besar. Hanya tentang perasaan individu kecil yang gagap dan kebingungan menghadapi komplekasi kehidupan yang semakin jumpalitan.&lt;br /&gt;Rasa kerdil bahkan nyaris “bersalah” (karena tidak seperti Pramoedya Ananta Toer yang banyak bicara tentang revolusi) segera mendapat angin segar. Perlahan saya yakini, karya sastra jadinya bukan hanya “tentang apa”, tapi “bagaimana memaparkan apa itu”.&lt;br /&gt;Menceritakan apa yang ada di sekitar, yang mudah diceritakan, karena kita menguasainya, tidak lagi terasa tercela. Lebih dari itu menceritakan dengan sepenuh keberadaan diri kita, dengan segala kelebihan dan terutama kekurangannya, juga bukan sesuatu yang tercela.&lt;br /&gt;Dalam Telegram saya numpang bertanya lewat tokoh utamanya. “Apakah yang berhak bercerita itu hanya para pahlawan dengan tindakan-tindakan besarnya. Apa orang yang bodoh dan tidak tahu, tidak boleh ikut bicara membagikan pikiran-pikirannya?”&lt;br /&gt;Dalam sebuah Telegram, tokoh utama mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya dalam bahasa Arab. Saya tertegun waktu itu. Apakah saya harus menunda tulisan itu sampai saya dapat menuliskan dalam bahasa Arab apa yang diucapkan oleh yang nelpon? Atau tak perlu menyembunyikan kekurangpengetahuan saya, karena seorang penulis tak harus orang yang serba tahu.&lt;br /&gt;Saya mengambil resiko, tidak perlu menunggu. Saya tulis ucapan bahasa Arab itu dengan deretan huruf-huruf yang tidak bisa dibaca, karena bagi telinga pelaku cerita, dia tidak menangkap makna tapi hanya bunyi.&lt;br /&gt;Dari proses itu saya belajar, menulis adalah “mengambil resiko” . Tanpa keberanian mengambil resiko hasilnya hanya akan menjadi rata-rata saja. Memenuhi persyaratan, tetapi tidak orisinal apalagi unik. Dua hal itulah kemudian yang selalu saya kejar dalam menulis.&lt;br /&gt;Keberanian mengambil resiko tidak datang begitu saja. Pendidikan orang tua untuk menghormati disiplin membuat saya berwatak patuh. Tak berani melawan aturan. Itu membuat saya jadi penakut dan pengecut. Tetapi pengalaman keras di lapangan perlahan-lahan menyeret saya untuk belajar bersikap.&lt;br /&gt;Pada tahun 60-an, saya menulis drama “Dalam Cahaya Bulan” di Yogya. Dalam drama itu ada yang tidak logis. Pelaku utamanya memberikan pengakuan yang menyalahi cerita. Pemain yang memainkan tokoh itu protes, mengatakan ucapan tokoh itu salah. Saya hampir saja tergoda.untuk mengoreksinya.&lt;br /&gt;Tapi kemudian saya bertahan, karena ucapan tokoh tidak harus semuanya benar. Tokoh utama pun bisa saja tidak jujur. Dia hidup dan merdeka mengutarakan pikirannya, tak hanya menjadi corong dari penulis.&lt;br /&gt;Mempertimbangkan pembaca dalam menulis selalu mendua. Bisa menjadi kelemahan, karena itu akan membatasi kebebasan. Tapi dalam keadaan tidak terlalu bebas, kreativitas akan tertantang, lalu kita terpacu meloncat seperti dalam lari gawang sehingga hasilnya bisa mengejutkan. Pada awalnya pembaca menjadi beban, tetapi kemudian ketika beban itu sudah terbiasa, menjadi hikmah.&lt;br /&gt;Saya percaya setiap penulis adalah sebuah dunia mandiri yang menempuh jalannya sendiri. Ia memiliki banyak persamaan dengan orang lain, tetapi itu tidak penting. Yang menentukan adalah perbedaan-perbedaannya.&lt;br /&gt;Keunikannyalah yang akan menjadikan produknya menonjol di tengah karya orang lain. Penulis bukan sebuah pabrik, meskipun produktif. Berbeda dengan kerajinan yang berulang-ulang dibuat, produk tulisan selalu berbeda karena ia menyangkut ekspressi..&lt;br /&gt;Setiap penulis akan menyusun teorinya sendiri. Proses kreatif itu tidak untuk ditiru apalagi diberhalakan, meskipun boleh saja dicoba oleh orang lain. Pengalaman bekerja penulis lain, dapat jadi perimbangan yang mempercepat proses pembelajaran menulis. Tetapi bisa juga jadi bumerang kalau kemudian diterima sebagai sebuah idiologi.&lt;br /&gt;Sastra punya potensi untuk menghibur, namun bukan hiburan. Novel, cerpen, puisi, esei dan sebagainya adalah kesaksian, perenungan, pemikiran dan pencarian-pencarian pribadi tetapi menjadi objektif ketika berhasil menyangkut kebenaran banyak orang. Akibatnya sastra tidak bedanya dengan bidang yang lain, sastra adalah ilmu pengetahuan. Tak selamanya upaya pencarian sastra berhasil, tetapi setiap kegagalan adalah sebuah janji.&lt;br /&gt;Karenanya “menulis” bukan sesuatu yang mudah. Tidak seperti yang dikatakan oleh Arswendo: Mengarang Itu Gampang, juga tidak sama dengan apa yang dikatakan dosen penulisan di UI, Ismail Marahimin, bahwa “mengarang itu fun”.&lt;br /&gt;Mengarang - bagi saya - adalah sebuah peristiwa yang khusuk, sunyi, pedih, melelahkan, menyakitkan, membosankan. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, menulis menjadi sebuah peristiwa yang “menegangkan” tetapi indah dan sakral.&lt;br /&gt;Menulis selalu menjadi sebuah pengembaraan baru yang membuat saya tertantang sehingga tak ada saat untuk tidak menyala. Meskipun saya tak pernah melihat nyala itu, tetapi dari apa yang dilakukan para penulis sebelumnya, jelas betapa jilatan pikiran mereka tetap mengibas ke masa-zaman yang akan datang hingga membuat kehadiran berarti.&lt;br /&gt;Buat saya, menulis adalah menciptakan “teror mental”. Tetapi konsep itu akan saya tinggalkan setiap saat, kalau ada kebenaran lain yang membuktikannya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(diambil aming aminoedhin, dari blognya putu wijaya, pada hari: rabu, 7 januari 2009)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-7504163237692686240?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/7504163237692686240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=7504163237692686240&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/7504163237692686240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/7504163237692686240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/02/konsep-nulisnya-putu-wijaya.html' title='konsep nulisnya putu wijaya'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-2573894601458835992</id><published>2009-02-11T14:44:00.004+07:00</published><updated>2009-02-11T14:50:43.068+07:00</updated><title type='text'>forum sastra bersama sby</title><content type='html'>&lt;strong&gt;FSBS CETAK BUKU SASTRA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Forum Sastra Bersama Surabaya atau FSBS &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Komunitas ini terdiri dari komunitas sastrawan Jawa Timur, yang terdiri dari sastrawan yang menulis dengan menggunakan media bahasa Indonesia, dan media bahasa Jawa. Berdiri sejak 2 Desember 2005 lalu, ketika akan menerbitkan kumpulan sajak bertajuk ‘Malsasa’.&lt;br /&gt;Beberapa nama yang ikut memotori ini, sebut saja Aming Aminoedhin, Sugeng Adipitoyo, Anang Santosa, dan W. Haryanto. Nama lain yang lebih yunior, ada: AF Tuasikal, dan Fahmi Faqih. &lt;br /&gt;Awalnya, berangkat dari pertemuan warungkopian yang biasa mangkal di Warung Delima, alias Delapan Lima, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya. Dari hasil kongkow-kongkow itulah, yang kemudian melahirkan beberapa ide membentuk komunitas ini, yang akan menerbitkan antologi puisi dan geguritan. Terbentuklah kemudian komunitas bernama Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), yang terdiri sastrawan Indonesia dan Jawa tersebut. Dari hasil pertemuan nonformal inilah yang kemudian benar-benar melahirkan sebuah antologi puisi dan geguritan ‘Malsasa 2005’ yang dibacakan para penyair dan pengguritnya di Galeri Seni, Dewan Kesenian Surabaya, Jalan Gubernur Suryo 15 Surabaya.&lt;br /&gt;Secara formal pertemuan rekan-rekan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) tidak pernah rutin, tapi secara nonformal bertemu dan berembug pada acara-acara pentas seni yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur di Gentengkali. Bahkan terkadang, secara spontanitas, tapi ternyata dapat terealitaskan kegiatannya. Tidak hanya berupa pentas sastra dan bedah buku; tapi juga penerbitan buku, utamanya buku sastra. &lt;br /&gt;Secara hitungan, penerbitannya sudah lumayan banyak buku yang telah dan akan diterbitkan oleh Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), antara lain: Malsasa (antologi puisi dan geguritan, 2005), Tanpa Mripat, karya Aming Aminoedhin (kumpulan geguritan gagrag anyar, 2006), Mampir Ngombe karya Indri S. Diarwanti (kumpulan geguritan gagrag anyar, 2006), Timbil karya Trinil (kumpulan wacan bocah, 2006), Surabaya 714 (antologi malam sastra surabaya, 2007), Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu karya Aming Aminoedhin (kumpulan sajak anak-anak, 2008), Senyum Rel Kian Jauh karya AF Tuasikal (kumpulan puisi, 2009), dan Memutih Putih Begitu Jernih karya Aming Aminoedhin (kumpulan puisi, 2008).&lt;br /&gt;Buku-buku di atas semuanya telah beredar di masyarakat, dan cukup mendapatkan respons positif masyarakat sastra Jawa Timur. Sedangkan ketiga buku yang disebut terakhir adalah tinggal launching-nya saja di awal tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Buku Sastra FSBS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara hitungan Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) telah dua kali menerbitkan kumpulan puisi dan geguritan (tergabung dalam satu buku), dalam rangka memeriahkan acara Malam Sastra Surabaya atau lebih dikenal dengan Malsasa. Terbit pertama pada tahun 2005 dan disusul tahun 2007. Tahun 2005 melibatkan sejumlah 25 penyair dan 7 penggurit, ikut bergabung dalam kumpulan “Malsasa 2005,” sedangkan pada tahun 2007 ada 34 penyair dan 14 penggurit karya-karyanya masuk di antologi ‘Surabaya 714’. Para penyair dan penggurit yang ikut tercantum dalam buku tersebut, serta ikut tampil baca puisi dan guritnya adalah berasal dari beberapa kota di Jawa Timur, seperti: Sidoarjo, Mojokerto, Lamongan, Ngawi, Madiun, Gresik, Pasuruan, Lumajang, dan Surabaya.&lt;br /&gt;Buku kumpulan geguritan bertajuk Tanpa Mripat, anggitane Aming Aminoedhin, memuat 30 guritan, sedang Mampir Ngombe anggitane Indri S. Diarwanti, memuat 64 judul guritan. Kedua buku kumpulan guritan di atas, hanyalah memuat geguritan gagrag anyar, yang diterbitkan pada tahun 2006.&lt;br /&gt;Wacan bocah dengan berbahasa Jawa yang ditulis oleh Trinil, bertajuk Timbil, memuat beberapa cerita anak yang cukup memberikan kontribusi positif di bidang sastra Jawa di Jawa Timur. Karena selama ini, sudah jarang sekali pengarang Jawa yang mau mengarang dan bercerita bagi anak-anak. Padahal hal ini, sangatlah penting, bagi menumbuhkembangkan bahasa dan sastra Jawa. Begitu pula kedua kumpulan guritan Tanpa Mripat dan Mampir Ngombe di atas, sebenarnya juga dalam rangka menumbuhkembangkan bahasa dan sastra Jawa. Hanya sayangnya, untuk penjualannya memang agak susah kepada masyarakat. Barangkali, Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan, seharusnya bisa membantu untuk penjualan buku-buku sastra Jawa ini. Ayau setidaknya, bisa menghimbau para guru bahasa Jawa mau ikut membeli buku-buku ini. Kapan? Entahlah!&lt;br /&gt;Secara niatan, niatnya sudah baik, FSBS mencoba menerbitkan buku-buku sastra Jawa, dengan harapan agar bahasa dan sastra tidak punah. Atau memperpanjang hidupnya bahasa dan sastra Jawa itu.&lt;br /&gt;Buku lain, yang diterbitkan FSBS adalah Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu karya Aming Aminoedhin. Buku ini hanya mengkhususkan berisi sajak/puisi anak-anak, ditulis dengan bahasa anak-anak pula. Buku ini memuat 33 judul puisi anak-anak. Buku ini dicetak dengan harapan kumpulan ini bisa dijadikan semacm contoh latihan menulis dan membaca puisi bagi anak-anak. Bisa juga dijadikan bahan pengayaan mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat TK, SD, bahkan mungkin SLTP..&lt;br /&gt;Ada lagi satu terbitan FSBS yaitu sebuah kumpulan puisi yaitu Memutih Putih Begitu Jernih karya Aming Aminoedhin, memuat sejumlah 69 judul puisinya. Puisi-puisinya lebih banyak bicara tema perempuan, karena idenya memang berawal dari tentang perempuan tersebut. Tapi ada juga beberapa puisi yang bertema protes sosial.&lt;br /&gt;Buku yang terakhir diterbitkan adalah sebuah kumpulan puisi yang ditulis AF Tuasikal bertajuk Senyum Rel Kian Jauh, berisi 89 judul puisi, terbit tahun 2009. FSBS kali ini, memang mencoba menerbitkan karya penyair muda berbakat yang satu ini. Penyair kelahiran Mojokerto, yang kini bekerja di Balai Bahasa Surabaya, dan penggagas Komunitas Sastra “Sinji” ini, pernah berkali-kali beraksi di depan publik sastra Surabaya, Malang, Mojokerto, Blitar, Lamongan, Sidoarjo dan kota-kota lainnya di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Buku Sastra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) telah relatif cukup banyak menerbitkan buku sastra, hanya saja komunitas ini agak kesulitan ketika harus menjualnya, kepada masyarakat pembacanya. Lantas bagaimanakah solusinya? Barangkali memang perlu ada semacam program sastrawan masuk sekolah, sekaligus bisa mensosialisasikan dan menjual buku-buku cetakannya. Dalam hal ini barangkali dinas pendidikan bisa memfasilitasi? Semoga saja! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Desaku Canggu, 2 Februari 2009&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-2573894601458835992?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/2573894601458835992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=2573894601458835992&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2573894601458835992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2573894601458835992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/02/blog-post_11.html' title='forum sastra bersama sby'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-1363383289685326896</id><published>2009-01-05T14:50:00.003+07:00</published><updated>2009-01-05T15:04:52.715+07:00</updated><title type='text'>menulis dapat duit &amp; angka kredit</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MENULIS DAPAT DUIT DAPAT ANGKA KREDIT*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oleh: Drs. M. Amir Tohar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dipergunakan oleh bangsa Indonesia, sebagai bahasa persatuan, bahasa Nasional, dan bahasa Negara. Bahkan bahasa Indonesia juga dijadikan bahasa pengantar bagi guru dan dosen untuk mengajar di dalam ruang kelas masing-masing.&lt;br /&gt;Melalui bahasa Indonesia ini pulalah, kita (suku-suku bangsa yang begitu banyak di Indonesia), bisa saling berkomunikasi secara mudah. Bahkan melalui bahasa Indonesia ini pulalah, persatuan antarsuku bangsa di Indonesia bisa terjalin dengan indah. Bahasa Indonesia juga diajarkan ke semua siswa, di semua jenjang pendidikan di Indonesia, baik dari tingkat Sekolah Dasar, Menengah, hingga ke tingkat mahasiswa.&lt;br /&gt; Berawal dari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia mempunyai fungsi majemuk, menjadi bahasa persatuan, bahasa negara, bahasa resmi, bahasa penghubung antar-individu, bahasa pergaulan, dan yang tak kalah pentingnya sebagai bahasa pengantar di semua sekolah di Indonesia (Rayahu, 2007:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tulis-Menulis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan tulis-menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam proses belajar-mengajar, termasuk di dalamnya adalah para guru. Mereka sering dituntut menyusun makalah, laporan atau tulisan lain untuk kepentingan sekolah, atau bahkan untuk kenaikan pangkat seseorang guru. &lt;br /&gt;Kebanyakan mereka tidak tahu persis aturan dalam menyusun makalah ataupun laporan, namun seorang guru akan dengan patuh mengerjakannya, guna kepentingan tersebut.&lt;br /&gt;Sebenarnya apabila seorang guru merasa kesulitan saat menulis dapat dikatakan wajar, atau mungkin tidak wajar.  Hal ini wajar bisa terjadi,  mengingat bahwa seorang guru tugasnya adalah mengajar, bukan menulis (terkecuali guru Bahasa Indonesia). Pekerjaan menulis pun  merupakan aktivitas yang kompleks, dan membutuhkan kemampuan dan ketrampilan berbahasa yang memadai. Tidak wajar, karena seseorang guru, biasanya lulusan sarjana, sehingga mereka pasti pernah menuliskan makalah dan skripsi, pada waktu menempuh kuliahnya.&lt;br /&gt;Untuk mampu menulis seseorang umumnya sudah paham terhadap apa yang hendak ditulis. Kemudian menemukan sumber informasi (buku, jurnal, artikel, dsb.) yang mendukung, membacanya secara cermat dan mampu menemukan hubungan berbagai masalah yang hendak ditulis. Menuangkan dalam kalimat demi kalimat yang utuh serta menyuntingnya, baik dari aspek kebahasaan maupun pengorganisasian gagasan. &lt;br /&gt;Beberapa cara membuat tulisan/makalah seharusnya melalui:&lt;br /&gt;1. Menulis seharusnya telah punya topik persoalan yang  disepakati/ditentukan agar penulis bisa mencari, menyerap serta menguasai masalah seluas-luasnya yang akan ditulis.&lt;br /&gt;2. Menulis dengan cara mampu bernalar, menghubung-hubungkan dan membandingkan  fakta yang barangkali pada seseorang  yang tidak pernah menulis akan kurang mampu bisa melakukannya. &lt;br /&gt;3. Seseorang harus mampu mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat. Hal ini akan berbeda jauh apabila kita menyampaikan gagasan dalam bentuk lisan/ujaran. Berbahasa secara lisan berkecenderungan menggunakan bahasa percakapan/sehari-hari yang kadang menjadikan berlarut-larut dan carut-marut, kurang sistematis. Berbeda dengan bahasa tulisan, yang cenderung menggunakan bentuk baku dan resmi serta efektif karena telah disunting sebelumnya. Dalam menulis, seseorang diajak untuk belajar lebih aktif., serta dituntut mampu menemukan berbagai informasi dan  memecahkan  masalah. Menulis juga  melatih dan membiasakan berbahasa secara tertib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menulis di Koran dan Majalah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Di dalam menulis, seseorang guru sebaiknya menulis artikel apa saja yang berhubungan dengan tugasnya, yaitu bicara soal dunia pendidikan. Ada banyak hal yang harus bisa kita tulis dalam hal ini, misalnya saja: persoalan lingkungan hidup di sekolah, cara belajar siswa yang efektif, kepramukaan, kegiatan ekstra kurikuler sekolah, koperasi siswa,  cara mengajar di dalam kelas, kantin  kejujuran di sekolah yang tanpa penunggu, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt; Menulis, apa lagi bila tulisan itu akan dikirimkan sebuah koran atau majalah, seharusnya tidak harus terlalu panjang, akan tetapi tema dan permasalahan yang diangkat adalah masalah aktual.&lt;br /&gt; Sebagai ilustrasi, beberapa waktu yang lalu, ada seko-lah yang diberi label 'SMAN 3 Jakarta dengan sebutan SMA Anti Korupsi Diponegoro', yang jika tidak salah diresmikan oleh Menteri Dekumham atau Kejagung. Kemudian wilayah Provinsi Jawa Timur, tepatnya di SMAN 3 Sidoarjo, baru saja diresmikan 'Kantin Kejujuran' oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Peresmiannya pada tanggal 9 Desember 2008, di mana pada hari itu adalah “Hari Anti Korupsi se-Dunia.”&lt;br /&gt; Kantin kejujuran ini diharapkan menjadi 'laboratorium moral' dalam mengembangkan pendidikan anti korupsi di sekolah. Kantin kujujuran juga untuk mengembangkan aspek afeksi yang berkorelasi dengan pembentukan sikap, kesa-daran dan keyakinan, bahwa 'anti korupsi' harus dilakukan dalam berbagai bidang di setiap saat dan kesempatan. Termasuk di dalamnya, dunia pendidikan, yaitu para siswa Sekolah Tingkat Atas.&lt;br /&gt; Dalam 'kantin kejujuran' ini proses transaksi jual beli-nya tanpa pengawasan, para pembeli hanya bermodalkan kejujuran. Jika ada uang kembali pun, ambil sendiri.&lt;br /&gt; Persoalan aktual semacam 'Kantin Kejujuran' inilah, yang sebenarnya harus diangkat dalam tulisan, agar tulisan kita bisa termuat di sebuah koran dan majalah. Bisa juga tulisan berupa hasil penelitian, semacam hasil penelitian tindakan kelas (classroom action research), di mana para guru hampir semuanya pernah melakukannya. Tulisan itu  bisa juga dirangkum jadi sebuah tulisan yang pendek untuk kemudian dikirimkan ke sebuah majalah atau koran. &lt;br /&gt; Sebab selama ini, jika kita mau jeli bahwa koran harian, hanya akan termuat adalah masalah-masalah aktual yang baru saja menjadi issue masyarakat. Begitu pula jika kita akan mengirimkan ke majalah, yang biasanya terbit, mingguan, dua mingguan, atau bulanan; maka topik atau tema yang akan kita kirimkan adalah masalah aktual minggu dan bulan majalah tersebut terbit.&lt;br /&gt; Menulis artikel pendidikan di koran atau majalah, di samping kita mendapatkan honorarium (duit), tulisan kita juga masih mendapatkan angka kredit. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Koran dan Majalah Apa?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Beberapa kawan guru, banyak bertanya, ke mana tulisan artikel saya kirimkan? Lewat apa saya mengirimkan?&lt;br /&gt;Dan banyak lagi, pertanyaan-pertanyaan menyangkut dunia tulis menulis ini.&lt;br /&gt; Apabila tulisan artikel 'aktual' tersebut sudah jadi dan tinggal kirim, maka jawaban mengirimkannya adalah di koran-koran yang ada di wilayah Jawa Timur dulu. Seperti misalnya: Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Kompas Jawa Timur, dan beberapa koran lainnya. Sedangkan majalah, bisa dikirimkan ke Majalah Media yang dikelola Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur atau majalah lain yang memuat dunia pendidikan.&lt;br /&gt; Pengirimannya bisa lewat Kantor Pos, dengan berprangko, atau sekarang lebih gampang, melalui email masing-masing koran dan majalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Demikian beberapa hal yang barangkali bisa dijadikan referensi dalam belajar menulis. Semoga tulisan ini bisa memacu para guru untuk bergairah dalam mencoba menulis artikel di koran dan majalah. Menulis dapat duit dan angka kredit. Semoga tulisan yang termuat di koran dan majalah oleh para guru bisa memberikan gairah penulisan selanjutnya, dan sekaligus memajukan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah masing-masing. Selamat mencoba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aminoedhin, Aming. 2002. &lt;em&gt;Bulan Oktober Bulan Bahasa&lt;/em&gt;, (makalah ceramah).&lt;br /&gt;Rahayu, Minto. 2007. &lt;em&gt;Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, Mata Kuliah Pengembangan                Kepribadian&lt;/em&gt;,  Jakarta: PT Grassindo&lt;br /&gt;Santoso, Anang. 2006. &lt;em&gt;Desain PTK Dalam Penelitian Pengajaran Bahasa                           &lt;/em&gt;          (makalah ceramah)&lt;br /&gt;Pemda Sidoarjo. 2008. &lt;em&gt;Kantin Kejujuran&lt;/em&gt;, Sidoarjo: SMAN 3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-1363383289685326896?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/1363383289685326896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=1363383289685326896&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1363383289685326896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1363383289685326896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2009/01/menulis-dapat-duit-angka-kredit.html' title='menulis dapat duit &amp; angka kredit'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8417868439643733524</id><published>2008-12-10T11:58:00.005+07:00</published><updated>2008-12-10T12:42:47.985+07:00</updated><title type='text'>jazz night surabaya</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAZZ NIGHT TAMAN BUDAYA JATIM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* hilangkan haus dahaganya ‘jazz lovers Surabaya’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prolog&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Malam itu (4/12/2008), di Gedung Cak Durasim,  Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya; telah digelar acara “Jazz Night”. Sebuah acara yang digagas oleh  &lt;em&gt;Yason A Gunawan&lt;/em&gt;, yang akrab dipanggil Sony, serta &lt;em&gt;Benny Kartono dan Benny Chen (putra Bubby Chen).&lt;/em&gt; Acara ini diharapkan bisa membangkitkan gairah jazz di kota Surabaya, dan itu perlu adanya dukungan para ‘jazz lovers’ Surabaya, demikian kata &lt;em&gt;Benny Kartono&lt;/em&gt;, disela-sela pertunjukannya malam itu. BK melantunkan dua judul lagu yang membuat audiens bertepuk tangan riuh.&lt;br /&gt; Sementara itu, &lt;em&gt;Benny Chen&lt;/em&gt;, mencoba menjelasterangkan definisi ‘jazz’ itu sendiri. Menurut Chen, bahwa musik jazz harus ada improvisasinya. Dan menggarap lagu jazz, adalah saat bermain di atas pentas. Artinya, bermain musik jazz, haruslah mempunyai kemampuan improvisasi-improvisasi saat mereka bermain di atas pentas itu, tambahnya. Jadi jazz itu sederhana, tapi juga tidak sesederhana yang dibayangkan. Sedangkan  &lt;em&gt;Yason A Gunawan &lt;/em&gt;yang Sony itu, di sela-sela pertunjukan ”Jazz Night” malam itu, mengatakan bahwa, “Saya bertekad untuk terus memajukan jazz di kota Pahlawan, Surabaya ini. Untuk itu, saya mengajak semua audiens untuk bersama-sama bekerja sama dalam memajukan jazz di Surabaya.” &lt;br /&gt; Lebih jauh, Sony, ingin mengembalikan reputasi Surabaya sebagai barometer musik jazz di Indonesia. Benarkah? Pertanyaan yang perlu jawaban dengan fakta pentas jazz di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pentas Malam Itu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Pentas musik jazz malam (4/12/2008), sungguh cukup melegakan para &lt;em&gt;‘jazz lovers’ &lt;/em&gt;Surabaya, yang memadati Gedung Cak Durasim, di Taman Budaya Jatim malam itu. Beberapa nomor lagu digelarpentaskan malam itu, dan penonton yang hadir bertepuk tangan atas tampilan mereka yang kompak dan rancak. Malam indah menyenangkan!&lt;br /&gt;            Vokalis yang tampil pada &lt;em&gt;“Jazz Night”&lt;/em&gt; adalah &lt;em&gt;Benny Kartono,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Aska Daulika&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Natasya Gabriella&lt;/em&gt;. Mbak Aska Daulika melantunkan &lt;em&gt;‘The Girl from Ipanema’ &lt;/em&gt;dengan suaranya yang agak serak malam itu. Tapi cukup yahud dan enak didengar audiens yang hadir. Sedangkan &lt;em&gt;Natasya&lt;/em&gt;, si penyanyi idola cilik, melantunkan &lt;em&gt;'Santa Claus is Coming to The Town'&lt;/em&gt;. Sungguh mendapatkan &lt;em&gt;applause&lt;/em&gt; dari &lt;em&gt;audiens&lt;/em&gt; yang memadati Cak Durasim.&lt;br /&gt;            Pentas jazz malam itu, sungguh luar biasa, di samping gratis; tampilan para personalnya cukup handal, dan bisa menyejukkan suasana kota Surabaya yang jarang ada tampilan musik semacam ini. Barangkali apresiasi jazz bagi masyarakat kota Surabaya, memang perlu digelarpentaskan acara semacam ini. Mungkin sebulan sekali, atau bisa juga dua bulan sekali. Untuk pertama kali ini, mungkin memang gratis, tapi selanjutnya, mereka (jazz lovers) dicoba pula untuk diajak menghargai musik jazz itu sendiri, dengan membayar tiket. Tidak harus dengan harga mahal, mungkin HTM hanya Rp 10.000,00 s.d. Rp 15.000,00 (sepuluh atau limabelas ribu rupiah). Agar rekan-rekan pemusik jazz juga bisa bernafas, setidaknya bisa ganti bayar sewa gedung dan komsumsi yang (kebetulan malam itu) dibagikan gratis.&lt;br /&gt;               Beberapa rekan yang nontok malam itu, banyak yang kecewa, karena mereka datang, hanya kebagian dua lagi terakhir saja. Mungkin terlalu sore, ketika acara itu digelar. Sehingga acara selesai masih sore pula. Padahal, kata penonton yang datang terlambat tadi, biasanya jazz dimulai pukul 20.00. WIB. Lha kok sekarang sudah usai.&lt;br /&gt;Perhitungkan dong, yang rumahnya jauh seperti saya ini. Belum lagi, jalanan macet dan hujan. Jika ada lagi, mohon agak malam mulainya, katanya pada saya. Padahal, saya bukan panitia. Lha lucu khan?&lt;br /&gt;              Pementasan malam itu, memang ada yang terasa kurang. Setting panggung, kurang tergarap dengan cantik. Bahkan tak ada baddrop atau spanduk di belakang panggungnya. Jika saja, dinding panggung ada tulisan &lt;em&gt;“Jazz Night”&lt;/em&gt; warna putih, maka pementasan  malam itu, akan terasa lebih terkesan lebih wah lebih serius. Di bagian alat musiknya, tampilan malam itu tidak menghadirkan alat perkusi dan saksofon, yang sebenarnya akan lebih lengkap tampilannya.&lt;br /&gt;               Tapi, tampilan pertama kali, &lt;em&gt;“Jazz Night”&lt;/em&gt; malam itu, cukup menghilangkan rasa haus dan dahaganya para jazz lovers Surabaya. Angkat jempol tinggi-tinggi buat: &lt;em&gt;Yason, BK, Jeffry, dan Benny Chen&lt;/em&gt;; yang telah memprakarsai &lt;em&gt;“Jazz Night”&lt;/em&gt; malam itu. Luar biasa! Sukses buat rekan-rekan jazzer Surabaya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Epilog&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;               Seperti impian saya sejak mula, harapan bahwa pentas “Jazz Night” ini, tidak hanya sekali ini. Tapi bisa berkelanjutan digelarpentaskan. Sebulan sekali, misalnya. Bahkan jika mungkin digelarpentaskan di halaman terbuka Taman Budaya, sehingga masyarakat luas akan ikut menontonnya. Tentunya, jika cuaca memang lagi kemarau, bukan saat hujan tiba, seperti sekarang ini. Begitu pula, para penggemarnya (jazz lovers) diajak pula menghargai musik jazz itu sendiri, dengan mau membeli tiket, jika tampilan kedua nanti sudah harus dikarciskan. Harapan saya, awalnya tiket memang tidak harus dijual mahal, tapi cukup terjangkau bagi kaum jazz lovers kota Surabaya.&lt;br /&gt;                Semoga pentas &lt;em&gt;“Jazz Night”&lt;/em&gt; pertama kali ini, akan menjadikan kota Surabaya, bukan saja dengan sebutan sebagai kota buaya saja, tapi kota yang lebih berbudaya, dan sekaligus menghaluskan budi bagi audiens jazz-nya. Salam budaya! (&lt;em&gt;aming aminoedhin, 10 desember 2008&lt;/em&gt;).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8417868439643733524?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8417868439643733524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8417868439643733524&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8417868439643733524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8417868439643733524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/12/jazz-night-surabaya.html' title='jazz night surabaya'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-2014184234882075832</id><published>2008-11-17T11:52:00.011+07:00</published><updated>2008-11-18T12:09:28.713+07:00</updated><title type='text'>ceramah di sastra jawa unesa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MENULIS dan BACA PUISI  ITU GAMPANG*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hari ini, Senin, 17 November 2008 saya ceramah sastra di hadapan mahasiswa sastra Jawa Unesa, selain bicara sastra Indonesia, juga sastra Jawa (termasuk Guritan), pukul 19.00. s.d. 22.00. WIB. bertajuk "Purnama Sastra Unesa Sastra Jawa"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Malam itu hujan turun deras sekali di Kampus Lidah Wetan, diskusi sastra malam nan sepi, dan sunyi. Ternyata tak menyurutkan mahasiswa menghadiri, terbukti ada sekitar 60-an mahasiswa Sastra Jawa - Unesa hadir mengikuti. Diskusi dipandu oleh Keliek Eswe yang Drs. Sugeng Wiyadi. Mereka sempat juga latihan menulis guritan secara spontan. Hasilnya, mengagumkan! Tidak hanya menulis, tapi juga membacanya, dahsyat! Kesetiaan mereka di ranah sastra Jawa, haruslah diacungi dua jempol kanan kiri. Hueeebat dan sukses buat mahasiswa sastra Jawa - Unesa, angkatan 2008-2007, dan sebagian 2006.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menulis Puisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menulis, apa lagi menulis puisi itu sangat gampang? Kenapa? Karena setiap langkah kita,  bisa kita tulis sebagai bahan menulis puisi. Bayangkan saja, perjalanan dari rumah ke kantor atau sekolah, sudah ada banyak hal yang bisa kita tulis untuk puisi. Bisa bicara soal jalan yang berlubang, jalanan macet, indahnya mentari, ketemu wanita cantik, lelaki yang ganteng, pepohonan yang hijau, sawah yang menguning, tebu-tebu dengan bunga putihnya yang meluas, dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt; Seperti yang dikatakan Arswendo Atmowiloto, mengarang itu gampang, maka menulis puisi itu, lebih gampang lagi. Karena hampir semua orang pasti bisa menulis puisi, terlebih ketika sedang jatuh cinta. Pastilah seseorang mudah menumpahkan rasa cintanya tersebut dalam baris-baris, bahkan bait-bait puisi. Percayalah itu pasti!&lt;br /&gt; Kata puisi, menurut teori, adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan baris.&lt;br /&gt; Dalam hal menulis puisi,  berdasarkan pengalaman penulis, seorang penulis puisi haruslah memperhatikan beberapa hal berikut ini:&lt;br /&gt;a. Puisi mengandung unsur keindahan dan kemerduan bunyi, maka diperlukan&lt;br /&gt;pemilihan kata atau diksi yang baik dalam penulisannnya; &lt;br /&gt;b. Sebuah puisi, sebaiknya menggunakan kata-kata dasar dalam penulisannya. Sebab puisi yang baik adalah puisi yang menggunakan sedikit kata, tapi punya banyak makna (multi-interpretable). Untuk itu kata-kata yang dipakai lebih konotatif, bermakna ganda.&lt;br /&gt;c. Sebuah puisi pasti ada pesan (massage) di dalamnya, atau bisa dikatakan sebagai ‘tema puisi’ bisa pesan/tema cinta, moral, religi, kritik sosial, pesan pendidikan, dan banyak lagi. Tapi tidak harus secara jelas/ gamblang diterangkan dalam puisi, tapi sebaiknya disebunyikan/dititipkan pada rangkaian baris dan bait dalam sebuah puisi;&lt;br /&gt;d. Dalam menulis puisi seseorang tidak harus mencari tema/pesan apa yang harus ditulis, karena tema/pesan itu sifatnya abstrak. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana seseorang mau menuliskan apa-apa yang ada dalam obsesi benaknya. Tulis aja, tanpa harus takut bertema apa nanti puisinya.&lt;br /&gt;e. Usahakan menulis dengan tanpa ada rasa beban, mengalir cair saja seperti air dalam sungai. Jadi seseorang menulis puisi itu, tanpa harus memilih tema, tempat dan waktu, dalam menulis. Kapan saja, dan di mana saja bisa menulis puisi. Nah…. ternyata menulis puisi itu gampang sekali. Lantas mengapa kita tidak menulis puisi?  Mari menulis puisi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Baca Puisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Baca puisi, adalah wilayah dalam kategori membaca indah itu, ternyata tidak semudah dilakukan oleh seseorang. Apalagi bagi orang yang awam, dan tak pernah naik panggung. Bagi mereka mungkin sulit, tapi tidak bagi mereka yang sudah terbiasa membacanya. Membaca puisi, selain sebagai jenis membaca indah, juga merupakan salah satu kegiatan apresiasi sastra.&lt;br /&gt;Apresiasi sastra dapat diartikan sebagai usaha pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap karya sastra, sehingga menimbulkan kegairahan terhadap sastra tersebut.    Apresiasi sastra juga dapat menciptakan kenikmatan yang timbul   sebagai   akibat pengenalan dan pemahaman terhadap sastra. Sedangkan salah satu bentuk apresiasi sastra adalah dengan cara membaca puisi. Karena dengan membaca puisi seseorang akan dapat kenal dan paham, serta menimbulkan gairah, serta kenikmatan terhadap perilaku kehidupan seseorang.&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Karena pembaca akan menangkap keindahan, kemerduan bunyi, serta mungkin pesan-pesan moral yang terdapat dalam sastra, sehingga nurani-nya tersentuh, yang pada akhirnya perilaku kehidupan sehari-hari seseorang tersebut akan juga berubah ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk menghasilkan pembacaan puisi yang baik dalam suatu performance art ada beberapa syarat, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;1. pertama yang harus dilakukan seorang pembaca puisi adalah mengetahui lebih dulu   interpretasi: penafsiran dari isi puisi tersebut, baru kemudian membacanya.&lt;br /&gt;2. artikulasi: tekanan kata, yaitu mengucapkan kata secara tepat dan jelas atau pelafalan harus benar;&lt;br /&gt;3. volume : lemah dan kerasnya suara (usahakan suara asli pembaca dan suara tidak dibuat-buat);&lt;br /&gt;4. tempo : pengucapan cepat dan lambatnya suara disesuaikan dengan isi puisi;&lt;br /&gt;5. modulasi : mengubah suara dalam baca puisi;&lt;br /&gt;6. intonasi  : tekanan dan lagu kalimat;&lt;br /&gt;7. teks puisi: dalam baca puisi, seharusnya teks puisi yang dibaca tidak menutup wajah pembaca, dan bahkan jika bisa teks tersebut bisa dijadikan alat/sarana akting.&lt;br /&gt;8. akting : usahakan dalam baca puisi tidak terlalu banyak gerak, sehingga tidak over-acting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain aspek yang telah saya kemukakan di atas, perlu pula seorang pembaca puisi mempunyai penampilan seni (performance-art), artinya seorang pembaca puisi tidak harus bersikap sempurna seperti tentara akan baris, tapi usahakan juga berakting dengan indah, melalui gerak tangan dan kaki, ekspresi muka, dan lain sebagainya. Lantas mau memanfaatkan stage atau panggung yang ada di sekitarnya. &lt;br /&gt; Dalam hal ini biasanya disebut sebagai  teknik menghidupkan suasana atau mood, agar bacanya menjadi intelligible  (yang dapat dimengerti, mantap dan meyakin-kan bagi pendengar/audiens), dan audible (dapat didengar dengan jelas pelafalan bacanya) , dan kemudian isi puisi yang disampaibacakan tersebut bisa ditangkap oleh penonton..&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, tampaknya membaca puisi memang gampang. Tapi sebenarnya tak semudah yang kita omong-bicarakan. Apalagi bagi seorang pemula di dunia panggung atau hiburan, semacam baca puisi yang dihadiri banyak penonton. Ayo kita coba baca puisi berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR&lt;br /&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku bicara apa adanya&lt;br /&gt;Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat&lt;br /&gt;Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap &lt;br /&gt;Ajari aku tidak angkuh &lt;br /&gt;Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh&lt;br /&gt;Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku bicara apa adanya&lt;br /&gt;jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta&lt;br /&gt;jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja&lt;br /&gt;seperti orang-orang dewan di Jakarta&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat &lt;br /&gt;lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani&lt;br /&gt;membuat kata putus benar-benar manusiawi&lt;br /&gt;menjalankan program dengan kendaraan nurani hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku. Ajari aku&lt;br /&gt;Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat&lt;br /&gt;tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut&lt;br /&gt;yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat&lt;br /&gt;menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad&lt;br /&gt;tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya memang boleh berdandan&lt;br /&gt;Bila malam lampu-lampu iklan warna-warni&lt;br /&gt;Siang,  jalanan tertib kendaraan berpolusi&lt;br /&gt;Senja meremang, mentarinya seindah pagi&lt;br /&gt;Di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya&lt;br /&gt;Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan&lt;br /&gt;Kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar&lt;br /&gt;Dan suara rakyat adalah suara kebenaran&lt;br /&gt;Tak terbantahkan. Tak terbantahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar!&lt;br /&gt;     Surabaya, 21 November 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;DI MANA MEREKA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;desa temanku tenggelam sudah&lt;br /&gt;tak ada lagi tanaman hijau &lt;br /&gt;tinggal kini terlihat atap-atap rumah &lt;br /&gt;tampak seperti mengigau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;igauan suaranya perih&lt;br /&gt;atap-atap rumah seakan merintih&lt;br /&gt;dari lumpur yang membuat hancur&lt;br /&gt;hingga beribu penghuninya kabur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;desa temanku tenggelam sudah&lt;br /&gt;aku tak tahu ke mana mereka pindah&lt;br /&gt;      di mana mereka kini sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sidoarjo, 12/2/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;AKU LUPA MENGAJI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim kemarau &lt;br /&gt;rumput-rumput di tanah lapang &lt;br /&gt;mengering. Daun di pepohonan kering &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin terlalu kencang &lt;br /&gt;menerbangkan debu dan layang-layang &lt;br /&gt;layang-layangku nan gagah terbang &lt;br /&gt;diulur panjangnya benang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hati ini jadi riang &lt;br /&gt;bermain layang-layang &lt;br /&gt;hingga aku lupa &lt;br /&gt;belajar mengaji &lt;br /&gt;di mushola&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barangkali aku berdosa &lt;br /&gt;lantas aku berjanji dalam hati &lt;br /&gt;tak mengulangnya di esok hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mojokerto, 1999 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;JENDELA DUNIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almari Bapakku dipenuhi buku &lt;br /&gt;kata Ibu, semua buku-buku itu &lt;br /&gt;adalah jendela dunia &lt;br /&gt;jika aku mau baca &lt;br /&gt;segala ilmu akan kusua &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar, kata Ibu &lt;br /&gt;selepas buku-buku kubaca &lt;br /&gt;dunia tampak ada di sana &lt;br /&gt;ada yang hitam dan putih &lt;br /&gt;ada yang senang dan sedih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kawan! &lt;br /&gt;bacalah buku agar kau &lt;br /&gt;bertemu segala ilmu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca dan bacalah buku &lt;br /&gt;karena buku adalah jendela dunia&lt;br /&gt;sejuta ilmu pasti kau sua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mojokerto, 19/10/1999&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;BERJAMAAH DI PLAZA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata seorang kyai, belajar ngaji&lt;br /&gt;adalah amalan yang patut dipuji&lt;br /&gt;dan sholat berjamaah&lt;br /&gt;dapat pahala berkah&lt;br /&gt;berlipat-lipat jumlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kenapa banyak orang&lt;br /&gt;belajar nyanyi,  belajar tari&lt;br /&gt;dan baca puisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kenapa banyak orang berjamaah&lt;br /&gt;hanya di plaza-plaza&lt;br /&gt;hamburkan uang berjuta-juta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah ini dapat dipuji, dan&lt;br /&gt;adakah plaza menyimpan pahala&lt;br /&gt;berlipat ganda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah… barangkali saja, plaza-plaza&lt;br /&gt;telah jadi berhala baru&lt;br /&gt;yang dipoles gincu&lt;br /&gt;begitu indah&lt;br /&gt;dan banyak orang ikut berjamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Surabaya, 1992&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membaca puisi, yang merupakan cabang seni membaca indah, memang tidak mudah,  yang pasti diperlukan latihan-latihan yang lebih intens lagi. Pembaca yang baik, adalah yang sudah terbiasa di atas pentas, sehingga tidak ada lagi kata demam panggung. &lt;br /&gt;Terakhir, bahwa menulis dan membaca puisi itu ternyata gampang, lantas mengapa kita tak mencoba menulis puisi, kemudian membacakannya sendiri? Ayo kita coba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desaku Canggu, 10 November 2008&lt;br /&gt;M. Amir Tohar, lebih banyak dikenal dengan nama &lt;em&gt;aming aminoedhin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminoedhin, Aming. 2000. Apresiasi Sastra Lewat Baca Puisi, Surabaya: Jurnal Gentengkali&lt;br /&gt;Endraswara, Suwardi,. 2002. Metode Pengajaran Apresiasi Sastra, Yogyakarta:CV &lt;br /&gt;Radhita Buana&lt;br /&gt;Nadeak, Wilson. 1985. Pengajaran Apresiasi Puisi, Bandung: CV Sinar Baru&lt;br /&gt;Poerwadarminta, WJS. 1976.  Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PN Balai &lt;br /&gt;Pustaka&lt;br /&gt;Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra, Jakarta: PT Gramedia&lt;br /&gt;Tjahjono, Tengsoe. 2000. Membidik Bumi Puisi, Surabaya: Penerbit Sanggar Kalimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIODATA PENULIS:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;nama aslinya: mohammad amir tohar &lt;br /&gt;lahir di ngawi, 22 desember 1957                               &lt;br /&gt;alumni fakultas sastra, universitas sebelas maret surakarta, jurusan bahasa dan sastra indonesia. aktif kegiatan teater, dan pernah menyandang predikat “aktor terbaik” festival drama se jatim tahun 1983 dari teater persada ngawi, pimpinan mh. iskan. pernah menjabat biro sastra – dewan kesenian surabaya. ketua hp-3-n  (himpunan pengarang, penulis, dan penyair nusantara) jatim, koordinator fass (forum apresiasi sastra surabaya), dan penggagas kegiatan malam sastra surabaya atau “malsasa” di dewan kesenian surabaya. punya predikat ‘presiden penyair jatim’ dijuluki oleh profesor doktor suripan sadi hutomo, almarhum. ikut temu penyair jateng di semarang (1983), temu penyair indonesia di taman ismail marzuki jakarta (1987).dan baca puisi di berbagai kota di jawa timur. karya puisinya banyak dimuat di koran dan majalah lokal dan ibu kota, antara lain: Surabaya Post, Berita Buana, Republika, Singgalang, Sriwijaya Post, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post, dan banyak lagi. sedang majalah yang memuat puisinya antara lain: Zaman,Horison, dan Basis. kumpulan puisinya bersama rekan penyair lain: Husst, Nyenyet, Wajah Bertiga,Reportase Sunyi, Pagelaran, Malsasa ‘92, ‘94, ‘96, 2000; Surabaya Kotaku, Memo Putih, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Semangat Tanjung Perak, Kabar Saka Bendul Mrisi, Drona Gugat, dan banyak lagi. Kumpulan puisinya sendiri: Berjamaah di Plaza, Kereta Puisi, Tanpa Mripat, Mataku Mata Ikan, dan Sketsa Malam. motivator komunitas sastra: forasamo (forum apresiasi sastra mojokerto), (ars) alam ruang sastra sidoarjo. ketua forum sastra bersama surabaya (fsbs),  dan bekerja di balai bahasa surabaya di sidoarjo.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;alamat: puri mojobaru az-23 canggu — kecamatan jetis – mojokerto 61352 telpon (0321) 361934 atau alamat email: amri.mira@gmail.com atau bisa berkunjung di: amingaminoedhin.blogspot.com dan malsasaakbar.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-2014184234882075832?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/2014184234882075832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=2014184234882075832&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2014184234882075832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2014184234882075832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/11/ceramah-sastra-di-unesa.html' title='ceramah di sastra jawa unesa'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-2887048749262502313</id><published>2008-11-17T10:52:00.006+07:00</published><updated>2008-11-18T12:11:46.515+07:00</updated><title type='text'>sosialisasi hasil kongres BI IX</title><content type='html'>&lt;strong&gt;BACA PUISI DI HOTEL UTAMI SURABAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin,  10 November 2008 lalu, bertempat di Hotel Utami, Jalan Bandara Juanda, Surabaya;  ada acara "Sosialisasi Hasil Kongres Bahasa Indonesia IX" yang diselenggarakan di Jakarta beberapa hari sebelumnya.  Acara itu diselenggarakan oleh Biro Mental Spiritual, Pemda Tingkat I Provinsi Jawa Timur. Tampak hadir pada acara tersebut: Asisten I Pemda Tingkat I Jawa Timur, yang sekaligus membuka kegiatan yang berlangsung 2 hari tersebut. Dalam kegiatan ini, tampil sebagai pembicara: Dr. Dendy Sugono (Kepala Pusat Bahasa), Dr. Ayu Sutarto (Dosen Sastra Unej), Drs. Amir Mahmud, M.Pd. (Ka. BBS), dan Mashuri, S.S. (BBS), serta seorang guru dari Tuban.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, saya diundang sebagai sastrawan, dan sempat membacakan dua judul puisi, masing-masing: Surabaya Ajari Aku Tentang Benar (versi &lt;em&gt;Sumpah Pemuda&lt;/em&gt;), dan Tentang Pahlawan Bangsa. &lt;br /&gt;Ternyata, puisi yang saya bacakan cukup mendapatkan respons para hadirin, yang kebanyakan dari kalangan guru tersebut. Mereka banyak yang minta fotokopiannya, dan kemudian saya menyuruh Panitia untuk menggandakan dan membagikan ke seluruh peserta. Bahkan Asisten I Pemda yang membuka acara itu, juga minta kopiannya. &lt;br /&gt;Ada juga seorang guru yang protes, "Puisinya kok beda?"&lt;br /&gt;Kemudian saya jawab, "Bahwa puisi ini adalah puisi yang versi Sumpah Pemuda!"&lt;br /&gt;bahkan sebelum saya bacakan puisi tersebut, saya telah mengawali dengan menyebutkan sebagai puisi yang berversi "Sumpah Pemuda". Jadi memang ada perubahan bait-baitnya.&lt;br /&gt;Inilah dua judul puisi yang saya bacakan pada saat itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;em&gt;* versi Sumpah Pemuda&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku bicara apa adanya&lt;br /&gt;Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat&lt;br /&gt;Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap &lt;br /&gt;Ajari aku tidak angkuh &lt;br /&gt;Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh&lt;br /&gt;Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku bicara apa adanya&lt;br /&gt;jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta&lt;br /&gt;jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja&lt;br /&gt;seperti orang-orang dewan di Jakarta&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat &lt;br /&gt;lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani&lt;br /&gt;membuat kata putus benar-benar manusiawi&lt;br /&gt;menjalankan program dengan kendaraan nurani hati&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku. Ajari aku&lt;br /&gt;Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat&lt;br /&gt;tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut&lt;br /&gt;yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat&lt;br /&gt;menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad&lt;br /&gt;tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku pandai berbahasa benar &lt;br /&gt;bahasa Indonesia, menulis tidak keinggris-inggrisan &lt;br /&gt;namun berpijak pada bahasa “Sumpah Pemuda” &lt;br /&gt;berbahasa satu bahasa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku pandai berbahasa benar&lt;br /&gt;Tidak menulis Pasar Wonokromo jadi Darmo Trade Centre&lt;br /&gt;Tidak menulis Pusat Pertokoan Wijaya jadi BG Junction &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku mencintai negeriku negeri Indonesia&lt;br /&gt;Berbahasa satu bahasa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surabaya, 10 November 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TENTANG PAHLAWAN BANGSA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;karya: aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentang pahlawan bangsa, kata banyak orang &lt;br /&gt;bertanah air satu tanah air Indonesia kini telah mulai luntur&lt;br /&gt;berbangsa satu bangsa Indonesia kini sudah kian hablur&lt;br /&gt;tapi berbahasa satu bahasa Indonesia tetap manjur&lt;br /&gt;persatukan negeri indah ini jadi gemah ripah loh jinawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pahlawan kita telah ajarkan pesan&lt;br /&gt;berbekal yakin pasti berpayung iman nan suci&lt;br /&gt;bekerja sungguh sepenuh hati, kelak&lt;br /&gt;segala damba segala cita kan tergapai nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pahlawan bangsa bukan hanya yang angkat senjata&lt;br /&gt;melawan yang serakah mengusir penjajah, tapi&lt;br /&gt;pasukan kuning nan setia bekerja, dari&lt;br /&gt;parak pagi hingga malam telah sepi hening&lt;br /&gt;para pelajar menempuh belajar tanpa keluh, dan&lt;br /&gt;para guru mengajar dengan rasa ikhlasnya&lt;br /&gt;termasuk pahlawan bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;em&gt;Surabaya, 28 Oktober 2007&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang dua hari itu, sayang saya tak bisa mengikuti seluruhnya, karena ada tugas jadi juri lomba baca puisi di Pekan Seni Pelajar di Surabaya. Sebenarnya ingin rasanya berbincang panjang sama mereka para guru yang kelak masuk surga itu. Setidaknya saya ingin bicara banyak tentang sastra, tentang sekolah dengan segala aktivitas sastranya. Salam buat semua guru yang ikut acara itu. Salam sastra bersama rinduku. Buat semua guru, silakan komentar atas blog ini. Terima kasih sebelumnya. Wasalam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sidoarjo, 17 November 2008&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-2887048749262502313?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/2887048749262502313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=2887048749262502313&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2887048749262502313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2887048749262502313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/11/sosialisasi-kongres-bahasa-indonesia.html' title='sosialisasi hasil kongres BI IX'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8508360697920946029</id><published>2008-10-29T10:27:00.009+07:00</published><updated>2008-10-29T15:26:53.146+07:00</updated><title type='text'>bulan oktober bulan bahasa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BULAN OKTOBER BULAN BAHASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti kita ketahui bersama, bahwa pada bulan Oktober adalah bulannya para pemuda. Karena pada 28 Okotber 1928 yang lalu, para pemuda kita telah bersumpah: bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, danmenjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.&lt;br /&gt; Sejalan dengan bulan Oktober merupakan bulan yang selalu mengingatkan kita untuk berbahasa satu, bahasa Indonesia, dan sekaligus mengajak untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar,  maka bulan Oktober juga punya sebutan, sebagai  “Bulan Oktober Bulan Bahasa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bahasa Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dipergunakan oleh bangsa Indonesia, sebagai bahasa persatuan, bahasa Nasional, dan bahasa Negara.&lt;br /&gt;Melalui bahasa Indonesia ini pulalah, kita (para suku bangsa yang begitu banyak di Indonesia), bisa saling berkomunikasi secara mudah. Bahkan melalui bahasa Indonesia ini pulalah, persatuan antarsuku bangsa di Indonesia bisa terjalin dengan indah. Bahasa Indonesia juga diajarkan ke semua siswa, di semua jenjang pendidikan di Indonesia, baik dari tingkat Sekolah Dasar, Menengah, hingga ke tingkat mahasiswa.&lt;br /&gt; Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang merupakan lingua-franca (bahasa pergaulan) di zaman pejajahan (1920-1945-an) di daratan semenanjung Malaka, Sumatra, dan Jawa. Untuk kemudian, dalam UUD 1945 tahun 1945 ditetapkan sebagai bahasa Nasional, dan bahasa Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perkembangan Bahasa Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Sebagai warga negara Indonesia, tentulah kita semua akan menghargai dan menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia. Karena bahasa ini, juga ditetapkan sebagai bahasa Nasional dan bahasa Negara.&lt;br /&gt; Akan tetapi pada masa sekarang ini, di era reformasi, banyak warga negara Indonesia, sudah tidak begitu peduli dengan bahasanya sendiri, bahasa Indonesia. Di mana letak ketidakpeduliannya?&lt;br /&gt; Secara gampang dan gamblang kita bisa menyebut, anak-anak muda sekarang lebih banyak berkata-kata (baca: bercakap-cakap) dengan bahasa ala Jakarta-an. Tanpa merasa bersalah, dan merasa lebih mentereng berbicara.&lt;br /&gt;Pada sisi lain, apabila kita memasuki wilayah kota Surabaya, dari Selatan ke Utara, kita akan menemukan nama-nama gedung dan plaza yang tidak mencerminkan kota di Indonesia. Lihat saja sejak: CITO (City of Tomorrow), Jatim Expo, Royal Plaza, Dramo Trade Centre,  Hyatt Hotel, Tunjungan Plaza, BRI Tower, BG Junction, JW Marriot Hotel, Sheraton Hotel, Garden Hotel, Citraland, dan seabreg nama-nama yang semuanya menggunakan bahasa Inggris. Belum lagi ada nama-nama Kentucky Fried Chicken, Mc. Donald, Texas Fried Chicken, dan banyak lagi lainnya.&lt;br /&gt; Padahal nama-nama itu terpampang dengan besar dan mencolok di depan mata kita, saat seseorang melewati jalan-jalan protokol itu.&lt;br /&gt; Memasuki jalan-jalan protokol Surabaya, kita seakan tidak lagi masuk kota  di Indonesia. Tapi, sepertinya kita berda di luar negeri, Singapore atau Kuala Lumpur.&lt;br /&gt; Untuk melestarikan bahasa Indonesia dari kepunahan, maka karya sastra merupakan salah satu aspek yang bisa mempertahankan keabadian bahasa Indonesia. Karena sastra, ditulis dengan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;        Menyemarakkan acara tersebut, saya juga membacakan dua judul puisi "Surabaya Ajari Aku Tentang Benar" dan "Berjamaah di Plaza".&lt;br /&gt; Bulan Oktober, konon disebut juga sebagai “Bulan Bahasa,” lantas bagaimana kita ikut memperingatinya? Menjaga dan melestarikannya, atau malah seperti orang-orang kaya yang membuat nama-nama gedung menjulang dengan bahasa Inggris itu? Terserah!&lt;br /&gt; Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimanakah kita (warga dan bangsa Indonesia, utamanya  pihak Pemerintah) dalam menyikapi persoalan ini?&lt;br /&gt; Sebuah tanya, yang barangkali kita bersama-sama berdiskusi! Mari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mojokerto, 28 Oktober 2008&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;em&gt;Aming Aminoedhin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyair!&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1. bahan ceramah dan disuksi memperingati "Hari Sumpah Pemuda" 28 Oktober 2008 di UNIPA Ngageldadi, Surabaya, kerjasama UNIPA dan PRO 2 FM 95,2 - Life Style &amp; Entertainment.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;2. Selain Aming Aminoedhin,  ada dua pembicara lainnya dari dosen UNIPA, Pak Sunu dan Taufiq. Audiens yang hadir mahasiswa, guru, dan para dosen UNIPA Surabaya. Kegiatan ini kerja sama UNIPA dengan PRO 2 FM 95,2 RRI Surabaya, yang akan disiarkan tunda, pada Minggu, 2 November 2008 pukul 20.00.-21.00. WIB.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8508360697920946029?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8508360697920946029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8508360697920946029&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8508360697920946029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8508360697920946029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/10/bulan-oktober-bulan-bahasa.html' title='bulan oktober bulan bahasa'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-6309062567533686995</id><published>2008-10-22T12:51:00.002+07:00</published><updated>2008-10-22T12:59:45.698+07:00</updated><title type='text'>mengapa tak menulis puisi?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENGAPA TAK MENULIS PUISI?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;oleh: aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Banyak rekan yang kebetulan ketemu saya bertanya, “Bagaimana caranya menulis puisi yang baik?” Pertanyaan yang dilontarkan itu, terkadang membuat saya agak gagu (mungkin) ragu, untuk menjawabnya dengan pasti. Di samping sastra sendiri, utamanya (puisi) merupakan karya sastra yang memuat ambiguitas yang tinggi. Artinya, bahwa puisi yang baik, adalah puisi yang mempunyai makna ganda. Sedikit kata, tapi banyak memuat makna-arti.&lt;br /&gt; Mereka (rekan-rekan) itu, bertanya kepada saya, karena menganggap saya ini adalah penyair (baca pula: presidennya penyair Jatim), yang mana setiap kata bisa dijadikan puisi.&lt;br /&gt; Barangkali itu benar, tapi bisa juga tidak! Sebab, tidak selamanya kata-kata bisa dijadikan puisi di tangan seorang penyair.&lt;br /&gt; Saya sendiri, jika boleh dikatakan penyair (bahkan presidennya penyair) merasa kelabakan jika harus ditanya soal yang satu ini. Soalnya, menterjemah-kan atau katakanlah menerangjelaskannya memang kelewat susah! Susahnya, adalah bagaimana saya harus memulainya? Dari soal kata, membaca, atau bahasa? Soal tema, diksi, intuisi, atau dari soal makna ganda puisi.&lt;br /&gt; Selama ini, saya paling banter akan mengatakan kepada mereka, menulislah apa saja tentang kehidupan ini. Soal cinta, angina, kota atau cuaca yang dingin. Lantas bisa bicara soal laut dan langit, atau matahari dan rembulan. Bisa juga bicara tentang siang yang panas atau malam yang malas. Tentang dedaunan, sungai, dan alam pegunungan nan indah nian. Menulis tentang lapar, para pengemis di pasar, atau menulis soal korupsi yang banyak melanda negeri ini. &lt;br /&gt;Pokoknya, menjawab tanya rekan-rekan tersebut, saya tandaskan untuk cobalah menulis apa saja yang ada di sekitar kita. Ibu, anak, istri, dan anak. Bahkan jika mungkin menulis tentang babu kita, kakek dan nenek, atau tetangga kita.&lt;br /&gt; Seorang penulis, kata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;WS Rendra&lt;/span&gt;, haruslah bisa mendalami elemen dasar kehidupan itu sendiri. Sedangkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Derek Walcott&lt;/span&gt;, penerima Hadiah Nobel Sastra 1992, mengatakan bahwa penulis puisi adalah adalah orang yang bergelut dengan lautan emosi.&lt;br /&gt; Dari referensi di atas, maka relevanlah bila saya anjurkan rekan-rekan menulis apa saja yang ada di sekitar mereka sendiri. Soalnya emosi mereka pasti masuk ke dalam hasil karya tulisan puisinya.&lt;br /&gt; Berangkat dari ini semua, maka menulis puisi yang baik, saat seseorang tersebut telah menulis apa saja yang terasa mendesak hati atau emosi penulisnya. Desakan hati (emosi) disebut pula sebagai bisikan hati, dan kemudian secara akademis dinyatakan sebagai intuisi ini,&lt;br /&gt;Yang seharusnya ditulis dalam baris-baris puisi. Dalam menuliskan puisi, saya anjurkan untuk menggunakan bahasa secara minimal, atau sedikit kata, tapi punya banyak makna. Lebih jelas lagi, usahakanlah menulis puisi dengan menggunakan kata-kata ‘dasar’ dalam menuangkan-nya. Bukan menggunakan kata-kata yang sudah merupakan kata jadian,  atau kata dasar yang telah mendapatkan imbuhan, baik awalan maupun akhiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menulis Puisi Bersahaja Saja&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seorang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;William Wordsworth&lt;/span&gt; (penyair Inggris, hidup 1770-1850) merasa yakin akan martabat manusia, terutama manusia dari golongan bawah/rendahan. Karena itu, subjek-subjek dalam tulisan puisinya ia pilih tentang kehidupan rakyat jelata, dan bersahaja. Lantas ditulis, dan dinyatakan dalam bahasa yang bersahaja pula. Maka lewat karya puisinya yang bersahaja pulalah, William Wordsworth, menjadi salah tokoh penyair pada zamannya.&lt;br /&gt; Jadi menulis puisi itu memang diperlukan kebersahajaan dan kejujuran, serta ketulusan hati oleh penulisnya. Tidak perlu menulis puisi dengan dipaksakan, apa lagi mengada-ada yang tidak ada. Ini akan menjadikan karya puisi yang ditulis akan terasa tawar dan miskin makna.&lt;br /&gt; Pertanyaan lain yang muncul setelah itu adalah, “Apa hanya itu saja, seseorang bisa menulis puisi dengan baik?”&lt;br /&gt; Jawabnya adalah, “Tidak!&lt;br /&gt; Karena masih banyak perangkat lain yang diperlukan dalam menulis puisi yang baik. Antara lain soal diksi, kemerduan bunyi, kekayaan kosa kata, kekayaan batin dari penulisnya. Agar kaya semua itu, maka perlu pula banyak membaca, baik puisi maupun prosa. Lantas banyak menonton, baik teater, tari, atau pameran seni rupa. Lantas ada pula syarat lain, di antaranya: tipografi penulisan, pesan yang dikandung isi puisi, dan yang terpenting adalah keuniversalan objek yang ditulisnya.&lt;br /&gt; Syarat lain menulis puisi yang baik, adalah puisinya mengandung nilai poly-interpretable (bermakna ganda). Puisinya juga harus gemerlapan bagai intan. Indah bahasannya, dan sekaligus bisa mendedah rasa setiap pembacanya. Puisi yang dibaca hari dan esok, bisa mempunyai kandungan arti yang berbeda.&lt;br /&gt; Untuk itulah, menulislah puisi apa saja, dan sebebas-bebasnya sesuai intuisi yang ada dalam diri penulisnya. Menulislah dengan kebersahajaan tema dan bahasanya; tanpa melupakan pemilihan diksi yang baik, guna menjaga kemerduan bunyi puisi yang ditulisnya, serta masukkan pulan pesan moral atau apa saja bagi pembaca puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengalaman Menulis Puisi&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal menulis puisi,  berdasarkan pengalaman penulis, seorang penulis puisi haruslah memperhatikan beberapa hal berikut ini:&lt;br /&gt;a. Puisi mengandung unsur keindahan dan kemerduan bunyi, maka diperlukan pemilihan kata atau diksi yang baik dalam penulisannnya; &lt;br /&gt;b. Sebuah puisi, sebaiknya menggunakan kata-kata dasar dalam penulisannya. Sebab puisi yang baik adalah puisi yang menggunakan sedikit kata, tapi punya banyak makna (multi-interpretable). Untuk itu kata-kata yang dipakai lebih konotatif, bermakna ganda.&lt;br /&gt;c. Sebuah puisi pasti ada pesan (massage) di dalamnya, atau bisa dikatakan sebagai ‘tema puisi’ bisa pesan/tema cinta, moral, religi, kritik sosial, pesan pendidikan, dan banyak lagi. Tapi tidak harus secara jelas/ gamblang diterangkan dalam puisi, tapi sebaiknya disebunyikan/dititipkan pada rangkaian baris dan bait dalam sebuah puisi;&lt;br /&gt;d. Dalam menulis puisi seseorang tidak harus mencari tema/pesan apa yang harus ditulis, karena tema/pesan itu sifatnya abstrak. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana seseorang mau menuliskan apa-apa yang ada dalam obsesi benaknya. Tulis aja, tanpa harus takut bertema apa nanti puisinya.&lt;br /&gt;e. Usahakan menulis dengan tanpa ada rasa beban, mengalir cair saja seperti air dalam sungai. Jadi seseorang menulis puisi itu, tanpa harus memilih tema, tempat dan waktu, dalam menulis. Kapan saja, dan di mana saja bisa menulis puisi.&lt;br /&gt;Nah…. ternyata menulis puisi itu gampang sekali. Lantas mengapa kita tidak&lt;br /&gt;menulis puisi?  Mari menulis puisi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sidoarjo,  22 Oktober 2008&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-6309062567533686995?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/6309062567533686995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=6309062567533686995&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6309062567533686995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6309062567533686995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/10/mengapa-tak-menulis-puisi_22.html' title='mengapa tak menulis puisi?'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-1327895444367658318</id><published>2008-10-21T13:02:00.010+07:00</published><updated>2008-11-06T12:55:41.428+07:00</updated><title type='text'>Nyanyian Leo Kristi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;TEPI SURABAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;syair nyanyian leo kristi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa sepi.... seorang nenek.....&lt;br /&gt;sendiri&lt;br /&gt;di tepi.... lalu coba menyapa.... &lt;br /&gt;lewatnya hari, kota lama ini &lt;br /&gt;terlewat tak berakar kaca-kaca miskin jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tepi-tepimu Surabaya&lt;br /&gt;di mana kita mulai semua ini&lt;br /&gt;gema nyanyian pahlawan &lt;br /&gt;kini jadi nyanyian wayang &lt;br /&gt;tepi-tepimu oh.. Surabaya&lt;br /&gt;gelap turun bagi jalan perempuan tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nenek bukalah pintu yang kuketuk&lt;br /&gt;tapi tidak dengan air matamu&lt;br /&gt;hidup selalu berubah lewat pasang surut Kalimas &lt;br /&gt;sinar lentera dalam kabut tipis &lt;br /&gt;belum juga mati menjelang pagi&lt;br /&gt;sinar lentera berkedip-kedip&lt;br /&gt;tidak juga mati menjelang pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;em&gt;ditulis kembali: aming aminoedhin&lt;br /&gt;              20 Oktober 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;syair nyanyian leo kristi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;engkau keras dan sombong&lt;br /&gt;engkau kasar dan angkuh&lt;br /&gt;tatapan penuh nafsu&lt;br /&gt;keringatku bercucuran di deretan rel-rel&lt;br /&gt;keringatku bercucuran di deretan bordil&lt;br /&gt;keringatku bercucuran di deretan palka&lt;br /&gt;keringatku bercucuran di bordes trem-trem &lt;br /&gt;kota!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika kau hadap matahari senja&lt;br /&gt;keringatku sirna oleh desir anginmu&lt;br /&gt;Surabaya …… Surabaya ……. Surabaya…….&lt;br /&gt;aku cinta kau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hey bangun dan berdiri &lt;br /&gt;nyanyikan tidurmu matahari&lt;br /&gt;Surabaya …….. oh.. Surabaya…… oh.. Surabaya……&lt;br /&gt;Surabaya …….. oh.. Surabaya…… oh.. Surabaya……&lt;br /&gt;hey bangun dan berdiri&lt;br /&gt;nyanyikan tidurmu matahari ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; ditulis kembali: aming aminoedhin&lt;br /&gt;              20 Oktober 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;OH… SURABAYA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; syair nyanyian leo Kristi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengar tuter dan tuter &lt;br /&gt;mesin-mesin berbunyi riuh-riuh&lt;br /&gt;roda-roda berputar&lt;br /&gt;dari pagi ke pagi&lt;br /&gt;tiada pernah berhenti&lt;br /&gt;tiada pernah berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapkan ransel, gitar dan tenda&lt;br /&gt;ke luar kota pergi bersama&lt;br /&gt;tinggalkan asap kotor &lt;br /&gt;yang membubung tinggi ke udara&lt;br /&gt;kotamu oh……Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh…. Surabaya……oh… Surabaya….. oh… Surabaya&lt;br /&gt;aku dibesarkan riang&lt;br /&gt;tempatku dibesarkan senang oh… Surabaya&lt;br /&gt;tata…..ta…ta……Tata…..ta….ta…..Tata…. ta…ta….oh…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulihat surya di timur&lt;br /&gt;burung-burung bernyanyi riang….riang…..&lt;br /&gt;bangau terbang berarak &lt;br /&gt;pucuk Randu merekah &lt;br /&gt;awal musim panas tiba &lt;br /&gt;awal musim panas tiba&lt;br /&gt;Ka…ka….ka…..ka….ka…..ka…..ka ..…&lt;br /&gt;Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...&lt;br /&gt;Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...&lt;br /&gt;Ka..ka...ka...ka..ka..ka..ka...&lt;br /&gt;Oh…ye…..oh….ye……oh...ye....!!!&lt;br /&gt;Oh..ye..oh..ye..oh...ye....!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;ditulis kembali: aming aminoedhin&lt;br /&gt;              20 Oktober 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SURABAYA BERNYANYI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyanyian leo Kristi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lek....! bulannya tunggu lek!&lt;br /&gt;di sisi bunga-bunga enceng&lt;br /&gt;Lek....! bulannya tunggu lek!&lt;br /&gt;di sisi bunga-bunga enceng&lt;br /&gt;kampung kemesraan lek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung-burung kecil selesaikan sarang&lt;br /&gt;Di pucuk –pucuk tangkai ilalang&lt;br /&gt;Aha..... haa.....&lt;br /&gt;Duka... duka istri dalam semalam&lt;br /&gt;Cet...cet... cowet hingga pagi datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana mereka pergi&lt;br /&gt;Kembangkan sayap-sayap kecil dan sendiri&lt;br /&gt;Semangat dan rasa terus mengalir &lt;br /&gt;Semangat dan rasa terus mengalir jauh.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jongkok... pasar ...tiga kartuku berjajar&lt;br /&gt;Nyari aku pada dipilih&lt;br /&gt;Dengan segala tipumu&lt;br /&gt;Anak manusia yang semakin jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembok-tembok kepala&lt;br /&gt;Tembok-tembok telinga&lt;br /&gt;Tembok-tembok mata memandang&lt;br /&gt;Malam.............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat jalan layang&lt;br /&gt;Lampu-lampu neon jalanan&lt;br /&gt;Lampu-lampu bintang dan bulan &lt;br /&gt;Lampu-lampu pesawat terbang&lt;br /&gt;Malam........!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat jalan layang&lt;br /&gt;Tembok-tembok kepala&lt;br /&gt;Tembok-tembok telinga&lt;br /&gt;Tembok-tembok mata memandang&lt;br /&gt;Malam.............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintas jalan layang&lt;br /&gt;Di mana terbang lepas... derita....&lt;br /&gt;Lintas jalan layang&lt;br /&gt;Tote lete ......Tote lete..........da...da... litata....&lt;br /&gt;Tote lete ......Tote lete.......da...da....litata.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat dan rasa &lt;br /&gt;Terus mengalir &lt;br /&gt;Terus mengalir jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O...ooo....oooo....oooo....oooo!!!&lt;br /&gt;O....ooo....oooo....oooo....oooo!!! &lt;br /&gt;Anak-anak senyum dan bernyanyi &lt;br /&gt;Di bawah pandan dan duri&lt;br /&gt;Tatap hidup dan mati&lt;br /&gt;Di hari kampung kemesraan&lt;br /&gt;Lintas jalan layang ke taman Walikota&lt;br /&gt;Tatap hidup dan mati.... berani!&lt;br /&gt;Surabayaku bernyanyi.....bernyanyi&lt;br /&gt;Tatap hidup dan mati.... berani!&lt;br /&gt;Surabayaku bernyanyi ..bernyanyi&lt;br /&gt;O.....leya.........leyo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ditulis kembali: aming aminoedhin&lt;br /&gt;              22 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SOLUS AEGROTI SUPREMA LEX EST&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"penderita atau pasien adalah yang utama"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;syair nyanyian leo kristi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lilin putih di tepi taman biru&lt;br /&gt;gedung putih luas... tenang..... damai....&lt;br /&gt;serasa tak.... lagi ada.... kota dan perang &lt;br /&gt;karena saatlah dekat..... jalan..... Tuhan&lt;br /&gt;solus aegroti suprema lexest&lt;br /&gt;dilorong pedestrian tunduk melangkah&lt;br /&gt;lorong pedestrian basah airmata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serasa tak... lagi ada.... kota dan perang&lt;br /&gt;karena saatlah dekat... jalan....Tuhan&lt;br /&gt;solus aegroti suprema lexest&lt;br /&gt;lorong pedestrian tunduk melangkah&lt;br /&gt;lorong pedestrian basah airmata&lt;br /&gt;solus aegroti suprema lexest&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis lagi: aming aminoedhin&lt;br /&gt;        24 oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEMORIAL SUDIRMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;syair nyanyian leo kristi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bawah sorot lampu taman &lt;br /&gt;engkau masih saja di situ adiek &lt;br /&gt;tak ada selimut engkau tertidur sayang&lt;br /&gt;berbantal tangan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedan-sedan lewat &lt;br /&gt;tak ganggu nyenyak tidurmu &lt;br /&gt;keroncong kecil di tanganmu &lt;br /&gt;hati besar di senyummu &lt;br /&gt;senyum pahit di sekelilingmu &lt;br /&gt;senyum manis di hatimu &lt;br /&gt;hu.......hu......hu...... &lt;br /&gt;hu........hu......hu....... &lt;br /&gt;adiek nyanyikan aku satu lagu &lt;br /&gt;kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tegak bayang-bayang berpedang &lt;br /&gt;bungkukkan badan membelai rambutmu &lt;br /&gt;mengusap wajah lembut kumal &lt;br /&gt;seraya berbisik, “tabahlah hatimu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak sudirman tertidur di bawah telapak kakimu&lt;br /&gt;anak sudirman tertidur di bawah telapak kakimu&lt;br /&gt;o....betapa panjangnya hari.... &lt;br /&gt;hari ini dan hari esok kan tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adiek nyanyikan aku satu lagu&lt;br /&gt;bara hati..........!! bara hati..........!!!&lt;br /&gt;bara hati..........!! bara hati .........!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ditulis kembali: aming aminoedhin&lt;br /&gt;     24 oktober 2006&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-1327895444367658318?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/1327895444367658318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=1327895444367658318&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1327895444367658318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1327895444367658318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/10/nyanyian-leo-kristi.html' title='Nyanyian Leo Kristi'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-6980543469560027143</id><published>2008-10-10T13:11:00.008+07:00</published><updated>2008-11-18T10:16:53.673+07:00</updated><title type='text'>tadarus puisi di AREK TEVE</title><content type='html'>&lt;em&gt;tadarus puisi penyair dan penggurit&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;di&lt;strong&gt;&lt;strong&gt; “AREK TEVE” SURABAYA&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghujung bulan Ramadhan 1429-H lalu, saya rekaman tadarus baca puisi dan guritan bersama rekan-rekan penyair dan penggurit Surabaya, dan Jawa Timur. Mereka antara lain: M. Shoim Anwar, Aming Aminoedhin, Suharmono Kasijun, Bonari Nabonenar, AF Tuasikal, R. Giryadi, Budi Palopo, Widodo Basuki, Suko Widodo (Dosen Unair), Priyo Budi Santoso (anggota DPR-RI), dan Imung Mulyanto (yang jadi juragane Arek Teve).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ide Tadarus Puisi Bersama Istri&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ide tentang “Tadarus Puisi” ini, berawal saat saya bersama istri berbincang tentang acara “Para Kyai Baca Puisi” yang pernah saya gelar di Festival Seni Surabaya 2006 lalu. Kegiatan itu, banyak mendapat respons positif dari masyarakat. Penontonnya pun saat itu, meluber memenuhi Gedung Balai Pemuda Surabaya. Lantas, secara iseng saya punya ide buat acara “Tadarus Puisi” di televisi. &lt;br /&gt;“Mengapa tidak?” tanya istri saya.&lt;br /&gt;Lantas ide itu saya tulis dalam pesan singkat (sms) ke &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imung Mulyanto&lt;/span&gt;, yang punya Arek Teve. Ternyata jawaban yang saya terima adalah masih didiskusikan dengan awaknya.&lt;br /&gt;Nah... pada penghujung Ramadhan lalu, saya baru mendapat sms dari Sasetyo Wilutomo (awaknya Arek Teve), guna merealisasikan acara “Tadarus Puisi” itu dengan mengadakan rekaman.&lt;br /&gt;Saya pun agak kelabakan, guna mengkontaks rekan-rekan penyair dan penggurit. Beberapa nama, antara lain: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhudiat, Ida Nurul Chasanah, Adi Setyowadi, R. Giryadi, AF Tuasikal, M. Shoim Anwar, Budi Palopo, Widodo Basuki&lt;/span&gt;, dan kawan-kawan lain; ternyata tidak bisa ikut tampil rekaman. Mereka pada sudah pulang, alias mudik ke kampungnya. Diat, pas ngisi pengajian; Ida telah mudik ke Tuban, dan Adi pulang ke Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tetap Rekaman dan Tetap Tayang&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya beberapa nama penyair dan penggurit, rekaman itu terap jadi dilaksanakan. Bersama rekan-rekan penyair dan penggurit.&lt;br /&gt;Rekaman dimulai sejak lepas tarawih, hingga sahur hampir habis, alias imsak. Tepatnya, pukul 20.30. hingga 03.30 WIB. tanggal 27 September 2008 lalu. Tak hanya baca puisi dan gurit, tapi juga ada tampilan Kelompok Penyanyi Jalanan Surabaya, pimpinan Bokir Surogenggong itu.&lt;br /&gt;Sedangkan dialog pembahasannya oleh: Prof. dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. dari Unesa Surabaya.&lt;br /&gt;Acara ini direkam di halaman depan kantornya AREK Teve, tepatnya Rich Palace, Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Barangkali cukup menarik dalam acara rekaman ini, lantaran yang hadir di saat rekaman itu: ada Wawali Surabaya, Arief Affandi, dan ada juga Gus Ipul yang calon wakil gubernur Jatim itu.&lt;br /&gt;Beberapa puisi, gurit dan lagu direkam yang kemudian ditayang-kan dalam acara bertajuk “Tadarus Puisi”, tanggal 2, 3, dan 4 Oktober 2008. lalu. Ada yang menarik, sebab acara bertajuk “Tadarus Puisi” yang seharusnya tayang sewaktu masih Ramadhan, harus tayang usai lebaran. Ini lantaran harus melalui perjalanan editan-editan dari para awaknya AREK Teve. (aming aminoedhin: amri.mira@gmail.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-6980543469560027143?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/6980543469560027143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=6980543469560027143&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6980543469560027143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/6980543469560027143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/10/tadarus-puisi-di-arek-teve.html' title='tadarus puisi di AREK TEVE'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-2982460247739250735</id><published>2008-10-07T10:46:00.008+07:00</published><updated>2008-12-03T12:55:29.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proses kreatif aming aminoedhin'/><title type='text'>prose kreatif aming aminoedhin</title><content type='html'>&lt;span style="color:#999900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;proses keatif&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Awal Menulis Puisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal menulis karya sastra, saya, selain lingkungan keluarga yang sangat mendukung, karena banyaknya yang suka membaca dan menulis, juga karena aktivitas di sekolah. Sewaktu di sekolah tingkat SMAN Ngawi (1974-1976), saya aktif ikut membuat majalah dinding. Selain aktif sebagai penulis majalah dinding, beberapa karyaku berupa puisi, saya kirimkan ke berbagai majalah di Jakarta.&lt;br /&gt;Pada awalnya saya hanya coba-coba-coba mengirimkan puisi-puisi, tanpa punya mimpi-mimpi. Apa lagi mimpi jadi seorang penyair. Tidak! Saya tidak punya impian itu. Bahkan pada awalnya saya mimpi masuk fakultas pertanian, biar jadi insinyur pertanian. Hanya sayangnya, ketika naik ke kelas dua SMA, saya masuk jurusan SOS atau sosial. Pupuslah harapan saya untuk kuliah di fakultas pertanian.&lt;br /&gt;Berangkat dari jurusan SOS, yang mana teman-teman se-angkatan saya (Puguh Kadaryono, Widodo, Pitoyo, IGA Oka Kusumahadi) sering mengakronimkan sebagai ‘sekolah orang santai’ itulah, yang kemudian menjadikan saya sekolah seenaknya, alias suka pulang pagi sebelum jam pelajaran diakhiri.&lt;br /&gt;Dari awal coba-coba kirim puisi itulah, salah satu puisiku, termuat di Majalah TOP Jakarta, tahun 1975, dan ini merupakan karya puisi pertama dimuat di sebuah majalah. Pada waktu itu, masih kelas II SMA, dan masih menggunakan nama asli Moh Amir Tohar. Dari majalah tersebut, saya mendapatkan honorarium penulisan melalui wesel yang dikirimkan ke sekolah, SMAN Ngawi. Lantas honorarium yang sebesar Rp750,00 (Tujuh Ratus Lima Puluh Rupiah) itulah, yang kemudian untuk mentraktir teman-teman saya sekelas. Berangkat dari sinilah, saya dijuluki teman-teman sekelas, sebagai penyair. Puisi saya yang termuat tersebut berjudul:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;BENDERA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;merah&lt;br /&gt;putih&lt;br /&gt;biru&lt;br /&gt;hilang paling bawah&lt;br /&gt;Indonesiaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ngawi, 1975&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu puisi itu termuat, nama Aming belum saya gunakan, tapi masih menggunakan nama aslinya Moh. Amir Tohar. Ketika itu masih berada di kota kelahiran, Ngawi, aktif kegiatan remaja masjid dan teater. Dunia bermain teater pernah mengantarkan saya jadi juara, sebagai aktor terbaik Lomba Drama se-Jawa Timur 1983 di Surabaya, dari kelompok Teater Persada Ngawi, pimpinan Mh. Iskan. Melalui komunitas Teater Persada inilah yang kemudian memberikan banyak masukan inspirasi dalam berkarya sastra, utamanya menulis puisi dan bermain drama.&lt;br /&gt;Selepas lulus SMAN Ngawi, saya melanjutkan ke Fakultas Sastra – Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sewaktu kuliah di Fakultas Sastra inilah, saya berkompetisi menulis karya sastra dengan Wieranta (sekarang: Dosen Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta), Junaidi HS (sekarang: Guru SMAN 2 Ngawi), Kristanto Agus Purnomo atau Kriapur (almarhum), Moh. Imam Thobroni, Tito Setyo Budhi (sekarang: pengusaha di Sragen), Dedek Witranto, Bambang AeRTe, Anas Yusuf, Dedet Setiadi, dan Juhardi Basri. Tiga nama yang terakhir adalah generasi di bawah saya, sewaktu kuliah di Fakultas Sastra Sebelas Maret. Mereka bertiga teman berkompetitif antarmahasiswa dalam hal menulis di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret di Surakarta.&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga nama-nama: Jil P. Kalaran, Akhudiat, Sirikit Syah, Tengsoe Tjahjono, Redi Panuju, Herry Lamongan, Surasono Rashar, Tan Tjin Siong, Zoya Herawati, Roesdi-Zaki, Pudwianto Arisanto, Shoim Anwar, Suhandayana, Tubagus Hidayathollah (almarhum), dan banyak lagi; yang merupakan teman-teman segenarasi dalam hal menulis karya sastra, ketika saya berada di Surabaya. Menulis sastra, khususnya puisi, seakan tanpa henti. Bahkan membuat pentas-pentas sastra, termasuk Malam Sastra Surabaya, baca puisi di DKS, IKIP Ketintang, dan Taman Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prinsip Menulis Sastra&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagi saya menulis sastra, khususnya puisi, seperti halnya menuliskan ‘wejangan’ atau ‘pitutur’ bagi pembacanya. Artinya, bahwa saya menulis puisi bermaksud menyalurkan pikiran-pikiran/ide-ide kreatif saya tentang bagaimanakah seseorang tersebut bisa berbuat baik, setelah membaca puisi itu. Tidak hanya wejangan dan pitutur atau petuah saja, tapi juga terkadang berisi kritik, agar manusia tergelitik dengan kesalahan yang ada dalam dirinya selama ini.&lt;br /&gt;Menulis sastra puisi, bagi saya juga merupakan ibadah. Karena banyak puisi saya yang bicara soal tentang kebenaran nyata yang ada di dunia ini. Baik itu kebenaran yang berdasarkan Qur’ani atau pun hukum/norma sosial kemasyarakatan yang ada selama ini. Coba kita baca saja puisi-puisi berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;BERJAMAAH DI PLAZA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata seorang kyai, belajar ngaji&lt;br /&gt;adalah amalan yang patut dipuji&lt;br /&gt;dan sholat berjamaah&lt;br /&gt;dapat pahala berkah&lt;br /&gt;berlipat-lipat jumlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kenapa banyak orang&lt;br /&gt;belajar nyanyi, belajar tari&lt;br /&gt;dan baca puisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kenapa banyak orang berjamaah&lt;br /&gt;hanya di plaza-plaza&lt;br /&gt;hamburkan uang berjuta-juta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah ini dapat dipuji, dan&lt;br /&gt;adakah plaza menyimpan pahala&lt;br /&gt;berlipat ganda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah… barangkali saja, plaza-plaza&lt;br /&gt;telah jadi berhala baru&lt;br /&gt;yang dipoles gincu&lt;br /&gt;begitu indah&lt;br /&gt;dan banyak orang ikut berjamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surabaya, 1992&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;SURABAYA I&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;pasar kini telah berubah di sini&lt;br /&gt;pasar adalah lampu-lampu iklan&lt;br /&gt;di mana dagangan ditawarkan&lt;br /&gt;lewat lampu-lampu iklan&lt;br /&gt;yang gemerlap tinggi mencuat&lt;br /&gt;aku hanya bisa nelangsa menatap&lt;br /&gt;orang-orang dimuntahkan oleh bis-kota&lt;br /&gt;dan plaza-plaza bertingkat, dan&lt;br /&gt;di kemudian hari ditelan kembali&lt;br /&gt;dengan jumlah dan hitungan kian sarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;plaza-plaza bertingkat&lt;br /&gt;kian semakin padat pengunjung&lt;br /&gt;rumah-rumah ibadat&lt;br /&gt;semakin kehilangan juntrung&lt;br /&gt;oleh pengunjung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lupakah mereka?&lt;br /&gt;Itulah soalnya aku bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LARUT MALAM SURABAYA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;mobil-mobil yang lintas jalan layang&lt;br /&gt;seakan terbang tanpa sayap&lt;br /&gt;lampu-lampu jalan layang&lt;br /&gt;berjejer diam menyimpan penyap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bunga-bunga taman mayangkara&lt;br /&gt;tidaklah terhitung lengkap&lt;br /&gt;rumput-rumputnya hijau meluas&lt;br /&gt;tanpa ada tersisa sampah-sampah membekas&lt;br /&gt;dan pohonan hias menyejuk mata&lt;br /&gt;di antaranya terselip cahaya&lt;br /&gt;lampu-lampu merkuri menebar asri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu-lampu kota warna-warni&lt;br /&gt;lampu-lampu mobil tak mau mati&lt;br /&gt;kota tiada mau diam, meski jam&lt;br /&gt;telah sampai larut malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota ini adalah buaya, yang&lt;br /&gt;menelan segala perangkat teknologi&lt;br /&gt;teknologi abad ini, tanpa&lt;br /&gt;terseleksi (diseleksi?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;EMBONG MALANG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;menelusuri jalan embong malang sianghari&lt;br /&gt;terasa jalanan mengambang kebak polusi&lt;br /&gt;kendaraan mengali satu arah&lt;br /&gt;keringatku mencair begitu gerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang selatan jalan embong malang&lt;br /&gt;terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang&lt;br /&gt;engkaukah yang telah mengubah&lt;br /&gt;wajah kota begitu gagah&lt;br /&gt;atau mungkin menyulap kota tampak begitu gagah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara di beberapa tempat&lt;br /&gt;banyak orang mengumpat&lt;br /&gt;soal pendapatan upah buruh taklagi diterima utuh&lt;br /&gt;soal rumah leluhur menuimpan arsitektur lama&lt;br /&gt;dengan pongah digusur-gusur, kota lama&lt;br /&gt;seperti telah dikubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;embong malang jalan satu arah&lt;br /&gt;tak memberi satu arah, bagi&lt;br /&gt;arti kehidupan tanpa jurang pemisah&lt;br /&gt;antara yang mewah dan lainnya berdarah&lt;br /&gt;atau mungkin bernanah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surabaya, 1996&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Surabaya, merupakan kota ketiga saya dalam berkiprah menulis karya sastra. Sebab kota pertama dalam mengawali menulis puisi adalah Ngawi; yang merupakan kota kelahiran. Kota kedua adalah Surakarta, ketika saya menimba ilmu sastra di sana. Lantas di kota Surabaya, saya tidak hanya berkiprah dalam dunia tulis-menulis saja, tapi juga pernah menjadi Pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), Koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS) di PPIA Surabaya (1986-1990-an), Koordinator Himpunan Penulis Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur (1987-1990-an), dan Ketua Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) (Forum Sastra Bersama Surabaya).&lt;br /&gt;Ketika berada di kota budaya, Surakarta atau Solo itu, banyak puisi saya termuat di majalah “Zaman” dan “Horison”, yang di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;SURAT DARI BLORA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Rumah di atas bukit&lt;br /&gt;bukit bukit berenang atas danau&lt;br /&gt;jembatan kayu gantung menyeberang&lt;br /&gt;dedaun merimbun, jalanan&lt;br /&gt;membelah pohon-pohon&lt;br /&gt;sebelas kilo utara kota&lt;br /&gt;menapak tiga kilo langkah kaki&lt;br /&gt;rumah di atas bukit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi menggasing tanpa tv tanpa polusi&lt;br /&gt;fajar menyingsing ceria mentari&lt;br /&gt;langit jingga berselendang senja&lt;br /&gt;kaki pertama perempuan mandi danau&lt;br /&gt;alam menyapa rembang petang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duka yang kemarin ada&lt;br /&gt;kau tangkap sebentuk sepi&lt;br /&gt;peronda tak kunjung bersuara&lt;br /&gt;kokok ayam tak juga-juga tiba&lt;br /&gt;malam pun enggan menggeliat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari-hari berlanjut kecut&lt;br /&gt;duka, sepi dan malam kaucampakkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore puluhan putih burung mengepak sayap senja itik berbaris riang pulang kandang&lt;br /&gt;malam perahu di danau, ikan dalam bubu mati udang-udang danau kaucari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan berenang di danau, sendiri&lt;br /&gt;kaudayung perahu arah bulan&lt;br /&gt;bulan pecah, kembali tergantung di awan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepi mengangkat muka&lt;br /&gt;engkau menatap akrab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sawah meninggi, kali di bawah kaki sawah&lt;br /&gt;air kali tanpa kincir air&lt;br /&gt;sawah kehausan, bak&lt;br /&gt;bulan tanpa malam&lt;br /&gt;siang tanpa mentari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat waktu lusa kau terlena malam&lt;br /&gt;hari ini bulan masih tersisa, jangan tunda perempuan selalu dihadang waktu&lt;br /&gt;kunci yang kaubawa&lt;br /&gt;kan berkarat nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air bagi sawah&lt;br /&gt;malam bagi bulan&lt;br /&gt;mentari bagi siang&lt;br /&gt;adalah kunci-kunci manusiawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Solo, 1981&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di kota Surabaya inilah yang kemudian saya banyak menulis tentang kota Surabaya, dari persoalan kritik, sosial, dan bahkan kegelisahannya menatap kota metropolitan kedua Indonesia ini. Puisi-puisi saya banyak yang memotret keberadaan kota Surabaya tersebut.&lt;br /&gt;Coba kita simak puisi berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku bicara apa adanya&lt;br /&gt;Tanpa harus pandai menjilat apa lagi berlaku bejat&lt;br /&gt;Menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap&lt;br /&gt;Ajari aku tidak angkuh&lt;br /&gt;Apa lagi memaksa kehendak bersikukuh&lt;br /&gt;Hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku bicara apa adanya&lt;br /&gt;jangan ajari aku gampang lupa gampang berdusta&lt;br /&gt;jangan pula ajari aku dan warga kota, naik meja&lt;br /&gt;seperti orang-orang dewan di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat&lt;br /&gt;lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani&lt;br /&gt;membuat kata putus benar-benar manusiawi&lt;br /&gt;menjalankan program dengan kendaraan nurani hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku. Ajari aku&lt;br /&gt;Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat&lt;br /&gt;tanpa harus berebut, apa lagi saling sikut&lt;br /&gt;yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat&lt;br /&gt;menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad&lt;br /&gt;tanpa ada ujung. tanpa ada juntrung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya memang boleh berdandan&lt;br /&gt;Bila malam lampu-lampu iklan warna-warni&lt;br /&gt;Siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi&lt;br /&gt;Senja meremang, mentarinya seindah pagi&lt;br /&gt;Di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya&lt;br /&gt;Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan&lt;br /&gt;Kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar&lt;br /&gt;Dan suara rakyat adalah suara kebenaran&lt;br /&gt;Tak terbantahkan. Tak terbantahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya ajari aku tentang benar. Tentang benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Surabaya, 21 November 2005&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga merupakan penggagas adanya Malam Sastra Surabaya atau lebih dikenal dengan singkatan Malsasa, sejak tahun 1989-an hingga terakhir menggelar pada tahun 2007. Penggagas pula acara baca puisi peduli “Perang Irak” di Taman Budaya Jawa Timur, pentas seni kemanusiaan “Duka Aceh Duka Bersama” di Taman Budaya Jawa Timur. Terakhir, saya punya ide “baca puisi masuk teve”, lantas bulannya pas bulan Ramadhan, maka ide saya gelontorkan ke Imung Mulyanto yang kini jadi juragannya “Arek Teve – Surabaya Raya”. Ide itu ditangkap, lantas saya disuruh koordinir rekan-rekan penyair. Ternyata bisa! Rekaman dari habis tarawih hingga hampir imsak, jadilah rekaman itu dalam tiga episode, bertajuk “Tadarus Puisi”. Tidak hanya penyair dan penggurit yang tampil, ada juga KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) Surabaya, pimpinan Bokir Surogenggong.&lt;br /&gt;Sebagai penulis puisi, saya pernah ikut temu penyair jateng di Semarang (1983), temu penyair indonesia di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1987), dan ikut memberikan pelatihan menulis dan baca puisi di berbagai kota di Jawa Tmur, antara lain: Batu, Lamongan, Madiun, Mojokerto, Lumajang, Banyuwangi, Tulungagung, Blitar, Probolinggo, dan banyak lagi kota.&lt;br /&gt;Karya puisi saya banyak dimuat di koran dan majalah lokal dan ibu kota, antara lain: Surabaya Post, Berita Buana, Republika, Singgalang, Sriwijaya Post, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post dan banyak lagi. Sedang majalah yang memuat puisinya antara lain: Gadis, Putera dan Puteri Indonesia, Pusara, Bende, Media, Zaman, Majalah Sastra Horison, dan Majalah Kebudayaan Basis.&lt;br /&gt;Kumpulan puisinya bersama rekan penyair lain, di antaranya: Husst, Nyenyet, Wajah Bertiga, Reportase Sunyi, Pagelaran, Malsasa ‘92, ‘94, ‘96, 2000, 2005, 2007; Surabaya Kotaku, Burung-Burung, Memo Putih, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Semangat Tanjung Perak, Kabar Saka Bendul Mrisi, Drona Gugat, dan banyak lagi. Kumpulan puisinya sendiri: Berjamaah di Plaza, Mataku Mata Ikan, Embong Malang, Kereta Puisi, dan Sketsa Malam. Kumpulan geguritan Tanpa Mripat, dan kumpulan sajak anak-anak ‘Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu’, " "Memutih Putih Begitu Jernih" (2008),&lt;br /&gt;Sekarang aktif di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PPSJS &lt;/span&gt;(Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Forasamo &lt;/span&gt;(Forum Apresiasi Sastra Mojokerto), Ketua&lt;strong&gt; FSBS&lt;/strong&gt; (Forum Sastra Bersama Surabaya), ikut jadi motivator &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ARS &lt;/span&gt;(Alam Ruang Sastra) Komunitas Sastra Sidoarjo, dan kini masih bekerja di Balai Bahasa Surabaya di Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Buku kumpulan puisi garapan Aming Aminoedhin:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Semangat Tanjung Perak, (editor, 1992).&lt;br /&gt;Surabaya Kotaku (editor, Dewan Kesenian Surabaya, 1990).&lt;br /&gt;Malsasa ’91 (editor, Dewan Kesenian Surabaya &amp;amp; Sufo, 1991)&lt;br /&gt;Malsasa ’92 (editor, Penerbit Sintarlistra, 1992)&lt;br /&gt;Malsasa ’94 (editor, Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, 1994)&lt;br /&gt;Bunga Rampai Bunga Pinggiran (editor, antologi puisi, 1995)&lt;br /&gt;Malsasa ’96 (editor, Dewan Kesenian Surabaya, 1996)&lt;br /&gt;Malsasa 2000 (editor, Balai Bahasa Surabaya, 2000).&lt;br /&gt;Berjamaah di Plaza (kumpulan puisi, Mandiri Press Mojokerto, 2000).&lt;br /&gt;Omonga Apa Wae (editor kumpulan puisi, Taman Budaya Jawa Timur, 2000)&lt;br /&gt;Tanah Persada (editor, Teater Persada Ngawi, 1983)&lt;br /&gt;Tanah Kapur (editor, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1990)&lt;br /&gt;Tanah Rengkah (editor, Komunitas Teater Persada Ngawi, 1997)&lt;br /&gt;Mataku Mata Ikan (kumpulan puisi, DKJT, 2004).&lt;br /&gt;Embong Malang ( kumpulan puisi, proses cetakan, 2005)&lt;br /&gt;Sketsa Malam (kumpulan puisi, dalam proses, 2000)&lt;br /&gt;Kereta Puisi (kumpulan puisi, Dewan Kesenian Surabaya, 1990)&lt;br /&gt;Wajah Bertiga (editor, Sintarlistra Surabaya, 1987).&lt;br /&gt;Burung-Burung (editor, Sintarlistra Surabaya, 1990)&lt;br /&gt;Tanpa Mripat, kumpulan guritan (FSBS, 2005)&lt;br /&gt;Malsasa 2005 (editor, kumpulan puisi bersama FSBS, 2005)&lt;br /&gt;Surabaya 714, Malsasa 2007 (editor, kumpulan puisi bersama FSBS, 2007)&lt;br /&gt;Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu, kumpulan sajak anak-anak (FSBS. 2008) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;MEmutih Putih Begitu Jernih, kumpulan sajak - dalam proses cetakan(FSBS, 2008)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Trilogi Tanah, dalam tahap proses cetak (2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Memutih Putih Begitu Jernih, dalam tahap proses cetak (2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aming Aminoedhin, adalah nama samaran dari nama asli Mohammad Amir Tohar. Lahir di Ngawi, 22 Desember 1957. Ayah saya seorang guru agama Islam di sebuah SMPN, ibu pun juga seorang guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Ayah bernama A.H. Aminoedhin (lahir tahun 1918), sementara ibu bernama Soeparijem (lahir tahun 1925).&lt;br /&gt;Saya adalah anak kelima dari delapan bersaudara. Dari kedelapan saudara ini, kakaknya nomor dua, bernama M. Har Harijadi, juga seorang penulis, baik cerpen, puisi, cerita anak, dan esai (wafat: 27 September 2007). Begitu pula kakak saya nomor empat, bernama Yulia Amirulfata (samaran: Lia Aminoedhin), juga seorang penulis puisi (tidak diteruskan karena sudah disibukkan jadi guru SMP Muhammadiyah di Yogya dan bersuami). Sedangkan dua adik perempuan, Ummi Hanifah Hariyani (samaran: Yani Aminoedhin) dan Ummi Mukharomah Hariyanti (guru SMAN 2 Ngawi), sebenarnya juga menulis; hanya saja tidak diteruskan bakat menulisnya, karena sibuk pekerjaan dan rumah tangga. Secara keseluruhan saudara saya: &lt;strong&gt;Ummi Haniek,B.A. (guru SMPN 5 Ngawi), M.Harijadi(almarhum), M. Anies Harijono (TU SMK Muhammadiyah Ngawi), Yulia Amirulfata (Guru SMP Muhammadiyah, Stan, Sleman, Yogyakarta), M. Amir Tohar (alias Aming Aminoedhin), Ummi Hanifah Hariyani (Bu Kadus Krapyak - Yogyakarta), Ummi Mukharomah Hariyanti (Guru SMAN 2 Ngawi), dan M. Yusuf Arsyad (usaha travel di Yogya).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bakat menulis saya berangkat dari lingkungan keluarga yang banyak menulis, seperti kakak-kakak dan adik-adik. Termasuk pula di antaranya, paman saya seorang sastrawan yang merupakan salah satu tokoh Angkatan ’66 versi HB Jassin, bernama M. Alwan Tafsiri. Begitu pula tetangganya ada juga seorang penulis naskah drama dan puisi, Mh. Iskan.&lt;br /&gt;Istri saya bernama Sulistyani Uran. Mantan seorang perawat RS Darmo Surabaya, kelahiran Kediri, 27 September 1963. Bersama istri, saya mempunyai 4 anak, yaitu Ade Malsasa Akbar (Surabaya, 02-12-1992, laki-laki), Tegar Kartika Akbar (Surabaya, 10-07-1994, laki-laki), Amri Perkasa Akbar (Mojokerto, 30-08-2000, laki-laki), Mira Aulia Alamanda (Mojokerto, 02-04-2003, perempuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang pernah saya tempuh adalah: TK Muhammadiyah Ngawi (1968-1969), SDN Ronggowarsito 2 Ngawi (lulus 1970), SMPN 1 Ngawi (lulus 1973), SMAN Ngawi, Jurusan Sosial (lulus 1976).&lt;br /&gt;Selepas pendidikan SD dan SMA, melanjutkan ke Fakultas Sastra, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta (masuk kuliah tahun 1977). Lulus sarjana muda dengan gelar B.A. pada tahun 1982. Sebelum sarjana muda diraih, ia sempat kuliah D-III satu tahun, pada pada jurusan yang sama, fakultas keguruan di universitas yang sama, dengan mendapatkan ijazah Diploma dan Akta III, pada tahun 1981. Setelah itu melanjutkan kembali tingkat dotoralnya di fakultas sastra jurusan yang sama, dengan meraih sarjana sastra, jurusan bahasa dan sastra Indonesia dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, pada tahun 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Pekerjaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selepas kuliah dengan mendapat gelar sarjana muda, Aming Aminoedhin pulang ke kampung halamannya di Ngawi. Selama setahun saya sempat mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP PGRI 1 Ngawi.&lt;br /&gt;Sewaktu masih kuliah pernah bekerja sebagai wartawan lepas di berbagai koran di Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Pernah juga staf redaksi koran kampus ‘Sebelas Maret’ di Universitas Sebelas Maret Surakarta.&lt;br /&gt;Menjadi PNS di Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sejak tahun 1984. Bekerja di Sub Bagian Penerangan, Bagian Tata Usaha, pada bidang penerbitan majalah bulanan “Media” sebagai pemimpin redaksi. Pernah juga ikut membidani dan mengelola keredaksionalan “Tabloid Bekal” koran pelajar Jawa Timur, yang diprakarsai Harian Surabaya Post dan Kanwil Depdikbud Jawa Timur. Ikut pula menjadi Redaksi Majalah Kebudayaan Kalimas di Surabaya, lantas termasuk ikut dalam Staf Redaksi Buletin DKS (Dewan Kesenian Surabaya), serta Majalah Memorida Kanwil Depdikbud Jawa Timur.&lt;br /&gt;Dalam bidang seni dan budaya, saya, pernah jadi koordinator Forum Apresiasi Sastra Surabaya (FASS), Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Jawa Timur, dan Forum Apresiasi Sastra Mojokerto (Forasamo). Menjadi pengurus Dewan Kesenian Surabaya, Biro Sastra (1990-an), Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (2004- sekarang). Periode tahun 1995- sekarang masih jadi pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Dalam PPSJS, ia membidani terbitnya “Teplok-Dluwangwarta PPSJS” sebagai pemimpin redaksi. Saya juga pernah dikirim dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara XII di Singapura, mewakili Jawa Timur (2003).&lt;br /&gt;Jabatan yang masih diemban sampai sekarang Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya) yang telah dua kali penyelenggara pentas Malam Sastra Surabaya (2005-2007).&lt;br /&gt;Sejak tahun 2000, saya, mutasi pekerjaan dari Kanwil Depdikbud Jawa Timur ke Balai Bahasa Surabaya, sebagai kandidat peneliti bahasa dan sastra Indonesia dan Jawa. Karena saya menganggap lebih cocok pada bidang penulisan dan penelitian, sesuai dengan ijazah sarjana sastra saya. Pada waktu itu, 2005, ia telah mengajukan jabatan fungsional sebagai peneliti ke Pusat Bahasa di Jakarta. Tapi hingga sekarang tak pernah turun jabatan fungsional sebagai peneliti. (Konon, umurnya terlalu tua jadi peneliti, ya,,, mau apa? Ya sudah, jadi penyair saja).&lt;br /&gt;Ini hanya sebagian proses kreatif yang bisa saya tulis dengan tergesa-gesa, semoga besok-besok bisa mengedit lebih baik lagi. Salam budaya! (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;aming aminoedhin&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Desaku Canggu, 7 Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; termuat di Majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; termuat di Majalah Basis Yogyakarta, Agustus 1989&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; termuat di Koran Memorandum – Surabaya, 30 Juni 1996&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; dimuat di majalah Zaman Jakarta, 27 Desember 1981&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-2982460247739250735?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/2982460247739250735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=2982460247739250735&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2982460247739250735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2982460247739250735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/10/prose-kreatif-aming-aminoedhin.html' title='prose kreatif aming aminoedhin'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-1070232273691511835</id><published>2008-09-15T12:33:00.007+07:00</published><updated>2008-09-17T10:46:08.354+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='malsasa dari waktu ke waktu'/><title type='text'>malsasa dari waktu ke waktu</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;MALSASA DARI MASA KE MASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan: &lt;span style="color:#6633ff;"&gt;Aming Aminoedhin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Prolog&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Pendapa Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), malam itu lampunya telah dipadamkan. Lantas hanya ada sorot lampu ke arah panggung. Setelah basa-basi pewara, Susi Dinang, membuka acara, muncullah Aming Aminoedhin, ketua FSBS dan sebagai penggagas Malsasa (Malam Sastra Surabaya) melaporkan berapa penyair dan penggurit malam itu akan tampil. Setelahnya, Drs. Pribadi Agus Santoso, M.M. kepala TBJT, memberi sambutan, yang dilanjutkan membaca puisinya sendiri Tanah Liat, Matabatinku. Malam itu adalah 20 Agustus 2007, di mana Malam Sastra Surabaya digelarpentaskan dengan menampilkan beberapa penyair dan penggurit Jawa Timur. Beberapa nama penyair dan penggurit tampil bergantian membacakan puisi dan guritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Riwayat Malsasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Malsasa adalah singkatan dari Malam Sastra Surabaya. Berawal pada tahun 1989, kegiatan malsasa ini menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku.” Selanjutnya, Malsasa digelar lagi pada tahun 1991, 1992, 1994, 1996, 2000, 2005 di Dewan Kesenian Surabaya.. Pada tahun 2000, Malsasa diselenggarakan di Balai Bahasa Surabaya, atas prakarsa Kepala Balai Bahasa Surabaya saat itu, Prof. Dr. Suparno (sekarang Rektor UM), yang bisa mendanai kegiatan pentas Malam Sastra Surabaya.&lt;br /&gt;Agak aneh memang, malam sastra Surabaya kok diselenggarakan di Sidoarjo, tapi saya rasa tidak aneh. Sejak awal, pentas Malsasa memang selalu didanai dengan secara patungan oleh para sastrawannya. Tapi lantaran tahun 2000, ada lembaga yang mau mendanai, maka pentas itu digelarpentaskan di Balai Bahasa Surabaya yang berlokasi di Sidoarjo. Apabila bisa disebut aneh, alias agak beda, memang pada Malsasa 2000 ini, tidak hanya memuat puisi dan geguritan saja; akan tetapi juga memuat cerita pendek dan cerita cekak.&lt;br /&gt;Pergelaran “Malam Sastra Surabaya” atau “Malsasa” terakhir kali adalah tahun 2007 lalu, bertempat di Pendapa Taman Budaya, Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya.&lt;br /&gt;Pada awsalnya buku-buku antologi Malsasa, hanya memuat puisi-puisi para penyair saja, lantas pada perkembangannya, juga memuat geguritan, bahkan cerpen dan cerkak. Topik puisi yang diangkat menjadi tema pun, pada awalnya hanya ‘Surabaya’ dengan segala permasalahan dan ketergesaannya. Tapi selanjutnya berkembang tidak hanya memuat yang bertemakan ‘Surabaya’ an-sich, akan tetapi bisa apa saja. Termasuk soal daun, angin, bebintang, sungai mengalir, kereta pagi, mobil berlari, dan indahnya rembulan benderang.&lt;br /&gt;Malsasa, pada awalnya digagas oleh Komunitas Sufo (Surabaya Forum), yang diketuai Jil Panjagir Kalaran, bersama saya. Pertama kali digelar tahun 1989, dengan menerbitkan kumpulan puisi “Surabaya Kotaku”. Beberapa nama yang ikut kumpulan itu, antara lain: Ang Tek Khun, Viddy Alymahfoedh Daery, Aming Aminoedhin, Roesdi-Zaki, Jil P. Kalaran, Pudwianto, dan Herry Lamongan.&lt;br /&gt;Malsasa berangkat dari ide beberapa penyair yang ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Mereka menulis puisi dan membacakannya. Topik yang diungkapkan pun beragam, ada yang menyumpahserapahi; ada juga yang mengingatkan kota agar berdandan, tapi jangan sampai lupa soal kemanusiaan; ada juga yang bicara tentang jalan-jalan kota yang tak teduh lagi, banyaknya iklan warna-warni; serta apa saja sesuai hati nurani penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Malsasa dari Masa ke Masa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jika harus menghitung jumlah pentas Malam Sastra Surabaya (Malsasa), barangkali kita bisa menghitungnya sejak tahun 1989 tersebut hingga sekarang. Karena Malsasa dibarengi dengan penerbitan buku antologi puisinya, maka kegiatan ini, bisa dilacak melalui penerbitan bukunya tersebut.&lt;br /&gt;Secara hitungan jumlah buku antologi yang pernah terbit, antara lain: Surabaya Kotaku, Malsasa ’91, Malsasa ’92, Malsasa ’94, Malsasa ’96, Malsasa 2000, Malsasa 2005, dan sekarang bertajuk “Surabaya 714” Malsasa 2007. Dari sini, tercatat sudah 8 (delapan) kali, pentas Malam Sastra Surabaya digelar di muka publik masyarakat sastra Surabaya, dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;Ada banyak nama penyair dan penggurit yang ikut dalam gelaran ini. Tak sedikit, ada yang beberapa kali ikut hadir dan tampil dalam gelar sastra ini. Tapi ada juga yang hanya sekali-dua ikut, lantas menghilang tak ketemu juntrungnya. Ada juga yang lama menghilang, kemudian muncul kembali di tengah-tengah publik sastra kita, seperti: Tan Tjin Siong. Sedangkan yang menghilang: Ang Thek Khun, Mh. Zaelani Tammaka, Sigid Hardadi, Robin Al Kautsar dan beberapa nama lainnya.&lt;br /&gt;Sungguh, Malsasa atau Malam Sastra Surabaya, dari masa ke masa memang ada perkembangannya. Baik dalam jumlah peserta maupun kualitas penerbitan antologi bukunya, ada peningkatan yang cukup signifikan. Awal mulanya hanya berupa stensilan, lantas fotokopian, dan kini terbitan buku antologi yang cukup mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Surabaya 714 Malsasa 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Malsasa tahun ini, masih berangkat dari ide beberapa penyair yang ingin merayakan ulang tahun kota Surabaya dengan versinya sendiri. Di ulang tahun kota Surabaya ke-714 ini, mereka menulis puisi maupun geguritan dan membacakannya. Tema yang digagas bisa bicara apa saja, Surabaya yang kian cantik atau Surabaya kian tak menarik? Bicara negeri ini yang kian cabik-cabik atau mungkin negeri yang penuh intrik? Atau apa saja terserah! Yang pasti, kejujuran dalam menulis karya sastra adalah kuncinya. Karya sastra tanpa kejujuran nurani penulisnya, akan terasa tawar, hambar, dan miskin makna.&lt;br /&gt;Mencatat nama-nama yang tampil malam itu, ada: Bagus Putu Parto, L. Machali, Fahmi Faqih, Budi Palopo, R. Giryadi, Ida Nurul Chasanah, Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, Aming Aminoedhin, AF Tuasikal, M. Har Harijadi, M. Tauhed, Bambang Kempling, Saiful Bahri, Chamim Kohari (penyair); Suharmono Kasijun, Anank Santosa, Bonari Nabonenar, Sugeng Adipitoyo, Widodo Basuki, Herry Lamongan, Pringgo HR (penggurit). Tidak hanya itu, tampil juga tamu dari Pusat Bahasa, Abdul Rozak Zaidan, Kepala Bidang Sastra, yang ikut tampil membacakan puisinya Sitor Situmorang, berjudul “Malam Lebaran.”&lt;br /&gt;Sedangkan jika mencatat jumlah penyairnya ada 34 penyair, 14 penggurit yang masuk dalam antologi puisi “Surabaya 714” Malsasa 2007 ini. Mereka itu terdiri penyair yang berasal dari kota Surabaya, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Ngawi, Bojonegoro, Pamekasan, Ponorogo, Trenggalek, dan Blitar.&lt;br /&gt;Penyelenggaraan Malam Sastra Surabaya atau Malsasa 2007 ini, atas prakarsa Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS) kerja sama dengan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Melalui forum ini, saya sebagai penggagas Malsasa, memang berharap bahwa kegiatan ini bisa dijadikan ajang silaturahmi, interaksi, dan kreasi pentas seni sesama penyair dan penggurit, serta menumbuhkembangkan sastra di Surabaya dan Jawa Timur. Persoalan ini sejalan yang dikatakan Kepala TBJT, Pribadi Agus Santoso, bahwa Taman Budaya Jawa Timur merupakan etalase pentas dan pertunjukan seni apa saja. Taman Budaya adalah ajang berinteraksi, ajang berkompetisi, serta berkreasinya antarseniman dari berbagai cabang seni di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Epilog&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Malam telah larut, para penyair telah mengakhiri baca puisi dan guritannya, maka pentas Malsasa 2007 usai sudah, tapi kegiatannya tidak hanya malam itu berakhir. Karena, tanggal 30 Agustus 2007, buku “Surabaya 714” Malsasa 2007, dibedah bukunya oleh Redaktur Budaya Senior dari Surabaya Post, RM Yunani Prawiranegara. Bedah buku berlangsung di Toko Buku Diskon Togamas, Jalan Diponegoro 9 Surabaya, yang dimeriahkan musikalisasi puisinya kelompok “Komunitas Sastra Sinji” dimainkan oleh AF Tuasikal dan Sarjiyo Godean.&lt;br /&gt;Bedah buku di Toko Buku Diskon Togas Mas ini, banyak dihadiri para praktisi dan akademisi sastra, antara lain: Sabrot D. Malioboro, Akhudiat, Ida Nurul Chasanah, Adi Setyowati, Sugeng Adipitoyo, Bonari Nabonenar, Suharmono Kasijun, W. Haryanto, Mashuri, Fahmi Faqih, Widodo Basuki, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;Harapan berikutnya yang perlu dipompakan adalah bagaimana terus bisa menum-buhkembangkan dan mensosialisasikan sastra (puisi dan guritan) kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Apabila ada kekurangan dalam penerbitan, penyelenggaraan pentas, dan bedah buku,, adalah wajar semata. Tapi puisi telah ditulis dengan matahati dan kata hati penyairnya. Percayalah! Terakhir, saran dan kritik konstruktif bagi tumbuhkembangnya sastra, akan kami terima dengan tangan terbuka, dan hati membunga. Salam budaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sidoarjo, 15 Ramadhan 1429-H/15 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; Aming Aminoedhin, &lt;em&gt;presiden penyair Jatim, penggagas Malsasa.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-1070232273691511835?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/1070232273691511835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=1070232273691511835&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1070232273691511835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/1070232273691511835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/09/malsasa-dari-masa-ke-masa.html' title='malsasa dari waktu ke waktu'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-8022790725610784782</id><published>2008-09-12T14:13:00.004+07:00</published><updated>2008-10-15T12:43:03.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biodata penyair m.har harijadi'/><title type='text'>biodata penyair m. har harijadi</title><content type='html'>&lt;em&gt;BIODATA PENYAIR NGAWI&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;M. HAR HARIJADI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;Prolog:&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Tulisan ini saya posting dalam rangka mengenang &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;M. Har Harijadi&lt;/span&gt; yang setahun yang lalu,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;tepatnya juga pada bulan Ramadhan 1428-H, pas tanggal 27 September 2007, telah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;dipanggil oleh Allah SWT. Semoga segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, dan semoga pula isteri dan anak-anaknya tetap tabah, tetap iman dan selalu taqwa kepada Allah SWT. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Dalam waktu dekat ini, saya berencana menerbitkan kumpulan puisi "&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;TRILOGI TANAH"&lt;/span&gt; yang diimpikan oleh almarhum M. Har Harijadi. Hanya saja, dananya masih dicari-carikan. Siapa yang mau ikut menyumbangkan dananya guna penerbitan buku ini? Silakan kontak&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#6600cc;"&gt;aming aminoedhin&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#cc6600;"&gt;via email &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:amri.mira@gmail.com"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;amri.mira@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt; Mumpung bulan Ramadhan, ayo banyak-banyaklah infaq, termasuk infaq buat dunia sastra&lt;/span&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;M. Har Harijadi, adalah nama penulis dari nama asli Mohammad Harijadi Munawari. Lahir di Ngawi, 5 Juli 1951. Meninggal dunia pada 27 September 2007 (pas bulan Ramadhan tahunlalu). Ayahnya seorang guru agama Islam di sebuah SMPN, ibunya pun juga seorang guru SDN Ronggowarsito 2 Ngawi. Ayahnya bernama A.H. Aminoedhin (lahir tahun 1918), sementara ibunya bernama Soeparijem (lahir tahun 1925). . Har Harijadi adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Dari kedelapan saudara ini, adiknya nomor tiga, bernama Aming Aminoedhin, juga seorang penulis, utamanya menulis puisi. Begitu pula adiknya nomor dua, bernama Yulia Amirulfata (samaran: Lia Aminoedhin), juga seorang penulis puisi (tidak diteruskan karena sudah disibukkan jadi guru SMP di Yogya dan bersuami). Sedangkan dua adiknya perempuan, Ummi Hanifah Hariyani (samaran: Yani Aminoedhin) dan Ummi Mukharomah Hariyanti (guru SMAN 2 Ngawi), sebenarnya juga menulis; hanya saja tidak diteruskan bakat menulisnya, karena sibuk pekerjaan dan rumah tangga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Bakat menulis Harijadi, menurut pengakuannya karena lingkungan banyak seniman yang menulis, seperti Mh. Iskan, Wahab Asyari, Salimoel Amien, dan banyak lagi. Termasuk pula di antaranya, pamannya seorang sastrawan yang merupakan salah satu tokoh Angkatan ’66 versi HB Jassin, bernama M. Alwan Tafsiri.&lt;br /&gt;Istrinya bernama Ismijati. Seorang karyawan Pemda Kabupaten Ngawi, kelahiran Ngawi, 4 Juli 1958. Bersama istrinya, ia mempunyai 3 anak, yaitu Alif Aulia Ananda (Ngawi, 14-5-1984, laki-laki), Bernas Kurnia Kanthi Inayati (Ngawi, 16-11-1985, perempuan), Cipta Nur Asa (Ngawi, 25-01-1988, laki-laki). Ketiga anaknya kini kuliah di Universitas Gajah Mada. M. Har Harjadi, bersama keluarganya beralamat di Gang Melati, Kauman, Ngawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pendidikan yang pernah ditempuh M. Har Harijadi, SDN Ronggowarsito Ngawi (lulus 1963), SMPN 1 Ngawi (lulus 1966), SMAN Ngawi, Jurusan Pasti Alam (lulus 1969). Selepas pendidikan SD dan SMA, ia melanjutkan ke IKIP Cabang Madiun Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, tidak dirampungkan. Sewaktu bekerja di Pemda Kabupaten Ngawi, Harijadi diberi tugas belajar ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang (1981).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;Latar Belakang Pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Pernah bekerja sebagai wartawan di koran Suara Merdeka Semarang, dari tahun 1973 hingga 1977, sambil banyak menulis cerita pendek dan puisi, serta penyiar radio swasta di Ngawi.&lt;br /&gt;Menjadi PNS di Kantor Pemda Kabupaten Ngawi, yang kemudian mendapatkan tugas belajar di APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Malang, lulus tahun 1981. Selepas lulus APDN, Harijadi pernah menjabat sebagai kepala kantor Kecamatan Sine, kemudian jadi Mantri Polisi di Kecamatan Ngawi. Pernah juga sebagai Kepala Sub Bagian Humas Pemda Kabupaten Ngawi, Kepala Sub Bagian Diklat, dan Kasubdin di Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Kabupaten Ngawi.&lt;br /&gt;Dalam bidang seni dan budaya, M. Har Harijadi, pernah jadi koordinator pentas Teater Persada Ngawi di Festival Drama se Jatim di Surabaya (1983), pentas Monolog Mh. Iskan di Surabaya (2005). Organisasi yang pernah diikuti antara lain: Pelajar Islam Indonesia (PII) Ngawi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Madiun, AMPI dan KNPI di Ngawi. Pada awalnya, ia menulis puisi, dan kemudian cerita pendek. Selanjutnya menjadi wartawan dengan menulis berita-berita. Selepas itu, M. Har Harijadi, banyak menulis artikel dan menulis cerita anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;Latar Belakang Kesastraan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal latar belakang kesastraan ini, M. Har Harijadi, selain lingkungan komunitas yang sangat mendukung, karena banyak yang membaca dan menulis, juga karena aktivitas di beberapa organisasi, antara lain: PII, HMI, Remaja Masjid, AMPI dan KNPI.&lt;br /&gt;Naskah karya sastra M. Har Harijadi yang pertama kali termuat di Koran Berkala Adil Solo, yaitu cerita remaja berjudul ‘Seorang Guru’ dengan tanpa diberi honorarium.&lt;br /&gt;Motivasi dalam menulis karya sastra adalah guna menghidupkan perasaan, utamanya banyak teman-teman juga sebagai penulis. Bahkah serasa ‘gatal’ jika saya tidak menulis karya sastra. Sedangkan kemampuan menulis sastra, lebih banyak otodidak dan banyak membaca, utamanya karya sastra. Genre sastra yang ditulis Harijadi adalah puisi, cerpen, artikel, dan cerita anak.&lt;br /&gt;Naskah puisinya banyak dimuat di koran Surabaya Post, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Adil, Masa Kini, Mercu Suar, Memorandum, Bhirawa, dan Suara Karya. Sedangkan majalahnya adalah: Gadis dan Midi. Naskah cerpennya termuat di Bhirawa, Mercu Suar, Masa Kini, dan Adil. Naskah cerita anaknya termua di: Majalah Bobo, Ananda, Hopla, dan Surabaya Post. Sementara itu artikelnya banyak dimuat di Kompas, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Memorandum, Berita Yudha, dan koran-koran lokal lainnya. Kumpulan puisi bersama rekan-rekan Teater Persada Ngawi, bertajuk ‘Tanah Persada’, ‘Tanah Kapur’, dan ‘Tanah Rengkah’. Lantas ‘Kota Tercinta’ kumpulan puisi sastrawan kota Ngawi (2003).&lt;br /&gt;Berbicara soal proses kreatif, biasanya terpicu oleh peristiwa sesaat/kesan sebentar yang mengharukan lalu dibuat/diproses jadi karya sastra, bisa berupa puisi maupun cerita pendek. Apabila dalam menulis sastra dipaksakan, ternyata secara kualitas terasa tidak baik, dan kurang lancar dalam penulisannya. Seringkali saya mencatat dulu dalam draft awal, sebagai master/babon penulisan karya sastra.&lt;br /&gt;Seperti telah dijelaskan terdahulu, bahwa Harijadi, punya pengalaman di bidang penulisan dan dunia sastra, antara lain: pernah jadi wartawan Suara Merdeka, Surabaya Post, Berita Yudha, dsb. Pengalaman lain adlah berkali-kali jadi juri lomba baca puisi, lomba mengarang, dan lomba pidato di kabupaten Ngawi.&lt;br /&gt;Menulis sastra menurutnya harus sampai akhir hayat, karena menulis berarti juga beribadah dalam hidup dan kehidupan manusia. Menurutnya pula, bahwa sastra Indonesia haruslah lebih semarak, jika mungkin bisa mendunia, atau stidaknya membenua. Setidaknya se Asia Tenggara. Semua ini bisa terjadi bila ada perhatian dari pihak pemodal, Pemerintah, para pejabat, para ulama, serta para sastrawan yang lebih senior lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh puisi-puisi M. Har Harijadi&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEPANJANG JALAN JENDRAL SUDIRMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;kuseret dukaku sepanjang jalan sudirman&lt;br /&gt;siang hari yang terik dan menancap jarum-jarum&lt;br /&gt;matahari&lt;br /&gt;pada punggung yang bersarang capekku&lt;br /&gt;dan rambutku yang semakin coklat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubawa gelisahku setiap hari menumbuki debu kota&lt;br /&gt;walau penat setiap saat menghampir&lt;br /&gt;baju dan celana lusuh menua&lt;br /&gt;serta sepatu yang kian pikun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuturuti resahku lewat emperan cina&lt;br /&gt;dengan irama-irama sedih gerakan kaki&lt;br /&gt;wajah yang kupaksakan berseri&lt;br /&gt;meski saku tiada sedikitpun berisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kujalani hidupku menembusi hiruk pikuk kota&lt;br /&gt;kendati nasib tiada sekali membuka mata&lt;br /&gt;namun demikian satu tidak lebih dari pinta&lt;br /&gt;semoga segalanya tiada sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ngawi-Madiun, 1970&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Har Harijadi&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ANAK-ANAK KECIL DI MESJID&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa jauhkah waktu tertinggal&lt;br /&gt;Tak bisa banyak aku kenangkan&lt;br /&gt;Hari-hari hingga tahun ke tahun&lt;br /&gt;Terasa telah beberapa kurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan guru ngajiku sudah luntur&lt;br /&gt;Barangkali jejak hidupku masih ngawur&lt;br /&gt;Apa waktu senggangku kian nihil tepekur&lt;br /&gt;Hanya menuruti sistem jalur-jalur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang kini tuntutan tak pernah berkurang&lt;br /&gt;Harapan-harapan masih akan panjang&lt;br /&gt;Saat seperti ini semakin menerawang&lt;br /&gt;Ternyata nostalgia tak hilang-hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Malang, 1978&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;M. Har Harijadi&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LAILATUL QODAR&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tetap rahasia bagaikan sukma&lt;br /&gt;Siapa yang menduga?&lt;br /&gt;Gemilang langit yang senyap&lt;br /&gt;Dingin yang hangat mengentalkan semangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tergubal pada alunan sunyi&lt;br /&gt;Seluas rakhmatMu di malam yang tersaji&lt;br /&gt;Bersenandung bumi meluruskan sepoi&lt;br /&gt;Hanya padaMu diam yang abadi temaram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mei, 1987&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-8022790725610784782?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/8022790725610784782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=8022790725610784782&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8022790725610784782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/8022790725610784782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/09/biodata-penyair-m-har-harijadi.html' title='biodata penyair m. har harijadi'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-2866209452526080748</id><published>2008-09-08T11:41:00.007+07:00</published><updated>2008-10-07T11:46:41.255+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak-sajak anak'/><title type='text'>sajak-sajak anak</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;sajak anak-anak &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;cak aming aminoedhin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;aming aminoedhin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;SAJAK KUNANG-KUNANG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(surat buat: Pak Kayam)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kunang-kunang di kampungmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pada abad teknologi, telah berubah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;jadi merkuri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;hanya suara katak pada malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menghadirkan sajak pada kelam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang abadi di kampung ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;hanya seni hanya sepi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Ngawi, 1982&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;DI MANA MEREKA SEKOLAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;desa temanku tenggelam sudah&lt;br /&gt;tak ada lagi tanaman hijau&lt;br /&gt;tinggal kini terlihat atap-atap rumah&lt;br /&gt;tampak seperti mengigau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;igauan suaranya perih&lt;br /&gt;atap-atap rumah seakan merintih&lt;br /&gt;dari lumpur yang membuat hancur&lt;br /&gt;hingga beribu penghuninya kabur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;desa temanku tenggelam sudah&lt;br /&gt;aku tak tahu ke mana mereka pindah&lt;br /&gt;di mana mereka kini sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Sidoarjo, 12/2/2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;BALON UDARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Sungguh indah di mata&lt;br /&gt;ada balon udara berwarna-warni&lt;br /&gt;mengudara di langit tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku serasa ikut terbang bersamanya&lt;br /&gt;meraih bintang menjangkau rembulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak ikut&lt;br /&gt;di dalam balon udara itu&lt;br /&gt;hanya anganku&lt;br /&gt;seakan ikut terbang&lt;br /&gt;bersamamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balon udara nan terbang tinggi&lt;br /&gt;kirimkan salam cinta pada Nenekku&lt;br /&gt;yang kini berada di Ngawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Mojokerto, 2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;TAK ADA KATA PUTUS ASA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;kata ayahku, putus asa putus harapan&lt;br /&gt;tak ada dalam kamus kita&lt;br /&gt;putus asa putus harapan&lt;br /&gt;adalah penyakit batin nan pahit&lt;br /&gt;tak terperikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;putus asa putus harapan&lt;br /&gt;tak ada obat mujarabnya&lt;br /&gt;selain satu kata berupa iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cita-cita harus tinggi dan mulia&lt;br /&gt;agar teraih di tangan kita, dengan&lt;br /&gt;perjuangan, dan belajar dari pengalaman&lt;br /&gt;kegagalan sewaktu berjalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada kata putus asa&lt;br /&gt;lantaran putus asa putus harapan&lt;br /&gt;akan sia-sia bagi diri kita&lt;br /&gt;akan sia-sia bagi masa depan&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;Mojokerto, 2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;BULAN RAMADHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setiap bulan ramadhan tiba&lt;br /&gt;bersama Adikku tarawih di mushola&lt;br /&gt;Ibu Bapak juga ada di sana&lt;br /&gt;sholat berjamaah bersama tetangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan tahun ini&lt;br /&gt;Adikku juga berpuasa&lt;br /&gt;hanya saja tidak sampai maghrib tiba&lt;br /&gt;tapi saat bedug dhuhur ditabuh&lt;br /&gt;ia berlari pulang untuk berbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan tahun ini&lt;br /&gt;aku juga ikut tadarus di mushola&lt;br /&gt;mengaji bersama kawan&lt;br /&gt;menyimak setiap bacaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas tadarus bersama&lt;br /&gt;kami sering berebut takjilnya&lt;br /&gt;wah... begitu indah kenangan&lt;br /&gt;bulan Ramadhan di mushola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Mojokerto, 2007&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;IDUL FITRI&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa saat idul fitri&lt;br /&gt;setelah bersalam-salaman&lt;br /&gt;bersama paklik dan bulik&lt;br /&gt;pakde dan bude, serta&lt;br /&gt;nenekku tercinta&lt;br /&gt;yang berada di desa&lt;br /&gt;kami lantas berdoa bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ibu, padaku&lt;br /&gt;doa kita yang suci hati&lt;br /&gt;mudah terkabulkan Tuhan&lt;br /&gt;lantaran kita usai sebulan berpuasa, dan&lt;br /&gt;puasa itu membersihkan hati dan jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa saat idul fitri&lt;br /&gt;yang kutunggu dengan gembira, hanya satu&lt;br /&gt;paklik bulik, pakde dan bude, serta&lt;br /&gt;nenekku tercinta&lt;br /&gt;membagi uang saku&lt;br /&gt;bagi semua cucu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Ngawi, 2007&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;BUKU ITU GUDANG ILMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Di dalam buku&lt;br /&gt;kubaca segala ilmu&lt;br /&gt;dari soal bahasa, tatakrama&lt;br /&gt;sastra, dan juga matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku adalah sahabatku&lt;br /&gt;kubaca setiap waktu&lt;br /&gt;saat istirahat sekolah&lt;br /&gt;dan juga saat libur sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku, kata Mamaku&lt;br /&gt;adalah gudangnya ilmu&lt;br /&gt;maka membaca buku&lt;br /&gt;seperti membuka&lt;br /&gt;jendela dunia, semua&lt;br /&gt;ilmu kau pasti akan tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;Mojokerto, 19/10/1999&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;JENDELA DUNIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Almari Bapakku dipenuhi buku&lt;br /&gt;kata Ibu, semua buku-buku itu&lt;br /&gt;adalah jendela dunia&lt;br /&gt;jika aku mau baca&lt;br /&gt;segala ilmu akan kusua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar, kata Ibu&lt;br /&gt;selepas buku-buku kubaca&lt;br /&gt;dunia tampak ada di sana&lt;br /&gt;ada yang hitam dan putih&lt;br /&gt;ada yang senang dan sedih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kawan!&lt;br /&gt;bacalah buku agar kau&lt;br /&gt;bertemu segala ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca dan bacalah buku&lt;br /&gt;karena buku adalah jendela dunia&lt;br /&gt;sejuta ilmu pasti kau sua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Mojokerto, 19/10/1999&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;AKU LUPA MENGAJI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada musim kemarau rumput-rumput di tanah lapang&lt;br /&gt;mengering. Daun di pepohonan kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin terlalu kencang&lt;br /&gt;menerbangkan debu dan layang-layang&lt;br /&gt;layang-layangku nan gagah terbang&lt;br /&gt;diulur panjangnya benang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini jadi riang&lt;br /&gt;bermain layang-layang&lt;br /&gt;hingga aku lupa&lt;br /&gt;belajar mengaji&lt;br /&gt;di mushola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali aku berdosa&lt;br /&gt;lantas aku berjanji dalam hati&lt;br /&gt;tak mengulangnya di esok hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Mojokerto, 1999&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-2866209452526080748?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/2866209452526080748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=2866209452526080748&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2866209452526080748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/2866209452526080748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/09/sajak-anak-anak-aming-aminoedhin-sajak.html' title='sajak-sajak anak'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-4882425062873791515</id><published>2008-09-04T11:15:00.003+07:00</published><updated>2008-10-07T11:52:23.190+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komsas &quot;sinji&quot; sidoarjo'/><title type='text'>komsas 'sinji' sidoarjo</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Selintas Catatan Komunitas Sastra&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;“Sinji”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#6600cc;"&gt;oleh: af. tuasikal&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;waktu itu senja telah meremang tampak di ujung seberang jalan, bisa juga disebut dengan remang senja atau senja merembang. sesekali kereta api lewat begitu lambat, terkadang cepat seperti tak mau terlambat. ada tiga cangkir kopi panas telah tersedu. lantas kopi itu, menawarkan sesuatu tentang warna merah jingga, bersama hembus angin senja membuat kami bertiga: &lt;strong&gt;af. tuasikal, sarjiyo godean dan rahmidi harto utomo&lt;/strong&gt;, tiba-tiba muncul emosi hati menelorkan obsesi. gitar terpetik ikuti lentik jari-jemari sekan menari-nari tanpa arti. ada kemudian bibir bergetar menyuarakan sebuah puisi, lantas berteriak, serentak membentuk musikalisasi puisi asal bunyi.&lt;br /&gt;meski teriak kami asal bunyi, tanpa kita sadari, semua hadir mengalir dari sebuah puisi jawa (geguritan) karya senior kami &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;aming aminoedhin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;guritan itu bertajuk &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;“tanpa mripat”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;apa pun bentuk suara musikalisasi puisi itu, tapi niat kami yang pertama, bagaimana menyambut kehadiran sang presiden penyair jawa timur untuk minum kopi bersama. agar tampak beda tak seperti biasa, dari waktu ke waktu dari itu ke itu, minum kopi dan merokok bersama, lantas makan makan pisang dan pohong goreng.&lt;br /&gt;senja itu memang agak lain. ada sesuatu yang telah terasa jadi terjalin.&lt;br /&gt;sebuah musikalisasi guritan, sederhana tapi nyata adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin, si empunya guritan, jadi sangat tertarik dengan aksi-aksi kami bertiga, lantas ikut bergabung mendukung. bahkan sekaligus menjadi motor penggerak komunitas ini. tidak cuma aming, ada juga anang sp santosa ikut memperkuat tampilannya. kemudian kami semua sepakat memberi nama komunitas itu, bernama “sinji “ yang berasal dari akronim siwalanpanji, sebuah nama desa yang terletak di buduran, sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;komunitas sastra ‘sinji’&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; resmi lahir pada tanggal &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;24 oktober 2006&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;. minggu pertama setelah sinji lahir, kami tampil pentas di kantor kami sendiri balai bahasa surabaya, minggu berikutnya ‘sinji’ pentas di launching antologi ‘buku mojokerto dalam puisi’, dua minggu berikutnya ‘sinji’ memasuki ranah taman budaya jawa timur berpentas di gedung cak durasim.&lt;br /&gt;satu bulan setelah itu ‘sinji’ pentas di depan forum para guru-guru kpi (konsorsium pendidikan islam) surabaya. pernah pula pentas di ‘purnama sastra’ yang di gelar di fbs – unesa, lidah wetan, surabaya. pernah juga menjadi bintang tamu acara sastra teater smkn 9 surabaya di balai pemuda surabaya&lt;br /&gt;‘sinji’ tak hanya pentas di negeri sendiri, tapi juga di luar kota: festival sastra buruh di blitar, dan pekan seni dan olah raga pelajar smk se-Indonesia di malang.&lt;br /&gt;terakhir ‘sinji’ pentas kembali memeriahkan bedah buku antologi puisi “Surabaya-714 Malsasa 2007” yang di gelar di toko buku diskon togamas, jalan diponegoro 9 surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lantas sampai kapankah ‘sinji’ akan terus beraksi? sebuah tanya yang terus memompa kami untuk terus selalu bermain dan beraksi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;*&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt; presiden penyair jawa timur&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/612875196390410599-4882425062873791515?l=amingaminoedhin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/feeds/4882425062873791515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=612875196390410599&amp;postID=4882425062873791515&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4882425062873791515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/612875196390410599/posts/default/4882425062873791515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/09/komsas-sinji-sidoarjo.html' title='komsas &apos;sinji&apos; sidoarjo'/><author><name>aming aminoedhin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04415482167344851811</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_WDikLSBvByE/SLZVrNpVezI/AAAAAAAAALM/D40cl20UZas/S220/aming+cilik.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-612875196390410599.post-3183766168472905250</id><published>2008-08-27T14:22:00.003+07:00</published><updated>2008-08-27T14:51:29.174+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak-sajak surabaya'/><title type='text'>sajak-sajak surabaya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;SAJAK-SAJAK SURABAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA I&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;pasar kini telah berubah di sini&lt;br /&gt;pasar adalah lampu-lampu iklan&lt;br /&gt;di mana dagangan ditawarkan&lt;br /&gt;lewat lampu-lampu iklan&lt;br /&gt;yang gemerlap tinggi mencuat&lt;br /&gt;aku hanya bisa nelangsa menatap&lt;br /&gt;orang-orang dimuntahkan oleh bis-kota&lt;br /&gt;dan plaza-plaza bertingkat, dan&lt;br /&gt;di kemudian hari ditelan kembali&lt;br /&gt;dengan jumlah dan hitungan kian sarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;plaza-plaza bertingkat&lt;br /&gt;kian semakin padat pengunjung&lt;br /&gt;rumah-rumah ibadat&lt;br /&gt;semakin kehilangan juntrung&lt;br /&gt;oleh penghujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lupakah mereka?&lt;br /&gt;Itulah soalnya aku bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA II&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;apa yang harus kutulis tentang surabaya&lt;br /&gt;kecuali panas cuaca dan gerah suasana&lt;br /&gt;pada setiap harinya, ketika&lt;br /&gt;musim kemarau tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari-hari melintas cemas&lt;br /&gt;hidup kian semakin bergegas&lt;br /&gt;ruang kehidupan kian pula terbatas&lt;br /&gt;pada sudut-sudut kota&lt;br /&gt;semakin pula sulit membedakan&lt;br /&gt;antara waria dan kupu-kupu malam&lt;br /&gt;antara tante girang dan lelaki&lt;br /&gt;hidung belang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya surabaya&lt;br /&gt;orang semakin gampang&lt;br /&gt;berkata mengulurkan tangan&lt;br /&gt;demi mendapat pekerjaan&lt;br /&gt;dengan sekedar uang imbalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya surabaya&lt;br /&gt;menjadi kabur batas bantuan&lt;br /&gt;dan niat kepalsuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu-lampu iklan&lt;br /&gt;kian semakin gemerlapan&lt;br /&gt;saling berebut ketinggian&lt;br /&gt;saling berebut pasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya surabaya&lt;br /&gt;jalan-jalan semakin hijau&lt;br /&gt;asap beribu mobil semakin kacau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya musim kemarau&lt;br /&gt;hanya debu ketergesaan semakin galau&lt;br /&gt;segalanya berlalu tanpa batas&lt;br /&gt;siapa menunggu kelak tergilas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu-lampu iklan&lt;br /&gt;kian semakin gemerlapan&lt;br /&gt;saling berebut ketinggian&lt;br /&gt;saling berebut pasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya musim kemarau&lt;br /&gt;aku menatapnya semakin risau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya 1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LARUT MALAM SURABAYA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;mobil-mobil yang lintas jalan layang&lt;br /&gt;seakan terbang tanpa sayap&lt;br /&gt;lampu-lampu jalan layang&lt;br /&gt;berjejer diam menyimpan penyap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bunga-bunga taman mayangkara&lt;br /&gt;tidaklah terhitung lengkap&lt;br /&gt;rumput-rumputnya hijau meluas&lt;br /&gt;tanpa ada tersisa sampah-sampah membekas&lt;br /&gt;dan pohonan hias menyejuk mata&lt;br /&gt;di antaranya terselip cahaya&lt;br /&gt;lampu-lampu merkuri menebar asri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu-lampu kota warna-warni&lt;br /&gt;lampu-lampu mobil tak mau mati&lt;br /&gt;kota tiada mau diam, meski jam&lt;br /&gt;telah sampai larut malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota ini adalah buaya, yang&lt;br /&gt;menelan segala perangkat teknologi&lt;br /&gt;teknologi abad ini, tanpa&lt;br /&gt;terseleksi (diseleksi?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAMAN SURYA BULAN PAHLAWAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;malam ini tidak seperti biasanya&lt;br /&gt;taman surya hanya sepi saja, anak-anak&lt;br /&gt;dan orangtua mereka tak nampak&lt;br /&gt;bermain di antara bunga-bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di dekat pintu pagar utama&lt;br /&gt;ada terpancang baliho besar&lt;br /&gt;memuat kobar semangat pahlawan&lt;br /&gt;bagi siapa melihatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di luar pagar ada berjajar&lt;br /&gt;sepuluh sang saka jumlahnya&lt;br /&gt;berkibar karena angin menerpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di antara bunga-bunga taman&lt;br /&gt;kain rumbai berjuntai warna-warni&lt;br /&gt;diterpa angin menderai&lt;br /&gt;taman surya kian asri malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penjual-penjual balon mainan anak&lt;br /&gt;tidak juga kulihat di sana&lt;br /&gt;spanduk slogan kepahlawanan&lt;br /&gt;terpampang di atas baliho&lt;br /&gt;dan di antara pepohonan hijau&lt;br /&gt;meneriakkan pesan-pesan&lt;br /&gt;pahlawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu-lampu hias&lt;br /&gt;di sekitar patung sudirman&lt;br /&gt;menambah pantas tata-rias&lt;br /&gt;di gelap malam kota pahlawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pasukan kuning masih tampak setia&lt;br /&gt;mengayun sapu lidinya malam ini&lt;br /&gt;menyiapkan keindahan rasa setiap mata&lt;br /&gt;sebelum parak pagi menjemput tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;esok hari, adalah hari pahlawan&lt;br /&gt;kita peringati bersama&lt;br /&gt;kita adakan upacara bendera&lt;br /&gt;melepas ikhlas doa&lt;br /&gt;teruntuk sang pahlawan bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;taman surya malam hari pahlawan&lt;br /&gt;semakin cantik berdandan&lt;br /&gt;malam sepi di taman surya&lt;br /&gt;semakin mengusik hatiku berkata&lt;br /&gt;“pahlawan bangsa&lt;br /&gt;tidak hanya mengangkat senjata&lt;br /&gt;pasukan kuning dan sapu lidinya&lt;br /&gt;guru dan rasa ikhlasnya, termasuk&lt;br /&gt;di antara mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 9/11/1988&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TERMINAL LARUT MALAM&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;malam selarut ini, pernah&lt;br /&gt;kita terperangah harus ke mana arah&lt;br /&gt;diputuskan?&lt;br /&gt;sebab kita nyaris alpa&lt;br /&gt;jika garis kencan malam telah habis&lt;br /&gt;(mungkin kita alpa atau barangkali&lt;br /&gt;kita melupakan garis tepi?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembali ke alamat semula&lt;br /&gt;atau harus pulang&lt;br /&gt;ke rumah pondokan?&lt;br /&gt;(sulit menentukan batas pasti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal kita tahu jika&lt;br /&gt;pintu rumah keduanya&lt;br /&gt;telah pasti tertutup rapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada malam selarut ini&lt;br /&gt;lalu hanya bisa termangu-mangu&lt;br /&gt;menghitung jam menunggu pagi&lt;br /&gt;malam selarut ini&lt;br /&gt;ke mana langkah kaki kita&lt;br /&gt;diarahkan lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam selarut ini&lt;br /&gt;kini aku sendiri di sini&lt;br /&gt;sambil mengingat peristiwa lama&lt;br /&gt;yang dulu merupakan dilema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam selarut ini&lt;br /&gt;hanya sisa kenangan tertinggal&lt;br /&gt;lantas ada terminal dalam hati&lt;br /&gt;kian terasa sepi&lt;br /&gt;Surabaya, 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GENTENGKALI SIANGHARI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;hari telah siang. ada rimis hujan jatuh sebentar&lt;br /&gt;telah habis oleh mentari yang kembali membakar&lt;br /&gt;ada perasaan riang. setelah sua dalam kabar&lt;br /&gt;dengan perempuan berkacamata yang berbinar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita-cerita lama kembali digelar&lt;br /&gt;seperti air yang mengalir terasa segar&lt;br /&gt;cerita-cerita memilih artinya sendiri&lt;br /&gt;pada kenangan yang masih sempat terpatri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternyata pintu hati masih terbuka&lt;br /&gt;untuk misteri bernama cinta&lt;br /&gt;meski tertangkap samar, namun masih&lt;br /&gt;terasa ada bergetar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;PATUNG SUDIRMAN I&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;pada hari pahlawan ini&lt;br /&gt;kau semakin tampak tegap berdiri&lt;br /&gt;pedang di pinggang&lt;br /&gt;menatap panasnya siang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hanya bisa melepas doa&lt;br /&gt;bagimu, sang pahlawan&lt;br /&gt;doa seorang penyair&lt;br /&gt;sepanjang dzikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1988&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PATUNG SUDIRMAN II&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;aku menatapmu lama-lama&lt;br /&gt;pada hari pahlawan tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengamati sosok patung pahlawan&lt;br /&gt;negeri ini, dengan&lt;br /&gt;membaca pesan-pesan tertulisi&lt;br /&gt;di bawah patungmu sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menatapmu lama-lama&lt;br /&gt;pada hari pahlawan tiba, lalu&lt;br /&gt;ada suara hati melepas doa&lt;br /&gt;terucap tanpa suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengamati patungmu berdiri&lt;br /&gt;mengaca pada cermin sendiri&lt;br /&gt;ternyata, kita semua&lt;br /&gt;belum berbuat apa-apa&lt;br /&gt;untuk negeri tercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1988&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;EMBONG MALANG&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;menelusuri jalan embong malang sianghari&lt;br /&gt;terasa jalanan mengambang kebak polusi&lt;br /&gt;kendaraan mengalir satu arah&lt;br /&gt;keringatku mencair begitu gerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang selatan jalan embong malang&lt;br /&gt;terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang&lt;br /&gt;engkaukah yang telah mengubah&lt;br /&gt;wajah kota begitu gagah&lt;br /&gt;atau mungkin menyulap kota tampak begitu gagah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara di beberapa tempat&lt;br /&gt;banyak orang mengumpat&lt;br /&gt;soal pendapatan upah buruh taklagi diterima utuh&lt;br /&gt;soal rumah leluhur menyimpan arsitektur lama&lt;br /&gt;dengan pongah digusur-gusur, kota lama&lt;br /&gt;seperti telah dikubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;embong malang jalan satu arah&lt;br /&gt;tak memberi satu arah, bagi&lt;br /&gt;arti kehidupan tanpa jurang pemisah&lt;br /&gt;antara yang mewah dan lainnya berdarah&lt;br /&gt;atau mungkin bernanah?&lt;br /&gt;Surabaya, 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DI KOTA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;di kota&lt;br /&gt;pabrik itulah yang mengubah udara&lt;br /&gt;jadi bertuba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kota&lt;br /&gt;manusia itulah yang mengubah anak&lt;br /&gt;jadi robot tanpa jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kota&lt;br /&gt;manusia itulah yang mengubah cinta&lt;br /&gt;jadi uang yang segalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kota&lt;br /&gt;akulah orang yang terpuruk&lt;br /&gt;kehilangan suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 7 Januari 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SIMPANG LIMA BLAURAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di simpang lima Blauran waktu malam&lt;br /&gt;hanya kulihat lampu-lampu iklan gemerlap&lt;br /&gt;beribu orang lalu-lalang, dan beribu&lt;br /&gt;lampu-lampu mobil dengan cahaya bersilangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di trotoar jalan Blauran penuh pedagang&lt;br /&gt;pedagang kakilima mengadu peruntungan&lt;br /&gt;di bawah angin di bawah hujan di bawah malam&lt;br /&gt;dari penjual koran, kupon undian sampai celana dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu iklan warna-warni, dengan&lt;br /&gt;cahaya kelap-kelip sepanjang malam&lt;br /&gt;berebut menarik sejuta mata pembeli&lt;br /&gt;agar mereka jatuh hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di simpang lima Blauran waktu malam&lt;br /&gt;aku hanya bisa menatap lampu iklan gemerlap&lt;br /&gt;tanpa menaruh hati. tanpa punya niat&lt;br /&gt;untuk terjerat membeli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAMAN SURYA BULAN PAHLAWAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam ini tidak seperti biasanya&lt;br /&gt;taman surya hanya sepi saja, anak-anak&lt;br /&gt;dan orangtua mereka tak nampak&lt;br /&gt;bermain di antara bunga-bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di dekat pintu pagar utama&lt;br /&gt;ada terpancang baliho besar&lt;br /&gt;memuat kobar semangat pahlawan&lt;br /&gt;bagi siapa melihatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di luar pagar ada berjajar&lt;br /&gt;sepuluh sang saka jumlahnya&lt;br /&gt;berkibar karena angin menerpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di antara bunga-bunga taman&lt;br /&gt;kain rumbai berjuntai warna-warni&lt;br /&gt;diterpa angin menderai&lt;br /&gt;taman surya kian asri malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penjual-penjual balon mainan anak&lt;br /&gt;tidak juga kulihat di sana&lt;br /&gt;spanduk slogan kepahlawanan&lt;br /&gt;terpampang di atas baliho&lt;br /&gt;dan di antara pepohonan hijau&lt;br /&gt;meneriakkan pesan-pesan&lt;br /&gt;pahlawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu-lampu hias&lt;br /&gt;di sekitar patung sudirman&lt;br /&gt;menambah pantas tata-rias&lt;br /&gt;di gelap malam kota pahlawan&lt;br /&gt;pasukan kuning masih tampak setia&lt;br /&gt;mengayun sapu lidinya malam ini&lt;br /&gt;menyiapkan keindahan rasa setiap mata&lt;br /&gt;sebelum parak pagi menjemput tiba&lt;br /&gt;esok hari, adalah hari pahlawan&lt;br /&gt;kita peringati bersama&lt;br /&gt;kita adakan upacara bendera&lt;br /&gt;melepas ikhlas doa&lt;br /&gt;teruntuk sang pahlawan bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;taman surya malam hari pahlawan&lt;br /&gt;semakin cantik berdandan&lt;br /&gt;malam sepi di taman surya&lt;br /&gt;semakin mengusik hatiku berkata&lt;br /&gt;“pahlawan bangsa&lt;br /&gt;tidak hanya mengangkat senjata&lt;br /&gt;pasukan kuning dan sapu lidinya&lt;br /&gt;guru dan rasa ikhlasnya, termasuk&lt;br /&gt;di antara mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 9/11/1988&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA, CINTAKU KIAN BERJUTA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya&lt;br /&gt;adalah kota yang tak pernah ada&lt;br /&gt;dalam impian benakku sejak mula&lt;br /&gt;masa kecilku di desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya bagiku ketika itu&lt;br /&gt;adalah kota maha dahsyat&lt;br /&gt;penuh maksiat, tetapi sekaligus kota&lt;br /&gt;santri di kampung arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bermula ketakutanku datang&lt;br /&gt;di kotamu, hanya rasa bimbang&lt;br /&gt;dan seribu ambigu tentang kedahsyatan&lt;br /&gt;maksiat yang sarat atas kotamu&lt;br /&gt;adakah bisa bertahan jiwa iman&lt;br /&gt;dalam diriku, jika aku harus&lt;br /&gt;mengais hidup di kotamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi surabaya&lt;br /&gt;adalah kota yang kemudian&lt;br /&gt;menjadi pantai, di mana aku&lt;br /&gt;terdampar menggapai-gapai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bermula hidup di surabaya&lt;br /&gt;terasa hari-hari penuh fatamorgana&lt;br /&gt;tertatih berjalan melewati&lt;br /&gt;kerikil tajam kehidupan&lt;br /&gt;meraba-raba seperti tanpa mata&lt;br /&gt;mencari sisa rasa cintanya, yang berjatuhan&lt;br /&gt;entah di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya&lt;br /&gt;setelah serpih demi serpih cintamu&lt;br /&gt;tergenggam tanganku, ada benih&lt;br /&gt;beribu rasa cintaku mengembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya&lt;br /&gt;kini cintaku kepadamu kian tumbuh&lt;br /&gt;kotamu jika siang semakin teduh&lt;br /&gt;kian mempesona lantaran adipura&lt;br /&gt;semakin asri jika datang malam hari&lt;br /&gt;sebab lampu-lampu iklan&lt;br /&gt;yang selalu gemerlapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya&lt;br /&gt;lampu-lampu iklanmu&lt;br /&gt;adalah sebagai kekayaan kota&lt;br /&gt;tapi sekaligus racun bagi&lt;br /&gt;wargamu, dan merupakan gincu&lt;br /&gt;keindahan yang hanya semu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya&lt;br /&gt;cintaku kian berjuta jumlahnya&lt;br /&gt;tapi berjuta pula rasa inginku&lt;br /&gt;meninggalkan kotamu&lt;br /&gt;mengapa bisa begitu&lt;br /&gt;aku tiada pernah tahu?&lt;br /&gt;Surabaya, 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ENTAH BISA DEMIKIAN JADINYA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;* pro. hm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di surabaya ini, aku tak kuasa lagi bicara&lt;br /&gt;soal politik, apalagi bicara sosial berbau kritik&lt;br /&gt;sedang bicara moral, seperti telah&lt;br /&gt;kehilangan akal&lt;br /&gt;entah bisa demikian jadinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal dulu, ketika masih kuliah bersamamu&lt;br /&gt;kita punya ambisi jadi politisi atau kritisi&lt;br /&gt;bahkan jika mungkin jadi kyai&lt;br /&gt;tapi semua, ternyata hanya mimpi belaka&lt;br /&gt;entah bisa demikian jadinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota ini telah demikian padat iklan&lt;br /&gt;kebanyakan orang tanpa sadar kehilangan iman&lt;br /&gt;aku terjerat dan bahkan tersudutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(barangkali benar arti kata politik&lt;br /&gt;yang dulu kita analisa sebagai barbar&lt;br /&gt;mencapai tujuan halalkan cara apa saja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab di sini banyak orang berdagang dan bekerja&lt;br /&gt;menggunakan politik sebagai pisaunya&lt;br /&gt;sedang kritik yang terlontar dan diteriakkan&lt;br /&gt;hanya menggelitik tawar tak lagi mempan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerja sosial berbau amal dan moral, hanya&lt;br /&gt;sebatas tercatat di koran harian atau berita&lt;br /&gt;televisi yang tampaknya manusiawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bicara religi, kota hanya suara nyanyian tawar&lt;br /&gt;yang kudengar. sedang orang ngaji&lt;br /&gt;tak pernah terdengar lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di surabaya ini, hampir-hampir aku tak lagi&lt;br /&gt;bisa menulis tentang puisi. mungkin karena&lt;br /&gt;polusi atau karena sirnanya semua ambisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan jika kembali kau sempat sua&lt;br /&gt;aku tak lagi bicara seperti dulu&lt;br /&gt;demikian berambisi dan menggebu&lt;br /&gt;entah bisa demikian jadinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TANJUNG PERAK MALAM KESEKIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;bemo itulah yang mengantarku&lt;br /&gt;ke tanjung perak malam kesekian&lt;br /&gt;lantaran mataku tak mau pejam&lt;br /&gt;hingga larut malam begini sunyi&lt;br /&gt;harus sendirian pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepanjang perjalanan kutempuh&lt;br /&gt;telah lengang dari orang, sedang suara-suara riuh&lt;br /&gt;yang sesekali terdengar, adalah truk-truk&lt;br /&gt;trailer dengan muatan sarat terbatuk-batuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanjung perak malam kesekian&lt;br /&gt;kutempuh karena mata tak mau pejam&lt;br /&gt;kapal-kapal bersandar di dermaga tegar&lt;br /&gt;lampu-lampunya terang bersinar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuli-kuli pelabuhan masih setia&lt;br /&gt;menurunnkan muatan di malam buta&lt;br /&gt;begitu pula pemancing muda usia&lt;br /&gt;setia mengganti umpan pada kailnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesuap nasi, ternyata ada yang harus&lt;br /&gt;melawan kantuknya malam&lt;br /&gt;melawan bisunya kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekeping hati, ternyata ada yang pupus&lt;br /&gt;melawan suntuknya mata terpejam&lt;br /&gt;melawan rindunya terpendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena di tanjung perak&lt;br /&gt;tak kutemukan lagi jejak&lt;br /&gt;ke mana perginya sosokmu&lt;br /&gt;hingga berminggu-minggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanjung perak malam kesekian kali&lt;br /&gt;hanya aku yang termangu-mangu&lt;br /&gt;sedang rinduku disembunyikan&lt;br /&gt;kapal-kapal itu, yang bergoyangan&lt;br /&gt;dihempas laut tetap tegak membisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA MUSIM KEMARAU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya kini lagi musim angin&lt;br /&gt;malam begitu dingin. karena sahabat setia&lt;br /&gt;kemarau panjang ini adalah debu&lt;br /&gt;yang diterbangkan angin polusi selalu&lt;br /&gt;dengan cuaca begitu panas sekali&lt;br /&gt;di siang hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke mana perginya awan dan hujan&lt;br /&gt;aku tiada pernah mengerti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;daun-daun pepohonan sepanjang jalan kota&lt;br /&gt;telah berapa lama jatuh&lt;br /&gt;dahan dan ratingnya kering. matahari&lt;br /&gt;dengan leluasa membakar bumi. sangar sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air kalimas susut. berwarna keruh&lt;br /&gt;hitam dan menakutkan&lt;br /&gt;ini musim kemarau panjang. tapi limbah industri&lt;br /&gt;terus mengapungkan busa. putih-putih&lt;br /&gt;di atas sepanjang alur kalimas berbuih&lt;br /&gt;kalimas merintih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akulah saksi itu., surabaya musim kemarau&lt;br /&gt;segalanya seperti risau. bahkan suara-suara&lt;br /&gt;mobil berlarian terdengar parau. kacau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota telah dibakar laju peradaban dunia&lt;br /&gt;barangkali mengejar mimpi teknologi&lt;br /&gt;bahkan mungkin ambisi demi ambisi&lt;br /&gt;tanpa batas tepi. tanpa ada teraih di tangan&lt;br /&gt;seorang pemimpi. ilusi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya musim kemarau&lt;br /&gt;hijau daun pepohonan berganti warna&lt;br /&gt;asap cerobong pabrik terus mengobrak-abrik&lt;br /&gt;udara kota. sesak terasa di dada&lt;br /&gt;sandiwara peradaban kota terus berlangsung&lt;br /&gt;tanpa ujung tanpa juntrung&lt;br /&gt;lantas ke mana rasa bimbang ini&lt;br /&gt;harus ditimbang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada dewan walikota. atau pada&lt;br /&gt;pak walikota? kepada angin, atau pada&lt;br /&gt;musim dingin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya musim kemarau&lt;br /&gt;teriakanku semakin parau&lt;br /&gt;hati pun kian semakin risau&lt;br /&gt;Surabaya, 1991&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;THR SURABAYA MALL&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;lalu lampu-lampu itu pun padam&lt;br /&gt;keindahan taman tinggal kelam&lt;br /&gt;tinggal sepi (mungkin) sunyi&lt;br /&gt;menyekap diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada lagi gemontang musik rock&lt;br /&gt;di pangung terbuka. tak ada lagi&lt;br /&gt;gelak tawa penonton srimulat&lt;br /&gt;dan tepuk riuh&lt;br /&gt;penonton wayang orang bergemuruh&lt;br /&gt;tak ada lagi! tak ada lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya lagu disko. ada juga dangdut&lt;br /&gt;dari la-surya kian membalut&lt;br /&gt;malam larut. kian membuat hanyut&lt;br /&gt;dalam goyang berlarut-larut&lt;br /&gt;bagi mereka yang tersudut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedang ludruk tinggal cerita&lt;br /&gt;dari mulut ke mulut&lt;br /&gt;tak pernah runtut. selebihnya&lt;br /&gt;ada di televisi tanpa rohnya lagi&lt;br /&gt;barangkali hambar (mungkin) tawar&lt;br /&gt;di telingamu kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu lampu-lampu itu pun padam&lt;br /&gt;keindahan taman tinggal kelam&lt;br /&gt;tinggal sepi (mungkin) sunyi&lt;br /&gt;sedang mengingat ludruk kembali&lt;br /&gt;terasa kehilangan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1991&lt;br /&gt;*) la-surya, rumah disko atau diskotik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEKALI LAGI SURABAYA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;· &lt;em&gt;teruntuk annie di cimahi&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;surabaya telah mengajarku membaca&lt;br /&gt;tentang lupa, dusta dan segala dosa&lt;br /&gt;yang ditawarkan setiap hari-harinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya telah mengajariku berkata&lt;br /&gt;untuk tidak gampang lupa gampang berdusta&lt;br /&gt;tidak pula gampang menghimpun dosa&lt;br /&gt;tanpa memperhitungkan angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya telah mengajariku membuka hati&lt;br /&gt;seluas padang sabana menghijau warna&lt;br /&gt;surabaya telah mengajariku membuka pikir&lt;br /&gt;sebening telaga sejernih air segarnya&lt;br /&gt;tanpa rasa pongah apa lagi kikir dalam berpikir&lt;br /&gt;lantas pintar berdusta dan lupa segala&lt;br /&gt;tidak! sekali lagi tidak!&lt;br /&gt;surabaya telah mengajarkan ketegaran demi ketegaran&lt;br /&gt;dari seribu sandungan demi sandungan&lt;br /&gt;tanpa terhitungkan. dengan beribu batu sandung uji&lt;br /&gt;aku tetap berdiri tegak bersitahan. sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya! sekali lagi surabaya!&lt;br /&gt;telah mengajarku bicara apa adanya&lt;br /&gt;meski kau tahu pasti&lt;br /&gt;bahwa surabaya begitu gemerlap&lt;br /&gt;penuh gincu keindahan yang hanya sekejap&lt;br /&gt;surabaya penuh rumah mewah nan megah&lt;br /&gt;tanpa satu pun aku memiliki tiada pernah&lt;br /&gt;penuh mobil-mobil bergengsi dan beribu taksi&lt;br /&gt;tapi aku tak punya. hanya naik bemo lebih nikmat terasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya! sekali lagi surabaya!&lt;br /&gt;sejuta keangkuhan ditebar di jalanan&lt;br /&gt;sejuta maksiat disembunyikan lampu gemerlap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya! sekali lagi surabaya!&lt;br /&gt;berjuta orang meneguhkan iman di bulan ramadhan&lt;br /&gt;berjuta orang berbuat demi hidup yang sehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya! sekali lagi surabaya!&lt;br /&gt;kebersihan kotanya mendapatkan adipura&lt;br /&gt;adalah kebersihan warga bersama walikota&lt;br /&gt;menata metropolitan kedua ini jadi mempesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya! sekali lagi surabaya!&lt;br /&gt;hanya berbekal segerobak cinta&lt;br /&gt;mengekalkan kesetiaan imanku tegak adanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surabaya! sekali lagi surabaya!&lt;br /&gt;mengajariku lebih banyak membaca tanda-tanda&lt;br /&gt;mengajariku tahu hidup lebih sederhana&lt;br /&gt;apa adanya. tanpa muatan prasangka-prasangka&lt;br /&gt;seperti pahlawan bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1991&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MEMANG BENARLAH MALANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;malanglah kau jika dalam langkahmu sekarang&lt;br /&gt;di mana kota telah mengajarmu pintar berdusta&lt;br /&gt;lebih lagi bila gincu dan gemerlapnya barang-barang&lt;br /&gt;sebagai topeng sembunyikan segala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal bagiku, kota&lt;br /&gt;adalah referensi bagi teguhnya hati&lt;br /&gt;tetap tegak berdiri. tanpa goyah&lt;br /&gt;meski batu-batu uji&lt;br /&gt;telah saling-silang berganti&lt;br /&gt;seperti tanpa henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang benarlah malang&lt;br /&gt;apabila kota menjanjikan kata bimbang&lt;br /&gt;lewat persimpangan-persimpangan&lt;br /&gt;tampak begitu gemerlap, dan&lt;br /&gt;kau memilih gemerlap yang hanya sekejap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali kota pula&lt;br /&gt;yang telah menggergaji ingatan janji&lt;br /&gt;menepiskan impian mudah sekali pergi&lt;br /&gt;tanpa timbangan hati nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang benarlah malang&lt;br /&gt;bagi orang yang lupa diri&lt;br /&gt;tanpa kendali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1991&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BERJAMAAH DI PLAZA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata seorang kyai, belajar ngaji&lt;br /&gt;adalah amalan yang patut dipuji&lt;br /&gt;dan sholat berjamaah&lt;br /&gt;dapat pahala berkah&lt;br /&gt;berlipat-lipat jumlah&lt;br /&gt;tapi kenapa banyak orang&lt;br /&gt;belajar nyanyi, belajar tari&lt;br /&gt;dan baca puisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kenapa banyak orang berjamaah&lt;br /&gt;hanya di plaza-plaza&lt;br /&gt;hamburkan uang berjuta-juta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah ini dapat dipuji, dan&lt;br /&gt;adakah plaza menyimpan pahala&lt;br /&gt;berlipat ganda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah… barangkali saja, plaza-plaza&lt;br /&gt;telah jadi berhala baru&lt;br /&gt;yang dipoles gincu&lt;br /&gt;begitu indah&lt;br /&gt;dan banyak orang ikut berjamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1992&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEPADAMU SURABAYA AKU BERTANYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· &lt;em&gt;kalung ulang tahun Surabaya 701&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;kepadamu surabaya aku bertanya&lt;br /&gt;ke mana arah singgah&lt;br /&gt;bermilyar rupiah itu&lt;br /&gt;bermuara setiap hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke mana aku harus mencari&lt;br /&gt;jejaknya yang tiada tampak&lt;br /&gt;oleh silaunya lampu iklan gemerlap&lt;br /&gt;oleh gebalaunya mesin pabrik&lt;br /&gt;oleh saling-silangnya mobil mewah&lt;br /&gt;di jalan raya, mengusung&lt;br /&gt;polusi udara di atas kota&lt;br /&gt;langit jadi mendung&lt;br /&gt;tapi hujan tak juga turun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke mana aku harus mencari&lt;br /&gt;jejaknya yang tiada juga tampak&lt;br /&gt;oleh gelapnya jalan keadilan&lt;br /&gt;oleh gelapnya jalan kebenaran&lt;br /&gt;sedang tatap mataku pada lampu iklan&lt;br /&gt;telah begitu asing&lt;br /&gt;sementara kupingku bising oleh suara mesin&lt;br /&gt;mataku kabur oleh polusi udara menghablur&lt;br /&gt;mataku kabur oleh jalan kebenaran&lt;br /&gt;yang hanya menghibur&lt;br /&gt;barangkali hanya kepadamu surabaya&lt;br /&gt;aku terus menterorkan tanya&lt;br /&gt;ke mana kausembunyikan pembunuh&lt;br /&gt;Marsinah, sedang para buruh&lt;br /&gt;terus kau peras untuk menekan&lt;br /&gt;rasa lelah dan menekan bayaran upah&lt;br /&gt;di mana ada pintu sanubari terbuka&lt;br /&gt;semua terkunci bagi penggagas hati nurani&lt;br /&gt;semua terkunci bagi penggagas seni murni&lt;br /&gt;dan terkunci pula pikiran waras&lt;br /&gt;yang kini dikebiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepadamu surabaya aku bertanya&lt;br /&gt;benarkah beribu pasang lampu iklan&lt;br /&gt;di sepanjang jalan, hanya sebagai&lt;br /&gt;gincu keindahan kota berdandan&lt;br /&gt;dan kelap-kelipnya iklan&lt;br /&gt;seakan cibiran bagi slogan&lt;br /&gt;“mengentas kemiskinan”&lt;br /&gt;yang banyak didengungkan birokrat&lt;br /&gt;hampir tiap saat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidakkah kita bersama-sama&lt;br /&gt;“mementaskan kemiskinan”&lt;br /&gt;dan kemudian bersama-sama pula&lt;br /&gt;mata kita terjaga atau mungkin geleng kepala&lt;br /&gt;bahwa kemiskinan ternyata masih&lt;br /&gt;terlalu banyak dari hitungan sebenarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepadamu surabaya aku bertanya&lt;br /&gt;ke mana arah singgah pertanyaanku&lt;br /&gt;akan terjawab oleh keindahan kotamu&lt;br /&gt;mungkinkah gedung-gedung menjulang&lt;br /&gt;telah sembunyikan jawaban&lt;br /&gt;atau kelap-kelip lampu iklan&lt;br /&gt;yang telah membungkus kebusukan beribu&lt;br /&gt;dengan gincu keindahan yang hanya semu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepadamu surabaya aku bertanya&lt;br /&gt;sekali lagi kepadamu&lt;br /&gt;surabaya kotaku&lt;br /&gt;Surabaya, 1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MEMANDANG SURABAYA KINI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang surabaya kini&lt;br /&gt;kau pasti tak percaya lagi&lt;br /&gt;kota bagai mimpi&lt;br /&gt;kalimas begitu indah bersih&lt;br /&gt;tak terdengar lagi suaranya sedih&lt;br /&gt;yang dulu terdengar bagai merintih&lt;br /&gt;rintih begitu perih&lt;br /&gt;bila malam melangkah&lt;br /&gt;kalimas kini begitu indah&lt;br /&gt;lampu-lampu taman kota&lt;br /&gt;berkelipan di cermin&lt;br /&gt;alirnya air kalimas nan jernih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senja hari tiba&lt;br /&gt;taman kota pinggir kalimas&lt;br /&gt;menjanjikan arena bermain&lt;br /&gt;tanpa bayar bagi anak-anak kota&lt;br /&gt;hingga puas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang surabaya kini&lt;br /&gt;seperti masuk kota mimpi&lt;br /&gt;segala disulap begitu gemerlap&lt;br /&gt;lampu-lampu iklan di jalanan&lt;br /&gt;tanpa henti berkejap semalaman&lt;br /&gt;perempuan bagai peri berjajar&lt;br /&gt;di jalanan, menebar birahi&lt;br /&gt;bagi lelaki kesepian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang surabaya kini&lt;br /&gt;kau tak percaya lagi&lt;br /&gt;taman-taman kota tertata rapi&lt;br /&gt;pohon-pohon pelindung jalan&lt;br /&gt;meneduhi, sedang di sisi lain&lt;br /&gt;unjuk rasa berbagai soal&lt;br /&gt;terus didengungkan jalin-menjalin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah… barangkali saja&lt;br /&gt;surabaya kini potretnya pabrik&lt;br /&gt;unjuk rasa yang telah jadi tradisi&lt;br /&gt;dan ini adalah menarik&lt;br /&gt;bagi peneliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;EMBONG MALANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menapaki trotoar jalan embong malang&lt;br /&gt;terasa jalanan mengambang kebak polusi&lt;br /&gt;kendaran mengalir satu arah&lt;br /&gt;keringatku mencair begitu gerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang selatan jalan embong malang&lt;br /&gt;terasa diriku hilang ditelan gedung menjulang&lt;br /&gt;engkaukah yang telah mengubah&lt;br /&gt;wajah kota begitu indah&lt;br /&gt;atau mungkin menyulap kota&lt;br /&gt;tampak begitu gagah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara di beberapa tempat&lt;br /&gt;banyak orang mengumpat&lt;br /&gt;soal pendapatan upah buruh&lt;br /&gt;tak lagi diterima utuh&lt;br /&gt;soal rumah leluhur menyimpan arsitektur lama&lt;br /&gt;dengan pongah digusur-gusur, kota lama&lt;br /&gt;seperti telah dikubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;embong malang jalan satu arah&lt;br /&gt;tak memberi satu arah, bagi&lt;br /&gt;arti kehidupan tanpa&lt;br /&gt;jurang pemisah, antara yang mewah&lt;br /&gt;dan lainnya berdarah, atau&lt;br /&gt;mungkin bernanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MENYUSURI JALAN KOTA SURABAYA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;menyusuri jalan-jalan kota surabaya&lt;br /&gt;tak kutemukan sejumput kata&lt;br /&gt;untuk direkrut dalam bangunan sajak&lt;br /&gt;di hiruk-pikuk kota menggelegak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyusuri jalan-jalan kota surabaya&lt;br /&gt;dibangun kantor-kantor bank berjejer&lt;br /&gt;padahal jaman tergelontor krisis moneter&lt;br /&gt;kantor-kantor bank kian megah bertengger&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyusuri jalan-jalan kota surabaya&lt;br /&gt;mata kita dipaksa membaca iklan gagah terpampang&lt;br /&gt;dari kelap-kelip lampu waktu malam&lt;br /&gt;gambar gadis ayu jualan sabun di siang terang&lt;br /&gt;sampai iklan-iklan kecil jamu racikan&lt;br /&gt;les privat, badut ulang tahun, dan tukang talang&lt;br /&gt;terpajang di pohon-pohon perindang jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyusuri jalan-jalan kota surabaya&lt;br /&gt;mobil berdesakan sering terjadi kemacetan&lt;br /&gt;jalan-jalan kota kian kebak polusi&lt;br /&gt;hari-hari polusi serasa tiada henti&lt;br /&gt;sedang polisi yang jaga sejak pagi&lt;br /&gt;hanya mencari kesalahan&lt;br /&gt;dan bukan membenarkan salah pengendara&lt;br /&gt;rambu-rambu berfungsi semu. mungkin hanya gincu&lt;br /&gt;untuk menjebak pengendara tak tahu&lt;br /&gt;terpaksa keluarkan uang saku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyusuri jalan-jalan kota surabaya&lt;br /&gt;tak kutemukan sejumput kata&lt;br /&gt;untuk direkrut dalam bangunan sajak&lt;br /&gt;agar hidup tak terasa sesak tak terasa berdesak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1999/2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JEMBATAN&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;MERAH I&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;di terminal jembatan merah hati gelisah&lt;br /&gt;menanti janji kemarin diucapkan&lt;br /&gt;tentang kencan seorang kawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cuaca kota semakin gerah&lt;br /&gt;di antara asap kepul kendaraan&lt;br /&gt;yang berebut penumpang, telah&lt;br /&gt;melaju menjangkah tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam semakin cepat merambat&lt;br /&gt;senja semakin memburu kita&lt;br /&gt;perasaan semakin memberat&lt;br /&gt;dalam lingkar keinginan sua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari terlena senja pun tiba&lt;br /&gt;keberangkatan tanpa bertemu&lt;br /&gt;menekan sejuta rasa jemu&lt;br /&gt;dalam menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JEMBATAN MERAH II&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;menepati janji sendiri&lt;br /&gt;terkadang bagai bumerang&lt;br /&gt;bagi diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari siang hingga senja merembang&lt;br /&gt;teman kunanti tak juga datang&lt;br /&gt;membuat hati semakin bimbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jembatan merah&lt;br /&gt;merahnya semakin merah&lt;br /&gt;dalam tatap mata mengharap&lt;br /&gt;kawan sekerja terdekat&lt;br /&gt;belum juga terlihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah pasti diperpanjang lagi&lt;br /&gt;saat menanti seperti ini&lt;br /&gt;sedang rasa jenuh telah luruh&lt;br /&gt;pada hati menyeluruh&lt;br /&gt;adakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JEMBATAN MERAH III&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;penantianmu sia-sia saja&lt;br /&gt;sebab kencan yang telah diucapkan&lt;br /&gt;hanya lahir dari bibir belaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penantianmu tanpa makna&lt;br /&gt;hingga jenuh dalam menunggu&lt;br /&gt;takkan sampai arah sua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asap mobil, suara calo, dan tukang becak&lt;br /&gt;tukang parkir, sopir bemo, dan pedagang sawo&lt;br /&gt;takkan bisa menjawabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jembatan merah dan gedung megah&lt;br /&gt;jalan raya dan terminal&lt;br /&gt;takkan bisa ditanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;deru bus mangkal di terminal&lt;br /&gt;memburu hatimu bertambah kesal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RAYA DARMO&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikian panjang jalan raya&lt;br /&gt;dan padat kendaraan berlarian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikian teduhnya raya darmo&lt;br /&gt;terbelah pepohonan nan hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti panjangnya rinduku&lt;br /&gt;memuat hasrat berpacu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti luruhnya hati risau&lt;br /&gt;bila telah kembali bertemu dikau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ada hasrat tetap melesat&lt;br /&gt;tapi pintu sua kembali&lt;br /&gt;tak berujung pasti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalanan semakin panjang&lt;br /&gt;kaki menempuhnya bimbang&lt;br /&gt;lalu ada wajah keruh&lt;br /&gt;hanya berupa bayang&lt;br /&gt;semakin mengambang&lt;br /&gt;Surabaya, 1988&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JOYOBOYO DINIHARI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelelahanmu telah mengantarkan&lt;br /&gt;matamu terpejam sejenak&lt;br /&gt;dari perjalanan malam&lt;br /&gt;tanpa kepastian jarak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersandar pada kursi ruang tunggu&lt;br /&gt;menanti pagi menjemput kembali&lt;br /&gt;menuju kota semalam kautinggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternyata kata cinta&lt;br /&gt;mengalahkan segala&lt;br /&gt;memang benar adanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerja seharian melelahkan&lt;br /&gt;jadi sirna oleh satu kata cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memasuki terminal joyoboyo dinihari&lt;br /&gt;suatu kali, mengingatkan kau kembali&lt;br /&gt;tertidur memelas bersandar kursi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mamasuki terminal joyoboyo dinihari&lt;br /&gt;hanya ilusi mengejar membuntuti&lt;br /&gt;sedang kau tak ada lagi di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BILA TERASA SESAK DI KOTA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Bila kau telah merasa sesak di tengah kota&lt;br /&gt;bernafas tak bisa lega&lt;br /&gt;bekerja tak bisa prima&lt;br /&gt;beranak-pinak merasa tersiksa&lt;br /&gt;maka tak pelak lagi, kau harus bergerak&lt;br /&gt;tinggalkan kota, dan kau harus&lt;br /&gt;tinggal di kampungku kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung yang pepohonannya rimbun&lt;br /&gt;burung-burung masih berkicau merdu&lt;br /&gt;udaranya tak bermuatan asap polusi&lt;br /&gt;dan rumah-rumahnya tertata rapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu khawatir, kampungku&lt;br /&gt;telah punya air melalui pipa-pipa&lt;br /&gt;yang setiap hari mengalir&lt;br /&gt;demikian pula listrik sumber cahaya&lt;br /&gt;malam hari, telah menyala apik&lt;br /&gt;jika malam tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkotaan, kampungku tak begitu jauh&lt;br /&gt;hanya beberapa menit dapat ditempuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, bila kau merasa sesak di tengah kota&lt;br /&gt;kini tinggalah di kampungku yang menjanjikan&lt;br /&gt;hidup ini lebih punya makna arti&lt;br /&gt;Surabaya, 3/10/1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SENJA DI STASIUN KOTA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;ketika senja telah merapat&lt;br /&gt;kereta itu pun berangkat&lt;br /&gt;ke mana perginya sepi&lt;br /&gt;dibawa peluit kereta barangkali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;stasiun kini tinggal bangku peron&lt;br /&gt;kosong melompong seperti pentas ludruk&lt;br /&gt;yang kini surut ditinggal penonton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mentari tinggal warna merahnya&lt;br /&gt;melukis langit di ujung senja&lt;br /&gt;sepi kian kental adanya&lt;br /&gt;menggaris dan menggigit rasa&lt;br /&gt;Surabaya, 1989&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DI ATAS BEMO TENGAH KOTA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku tersudut di pojok tempat duduk bemo, mengantarku&lt;br /&gt;ke tempat kerja, menembus hutan beton, dan rimbanya mobil-mobil&lt;br /&gt;yang berebutan jalan di siang yang panas. Peluh yang berjatuhan&lt;br /&gt;dari tubuhku, seperti hujan yang jatuh. Kota demikian gerah&lt;br /&gt;oleh matahari yang membakar gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas bemo itu, seorang Ibu muda bercerita tentang&lt;br /&gt;anaknya yang tidak diterima sekolahan negeri, dan&lt;br /&gt;terpaksa ke sekolah swasta. Kepada temannya yang juga&lt;br /&gt;tampak masih muda usia, dia mengeluh, betapa mahalnya&lt;br /&gt;buku dan bangku yang harus dibayar ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dua perawan yang tampaknya mahasiswa, dialog&lt;br /&gt;tentang masalah sosial budaya kini tak lagi diacuhkannya.&lt;br /&gt;Mereka bicara soal betapa gagahnya plaza yang satu, dengan&lt;br /&gt;lainnya. Sedangkan bicara kritik apa lagi politik, telah sirna&lt;br /&gt;dari mulutnya. Kering bagai pergigi di musim kemarau panjang&lt;br /&gt;sekali. Tapi jangan tanya soal lipstik dan diskotik, dia lebih tahu&lt;br /&gt;dari disiplin ilmu yang kini ditekuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki setengah baya, bertanya kepada seorang Ibu tua&lt;br /&gt;yang baru pulang dari pasar menjual dagangannya. Pertanyaan&lt;br /&gt;tentang rugi-laba yang dibawa pulang, setelah kerja semalaman.&lt;br /&gt;Dan ternyata jawaban yang terlontar, di luar dugaan yang saya&lt;br /&gt;kira. Di luar dugaan kita. Dan kau pasti tak percaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas aku hanya bisa mengelus dada. Ternyata hidup tidak&lt;br /&gt;selamanya diharapkan semula. Memburu untung malah buntung.&lt;br /&gt;Merasa rugi, ternyata malah ketiban rejeki.&lt;br /&gt;Bemo terus berlari, asapnya menambah polusi&lt;br /&gt;setiap pembicaraan yang kutangkap hari ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penumpang selebihnya, adalah pegawai negeri yang bicara soal&lt;br /&gt;kantornya yang kini kena wajib apel siang dan pagi. Dan&lt;br /&gt;kebingungan, lantaran harus ngantar anaknya sekolah pagi-pagi.&lt;br /&gt;Ada juga penumpang yang tampaknya wanita pramuniaga sebuah&lt;br /&gt;toko di plaza --- diam, dengan dandanan seronok --- membuat&lt;br /&gt;mata lelaki siapa tak melorok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bemo terus berlari, di antara mobil-mobil begengsi&lt;br /&gt;Seperti larinya pikiranku dan hati, yang menyimpan rasa iri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jalan Gentengkali aku turun. Sedang celoteh dua Ibu muda,&lt;br /&gt;dua perawan mahasiswa, lelaki setengah baya, Ibu tua, dan&lt;br /&gt;semua penumpang bemo di atasnya --- aku tak tahu lagi&lt;br /&gt;kelanjutannya --- ke mana dan tentang apa?&lt;br /&gt;Surabaya, 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KOTA KETIGA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;* surabaya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota ketiga ternyata hanya&lt;br /&gt;menakar hidup dengan angka-angka&lt;br /&gt;setiap detak langkah manusia&lt;br /&gt;dihitung dengan angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari angka ke angka&lt;br /&gt;surabaya ditakar harganya&lt;br /&gt;sejengkal tanah jutaan harganya&lt;br /&gt;di atas gedung bertingkat adalah angka iklan&lt;br /&gt;berjuta pula harga ditawarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan-jalan raya tengah kota&lt;br /&gt;dihitung pula dengan angka&lt;br /&gt;karena bemo dan bus kota&lt;br /&gt;taksi dan angguna&lt;br /&gt;saling berebut angka-angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belum lagi soal mulut bicara&lt;br /&gt;di gedung-gedung bertingkat digelar&lt;br /&gt;dari soal janda, busana, senam, dan bahkan&lt;br /&gt;seks jadi bahan seminar. semua itu&lt;br /&gt;dibayar dengan angka-angka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota ketiga bernama surabaya&lt;br /&gt;mataku risih menatapnya. lalu&lt;br /&gt;adakah rasa samar dalam kalbu&lt;br /&gt;bersih sirna pada perahu hidupku&lt;br /&gt;di hari esok melaju&lt;br /&gt;Surabaya, 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAMAN KOTA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* taman surya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;di taman kota&lt;br /&gt;aku memandang keindahan sempurna&lt;br /&gt;bunga-bunga rapih tertata&lt;br /&gt;jalan-jalan kecilnya bersih di mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedang bangku-bangku diam membisu&lt;br /&gt;air mancur di tengah taman kota itu&lt;br /&gt;gemericik tak mau diam&lt;br /&gt;tiang-tiang bendera berjajar&lt;br /&gt;dengan benderanya berkibar-kibar&lt;br /&gt;di depan halaman taman kota&lt;br /&gt;lampu-lampu taman kota bersinar&lt;br /&gt;cahayanya terang berbinar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di taman kota&lt;br /&gt;aku terbayang wajah kumuh kota&lt;br /&gt;di pinggir-pinggir kalimas&lt;br /&gt;begitu jelas membekas&lt;br /&gt;rumah-rumah plastik&lt;br /&gt;berderet jemuran baju cabik-cabik&lt;br /&gt;ada juga celana dalam dan beha lusuh warna&lt;br /&gt;sedang penghuninya orang-orang tersisih&lt;br /&gt;mengais sisa rejeki kota bisa teraih&lt;br /&gt;sepanjang hari tertatih-tatih&lt;br /&gt;tanpa sedikitpun merintih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di taman kota&lt;br /&gt;aku membaca diri tanpa tahu diri&lt;br /&gt;tentang sebuah arti rasa iri&lt;br /&gt;tak perlu di perpanjang lagi&lt;br /&gt;karena etos kerja tanpa henti&lt;br /&gt;adalah kunci&lt;br /&gt;karena rasa iri hanya menggergaji&lt;br /&gt;diri sendiri&lt;br /&gt;Surabaya, 1991&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aming aminoedhin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PLEMAHAN LAMPU MATI&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;ketika sunyi menyapaku kembali&lt;br /&gt;lant
